Minggu, 12 Februari 2012

SANGKAN PARANING DUMADI SRI JOYOBOYO


Aliran Kejawen ”Sangkan Paraning Dumadi Sri Jayabaya” adalah aliran kepercayaan yang mempercayai adanya silsilah manusia yang digabungkan dengan cerita dalam pewayangan. Berikut adalah sedikit penjelasannya.

Menurut kepercayaan ini, sebenarnya pohon silsilah itu ada tiga golongan, yaitu: sejarah silsilah manusia, sejarah silsilah banu jan (yang sama sekali tidak diketahui manusia) dan sejarah silsilah campuran manusia dan banu jan (inipun tidak banyak diketahui kecuali dari Nabi Sis as.

Berikut ini adalah silsilah itu yang akhirnya menurunkan silsilah Raja Kadiri Jayabaya: 

1.            Nabi Adam (Sang Hyang Janmawalijaya / Sang Hyang Adhama)
2.            Nabi Sis (Sang Hyang Syta)
3.            Sayid Anwar (Sang Hyang Nur Cahya)
4.            Sang Hyang Nurasa
5.            Sang Hyang Wenang (Sang Hyang Wisesa) 
6.            Sang Hyang Manik Maya (Betara Guru)
7.            Betara Brama / Sri Maha Punggung / Dewa Brama
8.            Betara Sadana (Brahmanisita)
9.            Betara Satapa (Tritusta)
10.        Bambang parikanan
11.        Resi Manumayasa
12.        Resi Sekutrem
13.        Begawan Sakri
14.        Begawan Palasara
15.        Begawan Abiyasa (Maharaja Sanjaya)
16.        Pandu Dewanata
17.        Dananjaya (R.Arjuna)
18.        R. Abimanyu
19.        Prabu Parikesit
20.        Prabu Yudayana
21.        Prabu Yudayaka (Jaya Darma)
22.        Prabu Gendrayana
23.        Prabu Jayabaya
24.        Prabu Jaya Amijaya
25.        Prabu Jaya Amisena
26.        Raden Kusumawicitra
27.        Raden Citrasuma
28.        Raden Pancadriya
29.        Raden Anglingdriya
30.        Prabu Suwelacala
31.        Prabu Sri Maha Punggung
32.        Prabu Kandihawan (Jayalengkara)
33.        Resi Gatayu
34.        Resi Lembu Amiluhur
35.        Raden Panji Asmara Bangun (Inu Kertapati)
36.        Raden Kudalaweyan (Mahesa Tandreman)
37.        Raden Banjaran Sari
38.        Raden Munding Sari
39.        Raden Munding Wangi
40.        Prabu Pamekas
41.        Raden Jaka Sesuruh (R. Wijaya / raja Majapahit)
42.        Prabu Taruma (Bhre Kumara)
43.        Prabu Hardaningkung (Brawijaya I)
44.        Prabu Hayam Wuruk
45.        Raden Putra
46.        Prabu Partawijaya
47.        Raden Angkawijaya (Damarwulan)
48.        Bethoro Kathong
49.        nDoro Prenggo





SANGKAN PARANING DUMADI
                                                                                                                                            ...
Berikut ini adalah beberapa pengertian dari terjemahan yang mungkin berasal dari Kitab Sangkan Paraning Dumadi yang merupakan warisan leluhur Tanah Jawa.

Sebelum manusia itu lahir (dumadi) ke dunia adalah belum mempunyai nama (asmo/ asma/ nami/ aran/ jejuluk/ tetenger) yang bisa dikatakan belum ada. Dan setelah manusia itu lahir barulah akan diberi nama atau dengan kata lain mempunyai nama, dengan begitu artinya manusia itu asalnya tidak ada menjadi ada dan kemudian pada akhirnya menjadi tidak ada lagi /sempurna.

Kemudian syarat-syarat agar supaya bisa mendapatkan tempat hidup sebenarnya (sejatine urip) yang kekal, adalah bukan karena kata-kata siapa tetapi hanya melulu karena pengetahuan yang benar-benar karena diberi penglihatan batin (kawruh). Dan sekali lagi syarat-syarat itu bukan karena manusia (oleh manusia), tetapi benar adalah karena (......) orang Jawa tidak berani menyebutnya karena dianggap njangkar (tidak sopan), yaitu Gusti yang menciptakan jagat gumelar (bumi dan seisinya).


A. Pengertian Tentang Roso lan Ros-rosing (Rasa dan Ruas-ruasnya)

Roso adalah alat untuk hidup, dan ruas-ruasnya (ros-rosing roso) adalah penggalan-penggalannya yang diberi nama, artinya ada rasa begini, ada rasa begitu (asin, manis, pahit, dingin, panas, dll) dan itu semua adalah termasuk dalam rasa seutuhnya (roso sejati). Roso sejati adalah rasa tidak dapat berubah.

Ruas-ruas dari rasa itu semua tadi akan lengket menempel di badan halus maupun badan kasar kita. Ruas-ruas rasa yang lain seperti: kerasan, kesepian, cinta, dendam, bahagia itu juga merupakan bagian dari ruas-ruas rasa yang akan menempel pada hati (perasaan).

Sedangkan rasa mujur, sengsara, ingat, waspada, curiga, kasihan, menyesal, ikhlas itu dimana-mana ada (di batin, di budi, di badan), dan itu dinamakan rasa pikiran (rosoning pikir).

Sebagai contoh: misalnya ketika membuat sayur dan ternyata rasanya hambar kurang garam, itu kan cukup diberi garam, bukannya lantas bertengkar. Bila hanya masalah sayur yang kurang garam saja menjadikan sebuah pertengkaran itu namanya belum tahu (mengerti) tentang rasa.
 

B. Pengertian Tentang  Reh Mangukut (Warongko Manjing Curigo)

Artinya reh mangukut ialah jiwa yang mengukut raga atau jiwa yang meringkes raga (badan), keadan biasa seperti ini maka badan atau raga ada di luar sedangkan jiwa ada di dalam, dan sebaliknya apabila terkukut maka jiwa akan meringkes raga dengan kata lain raga akan masuk kedalam jiwa. Yang dimaksud jiwa disini adalah badan halus, dan hal inilah yang dilambangkan sebagai warongko manjing curigo.

Banyak ahli kebatinan kasampurnan yang menginginkan hal seperti ini. Apabila seseorang sudah memahami apa yang disebut reh mangukut ini maka bisa dianggap Sarjono / Sujono atau juga Sesepuh (liring sepuh) yang dimaksud adalah: sepi howo (tanpa kemauan), sepi ing pamuring (tanpa amarah) dan sepi ing pepengin (tanpa keinginan). Jadi menjalani hidup dengan menjadi manusia biasa yang sebiasa-biasanya (sepi howo awas loroning atunggal).


