Rabu, 03 September 2014

korset punggung untuk nyeri pada tulang belakang

Low Back Pain (LBP atau biasa dikenal nyeri punggung bawah) adalah rasa nyeri yang terjadi di daerah pinggang bagian bawah dan dapat menjalar ke kaki terutama bagian sebelah belakang dan samping. Keluhan ini sering kali dapat sedemikian hebatnya sehingga pasien mengalami kesulitan dalam setiap pergerakan (salah tingkah) dan pasien harus istirahat, bahkan sampai dirawat di rumah sakit. Pasien biasanya sudah berobat ke berbagai teknik pengobatan, tetapi belum bisa menyembuhkan penyakit ini secara maksimal.

Salah satu cara penanganan  sakit pinggang ini adalah dengan cara memakai alat penyangga tulang belakang (korset ortopedi).
Korset ini berfungsi:
1. Terbukti mengurangi nyeri pinggang seperti HNP (Hernia Nucleus Pulposus), Ischialgia (Penjepitan syaraf Isciadicus).
2. Memberikan proteksi dan support yang maksimal pada pinggang sehingga dapat mengurangi nyeri akibat LBP / HNP.
3. Sebagai alat bantu untuk menjaga kestabilan tulang pinggang pada saat beraktivitas.
4. Bisa Mengecilkan perut.

Sfesifikasi Alat:
1. Menggunakan bahan elastis, perekat dan 4 plat alumunium / polypropylene (tergantung permintaan).
2. Di desain sesuai anatomi tulang belakang manusia
3. Memiliki lengkung pinggang yang anatomis
4. Warna coklat
7. Ukuran korset: Silakan ukur lingkaran pinggang anda tepat diatas pusar anda, kemudian cocokkan dengan ukuran dibawah ini
- Ukuran S = 75-80 cm
- Ukuran M = 81-85 cm
- Ukuran L = 86-90 cm
- Ukuran XL = 91-95 cm
- Ukuran XXL = 96-100 cm
- Ukuran XXXL = 101-105 cm

Harga Korset Ortopedi  Rp. 200.000

Harga TLSO Rp. 400.000,-

atau bisa dilihat spesifikasi harga dan macam-macam alat bantu kesehatan di www.orthoshoping.blogspot.com

Untuk pemesanan alat dapat menghubungi:
Nugroho  : 0858 6737 4002
Silakan tulis pesan ukuran korset dan alamat pengiriman anda melalui sms, kemudian lakukan pembayaran melalui bank  dan konfirmasikan kepada kami, barang akan dikirim ke alamat Anda.
Ongkos kirim silakan cek melalui JNE : http://www.jne.co.id , kota asal Jepara. Kecuali untuk reseller jika pemesanan dalam jumlah banyak akan kami carikan cargo yang lebih murah. Harga belum termasuk ongkos kirim.


Korset Ortopedi

TLSO

TLSO


Segera konsultasikan keluhan anda dengan dokter.

Senin, 01 September 2014


       Kerajaan Islam Hatuhaha

A. UMUM  

Sebelum terbentuknya Kerajaan Islam Hatuhaha di Jazirah Uli Hatuhaha seringkali terjadi kerusuhan-kerusuhan, seperti pada tahun 1382 terjadi peperangan Urisiwa di gunung Sialana anatar kelompok-kelompok yang tidak mau tunduk pada prinsip-prinsip Hatuhaha, antara Kapitan yang satu dengan Kapitan yang lain. Tetapi dengan kehadiran Kapitan Ismail Akipai di Jazirah ini, maka dapatlah diatasi segala kerusuhan serta membawa perubahan-perubahan dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan di antara Kapitan-kapitan maupun tokoh-tokoh masyarakat di Jazirah Uli Hatuhaha. Sehingga daerah ini dapat disatukan dalam satu wadah yakni Uli Hatuhaha. Kapitan Ismail Akipai dapat menciptakan suatu kondisi yang baik dengan jalan mengangkat Ronerusun Marapaika (Matasiri) selaku kepala adat Hatuhaha Amarima Lounusa dengan istilah Latu Nusa Barakate, yang memepunyai kedudukan tertinggi di Jazirah Uli hatuhaha, dimana kedudukan ini masih tetap dipertahankan sampai saat ini dengan istilah Ketua Latu Pati. Sedangkan pada masing-masing negeri diangkat seorang raja, antara lain:

