Kamis, 20 Maret 2014

Kungkum Sinden, Ritual Sejak Prabu Airlangga (18 Nopember 2010)



Dengan berendam di Sendang Made, Kecamatan Kudu, Jombang, seorang sinden dipercaya akan awet muda serta mempunyai suara merdu. Tidak heran jika sekitar 50 pesinden mengikuti ritual kungkum di Sendang Made itu. Kok bisa?


Sebuah panggung ukuran sedang berdiri tengah-tengah halaman lumayan luas. Di atasnya, berjejer 37 sinden yang akan diwisuda. Mereka berdiri berjajar memakai pakaian khas sinden, yakni jarik dan kebaya berwarna merah. Dari wajah mereka terpancar raut wajah bahagia sekaligus cemas. “Grogi juga karena akan diwisuda,” kata Yayuk Asiati, salah satu sinden asal Desa Genengan Jasem Kecamatan Kabuh, Kamis (18/11/2010).


Suara gamelan mengalun di pelataran Sendang Made. Alunannya yang rancak semakin kompak dengan gerakan sejumlah penari tradisional yang berlenggak-lenggok. Tak lama berselang, sekitar 37 pesinden berjalan secara beriringan. Mereka diarak menuju sebuah telaga atau yang dikenal dengan Sendang Made.


Setelah memasuki area sendang, secara bergantian, satu per satu sinden melakukan siraman. Pada giliran pertama, siraman dilakukan oleh Asisten I Eksan Gunajati. Hingga, berlanjut pada anggota muspida lainnya.


Setiap siraman yang dilakukan oleh tokoh masyarakat tersebut dipercaya membawa sebuah pengharapan. Terlebih, bagi sinden itu sendiri, setiap siraman dipercaya dapat membuat suara sinden kian merdu. “Ya semoga laris ya,” kata Eksan ketika melakukan siraman.


Usai siraman, para sinden kembali di panggung. Setelah itu, sinden secara bergantian mendapat kalungan selendang berwarna hijau penanda gelar sinden secara resmi disematkan. Ketua PKK Jombang Wiwiek Suyanto didaulat mengalungkan selendang pada setiap sinden. Raut muka bahagia dan lega terpancar dari tiap wajah sinden.


Acara dilanjutkan dengan sedekah desa. Ratusan masyarakat yang telah berkumpul di halaman sendang, ternyata telah membawa bekal makanan yang dibungkus dalam baskom dan ditutup oleh selendang. Seorang sesepuh desa memberikan petuah-petuah saat acara dimulai. Sedekah desa ditutup dengan pembacaan doa. Setelah itu, bekal makanan dibuka dan dimakan bersama-sama oleh hadirin yang datang.


Nasrul Illahi, Kepala Seksi Kebudayaan, Disporabudpar Jombang, Kamis (18/11/2010), menceritakan, kungkum sinden merupakan tradisi yang sudah berjalan sejak zaman Raja Airlangga. Seorang perempuan yang akan menjadi sinden harus dimandikan terlebih dulu di sendang yang ada di Desa Made, Kecamatan Kudu tersebut. Harapannya, suara sinden itu nantinya bisa merdu seperti istri Prabu Airlangga.


Pria yang akrab disapa Cak Nas ini menjelaskan, makna dari kungkum sinden adalah upacara wisuda seorang sinden untuk terjun ke dunia seni tradisional. Dengan berendam di sendang tersebut, maka suara seseorang bisa merdu. Selain itu, katanya, aura sinden tersebut juga akan muncul.


sumber :http://www.beritajatim.com/detailnews.php/2/Gaya_Hidup/2010-11-18/84288/Kungkum_Sinden,_Ritual_Sejak_Prabu_Airlangga

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.