Sabtu, 08 November 2014

Rahasia ALLAH SWT Yang Ada Pada Madu



أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ فَقَالَ اسْقِهِ عَسَلًا ثُمَّ أَتَى الثَّانِيَةَ فَقَالَ اسْقِهِ عَسَلًا ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ اسْقِهِ عَسَلًا ثُمَّ أَتَاهُ فَقَالَ قَدْ فَعَلْتُ فَقَالَ صَدَقَ اللَّهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ اسْقِهِ عَسَلًا فَسَقَاهُ فَبَرَأَ
(صحيح البخاري)

“sungguh seorang datang pada Nabi saw dan berkata saudaraku sakit perut, maka bersabda Rasul saw : Beri ia madu. Lalu ia datang lagi mengadukan saudaranya masih sakit, Rasul saw bersabda : beri ia madu. Lalu ia datang ketiga kalinya (saudaranya masih sakit) dan Rasul saw bersabda : beri ia madu. Orang itu berkata : sudah kuperbuat (dua kali) namun tidak sembuh. Rasul saw bersabda : beri ia madu, sungguh Maha Benar Allah dan jangan kau didustakan oleh perut saudaramu. Maka orang itu memberi saudaranya madu (yg ketiga kali) dan ia sembuh.” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Limpahan Puji Kehadirat Allah Swt, yang telah mengundang kita untuk hadir, hingga turunlah Cahaya Keagungan Ilahi ke bumi Jakarta ini yang telah disiapkan turun dan sampai kepada namaku dan nama kalian di majelis ini untuk dilimpahi Rahmat dan Anugerah Ilahi, untuk mencapai keluhuran dan kedekatan kehadirat Allah agar semakin dekat kepada Allah, semakin dicintai Allah, semakin diampuni Allah, semakin dekat kepada Kasih Sayang Ilahi yang selalu menaungi hamba- hambaNya ditawarkan kepada segenap keturunan Adam yang hidup di atas permukaan bumi yang milik Allah, langit dan bumi yang milik Allah ditawarkan kepadaku dan kepada kalian kedekatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat dari Sang Pemilik dunia dan akhirat.


Dialah Allah, Nama yang paling agung untuk disebut, Nama yang paling berhak dirindukan dan dicintai dari semua nama, Nama Yang Maha Kekal dan Abadi dan Maha Sempurna, Maha Tunggal dengan Kesempurnaan, Maha Abadi dengan segenap keindahan dan kekuasaan, segenap kekuasaan berjatuhan, tinggallah kerajaan Allah,(yaitu) Alam semesta,kekuasaan Allah abadi, sebelum alam semesta ada hingga alam semesta berakhir, sebelum kehidupan ada hingga semua kehidupan yang dicipta dan hingga semua kehidupan berakhir, hingga semua penglihatan tidak lagi melihat, hingga semua bibir tidak lagi bicara, hingga semua pendengaran tidak lagi mendengar, Dialah Yang Maha Ada dan selalu ada sepanjang waktu dan zaman. Dan Allah Swt, Sang Maha Pemelihara alam semesta, Maha Melimpahkan Anugerah, Maha Pemurah dan Maha Dermawan kepada segenap hambaNya. Mereka yang beriman dan tidak beriman masih mendapatkan Kasih Sayang Allah sepanjang kehidupan.