1. Kapitan Seipati Kabaresi sebagai Latu (Raja) untuk kelompok Sahapori (Kailolo) dengan gelar Latu Surinai.
2. Kelompok Samasuru (Kabauw) Latu Karia Sina (Latu Pisina Sinamahu) kemudian diserahkan kepada Latu Supaholo seterusnya kepada marga Pattimahu.
3. Kelompok Mandelisa (Rohomoni) diangkat dari kelompok Moniya Tihusele ditetapkan Makuku Rahamete dengan gelar Sangaji, dimana marga Sangaji memegang tampuk pemerintahan sampai sekarang.
4. Kapitan Tuai Leisina Tuanoya sebagai Latu (Raja) untuk kelompok Haturesi (Hulaliu).
Dalam proses pengangkatan di atas menimbulkan protes dari Kapitan Kohiyasi, yang seolah-olah menghendaki kedudukan tersebut, sesuai dengan kapatah sebagai berikut:
Musunipi kup lete asai Lounusa, o
Akipai hiti Latu Ronae, ea
Kohiyasi weitai kanamai, anakai Akipai Paria ipiri
Susa hee Latu Ronae, ihiti puna Latu Nusa Barakate
Namun sesuai dengan perjanjian bersama antara Kapitan Akipai dengan Kapitan Rihiya Hutubesy pada saat berakhir peperangan Uri-Siwa di gunung Sialana, maka Kapitan Ismail Akipai tetap melaksanakan pengangkatan tersebut dan ternyata pengangkatan tersebut berjalan baik tanpa seorangpun berani menghalanginya.
Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa tugas dan fungsi daripada Kapitan Ismail Akipai adalah untuk memulihkan keamanan dan ketertiban dari gangguan, baik yang datang dari dalam maupun yang datang dari luar, serta mengangkat kepala-kepala adat, Latu (Raja).

B. TERBENTUKNYA KERAJAAN ISLAM HATUHAHA

Berdasarkan informasi dari leluhur kami bahwa di Maluku Tengah tepatnya di pulau Haruku, bagian Utara terdapat sebuah kerajaan Islam yang bernama “Kerajaan Islam hatuhaha”, yang pada saat itu merupakan suatu kerajaan Islam yang terkuat di Lease. Kerajaan Islam Hatuhaha terbentuk daripada lima buah negeri yang disebut Amarima Lounusa, antara lain :

1. Haturesi (Hulaliu)
2. Matasiri (Pelau)
3. Sahapori (Kailolo)
4. Samasuru (Kabauw)
5. Mandelisa (Rohomoni)

Kerajaan Islam Hatuhaha ini sebelumnya bernama Kerajaan Hatuhaha, dimana pada tahun 1380 Miladiyah kerajaan tersebut dibawah pengawasan seorang Kapitan yang bernama Kapitan Ismail Akipai yang sakti mandraguna, namun struktur pemerintahannya belum diatur sebagaimana halnya suatu kerajaan.
Dengan kedatangan Datuk Zainal Abidin di Jazirah Uli Hatuhaha pada tahun 1385 Miladiyah sebagai penyiar agama Islam banyak membawa perubahan sehingga pada tahun 1410-1412 Miladiyah agama Islam diterima secara bulat oleh masyarakat Amarima Lounusa. Pada saat itu juga Kerajaan Hatuhaha berganti nama menjadi Kerajaan Islam Hatuhaha, dimana pelaksanaan roda administrasi pemerintahan dibagi menurut kedudukan adat, antara lain:

