Sabtu, 19 Juli 2014

Kelainan bentuk kaki pada Anak balita: Pengobatan dengan Terapi Sepatu atau Operasi?


Kaki pengkor (congenital talipes equinovarus CTEV) adalah deformitas yang kompleks yang mudah terlihat saat lahir dan dalam beberapa kasus didiagnosis dengan USG. Tujuan pengobatan adalah untuk mendapatkan dan mempertahankan koreksi kaki pengkor sehingga pasien  terbebas dari rasa sakit, perbaikan  fungsional, dengan mobilitas yang baik dan tanpa kapalan, dan tidak perlu menggunakan alat khusus penopang kaki seumur hidupnya. Orang tua dari bayi yang lahir dengan clubfeet dan tidak ada masalah medis lainnya yang signifikan harus diyakinkan bahwa anak mereka, ketika diobati oleh ahli medis, akan memiliki kaki yang sepenuhnya kompatibel dengan kehidupan normal seperti anak lainnya. Namun, harus selalu diingat bahwa kaki pengkor tidak akan pernah menjadi kaki normal.

Anatomi dan Patofisiologi 
Semua clubfoot / kaki pengkor mempunyai penanganan yang berbeda-beda tergantung tingkat keparahannya, meskipun semua Nampak memiliki penampilan umum yang sama. Kaki yang bengkok ke dalam sehingga bagian telapak kakai berada di samping dalam /  diatas. Sering kali ada lipatan ke dalam di bagian bawah midfoot.



Kiri, Perhatikan permukaan berat tubuh dari kaki adalah di sisi samping  dan Bagian punggung kaki pada anak ini dengan clubfeet bilateral. Kanan, Perhatikan lipatan dalam di bagian bawah midfoot pada anak ini dengan kaki pengkor unilateral.


Ini adalah gambar pasien setelah  koreksi kaki yang mengalami kaki pengkor bagian kiri. Perhatikan bahwa betis lebih kecil di sisi kiri dibandingkan dengan kaki kanan yang normal.
Kaki dan betis lebih kecil di kaki yang terkena dampak, yang lebih jelas pada anak dengan kaki pengkor hanya pada satu sisi.

Kaki pengkor dapat terjadi sebagai gangguan terisolasi (idiopatik) atau dalam kombinasi dengan berbagai sindrom dan anomali terkait lainnya seperti arthrogryposis dan myelodysplasia. Pemeriksaan kesehatan oleh dokter atau tes darah Anda harus dapat menentukan apakah kaki pengkor bayi Anda adalah idiopatik.

Kaki pengkor baik ringan atau berat dan semua kasus memerlukan pengobatan. Clubfoot tidak akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Kaki pengkor ini tidak menyakitkan untuk bayi yang belum berjalan.

Insiden kaki pengkor idiopatik diperkirakan 1-2 per 1.000 kelahiran hidup. Memiliki dominasi laki-laki –perempuan  2: 1 dan terjadi pada kedua kaki sekitar 50 persen. Ada kejadian yang jauh lebih tinggi jika pasien memiliki riwayat keluarga yang positif untuk kaki pengkor.

Etiologi kaki pengkor idiopatik tidak diketahui. Teori yang paling diterima secara luas adalah bahwa kaki pengkor disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan.

Apakah Clubfoot merupakan penyakit Warisan? 
Ada riwayat keluarga yang positif dari kaki pengkor pada sekitar 25 persen dari semua pasien, menunjukkan dasar genetik untuk gangguan ini. Jika satu anak dalam keluarga memiliki kaki pengkor, kemungkinan anak kedua yang lahir dengan kaki pengkor sekitar 5 persen. Ketika salah satu orangtua terpengaruh dengan kaki pengkor, ada 3 persen sampai 4 persen kemungkinan bahwa keturunannya juga akan terpengaruh. Namun, ketika kedua orang tua yang terkena, anak-anak mereka memiliki kesempatan 15 persen yang lahir dengan kaki pengkor.

Sejarah alam 


Gambar dari anak yang berjalan menggunakan punggung kaki tanpa mendapatkan penanganan yang benar.
deformitas Kaki pengkor, terlepas dari etiologi atau masalah klinis yang terkait, menghasilkan kecacatan yang semakin  parah apabila tidak  dikoreksi.  Permukaan yang digunakan untuk menahan beban di kaki pengkor  adalah bagian punggung kaki.
Seorang anak dengan kaki pengkor yang tidak diobati akan berjalan menggunakan punggung kaki, minumbulkan masalah baru seiring berjalannya waktu, tidak dapat memakai sepatu dan memiliki kaki yang menyakitkan seumur hidup yang sering sangat membatasi aktivitas dan pekerjaan.

Pilihan bedah dan Nonsurgical 
Modalitas non-bedah termasuk manipulasi serial dan casting, merekam, terapi fisik dan belat, penggunaan sepatu koreksi dan gerakan pasif yang terus-menerus dengan alat. Pembedahan membutuhkan pelepasan jaringan lunak dan kontraktur sendi, pemanjangan tendon, dan memberikan fiksasi sementara pada kaki.

Manfaat Nonsurgical Treatment dan aturan-aturannya
Pengobatan awal untuk kaki pengkor, terlepas dari keparahannya, adalah nonsurgical. Manipulasi dan casting menggunakan metode Ponseti adalah teknik yang paling sering digunakan. Mayoritas clubfeet dapat diperbaiki pada masa bayi dalam waktu sekitar enam sampai delapan minggu dengan manipulasi lembut yang tepat dan plester casts. Teknik ini membutuhkan pelatihan, pengalaman, dan praktek.

Kurang dari 5 persen dari bayi yang lahir dengan clubfeet mungkin memiliki cacat yang sangat parah yang sangat susah untuk peregangan. Bayi-bayi ini akan memerlukan koreksi bedah.


Gambar seorang anak di plester gips pada sepanjang kaki bilateral untuk koreksi kaki pengkor.
Pengobatan harus dimulai segera setelah diagnosis, sebaiknya dalam minggu pertama kehidupan. Pengobatan untuk bayi baru lahir dengan kaki pengkor adalah dengan manipulasi untuk memperbaiki kondisi dan kemudian casting untuk mempertahankan koreksi. Casting dimulai pada usia lanjut mungkin lebih sulit karena contracture ligamen memburuk dan deformitas pada sendi. Plester gips sepanjang kaki yang digunakan untuk mempertahankan koreksi yang diperoleh melalui manipulasi.
Derajad koreksi berubah pada interval mingguan, dan sebagian besar cacat dikoreksi dalam dua bulan sampai tiga bulan. Sebelum menerapkan gips terakhir, yang akan dikenakan selama tiga minggu, tendon Achilles sering dipotong dalam prosedur untuk menyelesaikan koreksi kaki. Pada saat gips dilepas tendon telah diregenerasi untuk panjang yang sesuai. Setelah gip terakhir dilepas, kaki dalam kondisi terkoreksi maksimal.

Meskipun pengobatan awal berhasil, clubfeet memiliki kecenderungan alami untuk kambuh kembali. Sepatu koreksi diperlukan selama beberapa tahun untuk mencegah kekambuhan.

Ada beberapa sepatu koreksi / sepatu ortopedi yang berbeda yang umumnya diresepkan. Sepatu koreksi terdiri dari bar (sepanjang jarak antara bahu kanan ke bahu kiri anak) dengan sepatu, sandal, atau orthoses custom-made terpasang di ujung bar di sekitar 70 derajat rotasi eksternal. Bar dapat berupa statis (kedua kaki bergerak bersama) atau dinamis (setiap kaki dapat bergerak secara independen). Sepatu koreksi dipakai 23 jam sehari selama tiga bulan dan kemudian pada malam hari selama tiga sampai empat tahun. Penjepit ini terdiri dari bar (panjang dari yang jarak antara bahu anak) dengan sepatu berujung terbuka.


Kiri: The Markell Penculikan Brace. Kanan: The Mitchell Penculikan Brace
Kiri: Courtesy dari Markell Company. Kanan: Courtesy of MD Orthopaedics
Pada anak-anak dengan hanya satu kaki pengkor, sepatu untuk kaki normal adalah tetap pada bar di 40 derajat rotasi eksternal. Sepatu koreksi sangat penting dalam mempertahankan koreksi clubfeet tersebut. Jika sepatu tidak dipakai kemungkinan 90% kaki akan kembali ke bentuk semula.

