Kamis, 04 Februari 2016

Sejarah Perkembangan Sastra Jawa


Perkembangan sastra Jawa dimulai sejak zaman kraton Mataram Hindu, Budha, Medang, Kahuripan, Jenggala, Daha, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Surakarta dan Yogyakarta. Pada awal abad 20 sesungguhnya kesusastraan Jawa sudah mendapat pengaruh dari metrum-metrum kesusastraan yang berasal dari Barat. Untuk sejarah Mataram Islam Graff (1987) telah menulis buku dengan judul Awal Kebangkitan Mataram Masa Pemerintahan Senapati. Sastra merupakan produk masyarakat Jawa yang sudah berusia sangat panjang. Kebudayaan asli Jawa yang bersifat transendental lebih cenderung pada paham animisme dan dinamisme. Perubahan besar pada kebudayaan Jawa terjadi setelah masuknya agama Hindu-Budha yang berasal dari India. Kebudayaan India secara riil mempengaruhi dan mewarnai kebudayaan Jawa, meliputi: sistem kepercayaan, kesenian, kesusastraan, astronomi, mitologi, dan pengetahuan umum.
Pengaruh sastra Hindu dari India terhadap karya sastra Jawa ditandai dengan munculnya karya sastra Jawa kekawin dan kitab-kitab parwa. Karya ini banyak memakai kata-kata bahasa Sansekerta. Akibatnya, banyak karya sastra Jawa itu memuat ajaran agama Hindu. Bangsa India menilai kitab-kitab Hindu itu suci karena berisi ajaran religius seperti kitab Ramayana dan Mahabarata, mereka juga menilai bahwa kitab-kitab mereka juga berlaku pada masyarakat Jawa. Bahkan penamaan kitab-kitab sastra itu menunjukan penghormatan terhadap karya-karya tersebut.

Sementara itu, menjelang berakhirnya pemerintahan Majapahit, sekitar abad ke-15 sampai dengan abad ke-16 pengaruh agama Islam semakin meluas, sehingga munculah karya-karya sastra yang bernuansa Islam. Karya sastra Jawa yang asalnya dari karya kakawin menjadi sastra tembang, baik tembang macapat maupun tembang gede. Pada era selanjutnya, aspek historis dalam sastra Jawa semakin kuat dengan munculnya karya-karya babad (sastra sejarah) yang muncul pada pertengahan abad ke-17. Karya sastra Jawa sebelum abad ke-19, sejak kepujanggaan Yasadipura hingga Ranggawarsita kebanyakan berupa manuskrip.

Pada akhir abad ke-19 sastra Jawa memasuki babak baru sebagai pengaruh akibat budaya barat yang mana berakibat munculnya karya sastra modern dari berbagai jenis sastra atau genre sastra. Pengaruh tersebut bersamaan dengan berlangsungnya pendidikan Eropa terhadap masyarakat Jawa. Pengarang sastra Jawa modern dipelopori oleh kalangan pendidik atau guru seperti Mas Kuswadiharjo, Raden Mas Wiryasusastro, Mas Reksatanaya, dan Mas Prawirasudirya. Pada masa itu karya sastra tersebut dimaksudkan sebagai bacaan para siswa sekolah.

Sedangkan pada awal abad ke-20, karya sastra Jawa banyak yang berupa fiksi. Akan tetapi, fiksi tersebut masih terkesan mengutamakan pesan-pesan pendidikan. Pada abad itu pula balai pustaka juga menerbitkan  karya sastra dari kalangan non guru yang biasanya ditulis oleh pegawai pamong praja yang karyanya antara lain, Serat Panutan (Prawirasudirja), Rukun Arja (Samuel Martaatmaja), Kartimaya (Adisusastra), Isin Ngaku Bapa (Prawirasudirja), dan Darma Sanyata (Raden Ngabei Kartasiswaya).

