Senin, 18 Juli 2016

Sifat Fisik Mineral

Sifat Fisik Mineral


Sifat fisik mineral adalah sifat-sifat fisik yang dimiliki oleh satu mineral yang dapat digunakan untuk mengenali satu jenis mineral. Sifat fisik mineral berupa warna, cerat, kilap, bentuk kristal, pecahan, belahan, kekerasan. Sifat fisik mineral ini merupakan sifat yang khas dan unik karena sifat ini merupakan ekspresi dari komponen penyusun dari mineral.


1. Warna (Colour)
Bila suatu permukaan mineral dikenai cahaya, maka cahaya tersebut sebagian akan diserap dan dipantulkan, gelombang cahaya yang direfleksikan oleh mineral kemudian diterima oleh mata adalah warna yang dimiliki oleh mineral. Warna merupakan sifat fisik mineral yang dapat dengan langsung teramati, namun warna tidak sepenuhnya mencerminkan warna asli dari mineral. Karena warna mineral tidak hanya berasal dari mineral itu sendiri namun juga dapat berasal dari warna zat lain yang mengotori mineral. Warna asli mineral disebut dengan warna idiochromatic sedangkan warna yang dihasilkan oleh adanya pengotor disebut warna allochromaatic.


Warna idiochromatic dihasilkan oleh warna materi penyusun mineral, contoh warna idiochromatic pada mineral adalah sebagai berikut : sulfur memiliki warna kuning, magnetit berwarna hitam, hornblende berwarna cokelat kehitaman, corundum berwarna merah muda, emas berwarna kuning. Sedangkan warna allochromatic ini disebabkan oleh adanya zat lain yang mengotori mineral yang mengakibatkan warnanya berbeda dengan mineral pada kondisi murni. Warna allochromatic ini dapat berubah-ubah meskipun pada mineral yang sama, contohnya pada kuarsa. Kuarsa warnanya tidak selalu putih transparan, kuarsa dapat berwarna merah muda, ungu, ataupun cokelat kehitaman. Jasper merupakan SiO2 yang dapat berwarna hijau, merah, ataupun warna lain karena tercampur dengan hematit ataupun limonit.





idiochromatic (sulfur)





allochromatic (Amethys)

Warna tidak selamanya menjadi indikator atau karakteristik khas dari satu mineral. Karena warna tidak selamanya menunjukkan warna asli mineral. Warna mineral di alam dipengaruhi oleh komposisi kimia penyusun mineral dan pengotor pada mineral.


2. Kilap


Kilap adalah sifat fisik mineral yang berupa pantulan cahaya yang dimiliki mineral. Intensitas cahaya yang dipantulkan dari mineral sangat berhubungan dengan nilai indeks bias yang dimiliki oleh mineral. Nilai indeks bias satu mineral tidak dapat diketahui dengan pengamatan mata telanjang, namun harus dengan menggunakan alat bantu. Oleh karena itu dalam pengamatan kilap dengan menggunakan mata telanjang hanya dengan menggunakan parameter kemiripan kilap mineral dengan kilap yang dimiliki benda lain. Secara umum kilap dibagi menjadi kilap logam dan non logam. Kilap logam adalah kilap mineral yang kilapnya mirip dengan kilap yang dimiliki oleh logam dan umumnya kilap ini dijumpai pada mineral-mineral yang mengandung unsur logam yang dominan. Contohnya adalah galena (PbS), pirit (FeS2), magnetit (Fe3O4 ), kalkopirit (Cu FeS2 ).





kilap logam pada kalkopirit







Kilap non logam dibagi lagi menjadi beberapa kelompok antaralain :


a. Kilap sutra, contohnya asbes, gipsum, serpentin


b. Kilap intan contohnya intan


c. Kilap kaca contohnya kuarsa, kalsit, plagioklas


d. Kilap damar contohnya sphalerit (ZnS), monasit (Ce, La, Y, Th)PO4


e. Kilap mutiara contohnya pada dolomit, dan bukit


f. Kilap lemak contohnya pada talk, dan alit


g. Kilap tanah contohnya pada bauksit.





kilap pada serpentin

3. Cerat


Cerat adalah warna mineral pada kondisi bubuk, warna cerat bersifat tetap daripada warna mineral. Karena meskipun terdapat pengotor pada mineral yang menyebabkan perubahan warna mineral, jumlah pengotor itu sangatlah sedikit sehingga tidak mampu mengubah warna dari cerat satu mineral. warna cerat dapat lebih diandalkan untuk mengenali satu mineral. Warna cerat tidak selamanya sama dengan warna mineral, misalnya pada hematit, warna mineralnya merah cokelat atau abu-abu, namun warna ceratnya selalu merah cokelat. Augit berwarna hitam, namun ceratnya berwarna abu-abu hijau. Biotit berwarna cokelat amin ceratnya tidak berwarna. Ortoklas berwarna putih, abu-abu atau merah jambu, namun ceratnya berwarna putih.