Bayi mungkin akan rewel selama beberapa hari pertama setelah menggunakan sepatu ortopedi ini, dan akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Hal ini penting untuk memeriksa kaki anak Anda beberapa kali sehari setelah memulai treatment untuk memastikan tidak ada lecet pada tumit.








----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sepatu Orthopaedi:


Contoh Sepatu Dennis Brown Splint / Foot Abduction Brace (FAB):



Untuk konsultasi masalah kelainan kaki pada balita dan pemesanan sepatu koreksi / sepatu orthopaedi, bisa menghubungi Bp. Nugroho Hp. 0858 6737 4002
pin BB :74D605CD 

Atau bisa melihat produk sepatu orthopaedi di www.orthoshoping.com

Minggu, 27 April 2014

Serat Wedhatama


Serat Wedhatama sebagai Sastra Piwulang: Wahana Pendidikan Moral
Para pengarang sastra Jawa, khususnya yang hidup pada zaman kebangkitan mataram baru di Surakarta telah banyak melahirkan karya-karya yang bersumber pada keselarasan hidup antara manusia dan alamnya. Para pujangga yang namanya begitu masyhur sebagai pekerja kreatif seperti Susuhunan Pakubuana IV, Yasadipura I, Yasadipura II, Raden Ngabehi Ranggawarsita, dan KGPA Mangkunegara IV, telah mampumembawa perubahan besar pada peta kesusastraan Jawa abad itu, bahkan melalui karya mereka telah terciptalah suatu garis anutan pendidikan moral.
Sebagai hasil karya seorang pujangga, kehadiran sastra piwulang tidak pernah lepas dari fungsi penyaluran ide pribadi pengarangnya, dan bagi masyarakat pembaca karya sastra secara tidak langsung juga merupakan tawaran ide yang setiap saat akan mempengaruhi pola tingkah laku mereka. Karya sastra selain berfungsi sebagai penghibur juga dalam kasus- kasus tertentu dapat berperan aktif memberi tuntunan bagi keselarasan hidup manusia pada umumnya.
Dalam khasanah sastra Jawa yang telah berkembang jauh sejak zaman Hindu, selain dalam penceritaan suatu kisah tertentu, dikenal pula teks-teks didaktik moralistik. Ciri teks ini banyak diwarnai dengan deskripsi tata tingkah laku pergaulan sehari-hari dalam hidup bermasyarakat. Karya sastra didaktik dalam masyarakat Jawa merupakan sastra piwulang yang memberi tuntunan bagi pendidikan moral dan budi pekerti yang sebaiknya dilakukan oleh manusia berbudaya. Pada umumnya yang disebut sastra piwulang dalam tradisi kesusastraan Jawa adalah teks didiktik berbahasa Jawa yang ditulis oleh raja atau pujangga istana untuk dijadikan dasar pembentukan watak dan perilaku kerabat istana. ( Yusro Edi Nugroho, “Senarai Puisi Jawa Klasik” (Semarang: Penerbit Cipta Prima Nusantara, 2008)).
Serat wedhatama yang secara semantik terdiri dari tiga suku kata, yaitu: serat, wedha, dan tama. Serat berarti tulisan atau karya yang berbentuk tulisan, Wedha artinya pengetahuan atau ajaran, dan Tama berasal dari kata Utama yang artinya baik, tinggi, atau luhur. Dengan demikian maka Serat Wedhatama memiliki pengertian sebuah karya yang berisi pengetahuan untuk dijadikan bahan pengajaran dalam mencapai keutamaan umat manusia. ( Yusro Edi Nugroho, “ Puisi Jawa Klasik” (Semarang: Studioduabelas, 2006)).
Serat Wedhatama pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis. Majalah Djawa pernah mengadakan lomba untuk menterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Pemenangnya pada saat itu adalah Zoetmulder. ( S. Margana, “Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial” (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)).
Serat Wedhatama sebagai karya sastra piwulang atau sebagai wahana pendidikan moral, karena dalam Serat Wedhatama terkandung ajaran tentang pendidikan budi pekerti yang luhur. Sehingga dapat menjadi tuntunan hidup bagi masyarakat, ajaran yang terkandung dalam Serat Wedhatama tidak hanya ditujukan bagi masyarakat jawa saja, meskipun awalnya bertujuan untuk pembentukan watak dan perilaku kerabat istana dan masyarakatnya yaitu masyarakat Jawa. Tetapi juga dapat dijadikan wahana pendidikan moral bagi masyarakat bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia, hal ini dikarenakan ajaran yang terkandung dalam Serat Wedhatama yang memiliki sifat universal.
Serat Wedhatama selain mengandung ajaran budi pekerti yang luhur didalamnya juga terkandung ajaran yang oleh beberapa penulis seperti Soebandi dan Simuh bersifat mistik dean ajaran tasawuf. ( S. Margana, “Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial” (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)).

Gedhang Raja lan Adat Istiadat




Gedhang raja (Musa Paradisiaca) wis dikenal rikala jaman mbah buyut dhisik. Gedhang raja sawangane pancen alus, lumer sarta nengsemake. Kejaba wujud lan wernane nyenengake, rasane biyuh-biyuh seger, legi, arum. Gedhang jarwa dhosoke... digeget bubar madhang. Pranyata wujud lan ulese pancen ndemenake, saengga digandrungi masyarakat sadonya. Kejaba aroma lan rasane gawe kemecer ngiler, uga gedhang raja entuk sebutan ‘Paradise Banan’ (buah surga) utawa buah nirwana.
Wektu iki gedhang raja kena diarani produk ekspor kang paling istimewa, kabukten sing padha pesen saka njaban rrangkah kayata Jepang, China, Korea lumebere tumeka Bawono Eropa lan Australia. Mula akeh warga masyarakat ing Indonesia padha ngulir budi anggone ngrembakaake gedhang raja mau. Kejaba gedhang raja regane larang, pancen kanggo kebutuhan adat.
Uwal saka babagan gedhang komersial, wangune ing wewengkon Kraton Sumenep Madura, gedhang raja minangka simbul adat perkawinan kraton. Pancen adat –stiadat pernikahan jroning kraton, tansah diuri-uri aja nganti kasilep majune jaman. Senajan saiki wis mlebu era gobalisasi, nanging ing laladan kraton isih nggeget kenceng adat pernikahan mawa gedhang raja.
Sejatine yen kita tintingi kanthi premati, gedhang raja uga dibutuhake dening kraton Mataram, saengga kraton Surakarta lan Yogyakarta uga ora ninggalake kebutuhan mau. Kejaba kaggo pajangan, pasang tarub, jejeran, sajen, kendurenan lan akeh maneh liyane, uga kanggo hiasan ing rumah makan ing ngendi wae. Gedhang raja mujudake gedhang adat minangka warisan nenek moyang jaman dhisik.


(Panjebar Semangat 22/2009).

Jumat, 25 April 2014

mengenal kelainan kaki pada balita yang muncul sejak lahir. dan bagaimana pengobatannya

Club foot ( talipes equinovarus ) adalah kelainan bentuk kaki dan pergelangan kaki bayi yang didapatkan saat melahirkan . Tidak jelas apa yang menyebabkan kelaian kaki ini . Dalam kebanyakan kasus , itu didiagnosis oleh penampilan khas kaki bayi setelah mereka lahir . Metode pengobatan Ponseti yang sekarang banyak digunakan untuk kasus ini. Perawatan ini memberikan hasil yang baik bagi sebagian besar anak-anak, sehingga operasi besar biasanya tidak diperlukan untuk memperbaiki deformitas kaki.


Apa yang dimaksud dengan CTEV (congenital talipes equinovarus)?

CTEV, club foot, atau juga biasa dikenal dengan kaki pengkor.

CTEV  juga dikenal sebagai club foot . Ini adalah kelainan bentuk kaki dan pergelangan kaki bayi yang didapat sejak lahir. Dari semua bayi yang mengalami kelainan bentuk kaki club foot, setengahnya mengalami club foot bilateral (kedua kaki). Club foot yang juga di jawa disebut kaki pengkor  berarti pergelangan kaki dan telapak kaki jinjit dan membelok ke dalam  ( lihat di bawah ) . kaki pengkor  adalah kondisi bawaan . (  kondisi bawaan adalah suatu kondisi yang sudah muncul saat lahir. )

Jika bayi mengalami kelaian kaki club foot / CTEV , bentuk kaki mereka tampak  khas . mata kaki bagian luar  ke bawah pada pergelangan kaki mereka ( dokter menyebut posisi ini dengan equinus ) . Tumit kaki mereka berbalik ke dalam ( dokter menyebut posisi ini varus ) . Bagian tengah dari kaki mereka juga memutar ke dalam dan kaki mereka muncul cukup pendek dan lebar . ada yang kaku, dan ada juga yang masih fleksibel .

