Sabtu, 11 Mei 2013

BUKU JADUL ILMU DAN KIAT-KIAT BERDAGANG TIONGHOA


BUKU JADUL ILMU DAN KIAT-KIAT BERDAGANG TIONGHOA

Ivan Taniputera
11 Mei 2013



Judul: Hal Dagang Ketjil dan Peroesahan
Penerbit: Boekhandel Kamadjoean, Semarang, 1941.
Jumlah halaman: 68.

Ini merupakan buku yang unik karena membahas mengenai ilmu dan kiat-kiat dalam berdagang. Siapa yang menulis buku ini dapat kita baca dalam Pendahoeloean Kata.

"Ini penerbitan terdiri dari bebrapa toelisan, ditoelis oleh bebrapa penoelis.
Pertama jalah dari Toean Mr. Tan Tjong Yang, jang berkalimat: "Kleinhandel": ini toelisan ada salah satoe Radio-lezing dari Mr. Tan, jang penting sekali oentoek diketahoei oleh Kleinhandelaren.
Soepaia itoe pengatahoean bisa tersiar loeas, maka kita minta text dari lezing itoe boeat ditjitak, jang oleh Mr. Tan telah diloeloesken, boeat mana kita hatoerken trima kasi.
Ka doea dari Toean Pouw Kioe An. Journalist jang tida asing lagi bagi pembatja, tentang "Industrie", jang ini waktoe banjak dibitjaraken.
Ka tiga dari Toean Tan Ging Yauw, saorang penoelis jang banjak jakinken ilmoe obat-obatan, tentang "Recept-recept Industrie ketjil", jang kita maksoedken sebagi samboengan dari KMD Recepten, jang soeda banjak terkenal.
Paling blakang dari ini bagian boekoe kita moeatken roepa-roepa serba sedikit, jang berhoeboeng dengen perdagangan.
Kita harep ini boekoe ketjil bisa banjak berfaedah bagi jang berkepentingan.

Hormat,
Boekhandel "Kamadjoean"

Semarang, December 1941.

Pada karangan bertajuk "Kleinhandel" (Bahasa Belanda, harafiah berarti "pedagang kecil"), Mr. Tan Tjong Yan mengatakan bahwa di Eropa seorang "kleinhandel" termasuk dalam kelas menengah:

"Di dalem negri-negri Europa Kleinhandel, perdagangan ketjil termasoek dalem golongan middenstand, jaitoe golongan kaoem tengah. Masjarakat di Europa oemoemnja terbagi dalem tiga tingkatan economisch. Tingkatan jang paling rendah terdiri dari kaoem boeroeh, tingkatan jang paling atas terdiri dari kaoem kapitaal, serta antara ini doea tingkatan, jaitoe tingkatan jang kita seboet kaoem tengah atawa middenstand.
Dalem ini tingkatan kaoem tengah termasoek kleinhandel, kleinindustrie, kaoem ambtenaar, dan marika jang tjari pengidoepan sebagi Architect, Advocaat, Dokter, Accountant, dan sebaginja, apa jang dinamakan vrij beroep, serta djoega kaoem tani tengahan."

Berdasarkan kutipan di atas, kita mengenal pembagian tiga tingkatan ekonomi di Eropa pada masa itu. Juga nampak penggunaan bahasa yang dicampur dengan istilah-istilah Belanda.

Klein = kecil.
Vrij = bebas
Beroep = pekerjaan.

Mr. Tan Tjong Yan menyebutkan pula adanya perbedaan antara Eropa dengan Indonesia:

"Apa jang golongan Europa di ini negri oempamanja namaken ketjil, barangkali soeda besar dalem anggepannja bangsa Tionghoa atawa Indonesier.
Maka dari itoe dalem masjarakat disini barangkali kita moesti bilang, jang dalem kalangan economi kita boekannja tjoema tampak tinga tingkatan sadja, boeroeh, tengah dan kapitaal, tetapi barangkali lima atawa lebih tingkatan, jaitoe tingkatan kaoem boeroeh, tingkatan middenstand Indonesier, Tionghoa, Europa, dan tingkatan jang paling atas dari kapitalisten." (halaman 5-6)

Kembali nampak penyebutan istilah "Indonesier." yang sekali lagi memperlihatkan peran serta kesusasteraan Melayu Tionghoa dalam menyebar-luaskan istilah tersebut.

Menariknya disebutkan pula:

"Liat sadja dikalangan Tionghoa dan Indonesier, djikaloe sang anak poenja sekolahan tida dapet kemadjoean, lantas ditarik poelang boeat dididik dalem practijknja. Ini berarti jang boeat dagang tida perloe kapinteran speciaal. Sesoeatoe orang bisa dagang, begitoelah satengah orang hendak bilang."

Dengan demikian dapat disimpulkan pada masa itu, jika seorang anak pelajarannya tidak mencapai hasil yang diharapkan maka ia akan dididik sebagai pedagang.

Selanjutnya diungkapkan pula bahwa banyak orang menganggap bahwa berdagang adalah hal yang mudah atau terlalu menggampangkan perihal berdagang sebagai "Beli barang sahmoerahnja bisa, dan djoewal sahmahalnja bisa." Namun permasalahannya tidaklah sesederhana itu. Mr. Tan Tjong Yan mempertanyakan bagaimana kita bisa memperoleh barang modal dengan semurah-murahnya? Bagaimana kita hendak menarik langganan?:

"Ini pertanjahan-pertanjahan tida bisa didjawab dengen gampang. Dan disini kita aken tjoba boeat beriken itoe djawaban."