1. Raja Matasiri (Pelauw) sebagai Latu Nusa Barakate Hatuhaha
2. Raja Haturesi (Hulaliu) sebagai Sekretaris Hatuhaha (penyimpanan arsip/ surat)
3. Raja Sahapori (Kailolo) sebagai Panglima Perang Hatuhaha serta penjaga keamanan terhadap bahaya yang datang dari dalam maupun dari luar Jazirah Uli Hatuhaha
4. Raja Samasuru (Kabauw) sebagai Ahli Perdagangan (koordinator bidang ekonomi)
5. Raja Mandelisa (Rohomoni) sebagai Imam Hatuhaha, hal ini didasarkan pada Muhudumu merupakan orang pertama yang diIslamkan

Setelah terbentuknya Kerajaan Islam Hatuhaha pada tahun 1410-1412 Miladiyah, tahun itu juga merupakan tonggak sejarah perkembangan agama Islam di Jazirah Uli Hatuhaha yang dapat mempersatukan Amarima Lounusa menjadi satu kesatuan, seperti diungkapkan pada kapatah di bawah ini:

Hatuhaha taha rua taha rima’o
Ite looka hiti ha
ha ruma’ea
Ite looka hiti haha ruma’io
Irehu waela sala isya’i

Artinya :

Masyarakat Hatuhaha tidak ada perbedaan kelompok, baik dua maupun lima, mereka saling bantu membantu satu sama lain, karena mereka berasal dari satu pancaran mata air.
Dengan demikian setiap permasalahan yang timbul di Jazirah Uli Hatuhaha dapat dieselesaikan secara adat hatuhaha yang dinamakan “Musunipi” (musyawarah). Hal ini atas gagasan Kapitan Ismail Akipai.
Kerajaan Islam Hatuhaha pada awalnya merupakan satu negeri adat yang besar dalam sejarah, dengan kedudukan ibu negerinya dikenal dengan nama Amahatu yang terletak disekitar pegunungan Alaka. Namun karena proses perkembangan sejarah, negeri Hatuhaha ini terpecah menjadi lima buah negeri yang kesemuanya terpencar disepanjang pesisir pantai pulau Haruku bagian Utara. Negeri Haturesi (Hulaliu) merupakan satu-satunya pecahan negeri Hatuhaha yang penduduknya berpindah agama, sedangkan empat negeri lainnya tetap berpegang kepada agama Islam.

REFERENSI:

1). Richard Z. Leirissa, Drs, Maluku Dalam Perjuangan Nasional Indonesia, Lembaga Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1975
2). Abu Bakar Ohorella, Pemuka Masyarakat Kailolo, 1989
3). Abdul Latif Tuanany, mantan Sekretaris Desa Kailolo, 1989
4). Hi. Kojabale Marasabessy, Pemuka Masyarakat Kailolo, 1989

Kamis, 28 Agustus 2014

Untuk orang tua dengan anak yang mengalami kaki pengkor / kelainan kaki bengkok masuk ke dalam

Orang tua dari bayi yang lahir dengan kondisi kaki pengkor (club foot dlm bahasa inggrisnya) dapat diyakinkan bahwa bayi mereka, bisa kembali normal, ketika diobati oleh para ahli akan memiliki kaki tampak normal dengan fungsi normal untuk semua tujuan mobilitas.  kaki pengkor bisa sepenuhnya seperti sembuh  dan kompatibel dengan kehidupan  aktif normal.

Gambar bayi berusia 1 Clubfoot 2 hari dengan clubfeet bilateral

Mayoritas clubfeet dapat diperbaiki pada masa bayi dalam waktu sekitar enam sampai delapan minggu dengan manipulasi lembut tepat dan gips plester. Pengobatan ini didasarkan pada pemahaman yang baik tentang anatomi fungsional kaki dan respon biologis otot, ligamen dan tulang perubahan posisi korektif secara bertahap diperoleh dengan manipulasi dan casting.

Kurang dari 5% dari bayi yang lahir dengan clubfeet mungkin sangat parah, pendek, kaki gemuk dengan ligamen kaku, dengan lipatan kulit melintang dalam di telapak kaki dan lipatan lain di atas tumit. Bayi-bayi ini memerlukan perlakuan khusus dan mungkin perlu koreksi bedah. Hasilnya lebih baik jika tulang dan operasi sendi dapat dihindari sama sekali. Bedah di kaki pengkor yang selalu diikuti oleh jaringan parut, kekakuan dan kelemahan otot yang menjadi lebih parah dan melumpuhkan setelah masa remaja.

