Sabtu, 14 Desember 2013

MAJALAH PANTJAWARNA NOMOR 17 THN II FEBRUARI 1950

MAJALAH PANTJAWARNA NOMOR 17 THN II FEBRUARI 1950

Ivan Taniputera
14 Desember 2013



Judul: Majalah Pantjawarna Nomor 17 Tahun II Februari 1950
Jumlah halaman: 40

Beberapa artikel menarik yang ada di majalah ini antara lain adalah "Soal Warga Negara "Asli" dan "Tidak Asli": Bentrokan-bentrokan tjita-tjita juridis dengan keadaan sociologis harus dilenjapkan," karya Gouw Giok Siong. Berikut ini adalah sedikit kutipannya:

"DENGAN berdirinja RIS dan berlakunja Undang-undang tentang Kewarga-negaraan jang didasarkan atas azas kelahiran (jus soli) diseluruh Indonesia akan terdapat beribu-ribu, ja berdjuta-djuta warga negara dari turunan Tionghoa, Arab, Belanda, dan sebagainja. Umum sudah mengetahui, bahwa orang-orang Peranakan Tionghoa dan Arab dengan automatis akan direken mendjadi warga-negara Indonesia dkuka mereka ini tidak memakai hak mereka untuk menolak (hak repudiatie) dalam dua tahun sesudahnja berlaku..."

Pada halaman 3 terdapat gambar salah satu babakan dalam filmu Indonesia berjudul "Bantam" (Tersesat) yang diedarkan oleh Tan & Wong Bros, Film Coy di Jakarta. Film ini menuturkan kisah Bachrum, putera seorang hartawan di daerah Bantam, yang hidup sebagai penjudi, penipu, dan lain sebagainya.

Pada halaman 4 terdapat artikel mengenak makna "andeng-andeng" atau tahi lalat di wajah, buah karya T.K.L.

Pada halaman 6 terdapat artikel berjudul "Harus Beladjar Lagi" buah karya Goerz.

Pada halaman 8 terdapat artikel mengenai asal muasal suku bangsa Sheh, yang dirunut hingga zaman Raja K'u atau Ti K'u buah karya Wan Fei.

Pada halaman 10 terdapat artikel berjudul "Malioboro diwaktu Malam" buah karya Chuang.

Pada halaman 13 terdapat artikel berjudul "Sedikit Tentang Hoakiauw di Indonesia dan Kesusasteraan Barat," buah karya T.J.K. Berikut ini adalah sedikit kutipannya:

"Bagi bangasa Europa di Indonesia, pemilihan antara buku literair dan bukan literair tidak mendjadi soal, karena bahasa asing itu ada bahasa mereka. Tetapi mengingat bahwa djuga di Eurpoa orang jang dapat pisahkan buku literair dari jang bukan pun tidak banyak, tidak heran di Indonesia Hoakiauw berada dalam satu kedudukan jang terlebih sukar berhubung dengan soal literatuur Barat itu.."

Pada halaman 18 terdapat artikel berjudul "Kenang-kenangan Sintjhia.......! Tahun Baru Imlek dalam tiga djaman" karya Sontolojo.

Pada halaman 20 terdapat artikel berjudul "Seni Tulis dan Lukis di Tiongkok. Dari Djaman Dulu Sampai Abad Belakangan," buah karya Pik Nio.

Pada halaman 22 terdapat artikel mengenai Dompu, salah satu kesultanan di Sumbawa.  Artikel berjudul "Dompu: Gudang padi dan pengharapan Sumbawa. Sultan Dompu mempunjai standaard dengan...........liong Tionghoa!" karya Soh Lian Tjie ini meriwayatkan seluk belum Dompu, termasuk peran dan jejak budaya Tionghoa di sana. Bahkan Kesultanan Dompu, salah satu di antara enam kerajaan di Pulau Sumbawa, memiliki lambang berupa naga. Adapun enam kerajaan di Pulau Sumbawa adalah: Bima, Dompu, Sumbawa, Sanggar, Papekat, dan Tambora.

Catatan: liong adalah dialek Hokkian bagi long (龍) yang berarti "naga."

Berikut ini adalah kutipannya:

"Ja, demikianlah ada perhubungan anara berbagai-bagai golongan penduduk di seluruh pulau. Sri Sultan Dompoe kasi lihat pada saja satu standaard: merah dengan wimpel oranje, atas mana ada disulam seekor naga, satu liong Tionghoa. "Sebelumnja djaman Modjopahit," demikian J.M. tjeritera, "Dompoe rupanja berada dibawah pengaruh Tionghoa." Di Soembawa saja diberitahukan, bahwa Sultan dari Bima mempunjai satu standaard demikian dengan lain-lain warna, sedang punjanja Sultan dari Soembawa ada mengundjuk seekor matjan sebagai lembaga. Matjan dan liong memang lembaga-lembaga Tionghoa typisch. Melihat adanja begitu banjak porcelein kuno bukan mustahil, jonk-jonk Tionghoa dari abad-abad lalu dengan tentu ada singgah di kepulauan Soenda ketjil."

Hubungan dengan kaum keturunan China masa itu boleh dikatakan baik:

"J.M. Mohammed Arifin Siradjudin, Sultan dari Dompoe menghargai tinggi perhubungan baik antara semua golongan penduduk dalam negaranja. Sebagai tjonto jang menjolong umpamanja ia sebut sumbangan Dompoe buat pembangunan Masdjid Raya di Makassar sedjumlah f. 10.000. Dari golongan penduduk Tionghoa (200 djiwa) ia telah terima f. 2000,-, dan dari golongan Arab (3 @ 400 djiwa) f 2000,-. dan dengan tjara ini dalam tempo singkat Dompoe telah mengumpuli djumlah jang perlu."

Selain itu, saat hendak diadakan upacara-upacara adat, orang-orang China juga banyak membantu.

Pada halaman 40 terdapat artikel "Bagaimana Orang Tionghoa Membantu RIS?"

Masih terdapat pula artikel-artikel menarik lainnya.

Berikut ini adalah contoh halamannya:









Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.