Kamis, 20 Maret 2014

Kabupaten Panumbangan Versus Kabupaten Balitar di satu wilayah Kabupaten Blitar Sekarang?

Oleh: Ferry Riyandika

Blitar merupakan suatu kawasan yang pada masa lampau telah dikenal begitu baik oleh bangsawan hingga Raja masa Majapahit. Desa Blitar merupakan suatu wilayah yang masuk Kelurah Blitar, Kota Blitar. Kota Blitar kini juga dikenal dengan sebutan Kota Patria, Kota Lahar dan Kota Proklamator yang terletak pada koordinat 112 derajat BT dan 8 derajat LS, di lereng Gunung Kelud pada ketinggian sekitar 175 meter diatas permukaan laut.

Keadaan tanah di Kota Blitar berupa tanah vulkanik, mengandung abu letusan gunung berapi, pasir, dan napal (batu kapur yang tercampur tanah liat). Tanah tersebut pada umumnya berwarna abu-abu kekuningan, bersifat masam, gembur, dan peka terhadap erosi. Tanah semacam itu disebut regosol yang dapat dimanfaatkan untuk menanam padi, tebu, tembakau, kopi dan sayur mayur. Selain hijaunya persawahan juga ditanam pula tanaman tembakau di daerah ini. Tembakau ini mulai ditanam sejak Belanda berhasil menguasai daerah ini sekitar abad XVII. Bahkan, kemajuan ekonomi Blitar pernah ditentukan dengan keberhasilan atau kegagalan produksi tembakau. selain keadaan tanah yang subur, Blitar memiliki Sungai Brantas yang mengalir dari timur ke barat membagi Kabupaten Blitar menjadi dua, yaitu bagian utara dan selatan. Bagian utara di sebut Blitar Utara (seberang Lor/ Mbrang Lor) dan bagian sering disebut Blitar Selatan (seberang kidul/mbrang kidul) kebanyakan tanahnya berjenis grumusol.Tanah semacam ini hanya produktif bila dimanfaatkan untuk menanam ketela pohon, jagung, dan jati (Soebantardjo, e.a: 1-2).

Di Desa Blitar pada masa Hayam Wuruk penguasa tertinggi Kerajaan Majapahit pernah beberapa kali mendatangi daerah ini diantaranya:

1. Perjalanan Hayam Wuruk Tiap Tahun

“… Yan tan mangka mareng phalah mareki jong hyang acala pati bhakti sadara, pantes yan panulus dhateng ri balitar mwang-i jimur-i silahritalengong, mukyang polamaning dahe kuwu ri lingga mara bangunika lanenusi, yan ring janggala lot shaba nripati ring surabhaya manulus mareng buwun….”

Terjemahan:
“….. bila tidak demikian Baginda pergi ke Palah memuja Hyang Acala Pati, dengan bersujud, biasa juga terus ke Balitar dan Jimur(Riana, 2009: 116).

2. Kunjungan Hayam Wuruk ke Simping

“…. Ndan ring saka tri tanu rawi ring wesaka, sri na-/- tha muja mara ri palah sabrtya, {30a} jambat sing ramya pinaraniran langlitya, ri lwang wentar manguri balitar mwang jimbe. Janjan sangke balitarangidul tut margga, sangkan poryyang gatarasa tahenyadoh wwe, ndah prapteng lodhaya sira pirang ratryangher, sakterumning jaladhi jinajah tut pinggir. Sah sangke lodhaya sira manganti simping, sweccha nambya mahajenga ri sang hyang dharma, sakning prasada tuwi hana dohnya ngulwan, na hetunyan bangunenanga wetan matra. Mwang tekang parimana ta pwa pinatut wyaktinya lawan prasasti, hetunyan tinapan sama padhinepan purwwadhi sampun tinugwan, ndan sang hyang kuti ring gurung gurunginambil bhumya sang hyang dharma, gontong, wisnu rareka bajradharaneka pangheli sri narendra. Rayuntuk sri narapatya margga ri jukung joyana bajran pamurwwa, prapta raryyani bajra laksmi namegil ring surabhane sudharmma, enjing ryangkatiran pararyyani bekel sonten dhateng ring swarajya, sakweh sang mangiring muwah te-/- lasumantuk ring swawesmanya sowing…..”

