Selasa, 18 Desember 2012

SEDIKIT MENGENAL KERAJAAN ARANGKAA: SERIAL SEJARAH NUSANTARA


SEDIKIT MENGENAL  KERAJAAN ARANGKAA: SERIAL SEJARAH NUSANTARA

Ivan Taniputera
18 Desember 2012

Kemungkinan banyak di antara kita yang belum pernah mendengar mengenai Kerajaan Arangkaa. Barangkali ada yang bertanya-tanya di manakah letak kerajaan ini. Kerajaan Arangkaa terletak di Kepulauan Talaud. Walaupun secara administrasi pemerintahan berada di bawah kerajaan-kerajaan di pulau Sangir (Sangihe), namun di sana terdapat pula beberapa kerajaan seperti Lirung, Beo, Arangkaa, Moronge, Esang, dan lain sebagainya (halaman 27). Menjelang akhir abad ke-19, kekuasaan pemerintah kolonial belum tertanam di kawasan Talaud. Hingga akhirnya pada tahun 1889, Stakman, residen Menado, mengangkat J.E. Leidemeijer sebagai posthouder atau wakil pemerintah kolonial Belanda di kepulauan tersebut.

Pada tanggal 15 September 1889, Stakman berkunjung ke Lirung di Kepulauan Salibabu, Talaud dan berniat melakukan perombakan tatanan pemerintahan di sana. Oleh karena, secara pemerintahan, mereka berada di bawah kerajaan-kerajaan di Sangir, maka para raja di sana seharusnya tidak layak menyandang gelar raja, dan menurunkan gelar mereka menjadi jogugu (setingkat kepala distrik). Pada kesempatan tersebut, berhasil dibentuk Kejoguguan Beo dan Lirung. Masing-masing distrik bentukan Belanda itu dipimpin oleh presiden jogugu. Ketika itu yang menjadi presiden jogugu adalah:

1.S.P. Tucunan, presiden jogugu Lirung.
2.A. Tumbal, presiden jogugu Beo.

Kerajaan Arangkaa sendiri berada di timur laut Pulau Karakelang, dan wilayahnya mencakup Arangkaa, Taruan, Gemeh, dan Taturan. Sewaktu masuknya pemerintah kolonial Belanda, Arangkaa diperintah Raja Manee. Oleh karena kedudukannya juga diturunkan menjadi jogugu, maka Raja Manee murka dan ia menuntut agar tetap diakui sebagai raja oleh pemerintah kolonial. Beliau menyatakan bahwa jabatan jogugu itu lebih tepat bagi anaknya beranma Andrias Binilang atau Rumenta (halaman 28). Kendati demikian, pemerintah kolonial tidak mau memenuhi tuntutan ini.

Oleh karenanya, Raja Manee lantas menyerang kedudukan J.E. Leidemeijer di Malangnane. Leidemeijer merasa tidak mampu menangkis serangan tersebut dan berniat melarikan diri ke Tahuna guna melaporkan serangan tersebut pada Kontrolir Hoeke. Namun S.P. Tucunan dari Lirung mencegahnya dan berjanji akan menyelesaikan masalah tersebut. Ia berjanji akan menjamin keselamatan Leidemeijer serta menyatakan bahwa musuh Belanda adalah juga musuhnya.

Raja Manee yang gagah berani terus mengejar Leidemeijer hingga ke Lirung. Berkat keahliannya berdiplomasi S.P. Tucunan menyambut Raja Manee dengan ramah tamah, sehingga padamlah keinginan berperang Raja Manee. Bahkan permusuhan antara Lirung dan Arangkaa berhasil dipadamkan. Meskipun demikian, perdamaian tidak berlangsung lama, Raja Manee mangkat pada tahun 1891 dan digantikan oleh saudaranya bernama Larenggam (1891-1893). Beliau menghidupkan kembali permusuhan dengan Lirung dan menentang penghapusan status kerajaan bagi Arangkaa. Kendati demikian, jogugu Beo, A. Tumbal juga turut menentang berdirinya Kejoguguan Arangkaa dan ingin agar kawasan itu digabungkan dengan kejoguguannya. Dengan demikian, wilayah Kejoguguan Beo menjadi makin luas (halaman 29).