“Huwalladzii anzala minassamaai maa’an lakum minhu syarabun waminhu syajarun wa fiihi tusiimuuna; yumbitu lakum bihizzar a’wazzaituna wannakhila wal a’naaba wamin kulli tsamaraati, inna fii dzalika la ayatalliqaumin yatafakkaruna” QS. An-Nahl : 10 - 11
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Allah Swt berfirman “Dialah yang menurunkan air dari langit untuk kalian”. Diberikan kalimat yang demikian indah “Huwalladzii anzala minassamaai maa anlakum..” diturunkan oleh Allah Swt, air dari langit untuk kalian; QS. An-Nahl : 10. Kalimat kalian ini mencapai seluruh hamba – hambaNya, mereka yang hidup (tentunya keturunan Adam yaitu kita). “minhu syarabun..” dan darinya kalian mendapatkan minum kalian, dengannya muncul sumur – sumur menjaga endapan air di perut bumi, menjaga penyimpanan air di danau dan di sungai – sungai; QS. An-Nahl : 10. Itulah air yang Allah turunkan dari langit untuk mengatur siklus kehidupan kita. “..waminhu syajarun fiihi tusiimuuna” dan juga muncul kehidupan pepohonan dan tumbuhan, dan kalian memberi minum hewan - hewan ternak kalian; QS. An-Nahl : 10. “Yumbitu lakum bihi azzar a’wazzaituna wannakhila wal a’naaba wamin kulli tsamaraati” ditumbuhkan untuk kalian semua ladang dan yang kalian tanam, juga pembuahan semacam zaitun (buah – buah zaitun) dan buah – buah kurma dan buah – buah anggur dan terus tumbuh dipermukaan bumi sebab turunnya air dan juga dari semua jenis tumbuh – tumbuhan lainnya; QS. An-Nahl : 11. “..inna fii dzalika la ayatalliqaumin yatafakkaruna” sungguh dalam hal ini terdapat tanda – tanda bagi mereka yang mau berfikir. Betapa semua yang ada di alam ini diatur dengan pengaturan yang multi sempurna dari Yang Maha Sempurna. Dan kesemua ini tanda Kasih Sayang Illahi.


Hadirin – hadirat, “wasakhkhara lakumullaila wannahara wasysyamsa wal qamara wannujuumu musakhkharatun bi amrihi, inna fidzalika la ayaatilliqaumin ya’qiluuna” Dia Allah juga yang telah menundukkan siang dan malam, matahari dan bulan dan ditundukkan bagi kalian bintang – bintang untuk selalu taat kepada Allah; QS. An-Nahl : 12. “..musakhkharatum bi amrihi” matahari dan bulan selalu berputar dengan porosnya, bumi berputar dengan porosnya, siang dan malam terus berganti dan tidak saling mendahului. Dan demikian matahari berputar dengan porosnya, bulan dengan porosnya hingga manusia mengenal perhitungan Syamsiyah (Masehi) dan Qamariyah (Hijriyyah). Perhitungan tahun, bulan dan perhitungan matahari dengan hijriyyah dan masehi. Manusia mengenal itu dengan munculnya matahari dan bulan yang muncul dengan teratur setiap tahunnya.


Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian Allah katakan, ditundukkan untuk kalian siang dan malam, siang membawa cahaya sinar x yang memperbaiki tubuh kita, malam hari dijadikan bahwa tetumbuhan itu menyerap lebih banyak oksigen dan kelembapan terjaga dengan adanya malam hari. Dan demikian Allah mengatur kehidupan ini. “wasakhkhara lakumullaila wannahara wasysyamsa wal qamara wannujuumu musakhkharatum bi amrihi” dan bintang – bintang menjadi penunjuk yang ditetapkan oleh Allah Swt dan taat kepada perintah Allah; QS. An-Nahl : 12. Seluruh alam semesta ini “..musakhkharatum bi amrihi” semua alam semesta ini, dari seluruh jutaan galaksi yang ada di angkasa raya sampai butiran terkecil sel tubuh kita tunduk kepada perintah Rabbul Alamin, Dialah (Allah) Yang Maha Mengatur.
Hadirin – hadirat, Allah juga berfirman “wahuwalladzi sakhkharalbahra lita’kuluu minhu lahman thariyyan watastakhrijuu minhu hilyatan talbasuunaha” Dia (Allah) juga yang menundukkan lautan untuk kalian, agar kalian mengambil darinya daging – daging yang segar; QS. An-Nahl : 14. “lahman thariyyan” kalian mengambil daging ikan itu yang tidak ada najisnya, walau tidak disembelih tetap suci hukumnya. Demikian indahnya, Allah jadikan lautan itu pembawa Rahmat dan kemudahan bagi kita. “watastakhrijuu minhu hilyatan talbasuunaha” dan kalian bisa mengeluarkan dari laut itu perhiasan – perhiasan yang kalian pakai berupa mutiara dan bentuk perhiasan yang indah lainnya; QS. An-Nahl : 14. Dan Allah jadikan sampai perhiasan kita pun dicipta oleh Allah di muka bumi. Emas, berlian, permata, mutiara dan lain sebagainya dihamparkan oleh Allah dimuka bumi dan disiapkan. Bukan hanya makanan dan minuman saja bahkan perhiasan pun Allah siapkan untuk kehidupan yang demikian sempurnanya. Lebih – lebih lagi, kehidupan akhirat.