Terjemahan:

“… lalu pada tahun saka Tritanurawi—1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka—April-Mei, Baginda Raja memuja (nyekar) ke Palah dengan pengiringnya, berlarur-larut setiap yang indah dikunjungi untuk menghibur hati, di Lawang Wentar Manguri Balitar dan di Jimbe. Tidak peduli dari Blitar menuju ke selatan sepanjang jalan, mendaki kayu-kayu mengering kekurangan air tak sedap dipandang, maka Baginda Raja tiba di Lodaya beberapa malam tinggal disana, tertegun pada keindahan laut dijelajahi menyisiri pantai. Baginda Raja meninggalkan Lodaya menuju Desa Simping, dengan rela seraya memperbaiki tempat memuja leluhur, candi itu rusak tampak bergeser ke barat, itulah sebabbya direnovasi digeser agak ke timur. Serta merta penataannya diperbaikan disesuaikan bunyi prasasti, lalu diukur yang benar dengan depa di ujung timur telah dibuat tugu, maka wihara di Gurung-Gurung diambil halamannya untuk tempat candi, Gontong, Wisnurare di Bajradarana itu sebagai penggantinya oleh Baginda Raja. Baginda pulang melalui Jukung, Joyana, Bajran terus ke timur, berhenti di Brajalaksmi bermalam di Candi Surabawana, paginya berangkat pula berhenti di Bekel sore hari tiba di istana, semua pengiring telah pulang ke rumahnya masing masing….” (Riana, 2009: 302-306). Untuk lebih lengkapnya lihat pada tulisan saya tentang Perjalanan Hayam Wuruk di Blitar.

Blitar juga pernah disinggahi oleh Bujangga Manik yang merupakan seorang pangeran (tohaan) yang sekaligus menyandang sebagai pendeta atau petapa Hindhu dari kalangan keluarga pangeran dari Kerajaan Pakuan daerah Sunda (dekat Bogor, Jawa Barat) (Lombard, 2007: 148 ; Noordyun & A. Teeuw, 2009: 17). Naskah perjalanan Bujangga Manik ini ditulis dalam akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an

“……Leu(m)pang aing marat ngidul, nepi aing ka Waliring, ngalalaring ka Polaman, datang aing ka Balitar……” (“……Aku berjalan ke baratdaya, sampailah ke Waliring, aku berjalan lewat Polaman, tibalah ke Blitar……”) (Noordyun & A. Teeuw, 2009: 304).
Untuk kisah perjalanan Bujangga Manik lihat tulisan saya sebelum ini yaitu Perjalanan Bujangga Manik Ke Blitar.

Pada masa Jayanegara pendahulu Hayam Wuruk, telah menerbitkan suatu prasasti yangbertarikh saka 1246 (1324 Masehi. Prasasti ini telah dibicarakan dan diterjemahkan oleh Brandes dalam karangannya OJO (Oud-Javanese Oorkonde) pada halaman 198 dan dikoreksi kembali oleh Damais dalam BEFEO (Bulletin de I'Ecole Francaise d'Extrenie-Orient)halaman 74-75. Isi Prasasti adalah sebagai berikut:

1. /o/ swasti cakawarsita 1246 Crawanamasa tithi Pancadheci Cuklapaksa wapa-(a) wara, ma grahacara naksatra (de)wata, Mahendra manda(la)(sobha)nayoga Bhoijya(mu)
2. Hurtta....parwweca. Wistikara Makara, raci irika diwasa nyajna cri maharaja Pa(ra)mecwara Sri Kalayawa (ma)ndala madhuradi para dwarapala arya rakata makutanani winda ksatrala
3. (-)nasampurna maharya bhiseka sri Wisnuwangca....ra(jasa)...sastra sastra Wesnawatanta mahawijna cri sundarapandyadewa tinadah de sang mantri parama widagdha ruceswara Mapatih Dahanarajya Jagaddhita lacitatanalisyatanalimn.