C. Tentang Kebatinan.

Aetinya olah batin yaitu menjalankan hal-hal yang baik-baik saja dan meninggalkan semua yang jelek-jelek. Berkata harus jujur, sama antara yang diucapkan dan yang dilakukan. Hal ini adalah agar manusia itu selamat dan sempurna hidupnya di dunia dan akherat.


D. Tentang Ngelmu.

Ngelmu iku kelakone kanthi laku. Sebuah pepatah Jawa namun banyak sekali orang yang tidak mengerti artinya. Tetapi mungkin ini berbeda dengan hal itu. Ngelmu itu sendiri adalah sesuatu penglihatan yang didapatkan secara batiniah. Jadi bukan ilmu yang biasa kita sebut sebagai Ilmu Pengetahuan (IPA/IPS). Sebuah ngelmu mestinya orang harus mendapatkannya dengan syarat-syarat laku atau yang sering disebut sebagai laku prihatin. Namun demikian banyak orang mendapatkan ilmu itu dengan cara membeli atau dengan bahasa halus mahar. Maka bila kita ibaratkan orang yang melamar pekerjaan dengan menggunakan ijazah palsu, saat diwawancarai maka akan dijawab dengan lancar karena memang yang diketahui hanya kulitnya saja. Namun demikian apabila orang itu sudah mendapatkan kerjaan yang sesungguhnya apapun yang dikerjakan rasanya tidak benar alias ngawur. Demikian pula halnya ngelmu yang tidak diperoleh dengan laku.


E. Tentang Gusti.

Gusti itu berasal dari kata bagus ing ati. Hati yang bagus itu adalah hati yang selalu bersih dari kotoran alias suci yang berarti pula berada pada hyang widhi (pencipta alam semesta). Maka dari itu manusia yang dapat membersihkan hatinya dari kotoran dan selalu berbuat kebaikan disebut pula sebagai orang yang telah dapat menyatukan antara lahir dan batin, dan itulah yang disebut manunggaling kawulo lan gusti.


F. Tentang Ghaib.

Yang disebut ghaib adalah sesuatu yang samara, tidak dapat diraba dengan tangan, tidak dapat dilihat dengan mata. Hal ini juga yang dikatakan dekat tanpa singgungan dan jauh tak terhingga yang ukurannya sebesar mrica dibubut.


G. Pengertian Tentang Loro-loroning Atunggal

Artinya dua tetapi satu, yaitu antara jiwa dan raga. Jiwa itu pengganti gusti dan raga pengganti kawulo, jadi bersatunya antara kawulo dan gusti, dan itulah yang disebut sebagai loro-loroning atunggal tadi dan benar-benar bersatu dan menyatu.

Sedangkan teluning atunggal adalah bersemayam pada: nama (jeneng/ asmo/ asma/ nami/ aran/ juluk/ tetenger), ingsun (aku/ rogo/ wadag) dan urip (ALLAH).

Sembah rogo adalah sembah yang dilakukan dengan raga, misalnya: sembahyang dan semedi. Sembah cipto (kalbu) adalah sembah dengan pikiran/akal. Sembah jiwa adalah sembah dengan mental atau budi (karakter). Yang terakhir sembah rasa adalah alat untuk hidup dimana selalu ada korban perasaan.


H. Pengetahuan Tentang Angka Nol (0) Sampai Dengan Angka Duapuluh (20)

Angka 0 (nol), artinya itu memberitahukan bila kosong, bersemayam pada anak kecil yang belum tahu apa-apa (wang-wung).

Angka 1 (satu/siji), dari kata isine aji, tetapi bukan untuk barang-barang berharga seperti mas berlian tetapi ajining diri, yang berada pada orang-orang yang baik pribadinya yang akan dihormati oleh sesama, maka dari itu angka satu itu bersemayam pada gusti yang berasal dari kata bagusing ati yang menjadikan angka satu berasal dari angka nol.

Angka 2 (dua/loro), berada pada ayah dan ibu, yang bersemayam pada isi dunia yang selalu berpasangan, ada bahagia ada sedih, ada raga ada jiwa, ada siang ada malam, ada pria ada wanita, dsb.

Angka 3 (tiga/telu), adanya manusia yang selalu mempunyai sifat tiga perkara, hidup, rasa dan raga atau berkarya. Makan dan mati, dan bagi rumah tangga ada bapak, ibu dan anak.

Angka 4 (empat/papat), menurut kepercayaan Jawa manusia mempunyai empat saudara: mutmainah (putihnya air), amarah (merahnya darah), supiah (kuningnya angin) dan aluamah (hitamnya tanah).  ONGKO 4= (PAPAT) , dununge.manungso due sedulur papat, atau mingkin dapat juga diberi nama keblat papat.

Angka 5 (lima/limo), berada pada keblat papat limo pancer, bersemayam bila dijabarkan maka terdapat pada jenazah dan empat orang yang membawa/memikul keranda.

Angka 6 (enam/nem), tang berasal dari kata nemu, bersemayam pada sedulur papat limo pancer, yang ke-enam adalah bayangannya, dan bila diutarakan maka menjadi arah mata angin: Timur, Barat, Utara, Selatan, bawah dan atas.

Angka 7 (tujuh/pitu), bersemayam pada tujuh nama hari: Senin, Selasa, Rabo, Kamis, Jum’at, sabtu dan Minggu. Bisa juga dengan adanya rambut, kulit, daging, tulang, sunsum, urat dan darah.  

Angka 8 (delapan/wolu), maksudnya jangan menghindar (owal) terhadap barang yang diperlukan, dan mestinya jangan lupa terhadap perbuatan yang baik tadi, bersemayam pada windu (8 tahun) atau wali wolu (di Jawa ada pemahaman wali yang bener hanya 8 orang).

Angka 9 (sembilan/songo), pengertiannya adalah seorang bayi ada dalam kandungan selama sembilan bulan, bersemayam pada wali wolu dengan penutup yang ke-sembilan.

Angka 10 (sepuluh), terdiri dari angka 1 dan 0. Angka ini sudah memberikan sasmita kepada manusia, bahwa itu merupakan bersatunya antara kawulo dan gusti, yang bisa dikatakan sebagai pinjam-meminjam. Artinya hidup itu apabila tidak meminjam raga tidak dapat bergerak sedikitpun dan tidak berarti apa-apa, demikian pula raga apabila sudah tidak bernyawa mau apa lagi. Lebih sederhananya begini: angka satu (1) apabila tanpa angka nol (0) tidak bisa berbunyi sepuluh.