Hadirin – hadirat, Sang Maha Dermawan selalu mengenalkan kepada kita Kasih Sayang-Nya. Sampailah kita kepada hadits mulia ini, dimana Rasul saw mengajarkan kepada kita untuk berobat dengan madu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu anh bahwa seorang lelaki datang kepada Rasul saw mengadukan bahwa saudaranya sakit perut. Rasul saw berkata “beri ia minum madu”. Maka orang itu mengikuti saran Sang Nabi Saw. Tidak lama datang lagi untuk yang kedua kalinya orang yang sama bahwa saudaranya belum sembuh, malah makin parah. Maka Rasul saw berkata “beri ia minum madu”. Kali yang ketiga ia datang, “ya Rasulullah masih belum sembuh juga”, Rasul saw berkata “beri ia minum madu”, maka ia berkata “aku sudah perbuat itu 2X tapi tidak sembuh – sembuh”. Rasul saw berkata “shadaqallahu wa kadzaba badhnu akhiika” Allah Maha Benar, jangan benarkan apa – apa yang terjadi pada saudaramu. Maka diberilah minuman madu itu untuk ketiga kalinya maka ia pun sembuh.


Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Allah Swt berfirman didalam QS. An-Nahl yang diwahyukan kepada lebah “wa awhaa Rabbuka illannahli anittakhidzii minal jibali buyutan waminasysyajari wa mimma ya’risyuuna; tsumma kulii min kullisysyamarati faslukii subula Rabbiki dzululan yakhruju mim buthuuniha syarabun mukhtalifun alwaanuhu, fiihi syifaa’ullinnaas, inna fidzalika la ayatalliqaumin yatafakkarun” QS. An-Nahl : 68 – 69


“wa awhaa Rabbuka illa annahli” Dan Tuhanmu telah mewahyukan (memerintahkan) kepada lebah (tawon); “anittakhidzii minal jibali buyutan” agar mengambil rumah – rumahnya (sarang- sarangnya) di gunung – gunung, jangan di tempat manusia. jadikanlah gunung – gunung itu rumah kalian, wahai lebah dan di pohon – pohon dan kalian boleh bersarang juga pada bangunan yang disiapkan manusia untuk mengambil madu kalian. Indahnya perintah Allah kepada lebah untuk berbakti kepada manusia. Allah berkata “anittakhidzii minal jibali buyutan, waminassyajari, wamimmaa ya’risyuun” wahai lebah, kalian tinggal di gunung – gunung atau di pohon – pohon, atau ditempat yang dibangun manusia untuk kalian”, sudah diperintah oleh Allah.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
“Tsumma kulii min kullisysyamarati” lantas kalian (lebah) boleh makan semua buah – buahan dan bunga – bunga dari segala jenis. “Faslukii subula Rabbiki dzululan” jalankan perintah – perintah Tuhanmu yang memilikimu wahai lebah dengan tunduk dan patuh, maka lebah itu pun tunduk dan patuh. Ia hanya makan daripada sari buah – buahan. “Yakhruju mim buthuuniha syarabun mukhtalifun alwaanuhu” keluarlah dari perut lebah itu minuman atau cairan yang berbeda warna. Yaitu ada madu yang putih, madu kuning dan madu yang agak gelap menghitam. Mempunyai cairan yang beragam warna. “Mukhtalifun alwaanuhu fiihi syifaullinnaas” madu itu cairan yang keluar dari lebah yang mengandung penyembuh bagi manusia. “Inna fidzalika la ayatalliqaumin yatafakkarun” didalam kejadian itu terdapat tanda – tanda kebesaran Allah bagi mereka yang mau berfikir.
Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari mensyarahkan hadits yang kita baca tadi bahwa berkaitan dengan ayat ini. Rasul saw berkata “shadaqallahu wa kadzaba badhnu akhi”, Allah sudah berfirman bahwa pada cairan yang keluar dari lebah itu terdapat penyembuhan. “Syifaulinnaas” (penyembuh bagi manusia), maka Rasul Saw berkata “shadaqallahu wa kadzaba badhnu akhiik” Allah Yang Maha Benar, jangan percaya pada penyakit saudaramu. Beri terus minum madu, minum madu tambah sakit perutnya, Rasul saw berkata “beri lagi minum madu, beri lagi”. Al Imam Ibn Hajar menjelaskan bahwa didalam riwayat thibbun nabawiy (pengobatan – pengobatan Nabi Saw) madu itu mempunyai 1 kemampuan untuk membunuh bakteri – bakteri dan virus. Semakin dahsyat bakteri dan virus yang menyerang seseorang, semakin ia butuh madu lebih banyak. Oleh sebab itu Rasul saw perintahkan untuk minum lagi, lagi. Maksudnya dosisnya belum cukup untuk penyakit saudaramu, tambahkan lagi madu sampai cukup dan sembuh. Demikian Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari. 