Sastra Jawa modern periode 1920 sampai dengan perang kemerdekaan memiliki kaitan sejarah dengan periode sebelumnya. Periode tersebut dapat dikatakan sebagai masa pertumbuhan genre Barat ke dalam Sastra Jawa. Menurut Rass genre barat masuk kedalam sastra jawa sejalan dengan masuknya pengajaran Eropa kedalam masyarakat Jawa. Selain itu pemerintah kolonial secara perlahan-lahan berusaha mewujudkan sastra-sastra Jawa melalui lembaga-lembaga, baik yang murni pemerintah maupun swasta. Lembaga-lembaga ini amat berperan dalam usaha menyediakan bahan bacaan dan pengembangan sastra Jawa. Sastra Jawa sejak tahun 1920 sampai dengan perang kemerdekaan terus berkembang, hal ini ditandai dengan pengaruh dari sastra barat dalam bentuk pengenalan genre baru.

Rabu, 03 Februari 2016

Korset Penyangga Tulang Belakang

Low Back Pain (LBP atau biasa dikenal nyeri punggung bawah) adalah rasa nyeri yang terjadi di daerah pinggang bagian bawah dan dapat menjalar ke kaki terutama bagian sebelah belakang dan samping. Keluhan ini sering kali dapat sedemikian hebatnya sehingga pasien mengalami kesulitan dalam setiap pergerakan (salah tingkah) dan pasien harus istirahat, bahkan sampai dirawat di rumah sakit. Pasien biasanya sudah berobat ke berbagai teknik pengobatan, tetapi belum bisa menyembuhkan penyakit ini secara maksimal.

Salah satu cara penanganan  sakit pinggang ini adalah dengan cara memakai alat penyangga tulang belakang (korset ortopedi).
Korset ini berfungsi:
1. Terbukti mengurangi nyeri pinggang seperti HNP (Hernia Nucleus Pulposus), Ischialgia (Penjepitan syaraf Isciadicus).
2. Memberikan proteksi dan support yang maksimal pada pinggang sehingga dapat mengurangi nyeri akibat LBP / HNP.
3. Sebagai alat bantu untuk menjaga kestabilan tulang pinggang pada saat beraktivitas.
4. Bisa Mengecilkan perut.

Sfesifikasi Alat:
1. Menggunakan bahan elastis, perekat dan 4 plat alumunium / polypropylene (tergantung permintaan).
2. Di desain sesuai anatomi tulang belakang manusia
3. Memiliki lengkung pinggang yang anatomis
4. Warna coklat
7. Ukuran korset: Silakan ukur lingkaran pinggang anda tepat diatas pusar anda, kemudian cocokkan dengan ukuran dibawah ini
- Ukuran S = 75-80 cm
- Ukuran M = 81-85 cm
- Ukuran L = 86-90 cm
- Ukuran XL = 91-95 cm
- Ukuran XXL = 96-100 cm
- Ukuran XXXL = 101-105 cm

Harga Korset Ortopedi  Rp. 250.000

Harga TLSO Rp. 400.000,-

atau bisa dilihat spesifikasi harga dan macam-macam alat bantu kesehatan di www.orthoshoping.com

Untuk pemesanan alat dapat menghubungi:
Nugroho  : 0858 6737 4002
Silakan tulis pesan ukuran korset dan alamat pengiriman anda melalui sms, kemudian lakukan pembayaran melalui bank  dan konfirmasikan kepada kami, barang akan dikirim ke alamat Anda.
Ongkos kirim silakan cek melalui JNE : http://www.jne.co.id , kota asal Jepara. Kecuali untuk reseller jika pemesanan dalam jumlah banyak akan kami carikan cargo yang lebih murah. Harga belum termasuk ongkos kirim.


Korset Ortopedi

TLSO

TLSO

Segera konsultasikan keluhan anda dengan dokter.