Kaki bayi berada di posisi ini karena tendon Achilles di bagian belakang tumit bayi sangat pendek dan tendon di bagian dalam kaki mereka juga memendek.

Jika kondisi ini dibiarkan saja , karena bayi berkembang dan belajar untuk berdiri , mereka tidak akan mampu berdiri dengan telapak kaki merekan di tanah .

Pada beberapa bayi , mungkin terlihat seolah-olah mereka memiliki  kelainan kaki club foot / CTEV , pada kenyataannya , kaki mereka dapat dipindahkan dengan mudah ke posisi normal. Bayi-bayi ini kalau ditangani dengan benar akan membuahkan hasil yang memuaskan. Biasanya dokter akan menyarankan memakai sepatu koreksi khusus / biasa disebut sepatu ortopedi sampai si anak mulai bisa berjalan.

Apa yang menyebabkan kaki pengkor / CTEV ?

Tidak jelas persis mengapa kelainan ini  berkembang . Diperkirakan bahwa ada kemungkinan mungkin ada beberapa faktor genetik yang terlibat . Jika Anda memiliki bayi lahir dengan talipes , ada sekitar 3-4 dalam 100 kesempatan bahwa seorang saudara atau saudari lahir setelah mereka juga akan memiliki talipes equinovarus . Bayi yang lahir dari orang tua yang memiliki talipes juga peningkatan risiko yang lahir dengan masalah itu sendiri . Jika kedua orang tua memiliki talipes , resiko ini lebih tinggi . CTEV juga mungkin berhubungan dengan posisi kaki bayi sewaktu masih didalam kandungan .

Dalam kebanyakan kasus ( sekitar 4 dari 5 ) , bayi tidak memiliki masalah lain selain dari kaki pengkor ini . Namun, dalam sekitar 1 dalam 5 bayi yang lahir dengan CTEV / kaki pengkor , bayi juga memiliki masalah lain . Umumnya , masalah tersebut meliputi:

    Spina bifida - suatu kondisi dimana tulang tulang belakang tidak membentuk dengan benar , menyebabkan saraf tulang belakang kehilangan perlindungan dan menjadi rusak .

    Cerebral palsy - istilah umum yang menggambarkan sekelompok kondisi yang menyebabkan masalah gerakan . Lihat brosur terpisah yang disebut Cerebral Palsy untuk rincian lebih lanjut .

    Arthrogryposis - suatu kondisi di mana seorang anak memiliki sendi melengkung dan kaku dan pengembangan otot abnormal.


seberapa banyak bayi yang mengalami masalah kelainan kaki CTEV ini ?

Talipes adalah masalah yang cukup umum . Ini adalah salah satu cacat yang paling umum pada bayi yang baru lahir . Sekitar 1 dari 1.000 bayi yang lahir  mengalami kelainan kaki pengkor ini .

Anak laki-laki mempunyai faktor resiko yang lebih tinggi dibanding perempuan .  dan kecacatan kaki pengkor ini  dapat mempengaruhi kedua kaki .


Bagaimana talipes didiagnosis dan penyelidikan apa yang diperlukan ?

Talipes biasanya didiagnosis setelah bayi lahir . Namun, perkembangan teknologi USG scanning selama kehamilan yang sudah canggih , kecacatan kaki balita sudah bisa  terdeteksi selama pemindaian sebelum bayi lahir .

Semua bayi di Inggris secara rutin diperiksa dan diperiksa oleh dokter segera setelah mereka lahir . Hal ini untuk mencari kondisi kecacatan sesegera mungkin,  tetapi juga untuk masalah lain yang diderita bayi. 

Paling umum , talipes bisa dilihat dan didiagnosis selama pemeriksaan ini karena penampilan khas kaki seperti dijelaskan di atas . Investigasi seperti sinar - X biasanya tidak diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis .

Ada berbagai tingkat kelainan bentuk kaki dengan CTEV ini . Beberapa bayi memiliki kelainan kaki lebih ringan daripada yang lain . Jika bayi didiagnosis dengan talipes , spesialis ( biasanya seorang ahli bedah ortopedi ) akan sering menggunakan sistem penilaian untuk kelas keparahan deformitas kaki . Sebuah sistem penilaian umum yang digunakan adalah skor Pirani . Dengan sistem penilaian ini , kelas dari 0 sampai 6 diberikan . Semakin tinggi kelas , semakin besar derajat kelainan bentuk kaki .

Pengobatan apa yang sesuai untuk CTEV ?

Ada beberapa perubahan pada perawatan kecacatan kaki balita ini selama beberapa tahun terakhir . Operasi besar adalah pengobatan yang umum digunakan . Namun, hasil studi penelitian medis telah menunjukkan bahwa pengobatan lain tanpa operasi besar , terutama pengobatan dikenal sebagai metode Ponseti , tampaknya memberikan hasil jangka panjang yang baik bagi kebanyakan anak . Metode Ponseti sekarang pengobatan pilihan oleh sebagian besar ahli bedah ortopedi di seluruh dunia . segera setelah bayi lahir dan diketahui mengalami kelainan kaki CTEV, maka bayi akan dipaikan sepatu khusus koreksi kaki balita, setelah sebelumnya di gip beberapa kali.

Meskipun metode Ponseti biasanya lebih disukai , ada metode pengobatan lain yang tersedia . Salah satu contoh adalah metode fungsional Perancis . Metode fungsional Perancis melibatkan manipulasi sehari-hari serta imobilisasi dengan perban perekat dan bantalan .

Adalah penting bahwa bayi yang memiliki talipes dirujuk ke dokter spesialis dalam mengobati masalah ini sesegera mungkin setelah lahir . Semakin cepat pengobatan metode Ponseti dimulai , secara umum , seharusnya semakin mudah koreksi deformitas kaki.

Metode Ponseti

memanipulasi lembut ( memegang , peregangan dan bergerak ) kaki anak dengan tangan mereka ke posisi di mana deformitas kaki diletakkan tepat ( dikoreksi ) sebanyak mungkin. Hal ini tidak menyakitkan atau tidak nyaman bagi anak . Setelah dalam posisi ini (posisi kaki  terkoreksi) , maka selanjutnya dilakukan pengegipan untuk menjaga posisi kaki. Gips ini biasanya berlangsung dari jari kaki anak ke daerah pangkal paha mereka .

Setelah satu minggu , gips dilepas , kaki anak yang dimanipulasi lagi dan gips dimasukkan kembali dengan kaki anak dalam posisi baru . Setelah seminggu lagi , prosedur ini diulangi . Seperti setiap minggu berlalu , biasanya kaki anak dapat dipindahkan ke posisi yang menjadi lebih dekat dan lebih dekat dengan posisi kaki normal sedikit demi sedikit.


Setelah sekitar enam minggu diulang manipulasi dan plester casting kaki , biasanya ada kemajuan yang baik dan posisi kaki telah meningkat . Pada tahap ini , selanjutnya anak dipakaikan sepatu khusus koreksi untuk kecacatan / biasa disebut sepatu ortopedi. Sepatu ini berfungsi mempertahankan kaki dalam posisi normal sembari menunggu pertumbuhan tulang kea rah normal.
Contoh sepatu ortopaedi / sepatu koreksi


Hal ini sangat penting bahwa anak terus untuk memakai ' sepatu koreksi ' mereka seperti yang disarankan  oleh dokter spesialis. Jika sepatu ortopaedi  tidak dipakai seperti yang disarankan , ada kemungkinan bahwa talipes bisa kembali ( kambuh ) . Ini berarti bahwa posisi kaki mereka dapat menjadi abnormal lagi.
Contoh Foot abduction Brace / Dennis brown splint

Apa prospek ( prognosis ) untuk talipes ?

Metode Ponseti bekerja dengan baik untuk memperbaiki deformitas kaki untuk sebagian besar anak-anak dengan talipes . Untuk antara 8 dan 9 dari 10 anak , deformitas akan diperbaiki . Namun, dalam sejumlah kecil anak-anak , tidak memperbaiki deformitas dan operasi yang lebih besar mungkin diperlukan . Anak-anak yang memiliki masalah lain serta talipes , seperti yang dibahas di atas , lebih mungkin untuk memerlukan pembedahan .