Angka 11 (sebelas/sewelas), menjelmanya angka sebelas ini adalah perlambang kepada kita ketika bapak/ibu bersanding di pelaminan.

Angka 12 (duabelas/rolas), 1 (satu) artinya hidup, 2 (dua) artinya laki-laki/perempuan yaitu bapak dan ibu yang diartikan sebagai rong elas (rong iji = dua buah). Hidup yang satu itu bersemayam (ngerong) pada dua (loro) orang, yaitu bapak dan ibu.

Angka 13 (tigabelas/telulas), artinya hidup itu menghidupi tiga perkara: manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Angka 14 (empatbelas/patbelas), artinya hidup itu mempunyai empat unsur: air, api, udara dan tanah.

Angka 15 (limabelas/limolas), artinya hidup itu menggunakan lima macam alat yang disebut panca indra: telinga, mata, hidung, mulut dan lidah (indra perasa termasuk kulit).

Angka 16 (enambelas/nembelas), artinya hidup itu terdiri dari enam bagian: mutmainah, amarah, supiah, aluamah, bayangan dan badan kasar.

Angka 17 (tujuhbelas/pitulas), artinya hidup sebagai manusia itu harus memiliki: bulu/rambut, kulit, otot (daging), tulang, sunsum, urat (otot) dan darah.

Angka 18 (delapanbelas/wolulas), artinya hidup itu harus menghidupi wali wolu, disamping menghidupi raganya juga keluhuran budinya, dan ini bisa dibuktikan sampai sekarang keharuman nama beliau masih terasa, banyak orang yang datang untuk berziarah ke makam beliau-nya ini. Itulah contoh orang yang bisa mencapai hidup yang sebenarnya (urip kang sejati).

Angka 19 (sembilanbelas/songolas), artinya hidup itu harus menghidupi 9 jalan keluar: telinga (2), mata (2), hidung (2), mulut (1), anus (1) dan kemaluan (1).

Angka 20 (duapuluh/rongpuluh), artinya hidup itu bersembunyi (ngerong) di dalam bapak dan ibu, dua orang yang bisa dipakai untuk ngerong urip siji menjadi dua tetapi satu (loro-loroning atunggal), dan itulah terjemahannya maka dari itu duduknya sepasang penganten di pelaminan itu bisa disebut sebagai sastro jendra hayuningrat.

SASTRO JENDRO HAYUNINGRAT:
Tulising gusti kang cetho dumunung ono wujud ing manungso lanang lan wadon. mulo manungso bisane nggayuh budi luhur/rahayuning wiwitan lan pungkasan, senajan manungso iku diwenangake duwe karep nggayuh donyo brono kudu manut marang krenteg-ke ati kang resik, biso-o ngemong urip kang suci, nuli biso sampurno lair lan batine.
(Sabda dari YME yang terang benderang ada pada manusia itu sendiri sebagai laki-laki dan perempuan, maka dari itu apabila manusia mempunyai keinginan untuk berbudi luhur (selamat dari permulaan hingga akhir), meskipun manusia itu sudah digariskan untuk mempunyai keinginan kebendaan duniawi, namun demikian haruslah mengikuti hati kecil (hati kecil biasanya selalu jujur) yang bersih, sebisa mungkin mengemban hidup yang suci, dan nantinya akan bisa sempurna lahir dan batin)


H. Pengertian Tentang Huruf Jawa

Huruf Jawa (dasar) itu ada 20 macam, yaitu: ho no co ro ko, do to so wo lo, po dho jo yo nyo dan mo go bo tho ngo. Ke-20 macam huruf ini mempunyai sifat masing-masing yang bila diterjemahkan adalah sebagai jari-jari manusia, dan masing-masing mempunyai arti sendiri-sendiri.

Ho = hurip (hidup), no = nur, co = cahaya, ro = roh, ko = kumpul, do = dzat, to = tes, so = siji, wo = wujud, lo = langgeng (kekal), po = papan, dho = dhawuh (perintah), jo = jasad, yo = nyaguhi (sanggup), nyo = ngelungake (memberikan), mo = margo (jalan), go = gaib, bo = babar (lahir), tho = thukul (tumbuh) dan terakhir ngo = ngalam gumilang.


I. Tentang Huruf Jawa Yang Disusun Yang Paling Depan Dengan Paling Belakang.

Ho ngo = hangen-hangen (angan-angan), no tho = nuthuk (memukul), co bo = coblong/bolong, ro go = raga, ko mo = benih, do nyo = ndonyo (dunia), to yo = air, so jo = siji, wo dho = wadhah (tempat) dan lo po = lampus.

Huruf pertama dan huruf ke-9 adalah ho wo. Howo adalah udara, dan sifat ini ada pada laki-laki karena laki-laki mempunyai lobang jumlah sembilan. Dan apabila 20 dikurangi sembilan (9) akan ada sebelas (11), sifat itu ada pada wanita karena wanita mempunyai 11 lobang, selisih dua dengan laki-laki yaitu pada puting susu.


J. Pengertian Tentang Hawa Nafsu

Hawa artinya angkara murka, nafsu adalah daya kekuatan. Jadi hawa-nafsu secara keseluruhan berarti angkara murka yang didorong oleh kekuatan syetan.


K. Tentang Sedulur Papat Limo Pancer

1. Mutmainah: bersemayam di jantung berwujud air berwarna putih, dengan watak yang suci dan sungguh-sungguh, pintunya ada di hidung. Hidung adalah alat atau panca indra yang tak pernah bohong. Contoh: ketika hidung mencium bau ikan asin maka bisa dipastikan du dapur ada yang memasaknya meskipun mata belum malihat. Ketika hidung mencium bau trasi yang kagak enak, tetapi tetap juga dimakan atau dibutuhkan meski sekedar hanya sebagai bumbu. Ketika hidung mencium bau harumnya kembang toh ketika dimakan rasanya tidak enak, pahit.

2. Amarah: bersemayam di empedu, berwarna merah dan berwatak keras, angkara murka, dan pintunya ada di telinga. Keterangannya: manusia bisa merasakan baik dan buruk karena mempunyai telinga, dan ketika mempunyai keinginan yang jahat atau yang baik maka itu karena darah yang berwarna merah. Darah itulah yang menyebabkan manusia bisa berbuat sesuatu, dan manusia tanpa darah yang berwarna merah itu maka dunia ini akan sepi dan tidak akan seperti sekarang ini.

