Kamis, 24 Oktober 2013

Wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity


Pengakuan wayang di kancah dunia telah dikukuhkan UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.  Sebagai sebuah produk kebudayaan, wayang tidak saja menjadi produk seni visual atau pun produk yang dapat diindera saja, tetapi juga mempunya nilai-nilai adhiluhung yang menjadi latar belakang asal-usul dan keberadaannya.
Asal-usul wayang telah diteliti oleh berbagai ahli, bahkan keberadaan wayang telah berlangsung semenjak 1500 SM. Dr. G.A.J. Hazeu dalam desertasinya berpendapat bahwa pertunjukan bayang-bayang merupakan pertunjukan asli Jawa (Haryanto, 1988).
Dalam perkembangannya, wayang telah mengalami transformasi dari wujud maupun medianya. Dari waktu ke waktu wayang telah mengikuti perkembangan dari budaya tutur telah dikembangkan dengan didukung oleh berbagai macam keterampilan dan seni. Setidaknya ada tujuh unsur seni yang turut serta dalam pengembangan wayang antara lain: 1) Seni Drama; 2) Seni Lukis/Seni Rupa; 3) Seni Pahat/Kriya 4) Seni Sastra; 5) Seni Suara; 6) Seni Karawitan; 7) Seni Gaya (Haryanto, 1988).
Dilihat dari wujud wayangnya, wayang mengalami perubahan bentuk dari masa ke masa. Jenis-jenis wayang dilihat dari media dan ceritanya adalah wayang beber, wayang purwa, wayang madya, wayang gedhog, wayang klithik, wayang krucil, wayang golek, wayang suluk, wayang wong  (Mertosedono, 1986)
Pengaruh pemerintahan dan keagamaan juga sangat berperan dalam perkembangan wayang. Hal ini tidak dapat terpisahkan, karena wayang pada saat itu menjadi media yang digunakan untuk penyebaran ide dan legitimasi kekuasaan, Selain itu juga sebagai media penyebaran agama. David Irvine membagi sejarah perkembangan wayang antara lain asal-usul wayang purwa di Jawa, asal-usul wayang purwa di India, wayang purwa di bawah pengaruh Hindu-Budha, wayang purwa di bawah pengaruh Islam, perkembangan wayang selain wayang purwa dan wayang modern (Irvine, 1996). Sedangkan pengaruh pemerintahan (meski tidak langsung) terlihat pada berbagai macam gagrak (gaya). Gagrak wayang yang sekarang masih terlihat antara lain  gagrak Surakarta, gagrak Yogyakarta, gagrak Kedu, gagrak Jawa Timur, dan gagrak Cirebon. Sementara itu sebagai bentuk kriya yang dipengaruhi oleh interaksi masyarakat juga terdapat sub gagrak yang terdapat di antara daerah-daerah tersebut.
Keberadaan wayang juga tidak luput dari isi yang disampaikan dalam setiap pertunjukan. Tata nilai secara filosofis ini yang kemudian dimanifestasikan dalam berbagai karya cipta yang menaungi wayang. Dasar filosofis ini melatar belakangi bentuk wujud dan kriya, suara/antawencana, gerak (solah bawa) dan tari, suluk gending (musik pengiring), gubahan-gubahan cerita/sanggit, tata letak/layout pertunjukan dan peran masing-masing dalam pertunjukan

Sumber: e-wayang

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.