Batasan tentang kesusastraan Jawa


Kesusastraan adalah bagian dari kebudayaan, maka dengan datangnya kebudayaan India di nusantaradatang pulalah kesusastraan india. Mulai awal tahun Masehi di India telah berkembang kesusastraan yang  berpusat kepada kitab-kitab suci agama Hindu sesudah perkembangan agama Budha, yaitu kitab-kitab Purana (Wojowasito, 1967). Di samping Hinduisme ini, berkembang pulalah agama Budha, baik Mahayana, maupun Hinayana, dengan seluruh kesusastraannya. Tidak hanya kesusastraan yang berhubungan dengan agama saja yang berkembang, tetapi di samping itu terdapat pula karangan-karangan yang mementingkan indahnya bahasa, halusnya rasa, bagusnya irama. Dimulai dari situlah timbul sajak yang terkenal bagusnya bagi bangsa India, yang disebut Kawya.
Pada abad ketujuh di Nusantara ada kerajaan besar yang sedang berasda pada puncak kejayaan yaitu kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan kerajaanMataram di Jawa Tengah. Kebesaran Sriwijaya dapat dilihat dari adanya piagam-piagam yang terdapat dan dari berita-berita orang Tionghoa, sedang kebesaran Mataram dapat dilihat dari berkas-berkasnya misalnya Borobudur, Kalasan dan Mendut. Kesusastraan Sumatra dan sekitarnya termasuk pula Semenanjung Malaka hanya dapat dipelajari hingga permulaan abad ketujuh belas dan itupun sangat sukar, karena kurangnya kitab-kitab yang dapat dipelajari. Dalam bagian tentang sejarah politik dalam kitab ini telah diketahui, bahwa pusat kerajaan berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dengan berpindahnya keraton, berpindah pula pusat perkembangan kesusastraan, karena harus diingat, bahwa keratonlah yang pada waktu itu memelihara kaum pujangga. Kebiasaan itu masih dapat dilihat hingga akhir abad 19 di keraton Sunan Solo. Pujangga-keraton daerah istimewa kesunanan yang terakhir yaitu Ronggowarsito.
Sejarah studi sastra mencatat bahwa pengertian sastra tidak pernah berlaku universal sepanjang zaman. Di Indonesia, di Eropa, juga di belahan bumi lain penegertian sastra selalu berubah-ubah sejalan dengan perkembangan sastra itu sendiri. Dalam sastra Jawa zaman dahulu berkembang sastra Jawa Kuno, kemudian sastra Jawa Tengahan, sastra Jawa Baru, dan berkembang sastra Jawa Moderen.

Secara garis besar dapat dikatakan bahwa sastra Jawa Kuno terpisah dengan sastra Jawa Moderen, dengan perkiraan batas waktunya adalah akhir abad XIX dan awal abad XX. Sastra Jawa Klasik yang berkembang akhir abad XIX memiliki bermacam-macam bentuk, seperti kakawin, kidung, babad, dan sebagainya. Isinya pun beragam pula, misalnya tentag ajaran agama, budi pekerti, hukum, sejarah,epos, fabel, legenda, sage, mite, dan lain-lain (ingat: kitab Pararaton, Mahabharata, Ramayana, Arjuna Wiwaha,Wulangreh, Babad Tanah Jawi, Wedhatama, Serat Kalatidha, Serat Panji, Pandhawa Jaya, Sutasoma, Negarakertagama, dan sebagainya.     

Selasa, 02 Februari 2016

Contoh Kajian Sastra Jawa


Dalam khazanah perpuisian jawa, masyarakat jawa mengenal geguritan. Menurut Padmosoekotjo (1960:1920) geguritan atau guritan berarti ‘kidung’ atau ‘tembang’. Sebagai karya sastra berjenis puisi, gegurutan mempunyai aturan-aturan atau konvensi-konvensi tertentu yang mengatur bentuknya secara ketat.   Hutomo (1975:22) membedakan puisi jawa dalam dua kelompok yaitu puisi jawa tradisional dan puisi jawa modern puisi jawa tradisional berupa tembang, parikan, guritan, singir, dan tembang dolanan anak-anak. Puisi jawa modern berupa puisi bebas yaitu puisi yang tidak terikat oleh norma-norma ketat seperti yang dijumpai dalam puisi jawa tradisional (tembang). Contoh geguritan tradisional jawa:
Damaring praja aywa mati mati
Pelita istana janganlah pernah padam
Sadeging keprabon
Selama berdirinya kerajaan
Away kandheng madhangi jagade
Jangan berhenti menerangi dunianya
Mangka panariking reh sayekti
Sebagai daya tarik pemerintahan sejati
Ing pati pinanggih
Dalam kematian diketemukan
Kautameng prabu
Keutamaan raja

