Kamis, 20 Maret 2014

Sejarah AGASTYA PEMIMPIN MANDALA KAWI DAN KAILACA DI HASIN

Oleh: Ferry Riyandika


PENDAHULUAN

Tantu Panggelaran merupakan sebuah teks prosa yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia di Pulau Jawa dan segala aturan yang harus ditaati manusia serta mengisahkan tentang pendirian mandala-mandala di tanah Jawa khususnya di daerah Jawa Timur pada masa lampau. Tantu Panggelaran yang bertarikh saka 1557 (1635 Masehi) berbentuk bahasa Jawa Kuna. Penyusunan kitab ini terletak di Kabuyutan Nanggaparwwata (1924: 128). Perkembangan kisah pemindahan Gunung Mahameru di Pulau Jawa dalam Tantu Panggelaran ini dapat diceritakan secara ringkas sebagai berikut.

Pada mulanya Pulau Jawa tidak berpenghuni dan dalam keadaan khaotis, karena pulau Jawa selalu bergoncang (bandingkan dengan batu apung yang bergoncang di atas permukaan air). Oleh karena itu, Pulau Jawa membutuhkan gunung untuk menancapkannya, sehingga agar tidak bergoncang lagi. Melihat keadaan tersebut para dewa mengangkat puncak Gunung Mahameru (Gunung Semeru) dari India (Jambudwipa) dan ditempatkan di Pulau Jawa. Namun yang terjadi adalah, bahwa Pulau Jawa terjungkit dan sebelah timur pulau Jawa terangkat ke atas. Oleh karena itu para dewa memindahkannya ke sebelah timur, tetapi dalam perjalanan pemindahan gunung itu ke sebelah timur, gunung tersebut berceceran di sepanjang jalan, sehingga terjadilah gunung Lawu, Wilis, Kelut, Kawi, Arjuna, Kumukus dan pada akhirnya Semeru. Setelah itu keadaan pulau Jawa tidak bergoncang lagi (Soekmono, 1985: 47).

Dalam ajaran agama Hindhu dan Budhha dikenal adanya konsepsi makrokosmos (susunan alam semesta) bahwa alam semesta berbentuk lingkaran pipih seperti piringan dengan Gunung Mahameru sebagai titik pusat alam semesta merupakan tempat persemayaman para dewa. Sebelumnya, Jambudwipa damai dan tenang, tetapi tiba-tiba tanahnya berguncang dan terombang-ambing diterpa gelombang samudera. Akhirnya para dewa berusaha untuk memindahkan Gunung Mahameru ke Pulau Jawa yang masih aman sebagai tempat kehidupan manusia yang baru. Dalam perjalanan pemindahan gunung tersebut bagian Mahameru berguguran menjadi gunung-gunung yang berjajar sepanjang Pulau Jawa antara lain di Jawa Timur menjadi Gunung Katong atau Lawu, Wilis, Kampud atau Kelud, Kawi, Arjuna (Arjuno) dan Gunung Kemukus (Welirang). Tubuh Mahameru diletakkan agak miring dan menyandar pada gunung Brahma (Bromo) dan menjadi Gunung Semeru. Puncak Mahameru sendiri adalah Gunung Penanggungan atau Pawitra (Heine, 1982: 4-6).

Identifikasi tokoh Agastya di Jawa

Agastya dalam Candi Hindu aliran Siwa selalu di letakkan pada relung bagian Selatan. Dari Kitab Ramayana VII: 57 dapat diperoleh informasi tentang kelahiran Agastya dari ibunya yaitu Urwaci. Di kisahkan bahwa brahmana (Wasistha) dan raja (nimi) yang kehilangan tubuhnya akhirnya menemui Dewa Brahma. Mereka disarankan untuk memasuki benih dari Dewa Waruna dan Dewa Mitra. Dewa Mitra memiliki pasangan seorang bidadari bernama Urwaci. Saat Dewa Waruna melihat Urwaci, tertariklah untuk merayu Urwaci. Maka terjadilah perselingkuhan, setelah diketahui oleh Dewa Mitra maka Urwaci di usir dari kahyangan ke bumi. Jadilah Urwaci seorang manusia dan setelah genap waktunya maka lahirlah benih dari Dewa Waruna menjadi Agastya dan benih Dewa Mitra sebagai Wasistha (Poerbatjaraka, 1992: 3-6).