Sepatu Orthopaedi:


Contoh Sepatu Dennis Brown Splint:



Untuk konsultasi masalah kelainan kaki pada balita dan pemesanan sepatu koreksi / sepatu orthopaedi, bisa menghubungi Bp. Nugroho Hp. 0858 6737 4002
pin BB :74D605CD

Atau bisa melihat produk sepatu orthopaedi di www.orthoshoping.com

Legenda Pengging



Pengging adalah sebuah desa yang terletak di Kelurahan Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, tapi sekarang Pengging lebih dikenal oleh masyarakat mencakup 3 Kelurahan yaitu Bendan, Dukuh dan Jembungan. Dengan peninggalan yang tersisa adalah Pemandian Umbul Pengging ,Umbul Sungsang dan Makam Pujangga Yosodipuro.

Pengging juga mempunyai ritual sebaran apem untuk memperingati bulan Sapar, tradisi ini sudah ada sejak jaman R. Ng Yosodipuro. Hal ini dimulai karena pengaruh R. Ng Yosodipura yang berjasa dalam membawa rakyat Pengging dalam meningkatkan hasil pertanian dan mengusir hama. Acara ini sering bertepatan dengan acara Pengging Fair yaitu pesta rakyat dan budaza Pengging yang dilaksanakan mendekati bulan Agustus. Acara ini berlangsung selama seminggu dengan puncak acaranya adalah hari terakhir perayaan ini. Namun beberapa hari sebelumnya di sepanjang jalan Pengging sudah ramai dengan pedagang-pedagang, mulai penjual makanan sampai pakaian tidak hanya pedagang lokal tapi juga dari luar daerah. Acara tersebut tidak hanya diikuti oleh masyarakat Pengging dan sekitarnya tapi juga dikunjungi oleh masyarakat luar Pengging misalnya dari Boyolali, Surakarta, Klaten bahkan luar karisidenan Surakarta.

Pesta rakyat dan budaya Pengging merupakan acara memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia namun karena suatu hal maka sering dilaksanakan sebagai pesta budaya sekaligus memperingati jasa R Ng Yosodipuro dalam bentuk ritual atau upacara tradisi apeman, acara ini mulai diselenggarakan tahun 1967 dan diadakan secara rutin setiap tahun. Pada awalnya dilangsungkan dengan sederhana dan hanya menampilkan satu panggung hiburan. Seiring bertambahnya waktu acara tradisi ini berjalan semakin maju dan semarak dengan berbagai jenis kegiatan dan hiburan. Dengan demikian pengunjung yang datang semakin bertambah banyak dan Pegging menjadi terkenal dengan Obyek Wisata Pemandian Umbul Pengging dan Makam Pujangga Yosodipuro saja namun juga dengan kegiatan tradisi tahunan tersebut.

R. Ng Yosodipuro ádalah seorang Pujangga sekaligus ulama yang menyebarkan agama Islam hidup pada masa pemerintahan Pakubuwono II dikenal sangat dekat dengan kaum petani, karena kearifannya seringkali rakyat Pengging memohon petunjuk termasuk pada saat petani meminta bantuannya untuk mengatasi serangan hama keong mas. Atas petunjuk R. Ng Yosodipuro para petani mengambil keong mas tersebut kemudian dimasak dengan cara dikukus. Sebelumnya keong tersebut dibalut dengan janus yang dibentuk seperti keong mas. Setiap kali panen padi janur bekas balutan keong mas tersbut digunakan untuk membuat apem kukus. Apem kukus itu kemudian dibagi-bagikan pada petani sebagi wujud syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diberikan dan juga berkurangnya hama keong. Tradisi bagi-bagi apem akhirnya terus berkembang hingga berjalan sampai sekarang. Bagi masyarakat yang percaya jika berhasil mendapatkan apem maka diyakini akan mendatangkan berkat.

Berebut kue apem kukus keong mas dalam acara Saparan di Pengging, kecamata Banyudono, Boyolali sudah merupakan tradisi yang tak mudah untuk ditinggalkan oleh masyarakatnya. Masing-masing RT mengirimkan apem sebanyak 200 buah kemudian dikumpulkan di kantor kecamatan. Acra Saparan dilaksanakan tepat di perempatan depan Masjid Cipto Mulyo, kompleks wisata Umbul Pengging. Malam sebelumnya diadakan prosesi melakukan doa dan tahlil di Masjid Cipto Mulyo dan dilanjutkan ziarah di makam R. Ng Yosodipuro kemudian dilanjutkan dengan upacar kenduri serta Sanggaran.

Selanjutnya ritual diawali dengan kirab budaya dan arak-arakan dua buah gunungan apem serta berbagi macam kesenian daerah setempat. Dimulai di depan kantor kecamatan Banyudono menuju halaman Masjid Cipto Mulyo. Acara ini dihadari oleh pejabat daerah setempat, trah dari R. Ng Yosodipuro serta kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat.

1.Acara-acara untuk memeriahkan tradisi ini antara lain:
Pentas seni dan budaya
Diadakan disepanjang Jalan Pasar Pengging, acara dimulai dengan pemotongan pita oleh Bupati Boyolali. Kemudian acara karnaval oleh murid TK dan SD , drum band, Reog dan Barongsai. Iring-iringan ini dimulai dari kantor kecamatan Banyudono sampai di depan Obyek Wisata Umbul Pengging. Malamnya dilanjutkan dengan hiburan kesenian, terdapat lima panggung kesenian yaitu: panggung band rock, anak-anak, orkes melayu (dangdut), campursari, dan Wayang kulit dengan lokasi yang sudah dipersiapkan.

Suasana meriah dan ramai dirasakan sejak sore hari, berlanjut hingga tengah malam apalagi pertunjukan wayang kulit yang berlangsung semalam suntuk. Dapat terlihat disini semua jenis kesenian baik modern maupun tradisional dapat berjalan bersama. Sehingga secara tidak langsung acara ini juga dijadikan sebagai sarana promosi dan melestarikan kebudayaan daerah. Pertunjukan wayang kulit dimainkan oleh dalang dari Pengging sendiri karena Pengging mempunyai banyak dalang misalnya : Ki Wardono, Ki Gondo Sawi, Ki Gondo Tomo, Ki Gondo Wajiran, Ki Sabdo Carito, dalang muda Ki Nyoman dan kadang kadang mengundang dalang terkenal seperti Ki Anom Suroto dan Warseno Slank diiringi waranggana lokal misalnya Nyimut, Suparsih, Wayan, Suji diselingi lawak Gogon yang asli Pengging dan bahkan pelawak Srimulat turut serta menyemarakkan acara ini. Hal ini mendorong lahirnya seniman - seniman muda dari Pengging selain itu sanggar karawitan dan tari tradisioanal dibuka di Pengging.

Diharapkan dengan diadakannya acara ini mendorong semangat generasi muda untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan serta memajukan daerahnya tidak hanya melalui kekayaan alam namun juga dengan kesenian, kebudayan dan peninggalan sejarah.

Dolanan Jawa Tradisional (eks Karesidenan Surakarta)


1. Jamuran
Permainan ini dilakukan oleh sekelompok orang minimal 4 orang. Pemainnya berdiri melingkar dan bergandengan tangan. Ada salah satu pemain yang berdiri di tengah-tengah. Biasanya orang yang jadi (masang). Para pemain berputar sambil menyanyikan lagu jamuran.
Kemudian yang berada ditengah / yang jadi meminta. Misalnya meminta jamur kethek menek. Semua pemain harus memanjat. Berarti dia yang jadi (masang).

2.Bekelan
Permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang, yang satu sebagai lawan mainnya. Permainan ini dilakukan secara bergantian. Apabila satu pemain kalah, pemain yang satu yang memainkan begitu seterusnya. Alatnya berupa bola bekel dan empat buah batu kerikil. Cara bermainnya, bola bekel dilempar ke atas dengan pelan. Kemudian mengambil batu yang berada di bawah. Lalu kembali menangkap bola yang melambung tadi, sebelum bola jatuh ke tanah. Pertama, ambil batunya satu persatu, lalu dua per dua, lalu 3, lalu 4, begitu seterusnya.