Pengobatan harus dimulai pada minggu pertama atau dua hari kehidupan dalam rangka mengambil keuntungan dari elastisitas yang menguntungkan dari jaringan yang membentuk ligamen kapsul sendi dan tendon. Dengan struktur pengobatan ini selama beberapa minggu, dan soft manipulasi.  Pengegipan  diterapkan selama beberapa  minggu untuk mempertahankan tingkat koreksi yang diperoleh dan untuk melunakkan ligamen. Dengan demikian, tulang yang tidak normal,  secara bertahap dibawa ke arah yang tepat.


Gambar 2 ClubfootFourth gips diterapkan setelah manipulasi

Lima sampai tujuh gips plester memanjang dari jari kaki ke paha atas dengan posisi lutut membentuk sudut kea rah kanan harus cukup untuk memperbaiki deformitas kaki pengkor. Bahkan kaki yang sangat kaku memerlukan tidak lebih dari 8 atau 9 plester gips untuk mendapatkan koreksi yang maksimal. Sebelum menerapkan gips terakhir yang akan dikenakan selama tiga minggu, tendon Achilles sering dipotong untuk menyelesaikan koreksi kaki. Pada saat gips dilepas tendon telah diregenerasi untuk panjang yang tepat. Setelah dua bulan pengobatan, kaki harus muncul overcorrected. Baru-baru ini kami menemukan bahwa pengobatan dapat dipersingkat dengan mengganti plester gips setiap lima hari.


Gambar 3 Clubfood2 1/2 bulan, kaki bayi dikoreksi

Setelah koreksi, deformitas kaki pengkor cenderung kambuh. Untuk mencegah kekambuhan, ketika plester terakhir dilepas,  sepatu ortopaedi /sepatu koreksi harus dikenakan selama dua sampai tiga bulan dalam kurun waktu 23 jam perhari. dan setelah itu pada malam hari selama 2 sampai 4 tahun. Sepatu ortopaedi / sepatu koreksi terdiri dari bar (panjang jarak antara bahu bayi) dengan sepatu ujung terbuka tinggi (seperti bot) terpasang di ujung bar di sekitar 70 derajat rotasi eksternal. Sebuah strip Plastizote harus terpaku di dalam counter sepatu di atas tumit bayi untuk mencegah sepatu dari tergelincir. Bayi mungkin merasa tidak nyaman pada awalnya ketika mencoba untuk gerakanmenendang kaki. Namun, bayi segera belajar untuk menendang kedua kaki secara bersamaan dan terasa nyaman. Pada anak-anak dengan hanya satu kaki pengkor, sepatu untuk kaki normal adalah tetap di bar di 40 derajat rotasi eksternal. Pada siang hari anak-anak memakai sepatu biasa.



Gambar 4 sepatu koreksi dan bar

Karena ahli bedah dapat merasakan dengan jari-jarinya posisi tulang dan derajat koreksi, sinar-X kaki tidak diperlukan kecuali dalam kasus yang kompleks.

Hasil buruk dari penerapan teknik ini dan perawatan manipulatif dari clubfeet di banyak klinik menunjukkan bahwa upaya koreksi belum memadai karena teknik yang digunakan adalah salah. Tanpa pemahaman yang menyeluruh tentang anatomi dan kinematika dari kaki normal dan deviasi dari tulang-tulang di kaki pengkor, kelainan ini sulit untuk diperbaiki. Manipulasi dan casting yang buruk akan lebih memperparah deformitas kaki pengkor.


