Kamis, 28 Maret 2013

OPTIMALISASI FUNGSI LAHAN SEKOLAH SEBAGAI SCHOOL GARDEN GUNA MENDUKUNG PROSES PEMBELAJARAN


A.    LATAR BELAKANG
1.    Pendidikan adalah hak seluruh warga negara Indonesia. Pendidikan salah satu investasi yang sangat penting untuk kepentingan pembangunan bangsa baik jangka pendek maupun jangka panjang.
2.    Persoalan mendasar pada pengembangan SDM di Indonesia  adalah pelaksanaan dan pemerataan program pendidikan yang bermutu dan murah diseluruh lapisan masyarakat.
3.    Kenyataan sekarang menunjukkan biaya pendidikan semakin mahal kualitas pendidikan rendah dan  ekonomi masyarakat masih sulit.
4.    Banyak sekolah yang masih menyelenggarakan kegiatan pemebelajaran dengan menggunakan media apa yang dimilikinya tanpa upaya kreatifitas untuk mengoptimalkan segala potensi di lingkungan  sekolah yang ada.
5.    Berdasarkan hasil survey dengan angket tertutup untuk mengetahui tanggapan anak dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan sekolah dihasilkan data sebagai berikut :
a.    87,6 % anak menilai media belajar yang disediakan sekolah kurang memenuhi baik jumlah maupun kualitas
b.    84,5 % anak menilai fasilitas laboratorium yang tersedia saat ini belum memadai untuk pelaksanaan praktek
c.    75,4 % anak menilai guru belum menggunakan media belajar yang ada dengan optimal.
d.    85,7 %  anak menyatakan  guru belum menggunakan fasilitas dan potensi lingkungan sekolah misalnya kebun atau halaman sekolah  sebagai media belajar.
e.    79,6 % anak setuju dan senang jika salah satu materi pembelajaran beberapa bidang studi dilaksanakan di luar kelas misalnya dikebun atau halaman sekolah.
f.    74,6 % anak menyatakan  jenuh atau bosan mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas terus menerus.
g.     65,7 % anak menyatakan  bahwa cara penyampaian materi pelajaran yang disamapaikan guru kurang menarik dan monoton.
6.    Sebagian besar sekolah memiliki kebun sekolah yang luas dan belum dimanfaatkan sebagai media belajar yang menyenangkan bagi siswa.
7.    Kecintaan siswa terhadap lingkungan sekolah perlu ditingkatkan dengan melibatkan siswa dalam proses belajar yang menyenagkan dengan menggunakan lahan sekolah atau kebun sekolah.  
Berdasarkan pengamatan secara langsung didapatkan hasil bahwa hampir semua sekolah belum memanfaatkan potensi lingkungan sekolah seperti School Garden (kebun atau Taman Sekolah), halaman sekolah sebagai media dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

B.    Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1.    Mengidentifikasi persoalan-persoalan yang ada pada  sistem pembelajaran di kelas yang digunakan saat ini.
2.    Mengidentifikasi potensi Kebun Sekolah dan fasilitas yang dimiliki sekolah yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran dengan memperhatikan aspek kecintaan dan kepedulian pada lingkungan.
3.    Mencari alternatif –alternatif peningkatan kualitas pembelajaran dengan menggunakan potensi Kebun sekolah dan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah sebagai media belajar yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepedulian dan kecintaan terhadap lingkungan.
4.    Mencari model pengelolaan pendekatan pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang bersumber pada potensi School Garden dan berbasis pada kecintaan dan kepedulian terhadap  lingkungan.

C.    Permasalahan

Bebarapa permasalahan yang ditemui didalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di Sekolah – sekolah adalah sebagai berikut :
1.    Banyak persoalan-persoalan yang ada pada  sistem pembelajaran di kelas yang digunakan saat ini kurang menarik bagi siswa.
2.    Adanya potensi School Garden dan fasilitas yang dimiliki sekolah yang ada belum digunakan sebagai media pembelajaran dengan memperhatikan aspek kecintaan dan kepedulian pada lingkungan.
3.    Perlu dikaji alternatif–alternatif peningkatan kualitas pembelajaran dengan menggunakan potensi School Garden dan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah sebagai media belajar untuk meningkatkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
4.    Perlunya model pendekatan pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk beberapa bidang studi yang bersumber pada potensi School Garden (Kebun atau Taman Sekolah)  dan berbasis pada kecintaan dan kepedulian terhadap  lingkungan.


