Rabu, 19 Maret 2014

Ruh Islam Dalam Wayang - Punakawan









Dengan metode komunikasi massa yang brilian, cerita wayang khususnya


wayang kulit disusupi, diubah dan dikembangkan oleh para wali





sedemikian rupa sehingga bernafaskan Islam.





Pusaka terhebat dalam kisah pewayangan adalah Jamus Kalimasada





atau Dua Kalimat Syahadat.








Empat pendamping atau punakawan para ksatria yang amat sakti,





diberi penafsiran baru dari bahasa Arab yang mengandung makna filosofis tinggi, yaitu:








1.   Semar, berasal dari bahasa Arab simaar yang berarti paku.





Ini dimaksudkan bahwa kebenaran agama Islam kokoh, kuat, sejahtera





bagaikan paku yang sudah kokoh tertancap, simaaroddunyaa.








2.   Petruk, dari kata fat-ruk artinya tinggalkanlah. Fat-ruk kullu man siiwalloohi,





tinggalkanlah segala apa yang selain Alloh.








3.   Gareng, dari kata naa la qorii.





Nala Gareng dimaksudkan mencari kawan sebanyak banyaknya.





Kembangkanlah silaturahmi dan dakwah.








4.   Bagong, dari kata baghoo artinya lacut atau berontak, yaitu keberanian untuk





memberontak terhadap segala sesuatu yang salah dan zholim.




Sementara itu kata dalang, yaitu tokoh yang memainkan cerita dan wayang





juga diberi makna yang berasal dari bahasa Arab dalla,





artinya menunjukkan ke jalan yang benar.







Man dalla alal khoyr ka fa ‘ilayhi yaitu barang siapa bersedia menunjukkan





kepada jalan yang benar atau ke arah kebajikan, maka pahalanya seperti orang





yang berbuat kebajikan itu sendiri (Hadis Bukhori).





Dengan ruh keislaman antara lain seperti gambaran di atas, kemudian dikarang





cerita wayang khusus untuk berdakwah yang tidak ditemukan dalam babon induknya





dari India yaitu Mahabarata dan Ramayana.





Cerita-cerita khas dakwah itu antara lain Dewa Ruci (pelajaran tentang tarekat dan hakikat),





Jimat Kalimasada, Petruk Jadi Ratu, Pandu Pragola,





Semar Ambarang Jantur dan Mustaka Weni.





Dengan cerita-cerita tersebut para dalang, pada mulanya adalah Sunan Kudus





dan Sunan Kalijaga  dua dari wali sembilan, dengan mengenakan baju model baru





yang disebut baju taqwa yang kita kenal dan pakai sampai sekarang,





disertai para penabuh gamelan berdakwah keliling pulau Jawa.





Yang sangat istimewa, selama memainkan wayang, jika malam hari berlangsung





tanpa henti dari segera sehabis Isya sampai menjelang Subuh, mereka harus senantiasa





dalam keadaan berwudhu, tidak boleh menanggung hadas.




Sumber : http://www.kurniafm.com/



Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.