cerat pada sulfur

4. Pecahan


Pecahan merupakan kemampuan satu mineral untuk membelah tidak melalui bidang belahnya. Pecahan tidak mengekspresikan susunan atom di dalam kristal satu mineral. pecahan dibagi menjadi :


a. Concloidal, merupakan pecahan yang bentuknya berupa gelombang lengkung yang mirip dengan pecahan pada kaca ataupun botol. Contoh mineral yang memiliki pecahan concloidal adalah kuarsa, obsidian, kalkosit.





concloidal pada obsidian







b. Splintery=fibrous yaitu pecahan yang bentuknya berserat seperti jarum. Contohnya adalah pecahan pada augit, hipersten, asbes.





asbes

c. Uneven=irregular adalah pecahan dengan permukaan kasar tidak beratuan. Contohnya pada irit, kalkopirit, garnet dan hematit.





hematit

d. Hackly, yaitu pecahan yang runcing-runcing tidak teratur dan kasar. Contohnya pecahan pada perak dan tembaga.





native Cu


5. Belahan


Belahan adalah kemampuan satu mineral untuk membelah pada bidang belahnya, ini dicirikan dengan bidang belahan yang rata dan licin serta beraturan. Dalam pengamatan belahan akan nampak jelas pada pengamatan dibawah mikroskop. Karena bidang belah mineral hanya nampak sebagai garis-garis yang beraturan pada mineral. bidang belah mineral ini mencerminkan struktur atom yang ada di dalam susunan kristal mineral. berdasarkan banyaknya bidang belahan, belahan dibagi menjadi :

a. Belahan satu arah, kenampakannya berupa adanya garis-garis satu arah pada mineral. biasanya belahan ini ditemukan pada mineral yang berbentuk lembaran seperti muskovit dan biotit.

b. Belahan dua arah, kenampakan ini akan nampak sangat jelas dibawah mikroskop dengan kenampakan berupa garis-garis cengeng dua arah orientasi. Contohnya pada piroksen, hornblende dan feldspar.

c. Belahan tiga arah adalah belahan yang memiliki bidang belah tiga arah dan saling tegak lurus. Contohnya pada halit, pirit dan galena.

6. Kekerasa
Kekerasan mineral adalah daya tahan mineral terhadap goresan (scratching). Penentuan kekerasan relativ mineral ialah dengan cara menggoreskan permukaan mineral yang rata pada mineral standar dari skala Mohs yang sudah diketahui kekerasannya.

Skala kekerasan relativ mineral dari Mohs :

1. Talc Mg3Si4O10(OH)2
2. Gypsum CaSO22H2O
3. Calcite CaCO3
4. Fluorite CaF2
5. Apatite Ca5(PO4)3F
6. Orthoclas K(AlSi3O8)
7. Quartz SiO2
8. Topaz Al2SiO4(FOH)2
9. Corondum Al2O3
10. Diamond C

Misal suatu mineral di gores dengan kalsit (H = 3) ternyata mineral itu tidak tergores, tetapi dapat tergores oleh Fluorite (H = 4), maka mineral tersebut mempunyai kekerasan antara 3 dan 4. Dapat pula penentuan kekerasan relativ mineral dengan mempergunakan alat-alat sederhana yang sering terdapat di sekitar kita. Misalnya :


- Kuku jari manusia H = 2,5


- Kawat tembaga H = 3


- Pecahan kaca H = 5,5


- Pisau baja H = 5,5


- Kikir baja H = 6,5


- Lempeng baja H = 7


Bila mana suatu mineral tidak tergores oleh kuku jari manusia tetapi oleh kawat tembaga, maka mineral tersebut mempunyai kekerasan antara 2,5 dan 3.



7. Daya Tahan Terhadap Pukulan ( Tenacity )


Tenacity adalah suatu daya tahan mineral terhadap pemecahan, pembengkokan, penghancuran, dan pemotongan. Macam-macam tenacity :


a. Brittle : Apabila mineral mudah hancur menjadi tepung halus


Contoh :- Calcite


- Quartz


- Marcasite


- Hematite


b. Sectile : Apabila mineral mudah terpotong pisau dengan tidak berkurang menjadi tepung.


Contoh :- Gypsum


- Ceragyrite


c. Malleable : Apabila mineral ditempa dengan palu akan menjadi pipih.


Contoh :- Gold


- Copper


d. Ductile : Dapat di tarik / diulur seperti kawat. Apabila mineral ditarik dapat bertambah panjang dan aopabila dilepaskan maka mineral akan kembali seperti semula.