3.Dakon
Permainan ini tidak hanya sering dilakukan oleh masyarakat. Namun permainan ini juga dilakukan oleh puteri raja dalam keraton Dalam keraton biasanya menggunakan kecik (biji sawo). Selain biji sawo juga bisa menggunakan kerikil. Setiap lingkaran diberi kerikil 5 buah. Kecuali lingkaran yang berada disamping. Lingkaran itu dibiarkan kosong karena untuk menempatkan hasilnya. Permainan ini dimainkan oleh dua orang secara bergantian.

4.Bedelikan
Permainan ini biasanya dilakukan oleh 5-7 orang atau lebih. Biasanya dilakukan pada siang hari atau juga sore hari. Pemain yang jaga biasanya pemain yang kalah pinsut. Pemain yang jaga menutup matanya lalu menghitung dari 1 sampai 10. pemain yang lain bersembunyi ditempat yang kira-kira dianggapnya aman dan tidak diketahui oleh yang jaga. Pemain yang bisa ditemukan oleh pemain yang jaga berkumpul lalu pinsut dan yang kalah pinsut menjadi yang jaga. Di daerah Boyolali permainan ini sering disebut ambbellan atau delikan.

5.Sudamanda (engklek)
Di daerah Boyolali permainan ini sering disebut Brok. Permainan ini biasanya dilakukan oleh 3-5 orang. Permainan ini menggunakan gancu (pecahan genting). Permainan ini dimainkan sesuai dengan bidangnya. Pemain melempar gancu kedalam kotakan bidang. Lalu pemain berjalan menggunakan satu kaki atau engklek. Pemain deprok apabila berada di tempat yang dianjurkan untuk deprok. Pemain kembali engklek kemudian mengambil gancu. Ulangi permainan tersebut sampai akhir. Setelah gancu berhasil menempati semua kotakan, lalu pemain berjalan dengan mata tertutup untuk mencari gancunya sendiri. Apabila pada saat berjalan pemain menginjak garis, berarti permainan diulangi lagi setelah temannya bermain. Setelah gancunya berhasil didapatkan, pemain membelakangi bidang kemudian melempar gancu tersebut ke bidang. Setelah dapat, maka pemain mendapatkan tempat untuk deprok dan tempat itu tidak bisa dijamah oleh pemain lainnya.

6.Apolo
Di daerah Boyolali permainan ini sering disebut Boinan. Permainan ini biasanya dilakukan oleh 3-5 orang atau lebih. Permainan ini menggunakan pecahan genting yang ditumpuk-tumpuk. Kemudian para pemain melemparnya dengan menggunakan bola kasti. Pemain dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok yang menang dan kelompok yang jaga. Apabila salah satu pemain dari kelompok yang menang berhasil merobohkan tumpukan genteng pemain yang menang berlari, lalu pemain yang kalah berusaha melempar bola tersebut ke pemain yang menang sambil menata tumpukan genteng. Apabila genteng berhasil ditumpuk, maka kelompok pemain yang menang menjadi kalah.

7.Bentik
Permainan ini biasanya dilakukan oleh 5 orang atau lebih. Para pemain dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok jaga dan kelompok main. Permainan ini menggunakan bambu/bilah. Yang satu panjang dan yang satu pendek. Memainkanya, bambu yang pendek ditempatkan ditanah yang sudah dilubangi dengan arah melintang menyerupai jembatan. Lalu bambu yang panjang dimasukan dalam lubang dan mengangkat bamboo yang kecil sehingga melambung. Pemain yang jaga menangkap bambu tersebut.
Apabila tertangkap mendapatkan poin. Lalu bambu yang panjang ditaruh diatas tanah yang berlubang tadi. Apabila berhasil mengenai bambu yang panjang maka pemain yang main menjadi kalah dan bergantian menjadi jaga.

8.Cublak-cublak suweng
Dimainkan oleh beberapa orang. Ada satu yang tengkurap. Sedangkan yang lain meletakan tangannya diatas punggung orang yang tengkurap tadi. Sambil menyanyikan lagu cublak-cublak suweng ada seorang anak yang membawa kerikil kemudian diletakkan secara berurutan sampai lagu selesai. Setelah selesai kerikil itu ada digenggaman salah seorang anak dan yang tengkurap menjawab siapa yang membawa kerikil itu. Bila benar, si pembawa kerikil akan jaga. Jika salah, dia tetap jaga.

9.Pak tepong
Dimainkan oleh beberapa orang. Sebelumnya dibuat garis sebagai batas pelempar dan beberapa meter didepannya dibuat lingkaran. Setiap pemain melemparkan gacuknya ke dalam lingkaran. Bagi yang gacuknya diluar lingkaran dan paling jauh, dia harus jaga. Si penjaga menata gacuk. Ke atas kemudian ia harus menutup matanya. Saat dia menutup mata, teman-temannya bersembunyi. Dia harus mencari kawannya. Bila dia melihat temannya, dia harus memegang kacuk dan berkata pak tepong. Namun kawannya juga bisa menendang gacuk-gacuk itu. Saat itulah kawan-kawan lain bisa bersembunyi lagi sementara penjaga menata kembali gacuk-gacuk itu. Yang digunakan sebagai gacuk biasanya adalah serpihan genting dan kaca.

10.Betengan
Dimainkan oleh beberapa orang. Cara bermainnya yaitu ada dua buah pohon yang letaknya berseberangan. Tiap pohon dihuni oleh beberapa orang. Caranya yaitu perkelompok berusaha untuk memegang kelompok lawan. Namun dalam usahanya it dihalang-halangi oleh pemilik pohon. Bila lawan ada yang dipegang pemilik maka lawan itu menjadi milik pemilik. Dan jika bisa memegang pohon lawan maka ia menjadi pemenang. Benda yang dibutuhkan yaitu dua buah pohon.

11.Bat engklek
Dimainkan lebih dari satu orang. Ada dua macam batengklek yaitu batengklek biasa dan montor mabur. Bathengklek biasa berbentuk segiempat yang dibagi-bagi sedangkan montor mabur berbentuk pesawat terbang. Cara bermainnya sama, gacuk dilempar sesuai urutan kemudian pemilik engklek pada kotak-kotak yang ditentukan. Jika semuanya sudah selesai, pemilik akan mendapatkan sawah jika lemparan gacuk masuk pada kotak-kotak tadi. Alat : gacuk (serpihan genting, kaca, uang).

12. Mbar Suru
Mbar suru adalah permainan rakyat yang ada di daerah eks karisidenan Surakarta khususnya di daerah Boyolali. Permainannya adalah dengan biji Flamboyan atau Asam, disebar di lantai, tidak boleh melewati garis ubin, kemudian diserok dengan kertas atau plastik yg dijepitkan di antara jemari. Ketika menyerok 2 biji yg berdempetan, tidak boleh menyentuh biji yg tidak diserok. Jika menyentuh, artinya harus berganti pemain. Permainan ini diawali dengan masing-masing pemain menyertakan 'modal' biji, misalnya 5 atau 10 dan pada akhir permainan, dihitung siapa yg lebih untung.

13.Ancak-ancak Alis
Jenis permainan tradisional anak-anak yang ada di daerah sekitar eks karisidenan Surakarta ini, dalam proses permainannya menggunakan istilah-istilah yang berhubungan dengan pertanian. Ketentuan jumlah pemain dalam permainan ini tidak ada, semakin banyak anak-anak yang terlibat dalam permainan ini akan semakin meriah. Tempat permainannya biasanya dipilih yang luas dan rata.
Cara bermainnya yaitu pertama-tama semua pemain bersepakat untuk memilih dua orang yang diantara mereka cenderung memiliki kekuatan, ketinggian, dan besar badan yang sama untuk menjadi petani. Kemudian petani ini segera menyingkir dari kelompok permainan untuk berunding mengenai nama-nama yang diambil dari istilah pertanian, misalnya A memilih nama jagung dan B memilih nama kacang. Kemudian kedua petani berdiri berhadapan dengan kedua tangan diangkat keatas dan mereka saling menepuk tangan sambil menyanyikan ancak-ancak alis. Masing-masing lagu ini di daerah Jawa ada perbedaan antara daerah yang satu dengan yang lainnya.(cia pbsj unnes 2007;r4)


(Oleh: Kelompok 2 Penelitian Foklor eks Karesidenan Surakarta, Dosen: Sukadaryanto;Rombel 4 Chafid dkk; PBSJ-BSJ-FBS-UNNES Universitas Negeri Semarang)

KEPERCAYAAN RAKYAT JAWA

1. Gentong Suripta
Bila ada bayi yang wetone pada orang tua sebagai syarat orang tua, harus dibuang dulu di tampah kemudian ditemu orang lain dan dikembalikan kepada ibunya untuk diasuh dan bila saat menikah harus ditebus dengan gedhang (pisang) selangkap.