Dan para ilmuwan kita menemukan 1 keajaiban pada lebah yang memproduksi madu,. Banyak hewan – hewan yang ada di permukaan bumi memang dicipta dan diperintah oleh Allah untuk memproduksi lebih dari produksinya, lebih dari kebutuhannya karena itu disiapkan untuk manusia. Lebah memproduksi madunya lebih banyak dari kebutuhannya, jauh lebih banyak dari kebutuhannya. Kebutuhan lebah tidak seberapa tetapi ia memproduksinya sangat banyak karena sudah diperintah oleh Allah. Demikian pula ayam, demikian pula sapi. Yang ayam itu bertelur hampir setiap hari 1 butir dan itu tidak dibutuhkannya, demikianlah sapi yang memproduksi susunya lebih banyak dari kebutuhan anak – anaknya. Demikian indahnya pengaturan dan kesempurnaan ekosistem yang diatur oleh Yang Maha Tunggal dan Maha Abadi.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Para ilmuwan juga menemukan bahwa kesempurnaan lebah yang betul – betul diatur oleh Allah itu, mereka menjaga kelembapan madu karena diperintah oleh Allah untuk berkhidmah kepada keturunan Adam dengan madunya maka mereka pun menjaganya walaupun berlebihan yang disimpan di sarangnya. Bahkan suhunya pun dijaganya oleh para lebah itu. Dikatakan oleh para ilmuwan kita, Prof. Dr. Harun Yahya bahwa pada sarang – sarang madu itu ada pintu – pintunya untuk lebah – lebah yang tugasnya menjaga agar suhunya tetap 35°Celcius selama 10 bulan. Apabila cuaca didalam sarang itu dingin maka mereka mengibaskan sayapnya ke arah luar, agar udara yang ada disarang itu keluar sehingga suhu panasnya naik hingga 35°Celcius, namun sebaliknya apabila cuaca didalam sarang panas maka ia mengibaskan sayapnya menghadap ke arah dalam, agar udara masuk kedalam sarang dan suhu terjaga agar tetap 35°Celcius.