Geguritan tersebut berisi nasihat Rama kepada Widapatna. Rama mengajarkan kepada Widapatna bahwa tugas raja adalah untuk menciptakan kesejahteraan. Untuk itu, raja harus menjaga rakyatnya dari segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesengsaraan. Sehubungan dengan hal itu, raja harus senantiasa menjadi penerang bagi seluruh isi kerajaan.
Unsur  majas metafora dalam geguritan tersebut tampak pada keseluruhan teks. Artinya, semua larik dalam geguritan tersebut merupakan metafora. Di samping mengandung makna tersurat, geguritan itu juga mengandung makna tersirat. Secara tersurat geguritan itu berisi ajaran tentang kewajiban dan tanggung jawab raja terhadap kerajaan beserta segenap isinya. Raja harus senantiasa menjadi pelita bagi segenap isi kerajaan.
Namun, secara tersirat geguritan tersebut mengandung isi ajaran yang lebih dalam, yaitu berisi ajaran tentang makna  hidup dan kehdupan. Manusia dalam hidupnya harus senantiasa berbuat baik dengan dilandasi akan pikiran agar kelak setelah mati bisa mendapatkan kemuliaan. Makna tersirat tersebut dapat digali dengan cara mengupas makna kias yang tersembunyi di balik kalimat metaforisnya. Dalam teks disebutkan kalimat damaring praja ‘pelita istana’. Kata ‘pelita istana’ mengandung makna kias, yaitu pelita yang menerangi diri manusia. Pelita yang menerangi diri manusia adalah hati atau akal pikiran. Frasa sadege kebrabon berarti ‘selama menjadi raja’ maksudnya adalah ‘selama hidup’. Kalimat Away kandheng madhangi jagade berarti ‘jangan berhenti menerangi dunia’. Maksud kalimat ‘jangan berhenti menerangi dunia’ adalah harus senantiasa berbuat kebajikan. Kalimat Ing pati pinanggih kautameng prabu berarti dalam ‘kematian ditemukan keutamaan raja’. Maksudnya, jika mati rohnya akan mendapatkan kemuliaan.

Serat Mumulen (Suntingan Teks Dan Kajian Semiotik)

Serat Mumulen dapat dikategorikan ke dalam naskah berjenis simbolik yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dan mengetahui simbol dan makna sesaji. Naskah Serat Mumulen dengan ukuran 16 x 21 cm ditulis di Surakarta abad 19, menceritakan tentang acara keraton yakni persembahan atau sesaji untuk leluhur keraton Surakarta Khususnya untuk para Nabi pada pakubuwana IX (1861-1893). Selain mengungkap makna dan simbol, serat mumulen mendiskripsikan tokoh pada masa kerajaan demak, pajang, dan surakarta yang berhubungan dengan kejayaan kerajaan hingga saat ini. Maka setiap tokoh harus diingat dan diberikan sesaji sesuai kriteria yang ada, dengan begitu masyarakat jawa bisa mendoakan para leluhur. Contoh : Kanjeng Sultan Demak diberikan sesaji nasi punar dan sambal kedelai. Sajen tersebut diberikan karena masyarakat berkeyakinan adanya wujud rasa syukur. Analisis Naskah Serat Mumulen menunjukkan bahwa pemaknaan yang dilakukan terhadap naskah Serat Mumulen mempresentasikan simbol-simbol sesaji berupa makanan, bunga dan buah-buahan pada acara hajat mantu di Keraton pada masa Pakubuwana I sampai Pakubuwana X, serta mengungkap penanda dan petanda dalam simbol yang terdapat dalam sesaji. Sesaji adalah media atau sarana untuk mengingat dan mendoakan leluhur. Masyarakat jawa masih mengenal sesaji sampai sekarang. Namun tradisi masyarakat jawa saat ini dianggap mistis, irasional, dan sebutan yang terkesan negatif oleh masyarakat moderen. Hanya sedikit yang melihat yang melihat sebagai menifestasi bentuk lain dari doa. Dengan kata lain sesaji diartikan wujud dari sistem Religi masyarakat Jawa. Ada bermacam-macam sesaji dalam kehidupan masyarakat jawa, salah satunya sesaji dalam hajatan pernikahan yang terdapat dalam naskah serat mumulen yang harus dipertahankan.