2. Genthong Sinogo
Bila ada yang sakit dan kemudian diminumi air genthong sinogo maka akan sembuh. Menurut cerita dulu yang mengangsu adalah Seh Dong Bo pengikut ki Ageng. Dulu yang She Dong Bo membangkang bila dengan ki Ageng, kemudian dikasih hukuman untuk mengisi genthong tersebut dengan menggunakan kranjang, namun bisa penuh ninggal di makamkan di Carakan.
Tidak ada orang yang berani bersumpah untuk gentong sinogo. Misalnya orang mencuri tidak mengaku kemudian ditakut-takuti diberi gentong sinogo maka orang tersebut tidak akan berani berbohong karena apabila berbohong maka orang tersebut akan mati.

3. Sinuwun adang
Di daerah Solo, Surakarta ada istilah kepercayaan rakyat yang sering disebut dengan sinuwun adang. Ketika ada orang yang sedang memasak nasi tidak boleh ada orang asing yang membuka nasi tersebut. Karena dipercayakan apabila ada orang asing yang membukanya maka nasinya tidak akan matang. Tradisi ini dilakukan delapan tahun sekali.

4. Sendang Siwani
Semula Sendang Siwani masih merupakan sendang alam yang kecil tidak terawat, berdekatan dengan pohon yang rindang dan airnya sangat jernih. Kemudian didirikan sebuah bangsal dengan ukuran 3 X 5 meter untuk bernaung para peziarah. Konon yang mendirikan bangunan tersebut adalah Bapak Soemoharyomo, ayahanda dari almarhumah Ibu Tien Soeharto.

Selanjutnya pada tahun 1980, Sendang Siwani dibangun oleh Bapak Soemoharmanto, paman dari almarhumah Ibu Tien Soeharto. Sendang tersebut ditembok dan diberi pagar tembok pula. Kalau semula terbuka, sekarang sudah dibangun kamar mandi untuk perempuan dan laki-laki. Pada tanggal 14 Agustus 1992, Sendang Siwani dipugar oleh para keturunan dari Pangeran Samber Nyawa dan keturunan dari “Punggawa Baku”. Pemugaran tersebut selesai dan diresmikan pada tanggal 13 Desember 1992, dengan disertai candrasengkala, Gatining Panembah Trus Wani.

Sendang Siwani merupakan petilasan Raden Mas Said (KGPAA Mangkunegara I) saat melakukan gerilya melawan penjajahan Belanda. Di Sendang inilah Raden Mas Said mendapatkan petunjuk dari Sang Widhiwasa bagaimana caranya agar mendapatkan kemenangan dalam perang melawan penjajah Belanda.

Selanjutnya tempat ini menjadi mitos bahwa orang yang melakukan tirakat / meditasi ditempat ini akan terkabul permohonannya. Sampai sekarang tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata ritual di kabupaten Wonogiri baik dari kalangan bawah, menengah maupun atas.

5. Labuhan Ageng Sembukan
Pantai Sembukan merupaka salah satu obyek wisata di kabupaten Wonogiri yang mempunyai beberapa sarana ibadah antara lain masjid, paseban dan sanggar. Konon Pantai Sembukan ini merupakan gerbang ke-13 kerajaan Ratu Kidul. Gerbang ini digunakan untuk lewat Kanjeng Ratu Kidul saat menghadiri pertemuan dengan Raja-Raja Kasunanan Surakarta (Paku Buwono). Setiap setahun sekali diadakan selamatan (Larung Ageng) dilanjutkan wayang kulit baik dari Kraton Surakarta, Pemerintah Kabupaten Wonogiri maupun masyarakat Desa Paranggupito.

Maksud dan tujuan upacara ritual Larung Ageng adalah selamat dari gangguan roh-roh halus. Upacara-upacara yang diselenggarakan oleh masyarakat tidak hanya berfungsi untuk menolak atau menangkis marabahaya dan penyakit menular, melainkan sering juga digunakan untuk satu permintaan, misalnya jika terjadi musim kering yang berkepanjangan sehingga orang mengalami kekuranangan air. Event ini sangat menarik dan selalu mendatangkan wisatawan yang cukup banyak. Pada umumnya wisatawan mengharapkan berkah untuk kesuksesan dan kebahagiaan dengan melakukan meditasi, menyatu dengan Sang Pencipta memohan agar semua cita-citanya terkabul, dan ternyata banyak yang berhasil. Obyek wisata ini masuk wilayah Desa Paranggupito, kecamatan Paranggupito, 60km dari ibukota kabupaten Wonogiri kearah selatan dan memerlukan waktu perjalanan kira-kira 2jam dengan kendaraan bermotor.

6. Ziarah Di Makam Pangeran Samudro
“Sing sapa nduwe panjangka marang samubarang kang dikarepke bisane kelakon iki kudu sarana pawitan temen, mantep, ati kang suci, aja slewang-sleweng, kudu mindeng marang kang katuju, cedhakan dhemene kaya dene yen arep nekani marang panggonane dhemenane.”

“Barang siapa berhasrat atau punya tujuan untuk hal yang dikehendaki maka untuk mencapainya harus dengan kesungguhan, mantap, dengan hati yang suci, jangan serong kanan / kiri harus konsentrasi pada ynga dikehendaki / yang diinginkan, dekatkan keinginan, seakan-akan seperti menuju ketempat kesayangannya / kesenangannya.”

Petikan wacana diatas memang dapat ditafsirkan keliru, khususnya oleh masyarakat awam. Ada pendapat yang keliru yang mengatakan bahwa apabila berziarah ke makam Pangeran Samudro harus seperti ketempat kekasih / dhemenan dalam pengertian bahwa berziarah kesana harus membawa isteri simpanan atau teman kumpul kebo serta melakukan hubungan seksual dengan bukan isteri atau suami yang sah. Parahnya pendapat tersebut telah diterima oleh sebagian besar masyarakat.

Akan tetapi pandangan atau pendapat tersebut tidak benar dan perlu diluruskan. Muncul pendapat tersebut dari penafsiran pengertian kata “dhemenan”. Pengertian kata “dhemenan” dalam bahasa Jawa diartikan kekasih lain yang bukan isteri / suami sah (pasangan kompul kebo), kekasih gelap, isteri / suami simpanan. Sehingga pengertiannya menjadi apabila ziarah ke makam Pangeran Samudro harus membawa dhemenan.

Arti sesungguhnya dari kata “dhemenan” dalam konteks naskah bahasa jawa tersebut adalah keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita yang ingin segera terwujud / tercapai seperti seakan-akan ingin menemui kekasih.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inti ziarah ke makam Pangeran Samudro di gunung Kemukus adalah apabila punya kemauan, cita-cita yang ingin dicapai, atau apabila menghadapi rintangan yang menghalangi jalan untuk mencapai cita-cita / tujuan tersebut harus dilakukan dengan cara bersungguh-sungguh, hati yang bersih suci dan konsentrasi pada cita-cita dan tujuan yang ingin dicapai / dituju. Dengan demikian terbukalah jalan untuk mencapai cita-cita dan tujuan tersebut dengan mudah.

7.Khuthuk
Khuthuk merupakan tradisi yang ada di daerah wonogiri. Tradisi ini dilakukan untuk memberi makan pusaka pada malam hari jum’at kliwon. Ritual khuthuk biasanya dilakukan pada hari Jum’at pahing, Jum’at pon dan jum’at kliwon. Kegiatan yang dilakukan biasanya adalah bakaran menyan, dan kembang setaman yang dimasukkan ke dalam air. Jika senjatanya bergetar tidak bisa didekati, dipercaya bahwa ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu.

8.Ngalap Berkah
Kepercayaan di daerah sekitar Surakarta yang percaya bahwa kotoran kerbau diyakini membawa berkah.