Demikian dahsyatnya lebah dengan perintah Rabbul Alamin Jalla Wa Alla dan ternyata juga pada lebah itu juga terdapat suatu zat yang sudah dijelaskan oleh Allah. “Yakhruju mim buthuuniha syarabun mukhtalifun alwaanuhu” cairan yang keluar dari lebah itu beraneka warna; QS. An-Nahl : 69. Bukan hanya madu tapi ada cairan lain yang dikenal dengan sebutan “propolis”. Propolis adalah salah satu antibiotik terkuat yang ada di muka bumi. Munculnya dari lebah bukan berupa madu tapi ia merupakan cairan antibiotik yang diproduksi oleh lebah untuk menjaga sarang –sarang tawonnya. Apabila datang bakteri – bakteri yang merusak maka lebah itu mengeluarkan cairan propolisnya dan membunuh bakteri. Dan ternyata propolis itu bisa diambil oleh manusia dijadikan antibiotik yang paling kuat dan tidak membawa efek samping bagi manusia. “Fiihi syifaullinnaas” pada cairan yang keluar darinya itu (lebah) membawa kesembuhan bagi manusia. Dan hal itu semua sudah diketahui oleh Sayyidina Muhammad Saw. Beliau sudah memahaminya, seraya berkata “shadaqallahu wa kadzaba badhnu akhiik” Allah Yang Maha Benar, jangan percaya pada penyakit saudaramu yang sakit perut makin sakit perutnya, beri madu lagi, beri minuman lagi dari lebah. Inilah karena beliau mengetahui betul kandungan – kandungan yang ada pada cairan – cairan yang keluar dari lebah, pada cairan yang keluar dari serangga, apa yang ada di sayap seekor lalat. Kesemuanya sudah diketahui dengan jelas oleh Nabiyyuna Muhammad Saw. Semakin kita ikuti sunnah semakin sempurna kehidupan kita, semakin dalam kesehatan wal afiah.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Inilah Nabi agung, idolaku dan idola kalian dan beruntunglah orang yang mencintai beliau saw. Sebagaimana sabda beliau saw “almar u ma’a man ahab” seseorang bersama dengan orang yang ia cintai, demikian riwayat Shahih Bukhari. Dan hadirin – hadirat, hadits ini memanggil semua jiwa untuk mau atau tidaknya mereka bersama Sayyidina Muhammad Saw, maukah kita bersama Rasulullah Saw? Hadits ini telah membuka gerbang luas agar kita bersama Muhammad Rasulullah Saw. Cintailah Nabi kita Muhammad Saw.


Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Manusia yang paling sempurna, manusia yang paling indah untuk dipanut, ialah Sayyidina Muhammad Saw. Berkata Abu Hurairah radiyallahu anh ketika sedang duduk memandang wajah Sang Nabi saw seraya berkata “ya Rasulullah, idza ra;aynaaka raqqat quluubinaa” ya Rasulullah jika kami memandang wajahmu terangkat jiwa kamikepada kekhusyu’an. Hadirin – hadirat, bisakah kau bayangkan memandang satu wajah yang membuatmu semakin khusyu’..?. Itulah wajah seindah – indah ciptaan Allah yaitu Sayyidina Muhammad Saw.


Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Rasul saw bersabda, diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad “alaa unabbi’ukum bi khiyarikum? Humul ladzina idza ru-uu dzukirallah”maukah kalian kuberitahu orang – orang yang mulia diantara kalian? Orang yang jika kalian lihat wajahnya, membuat kalian ingat kepada Allah dan berdzikir kepada Allah. Merekalah para shalihin, kalau para shalihin saja demikian maka lebih – lebih pemimpin para shalihin yaitu Sayyidina Muhammad Saw. Hadirin, demikian keadaan para sahabat. Mereka (radiyallahu anhum) bukan ahlul ghaflah, mereka ahlul khusyu’ yang siang harinya penuh ibadah, malam hari penuh ibadah, siang dan malamnya penuh sujud, tasbih, dzikir dan munajat. Semua itu mereka dalam puncak kekhusyu’an, dan kekhusyu’an mereka ternyata lebih memuncak ketika memandang wajah Sayyidina Muhammad Saw.


Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, berkata Anas bin Malik “ma ra aina mandharan, a’jab min wajhinnabiy Saw” belum pernah kami melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah Sayyidina Muhammad Saw. Demikian berkata Sayyidina Anas bin Malik. Hadirin – hadirat, pemandangan yang menakjubkan berupa matahari, bulan, lautan, dan lainnya. Seraya berkata “tidak ada pemandangan yang lebih menakjubkan yang kami temukan melebihi dari wajah Sayyidina Muhammad Saw". Wajah yang paling berhak dicintai dari semua wajah, wajah yang paling ramah, wajah yang paling berkasih sayang dari semua makhluknya Allah, yang Allah katakan “wa innaka la’alaa khuluqin adhim, sungguh kau (Nabi Saw) berada pada akhlak yang agung” (QS. Al Qalam : 4). (juga Allah berfirman bahwa sang Nabi saw adalah) Sirajan Munira (pelita yang terang – benderang) Sayyidina Muhammad Saw.
Hingga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad, salah seorang sahabat ketika wafatnya Nabi saw seraya berdoa kepada Allah “Allahumma khudz bashari hatta..” wahai Allah butakan mataku, aku tidak mau melihat lagi setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Maka ia dibutakan oleh Allah. Ia dijenguk oleh para sahabat diantaranya Ibn Abbas dan Ibn Umar radiyallahu anhuma “kenapa kau ini buta?”, ia berkata “aku berdoa minta buta kepada Allah”, “kenapa?”,“aku tidak butuh melihat lagi setelah wajah Sayyiidina Muhammad Saw tidak ada lagi dimuka bumi”. Demikian hadirin – hadirat, seraya berkata “tidak berarti bagiku pemandangan dari kijang – kijang indah dan semua yang ada di alam ini dan kehidupan dunia ini tidak berarti kalau aku sudah tidak lagi melihat wajah Nabiku Muhammad Saw”


Inilah cinta, inilah mahabbah, dan Rasul saw telah bersabda “aku merindukan saudara – saudaraku”. Siapa mereka? Sebagaimana riwayat Shahih Muslim “humul ladziin ya’isyuuna ba’di, yawaddu ahaduhum law ra’ani bi ahlihi wamaalihi” mereka yang hidup setelah aku wafat sangat ingin melihat wajahku dari segala – galanya


Hadirin, semoga aku dan kalian berada didalam kelompok yang dirindukan Rasulullah Saw yang airmata beliau menangis, mendengar dari Allah, gema dari matnya yang rindu setelah ia wafat dan sangat ingin melihat wajah beliau. Semoga namaku disampaikan kehadirat Sang Nabi saw dan juga nama - nama kalian, nama orang yang merindukan jumpa Sang Nabi Saw dan dirindukan oleh Sang Nabi saw. Mereka yang kurindukan itu, kata Rasul saw. Mereka yang hidup setelah aku wafat namun mereka sangat ingin melihat wajahku lebih dari harta dan keluarganya. Rabbiy Rabbiy jadikan kami orang – orang yang dirindukan oleh Rasulullah Saw. 


Ya Rahman Ya Rahim, muliakan kami demi Keagungan Anugerah-Mu siang dan malam yang tiada pernah terputus dalam kehidupan kami, dalam terbit dan terbenamnya matahari. Pastikan kami selalu dalam keridhoan-Mu, pastikan kami selalu dalam Cahaya Pengampunan-Mu, pastikan kami selalu dalam Cahaya Kebahagiaan-Mu, singkirkan dari kami segala musibah, singkirkan dari kami segala kesulitan, gantikan dengan kemudahan. Wahai Yang Maha Memudahkan segala yang sulit, mudahkan untuk kami segala yang sulit dan mudahkan bagi kami yang telah mudah dan tambahkan untuk kami.
Rabbiy, jangan Kau siksa kami jika kami berbuat salah dan dosa, maafkan segala dosa – dosa kami, jangan bebani kami dengan beban yang kami tidak mampu mengangkatnya. Wahai Allah, dan kasih sayangilah kami, dan maafkanlah kami, ampunilah kami, kami titipkan seluruh dosa kami pada gerbang pengampunan-Mu. Kami titipkan usia kami pada gerbang Pengampunan-Mu, kami titipkan sisa usia kami pada gerbang Pengampunan-Mu, kami titipkan akhir hidup kami pada gerbang kerinduan pada-Mu, pastikan kami wafat kelak dalam puncak kerinduan kehadirat-Mu. “Man ahabba liqa’i ahbabtu liqa’ahu” barangsiapa yang rindu jumpa dengan-Ku, Aku pun rindu jumpa dengannya. Pastikan kami melewati hari – hari kami semakin rindu pada-Mu, semakin jauh dari dosa – dosa, semakin dekat kepada pahala, limpahkan kami kemakmuran dunia akhirat.