Membaca dan menulis, kombinasi yang sempurna untuk berfikir kritis

Membaca dan menulis, kombinasi yang sempurna untuk berfikir kritis
Dengan membaca bisa selain menambah informasi, ternyata dengan membaca mempunyai manfaat yang lebih dari sekedar memperoleh informasi. Membaca bisa membuka pikiran seseorang agar bisa melihat atau menilai sesuatu dari sudut yang lain. Bahkan dengan membaca juga bisa mempengaruhi pemikiran seseorang, hebat kan. Dengan sekian banyak manfaat membaca bagi seseorang tapi tidak semua orang sadar untuk membaca. Meskipun sebenarnya kebanyakan orang terutama pemuda sudah punya kebiasaan “membaca”, meski sekedar membaca postingan di media social. Tidak salah si memang, tapi banyak sekali postingan di media social yang memberikan informasi palsu, hanya untuk mencari sensasi, popularitas dan sebagainya. Ini nih yang menjadi kekurangan postingan di media social, jika pembaca tidak memiliki pemikiran yang kritis mengenai kebenaran dari informasi yang dia dapatkan, dia bisa dengan mudah “teracuni” oleh postingan yang dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Ketika membaca hal yang harus dilakukan adalah jangan pernah langsung percaya sepenuhnya terhadap informasi yang dibaca, cari tau kebenarannya, bisa jadi isi postingan itu hanyalah opini dari si penulis tanpa ada dasar yang kuat. Cerna informasi yang didapan sebaik mungkin, jangan langsung menelannya bulat-bulat. Bukan ular kan? Dengan sikap yang yang seperti itu, tidak menelan bulat-bulat informasi yang didapatkan, secara tidak langsung melatih seseorang untuk berfikir kritis. Pemikiran yang kritis ini sangat penting terutama bagi para pemuda yang sedang menempuh pendidikan. Seseorang yang mempunyai kemampuan berfikir kritis ini seringkali menghasilkan sebuah ide atau gagasan yang out of the box, orang orang seperti inilah yang dibutuhkan di negeri ini dan dunia yang semakin modern ini. dimana cara-cara konvensional ditinggalkan dan berbagai inovasi-inovasi digalakkan. Hanya orang-orang yang mempunyai pemikiran out of the box yang mampu menghasilkan ide-ide cemerlang yang mungkin tidak pernah dipikirkan oleh orang lain.

bagaimana kaitannya membaca dengan menulis, kenapa kok bisa membantu seseorang untuk berfikir lebih kritis. Sebenarnya dengan menulis adalah dengan menuangkan gagasan seseorang kedalam senbuah tulisan. Dengan menulis, seseorang bisa belajar bagaimana cara menyampaikan gagasannya dengan baik, santun, dan tidak menyinggung perasaan oranglain. Sangatlah diharapkan orang-orang yang mempunyai pemikiran-pemikiran kritis ini untuk menuangkan pemikirannya ke dalam sebuah tulisan. Selain dia bisa berbagi informasi, dengan menulis bisa mengikat  informasi yang didapatkan dia juga bisa lebih memahami informasi tersebut.


Lagi-lagi, hal seperti ini sangatlah bermanfaat buat para pemuda yang sedang menjalani proses mencari ilmu. Ketika dia membaca dia akan mendapatkan informasi yang sifatnya sementara, namun ketika ia menuliskan informasi yang didapatkan, informasi itu akan tersimpan dengan baik di memory. Namun sangat disayangkan, dengan manfaat yang begitu besar itu masih banyak pemuda di negeri ini yang mau membaca dan menulis. Padahal mereka adalah agent of chane untuk negeri ini lebih baik.