Contoh :- Silve - Cerrargyrite


- Copper - Olivine


e. Flexible : Apabila mineral dapat dilengkungkan kemana-mana dengan mudah.


Contoh :- Talc - Mika


- Gypsum


f. Elastic : Dapat merenggang bila ditarik dan kembali seperti semula bila dilepaskan.


Contoh :- Muscovite


- Hematite tipis



8. Berat Jenis ( Specific Gravity )
Banyak mineral-mineral yang mempunyai sifat fisis yang banyak persamaannya, dapat dibedakan dari berat jenisnya. Seperti pada colestite SrSO4 dengan berat jenis 3,95 dapat dengan mudah dibedakan dengan barit yang mempunyai berat jenis 4,5 salah satu penentuan berat jenis dengan teliti dapat menggunakan pycnometer. Berat jenis adalah angka perbandingan antara berat suatu mineral di bandingkan dengan berat air pada volume yang sama.

9. Sifat Kemagnetan
Pada acara praktikum mineral fisik ini adalah sifat dari mineral yang diselidiki apakah paramagnetit ( magnetit ) ataukah diamagnetit (non magnetit ).

a. Paramagnetit (magnetit) adalah mineral tersebut mempunyai gaya tarik terhadap magnet.

b. Diamagnetit (non magnetit) adalah mineral tersebut mempunyai gaya tolak terhadap magnet.

10. Derajat ketransparanan
Sifat transparan dari suatu mineral tergantung kepada kemampuan mineral tersebut men-transmit sinar cahaya ( berkas sinar ). Sesuai dengan itu, variasi jenis mineral dapat dibedakan atas :


a. Opaque mineral : Mineral yang tidak tembus cahaya meskipun dalam bentuk helaian yang amat tipis. Mineral-mineral ini permukaannya mempunyai kilauan metalik dan meninggalkan berkas hitam atau gelap (logam-logam mulia,belerang,ferric oksida )


b. Transparant mineral : Mineral-mineral yang tembus pandang seperti kaca biasa ( batu-batu kristal dan ieland spar )


c. Translusent mineral : mineral yang tembus cahaya tetapi tidak tembus pandang seperti kaca frosted ( Calsedon, Gypsum, dan kadang-kadang Opal ).


d. Mineral-mineral yang tidak tembus pandang (non transparent) dalam bentuk pecahan-pecahan (fragmen) tetapi tembus cahaya pada lapisan yang tipis (feldspar)

11. Perawakan Kristal (Crystal Habit)
Perawakan kristal (crystal habit), bentuk khas mineral ditentukan oleh bidang yang membangunnya, termasuk bentuk dan ukuran relatif bidang-bidang tersebut. Kita perlu mengenal beberapa perawakan kristal yang terdapat pada jenis mineral tertentu, sehingga perawakan kristal dapat dipakai untuk penentuan jenis mineral, walaupun perawakan kristal bukan merupakan ciri tetap mineral. Contoh : Mika selalu menunjukkan perawakan kristal yang mendaun (foliated), Amphibol selalu menunjukan perawakan kristal meniang (columnar). Perawakan kristal dibedakan menjadi 3 golongan (Richard Pearl,1975) yaitu ;

a.Elongated Habits


1. Meniang ( Columnar )


Contoh : - Tourmaline


2. Menyerat ( Fibrous )


Contoh : - Asbestos


3. Menjarum ( Acicular )


Contoh : - Natrolite


4. Menjaring ( Reticulate )


Contoh : - Rulite


5. Merabut ( Capillery )


Contoh : Cuprite


6. Membintang ( Stellated )


Contoh : - Pirofilit


7. Membenang ( Filliform )


Contoh : - Silver


8. Mondok ( Stound,tubby,Equant )


Contoh : - Zircon


9. Menjari ( Radiated )


Contoh : - Markasit



b. Flattened Habits


1. Membilah ( Bladed )


Contoh : - Kyanite


Kalaverit


2. Memapan ( Tabular )


Contoh : - Barite


Hypersthene


3. Membata ( Blocky )


Contoh : - Microcline


Calcite


4. Mendaun ( Foliated )


Contoh : - Mika


Chlorite


5. Memencar ( Divergen )


Contoh : - Aragonite


6. Membulu ( Plumose )


Contoh : - Mika



c. Rounded Habits


1. Mendada ( Mamillary )


Contoh : - Malachite


Opal


2. Membulat jari ( Co;;oform radial )


Contoh : - Pyrolorhyte


3. Mengginjal ( Rentiform )


Contoh : - Hematite


4. Membulat ( Colloform )


Contoh : Glsuconite


5. Membutir ( Granular )


Contoh : - Olivine


6. Stalaktit (Stalactic )


Contoh : - Goethite


7. Memisolit ( Pisolitic)


Contoh : - Gibbsite
Pisolitic

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.