Jumat, 18 Oktober 2013

Belajar Memahami Kehidupan dari Kisah cinta yang tertulis di lagu Jawa : DADI ATI


Lagu-lagu Jawa atau langgam memang sudah tidak asing lagi bagi orang jawa. Namun kadang ketika mendengarkannya kita hanya sebatas mendengar saja, tanpa memahami maknanya, padahal dibalik indahnya gending-gending tersebut tersurat dan tersirat makna yang sangat bagus, yang bisa kita ambil pelajaran untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Seperti halnya langgam yang berjudul DADI ATI dibawah ini:



Gegaraning wong akrami 
Dudu bondho dudu rupo
Amung ati pawitane
Luput pisan keno pisan
Yen gampang luwih gampang
Yen angel, angel kalangkung
Tan keno tinumbas arto
Goleke sing koyo ngopo
Wong nyatane kelakon seprene
Angger-angger gendra
Wekasane malah mbangun tresna
Dudu bondo dudu rupa
Mung atine dadi tetaline
Guyub rukun kadya
Pepindhane mimi lan mintuno
Wus jamak lumrahe yen wong urip coba lan godhane gedhe
Suprandene ora nganti ndadak dadi gawe
Rino wengi dadi ati
Wong prasojo luhur bebudine
Dasare gemati Momong putro alus bebudine

Dimulai dari awal lirik (bowo menggunakan tembang asmarandana) “gegaraning wong akrami... dst..
>>yang artinya bahwa adanya orang menikah atau menjalin ikatan itu bukan karena wajahnya yang cantik/tampan, bukan karena harta yang dimiliki..
AMUNG ATI PAWITANE =hanya hatilah yang menyebabkannya..
Dari beberapa baris intro langgam tersebut dapat kita simpulkan, bahwa jangan memandang orang dari harta dan wajahnya saja. Karena jodoh itu datang dari rasa suka dihati.
Lalu masuk ke langgamnya yang dimulai dari kalimat “Goleka sing kaya ngapa?” yang artinya “mau cari yang seperti apa??” >>ini bisa disimpulkan bahwa sebenarnya yang dicari dalam jodoh kita atau pasangan hidup nantinya itu apa sih? Apakah kesempurnaan?


>>Wong nyatane kelakon seprene, angger-angger gendra, wekasane malah mbangun tresna. Bait tersebut dapat diartikan sebagai Hla kenyataanya sampai sekarang (banyak orang yang sering menjalani hubungan dengan apa adanya, gak mandang apa-apa, justru orang-orang yang seperti inilah yang pada akhirnya sampai pada pernikahan dan membangun cinta dalam bahtera rumah tangga.


>>Dudu banda dudu rupa, amung atine dadi tetaline, guyub rukun kadya pepindhane mimi lan mintuna, pada bait ini bisa kita pahami bahwa bukan kecantikan atau harta yang dijadikan dasar, hanyalah hati yang mengikatnya,, karena hati itulah pada akhirnya mereka menjalani kehidupan yang rukun dan tentram bagaikan mimi lan mintuna .


Nb:(mimi lan mintuna adalah pengibaratan dalam peribahasa jawa terhadap 2 orang yang selalu rukun dan bersama)

Lalu pada bait terakhir ada beberapa lirik: Wus jamak lumrahe yen wong urip coba lan godane gedhe,, suprandene ora nganti ndadak dadi gawe, rina wengi dadi ati, wong prasaja luhur bebudine, dasare gemati...... momong putra alus bebudine. >>> yang mempunyai makna : Sudah sewajarnya orang hidup didunia ini banyak cobaan dan godaannya, namun semua itu seharusnya tidak mejadikannya hal yang bisa merusak kehidupan yang sudah dijalani, ,, siang malam menjadi hati (cinta), orang yang bijaksana luhur budi pekertinya... dasarnya orang-orang yang penyayang.. mendidik anak ya dengan budi pekerti yang halus...



Ya... begitulah makna yang bisa kita pelajari dari lagu jawa yang berjudul DADI ATI ini. Semua musik itu indah,, seni itu indah. Dan alangkah lebih indah lagi jika selalu tersirat dan tersurat pesan kebaikan didalamnya. Terlebih lagi pesan yang bisa kita jadikan nasehat atau pitutur untuk kehidupan kita kedepannya : )
Sengaja mereview langgam ini karena DADI ATI ini adalah langgam yang cocok dinyanyikan saat pernikahan. Kebetulan banyak sahabat-sahabat saya yang akhir-akhir ini menikah. Jadi ya, saya anggap review langgam ini sebagai ucapan Happy Wedding untuk mereka semua aja. Semoga bahagia menjalani kehidupannya yang baru. Menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warohmah.
Kalian semua (semuanya) adalah pelajaran, pengalaman dan inspirasi dalam hidupku.
Terima kasih : )

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.