(diposting oleh cia pbsj 07' unnes)
(disusun oleh kelompok penelitian folklor setengah lisan rombel 4 angkatan 2oo8 (Ita Mustikaningrum dkk) Dosen Bapa Sukadaryanto, PBSJ-BSJ-FBS-UNNES Universitas Negeri Semarang)

Sekilas Tentang Tarian Tradisional Jawa

  1. Tarian Bedhaya Ketawang
Tari Bedhaya Ketawang merupakan tarian yang biasa digunakan atau ditarikan di dalam keraton, karena biasa dipertunjukkan untuk mengiringi upacara Tingalan Jumeneng Dalem (ulang tahun penobatan raja).
Tarian ini ditarikan oleh sembilan orang penari putri. Ke sembilan penari putri tadi dicarikan yang sama atau hampir mirip Wajahnya, besar tinggi badannya. Begitu juga dengan tata rias dan tata pakaiannya sama. Ada nama-nama tersendiri untuk ke sembilan penari tersebut yaitu Endel, Batak, Jangga, Dada, Bunthil, Apit Ngajeng, Apit Wingking, Endel Wedalan Ngajeng, dan Endel Wedalan Wingking.
Tarian Bedhaya Ketawang ini ditarikan oleh sembilan penari putri karena sembilan penari tersebut mencerminkan atau menyimbolkan sembilan lubang pada tubuh manusia. Penarinya juga harus masih perawan. Untuk latihan tarian ini tidak boleh di sembarang hari, ada hari khusus untuk latihan tarian ini yaitu hari Selasa Kliwon.
Tarian ini diiringi gendhing ketawang. Baik tari maupun gendhing pengiringnya merupakan sesuatu yang kramat, sehingga untuk menyajikannya harus didahului dengan suatu upacara tersendiri.
Tari Bedhaya Ketawang ini melukiskan kisah pertemuan antara panembahan Senapati seorang raja Mataram dengan Nyi Roro Kidul seorang ratu di lautan Indonesia.
Di Keraton Surakarta tari Bedhaya Ketawang pada mulanya hanya diperagakan oleh tujuh wanita saja. Namun, karena tari ini dianggap sebuah tarian khusus dan dipercaya sebagai tari uang amat sakral kemudian diperankan oleh sembilan prang penari.
Tarian ini muncul karena akibat bersemadinya panembahan Senapati di pantai selatan. Dalam semadinya panembaan Senapati bertemu dengan Ratu Kidul yang sedang menari. Ratu Kidul ini mengajarkan pada panembahan Senapati Mataram, yang disesuaikan dengan alunan sebuah gendhing yang di dengar.
  1. Tari Srimpi
Tarian ini ditarikan oleh empat orang penari putri dengan membawa Perlengkapan botol isi minuman dan gelas. Ke empat penari putri ini menggambarkan empat arah mata angin. Untuk tata rias dan pakaian sama, demikian juga ke empat penari itu dicarikan wajah dan besar serta tinggi tubuh yang sama atau hampir mirip. Tari ini diiringi dengan gendhing Sanyupati untuk upacara penyambutan tamu agung.
Di dalam tarian ini dapat ditemui saat-saat para penari menuangkan minuman ke dalam gelas untuk kemudian diminumnya. Bertepatan dengan adegan tersebut, para tamu berdiri dan bersama-sama meminum minuman yang telah disediakan di tempat masing-masing.
  1. Tari Kebo Kinul
Kebo Kinul merupakan orang-orangan di tengah sawah, di desa Genengsari biasa disebut Sawi (batang kayu yang ditutup jerami dan dibentuk mirip manusia) yang berfungsi untuk mengusir hama tanaman padi. Biasanya dipertunjukkan saat upacara bersih desa.
Tarian ini mengisahkan legenda desa Genengsari yang menceritakan tentang Kebo Kinul yang merasa tidak dihargai keberadaannya menjadi marah dan menyerang warga desa serta menyebarnya penyakit ke seluruh desa Genengsari. Namun semua itu teratasi atas seorang kyai yang mampu menyelesaikan persoalan tersebut, akhirnya Kebo Kinul dapat menjadi sahabat kembali.
Para penari dirias berbeda-beda sesuai dengan peran masing-masing, yaitu:
  1. Kebo Kinul
Wajah tanpa riasan, mulut ditutup mendhong, sebelumnya memakai kain dan celana hitam. Penutup tubuh dua bagian. Setiap tubuh diikat berbeda, yaitu lengan ditutup mendhong, diikat menjadi tiga (lengan atas, bawah, tengah), kepala diikat menjadi satu bagian (leher), dan diatas kepala diikat tiga bagian.

  1. Wadyabala
Wajah dirias menggunakan simit (pewarna tubuh). Untuk badan, tangan dan kaki menggunakan putih, merah dan hitam. Dari punggung ke bawah mengenakan kain kotak-kotak dan kepada diikat.

  1. Kyai Penthul
Mengenakan kaos hitam, celana panjang putih, baju panjang sampai bawah lutut berlengan panjang berwarna putih, kepala menggunakan sorban warna putih, dilengkapi dengan sabuk, epek timang dan keris.

  1. Pak Tani
Mengenakan celana sebatas lutut warna hitam, baju lengan panjang dan menggunakan caping.

  1. Mbok Tani
Rambut disanggul konde, mengenakn jarik wiron dan kebaya lengan panjang serta menggunakan caping.

  1. R. Panji Dikrama
Mengenakn celana selutut, jarik wiron, cantukan rompi dilengkapi dengan sabuk, epek timang, sampur dan blangkon.

  1. Gadung Mlati
Dirias cantik, menggunakan jarik wiron dan kemben serta sanggul konde.

  1. Pemesik
Menggunakan celana komprang hitam, baju hitam lengan panjang dan iket.

  1. Waranggana
Dirias cantik, menggunakan jarik wiron dan kebaya serta sanggul konde.
  1. Tari Kelana Topeng
Tari Kelana Topeng sebuah tarian yang menggambarkan seorang raja dalam cerita panji sedang jatuh cinta pada seorang putri dari kerajaan Kediri. Tari ini ditarikan oleh seorang penari dan pada susunan kostumnya menggunakan topeng.

  1. Tari Prawiraguna
Tari ini bertemakan heroic, menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih perang dengan membawa senjata tameng dan pedang atau tongkat pendek.

  1. Tari Minak Jingga Dayun
Tarian ini diangkat dari epos cerita Damarwulan pada waktu kerajaan Majapahit diperintah oleh Ratu Kencana Wungu. Ketika itu Minak Jingga menjadi Adipati Blambangan dan merupakan seorang Adipati yang sakti. Dia begitu senang hatinya berada di bawah kekuasaan seorang raja wanita dan bahkan dia ingin mempersunting sebagai istri. Di saat-saat dirundung cinta kepada Ratu Ayu Kencana Wungu selalu diladeni oleh abdi setianya yang bernama Dayun.

  1. Tari Jaka Tarub Nawang Wulan
Tarian ini menggambarkan seorang jejaka yang bernama Jaka Tarub sedang memadu kasih dengan seorang bidadari yang bernama Nawang Wulan. Jaka Tarub yang sedang berburu dengan sumpitnya tiba-tiba sampai pada telaga yang sedang digunakan untuk mandi para bidadari. Dia berhasil mencari salah satu pakaian mereka, ternyata pakaian milik Nawang Wulan. Jaka Tarub berhasil membujuk Nawang Wulan untuk dijadikan istrinya dan kemudian ddibawanya serta ke desa Tarub.

  1. Tari Wireng Bandabaya
Wireng Bandabaya merupakan tarian yang menggambarkan dua orang prajurit yang sedang berlatih perang. Dalam latihan tersebut mereka membawa tameng dan senjata. Dalam tarian ini senjatanya berupa tongkat pendek. Kalau menggunakan senjata Bindi biasanya dinamakan Bandayuda sedang senjata tombak biasa disebut Prawira Watang. Biasanya Wireng ini ditarikan oleh empat orang penari dalam bentuk berpasangan.

  1. Tari Karna Tinandang
Tari ini menggambarkan perang tanding antara Arjuna melawan Prabu Karna. Kedua tokoh tersebut adalah dua orang Senapati besar dalam peperangan antara Pandawa melawan Kurawa yang disebut Baratayudha. Prabu Karna adalah Senapati perang dari pihak Kurawa sedang Arjuna adalah Senapati dari pihak Pandawa. Dalam tarian ini digunakan senjata debeng (semacam tameng) serta keris.

  1. Tari Srikandi Bisma
Tari ini merupakan petikan dari Baratayudha, merupakan peperangan antara Senapati Puri dari pihak Pandawa yang bersama Srikandi melawan Senapati dari pihak Kurawa yang bernama Resi Bisma.

