Selasa, 08 Oktober 2013

Kemiskinan Turunkan Kemampuan Otak



Saat seseorang sedang mengalami kesulitan ekonomi, bukan keuangan saja yang menyusut. Kemampuan otak pun ternyata ikut berkurang sehingga tingkat kecerdasan menurun. 


Menurut kesimpulan para peneliti dari univesitas Harvard, Princeton, dan beberapa universitas lain, kondisi eksternal juga berpengaruh pada kemampuan berpikir dan tes logikal seseorang. 



Hasil tes menunjukkan, nilai IQ orang yang termasuk miskin berkurang 13 poin akibat keresahan dan tekanan yang dialami. Akibatnya mereka cenderung membuat kesalahan dan keputusan buruk yang berakibat pada kondisi finansial mereka.



"Penelitian kami menemukan, ketika seseorang miskin uang bukan satu-satunya yang terasa sedikit. Kapasitas otak juga mengalami hal yang sama," kata ekonom Harvard yang juga peneliti dalam riset ini, Sendhil Mullainatah.



Penurunan IQ memang tidak menyebut orang yang kesulitan ekonomi sebagai orang yang bodoh. Justru mereka yang sedang "mengencangkan ikat pinggang" itu memiliki kemampuan otak yang efektif atau apa yang oleh para peneliti disebut "mental bandwidth" secara dramatis terbatas akibat stres. 



Secara umum, penurunan nilai IQ 13 poin itu setara dengan berkurangnya kemampuan saat seseorang tidak tidur semalaman. 



"Dulu orang melihat kemiskinan sebagai akibat dari kegagalan individual dan lingkungan yang tidak kondusif untuk sukses. Tetapi hasil studi ini menunjukkan kesulitan finansial itu sendiri yang berpengaruh pada penurunan fungsi kognitif," kata Jiaying Zhao, dari Universitas British Columbia di Kanada. 




Menurut Eldar Shaffir dari fakultas psikologi Universitas Princeton, bukan hanya stres saja yang menyebabkan penurunan kemampuan mengambil keputusan, tapi juga kesulitan keuangan. 



"Orang miskin seringkali sangat efektif untuk fokus dan berurusan dengan masalah yang menekan. Tetapi mereka kehabisan kapasitas otak untuk melakukan hal lain," kata Shaffir. 



Ia menjelaskan mengapa orang miskin seringkali sulit untuk keluar dari himpitan kesulitan. "Kemiskinan mengurangi kemampuan berpikir sehingga kita lebih sering melakukan kesalahan. Ini membuat kita sulit untuk keluar," katanya.



Dalam studi ini peneliti mempelajari dua grup yang sangat berbeda. Grup pertama adalah kelompok orang yang berbelanja di mal di kawasan di New Jersey, Amerika dan petani gula di daerah pinggiran India.



Pada studi di mal, peneliti mengumpulkan 12 orang pembelanja dengan kemampuan ekonomi rendah sampai menengah. Mereka menjawab tes untuk mengukur kemampuan IQ dan kontrol impuls.



Setengah dari responden ditanya, apa yang akan dilakukan bila mobil rusak dan dibutuhkan 1.500 dolar Amerika untuk memperbaikinya, padahal dana yang dimiliki terbatas. Pertanyaan ini ternyata menimbulkan kekhawatiran pada responden dengan kemampuan IQ rendah.



Di India peneliti menemukan perbedaan IQ sebelum dan setelah panen. Kemampuan IQ sebelum panen para petani lebih rendah dibandingkan setelah panen.



"Satu bulan setelah panen para petani menjadi kaya. Kemampuan IQ naik sehingga tingkat kesalahan menurun. Namun sebulan setelahnya para petani menjadi miskin, dan dibarengi penurunan IQ," kata Mullainathan.

Sumber: kompas.com

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.