Rabu, 19 Maret 2014

SECUIL UNGKAPAN KALIMAT JAWA





“Ngelmu iku kalakone kanthi laku” (bila
ingin pandai harus belajar). Ini berarti bahwa bila ingin pandai,
seorang anak didik dalam keluarga harus belajar keras. Hal ini dapat
disamakan dengan ungkapan “Jer basuki mawa beya” (keberhasilan seseorang diperoleh dengan pengorbanan).

“Nulodho laku utomo” (mencontoh perbuatan yang baik). Ini berarti semua anggota keluarga harus mencontoh pada perbuatan yang utama dan yang baik.

“Ngono ya ngono, ning aja ngono”
(demikian ya demikian, tetapi jangan demikian). Ini berarti berbuat
boleh, berbicara boleh juga, tetapi jangan sampai menyakiti hati dan
perasaan orang lain. Atau dalam berbuat jangan melewati wewenangnya.
Ungkapan ini untuk mengendalikan diri, jangan berbuat
melebihi wewenangnya dan jika berbicara jangan orang lain tersinggung.

“Aja NGgugu karepe dewe” (jangan berbuat sekehendak sendiri). Atau “Aja nuhoni benere dewe” (jangan merasa benar sendiri). Atau “Aja mburu menange dewe”
(jangan mengejar/merasa menang sendiri). Ungkapan tersebut di atas
sifatnya memperingatkan dalam keluarga atau lebih luas dalam masyarakat
agar jangan menganggap dirinya yang paling benar, dalam tingkah laku,
kepandaian dan kebijakan, pendapatdan lain sebagainya.

“Mikul dhuwur mendhem jero”
(memikul tinggi menanam dalam). Artinya orang yang senantiasa
bertanggungjawab kepada keluarga dengan membawa nama baik keluarga atau
orang tua.
Dengan menjunjung derajat orang tua si anak akan harum namanya.






“Kacang mangsa ninggal lanjaran” (kacang tidang mungkin meninggalkan jalur). Maksudnya, watak dan tingkah laku anak biasanya mirip dengan
tingkah laku orang tua. Ini berarti bahwa orang tua harus yang baik kepada
anak-anaknya agar anak-anaknya selalu merasa nyaman dalam kehidupan keluarga.

“Kaya mimi lan mintuno” (seperti sepasang ikan mimi dan mintuna). Artinya kasih sayang ayah dan ibu, tidak bercerai-berai atau tidak dapat diceraikan
dan selalu rukun. Kasih sayang ibu dan ayah, dapat digeser ke kasih sayang
adik-kakak, orang tua-anak dan sebaliknya anak harus hormat kepada orang
tua dan berbakti agar dalam keluarga tidak terjadi pertengkaran.
“Wong bodho dadi pangane wong pinter” (orang yang bodoh menjadi objek rejeki orang yang pinter). Ungkapan ini menggambarkan perubahan dalam
idealisme dan cara pendidikan keluarga yang berlainan. Dalam keadaan
sekarang generasi muda harus rajin belajar, menjadi orang yang pandai untu
kesuksesan hidupnya.

seiring majune perkembangan jaman, ungkapan jawa semacam iki jarang diperdengarkan pada anak-anak kita.
padahal nek di bedah kalimat2nya mengandung banyak nasehat.
:study: :study: :study: :study: :study: :study: :study: :study: :study: :study:



_________________
tansah kelingan pesene si mbah :
ojo dadi wong seng rumongso biso, ananging dadio wong seng biso rumongso.


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.