Jumat, 18 November 2016

bagaimanakah penanganan yang paling efektif untuk kondisi kaki anak / bayi yang mengalami kaki pengkor / club foot / ctev?

buat para orang tua pasti cemas ketika mengetahui bayi tercinta dengan kondisi telapak kaki menekuk ke dalam atau dalam bahasa medis biasa di sebut dengan CTEV (congenital talipes equinovarus) / club foot. sebetulnya ctev / kelainan kaki pengkor ini sudah ada sejak jaman dahulu, cuma memang kasusnya sedikit. ada penelitian yang mengatakan 1/1000 kelahiran bayi mengalami kelainan ini. bayi yang dilahirkan oleh orang tua yang dulu pernah mengalami ctev mempunyai resiko yang lebih besar untuk lahir dengan kondisi kelainan kaki seperti ini. dengan penanganan yang tepat, biasanya kelainan kaki pengkor ini bisa diatasi dengan baik. ketika kita mengetahui anak kita mengalami kelainan kaki yang menekuk ke arah dalam, sebaiknya sesegera mungkin dilakukan penanganan. semakin dini penanganannya, semakin bagus hasilnya.

Ringkasan poin:
  • Kelainan Kaki pengkor  (biasa disebut club foot) adalah kelainan bawaan umum yang mempengaruhi satu dari 1.000 kelahiran hidup di Indonesia (1/1000 kelahiran)
  • Kebanyakan kasus adalah idiopatik (belum diketahui secara pasti penyebabnya) dan tidak terkait dengan kondisi lain
  • Penanganan secara dini sangat menentukan tingkat keberhasilan pengobatanya.
  • pengobatan terbaik saat ini adalah dengan pengegipan dan pemakaian sepatu khusus dan exercise menurut metode Ponseti.
  • Hasilnya lebih baik dengan metode manipulatif daripada dengan rilis bedah
  • Kekambuhan dapat terjadi dan biasanya disebabkan oleh ketidaksesuaian dengan sepatu koreksi yang digunakan.
Club foot atau kaki pengkor, juga disebut Congenital Talipes Equinovarus (CTEV), adalah suatu kelainan bawaan yang melibatkan satu kaki atau keduanya. Kaki yang terkena memperlihatkan kondisi dimana  telapak kaki mengalami pembekokkan kea rah dalam, sehingga terlihat punggung kaki justru yang berada di bawah. Tanpa pengobatan, orang dengan  club foot  sering berjalan menggunakan  pergelangan kaki mereka atau di sisi samping kaki mereka.

Namun, dengan pengobatan, sebagian besar pasien sembuh sepenuhnya pada anak usia dini dan mampu berjalan dan berpartisipasi dalam atletik seperti hanya pasien yang lahir tanpa CTEV.

Umumnya kecacatan ini muncul sejak lahir, terjadi pada sekitar satu dari setiap 1.000 kelahiran hidup. Sekitar setengah dari orang yang mengalami  kaki pengkor adalah mengalami pada kedua kakinya (biasa disebut bilateral), yang disebut bilateral club foot. Dalam kebanyakan kasus itu adalah gangguan terisolasi dari anggota badan. Hal ini terjadi pada laki-laki dua kali lebih sering daripada  wanita.


Treatment / penanganan:

Setelah anak telah didiagnosis dengan kaki pengkor, ada banyak pendekatan pengobatan yang berbeda. Pengobatan harus diberikan segera setelah diagnosis untuk mengambil keuntungan penuh dari fleksibilitas dalam tulang dan sendi bayi. Hal ini memungkinkan untuk meningkatkan manipulasi untuk mencoba mencapai kaki normal. Metode Ponseti tampaknya menghasilkan hasil yang lebih baik daripada metode Kite dan hasil yang mirip dengan teknik tradisional.


Ini melibatkan manipulasi oleh orang-orang khusus dalam teknik dengan serial casting ( digip) dan kemudian memberikan  brace untuk memegang kaki dalam posisi plantigrade. Penggunaan gip biasanya berkisar 6-7 mingguan.  Setelah serial casting selesai, maka harus memakai sepatu khusus jenis dennisbrown splint, sejenis sepatu khusus yang berfungsi mengoreksi posisi telapak kaki kearah kaki normal pada umumnya. Di Amerika, manipulasi diikuti oleh serial casting, paling sering dengan metode Ponseti. manipulasi kaki biasanya dimulai dalam waktu dua minggu setelah kelahiran.


pemakaian sepatu biasanya dimulai setelah selesai program gip. itu biasanya di minggu ke 7 setelah kelahiran. pada awalnya sepatu yang digunakan adalah yang jenis dennisbrown splint. sepatu ini dikaitkan dengan sebuah plat logam yang menghubungkan sepatu kanan dengan sepatu kiri. plat logam ini berfungsi mempertahankan posisi kemiringan kaki dengan tujuan mengoreksi sudut pembengkokan yang terjadi pada kasus club foot. 

contoh sepatu jenis dennisbrown splint (tampak depan)

contoh sepatu jenis dennisbrown splint (tampak samping)

contoh sepatu dennisbrown splint (tampak depan)
sepatu jenis dennisbrown splint ini dipakai selama 24 jam penuh (kecuali mandi dilepas). pemakaian sepatu jenis ini biasanya berkisar antara 3,5 bulan sampai 4 bulan (selama 24 jam). selanjutnya sepatu jenis ini hanya dipakai waktu malam hari (jam 6 sore sampai jam 6 pagi). dan untuk siang harinya memakai sepatu koreksi yang tanpa plat pada bagian bawah. namun platnya ada di bagian samping kakan kiri. karena pada usia ini anak sudah mulai aktif bergerak. jadi bila dipakaikan sepatu jenis dennisbrown akan menghambat pergerakan anak. maka sepatu jenis dennisbrow dipakai wartu malam hari saat si anak tidur. sepatu koreksi yang di pakai pada siang hari ini bentuknya seperti sepatu boot. agak tinggi dan ada platnya pada bagian samping kanan kiri.
contoh gambar sepatu khusus orthopaedi (tampak samping)
contoh sepatu khusus orthopaedi (tampak belakang)


contoh sepatu khusus orthopaedi (tampak depan)

contoh sepatu orthopaedi (tampak samping)

contoh sepatu orthopaedi (tampak samping)



contoh sepatu orthopaedi (tampak samping)


Pemakaian sepatu ini nanti biasanya sampai anak usia 4 tahun. jika kurang dari 4 tahun sepatu sudah tidak dipakai, ada kemungkinan CTEV akan kembali kambuh. 

untuk konsultasi dan pemesanan sepatu baik jenis dennisbrown dan sepatu jenis orthopaedi, bisa menghubungi di;

Hp. 0858  6737  4002  

(sms/whatsapp/ telp)


Bp. Nugroho, Spesialis sepatu koreksi


atau bisa melalui website www.orthoshoping.blogspot.com


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.