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah..
Faquuluuu jamii'an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah


Ya Dzaljalali wal ikram, Ya Dzaththauli wal in’am. Tidak lupa kita mendoakan saudara – saudara kita yang terjebak dalam narkotika, yang terjebak dalam perzinahan, perjudian dan segala kerusakan aqidah agar Allah Swt melimpahkan kepada mereka hidayah. Ya Rahman Ya Rahim, kita lanjutkan dengan doa bersama untuk mendoakan seluruh muslimin – muslimat dan munculnya pemimpin yang membawa kedamaian, memrangi kedhaliman, menindas kelemahan, membela shalihin. Amin Allahumma amin. Tafadhol masykura.
Hadirin –hadrirat yang dimuliakan Allah,
Muncul pertanyaan kepada saya tentang hukumnya mengikuti tarekat. Ini banyak sekali ditanyakan. Tentunya tarekat itu mengambil dari kaliamat thariqah yaitu metode untuk mencapai kekhusyu’an dan kedekatan kepada Allah Swt. Jadi tarekat itu ada yang bathil dan ada yang haq. Ada yang berjalan dengan kebenaran, ada yang berjalan dengan kesesatan maka pandai – pandailah memilih. Mengenai yang dijalankan di sebagian besar Indonesia ini adalah Thariqah Alawiyyah yaitu thariqah yang para habaib dan para ulama kita. Thariqah Alawiyyah dinamakan induk dari semua thariqah. Karena thariqah ini memadukan haqiqah dan syari’ah. Hakekat dan syari’at dipadu dalam thariqah alawiyyah. Hingga yang diajarkan didalam thariqah alawiyyah adalah sesuai dengan sunnah Sang Nabi saw. Apa diantaranya ajaran – ajaran thariqah alawiyyah? Diantaranya Ratib Al Aththas, Ratib Al Haddad, kesemuanya dari hadits – hadits Rasulullah Saw. Thariqah Alawiyyah tidak ada hal yang keluar dari sunnah Sang Nabi saw, oleh sebab itu disebut thariqah induk dari semua thariqah karena menyatukan syari’ah dan haqiqah. Hakekat dan syari’ah dipadu menjadi satu dalam tuntunan thariqah alawiyyah.


Berbeda dengan sebagian thariqah yang hanya mengambil ma’rifah dan haqiqah saja tanpa memperdulikan syari’atnya. Tentunya hal itu baik, akan tetapi kalau ia meninggalkan syari’ah secara keseluruhan tentunya bertentangan dengan tuntunan Sang Nabi saw. Karena Sang Nabi saw dibangkitkan untuk mengajarkan syari’at dan hakekat. Kesemuanya diajarkan. Syari’at adalah hukum – hukum dalam kehidupan kita, hal – hal yang bersifat jasadiyyah seperti hukum ibadah, hukum tijarah, hukum dagang, hukum nikah. Kalau haqiqah, ma’rifah adalah ilmu yang mendekatkan kita dengan lebih khusyu’ kepada Allah Swt. Sekali lagi pemahaman tentang Allah itu dipadu dalam thariqah alawiyyah. Oleh sebab itu para habaib kita berjalan dengan thariqah alawiyyah, seperti banyak sekali Guru Mulia kita Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidh juga Guru Mulia kita Al Habib Zein bin Ibrahim bin Smeith, Madinah, Guru Mulia kita Al Habib Salim bin Abdullah Syatiri, Tarim, Guru Mulia Kita Syekh Muhammad bin Alwi Al Maliki, dan juga para Kyai kita KH. Abdullah Syafi’ie, Muallim KH. Syafi’i Hadzami, KH. Nawawi Al Banteni alaihim rahmatullah ajmain, mereka didalam thariqah alawiyyah. Demikian para ulama dan habaib terdahulu. Luarbatang, kwitang, empang bogor dan lain sebagainya. Kesemuanya didalam thariqah alawiyyah. Mengikuti thariqah yang lainnya boleh – boleh saja, kalau tidak bertentangan dengan syari’ah Nabi Muhammad Saw, kalau bertentangan jangan diikuti. Demikian hadirin –hadirat yang dimuliakan Allah, jawaban dari saya dan kita lanjutkan dengan doa penutup dengan kalimat talqin dari Guru kita fadhilatul Sayyid Adda’iillaAllah Al Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Aththas. Tafadhol masykura 


Washollallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.