Gambar 5 Clubfoot38 tahun tua tampak normal kaki dengan fungsi normal dan tidak ada rasa sakit

Ahli bedah dengan pengalaman terbatas dalam pengobatan kaki pengkor tidak harus berusaha untuk memperbaiki deformitas. Mereka mungkin berhasil dalam mengoreksi clubfeet ringan, tapi kasus yang parah memerlukan tangan berpengalaman. Rujukan ke pusat dengan keahlian dalam koreksi non-bedah kaki pengkor harus diutamakan sebelum mempertimbangkan operasi.

contoh sepatu orthopaedi:





untuk pemesanan dan melihat detail harga sepatu koreksi/sepatu ortopaedi, silahkan masuk ke website toko kami di www.orthoshoping.com

Rabu, 06 Agustus 2014

Nama Raja - Raja Tanah Jawa


  
 
   
1 Kalingga
    2 Mataram Lawas
        2.1 Wangsa Syailendra
        2.2 Wangsa Sanjaya
    3 Medang
    4 Kahuripan
        4.1 Janggala
        4.2 Kadiri
    5 Singhasari
    6 Majapahit
    7 Demak
    8 Kalinyamat
    9 Kerajaan Pajang
    10 Mataram Baru
        10.1 Kasunanan Kartasura
        10.2 Kasunanan Surakarta
        10.3 Kasultanan Yogyakarta
        10.4 Praja Mangkunagaran di Surakarta
        10.5 Kadipaten Paku Alaman di Yogyakarta
    11 Lihat pula


Kalingga

    Maharani Shima (674-732)
    Sudiwara
    Rakai Panangkaran

Mataram Lawas
Wangsa Syailendra

    Sri Indrawarman (752-775)
    Wisnuwarman (775-782)
    Dharanindra (782-812)
    Samaratungga (812-833)
    Pramodhawardhani (833-856), menikah dengan Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya)

Wangsa Sanjaya

    Sanjaya (732-7xx)
    Rakai Panangkaran : Dyah Pancapana (syailendra)
    Rakai Panunggalan
    Rakai Warak
    Rakai Garung
    Rakai Patapan (8xx-838)
    Rakai Pikatan (838-855), mendepak wangsa Syailendra
    Rakai Kayuwangi (855-885)
    Dyah Tagwas (885)
    Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887)
    Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887)
    Rakai Watuhumalang (894-898)
    Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910)
    Daksa (910-919)
    Tulodong (919-921)
    Dyah Wawa (924-928)
    Mpu Sindok (928-929), memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur (Medang)

Medang

    Mpu Sindok (929-947)
    Sri Isyanatunggawijaya (947-9xx)
    Makutawangsawardhana (9xx-985)
    Dharmawangsa Teguh (985-1006)

Kahuripan

    Airlangga (1019-1045), mendirikan kerajaan di reruntuhan Medang

    (Airlangga kemudian memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua: Janggala dan Kadiri)

Janggala

    (tidak diketahui silsilah raja-raja Janggala hingga tahun 1116)


Kadiri

    Samarawijaya (1042-....)
    Linggajaya (1052)
    Jayawarsa (1104)
    Bameswara (1117-1130)
    Jayabhaya (1135-1159)
    Sarweswara (1159-1169)
    Aryeswara (1169-1171)
    Gandra (1171-1182)
    Kameswara (1185), mempersatukan kembali Kadiri dan Panjalu
    Kertajaya (1195-1222)

Singhasari

    Tunggul Ametung
    Ken Arok (1222-1227)
    Anusapati (1227-1248)
    Tohjaya (1248)
    Ranggawuni (Wisnuwardhana) (1248-1254)
    Kertanagara ( 1254-1292)

Majapahit

    Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) (1293-1309)
    Jayanagara (1309-1328)
    Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)
    Hayam Wuruk (Rajasanagara) (1350-1389)
    Wikramawardhana (1390-1428)
    Suhita (1429-1447)
    Dyah Kertawijaya (1447-1451)
    Rajasawardhana (1451-1453)
    Girishawardhana (1456-1466)
    Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) (1466-1474)
    Girindrawardhana Dyah Wijayakarana(1468-1478)
    Singawardhana Dyah Wijayakusuma (menurut Pararaton menjadi Raja Majapahit selama 4 bulan sebelum wafat secara mendadak) ( ? - 1486)
    Girindrawardhana Dyah Ranawijaya alias Bhre Kertabumi (diduga kuat sebagai Brawijaya, menurut Kitab Pararaton dan Suma Oriental karangan Tome Pires pada tahun 1513) (1474-1519)

Demak

    Raden Patah (1478 - 1518)
    Pati Unus (1518 - 1521)
    Trenggana (1521 - 1546)
    Sunan Prawoto (1546 - 1549)

Kalinyamat

    Sultan Hadlirin (....-1549)
    Ratu Kalinyamat (1546-1579}
    Pangeran Arya Jepara (1579-...)

