Senin, 26 Januari 2015

nyeri punggung (lbp) dan penanganannya


Nyeri punggung bawah dapat mempengaruhi produktivitas manusia. Dalam masyarakat keluhan nyeri punggung bawah tidak mengenal umur, jenis kelamin ataupun status sosial. Gangguan yang terjadi akibat nyeri punggung bawah adanya nyeri tekan pada regio lumbal, spasme otot, keterbatasan gerak dan penurunan kekuatan otot, sehingga dapat menimbulkan keterbatasan fungsi yaitu gangguan saat bangun dari keadaan duduk, saat membungkuk, saat duduk atau berdiri lama dan berjalan ( Priguna Sidharta, 1984 )
Salah satu penyakit degeneratif adalah spondylosis lumbal yang merupakan OA pada vertebra lumbal. Spondylosis lumbal telah diakui sebagai suatu kesatuan radiology selama bertahun-tahun dengan berbagai nama seperti OA lumbal, osteophyrosis, arthrosis deformans, arthritis degeneratif dan lain-lain. Proses degeneratif dengan memperlihatkan adanya osteofit pada gambaran radiologis ini, sering terjadi pada VL4-5 dan VL5-S1 (Melvin, 1989).
Secara klinis spondylosis lumbal ada yang simtomatis dan ada pula yang asimtomatis. Spondylosis lumbal asimtomatis berarti bahwa secara radiology saja terlihat tanda-tanda, tetepi tidak menimbulkan keluhan. Sedangkan spondylosis simtomatis berarti secara radiology terlihat tanda-tanda spondylosis dan timbul gejala-gejala sesuai regio vertebralis yang terkena.
            Kebanyakan kasus nyeri punggung bawah berhubungan dengan beberapa kelainan discus intervertebralis pada dua tingkat tulang belakang terendah ( L4/5 dan L5/S1 ). Pada proses penuaan yang normal discus berangsur-angsur mongering, nucleus pulposus berubah dari gelembung yang kencang dan bergelatin menjadi struktur yang kering dan kecoklatan dan pada annulus fibrosus terbentuk fisura yng sejajar dengan lempeng akhir vertebra yang sebagian besar mengarah ke posterior. Herniasi inti dari bahan inti akan
melewati annulus kesemua arah dan sering melubangi lempeng akhir vertebra, karena itu degenerasi discus merupakan ekspresi yang biasa pada proses penuaan. Herniasi yang kronis menyebabkan pembentukan tulang yang reakti di sekitar nodus Schmorl dan di tempat penonjolan discus pada tepi vertebra. Pipihan discus dan osteofit tepi dengan mudah terlifat pada sinar X dan di sebut sebagai Spondilosis ( Apley, 1996 )
Spondilosis lumbal adalah keadaan ditemukan progresif discus intervertebralis , dimana rasa nyeri bersal dari osteoarthritis dan radikularis ( Sutanto, 1994). Degenerasi ini timbul karena di pengaruhi oleh factor bertambahnya usia. Penderita spondilosis sering di temukan pada usia lebih dari 30 tahun dan sering pada usia 45 tahun. Insiden, wanita lebih mempunyai resiko lebih besar di bandingkan laki-laki ( Thomas, 1991)
Spondylosis lumbal ini , biasanya sering ditemukan pada seorang yang berusia lebih dari 40 tahun. Dari gambaran radiology terbukti bahwa kurang lebih setengah dari jumlah penduduk berusia diatas 50 tahun  terdapat tanda-tanda adanya spondylosis lumbal dan 75% dari jumlah tersebut berusia di atas 65 tahun . Dari jumlah tersebut yang menunjukkan adanya gejala-gejala ( simtomatis) kira-kira hanya 5-10 % nya saja. Adapun onset dari spondylosis lumbal, umumnya insidious ( Galli, 1989).
