Jumat, 10 Mei 2013

Candi Penataran, sejarah dan mistis nya

Relief Anoman Obong di candi penataran

 
Relief Anoman Obong di candi penataran bisa ditemui pada dinding Candi Induk Penataran tingkat I. Anoman Obong adalah salah satu episode pada epik Ramayana, yang menceritakan tentang aksi Anoman, si kera putih yang sakti, dalam usahanya membebaskan Dewi Shinta dari cengkeraman Rahwana.
Rahwana atau Dasamuka, seorang raja dari Alengka, menculik Dewi Shinta yang cantik jelita dari tangan Sri Rama. Untuk mendapatkan kembali istrinya yang diculik oleh Rahwana, Sri Rama menugaskan panglima terbaiknya, yaitu Anoman, untuk menyeberang ke negeri Alengka dan mencari tahu tentang keberadaan istrinya tersebut.
Setibanya di Alengka, Anoman menemui Dewi Shinta di Taman Argasoka, dan menyerahkan cincin pemberian Sri Rama. Dewi Shinta sendiri menitipkan tusuk kondenya dengan disertai pesan bahwa ia masih tetap setia. Meskipun telah mendapatkan informasi keberadaan Dewi Shinta, tampaknya Anoman sedang ingin bersenang-senang.
Di Taman Argasoka, Anoman berbuat kekacauan sehingga ia harus menghadapi serbuan para prajurit keraton Alengka. Kesaktian Anoman tidak dapat ditandingi oleh para prajurit Alengka. Rahwana sangat marah melihat itu semua dan memerintahkan anaknya yang sakti mandraguna, Indrajit Megananda, untuk turun menghadapi Anoman. Dengan senjata pamungkasnya yaitu Panah Nagarante, Indrajit berhasil melumpuhkan Anoman untuk sementara. Rahwana segera memerintahkan para prajurit untuk membakar hidup-hidup Anoman yang sudah dirantai itu. Namun Anoman dengan kesaktian dan kelihaiannya berhasil melepaskan diri dan justru menjadikan api tersebut untuk membakar keraton Alengka.

Relif Kresnayana di Candi Penataran

Relif Kresnayana di Candi Penataran bisa ditemui pada dinding Candi Induk Penataran tingkat II. Kisah ini adalah hasil karya Empu Triguna yang hidup pada masa pemerintahan Raja Warsajaya dari kerajaan Kediri. Kresnayana berarti “Perjalanan Kresna”, menceritakan tentang kisah percintaan antara Kresna dan Dewi Rukmini.
Tersebutlah Dewi Rukmini, seorang cantik jelita putri Raja Bismaka dari Kerajaan Kundina, yang telah dijodohkan dengan Raja Suniti dari Kerajaan Cedi. Namun perjodohan tersebut tidak sesuai dengan keinginan hati Rukmini karena ia sudah terlanjur menjalin hubungan percintaan dengan Kresna, seorang pemuda yang gagah, cerdas, dan sakti.
Menjelang pesta pernikahan antara Dewi Rukmini dan Raja Suniti, Kresna nekad menculik sang pujaan hati untuk dibawa ke negerinya. Tentu saja Raja Bismaka dan Raja Suniti marah besar mengetahui bahwa Rukmini melarikan diri bersama Kresna. Mereka segera mengerahkan pasukan dalam jumlah besar untuk mengejar Kresna, dengan dimpimpin oleh Rukma, saudara laki-laki Rukmini.
Kresna terlalu tangguh dan pintar untuk dihentikan oleh pasukan yang mengejarnya itu. Oleh karena kesaktiannya, Kresna berhasil menghancurkan seluruh pasukan dan menyisakan Rukma saja, karena Rukmini telah memohon untuk tidak membunuh Rukma.
Pada akhirnya, Kresna mempersunting Rukmini dan hidup bahagia di Negeri Dwarawati, sebagai pasangan raja dan permaisuri. Melalui epiknya ini, Empu Triguna berusaha memberikan pembelajaran bahwa pernikahan yang didasarkan pada keterpaksaan itu adalah sia-sia belaka.


Raden Inu Kertapati di Relif Candi Penataran 

Cerita tentang Raden Inu Kertapati di Relif Candi Penataran merupakan sebuah cerita yang berasal dari Jawa yang mula timbulnya pada masa keemasan Kerajaan Majapahit. Bercerita tentang kepahlawanan dan cinta, dengan dua tokoh utamanya yaitu Raden Inu Kertapati atau Panji Asmara Bangun (Pangeran dari Kerajaan Daha) dan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana (putri Kerajaan Jenggala).
Cerita ini mempunyai banyak versi dan telah menyebar di beberapa tempat di Nusantara (Jawa, Bali, Kalimantan) dan juga di negara-negara lain di Asia Tenggara (Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, Filipina).
Beberapa cerita rakyat seperti ’Keong Mas’, ’Ande-ande Lumut’ dan ’Golek Kencana’ merupakan turunan dari cerita ini dimana masing-masing memiliki pesan moral yang sama bahwa untuk menuju kebahagiaan kadang diperlukan pengorbanan dan bila kita tabah serta sabar pasti segala rintangan bisa diatasi.
Dalam lakon ’Keong Mas’ dikisahkan, seorang raja dari Negeri Antah Berantah berminat menyunting Putri Galuh Candra Kirana secara paksa. Tetapi karena Sang Putri menolak pinangan itu, ia melarikan diri seraya meninggalkan pasangan sejolinya Raden Panji Inu Kertapati dan menyamar dengan nama Dewi Sekartaji.
Cerita menyedihkan Dewi Sekartaji pun tak luput dari pengamatan para penguasa kahayangan, sehingga Barata Narada menurunkan kesaktiannya dan membantu menyelamatkan Dewi Sekartaji dengan mengubahnya menjadi seekor Keong Emas. Dalam pengembaraannya Keong Emas ditemukan dan dipelihara oleh Mbok Rondo Dadapan, hingga suatu hari berubah wujud kembali menjadi Putri Galuh Candra Kirana yang cantik rupawan.
Berita tentang keberadaan seorang putri yang cantik rupawan di Desa Dadapan itu akhirnya sampai juga ke telinga Panji Asmara Bangun yang sudah bertahun-tahun berusaha menemukan kembali cinta sejatinya. Singkat cerita, keduanya bertemu kembali dan hidup bahagia di Kerajaan Daha.