3. Supiyah: bersemayam di lobang tali plasenta (wudel), berwujud angin yang berwarna kuning, berwatak mengumbar hawa nafsu (mau menangnya sendiri), pintunya ada di mata. Maka dari itu mata bisa dikatakan lanange jagad (yang paling berkuasa). Mata dipakai untuk melihat semua hal yang tergelar, maka manusia mempunyai keinginan karena mata melihat. Supiah pintunya ada di mata tetapi berwujud angin kuning yang akan keluar dari hidung.

4. Aluamah: bersemayam di lambung yaitu tempat menyimpan makanan, kalau usus merupakan tempat kotoran. Aluamah berwujud tanah yang berwarna hitam, mempunyai kesenangan untuk merasakan makanan yang enak-enak, maunya hanya senang dan enak. Pintunya ada di mulut, maka dari itu bisa celaka karena kata-kata yang keluar dari mulut sendiri. Mulut yang dalam bahasa Jawa cangkem mempunyai arti cancangen supoyo mingkem (ikatlah agar tertutup), kata-kata yang baik maupun buruk asalnya sama saja maka akan lebih baik jika mulut digunakan untuk berkata-kata yang baik-baik saja. Diam adalah emas.

5. Pelengkap agar menjadi lima adalah hidup, yaitu yang menghidupi empat perkara yang diatas tadi. Atau yang disebut sedulur papat kalimo pancer, ya hidup itu adalah pancernya. Jadi mutmainah, amarah, supiyah dan alumah semua dipinyai oleh hidup.



L. Keblat Papat(4) Limo (5) Pancer dalam Keseharian.

Manusia mempunyai tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri dan yang ke-lima adalah  teluning atunggal, yaitu: baitul makmur, baitul mukarom dan baitul mukodas.



M. Bibit Dumadi

1. Bayi umur sebulan dilambangkan dengan huruf jo, disebut nukat ghaib, airnya nur mani, laut berupa layar putih, bangunannya kumalah yang berarti juga riris tangis.

2. Bayi umur dua bulan dilambangkan dengan huruf yo, disebut koat ghaib, airnya nur buat, lautnya rantai yang disebut juga kismo djati.

3. Bayi umur tiga bulan dilambangkan dengan huruf nyo, disebut rijalolah ghaib, airnya nur roso, lautnya kumolah, yang berarti juga Hyang Widhi.

4. Bayi berumur  empat bulan dilambangkan dengan huruf mo, disebut rikmo djati. Airnya nur kumoro djati, lautnya bindari suci yang disebut juga Sang Hyang Adji.

5. Bayi berumur lima bulan dilambangkan dengan huruf go, disebut jo kumolo, airnya nur kismoyo, lautnya imoloyo, yang disebut juga Sang Hyang Brahma yang berwujud sedulur limo.

6. Bayi berumur 6 bulan dilambangkan dengan huruf bo, disebut roso hendro moyo, airnya nur cahyo, lautnya kumoro danu, yang disebut sebagai manu maningkem manunggale kawulo lan gusti dengan wujud rasa yang enam itu.

7. Bayi berumur 7 bulan dilambangkan dengan huruf tho, disebut waringin sungsang, airnya tali roso, lautnya madu nirmolo, yang berarti Heru Seto Jinggo Moyo Jati. Berwujud air ketuban dan ari-ari.

8. Bayi berumur 8 bulan dilambangkan dengan huruf ngo, disebut mayang kumoro sari, airnya manik gito, lautnya cupu purbo miseso yang disebut juga Jono Loko Jati, berwujud kakak tertua dan si bontot.

9. Bayi berumur 9 bulan dilambangkan dengan huruf wo, disebut Hendro Loko Jati, airnya nur tirto moyo, lautnya tak bertepi yang disebut pula Sastro Jendro Hayuningrat dengan wujud sadad tanpa sabdu.

Setelah itu bayi akan lahir dan melihat terangnya dunia yang dilambnagkan dengan Bintang Johar sebagai kelahiran (dumadi ingsun), yang disebut pula bintang Al Ghoniyyu.



N. Pengertian Tentang Tempat Bersemayamnya Angkara Di Triloko

Triloko (Jagat Telu) terbagi menjadi 3 yaitu: Guru Loko (ada di otak), Indro Loko (ada di hati) dan Jono Loko (ada di syahwat/dzakar). Apabila nafsu angkara itu baru berada di otak (pikiran) maka keinginan orang itu adalah: drajat/ pangkat/ semat/ kramat. Bila nafsu angkara itu berada di Indro Loko (panca indra) maka orang itu akan mempunyai keinginan untuk menjadi yang paling unggul/ paling kuat (menange dewe). Dan ketika nafsu angkara itu berada di syahwat maka bisa dipastikan orang itu mempunyai tenaga yang super (sangat kuat). Dan yang terakhir apabila ketiga nafsu itu menyerang bersama-sam pada manusia, maka bisa diibaratkan manusia itu hidup dengan memelihara Dosomuko (seorang tokoh jahat dalam cerita Ramayana). Artinya kita semua akan merugi karena tidak akan bisa menerima wahyu/ wangsit / pepadanging Gusti, dan tentunya akan menjadi penghalang dalam menjalani kehidupan ini. Dan inilah yang bisa terjadi apabila manusia itu menjalankan /mencari ngelmu tanpa laku. (Ada pepatah jawa: Ngelmu iku kalakone kanthi laku.)


O. Sempurnanya Dumadi.

Manusia itu harus dapat mengetahui keberadaan tirto pawitro mahening suci(air kehidupan yang bersih dan suci). Dimana sebenarnya itu berada dalam diri sendiri masing-masing. Dengan cara harus menempuh jalan lakyono yo (mati di dalam hidup) dan harus juga menengok ke alam lokantoro (antoro = batas), yaitu perbatasan antara alam halus dan alam kasar. Maka disana akan kita jumpai perwujudan yang menyerupai gumuk (rumah rayap yang membesar)/ tawon golek jumono, yaitu perwujudan dari saudara kita yang disebut kawah ari-ari (air ketuban). Golek jumono yaitu suatu perlengkapan hidup manusia, disana akan dijumpai persimpangan jalan (perempatan) yang merupakan wujud dari 4 cahaya:
  1. Cahaya berwarna merah adalah sumber amarah.
  2. Cahaya berwarna kuning adalah sumber kesenengan.
  3. Cahaya berwarna putih adalah sumber kesucian.
  4. Cahaya berwarna hitam adalah sumber kekuatan (energi).

