Sabtu, 30 November 2013

PRIMBON ILMU NUJUM ATAU METODA RAMALAN JAWA YANG LUAR BIASA

PRIMBON ILMU NUJUM ATAU METODA RAMALAN JAWA YANG LUAR BIASA

Ivan Taniputera
30 November 2013



Judul: Primbon Nudjum Djawa Sedjati
Pengarang: R. Mugihardjo, Al. mBah Lantip
Penerbit: Toko Buku Keng, Semarang, 1958
Jumlah halaman: 40
Bahasa: Jawa

Ini merupakan buku primbon unik dan lain dari yang lain karena di dalamnya dibahas mengenai metoda peramalan guna menjawab berbagai pertanyaan. Sebagai contoh menanyakan penyakit, hubungan rumah tangga, dan lain sebagainya. Dasar-dasar yang dipakai antara lain:

Neptu atau numerologi Jawa bagi sistim Tujuh Hari (Saptawara) dan sistim Lima Hari (Pancawara), yakni sebagai berikut:

SAPTAWARA

1.Akad (Minggu) Neptunipun 5.
2.Senen (Senin) Neptunipun 4.
3.Slasa (Selasa) Neptunipun 3.
4.Rebo (Rabu) Neptunipun 7.
5.Kemis (Kamis) Neptunipun 8.
6.Djumaat (Jumat) Neptunipun 6.
7.Setu (Sabtu) Neptunipun 9.

PANCAWARA

1.Kliwon Neptu 8.
2.Legi (Manis) Neptu 5.
3.Paing Neptu 9
4.Pon Neptu 7.
5.Wage Neptu 4.

Kemudian baik Saptawara dan Pancawara itu dikombinasikan, misalnya Minggu Kliwon, neptunya menjadi 5 + 8 atau sama dengan 13.

Kemudian berdasarkan tabel berikutnya Neptu 13 itu kedudukannya di Timur.

Selanjutnya dijelaskan pula perbedaan Neptu ganjil dan genap terhadap watak manusia.

Sehubungan dengan penyakit maka terdapat tabel (halaman 6) yang menghubungkan antara hari dengan organ tubuh manusia.

1.Minggu wonten ing Tungkak (sendi)
2.Senen wonten ing Talingan (telinga)
3.Slasa wonten ing Grana (hidung)
4.Rebo wonten ing Madaran (perut)
dan seterusnya

Lalu terdapat pula hubungan antara Pancawara dan arah, misalnya:

1.Kliwon kedudukannya berada di tengah.
2.Legi kedudukannya berada di Timur.
3.Paing kedudukannya berada di Selatan.

dan seterusnya.

Selanjutnya aksara Jawa juga dibedakan berdasarkan arah, misanya Ha, Na, Ca, Ra, Ka, kedudukannya ada di timur.

Ada hal penting dalam metoda peramalan ini:

1.Jam
2.Hari
3.Tanggal
4.Aksara Jawa
5.Nama

Hubungan antara hari dan penyakit adalah sebagai berikut.

Hari Senin kedudukannya berada di telinga (lihat tabel di atas).

"Tijang ingkang sakit dinten Senen asalipun saking:
1.Bok menawi mentas tukaran.
2.Mirengaken tembung ingkang boten njenengaken.
3.Ngempet hawa.
Ing wusana ladjeng saged dados sakit madaran lan sanesipun. Ananging djalaranipun boten bade  pisah saking talingan."

Terjemahan:

"Orang yang sakit hari Senin diakibatkan oleh:
1.Barangkali sehabis berkelahi.
2.Mendengarkan kata-kata yang tidak menyenangkan.
3.Memendam keinginan.
Selanjutnya dapat berkembang menjadi sakit perut dan lain sebagainya. Tetapi penyebabnya adalah dari telinga."

Kemudian dijelaskan mengenai metodanya:

Umpamanya dengan berdasarkan jam kedatangan orang yang ingin berkonsultasi. Orang itu misalnya datang jam 04.30. Angka-angkanya kemudian dijumlahkan: 0+4+3+0, sehingga menjadi 7. Angka 7 dalam bahasa Jawa adalah "pitu." Kata "pitu" jika dalam aksara Jawa maka dasarnya adalah huruf pa - ta. 

Agar dapat digunakan dalam peramalan, maka aksara pa-ta itu harus diberikan "sandhangan." Ada pun yang dimaksud "sandhangan" adalah huruf hidup dan huruf mati. Umpamanya pa-ta tadi dapat menjadi pa-tah (putus atau patah), peteng (gelap), putung, atau putus. Ini  menandakan hal yang kurang baik. Tandanya orang tadi tidak memiliki harapan sembuh.

Lalu peramalan bisa juga dilakukan dengan numerologi aksara Jawa. Misalnya 4 itu mewakili aksara "Ra"; 3 mewakili aksara "Ca" dan 7 mewakili "Ta."

Semua ini disusun dengan aksara "pa-ta" tadi; menjadi Ra-Ca-Ta-Pa-Ta. Susunan ini kemudian diolah lagi guna melakukan peramalan lebih lanjut.

Selain itu terdapat pula ramalan berdasarkan nama dan lain sebagainya.

Buku ini sangat layak dimiliki oleh para pecinta primbon dan penggemar atau pemerhati ilmu ramalan pada umumnya karena metodanya yang unik.

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.