Minggu, 28 Desember 2014

Kartasura, Mata Rantai yang Terlupakan


Sejarah mencatat, Keraton Kartasura pernah menjadi pusat pemerintahan negara Mataram. Namun, kini kondisinya tak lebih dari tembok tua yang menunggu hancur.

Ferdinand

BEGITULAH nasib Keraton Kartasura saat ini. Tak ada lagi bangunan istana megah di sana. Satu-satunya yang tersisa di lahan seluas 2 hektare di Kelurahan Kartasura, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, itu hanyalah Benteng Sri Manganti.

Kendati relatif masih utuh, kondisi tembok batu bata setinggi 3 meter dengan tebal setengah meter itu memprihatinkan. Tanaman merambat dan lumut merayapi badannya. Beberapa bagian dinding bahkan ambrol termakan usia dan diterjang akar liar.Dulunya, Keraton Kartasura dibangun sangat megah. Buku Babad Tanah jawi menggambarkan kompleks ini sangat kokoh. Bentengnya saja dibuat dua lapis, yakni Baluwarti di bagian terluar dan Sri Manganti pada bagian dalam.Di sekeliling Benteng Baluwarti terdapat parit lebar berair dan tanaman semak berduri sebagai alat pertahanan. Namun kini benteng Baluwarti sudah hancur, hanya sekitar 100 meter yang masih berdiri, selebihnya telah menjelma jadi permukiman warga.Di dalam benteng Sri Manganti terdapat bangunan utama keraton, masjid agung, gedong obat tempat menyimpan mesiu, dan sejumlah bangunan pendukung lain. Di sisi utara benteng terdapat alun-alun dan taman kerajaan yang kini dikenal dengan nama Gunung Kunci.

Keraton Kartasura dibangun sekitar 1680 pada masa pemerintahan Raja Mataram, Sunan Amangkurat II. Karena sang raja tidak berkenan lagi kembali ke Keraton Pleret di Kota Gede, Yogyakarta, setelah diporakpo-randakan pasukan pemberontak pimpinan Raden Trunajaya dari Sampang, Madura.Sunan Amangkurat II juga yang mengganti namanya dari Wonokerto menjadi Kartasura. Sekaligus memindahkan Ibu Kota Negara Mataram ke tempat ini. Lebih kurang 23 tahun lamanya Sunan Amangkurat II Bertakhta di Keraton ini. Se-peninggalnya, Pemerintahan diteruskan Putranya, Pangeran Adipati Anom.

Namun, itu tidak berlangsung lama. Pertikaian dengan Pamannya, Pangeran Puger, yang kemudian dinobatkan sebagai Sunan Paku Buwono I memaksanya kehilangan Takhta. Ketika Paku Buwono I Wafat pada sekitar 1719, tampuk Pemerintahan diteruskan Putranya yang bergelar Susuhunan Prabu Amangkurat. Ia Wafat pada 1727 dan digantikan Putranya, Pangeran Prabayasa, yang bergelar Sunan Paku Buwono II.Pada masa emerintahan Paku Buwono II inilah terjadi kehancuran Keraton Kartasura sebagai akibat pemberontakan yang dilakukan RM Garedhi, cucu Sunan Amangkurat III, yang bekerja sama dengan, warga Tionghoa.

Dengan menyimak sejarah panjang tersebut, tidak salah kiranya jika Keraton Kartasura disebut sebagai salah satu simpul penting sejarah perjalanan bangsa. Sayang, kini kompleks bangunan yang sepeninggal Paku Buwono II difungsikan sebagai kompleks pemakaman ini cenderung terlupakan."Dan sejak Paku Buwono X wafat, tidak ada lagi yang memperhatikan tempat ini," kata Haris, abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta yang dipercaya menjadi juru kunci benteng, Kamis (11/3).Selaku orang yang mendapatkan kepercayaan, Haris mengaku teiah berupaya sekuat mungkin untuk merawatnya. Namun, karena keterbatasan dana, ia tidak bisa berbuat banyak.

