Sabtu, 10 Agustus 2013

MENJADI PULAU PERLINDUNGAN BAGI DIRI SENDIRI

MENJADI PULAU PERLINDUNGAN BAGI DIRI SENDIRI

Artikel Dharma ke-20, Agustus 2013

Ivan Taniputera
10 Agustus 2013






Di dalam Sutta Cakkavati-Sihanada, Hyang Buddha mengajarkan agar kita menjadi pulau bagi diri kita sendiri dan perlindungan bagi diri kita sendiri. Beliau mengajarkan pula kita agar kita jangan mencari perlindungan di tempat lainnya. Banyak orang memenggal ajaran tersebut sampai di sini saja, sehingga akhirnya menimbulkan pandangan salah. Timbul kesombongan bahwa seolah-olah kita tidak memerlukan apa-apa lagi. Seolah-olah hanya diri sendirilah yang patut diandalkan. Pemahaman semacam ini jelas bukan memupus ke"aku"an, melainkan justru sebaliknya makin mengobarkan semangat ke"aku"an. 

Padahal kalau direnungkan, jika sakit kita masih memerlukan seorang dokter. Kita berhutang budi pada guru-guru kita semenjak jenjang pendidikan paling rendah hingga paling tinggi. Pakaian yang kita kenakan apakah kita buat sendiri? Laptop atau komputer yang kita pakai, apakah kita yang membuatnya sendiri? Beras dan sayuran yang kita makan, apakah kita sendiri yang menanamnya? Jelas sekali kita masih memerlukan bantuan orang lain. Bahkan kita tidak hanya memerlukan bantuan orang lain saja. Banyak bakteri dan mikroorganisme lainnya yang bermanfaat bagi kita.

Lalu bagaimanakah makna sesungguhnya ajaran Hyang Buddha tersebut?

Jawabannya sangat mudah. Kita tinggal membaca kelanjutan Sutta Cakkavati-Sihanada tersebut. Pada bagian selanjutnya, Hyang Buddha mengajarkan agar kita mengamati tubuh (kaya), perasaan (vedana), pikiran (citta), dan obyek pikiran (dhama) sebagaimana adanya, dengan penuh ketekunan sehingga sanggup melenyapkan segenap keserakahan.

Jadi, inti ajaran tersebut adalah meditasi pengamatan terhadap tubuh, perasaan, pikiran, dan obyek pikiran sebagaimana adanya. Samadhi yang benar itulah pulau dan perlindungan bagi diri kita sendiri. Menjadi pulau dan perlindungan bagi diri sendiri tidak berarti kita memisahkan atau mengasingkan diri dengan segala sesuatu. Obyek yang benar-benar otonom dan mandiri atau tak bergantung lainnya adalah mustahil menurut Ajaran Hyang Buddha, karena segala sesuatu saling berkaitan dengan hal lainnya.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.