Pecahnya discus yang berulang kali menyebabkan degenerasi cepat dengan tanda spondilosis yang muncul pada umur yang lebih muda dari biasanya. Apakah degenerasi discus menyebabkan nyeri ? pertanyaan ini tidak dapat di jawab dengan mudah. Seorang hanya dapat menduga bahwa degenerasi discus mengimplikasikan adanya perubahan lain,beberapa diantaranya dapat menyebabkan nyeri ; misal, sendi permukaan yang tak pada tempatnya,arthritis sendi permukaan, ketidak stabilan vertebra dan stenosis saluran akar atau stenosis tulang belakang. Semua ini dapat juga menyebabkan nyeri alih atau sciatica. Dan beberapa diantaranya dapat menyebabkan iritasi akar dan gejala radikularis ( Apley, 1994 )
Tulang belakang bekerja melawan gravitasi saat menyangga tubuh waktu berdiri, duduk atau semua aktivitas sehari-hari seperti membungkuk,jongkok,dan aktivitas lainya, dan bila salah satu komponen tulang belakang mengalami gangguan maka fungsinya juga terganggu sehingga memerlukan penambahan terutama untuk intervensi Fisioterapi. Masalah yang timbul akibat nyeri yaitu penurunan lingkup gerak sendi lumbal yang menimbulkan gangguaan saat membungkuk, membawa beban, duduk lama dan gangguan lainnya, dapat menggunakan metode William Fleksion Exercise meliputi penguluran otot ekstensor daerah punggung dan penguatan otot-otot daerah abdomen dan gluteus maksimus sehingga ketegangan otot dapat berkuran saat di ulur sehingga nyeri berkurang ( Basmajian, 1978 ). Dan untuk modalitas Fisioterapi untuk mengurangi nyeri punggung bawah karena spondilosis dapat diberikan modalitas Fisioterapi berupa Short Wave Diatermy untuk mengurangi nyeri ( Thomson, 1991)
Namum demikian tidak salahnya bila pada kesempatan ini penulis membahas tentang kondisi spondylosis lumbal, khususnya yang bersifat simtomatis. Dimana gejala-gejala yang timbul pada kondisi ini memerlukan penanganan medis dan paramedis, termasuk di dalamnya peran Fisioterapi dengan modalitas yang ada.
Salah satu cara penanganan  sakit pinggang ini adalah dengan cara memakai alat penyangga tulang belakang (korset ortopedi).
Korset ini berfungsi:
1. Terbukti mengurangi nyeri pinggang seperti HNP (Hernia Nucleus Pulposus), Ischialgia (Penjepitan syaraf Isciadicus).
2. Memberikan proteksi dan support yang maksimal pada pinggang sehingga dapat mengurangi nyeri akibat LBP / HNP.
3. Sebagai alat bantu untuk menjaga kestabilan tulang pinggang pada saat beraktivitas.
4. Bisa Mengecilkan perut.

Sfesifikasi Alat:
1. Menggunakan bahan elastis, perekat dan 4 plat alumunium / polypropylene (tergantung permintaan).
2. Di desain sesuai anatomi tulang belakang manusia
3. Memiliki lengkung pinggang yang anatomis
4. Warna coklat
7. Ukuran korset: Silakan ukur lingkaran pinggang anda tepat diatas pusar anda, kemudian cocokkan dengan ukuran dibawah ini
- Ukuran S = 75-80 cm
- Ukuran M = 81-85 cm
- Ukuran L = 86-90 cm
- Ukuran XL = 91-95 cm
- Ukuran XXL = 96-100 cm
- Ukuran XXXL = 101-105 cm

Harga Korset Ortopedi  Rp. 205.000

Harga TLSO Rp. 400.000,-
Contoh Korset Orthopedi Penyangga Punggung
Korset Ortho

Contoh Korset TLSO:
Korset TLSO

Untuk melihat semua daftar alat kesehatan dan spesifikasi harga, silahkan masuk ke www.orthoshoping.com
Untuk pemesanan alat dapat menghubungi:
Nugroho : 085 867 374 002 (sms ok)

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.