Dan apabila nanti manusia itu kembali kepada Gusti maka harus tetap memilih jalan suci, artinya akan dapat kembali kepada Gusti Yang Maha Suci.


P. Kunci Sangkan Paraning Dumadi

Hyang Sukmo Sejati, seksenono ingsun kirim gondo arum kang dak kirim sedulurku kang lahir bareng sedino kang dak sebut kakang kawah adi ari-ari, kakang mbarep adine wuragil. Kang adoh tanpo wangenan cedak tanpo senggolan, yo iku titipane wong tuwaku lanang lan wadon. Kakang kawah adi ari-ari moro tampanono kiriman gondo arum iki, dak suwun jumbuh dadi siji karo Sang Hyang Sukmo Sejati.

(Hyang Sukma Sejati, saksikanlah aku mengirim wewangian yang aku alamatkan kepada saudara yang terlahir bersamaku yang saya sebut sebaga kakang kawah adi ari-ari, kakang sebagai si sulung dan adik sebagai bontot. Yang jauh tanpa wewangian dan yang dekat tanpa singgungan, yaitu titipan dari kedua orang tuaku laki-laki dan perempuan. Kakang kawah adi ari-ari segera terimalah kiriman wewangian ini, dan saya minta agar menyatu dengan Sang Hyang Sukma Sejati.)



Q. Bibit Sangkan Paraning Dumadi.

Tes putih soko bopo, tes abang soko biyung, wujud gedong cagak papat lawange songo, gumantung tanpo centhelan isen-isene Hyang Sukmo Sejati. Lungguhe ono batinku kang suci, kanggonan wekasan urip sejati, kang aran dzat lan sifat weruh sak-durunge winarah, tetep madhep mantep langgeng sak kodrat ingsung, dadio sak ciptaningsun.

(Bijih putih dari bapak dan bijih merah dari ibu, berwujud bangunan dengan tiang empat dan sembilan pintu, tergantung tanpa cantelan dan berisi Hyang Sukma Sejati. Bersemayam di batinku yang suci, sebagai awal hidup sejati, yang mempunyai dzat dan sifat weruh sak-durunge winarah, tetap setia dan taat bersamaan dengan diriku, dan jadilah apa yang kukehendaki.)

Ngerti sak-durunge winarah adalah pepatah Jawa yang kira-kira berarti: dapat mengerti tentang beberapa hal sebelum ada yang memberi tahu.


R. Tentang Pedoman Hidup. (Tri Prakoro)

Sebenarnya banyak sekali pedoman hidup untuk manusia di Jawa ini (lihat: Ki Demang Sokowaten), namun demikian disini mencoba untuk meringkasnya. Dengan itu pedoman hidup bisa digolongkan menjadi 3, yaitu: Wiryo, Harta dan Tri Winasis.

1. Wirya.

Mempunyai pengertian untuk menjunjung tinggi trah orang-orang besar. Mestinya adalah yang luhur itu budi dan drajat hidupnya, tetapi disini bisa saja biar keturunan orang yang luhur budinya tetapi ternyata tidak. Sebagai contoh berikut ini adalah bersumber dari cerita wayang. 

Begawan Wisrowo adalah seorang biksu yang luhur, dan dipercaya oleh Prabu Sumali, tetapi anakanya yang bernama Dosomuko tidak juga menjadi anak yang berbakti (luhur budi) malahan menjadi kekecewaan di dunia, mejadi sampah dunia.

Begawan Durno, adalah seorang Pandito/Resi dan juga anak dari Begawan Barat Wojo, tetapi dalam cerita wayang (versi Jawa) selalu menjadi orang yang berwatak angkara murka dan bermuka dua, selalu bersikap memuji kepada Pandawa di depannya, tetapi akan berusaha untuk menghancurkan Pandawa demi membela Kurawa.

Santrin Kinono adalah orang sangat sudra dengan anggota badan yang kurang lengkap, tetapi mempunyai hati yang lurus, dan berbudi luhur. Adalah ketika dia bisa menolong kepada Pandawa dan terhindar dari marabahaya kebakaran yang diciptakan oleh Kurawa. Jadi makna sebenarnya disini tentang berbudi luhur itu bukan pada turunannya, tetapi ada pada budi yang dibawa masing-masing.


2. Harta.

Arti sebenarnya adalah kaya akan harta benda, tetapi pengertian disini bukan hanya itu saja, yang penting adalah kaya akan ilmu pengetahuan. Dengan kaya akan ilmu pengetahuan maka bisa dipastikan akan menjadi pemaaf, menjadi orang yang menerima (nrimo), penyabar, sangat sungguh-sungguh, sangat berhati-hati dan banyak mempunyai teman yang rukun terhadap sesame, karena keilmuannya itu dapat bermanfaat buat semua saudara maupun teman-teman semua.


3. Wasis

Yang dimaksud wasis disini adalah kepintaran (pandai). Orang yang pintar/pandai akan mempunyai banyak pengetahuan, dan orang yang banyak mempunyai pengetahuan tidak akan pernah kesusahan, yang penting agar kepandaiannya itu bukan untuk mengakali orang atau teman-temannya sendiri, atau juga bukan untuk malakukan hal-hal yang menyimpang dari pedoman hidup.

Jadi ketiga diatas tadi mestinya harus bisa menjangkaunya, dan apabila ketiga diatas tadi sama sekali tidak punya, maka kan hilanglah sifat manusia tadi, dan yang tertinggal hanya sifat hewani saja. Ya begitu itulah manusia, apabila tidak mengindahkan akan pedoman hidup dan juga tidak waspada terhadap Tri Prakoro (Wirya, Harta, Wasis).



S. Tentang Jagad Raya.

Permulaan terjadinya jagat raya ini, adalah ketika jaman masih awang-uwung (tidak ada apa-apa sama sekali) yang ada hanya Gusti Allah sendiri. Keadaan yang tanpa apa-apa itu tidak dapat terlihat oleh mata (tan keno kinoyo ngopo), tetapi ada, karena adanya kekuasaan dari Gusti Allah. Kemudian diciptakannyalah tiga perwujudan dan kemudian juga menyatu kepada ketiga perwujudan tadi yang disebut sebagai Trimurti (telu-teluning atunggal).

Tiga warnanya, juga tiga kelihatannya dan tiga macam pula pekerjaannya, tetapi satu yaitu Gusti (Tuhan) Yang Maha Esa.

1. Perwujudan yang pertama adalah Surya sebagai Matahari dengan kekuasaannya memberikan kehidupan di seluruh jagad. Baik kasar maupun halus semua adalah kekuasaannya.