Bubhuksah dan Gagang Aking di Candi Penataran

 Bubhuksah dan Gagang Aking di Candi Penataran
Tersebutlah kakak beradik bernama Bubhuksah dan Gagang Aking yang menjalani hidup menjadi pertapa. Bubhuksah digambarkan bertubuh gemuk, karena dalam pertapaannya ia memakan apa saja termasuk daging hewan. Sementara Gagang Aking bertubuh kurus kering karena menjalani pertapaannya dengan penuh penderitaan dan hanya mau memakan daun-daunan.
Suatu ketika Bathara Guru dari Kahyangan ingin menguji kedua bersaudara itu, dan ia mengirimkan Kalawijaya untuk turun ke bumi dengan menjelma menjadi harimau putih. Sang harimau pertama kali mendatangi Gagang Aking dan berkata bahwa ia sangat lapar karena sudah berhari-hari tidak makan. Gagang Aking menolak menyerahkan dirinya sebagai santapan sang harimau, dengan alasan tubuhnya kurus sehingga tidak akan bisa mengenyangkan perut sang harimau. Kemudian sang harimau mendatangi Bubhuksah dan mengatakan hal yang sama. Tidak disangka-sangka, Bubhuksah mempersilakan dirinya untuk dimakan oleh sang harimau, karena ia merasa iba melihat harimau yang kelaparan itu.
Kedua bersaudara itu dianggap lulus ujian, dan Bathara Guru mengangkatnya ke surga. Bubhuksah diberi kehormatan untuk menaiki punggung sang harimau putih dan masuk ke surga tertinggi, oleh karena keikhlasannya berkorban demi sesama makhluk hidup. Sementara Gagang Aking hanya boleh berpegang pada ekor sang harimau putih, dan dimasukkan ke surga yang lebih rendah.
Kisah ini memberikan sebuah pelajaran bahwa keutamaan dalam beribadah terletak pada keikhlasan, dan bukan pada tata cara ibadah itu sendiri

Relif Sri Tanjung di Candi Penataran

kisah Relif Sri Tanjung di Candi Penataran bisa ditemui pada dinding teras pendopo. Tersebutlah seorang ksatria bernama Sidapaksa yang memiliki istri setia yang cantik jelita bernama Sri Tanjung. Sidapaksa mengabdi kepada Raja Sulakrama di Negeri Sindureja. Diam-diam sang raja menaruh hati kepada Sri Tanjung yang cantik itu. Oleh karenanya ia menyusun siasat untuk memisahkan Sri Tanjung dari suaminya demi memiliki sang pujaan hati. Ia mengirim Sidapaksa untuk menemui para dewa di Swargaloka, dengan membawa surat yang bertuliskan “Pembawa surat ini akan menyerang Swargaloka.” Akibatnya Sidapaksa babak belur dipukuli oleh para dewa. Beruntung, pada akhirnya para dewa mengetahui bahwa Sidapaksa adalah keturunan Pandawa, sehingga ia diampuni.
Ketika Sidapaksa kembali ke kerajaan, ia mendapati bahwa istrinya sedang berpelukan dengan Raja Sulakrama. Dengan liciknya, Raja Sulakrama malah balik menuduh bahwa Sri Tanjunglah yang telah menggodanya untuk berbuat zina. Karena tidak bisa meredam amarah, Sidapaksa menikam istrinya dengan keris hingga tewas. Namun keanehan terjadi, di mana dari luka tusukan tersebut tidak mengalir darah segar, melainkan air yang berbau sangat harum. Sidapaksa menjadi tersadar bahwa itu adalah suatu pertanda bahwa istrinya tidak bersalah. Dengan penuh penyesalan, Sidapaksa menangisi dan menciumi jasad istrinya itu.
Melihat kejadian mengharukan itu Dewi Durga dari kahyangan merasa iba kepada pasangan sejoli itu dan memutuskan untuk menghidupkan kembali Sri Tanjung. Sidapaksa sangat berbahagia melihat istrinya hidup kembali, dan sesudah itu memutuskan untuk menghukum Raja Sulakrama atas kejahatannya itu. Dalam duel antara dua ksatria itu, Sidapaksa berhasil menewaskan Raja Sulakrama. Pada akhirnya Sidapaksa dan Sri Tanjung hidup bahagia.
Kisah ini menjadi legenda terbentuknya sebuah kota di negeri Blambangan, yaitu Banyuwangi yang artinya “air yang wangi”.

sumber:http://blogspotblitar.blogspot.com/2013/01/kisah-relif-di-candi-penataran.html, http://blogspotblitar.blogspot.com/2013/01/relif-sri-tanjung-di-candi-penataran.html, http://blogspotblitar.blogspot.com/2013/01/bubhuksah-dan-gagang-aking-di-candi.html, http://blogspotblitar.blogspot.com/2013/01/raden-inu-kertapati-di-relif-candi.html,http://blogspotblitar.blogspot.com/2013/01/relif-kresnayana-di-candi-penataran.html, http://blogspotblitar.blogspot.com/2013/01/relief-anoman-obong-di-candi-penataran.html

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.