Kerajaan Pajang

    Jaka Tingkir, bergelar Hadiwijaya (1549 - 1582)
    Arya Pangiri, bergelar Ngawantipuro (1583 - 1586)
    Pangeran Benawa, bergelar Prabuwijoyo (1586 - 1587)

Mataram Baru

Daftar ini merupakan Daftar penguasa Mataram Baru atau juga disebut sebagai Mataram Islam. Catatan: sebagian nama penguasa di bawah ini dieja menurut ejaan bahasa Jawa.

    Ki Ageng Pamanahan, menerima tanah perdikan Mataram dari Jaka Tingkir
    Panembahan Senopati (Raden Sutawijaya) (1587 - 1601), menjadikan Mataram sebagai kerajaan merdeka.
    Panembahan Hanyakrawati (Raden Mas Jolang) (1601 - 1613)
    Adipati Martapura (1613 selama satu hari)
    Sultan Agung (Raden Mas Rangsang / Prabu Hanyakrakusuma) (1613 - 1645)
    Amangkurat I (Sinuhun Tegal Arum) (1645 - 1677)

Kasunanan Kartasura
Lihat pula: Kasunanan Kartasura

    Amangkurat II (1680 – 1702), pendiri Kartasura.
    Amangkurat III (1702 – 1705), dibuang VOC ke Srilangka.
    Pakubuwana I (1705 – 1719), pernah memerangi dua raja sebelumya; juga dikenal dengan nama Pangeran Puger.
    Amangkurat IV (1719 – 1726), leluhur raja-raja Surakarta dan Yogyakarta.
    Pakubuwana II (1726 – 1742), menyingkir ke Ponorogo karena Kartasura diserbu pemberontakl; mendirikan Surakarta.

Kasunanan Surakarta
Lihat pula: Kasunanan Surakarta
Lambang Pakubuwana

Pakubowono atau lengkapnya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Sri Paku Buwana Senopati Ing-Ngalogo Ngabdurahman Sayiddin Panotogomo adalah gelar bagi raja Kasunanan Surakarta sebagai penerus Kerajaan Mataram Islam di Surakarta.

Yang bertahta saat ini adalah Susuhunan Pakubuwana XIII.

Daftar sunan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

    Pakubuwana II (1745 - 1749), pendiri kota Surakarta; memindahkan keraton Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745
    Pakubuwana III (1749 - 1788), mengakui kedaulatan Hamengkubuwana I sebagai penguasa setengah wilayah kerajaannya.
    Pakubuwana IV (1788 - 1820)
    Pakubuwana V (1820 - 1823)
    Pakubuwana VI (1823 - 1830), diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia; juga dikenal dengan nama Pangeran Bangun Tapa.
    Pakubuwana VII (1830 - 1858)
    Pakubuwana VIII (1859 - 1861)
    Pakubuwana IX (1861 - 1893)
    Pakubuwana X (1893 - 1939)
    Pakubuwana XI (1939 - 1944)
    Pakubuwana XII (1944 - 2004)
    Pakubuwana XIII (2009 - sekarang) bersama dengan Mahapatih Pangeran Tejowulan.

