Minggu, 18 Agustus 2013

INTUISI ATAU INDERA KEENAM?

INTUISI ATAU INDERA KEENAM?

Ivan Taniputera
19 Agustus 2013




Pembaca tentu akan bertanya-tanya apakah hubungan gambar patung jerapah di atas dengan pembahasan mengenai intuisi atau indera keenam. Ceritanya adalah sebagai berikut. Dua hari yang lalu, atau tepatnya tanggal 17 Agustus 2013, saya bersama keluarga termasuk keponakan saya berusia 4 tahun, sedang makan siang di sebuah restoran di Semarang. Saat itu adalah pertama kalinya kami mengunjungi restoran tersebut. Bangunan tempat Restoran itu berada terdiri dari dua tingkat. Tingkat pertama untuk restoran, sedangkan tingkat keduanya untuk galeri yang menjual bunga, patung, dan hiasan lainnya. Namun pada mulanya saya tidak tahu apa kegunaan lantai keduanya.

Keponakan saya kemudian minta diajak ke lantai dua. Secara asal-asalan saya mengatakan bahwa di atas ada jerapahnya, padahal saya waktu itu sama sekali belum pernah ke lantai dua, sehingga tentu saja tidak tahu apa yang ada di sana. Setelah selesai makan, kami iseng-iseng pergi ke lantai dua. Di sana merupakan galeri tempat menjual bunga, patung, dan barang pajangan lainnya. Waktu itu keponakan saya tiba-tiba berkata, "Mana kok tidak ada jerapahnya?" Seketika itu juga saya teringat perkataan saya tadi, bahwa di lantai atas ada jerapahnya. Saya lalu berjalan lebih jauh dan mengamati setiap sudut galeri dengan cermat. Ternyata, terdapat patung jerapah di salah satu sudut ruangan. Jadi apa yang saya katakan memang terbukti kebenarannya. Saya lalu memotret patung jerapah tadi, dengan gambar seperti di atas.

Apakah itu intuisi atau indera keenam?

Saya pada artikel ini hendak mengatakan bahwa seorang praktisi metafisika baik Barat maupun Timur memerlukan pula apa yang namanya intuisi atau indera keenam. Setiap orang sebenarnya memiliki potensi intuisi atau indera keenam ini. Hanya saja ada yang sejak lahir intuisi atau indera keenamnya lebih kuat. Namun kita semuanya mempunyainya dan kemampuan tersebut bisa dilatih. Caranya adalah dengan membangkitkan keheningan dan ketenangan dalam pikiran kita. Sepintas memang kelihatan mudah, namun tidak demikian halnya. Makin Anda punya keinginan kuat menenangkan pikiran, pikiran itu akan menjadi semakin bergolak. Ibaratnya kita berupaya mengaduk air keruh dengan tujuan menjadikannya jernih. Ini adalah upaya yang sia-sia. Airnya justru akan semakin bertambah keruh. Tetapi begitu kita mengembangkan kepasrahan dan kesantaian, maka pikiran akan menjadi tenang sendiri. Air keruh jika didiamkan kotorannya justru akan mengendap sendiri dan air menjadi jernih.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.