Demikianlah, buku ini membahas berbagai kiat-kiat guna menjawab pertanyaan tersebut.

Salah satu nasihat yang diberikan oleh Mr. Tan Tjong Yan adalah:

"DJANGAN PANDENG SATOE SAMA LAIN SEBAGAI CONCURRENT."

Concurrent dalam istilah bahasa Belanda bagi "pesaing." Artinya kita jangan menganggap orang lain sebagai saingan-saingan kita.

"Ini matjem toeloeng diri sendiri dalem hal crediet dengan bercooperatie belon digoenaken terlaloe loeas oleh bangsa Tionghoa dan Indonesier. Malahan boeat bangsa Tionghoa saia bisa bilang belon sama sekali. Oemoemnja marika belon insjaf, jang antara sekaoem moesti bersariket. Marika kebanjakan tjoema pandeng satoe sama lain sebagi concurrent."

Nasihat-nasihat lainnya adalah:

  • Perbaikan diri -sendiri dan djangan toenggoe-toenggoe pertoeloengan dari loear.
  • Bekerdja bersama-sama, djangan toenggoe sampe kedjepit.

Satu hal yang unik adalah bahkan orang Tionghoa sendiri dikatakan agak memandang rendah pada perdagangan:

"Baik bangsa Tionghoa maoepoen bangsa Indonesier pandang berdagang sebagi satoe pekerdjahan jang sedikit rendah." (halaman 21).

Selanjutnya Pouw Kioe An menyusun karangan berjudul "Bangsa Tionghoa dan Industrie."

Pada bagian pembukaan karangannya, ia menjelaskan arti kata "industrie":

"Perkataan "Industrie" ada berasal dari perkataan Latijn "Industria" jang artinja "radjin" atawa "keradjinan". Lama kelamaan perkataan ini djadi mempoenjai arti "oesaha" atau "peroesahan"....." (halaman 24).

Pouw Kioe An mempertanyakan, "Apa bangsa Tionghoa masoek kaoem Industrieel?"

"Oemoemnja orang pandang bangsa Tionghoa jang berdiam di Indonesia ada kaoem dagang pertengahan. Dari sedjarah-koeno, orang dapat mengatahoei jang bangsa Tionghoa sedari berabad-abad di moeka bangsa Europa berdiam di Indonesia, koendjoengi kepoeloean Indonesia boeat djoeal beli barang dagangan, malah ada dibilang orang Tionghoa pertama jang koendjoengi poelo poelo Indonesia adalah Fa Hsian pada tahoen 411. Tetapi jang boleh ditjatet sebagi permoelaan dari pengoembaraan bangsa Tionghoa disini pada abad katoedjoe.
Menoeroet tjatetan tjatetan dari fihak Tionghoa, pada tahoen 1411 soedagar-soedagar Tionghoa telah singgah di Grisse. Ini pasisir jang tadinja "goendoel" alias sepi dengan oesahanja bangsa Tionghoa mendjadi plaboean jang rame. bangsa Tionghoa jang dateng di Grissee itoe kebanjakan dari Canton. Ia dateng kemari bawa barang dagangan Besi, Porcelein, Soetra dan barang barang Mas-Perak..." (halaman 24-25).

Sebenarnya sebelum Fa Hsian sudah ada bangsa Tionghoa yang berkunjung ke Kepulauan Nusantara, sehingga apa yang diungkapkan Pouw Kioe An di atas perlu diberi catatan. Meskipun demikian, kembali kita menyaksikan penggunaan istilah "Indonesia."

Pada halaman 35, dapat kita baca tentang pelajaran dagang yang berasal dari Too Tjoe Kong, yakni seorang menteri Tiongkok pada zaman Tjioe Timoer (Chou Timur):

"Too Tjoe Kong ada satoe soedagar jang amat terkenal namanja di djaman Tjioe Timoer, kira-kira 500 tahoen di moeka Masehi.
Ia poenja nama jang betoel jaitoe Hoan Lee. Sebelon djadi soedagar lebih doele Hoan Lee pangkoe djabatan Minister di negri Wat, jaitoe tempo Radja Moeda Kouw Tjian pegang kakoeasahan atas negri terseboet."

Berikutnya disebutkan kiat-kiat yang berasal dari Too Tjoe Kong.

Hal menarik berikutnya adalah pemaparan mengenai simbol dagang Tionghoa:



[digambar ulang oleh Ivan Taniputera, dari halaman 39]

Simbol tersebut ditulis pada kertas merah dari Tiongkok dan ditempelkan pada lemari toko, gudang, dan peti uang. Gambar tersebut merupakan perpaduan empat huruf Tionghoa: 日日見財, yang dalam bahasa Hokkian berbunyi: Djit Djit Kian Tjaij (Ri Ri Jian Cai) dalam bahasa Melayu: "Hari hari liat oeang."

Buku ini juga dilampirkan "Rechtwezen, Prijsopdrijving" yakni "Oendang-oendang oentoek menjegah dari kenaikan harga barang, djabatan, dan sewa).

Buku ini sangat perlu dimiliki oleh mereka yang ingin mengetahui seluk beluk perdagangan di masa lalu, khususnya era 1940-an. Juga boleh dibaca oleh para peneliti kesusasteraan serta bahasa Melayu Tionghoa.

Bagi yang berminat fotokopi silakan hubungi ivan_taniputera@yahoo.com

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.