II.     KAJIAN TEORITIS

A.  Sistem Pendidikan Nasional
Dalam udang-undang pendidikan No. 20 tahun 2003 Bab I : ketentuan umum, pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud Pendidikan adalah : usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan undang-undang tersebut jelas terlihat bahwa kegiatan pendidikan harus dapat mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dalam mengembangkan potensinya.  Sekolah dengan segala potensinya berkewajiban untuk menyediakan sarana belajar dan sistem belajar yang memadai bagi siswa untuk belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Sekolah merupakan pendidikan formal yang paling bertanggung jawab pada peningkatan kualitas belajar di sekolah. Sekolah dapat menjalain hubungan dengan potensi masyarakat dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran.  
 Jenis pendidikan ada 3 (tiga) yaitu (1) pendidikan formal : adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. (2) Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. (3) Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Lingkungan disini berarti segala sesuatu yang berada diluar siswa. Lingkungan memiliki peranan yang besar dalam menentukan keberhasilan pendidikan.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

B.  Peranan Lingkungan Sebagai Media Belajar
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar tubuh manusia. Menurut Undang-undang No.4  Tahun 1982 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 1 menyebutkan : “Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya”. 
Menurut penjelasan Pasal 1 Undang-undang 4 Tahun 1982 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, Lingkungan hidup dibedakan menjadi empat yaitu :
1.    lingkungan alam hayati
2.    lingkungan alam no-hayati
3.    lingkungan buatan
4.    lingkungan social
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diuraikan bahwa lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada diluar makhluk hidup baik berupa lingkungan fisik maupun lingkungan lingkungan biologi termasuk tumbuhan ,hewan dan manusia.
Lingkungan belajar yang menyenangkan untuk belajar siswa merupakan masalah yang paling mendasar dalam system pendidikan formal. Lingkungan belajar yang menyenangkan merupakan bagian yang tak terpisahkan untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Menurut Hasim Budimansah menyatakan sebagai berikut : “ Manusia dan alam sekitar dapat dijadikan sebagai sumber belajar”.  Berdasarkan hasil penelitian bahwa dalam proses pembelajaran diyakini bahwa untuk mempertahankan irama belajar siswa agar tidak menurun harus terdapat variasi proses dan cara belajar.  Belajar selama satu bulan bahkan satu semester dalam kelas akan membosankan. Jika ada selingan misalnya kerja lapang, out bond dan sebagainya maka akan menyenagkan bagi siswa.  Lebih lanjut  Dasim Budimansyah menyatakan berdasarkan penelitioan menunjukkan bahwa :
1. 10 % kita belajar dari apa yang kita baca.      
2. 20 % kita belajar dari apa yang kita dengar.      
3. 30 % kita belajar dari apa yang kita lihat.      
4. 50 % kita belajar dari apa yang kita lihat dan dengar.      
5. 70 % kita belajar dari apa yang kita katakan.      
6. 80 % kita belajar dari apa yang kita katakan dan lakukan.      
     Berdasarkan hasil penelitian tersebut terlihat bahwa pemanfaatn lingkungan sekitar sekolah menjadi penting. Kegiatan belajar mengajar harus dimodifikasi dengan cara pendekatan metode ilmiah dengan urutan pengamatan, mengumpulkan masalah yang ada, merumuskan masalah, pengumpulan data, mempresentasikan  kepada orang lain. Dengan tersebut berarti proses melihat, mendengar, mengatakan dan melakukan dapat dilaksanakan, sehingga proses pendidikan siswa belajar dari lingkungan memegang peranan yang penting untuk mencapai 80% hasil pembelajaran seperti apa yang telah dipaparkan di atas.    

C.     Pendidikan dan Lingkungan Masyarakat
Dahulu pendidikan masyarakat tidak serumit sekarang ini, anak  hanya meniru tingkah laku orang tuanya dan leluhur mereka. Sekarang pendidikan menjadi rumit seiring dengan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga pendidikan formal yang ada kadang sulit memenuhi kebutuhan pendidikan yang diharapkan masyarakat. Sekolah masyarakat bersifat Life Centered dimana yang menjadi pokok pelajaran adalah kebutuhan manusia, masalah-masalah dan proses-proses social dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan dalam masyarakat yang mengandung unsur pendidikan. Sekolah mengikutsertakan  orang banyak dalam proses pendidikan dalam mempelajari problem sosial masayarakat.(H.Abu Ahmadi, 1991;133)
Berdasarkan paparan dapat artikan masyarakat sekitar kita juga merupakn media belajr yang dapat mebantu keberhasilan proses pembelajaran. Manusia merupakan fakktor lingkungan yang penting dalam mendukung keberhasilan belajar. Manusia memiliki perasaan dan pikiran sehingga keterpaduan kedua akan tercipta suatu yang mnyenangkan. Proses belajar yang bauk adalah menyenangkan  baik bagi pengajar atau siswa sehingga tidak bosan.
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki menyatakan bahwa “ Semakin kita berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir kita mengatasi situasi-situasi yang menantang dan semakin mudah kita mempelajari informasi baru. Dengan memperhatikan lingkungan kita dapat memamnfaatkan peluang yang muncul, atau menciptakannya, akan memperluas keadaan senang, nyaman dan meningkatkan pengertian pribadi.         