Permusuhan antara Arangkaa dan Lirung itu telah berlangsung semenjak abad ke-18, yakni sewaktu dua pemuka Arangkaa bernama  Aluseda dan Bawangkil beserta 28 pejabatnya dibunuh oleh orang-orang Lirung. Pembunuhan itu sendiri juga dilandasi balas dendam karena Arangkaa pernah membunuh pemimpin Tule (Lirung) bernama Asiadi (halaman 29). Meskipun telah diadakan perdamaian, namun gejolak masih tetap timbul, apalagi Larenggam melindungi Leidemeijer selaku musuh besar Arangkaa.

Raja Larenggam segera menghimpun angkatan perangnya guna menghantam Lirung. Pengintaian dilakukan lewat darat dan laut, sehingga selama dua tahun perairan Lirung menjadi tak aman bagi penjajah Belanda. S.P. Tucunan dan Leidemeijer kewalahan menghadapi Raja Larenggam sehingga segera meminta bala tantuan ke Tahuna dan Menado. Pada tanggal 20 Juli 1893, tibalah kapal perang Zeeduif di Lirung. Turut serta dalam rombongan adalah Residen Menado bernama E.J. Jellesma dan Kontrolir Hoeke. Persiapan pasukan penjajah segera dilakukan, para kapita laut (kepala desa) setempat diwajibkan menyerahkan pasukan. Ketika itu, hanya dua orang jogugu saja yakni jogugu Apande dan jogugu Porodesa, karena keduanya masih merupakan kerabat Larenggam. Kendati demikian, mereka berdua tetap harus turut bersama pasukan kolonial di atas kapal.

Pertama-tama diupayakan dahulu penyelesaian dengan jalan damai. Residen Jellesma memerintahkan S.P. Tucunan agar menghubungi Raja Larenggam, melalu dua orang kerabat Raja Larenggam sendiri, yakni Kapita Laut Rensa dari Bulude dan Kapita Laut Pusunge dari Lobbo. Kendati demikian, upaya ini sia-sia belaka, karena Raja Larenggam lebih memilih berperang mempertahankan kedaulatan beserta martabat negerinya.

Pertempuran segera pecah, perahu penjajah beserta para penguasa setempat yang menjadi sekutu Belanda memuntahkan peluru ke armada Raja Larenggam. Namun armada Kerajaan Arangkaa tidak gentar sedikitpun. Akhirnya pasukan kolonial beserta sekutunya berhasil menyerbu masuk ke istana Raja Larenggam. Tucunan memerintahkan agar Raja Larenggam menyerah saja. Tetapi Beliau lantas berkata, "Leta'a masena langi' marandumma." Artinya secara harafiah adalah "Tanah terang, langit gelap." Maknanya adalah Beliau pantang menyerah dan lebih baik mati berkalang tanah (halaman 32). Raja Larenggam akhirnya gugur tertembak. Istana Arangkaa dibakar dan perlawanan rakyat dipatahkan.

Saudara perempuan Raja Larenggam dibiarkan mengambil mayat raja dan memakamkan badannya di dalam tanah, sedangkan kepalanya berada di luar. Ini merupakan tradisi pemakaman bagi korban perang dan dalam Bahasa Talaud disebut "hirua." Pemakaman semacam ini menandakan bahwa permusuhan masih akan terus berlanjut. Semua tawanan dibawa ke Lirung dan dijatuhi hukuman pengasingan selama 5 tahun. Pada tanggal 26 Juli 1893, Residen Jellesma kembali ke Menado. Dengan demikian, jatuhlah Arangkaa ke tangan Belanda.


Sumber: "Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Utara," terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional-Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Jakarta, 1984.

Tim Penulis:

Drs. J.P. Tooy.
Let Kol Inf. Drs. Soetarno
Drs. P.R.W. Parengkuan.
Drs. P. Rompas.

Disunting kembali oleh:

Drs. S. Sumardi.
Drs. M. Sunjata Kartadarmadja.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.