"Selama ini biaya perawatan hanya mengandalkan sumbangan dari pengunjung dan peziarah. Ada juga bantuan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, Rp200 ribu setiapbulan," kata Haris.Pemasukan tefsebut, menurut Haris, hanya cukup untuk membiayai perawatan ringan. Terlebih sejak 2005 pihak Keraton Surakarta tidak lagi mengizinkan ada aktivitas ziarah malam Jumat ke tempat ini. Praktis, pemasukan yang didapatkan menurun tajam."Pendopo yang dibangun Paku Buwono X itu, kondisinya sudah sangat parah. Namun, apa boleh buat, tidak ada dana untuk memperbaikinya," kata Haris sembari menunjuk sebuah bangunan pendopo kecil di tengah benteng.

Kondisi bangunan yang berjarak sekitar 15 meter dari rumah tinggal Haris itu memang sudah parah. Lantainya yang terbuat dari semen dan batu bata sudah pecah di sana-sini. Kerangka kayu penyangga atapnya sudah mulai miring, sebagian Sudah dimakan rayap. Padahal, bangunan itu masih sering digunakan peziarah.Keprihatinan terhadap nasib Keraton Kartasura disuarakan budayawan Solo, Winarso Ka-linggo. Sebagai salah satu jejak sejarah, menurut Ketua Komite Museum Radyapustaka Solo ini, semestinya bukan hanya pihak keraton yang memiliki tug.is merawatnya, melainkan juga pemerintah.

Sejarawan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Soedarmono justru melihat nasib Keraton Kartasura saat ini tidak terlepas dari naluri siklus sumbu pendek yang dianut Dinasti Mataram dan keturunannya. Berdasar siklus tersebut, saat memasuki usia 250 tahun, lokasi kerajaan harus berpindah ke tempat yang baru. Lokasi yang lama ditinggalkan begitu saja dan digunakan sebagai permakaman.Kalau dihitung dari saat pendirian Keraton Kartasura hingga Keraton Surakarta, siklus itu terbukti benar. Begitu pula dengan rentang waktu dari Keraton Pleret di Kota Gede dengan Keraton Kartasura. "Nah, mengapa Keraton Surakarta masih ada sampai saat ini? Itu karena saat memasuki siklus tersebut di disongsong zaman kemerdekaan Republik Indonesia," kata Soedarmono.Ia menambahkan, kendati secara tradisi bisa diterima, dari sisi sejarah semestinya Keraton Kartasura tetap dipertahankan dan dilestarikan. Karena bagaimanapun dia merupakan jejak sejarah. (N-4)ferdinan@mediaindonesia.com


Ringkasan Artikel Ini

Ia wafat pada 1727 dan digantikan putranya, Pangeran Prabayasa, yang bergelar Sunan Paku Buwono II.Pada masa pemerintahan Paku Buwono II inilah terjadi kehancuran Keraton Kartasura sebagai akibat pemberontakan yang dilakukan RM Garedhi, cucu Sunan Amangkurat III, yang bekerja sama dengan, warga Tionghoa. Sayang, kini kompleks bangunan yang sepeninggal Paku Buwono II difungsikan sebagai kompleks pemakaman ini cenderung terlupakan."Dan sejak Paku Buwono X wafat, tidak ada lagi yang memperhatikan tempat ini," kata Haris, abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta yang dipercaya menjadi juru kunci benteng, Kamis (11/3).Selaku orang yang mendapatkan kepercayaan, Haris mengaku teiah berupaya sekuat mungkin untuk merawatnya. Sejarawan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Soedarmono justru melihat nasib Keraton Kartasura saat ini tidak terlepas dari naluri siklus sumbu pendek yang dianut Dinasti Mataram dan keturunannya. Lokasi yang lama ditinggalkan begitu saja dan digunakan sebagai permakaman.Kalau dihitung dari saat pendirian Keraton Kartasura hingga Keraton Surakarta, siklus itu terbukti benar.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.