D.    Mengajar adalah Proses Komunikasi
Mengajar di kelas adalah sebuah proses komunikasi untuk mentransfer informasi dengan tujuan informasi yang disampaikan mudah dipahami dengan daya hafal yang yang cukup lama. Adalah mudah untuk menyampaikan informasi sekedar dapat diterima dan hafal dalam jangka waktu yang singkat. Tetapi akan menjadi sulit jika yang diharapkan adalah proses tranfer informasi sehingga terjadi internalisasi dalam pikiran dan bertahan lama, sehingga jika sewaktu-waktu dibuka ingatannya akan mudah untuk membukanya kembali. Dalam proses tranfer informasi tersebut terjadi proses interaksi sehingga setiap proses komunikasi ada tiga unsure utama yang terlibat yaitu :
1. Komunikator dan kommunikan
2. Informasi atau bahan berita
3. Media, alat, cara, metode penyampaian informasi
Ketiga hal tersebut merupakan hal yang utuh, sehingga keberadaan satu dengan yang lain saling mendukung. Pertama kominakator dan komunikan akan terjadi proses komunikasi dengan baik aapabila keduanya dalam keadaan suasana hati yang senang dan terbuka  saling meneriama eksistensinya. Kedua, Bahan informasi yang diberikan atau yang dibutuhkan oleh salah satu pihak menarik, dibutuhkan dan menyenangkan. Ketiga, untuk memudahkan proses transfer informasi tersebut maka diperlukan media, sarana dan metode yang menarik dan menyenagkan. Berdasarkan kenyataan ini maka proses komunikasi yang menarik selalu dihubungkan dengan tujuan dari proses komunikasi tersebut. Namun secara umum dengan tujuan apapun jika komunikasi itu disampaikan menarik dan menyenangkan maka informasi bahan komunikasi akan dapat diterima dengan mudah. Mengajar dikelas merupakan proses komunikasi untuk  menyampaikan informasi, yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana strategi mengajar dikelas  sebagai fungsi entertainment (hiburan) tetapi tetap memperhatikan pencapaian tujuannya ?  Sehingga proses transfer ilmu yang dilakukan menjadi efektif dan efisien.             
        Dalam proses mengajar dikelas dibutuhkan seni dan skill tersendiri untuk dapat melakukan proses pembelajaran yang menarik. Peserta didik sangat heterogen sehingga model dan gaya belajar peserta didikpun beragam. Mengajar akan menarik dan menyenangkan jika kita dapat memberikan materi sesuai dengan karakter dan gaya belajar mereka yang heterogen, sehingga perlu keterpaduan cara mengajar dengan waktu yang singkat. Hal pertama   yang perlu dilakukan secara spontan adalah mengenali dan menganalisa kelas.  Secepatnya kita mengambil keputusan kira-kira   strategi mengajar apa cocok untuk diberikan kepada kelas tersebut.     
 
E.    Bentuk Komunikasi
Mengajar merupakan proses berkomunikasi untuk menyampaikan informasi. Dalam komunikasi terjadi proses interaksi antara komunikator dan komunikan, keberadaan keduanya saling berpengaruh dan mempengaruhi akan keberhasilan proses komunikasi tersebut.   
Komunikasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga bentuk yaitu komunikasi personal, komunikasi kelompok dan komunikasi massa.
1.  Komunikasi personal
     Komunkasi dibagi menjadi dua yaitu komunikasi interpersonal yang   merupakan komunikasi antar pribadi, yaitu komunikasi antar dua orang,  dimana terjadi kontak langsung dalam bentuk percakapan.


2.  Komunikasi Kelompok
    Komunikasi kelompok (group communication) adalah komunikasi seseorang dengan sejumlah orang  yang terkumpul bersama-sama dalam bentuk kelompok. Contoh untuk komunikasi kelompok kecil ialah forum,rapat, diskusi,seminar,ceramah dll. Jadi kelompok adalah sejumlah orang yang mempunyai kesatuan psikologi,interaksi dan semacamnya.
3.  Komunikasi Massa
    Komunikasi massa yaitu komunikasi melalui media massa modern,misalnya melalui surat kabar,film dan siaran radio. Proses  komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi masa akan lebih menarik jika terjadi proses komunikasi berjenjang yang terpadu mulai komunikasi interpersonal, komunikasi    kelompok dan komunikasi masa.