artinya:
1. /o/ Selamat berlangsungnya tahun caka 1246, bulan cranawa tanggal 15 paro terang ringkel wurukung hari pahing (aditya/minggu), wuku ma (ktal) menurut perhitungan pawukon (grahacara), dalam naungan Mahendra.....
2. Dewata, perbintangan/ zodiak raci LEO (makarareci) disana disabdakan oleh Sri Maharaja Pa(ra)mecwara Sri Kalayawa (ma)ndala madhuradi para dwarapala arya rakata makutanani winda ksatrala
3. (-)nasampurna bergelar maharya sri Wisnuwangca ra(jasa) Wesnawatanta mahawijna cri sundarapandyadewa, diterima oleh sang mantri parama widagdha ruceswara Mapatih Dahanarajya Jagaddhita lacitatanalisyatanalimn (Taufik, e.,a: 31-32).

Prasasti ini banyak kalangan menyebutkan disimpan di Pendopo Kabupaten Blitar.

Menurut Hoepermans pada tahun 1913 di Desa Blitar masih terdapat tinggalan berupa kepala kala dan prasasti yang bertarikh saka 1246 (1324 Masehi)yang kini berada di Museum Nasional dengan kode D 134 (Danardhana, 1977: 18-19).

Loh.... apabila demikian prasasti yang ada di Pendopo Kabupaten Blitar prasasti apa??? pertanyaan besar menghantui saya....

Pada waktu saya membuka tulisan Berita penelitian Arkeologi No. 47 tentang Laporan Penelitian Epigrafi di Wilayah Provinsi Jawa Timur tahin 1996/1997 pada 1,5 tahun silam saya menjumpai bahwa prasasti yang berada di depan Pendopo Kabupaten Blitar adalah Prasasti Panumbangan II atau Prasasti Petung Ombo. Petung Ombo sekarang masuk Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.


Untuk Prasasti Petong Ombo atau Prasasti Panumbangan II bisa di lihat di OJO dan
Berita penelitian Arkeologi No. 47 tentang Laporan Penelitian Epigrafi di Wilayah Provinsi Jawa Timur tahin 1996/1997. Adapun transkripsinya adalah sebagai berikut.

Sisi depan
1.1191
2. paraduhan panumbanan bu
3. yut (pa) ka (ta) man banaku
4. ta wara padaganan buyu
5. sona--luma--(bu)
6. yu maka ri botaha
7. (butugagaka) ka--na--
8. la-- laha--
9. (labu butu)muku --
10. makana (hyang) ma

sisi Belakang
1. musuh (da)
2. --bagada buruh (go)
3. tugara agra hadani a
4. balaha gorone
5. (ka) bayan buta leba
6. --mapani dawata (kanaja) i
7. --mapani dawata (kanaja) i
8. --nahan --ma
9. sanhyan mandala ta
10. na halari larih
11. ...... (ditutup semen)

Bagian samping A
1. (mada) mpa
2.(--) kasa --
3. nahgama--
4. rhala ha
5. nah maka
6. -- bahana
7. ta (ha) --
8. ---
9. liswa (ta) ruha
10. .......... (ditutup tembok)

Bagian samping B
1. --mwang
2. sira juru
3. ma (gaga) a
4. -- rakre --
5. lampang
6. --- mpang
7. re

Namun Prasasti Panumbangan (Petung Ombo) ini yang dijadikan pengesahan hari jadi Kabupaten Blitar dengan tahun saka 1246 (1324 Masehi).


Kalau begitu yang dijadikan momen pengesahkan Hari Jadi Kabupaten Blitar adalah Prasasti Panumbangan (Petung Ombo) dengan tahun 1191 Saka atau 1269 Masehi, Masa Kerajaan Singhasari dengan Raja Krtanegara. Dan Bukan Kabupaten Blitar namanya jadi seharusnya Kabupaten Panumbangan... hehehehe...

Saya berfikir sejenak, apabila ada Prasasti Balitar 1236 Saka atau 1314 Masehi di simpan di Museum Nasional, seharusnya yang ditancapkan sebagai monumen Hari Jadi kabupaten Blitar bukan Prasasti Panumbanagan II (Petung Ombo) di atas apabila kita menyebut daerah ini Balitar atau Blitar....

hehehehe... JASMERAH....

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.