Rabu, 29 Januari 2014

Asal Usul Jawa

Asal Usul Jawa Menurut Suyono, dari karya Van Hien, menyebutkan bahwa keterangan terbaik mengenai keadaan geologi pulau Jawa dapat ditemukan dalam tulisan kuno Hindu yang menyatakan bahwa Jawa sebelumnya adalah pulau-pulau yang diberi nama Nusa Kendang yang menjadi bagian dari India. Pulau ini merupakan hamparan dari beberapa pulau yang kemudian karena letusan gunung-gunung berapi dan goyangan dahsyat gempa bumi pulau-pulau itu bersatu. Babad itu menceritakan bahwa pada tahun 296 sesudah Masehi terjadi letusan gunung-gunung berapi yang berada di pulau itu, sehingga gunung yang semula ada menjadi hilang dan memunculkan gunung-gunung berapai yang baru.

148 tahun kemudian. Tepatnya pada 444 sesudah Masehi terjadi gempa bumi yang memisahkan Tembini, daerah bagian selatan pulau Jawa menjadi pulau tersendiri: Nusa Barung dan Nusa Kambangan. Tahun 1208 pulau Sumtera karena suatu musibah gempa juga terpisah dengan pulau Jawa. Begitu juga pada tahun 1254, Madura yang semula bernama Hantara mengalami kejadian serupa, yang disusul kemudian pada 1293 pulau Balu yang terpisah dengan Jawa.

Adapun para penghuni Pulau Jawa, seperti diceritakan dari sumber surat kuno yang tidak beredar, yaitu Serat Asal Keraton Malang berasal dari daerah Turki, tetapi ada yang menyebut daerah Dekhan (India). Pada tahun 350 SM, Raja Rum, pemimpin dari wilayah tersebut mengirim perpindahan penduduk sebanyak 20.000 laki-laki dan 20.000 perempuan. Yang dipimpin oleh Aji Keler. Pengiriman ini adalah pengiriman yang kedua, karena pengiriman yang pertama mengalami kegaalan dengan kembalinya seluruh utusan ke negeri asal yang terjadi pada tahun 450 SM. Jawa yang saat itu bernama Nusa Kendang ditemukan sebagai pulau yang ditutupi hutan dan dihuni serbagai jenis binatang buas dan tanah datarnya ditumbuhi tanaman yang dinamakan Jawi. Karena keseluruhan dataran pulau ini dipenuhi tanaman tersebut, maka ia meberi nama pulau ini dengan nama “Jawi”.

Karena nama Jawi masih umum dan meliputi seluruh daratan pulau ini, maka agak sulit menentukan lokasi pendaratan para utusan ini. Akan tetapi, diperkirakan pendaratan itu terjadi di Semampir, yaitu suatu tempat yang dekat dengan Surabaya saat ini. Gelombang kedua ini juga mengalami kegagalan karena yang tersisa dari mereka hanya 40 pasang. Hal ini mendorong Raja untuk mengirim utusan lagi dengan persiapan yang lebih matang dan penyeidaan alat yang lebih lengkap untuk menjaga dari kemungkinan serangan binatang buas seperti yang dialami utusan pertama dan kedua. Di samping peralatan pengamanan diri, mereka juga diperlengkapi dengan alat pertanian, sebagai alat bercocok tanam bila kelak berhasil menempatinya dengan aman. Sementara itu, untuk mencegah agar orang-orang supaya tidak melarikan diri, diangkatlah seorang pemimpin dari kalangan mereka yaitu Raja Kanna. Gelombang ketiga ini rupanya berhasil dan akhirnya mereka menyebar ke pedalaman yang terbuka di pulau Jawa. Dari sisi keyakinan, orang-orang gelombang ketiga ini menganut kepercayaan Animisme. Dari sumber lain menyebutkan bahwa penduduk Jawa berasal dari daratan Cina Selatan yang membanjiri pulau ini sejak 3 ribu tahun SM. Selama 2 ribu tahun kemudian terjadi perpindahan penduduk dari tempat yang sama. Penduduk Jawa menurut sumber ini berasal dari gelomnang-gelombang itu. Mereka hidup dari pertanian karena sebelumnya sudah mengenal persawahan.