Dari cerita-cerita susastra dari India, Agastya dihubungkan dengan penaklukan Gunung Vindhya dan juga penyeberangan ataupun peminuman air laut di arah selatan sampai kering. Hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Agastya dalam mitologi Hindu merupakan tokoh yang diperintahkan untuk menyebarkan ajaran Weda ke arah Himalaya (Meru) ke selatan termasuk Nusantara (Poerbatjaraka, 1992: 43 ; Suwardono, 2001: 16).

Agastya ke Jawa mengembangkan suatu ajaran yang ternyata adalah ajaran Hindhu Siwa. Hal ini dapat kita lihat dari keterangan Kitab Smaradahana, dari masa raja Kamecwara dari Kerajaan Daha, Kadiri. Dalam sarga XXXVIII: 13-14 yang terjemahannya adalah sebagai berikut:

” Ada satu negeri ditunjuk oleh Parwati. Negeri tengah di jawa yang teramat indah di selatan dikelilingi oleh laut garam seperti Meru, suci dan senantiasa dikunjungi oleh Rsi yang sangat di hormati Agastya. Sejarahnya dimasa lampau didengarkan. Buku termasyur kumara di kasmir dalam perjalanan yuga langsung disumpah oleh Dewa Civa menjadi pulau indah sekali, besar dan berbentuk lipung” (Krom, dalam Poerbatjaraka, 1992: 44).

Sebagai murid Siwa, Agastya diperintahkannya untuk menjaga gerbang masuk di arah selatan Mahameru. Hal ini sesuai dengan isi kitab Tantu Panggelaran dimana Kala dan Anukala menjaga gerbang barat dari Mahameru. Gana diposikan penjaga arah Timur, Ibu Gauri atau Durga Mahisasuramardini di sebelah utara, sedang Agastya sebagai murid spesial Siwa diletakkan untuk menjaga daerah selatan (Poerbatjaraka, 1992: 132). Menurut uraian Pigeaud (1924: 254), menyatakan bahwa ”tokoh-tokoh yang disini disatukan menjadi satu kumpulan sebagai penjaga Mahameru, sudah terkenal dan belum pernah digabungkan seperti itu dimanapun juga...”.

Pada umumnya di Nusantara, khususnya Jawa, Agastya disebut pula sebagai Siwa Mahaguru dengan ciri-ciri sebagai seorang tua berperut buncit (lambodhara), berjenggot tebal runcing, bertangan dua yang sebelah kanan membawa aksamala (tasbih) atau trisula dan sebelah kiri membawa kendi air kehidupan (kamandalu). Namun penyamaan Agastya dengan Siwa Mahaguru terdapat kontradiktif yang mencolok bila dilihat dari ciri arca dan gambaran dari literatur atau cerita tentang panteoan Hindhu tersebut. Dalam beberapa cerita historis, kita ambil contoh dari Pararaton saat raja Dandang Gendis (Kertajaya/ Crenga raja terakhir Panjalu, Kadiri) berubah wujud jadi Siwa Mahaguru, ciri-cirinya adalah bertangan empat dan memiliki mata ketiga, ciri khas Civa.

I ........ Dangdang Gendis angadegaken tumbak, ladayenipun tinancebaken ring lemah, sira ta alinggih, ring pucuking tumbak, tur anandika: ..lah para bhujangga delengen kacaktiningsun. Sira ta katon acaturbhuja, atrinayana, saksat bhatara guru rupanira.......

Terjemahan:
I ...... Dangdang Gendis mendirikan tombak, batang tombak itu dipancangkan kedalam tanah, ia duduk di ujung tombak, seraja berkata: ...nah, tuan-tuan bujangga, lihatlah kesaktian kami. Ia tampak berlengan empat, bermata tiga, semata-mata bhatara guru lah perwujudannya..... (Padmapuspita, 1996, 21 ; 63).

Dari urain tersebut dapat disimpulkan bahwa Agastya tidak sama dengan Bhatara Guru (Siwa Mahaguru), melainkan merupakan penjelmaan dari Dangdang Gendis sebagai Bhatara Guru. Raja ini merupakan seorang pemuja Bathara Guru. Pemujaan ini biasanya dilakukan oleh anggota komunitas rsi yang biasanya bertempat tinggal di tempat sunyi pada lereng-lereng gunung dan di dalam hutan. Rsi pada umumnya telah tinggi pengetahuan keagamaannya, sehingga mereka lebih banyak memuja dewa di dalam fikirannya (manasa / antara-puja), dan tidak memerlukan arca atau benda lain untuk sarana pemujaan (Santiko, 1995: 127). Dengan adanya cara pemujaan dewa di dalam fikiran itu, sebagai rsi (rajarsi) maka Raja Kadiri terakhir (Dandang Gendis) memiliki ilmu keagamaan yang berkeyakinan dapat bersatu dengan dewa yang dipujanya. Tidak mengherankan apabila Krtajaya dalam Kitab Pararaton dilukiskan mengubah diri sebagai Bhatara Guru guna meyakinkan para pujangga akan klaimnya sebagai penjelmaan Dewa Siwa di dunia.