2. Perwujudan yang kedua adalah Condro sebagai Rembulan dengan kekuasaannya memberikan perlindungan, memberikan sandang-pangan dan kemakmuran dengan pemeliharaannya.

3. Perwujudan yang ketiga adalah Kartiko sebagai Bintang yang mempunyai daya keadilan dan mati, dengan tugas menghilangkan semua perwujudan yang bersifat tidak kekal.

Ketiga daya penguasaan tadi selalu beredar (hanyokro manggilingan), berputar terus berganti-ganti tanpa ada putusnya. Suryo yang membuat hidup, dipelihara dan dirawat oleh Condro, dan akhirnya dimusnahkan oleh Kartiko, begitulah seterusnya.

Suryo sebagai Matahari, selain mempunyai daya kekuasaan kehidupan juga mempunyai daya panas yang bisa berubah menjadi api, selanjutnya bersemayam di antariksa. Condro sebagai Rembulan, selain mempunyai mengayomi/melindungi juga mempunyai daya dingin yang bisa berwujud sebagai air, seperti juga matahari selanjutnya akan bersemayam di antariksa. Begitu juga Kartiko sebagai bintang, selain mempunyai kekuasaan atas keadilah dan kematian maka mempunyai daya udara yang netral dan mempunyai wujud sebagai angin, selanjutnya juga akan bersemayam di antariksa.

Perwujudan yang tiga warna tadi seterusnya berkumpul menjadi satu di antariksa, tertiup angin dari atas kebawah, dari Selatan ke Utara, dari Timur ke Barat, lama-lama api, air dan angin tadi berhenti berhenti di tengah-tengah jagad raya, dan gumantung tanpa canthelan (tergantung tanpa penyangga) dan perwujudan akhir ini yang disebut sebagai maghma..

Lama kelamaan maghma tadi menjadi berkerak dan berwujud sebagai mineral, besi, baja, emas, perak, dan lain-lain. Mineral-mineral tadi terus berkembang menjadi batu, dan batu berkembang menjadi pasir, pasir berkembang menjadi tanah. Karena maghma tadi adalah perwujudan yang sangat panas dan terbungkus oleh batu, pasir, tanah dan sebagainya maka lama-kelamaan akan menguap dan air akan meresap kedalam tanah. Tanah yang basah oleh air dan mendapat sinar matahari lama-kelamaan di bumi ini terjadi berbagai macam tumbuhan yang beraneka warna.

Ya keadaan seperti itulah yang kemudian dinamakan bumi sap pitu (lapis tujuh):
Maghma, Mineral, Batu, Pasir, Tanah, Air dan Tumbuh-tumbuhan. Dan bumi sendiri itu mempunyai cahaya yang berwarna hitam. Itu semua tadi adalah asal-usul jagad raya (Jagad Agung) ini.

Dan berputarnya bumi itu diatur oleh kekuasaan Surya maka kemudian dinamakan Tata Surya. Dan secara lengkap alam semesta ini mempunyai empat macam cahaya, yang masing-masing berwarna: merah (dari surya), kuning (dari condro), putih (dari kartiko) dan hitam (dari bumi). Tetapi karena dari keempat tadi hanya cahaya hitam yang tidak tampak dan tidak bisa memancar, maka cahaya merah, kuning dan putih akan memancar kan cahayanya ke bumi, dan inilah Dumadine Jagad Agung, Sangkan Paraning Dumadi.


T. Tentang Asal-Usul Jagad Alit (Bwaono Setro/ Badan Kasar)

Pada uraian diatas tentang terjadinya Jagad Agung, sudah dipahami bahwa bumi berasal dari api yang cahayanya merah dengan daya panas, dari air yang cahayanya kuning dan punya daya dingin, serta angin yang cahayanya putih dan bersifat netral. Berkumpulnya api. Air dan angin tadi akan menjadi maghma, yaitu pusat bumi yang dapat memberikan wadah sebagai bumi lapis tujuh. Berkumpulnya daya panas, dingin dan hampa (angin) akan mewujudkan cipta, rasa, dan karsa, adalah berkumpulnya dzat yang merupakan asal-usulnya kehidupan. Berkumpulnya tiga macam warna (merah, kuning dan putih) adalah mewujudkan sukma, yaitu badan halus yang juga dianggap sebagai para dewa, dewi, bathara, jin, peri, dsb.

Day panas, dingin dan netral tadi sebelum menyatu menjadi dzat maka akan memenuhi antariksa (awang-wung) dan dalam pengetahuan modern hal ini disebut sebaga: proton, elektron dan netron, yang bersatu membentuk dzat yang dinamakan atom.

Berkumpulnya 4 macam cahaya tadi akan mewujudkan nafsu, yaitu yang akan dipergunakan sebagai syarat mutlak untuk hidup manusia. Sedangkan berkumpulnya sari-sari dari api, air, angin dan tanah (bumi), akan menjadi badan kasarnya manusia. Dan sebelum di jagad raya ini terdapat makhluk-makhluk berbadan kasar, maka terlebih dahulu yang ada adalah makhluk-makhluk berbadan halus, yaitu suksma, dan pada waktu itu semua makhluk itu yang dinamakan sebagai dewa-dewi, bethoro-bethari, jin, peri, prayangan, dsb. Dari kesemua macam titah (makhluk) yang berbadan halus itu maka dewa-dewi, bethoro-bethari dianggap yang paling tinggi kedudukannya, dan kehidupan dari makhluk-makhluk itu tanpa menyentuh tanah, dan perkembang-biakannya tidak menggunakan hukum-hukum kelahiran tetapi dengan sabda (kun fayakun).

Keadaan seperti itu berlangsung hingga beribu-ribu tahun lamanya, dan akhirnya pada suatu waktu salah satu dewa dan bethoro yang baru saja melakukan kesalahan-kesalahan besar terhadap Gusti (Tuhan YME), maka atas kekuasaan Sang Hyang Tunggal dewa tadi disabda menjadi manusia, yaitu makhluk berbadan kasar dan harus menghuni bumi. Dan setelah itu maka kemudian berlangsung hukum kelahiran, dan dewa-dewi yang disabda mau bisa disebut sebagai manu.

Yang dikatakan manu adalah karena menurut hukum kodrat dari penjelmaan para dewa/bethoro yang berbadan kasar. Dan manusia adalah menurut hukum kodrat sebagaimana manusia biasa, artinya berkembang biak dengan hukum-hukum kelahiran. Para manu tadi yang menurunkan manusia yang berasal mula dari hukum kodrat kelahiran disebut sebagai swayambu manu.