Senin, 01 Februari 2016

PHYLUM PORIFERA

BAB III
PHYLUM PORIFERA
III.1.  Dasar Teori

Porifera (latin: porus = pori, fer= membawa) atau spons adalah hewan multiseluler yang paling sederhana. Porifera digolongkan kedalam binatang multiselluler yang sederhana dibanding phylumlainnya. Ukuran porifera sangat beragam. Beberapa jenis porifera ada yang berukuran sebesar butiran beras, sedangkan jenis yang lainnya bisa memiliki tinggi dan diameter hingga 2 meter. Tubuh porifera pada umumnya asimetris atau tidak beraturan meskipun ada yang simetris radial. Bentuknya ada yang seperti tabung, vas bunga, mangkuk, atau bercabang seperti tumbuhan. Tubuhnya memiliki lubang-lubang kecil atau pori (ostium).Warna tubuh bervariasi, ada yang berwarna pucat, dan ada yang berwarna cerah, seperti merah, jingga, kuning bahkan ungu.
 Porifera hidup di air laut dan air tawar. Hidup secara benthos sesil pada lingkungan aquatik dan secara koloni Porifera hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton. Makanan yang masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga porifera disebut juga sebagai pemakan cairan. Habitat porifera umumnya di laut. Struktur tubuh porifera terdiri dari:
Gambar 3. Struktur tubuh porifera
(sumber : materi 78.co.nr)
Keterangan:
a.       Pinakosit, yaitu bagian dari epidermis.
b.      Mesoglea, yaitu cairan yang terletak diantara epidermisdan endodermis.
c.       Spikula¸ yaitu bahan penyusun/rangka Porifera yang dihasilkan oleh skleroblas.
d.      Amebosit, yaitu sel yang berfungsi sebagai pengangkut zat makanan dan metabolisme.
e.       Koanosit, yaitu sel yang berfungsi sebagai pencerna makanan dan respirasi.
f.       Ostium, yaitu celah masuknya air ke dalam spongosol/oskulum, pergerakannya diatur oleh porosit.
g.      Spongosol, yaitu ruangan dalam tubuh porifera yang berisi air.
h.      Arkeosit, yaitu sel yang mengatur reproduksi.
Mekanisme kehidupan porifera
  1. Akibat getaran ciliate atau bulu getar air yang mengandung O2 & larutan makanan masuk melalui canal
  2. Di dalam spongocoel terjadi proses osmose
  3. Sisa makanan dikeluarkan melalui osculum
  4. Sari makanan & O2 disalurkan ke seluruh tubuh melalui mesinchyn
Gambar 4. Mekanisme kehidupan porifera
(sumber : http://majalah1000guru.net/2013/12/spongebob-porifera/)
III.2.  Ciri-ciri Phylum Porifera
Pada umumnya tubuh porifera  memiliki ciri sebagai berikut
1.      Bagian tubuh phylum ini, secara sederhana dapat digambarkan seperti vas bunga dengan bagian atasnya yang terbuka dan menambatkan diri pada bagian dasar
2.      Dinding tubuhnya berlubang-lubang oleh banyak canal atau saluran yang membuka keluar sebagai ostia.
3.      Saluran-saluran membuka kedalam sebuah ruang tengah yang disebut spongocoel, dimana ia membuka keluar lewat osculum pada bagian atas organisme tersebut
4.      Air masuk melalui saluran, lewat kedalam spongocoel dan meninggalkan lewat osculum.
5.      Pada saluran terdapat flagel yang berfungsi untuk menggerakkan air agar dapat masuk kedalam spongocoel