Suatu peninggalan di Candi Deogarh dan Travancore yang berasal dari masa Gupta dinasti Maurya, India, terdapat arca Agastya namun memiliki bentuk tubuh yang ramping tidak buncit seperti umumnya di candi-candi Jawa. Di Indonesia, Dalam ”Oudheidkundige Verslag 1923” (bijlage K) pada gambar-gambar koleksi Museum Sriwedari, tokoh No. A, yang oleh Bosch diberi nama Maitreya, namun sangat jelas sekali merupakan ciri-ciri dari Agastya yang memiliki kumis dan janggut runcing , dan juga terlihat kendi di tangan kiri yang diletakkan rendah. Bentuk arca ini juga normal (tanpa perut buncit) juga tidak terdapat yajnopawita (Poerbatjaraka, 1992: 134-135).

Di Malang tepatnya di lereng Timur Gunung Kawi di Dukuh Gasek, Desa Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, terdapat situs kecil yang diberi nama Candi Karangbesuki. Di situs inilah ditemukan arca tokoh Agastya, Arca ini dahulu ditempatkan di dalam punden makam di bawah pohon beringin. Karena bencana angin dahan pohon beringin tersebut putus dan menimpa punden makam. Akhirnya arcanya kemudian diamankan dan dirawat oleh pihak SDN Karangbesuki 3 (Suwardono, e.a, 1996: 7). Oleh pemerintah Kota Malang, akhirnya sekarang disimpan di Museum Mpu Purwa Kota Malang.


Ciri dari tokoh ini adalah orang tua berjenggot runcing, perut ramping, bertangan dua, sebelah kanan membawa trisula dan sebelah kiri telah putus. Dari tangan sebelah kiri yang sikapnya agak diturunkan kebawah, maka dapat disimpulkan, bahwa patahan pergelangan tangan arca ini membawa sebuah kamandalu. Prasasti Dinoyo I pada sekitar abad VIII tersebut mengisahkan tentang peristiwa peresmian arca Aghastya baru yang dibuat dari batu hitam yang indah. Arca ini dimaksudkan sebagai pengganti bagi arca terdahulu yang terbuat dari kayu cendana dan ketika itu sudah lapuk sama sekali. Pada perhelatan keagamaan itu raja menghadiahkan pula bangunan untuk keperluan kerja bagi para brahmana dan perumahan untuk menampung para tamu, beserta persediaan makanan, tempat tidur dan pakain (Soekmono, 1977: 116: Cahyono, 2006: 4). Raja membuat bangunan suci (candi) yang sangat bagus bagi sang maharesi (Agastya) ini digunakan untuk sarana membinasakan penyakit yang menghilangkan (semangat) (Poerbatjaraka, 1976: 92-98). Pembangunan tempat tersebut sesuai dengan nama desa yang sekarang di tempatkan Candi Karang Besuki, yaitu tempat keselamatan.

Identifikasi Nama Gunung Kawi

Gunung Kawi merupakan batas alam antara Kabupaten Blitar dengan Kabupaten Malang. Gunung ini terdiri dari Gunung Kawi-Butak (2651 m dpl-2868 m dpl) (Bemmelen, 1949: 30), ternyata ditilik dari segi historisnya, telah dikenal sejak masa pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan, yang kala itu berpusat di daerah Malang. Kerajaan Kanjuruhan ini meninggalkan kepada kita tentang informasi penting tentang keberadaan Gunung Kawi yang termaktub dalam Prasasti Dinoyo I, yang bertarikh Saka 682 (760 Masehi).
Prasasti tersebut memuat inti tentang adaanya seorang raja yang bijaksana dan berkuasa yang bernama Dewasigha. Di bawah naungan pemerintahannya, api putikecwara memancarkan sinarnya, yang menerangi kelilingnya. Seorang anaknya, yakni raja Gajayana seorang raja pelindung manusia memiliki putri yang bernama Uttejana. Raja tersebut memberi ketentraman kepada Brahmana dan rakyat pemuja Agastya. Raja membuat bangunan suci (candi) yang sangat bagus bagi sang maharesi (Agastya) untuk membinasakan penyakit yang menghilangkan (semangat) (Poerbatjaraka, 1976: 92-98).