  1. Tari Bambagan Cakil
Tarian ini menggambarkan peperangan antara lambang kebenaran dalam bentuk Bambangan melawan lambang kejahatan yang berbentuk raksasa cakil. Tokoh Bambangan ini dapat digambarkan dengan Arjuna, Abimanyu dan sebagainya. Kadangkala dalam tarian ini setelah raksasa cakil dapat dikalahkan disusul dengan perang melawan raksasa yang membela kawannya yang telah mati tadi.

  1. Tari Retna Pramudya
Tarian ini menggambarkan dua orang prajurit putri yang sedang berlatih perang. Senjata yang dipergunakan adalah jemparing atau periah.

  1. Tari Tayub
Tari Tayub merupakan tarian yang berkembang dikalangan masyarakat, dahuluy merupakan tarian untuk menghibur masyarakat yang telah menyelesaikan tugasnya dengan hasil gemilang. Dalam tari ini penari membawa selendang untuk pada suatu saat diserahkan kepada para penonton untuk diajak menari bersama-sama.

  1. Tari Bondan
Tari Bondan menggambarkan seorang gadis yang sedang merawat bayi dengan penuh kasih sayang. Pada tari ini digunakan pula sebuah kendi yang pada saat-saat tertentu penari naik diatasnya sambil menari, dan pada akhir tarinya kendi tersebut dipecah diatas pentas untuk menunjukkan bahwa kendi tersebut tidak berisi apa-apa di dalamnya.

  1. Tari Gambyong
Tari ini menggambarkan kegairahan seorang remaja putri dalam merawat dirinya. Meskipun tarian ini termasuk bentuk tarian tunggal tetapi kadangkala dapat ditarikan oleh beberapa petami dalam bentuk kelompok dengan permainan komposisi ruang.
Penari Gambyong pada mulany mengisi dending yang dibunyikan dengan gerak-gerak tari yang dimilikinya. Hal ini dapat menimbulkan saling menguji ketrampilan antara penari dan pengendangnya. Iringan yang digunakan adalah gending Ageng seperti misalnya gending Gambir Sawit Pancerana dan sebagainya.

  1. Tari Gambir Anom
Tari ini menggambarkan seorang raja yang sedang jatuh cinta pada seorang putri kerajaan Dwarawati yang bernama Dewi Tih Sari, Prabu Gambir Anom sebenarnya adalah salah seorang putra dari Arjuna yang bernama Irawan. Biasanya tari ini diiringi susunan iringan yang terdiri dari Lancaran Rena-rena, Ketawang Kinanti Sandung dan Srepengan.

  1. Tari Gatotkaca Gandrung
Tarian ini menggambarkan tingkah laku Gatotkaca tatkala berangan-angan ingin mempersunting putri itu menjadi istrinya. Kadangkala untuk lebih memberi hidup pada tarian ini ditunjukkan pula tokoh Pregiwa sebagai bayangan atau ilusi.

  1. Tari Jurit Sarupaten
Jurit Sarupaten adalah sebuah tarian yang memadukan gerak pahlawan Untung Suropati dalam melawan penjajah. Dipadu dengan musik gending Red yang tidak ada pada tari lain, tari ini semakin indah tatkala prajurit memainkannya naik kuda yang melambangkan kegagahan.
Para pengunjung baik wisatawan asing maupun dalam negeri, akan diiringi tarian ini ketika menelusuri tembok dan sanggar Tosan Aji.

  1. Tari Merak
Tarian merak ini merupakan tarian yang melambangkan gerakan-gerakan burung Merak. Merupakan tarian Solo, biasanya dilakukan oleh beberapa orang penari. Penari umumnya memakai selendang yang diikat dipinggang yang jika dibentangkan akan menyerupai sayap burung. Penari juga memakai mahkota berbentuk kepala burung Merak. Gerakan tangan yang gemulai dan iringan gamelan, merupakan salah satu karakteristik tarian ini.

  1. Tari Kukilo
Tarian ini menggambarkan beterbangan dan berkejar-kejaran di udara. Baik irama maupun ragam gerak yang dinamis dan lincah disusun untuk menggambarkan kegesitan sekawanan burung dalam meluncur, hinggap dan kembali terbang.

  1. Tari Jaranan
Tarian ini menggambarkan tingkah laku jaran. Tari Jaranan ini menceritakan tentang kemenangan warga desa dalam mengusir marabahaya atau keangkaramurkaan yang menyerang desanya. Biasnya para penari membawa jaranan dan pecut.

  1. Tari Karonsih dan Tari Lambangsih
Tarian Karonsih dan Lambangsih menggambarkan orang yang sedang bermadu kasih (antara laki-laki dan perempuan). Tarian iuni biasanya ditarikan pada acara resepsi pernikahan sebagai lambang cinta kasih kedua mempelai, bagaikan percintaannya antara Dyah Sekartaji dengan Panji Asmara Bangun.

  1. Tari Wira Pertiwi
Tari Wira Pertiwi ini sama halnya dengan tarian Retna Pramudya yang menggambarkan prajurit wanita yang sedang berlatih perang. Dalam tarian ini gerakannya dinamis yang menggambarkan prajurit wanita itu tegas, tangkas dan tangguh.

  1. Tari Dewi Sri
Tarian Dewi Sri ini berasal dari Karanganyar Solo, yang melambangkan kesuburan saat panen dan diiringi musik lesung.

  1. Tari Golek Manis
Tarian ini sama atau mirip dengan tari Gambyong yaitu mengisahkan kegairahan seorang putri yang menginjak remaja dengan menata diri atau berdandan. Tari Golek Manis ini tercipta dari wayang golek, wayang kurcil dan wayang yang lain yang kemudian diubah ke dalam bentuk tarian.

  1. Tari Eko Prawira dan Tari Bondhoyudho
Tari Eko Prawira dan Tari Bondhoyudho ini menggambarkan atau mengisahkan prajurit yang sedang perang. Biasanya para penarinya membawa tongkat.

  1. Tari Manipuri
Tari Manipuri menggambarkan seorang gadis yang harus mandi kemudian melakukan tata diri atau berdandan.

  1. Tari Srikandi Mustaka Weni
Tari Srikandi Mustaka Weni menggambarkan seorang prajurit wanita yang sedang perang.

  1. Tari Jatilan
Di daerah klaten dikenal adanya tari Jatilan. Jatilan adalah tari tradisional yang menggambarkan tentang keprajuritan, pada waktu perang perangan yang dilakukan beberapa orang dengan cara naik kuda kepang. Dalam tari Jatilan ini diperagakan dengan pakai kuda kepang atau kuda lumping yang dikendalikan oleh seorang pawang yang diawasi oleh Ki pentul dan Ki tembem.
Tarian ini biasanya diiringi dengan gamelan yang berupa : kendang, bende dan kecer. Dalam tari Jatilan ini dimasukan unsur magis yang melambangkan kekebalan dari pihak pemain mengenakan topeng atau kacamata hitam. Tari Jatilan di Kabupaten Klaten yang terkenal adalah Tari Jatilan dari Desa Bugisan Kecamatan Prambanan. Tari Jatilan ini dipentaskan tiap hari jumat di panggung terbuka di Desa Bugisan Kecamatan Prambanan untuk para turis asing maupun domestik.

  1. Tari Topeng
Tari topeng adalah yang biasa dimainkan di daerah klaten. Kesenian tradisional yang para pemainnya mengenakan topeng sesuai dengan peran atau dapukaannya. Timbulnya kesenian ini dari Kediri Jawa Timur, tari topeng dilaksanakan dengan percakapan atau dialog dan diiringi gamelan jawa selendro lengkap. Adapun tema ceritanya adalah cerita Panji.
Di Kabupaten Klaten untuk pertama kali dilaksanakan oleh para dalang wayang kulit dan perkumpulan tari topeng yang terkenal bernama Magodo di Desa Jogosetran Kecamatan Kalikotes.
Keistimewaan Tari Topeng pada saat itu yaitu tidak setiap orang bisa melakukannya kecuali para dalang, kesenian topeng ini dalam dialog ada yang melepaskan topeng dari gigitan, akan tetapi tetap dipegang untuk menutupi mukanya. Tarian ini khusus dipentaskan pada siang hari dan tidak dilaksanakan pada malam hari. Namun demikian pada saat sekarang tari topeng tersebut sudah dpat dilaksanakan oleh para remaja.
(diposting oleh cia pbsj 07' unnes)
(disusun oleh kelompok penelitian folklor setengah Lisan Chafid dkk) Dosen Bapa Sukadaryanto, PBSJ-BSJ-FBS-UNNES Universitas Negeri Semarang).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...