Sabtu, 24 Agustus 2013

Fenomena Ritual Malam 1 Suro

Oleh : KH. Zainal Musyafak

Dalam kalender islam (Hijriyah) ada 12 bulan setiap tahunnya. Terdapat 4 bulan yang lebih utama daripada bulan-bulan yang lain, bahkan diibaratkan sebagai ratunya bulan-bulan (dalam kalender). Diantaranya :
1.      Bulan Rajab (Rejeb)
2.      Bulan Sya’ban (Ruwah)
3.      Bulan Ramadhan (Poso)
4.      Bulan Muharram (Suro)

Asal Mula Nama Suro
Orang Jawa menyebut Bulan Muharram dengan “Sasi Suro” yang diambil dari kata ‘Asyura (tanggal 10 Muharram). Dalam Tarikh Islam (Sejarah Islam) pada tanggal tersebut terdapat peristiwa-peristiwa besar yang dialami oleh para Nabiyullah. Mulai dari diturunkannya Nabi Adam as dan Ibu Hawa ke bumi, Nabi Ibrahim as selamat dari panasnya api, kisah Nabi Nuh as dengan kapalnya, Nabi Yusuf as dibuang ke dalam sumur, dan lain sebagainya.

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, akantetapi bukti menunjukkan bahwa Orang Jawa, baik yang muslim maupun kebathinan (kejawen) dan bahkan yang bukan diantaranya mengakui Bulan Muharram sebagai bulan yang istimewa.

Kenyataan ini nampak dengan banyaknya Orang Jawa yang melakukan rutinitas khusus, sering disebutnya ritual. Berbagai ritual dilakukan mulai malam 1 Suro hingga malam 10 Suro. Ada yang dengan mandi kembang, mandi 7 tempuran, berendam semalam, bakar kemenyan, sesajen, poso mutih, dan sebagainya.

Pertanyaannya : Adakah ritual-ritual Bulan Suro dalam Islam? Jawabnya ADA.
Ritual dalam islam disebut amalan dari kata ‘Amal yang berarti perbuatan. Dengan kata lain ritual/amalan adalah suatu perbuatan yang dimaksudkan untuk memperoleh suatu hasil. Sesuai penjabaran tersebut, ritual/amalan dapat juga disebut Ikhtiyar.


Seperti apakah ritual/amalan yang dibenarkan dalam Islam?

Ada 10 hal yang dapat kita lakukan berdasarkan Hadits Nabi :
1.      Ziarah Kubur ke makam para alim ulama dan silaturahmi ke rumah para alim ulama.
Ini telah menjadi tradisi di berbagai daerah mengadakan rombongan ziarah kubur ke makam para wali. Dan menyempatkan bersilaturahmi ke pengasuh-pengasuh pondok pesantren maupun ulama-ulama.
2.      Mandi Jamas
Adalah mandi yang dilakukan pada malam 1 Muharram. Caranya sebagaimana mandi besar (junub), lebih utama dengan air dari mata air langsung. Keutamaannya Insyaallah akan menjernihkan pikiran.
3.      Membaca Surat Ikhlas
Dilaksanakan mulai malam 1 sampai malam 10 Muharram sebanyak 313 kali tiap malamnya.
4.      Membaca Ayat Kursi
Ayat Kursi paling utama dibaca 1.000 kali. Namun jika tidak mampu 700, 313, 111, 77, 47, 27, 21, 11, 7, atau 3 kali setiap malamnya. Waktunya setelah membaca Surat Ikhlas.
5.      Membaca do’a akhir tahun dan awal tahun.
Do’a akhir dilakukan bagda Sholat Asyar sebelum matahari terbenam ( + jam 5 sore) dan do’a awal tahun bagda Sholat Maghrib (setelah matahari terbenam)
6.      Membaca Surat Yasin
Dilaksanakan bagda Sholat Maghrib sebanyak 3 kali dan selesai sebelum waktu Sholat Isya’. Adapun yang tidak mampu membaca dapat dengan membaca Istighfar sebanyak-banyaknya.
a.      Setelah selesai membaca Surat Yasin yang pertama kemudian membaca do’a “Yaa Allah berikanlah ketetapan Iman Islam dan menjadi bagian dari Ahlussunah Wal Jama’ah. Amin..”
b.      Setelah selesai membaca Surat Yasin yang kedua kemudian membaca do’a “Yaa Allah ampunilah dosa-dosa hamba di dunia dan akherat secara lahir dan batin, dan atas dosa-dosa kedua orangtua serta umat islam semua. Amin..”
c.       Setelah selesai membaca Surat Yasin yang ketiga kemudian membaca do’a “Yaa Allah berikanlah hamba umur panjang yang bermanfaat, kelimpahan rejeki yang baik dan halal, dan kelak meninggal dengan khusnul khotimah, tenteram nyaman dan selamat dunia akherat. Amin..”
7.      Menyelesaikan pertikaian dengan kerukunan dan perdamaian.
Dalam hal ini dimaksudkan, jika kita memiliki lawan atau musuh hendaknya segera mengakhiri permusuhan tersebut dengan kerukunan dan perdamaian. Paling mulia dan utama adalah yang bersedia mendahului perdamaian tersebut.
8.      Puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram
Puasa tanggal 9 (tasyura’) dan 10 (asy-syura’) memiliki keutamaan dapat melebur dosanya selamanya selama 1 tahun
9.      Menyantuni anak yatim
Tradisi Jawa pada umumnya, setiap tanggal 1 atau 10 Suro (Muharram) dengan diadakannya “usap-usap bocah yatim”. Dalam syari’at islam dimaknakan menyantuni anak yatim, memberikan kasih sayang dan memuliakan anak yatim.
10.  Memperlakukan suami dengan istimewa
Dalam hubungan kekeluargaan tidak jarang istri telah mengabdikan diri dengan sebaik-baiknya kepada suaminya. Namun memberikan kemuliaan kepada seorang istri yang memperlakukan istimewa suaminya pada tanggal 1 sampai 10 Muharram dengan menjadikannya Ahlul Jannah.

KESIMPULAN :
Marilah kita sambut Tahun Baru 1433 Hijriyah ini dengan cara-cara yang diajarkan dalam Syari’at Islam dan tidak dengan cara yang tidak dibenarkan dalam Syari’at Islam. Dengan demikian kita dapat menjadikan Keluarga Sakinah Mawadah Warahmah. Amin..

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.