Berdasarkan keterangan dalam Kitab Tantu Pagelaran, Agastya mendapatkan pertapaan di Gunung Kawi. Semenjak itu Gunung Kawi menjadi miliknya, yakni sebagai tanda penugasan bagi Batara Guru (Ciwa). Berikut kutipan dari teks Tantu Panggelaran:
”Ucapen ta laksana bhatara Jagatwicesa, anggasta yinuganira hinasti, siniramning tatwamrtha ciwamba, yinuganira matmahana dewata purusangkara. Inararan bhagawan Agasti, inanugrahan kawikun de bhatara, kinwan matyapaha ring gunung kawi. Tinher makadrwya kang gunung kawi pinakapacihna pawkas bhatara Guru” (Pigeaud (1924: 92).

Artinya:
”Untuk bicara tentang cara-cara Batara Jagadwicesa; dia mengarahkan yoganya pada ibu jarinya, dan menjadikannya abu, yang kemudian disiramnya dengan air suci Tattwamrta dan melakukan yoga, sehingga menjadi dewata bertubuh manusia. Dia mendapatkan nama Agasti yang terhormat; sebagai tanda kehormatan dia menerima kedudukan wiku dari Bhatara, dan menerima perintah melakukan pertapaan di Gunung Kawi. Sejak itu gunung Kawi menjadi miliknya, sebagai tanda penugasan Bhatara Guru” (Poerbatjaraka, 1992: 40).

Adapun nama “Kawi” berasal dari kata “Kavya (Kawi)”, yang berarti syair yang dilagukan. Ada pula yang menghubungkan istilah ini dengan “awi” yang berarti golongan orang-orang di antara “watek i jro” (manilala drwya haji) (Zoedmulder, 1995: 475 ; 86). Oleh karenanya, Gunung Kawi adalah sebuah gunung yang pada masa lampau banyak dikenal oleh para pertapa, rsi atau bujangga sebagai tempat pertapaan dan tempat pembuatan syair (Kawi).

Lokasi Gunung Kawi juga didukung oleh uraian dari kisah perjalanan Bujangga Manik di daerah tersebut.
“……cu(n)duk ka Sagara Dalem, ngalalar ka Kagenengan, sumengka ka Gunung Kawi, disorang kiduleunana. Sadatang ka Pamijahan…..”

Terjemahan:
“.......tiba ke Sagara Dalem, berjalan lewat Kagenengan, mendaki Gunung Kawi, dijelajahi arah selatannya. Setiba ke Pamijahan……” (Noordyun & A. Teeuw, 2009: 303).

Nama Sagara Dalem dalam urain kisah perjalanan Bujangga Manik ini terletak diantara Gunung Mahameru (Semeru) dan Kagenengan yang berada disebelah barat Gunung Semeru. Nama Dukuh Sagara Dalem merupakan nama lama untuk sebuah Dukuh Segaran yang terletak di Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang (Noordyun & A. Teeuw, 2009: 303). Kagenengan pada masa sekarang merupakan nama sebuah desa yang terletak di Kabupaten Malang yaitu Genengan yang terletak di sebelah barat Desa Kendalpayak Kecamatan Pakisaji atau Dukuh Kagenengan di Desa Parangargo, Kecamatan Wagir. Kagenengan pada masa lampau merupakan tempat dimana terdapat suatu kelompok komunitas keagamaan (Noordyun & A. Teeuw, 2009: 513)kemungkinan juga tinggalan tersebut merupakan alat pertanggalan masa lampau.


Oleh sebab itu dapat difahami jika Candi Badut, Candi Karang Besuki dan Candi Songgoriti di Batu dinyatakan sebagai tempat pemujaan terhadap Bathara Guru, bahkan Candi Sirahkencong yang terletak di barat daya atau selatan kaki Gunung Kawi juga digunakan sebagai tempat pemujaan terhadap Bathara Guru (Riyandika, 2010: 3).

Identifikasi Nama Macin (Hasin).