F.    Proses terjadinya komunikasi
Onong (1981), menerangkan proses terjadinya komunikasi, dibagi menjadi komunikasi verbal dan komunikasi non verbal.  Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan lambang bahasa.  Ini mencakup bahasa lisan dan bahasa tulisan.  Sedangkan komunikasi non verbal, adalah komunikasi dengan jalan yang menyangkut gerak-gerik (gesture), sikap (posture), ekspresi muka (facial expresion), pakaian yang bersifat simbolik (symbolik clothing) dan lain-lain gejalanya sama.
Untuk lebih memahami dan mengerti tentang informasi apapun maka perlu adanya kegiatan komunikasi. Komunikasi dapat dilakukan dengan cara komunikasi antar personal  antara orang dengan linkungan sekitarnya dalam hubungannya dengan situasi sosial.  Dalam situasi sosial itu terdapat interaksi atau hubungan timbal balik antar orang atau antara orang dan hasil kebudayaan.  Beberapa pokok yang dibicarakan adalah mengenai hubungan interpersonal dan komunikasi.

1. Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal  mempunyai pengertian yang luas dan sempit.  Dalam pengertian yang luas, hubungan interpersonal adalah interaksi antara seseorang dengan orang lain dalam segala situasi dan dalam segala bidang kehidupan.  Dalam pengertian sempit, hubungan interpersonal adalah interaksi antara seseorang dengan orang lain, tetapi interaksi disini hanyalah dalam organisasi kerja. 

2. Komunikasi Interpersonal dan Pengembangan Diri
Sebagaimana diketahui bahwa kehidupan manusia telah terintegrasikan dalam tata kehidupan yang mengglobal.  Akibat dari hal itu, terjadi kondisi saling ketergantungan dan terjadi pula suasana persaingan terbuka antar manusia, kelompok/.komunitas dalam masyarakat baik dalam upaya memenuhi kebutuhan ataupun untuk dapat berperan dan diakui eksistensinya.  Perkembangan sosial yang demikian itu berimplikasi bahwa secara individual manusia senantiasa harus mampu mengembangkan dirinya, membina dan mengembangkan potensi dan kemampuan dirinya agar senantiasa dapat beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah dan berkembang. 
Seseorang mampu mengembangkan dirinya jikalau orang itu senantiasa dapat melakukan analisa diri, membina dan mengembangkan potensi diri serta upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk mengenali dirinya, memahami eksistensi dirinya.  Hal ini hanya dapat dilakukan jikalau seseorang itu mau dan mampu mengekpresikan dirinya untuk lebih peka dan terbuka terhadap orang lain.  Karena hanya dengan cara itu masukan, umpan balik yang bermakna bagi pemecahan masalah diperoleh.  Untuk lebih peka dan terbuka terhadap orang lain maka interkasi-hubungan komunikasi interpersonal harus dilakukan.  Artinya seseorang itu senantiasa harus melakukan interaksi dengan orang lain, menjalin dan membina hubungan yang harmonis dengan orang lain yang dipandang tepat dan mampu untuk dijadikan tempat memperoleh umpan balik.  Dalam kontek ini komunikasi interpersonal memiliki peranan penting.
Hubunan interpersonel sekalipun dalam bentuknya sederhana akan tetapi merupakan proses yang komplek.  Menurut Gerungan (1991) ada tiga faktor yang mendasari terjadinya hubungan interpersonal, yaitu imitasi, sugesti dan simpati.  Jika seseorang melakukan interaksi dengan orang lain karena orang itu ingin mencontoh, meniru, menjadikan dia sebagai teladan, maka hubungan itu terjadi atas dasar imitasi.  Selanjutnya jikalau seseorang itu menjalin hubungan karena terpengaruh keberadaan orang itu, maka hubungan itu karena sugesti.  Namun jikalau seseoranag menjalin hubungan dengan orang lain karena perasaan tertarik, maka hubungan itu terjadi atas dasar simpati.
Terjadinya hubungan interpersonal baik itu disebabkan faktor imitasi, sugesti ataupun simpati, intensitas interaksi yang terjadi yaitu: Proses merasakan-memutuskan dan melaksanakan ditentukan oleh beberapa hal, seperti: Tujuan, suasana, peran dan umpan balik yang diharapkan, tempat, situasi dan aturan.  Selanjutnya Gerungan (1991) menjelaskan bahwa hubungan interpersonal yang didasarkan oleh faktor imitasi atau simpati lebih baik bila dibanding dengan sugesti.
Jikalau seseorang mampu melakukan hubungan interpersonal dengan baik dimana dia berada, maka diapun senantiasa akan mampu melakukan komunikasi interpersonal dengan baik pula.  Artinya dia mampu mendapatkan secara akurat umpan balik yang diperlukan untuk memecahkan problema yang dihadapi.  Sebagai derifasinya dari hal tersebut, bahwa orang itu senantiasa juga akan mapu memahami, membina bahkan mengembangkan potensi dan kemampuan dirinya, yang pada gilirannya dia juga dapat memformulasikan keinginan.  Harapan dan ambisinya diformulasikan kedalam kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi pada periode tertentu. Sehingga terget dalam pemenuhan kebutuhan dibatasi waktu tertentu untuk meraihnya, sehingga motivasi untuk memenuhi kebutuhan tinggi.
G.  Cara-cara Agar Komunikasi Efektif  Dalam Komunikasi Massa
Onong (1981), menjelaskan agar suatu pesan membangkitkan tanggapan yang kita kehendaki, perlu suatu kondisi tertentu yang harus dipenuhi.  Kondisi tersebut adalah:
1.  Pesan harus dirancangkan dan disampaikan sedemikian rupa sehingga 
     dapat menarik perhatian komunikan.
2. Pesan harus menggunakan lambang-lambang dan tertuju pada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan sehingga sama-sama mengerti.
3. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan    menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.
4.  Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi  sehingga layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digalakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.
5. Perlu mengetahui waktu yang tepat untuk pesan bahasa yang dipergunakan supaya pesan dapat dimengerti, sikap dan nilai yang harus ditampilkan agar efektif dan jenis kelompok dimana komunikasi akan dilaksanakan.