U. Asal Mula Makhluk Berbadan Halus.

Berkumpulnya rasa, cipta dan karsa yang akhirnya mewujudkan dzat yang asalnya dari Trimurti (Surya, Candra dan Kartika), yaitu dzat yang suci yang kesuciannya hampir menyamai Yang Maha Suci, karena memang dzat tadi berasal dari daya Gusti Kang Moho Suci dan bisa disebut sebagai Dzatullah.

Perbedaannya sucinya Gusti akan memenuhi jagad raya, sedangkan sucinya dzat tadi hanya dapat memenuhi badan satu saja, Gusti Yang Maha Agung akan menguasai jagad dan seisinya, maka dzat itu hanya menguasai badan kasar dan seisinya. Dan dzat tadi yang menjadi utusan Gusti untuk memayu hayuning bawono dan seisinya dengan hukum-hukum kelahiran dan hukum-hukum sabda. Hukum kelahiran menggunakan badan kasar dan hukum sabda menggunakan badan hakus atau suksma. Apabila dzat melakukan kesalahan (mendapat karma) maka akan menjadi utusan lewat hukum sabda dengan sarana badan halus (suksma). Karma berasal dari kata karya manah (perbuatan hati).

Semua perbuatan yang berasal dari pikiran itu pasti akan berbuah. Perbuatan yang baik juga akan berbuah kebaikan dan sebaliknya maka perbuatan yang buruk juga akan berbuah keburukan. Maka ada pepatah Jawa mengatakan: ngundhuh wohing pakarti. Dan itulah hukum karma, semua manusia hanya tinggal memetik hasil perbuatannya.

Karena dzat (badan kasar yang ditempati suksma) adalah selalu meiliki karma (baik maupun buruk), maka dzat itu harus menjadi utusan melalui penjelmaannya dengan hukum-hukum kelahiran. Dengan begitu semua orang (manusia) hidup yang dilahirkan ke alam dunia akan mempunyai dosa (karma), dan apabila tidak mempunyai karma maka tidak akan dilahirkan. Juga apabila tidak mempunyai karma berarti masih berbadan halus (alam kedewaan) dan yang berlaku adalah hukum sabda.

Penjelmaan dzat hidup dari alam kedewaan ke manusia adalah melalui hukum-hukum kelahiran, jadi haruslah melewati perseteruan antara pri dan wanita. Mungkin kisah berikut ini bisa menjabarkan hal tersebut.

Dan kala itu, ketika ibu masih gadis dan bapak masih jejaka, sebenarnya diriku sudah ada. Saya berada (bersemayam) di cipta rasa dan karsa dari kedua orang-tuaku, dan bisa disebut sebagai sir atau grenjet. Dan setelah bapak dan ibu mendapatkan sir selanjutnya sire bapak dan ibu membuahkan budi. Dan setelah itu bapak dan ibu menabur benih budi dan disemayamkan di jonoloko yang disebut guwo garbo (kandungan). Saya keluar dengan warna putih suci yang beasal dari warna cahaya merah, kuning dan putih, ya itulah yang disebut air mani (sperma), wadi, suksmo, roso, dzat yang maha suci.

Telu-telune atunggal, yaitulah saya (hidup) kekal yang tidak mati, yaitu dzat dari Gusti Yang Maha Suci, dan akan membangun badan kasar di dalam guwo garbo ibu, sebagai rumahku untuk hidup di alam raya untuk menjalankan kewajiban hidup sebagai utusan dari Gusti Yang Maha Kuasa.

Aku di dalam kandunga ketika berumur sebulan di dalam membentuk badan kasar itu, maka ibuku terus berhenti (tidak datang bulan) kemudian ibu akan selamatan bubur suro. Selanjutnya setiap tanggal 1 Suro maka para ibu-ibu akan membuatkan Bubur Suro. Bubur Suro ini merupakan beras biasa yang akan dihias dengan irisan cabe merah dan telor dadar berwarna kuning. Itu mempunyai arti: bahwa keadaanku (yang akan menjadi badan kasar) adalah berasal dari tiga macam warna, merah berasal dari sarinya api, kuning dari sarinya angin dan putih dari sarinya air. Dan pada waktu itu saya juga mendapatkan sarinya warna hitam yang berasal dari bumi yaitu makanan yang dimakan ibu dan meresap melalui tali plasenta (sumber makanan bayi).

Ketika kandungan sudah berumur 2 bulan, maka wujud badan kasarku bisa dikatakan pating grendhul, maka dari itu kemudian diselamati dengan membuat jenang grendhul. Jenang grendhul ini juga dinamakan jenang sapar atau Saparan.

Ketika kandungan sudah berumur 3 bulan, maka badan sudah berwujud. Maka sudah ada bagian kepala, bagian perut, bagian tangan, bagian kaki, bagian mata, bagian telinga, bagiaan hidung dan bahkan bagian kelamin sudah ada. Dan maka dari itu ketiga.tempat sudah terbentuk juga yang disebut: giriloko, indroloko dan jonoloko. Maka dari itu kemudian dibuatkan selamatan telonan yang berarti: kadaton yang tiga tempat itu sudah jadi, yaitu sebagai arah atas, tengah dan bawah (otak, hati dan kelamin).

Lama setelah kandungan menginjak umur tujuh bulan, maka rumah yang dibilang cagak papat lawang songo sudah jadi dan komplit dengan segala ornamenya: tulang, sungsum, urat, darah, otot, kulit dan rambut (bulu). Maka dari itu kemudian dibuatkan tanda dengan selamatan tujuh bulanan (mitoni, lingkepan) yang mempunyai arti bahwa rumah yang tujuh warna atau bumi yang tujuh lapis itu sudah lengkap, yang keseluruhan berbunyi: bumi lapis pitu cagak papat lawang songo.

Kandungan umur 9 bulan adalah sudah waktunya untuk lahir (mrocot), maka dibuatkan selamatan berupa: bubur procot, kue apam dan pisang. Selamatan tadi disebut dengan procotan lan megengan. Procotan yang mengandung arti agar kelahiranku kelak akan mudah tanpa suatu halangan apapun, dan megeng adalah ketika saya akan lahir ke dunia keluar dari perut ibu, maka ibu akan megeng (meregang) napas, dan selanjutnya setiap tanggal 1 Poso akan diadakan selamatan megengan.