Dalam Kitab Tantu Panggelaran diberitakan bahwa Agastya melakukan perjalanan untuk mengunjungi Bhagawan Markandeya di Mandala Kailaca di Hasin, berita tersebut dikutip sebagai berikut:

“.......... Kari tang raray manangis makanangkanangan. Tuminghal ta Bhagawan Agasti, mawlas tumon ambeknira ring kesesinikang raray tininggalaknibhunya. Sinambutnira tang raray, nher dinus dinulangnira, iningunira ring yoga samadi. Atuha tang raray wkasan, winawanira mangulwan maring macin, datang ring arggha Kelaca, ring mandala Bhagawan Markandeya.........” (Pigeaud, 1924:126).
Artinya:
“.......... anak-anak yang ditinggalkan itu menangis berteriak. Agasti yang terhormat itu melihatnya. Dia merasa kasihan menyaksikan keadaan anak-anak yang memilukan, karena ditinggal oleh ibu mereka. Dia mengambil anak-anak itu, membasuhnya, memberinya makanan dan merawatnya dengan yoga dan semedi. Ketika anak-anak laki-laki itu akhirnya menjadi dewasa, dibawanya mereka kebarat, ke Masin, kepuncak Kailaca di Mandala Markandeya yang terhormat......” (Poerbatjaraka, 1992: 51-52).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam uraian Kitab Tantu Panggelaran diberitahukan bahwa Agastya yang berasal dari Gunung Kawi melakukan perjalanan bersama kedua anak angkatnya ke arah barat untuk mengunjungi Bhagawan Markandeya di Mandala Kailaca di Hasin.

Nama Hasin atau Macin mengingatkan kita pada Prasasti Baru yang bertarikh Saka 952 (1030 Masehi) prasasti ini merupakan tamraprasasti (prasasti logam) yang keberadaannya sekarang di Kota Surabaya. Pada prasasti ini dikatakan bahwa Raja Airlangga memberikan hadiah tanah sebagai sima kepada warga Baru dikarenakan raja telah berdazar apabila raja mengalahkan Raja Hasin maka Desa Baru akan dianugerahkan tanah sima (Sumadio, 1992: 180-181).

Dimanakah letak Hasin?. Dalam isi kitab Tantu Panggelaran, Hasin atau Macin merupakan daerah yang terletak di “ ....mangulwan maring Macin, datang ring arggha Kelaca, ring mandala Bhagawan Markandeya.........” (mereka kebarat, ke Masin, kepuncak Kailaca di Mandala Markandeya yang terhormat), “ ....saking Pacira mangulwan maring Macin...” (dari Pacira kebarat sampailah di Macin) dan “...... sira saking Macin, mangetan sira tumut ta sira bhatari Paramecwari. Mararyyan ta sira ring Gunung Wilis...” (dari Macin kearah timur ikutlah bhatari Paramecwari. Tibalah sampai di Gunung Wilis) (Pigeaud, 1924:126: 70; 84).

Menurut Poerbatjaraka (1992: 52), daerah Macin, atau Hasin harus dicari di Barat Gunung Kawi dan dalam Kitab Parararon telah diberitakan tentang istri-istri Raja Dandang Gendis (Krtajaya) diantaranya Dewi Hasin (1976: 40). Macin atau Hasin dalam kitab Tantu Panggelaran terletak di sebelah barat Gunung Wilis serta juga di sebelah barat Pacira. Bila daerah Pacira berada di timur Hasin atau Masin, maka daerah ini harus dicari diantara lembah Gunung Kawi ke barat hingga lembah atau kaki gunung di wilayah barat Gunung Wilis. Di daerah Kabupaten Tulungagung terdapat nama yang mirip dengan nama Pacira yaitu Pasir. Pasir merupakan nama dukuh yang terletak di Desa Junjung Kecamatan Sumber Gempol. Lokasinya di sisi utara Pegunungan Kapur Selatan. Di dusun tersebut terdapat beberapa peninggalan arkeologi yang salah satunya berupa Situs Gua Pasir yang dahulu digunakan sebagai karsyan. Hal ini didukung dengan pahatan dinding berupa adegan seorang petapa yang sedang digoda oleh hawa nafsu.


Dalam situs tersebut menurut Krom (1923) dan Verbeek terdapat kronogram Saka 1325, 1224 Saka, dan 1228 Saka yang menunjukkan pada era Majapahit. Menurut Munandar disebutkan bahwa Situs Gua Pasir sejaman dengan Gua Selomangleng. Berdasarkan persamaan bentuk pahatannya yan diperkirakan berasal dari abad X-XI Masehi sampai pada masa Kerajaan Majapahit (Cahyono, 2010: 20-21).