H.   KECERDASAN  MAJEMUK  ANAK


Menurut   Gardner  dalam buku Multiple Intelligences yang ditulis oleh Thomas Amstrong menyatakan bahwa “kecerdasan lebih berkaitan dengan kapasitas (1) memecahkan masalah dan (2) menciptakan produk di lingkungan yang kondusif dan alamiah. Gardner memetakkan lingkup kemampuan manusia yang luas menjadi delapan kategori yang komprehennsif atau delapan kecerdasan dasar”. Setiap anak memiliki potensi delapan kecerdasan tersebut, tetapi dominansi fungsi kecerdasan setiap anak berbeda-beda. Ada anak yang dominan kecerdasan matematis logis, linguistiknya, special atau kecerdasan yang lain. 

 Berilut ini merupakan pertanyaan yang perlu diperhatikan dalam menyusun materi ajar : 















  TUJUAN


















Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulan bahwa lingkungan belajar memberikan sumbangan yang baik dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Lingkungan sekolah merupakan lahan yang multi guna untuk media pembelajaran. Anak didik dengan berbagai macam tipe kecerdasannya dan juga berbagai macam tipe gaya belajar dapat disesuaikan cara pengajaran guru dengan media lingkungan.
F.    MENGAJAR, FUNGSI ENTERTAINMENT DAN ADVERTISING
Proses mengajar di kelas jika dikemas dengan menarik maka akan menjadi aktifitas yang menyenangkan bagi peserta didik maupun pengajar sendiri, sehingga prose KBM seolah sebagai hiburan (entertainment). Jika kondisi ini dapat dicapai maka proses transfer informasi bahan ajar akan dapat mudah dipahami peserta didik dan meningkatkan semangat bagi pengajar. Kondisi yang menyenagkan harus dijaga keajegannya maka proses advertising dari kegiatan KBM akan berjalan dengan sendirinya.  Pada proses mengajar maka tentor (pengajar) harus dapat pula berfungsi sebagai team advertising (promosi) dalam kelas. Pada posisi ini tentor harus memahami fungsi salesmanship. Fungsi ini adalah kemampuan tentor bagaimana menyajikan seni mmenanam benih di hati pembeli yang akhirnya membuahkan  beraneka ragam motivasi, serta tindakan yang diberikan pembeli yang sesuai dengankeinginan penjual. Salah satu bagian kegiatan dari seorang sales adalah “demonstrasi atau presentasi” hal ini pas bagi seorang tentor untuk masuk dalam dunia sales   dan entertainment.
Adapun strategi  demonstrasi yang menarik adalah :
1.    Tunjukkan hal-hal penting, jika perlu didramatisasi
2.    Gunakan kiasan-kiasan metaphora, analogi
3.    Gunakan bahasa Prosfek ( jelas, teratur, logis, benar, dan meyakinkan )
4.    Selingi dengan kata penekanan hal-hal yang penting misalnya “bukan”, silahkan dipikir dan sebagainya.
5.    Memberi kesempatan waktu audiens untuk bicara
6.    Jika perlu diulangi   hal yang penting
    Tujuh Pedoman Untuk Presentasi Sukses :
1.    Pahamilah apa yang anda inginkan : tujuan jelas
2.    Binalah Jalinan : kenalilah mereka ; latar belakang, minat, kegagalan, dan pengalaman masa lalu.
3.    Bacalah Mereka : perilaku, sikap, dan bahasa tentang keadaan siswa saat ini.
4.    Targetkanlah Keadaan Mereka : Orkestrasikan keadaan keadaan siswa mencapai sukses
5.    Capailah Modalitas Mereka : melalui pola bahasa, suara, gerak dan kegiatan melibatkan modalitas Visual, auditoriaal, Kinestetik.
6.    Manfaatkanlah Ruangan ; ruang adalah panggung
7.    Bersikaplah Tulus : Terbuka, Jujur, Adil, Tulus.
  