Kasultanan Yogyakarta
Lihat pula: Kasultanan Yogyakarta
Lambang Hamengkubuwana

Hamengkubuwana atau Hamengkubuwono atau Hamengku Buwono atau lengkapnya Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalogo Ngabdurahman Sayiddin Panotogomo Khalifatullah adalah gelar bagi raja Kesultanan Yogyakarta sebagai penerus Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta. Wangsa Hamengkubuwana tercatat sebagai wangsa yang gigih memperjuangkan kemerdekaan pada masa masing-masing, antara lain Hamengkubuwana I atau nama mudanya Pangeran Mangkubumi, kemudian penerusnya yang salah satunya adalah ayah dari Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro, yaitu Hamengkubuwana III. Sri Sultan Hamengkubuwana IX pernah menjabat sebagai wakil presiden Indonesia yang kedua.

Yang bertahta saat ini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Daftar sultan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
1.     Sri Sultan Hamengkubuwono I     13 Februari 1755     24 Maret 1792    
2.     Sri Sultan Hamengkubuwono II     2 April 1792     akhir 1810     periode pertama
3.     Sri Sultan Hamengkubuwono III     akhir 1810     akhir 1811     periode pertama 
    Sri Sultan Hamengkubuwono II     akhir 1811     20 Juni 1812     periode kedua
    Sri Sultan Hamengkubuwono III     29 Juni 1812     3 November 1814     periode kedua 
4.     Sri Sultan Hamengkubuwono IV     9 November 1814     6 Desember 1823    
5.     Sri Sultan Hamengkubuwono V     19 Desember 1823     17 Agustus 1826     periode pertama
    Sri Sultan Hamengkubuwono II     17 Agustus 1826     2 Januari 1828     periode ketiga
    Sri Sultan Hamengkubuwono V     17 Januari 1828     5 Juni 1855     periode kedua
6.     Sri Sultan Hamengkubuwono VI     5 Juli 1855     20 Juli 1877    
7.     Sri Sultan Hamengkubuwono VII     22 Desember 1877     29 Januari 1921    
8.     Sri Sultan Hamengkubuwono VIII     8 Februari 1921     22 Oktober 1939    
9.     Sri Sultan Hamengkubuwono IX     18 Maret 1940     2 Oktober 1988    
10.     Sri Sultan Hamengkubuwono X     7 Maret 1989     sekarang    
Praja Mangkunagaran di Surakarta
Lihat pula: Praja Mangkunagaran
Lambang Mangkunegara

    Mangkunagara I (Raden Mas Said) (1757 - 1795)
    Mangkunagara II (1796 - 1835)
    Mangkunagara III (1835 - 1853)
    Mangkunagara IV (1853 - 1881)
    Mangkunagara V (1881 - 1896)
    Mangkunagara VI (1896 - 1916)
    Mangkunagara VII (1916 -1944)
    Mangkunagara VIII (1944 - 1987)
    Mangkunagara IX (1987 - sekarang)

Kadipaten Paku Alaman di Yogyakarta
Lihat pula: Kadipaten Paku Alaman
Lambang Pakualaman

    Paku Alam I (1813 - 1829)
    Paku Alam II (1829 - 1858)
    Paku Alam III (1858 - 1864)
    Paku Alam IV (1864 - 1878)
    Paku Alam V (1878 - 1900)
    Paku Alam VI (1901 - 1902)
    Paku Alam VII (1903 - 1938)
    Paku Alam VIII (1938 - 1998)
    Paku Alam IX (1998 - sekarang)

Lihat pula

    Sejarah Mataram Baru
    Pangeran Diponegoro
    Raad van Beheer/Dewan Perwalian Pakualaman

Ternyata Indera Keenam Dapat Dijelaskan Oleh Ilmu Pengetahuan

Kemampuan indera keenam sering dipandang sebagai suatu hal yang gaib dan tidak bisa dijelaskan ilmu pengetahuan manapun. Tapi ternyata pandangan itu dibuktikan salah karena indera keenam ternyata dapat dibuktikan melalui ilmu pengetahuan. Berikut penjelasannya.

Indera Keenam

Di dunia ini banyak sekali orang yang percaya akan pengalaman paranormal alias kejadian gaib, dan di antara kemampuan paranormal itu salah satunya adalah indera keenam atau ESP (Extra Sensory Perception).

