Rabu, 19 Maret 2014

Tembang Lir Ilir (Sunan Kalijaga)







“Lir-ilir, lir ilir, . . . .
tandure wing angilir,
sing ijo royo-royo,
tak sengguh kemanten anyar.
cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi,
lunyu-lunyu penekno kanggo masuh dodotiro.
dodotiro-dodotiro, kumitir bedah ing pinggir,
dondomana jrumatana, kanggo sebo mengko sore,
mumpung gede rembulane,
mumpung jembar kalangane,
ndak sorak hore. . . . . ”.


kutipan tembang lir-ilir diatas entu merupakan salah satu tembang
jawa yg dikarang oleh Sunan Kalijaga n ternyata memiliki makna yg dalam
mengenai Agama Islam . . .


Adapun maksudnya adalah demikian :


sang bayi yang baru lahir di dalam dunia ini masih suci bersih,
murni, sehingga ibarat seperti penganten baru, siapa saja ingin
memandangnya,


“bocah angon” (pengembala) itu diumpamakan santri, mualim, artinya orang yang menjalankan syariat agama.


Sedangkan “blimbing” diibaratkan blimbing itu mempunyai/teridiri dari
lima belahannya, maksudnya untuk menjalankan sembahyang 5 waktu.


Meskipun “lunyu-lunyu” (licin). tolong panjatkan juga, kendatipun sembahyang itu susah, namun Dirikanlah !


buat membasuh “dodotira-dodotira, kumitir bedah ing pinggir”
maksudnya kendatipun sholat itu susah, tetapi Dirikanlah guna membasuh
hati dan jiwa kita yang kotor ini


“Dondomono, jrumatana, kanggo sebo mengko sore, dan surak-surak
hore”. Maksudnya ” bahwa orang hidup di dalam dunia ini senantiasa
condong kearah berbuat dosa segan mengerjakan yang baik dan benar serta
utama,


sehingga dengan menjalankan sholat itu diharapkan besok dikelak
kemudian dapat kita buat sebagai bekal kita dalam menghadap kehadirat
Tuhan Yang Maha Kuasa, bekal itu adalah beramal saleh

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.