G.  QUANTUM TEACHING  ( QT )
Pendekatan proses mengajar yang menyenangkan adalah salah satunya dengan metode Quantum Teaching. Metode ini secara singkat merupakan metode pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan sekitar momen belajar untuk percepatan proses belajar (Mengorkestarsi kelas untuk kesuksesan).
Prinsip dasar Quantum Teaching adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka” Adapun prinsip-prinsip yang lain adalah sebagai berikut :
a.    Segalanya berbicara  ( lingkungan, penampilan,bahasa tubuh, dan rancangan pelajaran).
b.    Segalanya bertujuan : semua yang terjadi dalam pengubahan berujuan.
c.    Pengalaman sebelum Pemberian Nama : Proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka mempelajari.
d.    Akui Setiap Usaha : akuilah setiap langkah siswa dan hargailah
e.    Rayakanlah : Berikan umpan balik mengenai kemajuan dan untuk meningkatkan asosiasi emosi yang positif  dengan belajr.
 
H.  KERANGKA RANCANGAN BELAJAR QT  ( T.A.N.D.U.R )
1.    Tumbuhkan : Tumbuhkan minat dengan memuaskan “ apakah manfaatnya bagiku”
2.    Alami : Datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti  audiens
3.    Namai : Berikan kata kunci, konsep, model, strategi, mapping mind.
4.    Demonstrasikan : Beri kesempatan siswa  menunjukkan kemampuan
5.    Ulangi : Penegasan hal-hal yang penting
6.    Rayakan :Pengakuan penyelesaian, partisipasi : pujian,tepuk tangan, nyanyi bersama lain-lain.
III.       MODEL PENDEKATAN  PROGRAM

A.       RANCANGAN PROGRAM ( KERANGKA BERPIKIR )
             Untuk  mengoptimalkan fungsi dari lahan sekolah sebagai “School Garden” untuk mendukung proses pembelajaran, maka rancangan  model pendekatan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah adalah sebagai berikut : 
































   B.  Pembahasan dan Pemecahan Masalah

Berdasarkan paparan data diatas, kenyataan di lapangan dan kajian teori maka persoalan yang ada dapat dibahas sebagai berikut :

1.    Persoalan-persoalan yang ada pada  sistem pembelajaran di kelas yang digunakan saat ini kurang menarik bagi siswa. Cara mengajar guru yang monoton, media mengajar yang minim, buku pendukung yang kurang membuat pengajaran di kelas kurang menarik. Cara Mengatasinya adalah setiap mata pelajaran sesekali dalam satu minggu atau dua minggu perlu penyegaran pembelajaran diluar kelas. Pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan di  halaman atau kebun sekolah. Semua pendekatan disesuaikan dengan mata pelajaran. Misalkan mata pelajaran Ekologi dalam Biologi dapat dilakukan di halaman School Garden.  Anak diberikan penjelasan untuk menemukan sendiri masalah yang berkaitan dengan Ekologi, kemudian mendiskusikan pemecahan masalah yang ditemukan di lapangan dengan cara brain storming di kelas. Dengan demikian anak tidak bosan, sebagai bukti peningkatan nilai anak kelas tertentu yang menggunakan media lapangan dengan di kelas sangat terlihat jelas perbedaannya. Kelas yang di berikan materi  pelajaran di luar kelas hasil nilainya lebih baik, hal ini  sudah terbukti dan kami lakukan di kelas satu.
        