Pada tahun 100 SM terjadi lagi perpindahan penduduk keempat yang terdiri dari kaum Hindu-Waisya. Mereka itu adalah para petani dan pedagang yang karena permasalahan keyakinan mereka meninggalkan India. Warga pindahan kelompok keempat ini menetap di daerah Pasuruan dan Probolinggo. Kemudian mereka secara perlahan membuat koloni-koloni di bagian selatan pulau Jawa yang pusatnya terletak di Singosari. Ketika di Singosari, siapa yang memimpin tidak jelas, tetapi ada naskah yang menyatakan adanya Ratu yang memegang kekuasaan di daerah Kedi, namya Nyai Kedi. Singgasana kerajaan ini berada di Kediri. Pada tahun 900 sesudah M, keturunan Hindu-Waisya dimasukkan dalam kerajaan Mendang yang juga dinamakan Kamulan. Nama lain untuk Mendang dan Kamulan ini adalah Ngastina atau Gajah Huiya. Sedang raja yang memerintah di sana adalah Prabu Jayabaya. Dalam sejarah, kerajaan dengan rajanya yang menguasai seluruh wilayah Jawa Timur pada tahun 1019-1049 adalah Airlangga. Ia kemudian diganti Jaya Baya yang memerintah pada tahun 1135-1157 M. Di bawah kekuasaan Jaya Baya, Mpu Sedah menerjemahkan sebagian Epos India Mahabarata ke dalam Bahasa Jawa engan nama Baratayuda. Jaya Baya dikenal sebagai pemaklum ramalan-ramalan yang akan terjadi di pulau Jawa. Jayabaya kemudian memindahkan kerajaannya itu ke Kediri dan memberinya nama baru yaitu Doho. Raja Jayabaya ini dikenal sebagai ilmuan yang ramalan-ramalannya banyak terbukti terjadi di kemudian hari. Ia meramalkan apa yang akan terjadi di pulau Jawa hingga tahun 2074 M.

Ada cerita lain, bahwa pada tahun 78 sesudah Masehi ada seorang utusan dari kerajaan Astina, namanya Aji Saka. Astina adalah nama lain dari Gujarat. Nama Astina juga masuk dalam cerita pewayangan yang beredar di masyarakat Jawa. Kemudian, Aji Saka di utus untuk menyelidiki apa yang ada dan terjadi pada kepulauan di Nusantara. Sesampai di pulau tersebut, ia mendarat di bagian timur pulau Jawa yang saat tiu masih bernama Nusa Kendang. Kemudian Aji Saka menaklukkan kerajaan Mendang dan mengusir sang raja yang bernama Dewata Cengkar. Tetapi kemudian Aji Saka dikalahkan oleh Daniswara, putra Dewata Cengkar. Karena kalah, Aji Saka kembali ke Astina. Tahun 125 M, Aji Saka kembali lagi bersama gelombang perpindahan orang-orang Budha dan pada saat itulah ia berhasil menaklukkan kerajaan Mendang. Setelah kemenangan itu Aji Saka memindahkan pusat kerajaan ke Purwodadi.

Bersamaan dengan datangnya Aji Saka, dimulailah Babad Jawa dan perhitungan Tahun Jawa. Dari Babad-babad itu diketahui, setelah tahun 125 M pertumbuhan penduduk semakin cepat oleh perpindahan kaum Budha. Para pendatang ini kemudian menempat di pantai selatan pulau Jawa yang bernama Barung dan Tembini. Sebagaimana disebutkan di atas, pada tahun 444 M terjadi gempa bumi dahsyat yang kemudian memecah pulau Jawa. Pantai bagian selatan terbagi dua, yaitu Nusa Barung yang berada di dekat Puger Kulon dan Nusa Kambangan yang berada di dekat Cilacap.

