Minggu, 03 November 2013

MEMAHAMI CINTA DAN KEHIDUPAN MELALUI LAGU JAWA : PANGGODANING KATRESNAN


Menyanyikan lagu romantis? Udah biasa kan? Lagu yang bertema cinta. Aku memujamu. Aku mengagumi. Nothing on u baby. .. You are the best in my life, u are my favorite girl>> udah biasaaaa kan?
Tapi gimana dengan lagu romantis dalam bahasa jawa? Pastinya jarang kan? Yupss. Hari sekarang ini, banyak diantara kita yang melupakan budaya sendiri deh. Lebih suka dengan sarangheyo sarangheyo-an.. :)
Padahal kita sendiri, dalam budaya daerah (baik budaya jawa, sunda ataupun budaya daerah Indonesia lainnya) punya banyak langgam, lagu, tembang, puisi yang tak kalah indahnya dengan budaya korea maupun western lhoo.
Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai budayanya sendiri. : )
Kalau bukan kita siapa lagi, yang akan melestarikan warisan nenek moyang kita?
Tidak ada salahnya kan mempelajari budaya sendiri yang menjadi milik kita sendiri. Termasuk lagu-lagu jawa yang kita punya,  lagu sunda,batak dan lainnya.
Galau diungkapkan dalam lagu Korea, Barat dan bahasa Indonesia sudah sering kan? Makanya coba aja dengan lagu Jawa (langgam) dibawah ini.
Judulnya : PANGGODANING KATRESNAN (GODAAN DALAM KISAH CINTA)
Biyen aku ra wis kondho,Jroning bebrayan, kebak ing panggudhoBebasan wanci panglo?,Tanpo obor, peteng ndedhet tan rinoso

>>dari bait tersebut dapat diartikan: dulu aku kan sudah pernah bilang, dalam hidup bersama memang banyak cobaannya. Layaknya waktu tengah malam. Tanpa lentera, gelap gulita saja yang terasa..>>dapat dipahami bahwa si perempuan atau laki-laki memberi pengertian tentang hidup bersama memang gak mudah.

Opo pancene wis bedo,Dek biyen opo, saikining opoSliramu salin sloko?,Dek biyen tresno, saiki ndaksiyo

>>dari bait ini dapat disimpulkan bahwa setelah menjalani kehidupan bersama (rumah tangga) mulai muncul perbedaan diantara keduanya. “apa memang sudah berbeda? Dulunya apa, sekarangnya apaaa???? Dirimu berubah sikap, dahulu cinta sekarang udah enggak.Wong bagus mb

ok ojo bingung,Tumawur satemah kajantrungKoyo wong kelangan petung,Deleg-deleg, wekalase wurung

>> dalam bait ini dapat disimpulkan bahwa seorang suami sudah lupa dengan kehidupan rumah tangganya. Seperti tidak mau tau dengan rumah tangga yang sudah dibinanya.

Tak suwun marang sliramu,Mbok ojo lali, janji prasetyamuTresnaku kang satuhu,Tetep tulus ngregani jiwaku

>>dalam bait terakhir ini si cewek (istri) memohon kepada suami agar tidak melupakan sumpah setianya dahulu ketika akan meminang dan menjalani bahtera rumah tangga. Dimana si cowok (suami) berjanji akan menyayangi istrinya dengan sepenuh hati.

Hmm. Bisa disimpulkan, keadaan tersebut “kita banget” kan? Mungkin sering kita jumpai disekitar kita. Atau tidak menutup kemungkinan terjadi di keluarga kita sendiri.
Kita juga tidak bisa memungkiri bahwasanya dalam berumah tangga dan menjalani kehidupan bersama itu tidak mudah. Terlebih lagi untuk usia perkawinan yang baru seumur jagung. Godaan dan cobaan pasti datang silih berganti. Dalam bentuk apapun, yang namanya ujian dari Yang Maha Kuasa pasti ada.
Tapi ketika kita sudah punya janji/komitmen untuk hidup bersama, mau tidak mau kita harus memegang teguh komitmen tersebut. Seharusnya godaan yang ada dapat dijadikan pelajaran dan dapat  memperkuat cinta yang dibina, bukan justru menghancurkannya. Lepas dari ujian? Tidak akan pernah! Karena selama kita masih hidup ya... ujian dan rintangan itu ada.
: (
Semoga yang sudah menjalani kehidupan rumah tangga, bisa mempertahankan.
: (


Terkadang... memang sulit ya mempertahankan? Sampai-sampai dengan mudah memutuskan untuk berpisah...........



Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.