2.    Adanya potensi School Garden dan fasilitas yang dimiliki sekolah yang ada belum digunakan sebagai media pembelajaran dengan memperhatikan aspek kecintaan dan kepedulian pada lingkungan. Masalah ini dapat diatasi dengan dengan identifikasi potensi Garden School untuk membantu proses pengajaran di luar kelas sehingga suasana pembelajaran jadi menarik dan menyenagkan.  Setelah diketahui potensinya maka diadakan penataan lingkungan belajar di lingkungan sekolah dengan nyaman. Penataan School Garden dengan di buat taman, temapat duduk santai untuk belajar dan diskusi. Selalu dijaga keindahan dan kebersihan lingkungan dengan melibatkan seluruh  civitas akademik sekolah. Selanjutnya susun program pembelajaran setiap bidang studi  engan menggunakan media ajar yang ada di School Garden. Rancangan Umum Kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan School Garden dapat diuraikan sebagai berikut :
a.  Melakukan pemetaan kondisi dan potensi sekolah (school garden) dan masyarakat sekitar sekolah.
b.  Melakukan penyusunan program pengajaran di luar kelas pada setiap bidang studi dengan memanfaatkan potensi sekolah.
c.    Menyusun model dan modul kegiatan (lembar kerja) Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) diluar kelas berbasis pada kecintaan pada lingkungan sekolah sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. KBM dapat dilakukan dengan model  problem solving dan brain storming dalam kelas untuk berdiskusi.
d.    Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar meliputi pendidikan dan pelatihan yang disesuaikan dengan materi, kondisi sekolah dan kebutuhan warga belajar berbasis pada kecintaan dan kepedulian pada lingkungan sekolah.
e.    Melengkapi fasilitas buku di perpustakaan, sehingga literature yang dibutuhkan siswa dapat dikaji dari perpustakaan. Akibatnya minat mebaca siswa dapat meningkat secara perlahan dan pasti.  
f.    Melakukan pendampingan dan pembimbingan kegiatan belajar di luar maupun di dalam kelas dengan tetap menjaga keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
g.    Pembentukan forum atau kelompok belajar pada setiap kelas dengan beranggotakan maksimal 5 siswa dengan nama kelompok sesuai dengankeinginan kelompok sehingga menjadi simbol yang dibanggakan dan dipertahan namanya. Jika sudah terbentuk kelompok maka proses berdiskusi dapat berjalan dengan aktif dan efektif.
h.    Sekolah dan guru dapat mencari jaringan kemitraan dengan stake holder terdekat dan terkait untuk membantu proses pembelajaran. Kemitran dengan perpustakaan daerah, kecamatan, lembaga pemerintah, swasta dapat digunakan sebagai media belajar dengan model sekolah lapang.
i.     Melakukan evaluasi dan penilaian, sehingga dihasilkan data-data  yang dapat di analisa tentang hasil yang dapat dicapai.
j.  Mengadakan Loka karya atau seminar dari hasil program kegiatan optimalisasi fungsi lahan School Garden sebagai media belajar sehingga didapatkan  hasil rumusan program yang baik dan mantap.

 
3.    Perlu dikaji alternatif–alternatif peningkatan kualitas pembelajaran dengan menggunakan potensi School Garden dan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah sebagai media belajar untuk meningkatkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Berdasarkan hasil program pembelajaran di luar kelas dengan memanfaatkan potensi School Garden maka dapat di ambil kesimpulan beberapa potensi school garden yang dapat digunakan  untuk menjadi media ajar setiap bidang studi.
4.    Perlunya model pendekatan pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk beberapa bidang studi yang bersumber pada potensi School Garden (Kebun atau Taman Sekolah)  dan berbasis pada kecintaan dan kepedulian terhadap  lingkungan. Hal ini setelah dilakukan proses nomor 2 maka akan didapatkan model-model pendekatan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan menyenagkan. Sehingga  anak yang memiliki kecerdasan majemuk (Multiple Intelegences) yang setiap anak berbeda-beda dapat menerima pelajaran dengan senang dan motivasi yang tinggi.

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar dengan memanfaatkan potensi School Garden akan lebih baik hasilnya jika menggunakan metode pendekatan sebagai berikut :

1.    Pendekatan sistematis, digunakan untuk mengetahui runtutan pentahapan setiap kegiatan secara utuh dan tidak terpecah-pecah
2.    Pendekatan proses, karena kelompok sasaran program ini adalah pelajar maka mendorong dan menyadarkan peningkatan peran serta aktif siswa menjadi bagian penting
3.    Pendekatan penguatan pada potensi siswa dan budaya local, sehingga program pembelajaran dapat menyesuaikan dengan kondisi alam dan social budaya masyarakat setempat.
4.    Pengajaran dan pelatihan pada siswa dilakukan dengan pendekatan copetensi based training yaitu pengajaran yang berbasis pada peningkatan ketrampilan dan pengetahuannya. Sehingga daya hafalan dan pengendapan informasi yang sudah dipelajari menjadi bertahan lama dalam pikiran setiap siswa dan prestasi menigkat.