Sebagaimana disebutkan dalam buku Suyono, secara berturut-turut perpindahan penganut Budha ke pulau Jawa terjadi sebagai berikut:
1. Tahun 157 M. Yang menetap di daerah Jepara.
2. Tahun 163 M. Yang menetap di daerah Tegal dan Banyumas.
3. Tahun 174 M. Yang menetap di daerah Tengger.
4. Tahun 193 M. Yang menetap di daerah Kedu.
5. Tahun 216 M. Yang menempati daerah Madiun.
6. Tahun 252 M. Yang menempati daerah Yogyakarta.
7. Tahun 272 M. Yang menempati daerah Kediri.
8. Tahun 295 M. Yang menempati daerah Ngawi dan Bojonegoro.
9. Tahun 312 M. Yang menempati daerah Kudus.
10. Tahun 314 M. Yang menempati daerah Mojokerto.
11. Tahun 424 M. Yang menempati daerah Surakarta.

Lebih lanjut, pada tahun 450 M terjadi lagi perpindahan penduduk dari India yang mendiami tanah yang terletak antara sungai Cisadane dan Citarum, di Jawa Barat. Para pendatang itu menganut agama Whisnu. Setelah beberepa lama tinggal di tempat tersebut, kemudian mereka membentuk kerajaan sendiri dan memilih seorang raja sebagai pemimpinnya. Rajanya yang dipilij adalah Purnawarman. Ia dikenal sebagai raja yang gagah dan berani karena ambisinya untuk menaklukan kerajaan-kerajaan lain di tanah Sunda. Meskipun tidak semuanya berhasil dengan kemenangan, Purnawarman dikenal sebagai raja pertama yang memimpin wilayah cukup luas di pulau Jawa.

Peralihan penduduk selanjutnya terjadi pada tahun 643 M yang dilakukan oleh Kusuma Citra, keturunan Jaya Baya. Pada masa Kusuma Citra inilah Nama Astina dirubah menjadi kerajaan Gujarat atau Kujrat. Saat Kusuma Citra menjadi raja, ada suatu ramalan bahwa kerajaannya akan musnah, karenanya ia berkeinginan kuat untuk memindahkan kerajaannya ke Pulau Jawa. Oleh adanya keinginan itu, ia mengirim sejumlah 5.000 penduduk yang beragama Budha dengan pemimpin putranya Awab. Penduduk yang dikirim oleh Kusuma Citra itu terdiri dari Jalma Tani, Jalma Undagi, Jalma Udang Dudukan, Jalma Pangiarik, dan Jalma Prajurit. Pendaratan pertama di bagian barat tidak berhasil, kemudian mengubah haluan ke bagian timur dan berhasil mendarat di sana. Awab sebagai pemimpin kemudian mendirikan kerajaan baru yang diberi nama Mendang Kamulan. Kemudian Awab menetapkan dirinya sebagai raja dengan gelar Brawijaya Sewala Cala.

Sejarah tanah Jawa selanjutnya dapat ditemukan dalam Babad-babad yang menceritakan kelahiran kerajaan-kerajaan di Jawa. Namun demikian, sejarah tersebut penuh dengan mitos dan tampaknya kurang dapat diterima karena versinya yang amat beragam. Terlebih ada motif tertentu dari seroang raja memerinth seroang Mpu atau pujangga untuk menyusun silsilahnya sampai kepada nabi Adam yang dimaksudkan untuk semakin mentahbiskan dirinya sebagai wakil Tuhan di bumi. Penegasan silsilah itu dimaksudkan untuk semakin memperteguh kewibawaannya di mata khalayak rakyat. Cerita itu sulit diterima kebenarannya karena tidak diperkuat dengan bukti terjadinya peristiwa namun demikianlah adanya saat itu.

Memang mengenai Jawa bisa ditemukan berbagai tulisan sebagai bukti, akan tetapi bukti yang didapat isinya samar-samar. Sehingga hanya memperkuat kejadian tertentu saja. Pada saat ini, sebagaimana yang banyak disebutkan dalam beberapa sumber, sejarah Jawa dimulai dari kedatangan Aji Saka tahun 78 atau 125 M. Kemudian, dalam buku Etika Jawa, Franz Magnis menyebutkan asal-usul penduduk Jawa berasal dari perpindahan penduduk dari Melayu yang berasal dari Cina Selatan yang dimulai sejak tahun 3.000 SM. Ia berpendapat demikian sesuai dengan apa yang dikatakan oleh J.H. Kerm dalam buku “Linguistic Materials for the determination of the Century of Origin of the Malay People”.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.