III.3.  Klasifikasi Kelas Pada Pylum Porifera
Berdasarkan bentuknya, spiculae yang berfungsi sebagai penguat tubuh terbagi menjadi :
  1. Monaxon         : bentuk 1 arah
  2. Triasen            : bentuk 3 arah
  3. Tetraxon          : bentuk 4 arah
Berdasarkan tipe saluran air, terbagi menjadi :
1.        Tipe asconoid
Merupakan bentuk tipe saluran yang paling sederhana. Asconoid merupakan tipe saluran air dimana lubang-lubang ostium-nya dihubungkan dengan saluran lurus yang langsung menuju ke spongosol (rongga dalam)
2.        Tipe synconoid
Bentuk tipe ke-2 ini sudah lebih kompleks dibandingkan tipe asconoid.       Syconoid merupakan tipe saluran air dimana lubang-lubang ostium-nya             dihubungkan dengan saluran yang bercabang-cabang ke rongga-rangga yang berhubungan langsung dengan spongosol 
3.         Tipe leuconoid
Merupakan bentuk yang paling kompleks, merupakan tipe saluran air dimana lubang-lubang ostium-nya dihubungkan dengan saluran yang bercabang-cabang ke rongga yang sudah tidak berhubunga langsung dengan spongosol.
Berdasarkan hal diatas maka secara umum porifera diklasifikasikan sebagai berikut :
1.      Kelas Calcarea
a.       Ordo Homocoela
b.      Ordo Heterocoela
2.      Kelas Hexantinellida
a.       Ordo Lyssacina
b.      Ordo Dictyonina
c.       Sub-klas Archaeocyatha
3.      Kelas Demospongia
a.       Ordo Tertractinellida
b.      Ordo Monaxonida
c.       Ordo Keratosa
4.      Kelas Pleospongia
a.       Sub-klas Monocyatha
b.      Sub-klas Acanthocyatha
c.       Sub-klas Uranocyatha
1.      Calcarea
Calcarea memiliki spikula dari zat kapur (CaCO3) dan hidup di laut yang dangkal, koanositnya besar, Tipe saluran Air asconoid, Rangka tubuh Calcarea tersusun dari kalsium karbonat. Contohnya
a.       Sycon
b.      Clathrina
c.        Leucettusa lancifer
d.      Leucosolenia
e.       Scypha dan Grantia
http://2.bp.blogspot.com/-oWQVSKBZulQ/UIvDBhjMUjI/AAAAAAAAAsw/dXCOBhfgki8/s1600/porifera+5.jpg
Gambar 5. Calcarea
(sumber : materi 78.co.nr)
2.      Hexactinellid
Hexactinellida sering di sebut spons gelas. Memiliki spikula dari kuarsa/silikat (SiO2), spikula mirip kaca karena sama bahannya dengan kaca, hidup di laut yang dalam, saluran tipe sikonoid /sycon, Hewan ini hidup soliter di laut pada kedalaman 200–1.000 m, contohnya
a.       Regadella
b.      Euplectella
c.       Aspergillum
d.      Hyalonema
http://3.bp.blogspot.com/-tYYMKB9e8VY/UIvEQzeAt5I/AAAAAAAAAs4/OQ53EedtUhs/s1600/porifera+8.jpg
Gambar 6. Hexactinellida
(sumber : materi 78.co.nr)
3.      Demospongiae
Demospongiae bertubuh lunak karena tidak memiliki rangka, spikula dari bahan sponging, Kelas ini bisa dimanfaatkan sebagai spons, tipenya leucon atau rhagon sehingga butiran kerangkanya halus membentuk spongin sehingga bisa dibuat busa untuk mandi, jok kursi, lap dan lain lain, Habitat Demospongiaeumumnya di laut dalam maupun dangkal, meskipun ada yang di air tawar, Demospongiae adalah satu-satunya kelompok porifera yang anggotanya ada yang hidup di air tawar. Demospongiae merupakan kelas terbesar yang mencakup 90% dari seluruh jenis porifera, contohnya:
a.       Euspongia
b.      Sponggila
c.       Hippospongia
d.      Niphates digitalis
e.       Cliona
f.       Haliarsa
g.      Microciona


Related Post

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...