IV.   P E N U T U P

A.    Kesimpulan

1.    Terdapat persoalan-persoalan  pada  sistem pembelajaran di kelas yang digunakan saat ini kurang menarik bagi siswa. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan media belajar diluar kelas dengan memanfaatkan potensi School Garden dan lingkungan yang ada di sekolah. Lingkungan sekolah atau sekitar sekolah dapat dijadikan media mengajar yang menyenangkan misalnya untuk kegiatan sekolah lapang
.  
2.    Potensi School Garden dan fasilitas yang dimiliki sekolah yang ada perlu dan dapat  dimanfatkan sebagai media pembelajaran dengan memperhatikan aspek kecintaan dan kepedulian pada lingkungan. Sehingga pemebelajaran menarik, tidak membosankan dan siswa menjadi mandiri.

3.    Banyak alternatif–alternatif peningkatan kualitas pembelajaran yang dapat dilakukan dengan menggunakan potensi School Garden dan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah sebagai media belajar untuk meningkatkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Semua perlu adanya keberanian sekolah untuk mengambil kebijakan dan adanya kerjasama antar berbagai pihak serta kreatifitas masing-masing pengajar.

4.    Perlunya model pendekatan pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk beberapa bidang studi yang bersumber pada potensi School Garden (Kebun atau Taman Sekolah)  dan berbasis pada kecintaan dan kepedulian terhadap  lingkungan.  Model pendekatan yang dilakukan harus dapat memenuhi harapan semua siswa dengan memperhatikan pada Muliple Intelegenses atau kecerdasan majemuk yang setiap anak berbeda-beda kecerdasan mana kecerdasan mana yang paling dominan. 


B. Rekomendasi

Berdasarkan beberapa permasalahan yang ditemui didalam pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar dan adanya potensi School Garden untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajarn, maka dilakukan hal – hal  sebagai berikut :

1.    Perlu adanya keberanian guru dan sekolah untuk melakukan perubahan model pengajaran yang selalu dilaksanakan di kelas. Model pengajaran perlu diselingi dengan dilakukan di luar kelas dengan menggunakan halaman sekolah, kebun sekolah, taman sekolah atau school garden sebagai media dan tempat belajar yang menyenangkan.

2.    Perlu disediakan sarana perpustakaan untuk menambah literature bagi siswa dalam melakukan belajar mandiri melalui tugas dan diskusi.

3.    Model pembelajaran di alam terbuka lebih dapat menarik dan memotivasi siswa untuk belajar. Model pembelajaran di luar kelas hendaknya padukan dengan model problem solving  dan diskusi, sehingga siswa lebih mandiri dalam belajar dan memecahkan masalah.

4.    Potensi lahan sekolah perlu dioptimalkan untuk mendukung dan dijadikan media belajar siswa. Halaman sekolah dapat juga dijadikan sebagai School Garden atau taman sekolah yang menarik sebagai tempat belajar siswa. Perlu disediakan tempat santai untuk belajar dilengkapi  taman, tumbuhan yang rindang, tempat membaca, di school garden. Selain itu School Garden dapat dijadikan sebagai laboratorium tumbuhan tinggi (arboretum) atau laboratorim tumbuhan rendah, laboratorium  ekologi dan laboratorium biologi secara umum.

5.    Guru harus kreatif dan inovatif dalam melaksanakan tugas pembelajaran, sehingga siswa tidak jenuh atau bosan dalam mengikuti pelajaran,  siswa menjadi mandiri, kreatif dab  prestasi siswa selalu ada peningkatan yang positif.  


DAFTAR PUSTAKA


1.    Abu Ahmadi,H, Drs. 1991. Sosiologi Pendidikan,  Jakarta : Rineka Cipta.

2.    Bobbi DePorter & Mike Hernacki. 2002. Quantum Learning. Bandung : Penerbit Kaifa.

3.    Dasim Bimansyah. 2003. Model Pembelajaran Biologi Berbasis Fortofolio. Bandung : Penerbit PT Genesindo.

4.    Gordon Dryden & Jeannete Vos. 2002. The Learning Revolution. Bandung : Penerbit Kaifa. 

5.    Justin G. Longenecker, Carlos W Moore, J.Willian Petty. 2001. Small Bussines Management an Entrepreuneurial emphasis. Jakarta : Salemba Empat.

6.    Madiyo Eko S. 1991. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.  Semarang : Dahara Prize.

7.    Oemar Hamalik. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Peneribit Sinar Baru.

8.    Suryana.  2001.Kewirausahaan. Jakarta : Salemba Empat.

9.    Thomas Amstrong. 2002. Multiple Intellegences in The Class Room. Bandung : Penerbit Kaifa. 
 
10.    Departemen Pendidikan Nasional RI. 2003. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003  Tentang Sistem Pendidikan Nasional.  Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional RI.

11.    Darsono V. 1994. Pengantar Ilmu Lingkungan. Yokyakarta : Penerbit Universitas ATMA JAYA.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.