Dikatakan bahwa indera keenam adalah sebuah kemampuan untuk mendapatkan informasi tentang dunia sekitar yang tidak bisa didapatkan jika hanya melalui 5 indera manusia. Indera keenam itu memperbolehkan seseorang untuk "merasakan sesuatu yang tidak dapat dilihat," seperti masa depan atau keberadaan mahluk gaib.

Hanyalah sebuah persepsi visual biasa

Indera keenam ternyata hanyalah sebuah persepsi visual sederhana
Piers Howe yang mempublikasikan jurnal mengenai indera keenam ini menjelaskan bahwa indera keenam hanyalah semata-mata pandangan seseorang dalam mempersepsikan sesuatu yang memang sudah ia ketahui namun sulit dijelaskan oleh orang terkait. Untuk menjelaskan hal tersebut, maka orang tersebut akan mengatakan itu adalah indera keenam padahal pada kenyataannya tidak.

Eksperimen Pertama

Untuk membuktikan bahwa indera keenam hanyalah perspesi visual maka dilakukan eskperimen dua gambar
Ia membuktikan hal tersebut dengan meminta salah seorang timnya berpose untuk sepasang gambar yang hanya sedikit berbeda. Sebagai contoh yang satu mengenakan kacamata dan gambar yang lain tidak.

Kemudian tim akan menunjukkan gambar pertama ke 48 partisipan selama 1.5 detik, diikuti oleh jeda 1 detik, sebelum menunjukkan gambar kedua. Partisipan kemudian harus mengindikasikan apakah ada perbedaan di antara kedua foto tersebut dan menyebutkannya. Kebanyakan partisipan memang dapat menyadari ada perbedaan di antara kedua foto, namun tidak dapat menjelaskan apa yang berbeda.

Dari hal ini, Howe menyimpulkan bahwa otak kita memang dapat menyadari perbedaan tersebut dengan matriks visual sederhana, seperti perbedaan gelap, warna, kontras, namun tidak terlalu detail sehingga seseorang sulit menyebutkan apa yang berbeda.

Eksperimen Kedua

Pembuktian indera keenam hanya sebuah perspesi dengan disc
Untuk membuktikannya lebih jauh, ia melakukan eksperimen kedua. Dalam eksperimen kedua, tim menunjukkan partisipan sekumpulan cd merah dan hijau. Kemudian mereka menunjukkannya kembali dengan mengganti warna beberapa cd menjadi warna lainnya. Sekali lagi, banyak partisipan yang menyadari hal ini.

Namun saat tim mengganti warna beberapa cd ke warna lainnya, tapi tidak mengurangi jumlah total dari kedua cd jika digabungkan, "indera keenam" itu hilang. Para partisipan tentuk tidak dapat membedakan kedua cd yang masih berjumlah sama, hanya warna yang ditukar satu sama lainnya. Itu menunjukkan bahwa "indera keenam" yang dipercaya selama ini, hanyalah sebuah persepsi visual biasa.

Hasil dari eksperimen ini juga membuktikan lebih jauh bahwa "indera keenam" itu memang persepsi visual biasa yang tidak bisa dijelaskan orang terkait atau secara tidak sadar memang telah diketahui orang terkait. Hal itu disimpulkan dari beberapa partisipan yang menyadari ada perubahan kecil namun tidak secara sadar benar-benar mengatahui mereka menyadari perubahan tersebut.

Percaya Berlebihan

Banyak Orang percaya Berlebihan akan Indera Keenam
Walaupun eksperimen itu sudah memberikan berbagai bukti yang jelas, Howe menambahkan bahwa studi itu tidak akan dapat membuat mereka yang percaya akan kejadian paranormal mengubah persepsi mereka.

Walaupun bukti-bukti ini dapat dijelaskan lebih lanjut, mereka yang memang sudah mempercayai kemampuan indera keenam ini akan terus percaya akan hal tersebut. Kepercayaan itu akan membuat diri mereka memiliki kepuasan sendiri, dan memang mungkin mereka memiliki kemampuan persepsi yang hebat, namun tidak bersifat magis atau gaib.

Sumber: http://www.tahupedia.com/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...