Selasa, 09 Agustus 2016

Api Watu Sema





Minggu, 8 Nopember 2009




Pukul 04.30, pagi yang sangat sesak. Bau menyengat karbon sungguh mengganggu. Kami sempatkan momen cahaya merah dari Timur itu dan mengabadikannya. Pukul 05.30 kami sarapan. Sekedar roti dan susu coklat cukup untuk kebutuhan kalori hari ini.

Paling tidak sampai siang nanti, setibanya kami di desa. Kami bersiap kembali ke peradaban. Asap ini tidak menyenangkan. Kami harus segera turun.

Pukul 06.33 Syukron dan Andika mengambil air di sungai. Hendra, Eko, Ulum dan Aan tidur lagi. Padahal baru saja bangun 2 jam yang lalu, malah tidur lagi. Terdengar kicauan burung dimana-mana. Tuhan sedang mereklamasi tempat ini. Akan segera berganti dengan pohon yang lebih hijau dan kuat. Sebatang pangkal pohon masih terbakar, memberikan kehangatan di pagi ini. Semua tampak lebih hijau bila mata terpejam. Pukul 06.44, mereka yang mengambil air telah kembali. Syukron mengeluh kelelahan. Alih-alih mengambil air, ternyata dia mencari maskernya yang hilang.

07.15, kembali ke peradaban. Perjalanan terasa singkat sekali. Jalur pulang melewati sisi sebelah Timur bukit. Ada sebuah batu besar disana. Batu ini yang dinamakan Watu Semar. Kami sempatkan mengambil gambar disitu. Dibawah kami penuh abu pohon terbakar. Jalan amat begitu berdebu.

Pukul 08.20, kami tiba di wisata air terjun Dlundung. Seperti biasanya akhir pecan, begitu banyak orang disana. Kami beralih ke aliran anakan air terjun kembar. Ternyata sama saja. Kami bersih-bersih sh.eadanya. Hingga kini pukul 09.05 kami diwarung, menikmati kopi hangat. Rasanya udara lebih segar di bawa

Oleh : Brainca Tri Adhitya About

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.