Hidup yang ada di badan kasar ini adalah bersemayam di telenging ati (pusat hati, ada yang mengatakan hati kecil), yang mempunyai kekuasaan untuk membuat baaik atau buruk bangunan rumah itu (jagad cilik). Dan setelah itu maka setiap 1 Syawal kan dibuatkan sego punar yang dinamakan syawalan. Artinya, saya sudah terpisah dari badan ibu (guwo garbo, kandungan) menjadi utusan Gusti dan berkewajiban menjalankan hidup di alam raya ini.

Mulai dari awal kandungan hingga hari kelahiran ibu juga masih mempunyai kekuasaan untuk menyelamatkan badan kasar, dan begitu juga saya masih berkuasa dalam Trimurti. Dan setelah lima hari (sepasaran) kekuasaan yang ada di giriloko akan pindah ke sedulur papat limo pancer, yang berasal dari cahaya yang empat macam itu. Mereka akan bersemayam di telinga, hidung dan mulut, dan menguasai 7 pintu, maka kemudian disebutkan sebagai tujuh hari. Mereka mempunyai lima kekuasaan yang disebut sebagai panca indra, yaitu: indra pendengar, indra penglihat, indra pencium, indra pengucap dan indra perasa. Dan disebut sebagai pasaran limo.

Setelah masuk kedalam kedaton roso (rasa) yang ada di indraloka dan bersemayam di hati-sanubari. Umur 35 hari (selapanan, dimana misalnya lahir hari Jum’at dan pasaran Legi maka hari itu adalah sama) kemudian dibuatkan selamatan selapanan. Mempunyai arti bahwa kekuasaanku yang kedaton ketiga itu sudah diambil-alih (selapi) oleh sedulur papat limo pancer.

Seorang anak yang sudah berumur 105 hari (tiga selapanan) akan dibuatkan selamatan nasi tumpeng yang diberi nama telung lapan. Ini mempunyai arti: bahwa kekuasan yang telu-telune atunggal (cipta, rasa dan karsa) sudah dikuasai oleh pancaindra. Dan sejak saat itulah maka kekuasaan di tiga kedaton itu sudah tidak ada sama sekali, mulai dari Trimurti hingga bumi lapis tujuh semuanya sudah diakui oleh sedulur papat limo pancer, dan keadaanku makin merasuk kedalam makin dalam ada di pusat hati (telenging ati), dan rumahku sendiri sudah ditempati, dikuasai, diatur dan dijaga oleh saudara sendiri sedulur papat limo pancer.

Seperti itulah keadaan rumahku yang harus hidup terbelenggu oleh saudara sendiri, dengan tempat yang sangat rumit, dan kekuasaan hanya tinggal bagaimana untuk menghidupi badan kasar ini, dengan tujuan hidup untuk memayu hayuning bawono, tetapi semua sudah hilang, dan pada akhirnya nanti harus dipertanggung-jawabkan di depan Gusti Kang Moho Kuwoso.





SERAT SABDO JATI
(Ronggowarsito)

Megatruh:

1.
Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu / MarGAne suka basuki / Dimen luWAR kang kinayun / Kalising panggawe SIsip / Ingkang TAberi prihatos
(Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan, agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita, terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin)

2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh / Galedehan kang sayekti / Talitinen awya kleru / Larasen sajroning ati / Tumanggap dimen tumanggon
(Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama, intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati, agar mudah menanggapi sesuatu)

3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu / Angayomi ing tyas wening / Eninging ati kang suwung / Nanging sejatining isi / Isine cipta sayektos
(Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan, mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong, namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.)

4. Lakonana klawan sabaraning kalbu / Lamun obah niniwasi / Kasusupan setan gundhul / Ambebidung nggawa kendhi / Isine rupiah kethon
(Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran. Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan) akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul, yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak)

5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu / Dadi panggonaning iblis / Mlebu mring alam pakewuh / Ewuh mring pananing ati / Temah wuru kabesturon
(Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan, sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik, seolah-olah mabuk kepayang.)

6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu / Hayuning tyas sipat kuping / Kinepung panggawe rusuh / Lali pasihaning Gusti Ginuntingan dening Hyang Manon
(Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya, sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek. Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.)

7. Parandene kabeh kang samya andulu / Ulap kalilipen wedhi / Akeh ingkang padha sujut / Kinira yen Jabaranil Kautus dening Hyang Manon
(Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir, tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.)

8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh / Kewuhan sajroning ati / Yen tiniru ora urus / Uripe kaesi-esi / Yen niruwa dadi asor
(Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan tercela akhirnya menjadi sengsara.)

9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung / Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu / Kabegjane anekani / Kamurahane Hyang Manon
(Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.)

10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun / Yen temen-temen sayekti  / Dewa aparing pitulung / Nora kurang sandhang bukti / Saciptanira kelakon
(Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.)

11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur / Saka pengunahing Widi / Ambuka warananipun / Aling-aling kang ngalingi / Angilang satemah katon
(Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.)

12. Para jalma sajroning jaman pakewuh / Sudranira andadi / Rahurune saya ndarung / Keh tyas mirong murang margi / Kasekten wus nora katon
(Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan, cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela, makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.)

13. Katuwane winawas dahat matrenyuh / Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt / Kongas welase kepati / Sulaking jaman prihatos
(Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.)

14. Waluyane benjang lamun ana wiku / Memuji ngesthi sawiji / Sabuk tebu lir majenum / Galibedan tudang tuding / Anacahken sakehing wong
(Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877 S (1945 M).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila, hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.)

15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu / Kala Suba kang gumanti / Wong cilik bisa gumuyu / Nora kurang sandhang bukti / Sedyane kabeh kelakon
(Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba. Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.)

16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput / Mulur lir benang tinarik / Nanging kaseranging ngumur / Andungkap kasidan jati / Mulih mring jatining enggon

(Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai, bagaikan menarik benang dari ikatannya. Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.)

17. Amung kurang wolung ari kang kadulu / Tamating pati patitis / Wus katon neng lokil makpul / Angumpul ing madya ari / Amerengi Sri Budha Pon
(Yang terlihat hanya kurang 8 hari lagi, sudah sampai waktunya, kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.)

18. Tanggal kaping lima antarane luhur / Selaning tahun Jimakir / Taluhu marjayeng janggur / Sengara winduning pati / Netepi ngumpul sak enggon

(Tanggal 5 bulan Sela (Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu, Windu Sengara
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan sang Pujangga kembali menghadap Tuhan (24 Desember 1873))

19. Cinitra ri budha kaping wolulikur / Sawal ing tahun Jimakir / Candraning warsa pinetung / Sembah mekswa pejangga ji / Ki Pujangga pamit layoti
(Dari sananya memang tidak diterjemahkan)




Ref:
http://agungpambudi72.blogspot.com/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...