Apabila anggapan ini benar, maka Hasin atau Macin letaknya harus dicari di sebelah barat Dukuh Pasir. Di wilayah Kabupaten Trenggalaek terdapat sebuah nama Sungai yang mengalir kearah Kabupaten Tulungagung yaitu Sungai Ngasinan yang sumber airnya berasal dari Gunung Wilis. Sungai ini merupakan salah satu bagian hulu Sungai Brantas yang alirannya kemudian masuk ke Sungai Ngrowo dan terakhir ke Sungai Brantas. Apabila Sungai ini benar dan dapat di setujui maka Ngasinan merupakan nama arkhais dari Hasin atau Macin, tempat raja Hasin berkuasa maka tepat sekali apabila daerah Hasin atau Masin yang terletak di Kabupaten Trenggalek di tempatkan di sebelah barat Dukuh Pasir, Kabupaten Tulungagung.

Hal ini dapat di dukung dan diperkuat juga dengan apa yang diterangkan dalam Prasasti Baru yang dikeluarkan Raja Airlangga diatas, bahwa Baru merupakan sebuah watek atau paraman yang ditujukan untuk pemujaan (kabaktyan) terhadap sang hyang huwan sang hyang depur sang hyang kawyolan sang hyang roh. Nama salah satu tempat pemujaan tersebut terdapat nama sang hyang kawyolan. Nama ini boleh jadi sekarang menjadi Desa Kamulan. Sedangkan nama Desa Baru yang termuat dalam Prasasti Baru boleh jadi sekarang menjadi Desa Baruharjo. Ketiga nama tempat tersebut yaitu Sungai Ngasinan, Baruharjo, dan Kamulan sekarang berada di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Namun di sebelah utara Kabupaten Trenggalek tepatnya di Kabupaten Ponorogo terdapat Sungai Asin. Tidak menutup kemungkinan Hasin merupakan kawasan yang letaknya di antara Sungai Ngasinan di Trenggalek dan Sungai Asin di Ponorogo. Krtajaya Sendiri dalam Kitab Pararaton di jelaskan bahwa memiliki istri tiga diantaranya adalah Dewi Hasin.

Sedangkan nama Kailaca dalam Tantu Panggelaran disebutkan sebagai berikut “. …maring macin, datang ring arggha Kelaca, ring mandala Bhagawan Markandeya.........” (Pigeaud, 1924:126) yang berarti “…..ke Masin, kepuncak Kailaca di Mandala Markandeya yang terhormat......” (Poerbatjaraka, 1992: 51-52). Dimanakah letak puncak Kailaca?. Di Kecamatan Pogalan, Desa Ngadirenggo terdapat sebuah anak Gunung Wilis bagian barat daya, tepatnya bukit yang bernama Gunung Tumpaknyadran yang dibawahnya di aliri Sungai Ngasinan. Nama Tumpaknyadran memiliki arti “Tumpak” yaitu “naik”, sedangkan “Nyadaran” adalah suatu kegiatan upacara keagamaan atau ritual suatu keagamaan atau kepercayaan guna untuk memperoleh sesuatu dan keselamatan. Jadi nama Gunung Tumpaknyadran merupakan gunung yang digunakan untuk suatu tempat kegiatan upacara keagamaan atau ritual keagamaan untuk mencari berkah.

Hal ini dapat dipertegas lagi bahwa di dekat Gunung Tumpaknyadran yaitu disebelah utara terdapat nama Gunung Sentono. Sentono memiliki pengertian tempat persemayaman. Pengertian kedua istilah ini sama dengan puncak Kailaca yang dimana merupakan sebuah tempat penjaga kediaman Dewa Siwa. Apabila kita hubungkan dengan Gunung Wilis yang merupakan salah satu gunung suci di Jawa, maka dengan apa yang dikatakan dalam Kitab Tantu Panggelaran sesuai dan memiliki persamaan, dimana disebutkan bahwa Agastya merupakan penjaga kediaman Dewa Siwa bagian selatan (Poerbatjaraka, 1992: 130).

Selain itu di Kabupaten Trenggalek tepatnya di Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan terdapat tinggalan arkeologi berupa struktur bangunan candi. Candi tersebut bernama Candi Brongkah yang letaknya tidak begitu jauh dengan Sungai Ngasinan. Apakah situs ini memiliki kaitannya dengan Raja Hasin atau tempat mandala Bhagawan Markandeya masih harus diteliti lebih lanjut.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.