Kamis, 20 Maret 2014

Sejarah MAJAPAHIT (WILWATIKTA)

oleh Ferry Riyandika

Wilwatikta sering kali disebut sebagai sebuah kerajaan besar di Jawa Timur yaitu Kerajaan Majapahit. Wilwatikta merupakan bahasa Sansekerta yang berarti Pohon Maja. Menurut Kitab Pararaton Kerajaan Majapahit semula adalah suatu perdikan atau sima yang terletak di hutan orang Terik, dianugerahkan dari Jayakatong (Jayakatwang) kepada Raden Wijaya. Pada saat orang-orang pekerja dari Madura membabad Hutan Terik karena kehabisan bekal dan lapar, maka dipetik lah buah Maja di hutan tersebut dan dimakan namun apa yang terjadi malah membuat orang yang makan tersebut kepahitan akhirnya dibuang. Untuk mengingat jasa para pembabad hutan tersebut maka desa baru tersebut dinamakan Majapahit (Padmapuspita, 1966: 76). Banyak kalangan yang menyatakan bahwa Hutan Terik letaknya sekarang menjadi Desa Tarik Kecamatan Tarik, di Kabupaten Sidoarjo. Namun belum adanya sumber prasasti akan kepindahan Kerajaan Majapahit dari Desa Tarik ke Trowulan maka, boleh lah saya berpendapat bahwa Hutan Tarik terletak di Trowulan saja, tidak ditempat lain. Wah lagi Menunggu Prasasti yang menyatakan adanya pemindahan kerajaan Majapahit ke Trowulan?... heheheheehe

Menurut Moh. Yamin (1962: 148-149), Pohon Maja memiliki manfaat yang begitu banyak diantaranya adalah getahnya sebagai penyamak kulit. Buah Maja juga digunakan sebagai obat disentri, kayunya digunakan sebagai hulu keris dan bijinya digunakan untuk perekat salah satunya berguna untuk perekat hewan (burung) pada saat berburu. Selain itu Pohon Maja digunakan sebagai batas suatu daerah. Oleh karena itu maka Pohon Maja banyak ditanam di Pulau Jawa. Apabila nama Majapahit atau Wilwatikta keberadaannya sekarang di Trowulan maka untuk membuktikan kebenaran tersebut alangkah baiknya pertama-tama kita haruslah menemukan atau mencari nama sebuah desa yang memiliki kemiripan atau persamaaan dengan nama Buah Maja di dekat daerah Trowulan.


Di Kabupaten Mojokerto yang letaknya di dekat Kecamatan Trowulan banyak sekali desa yang mengandung nama Pohon Maja, diantaranya adalah sebagai berikut: di Kecamatan Sooko yang letaknya berbatasan langsung dengan Kecamatan Trowulan terdapat nama Desa Mojoranu dan Desa Modjongan. Di Kecamat Puri juga terdapat nama Desa Balongmojo, di utara Kecamatan Puri juga terdapat nama Kecamatan dan Desa Mojoanyar. Sedangkan di Kecamatan Bangsal terdapat nama Desa Mojotamping yang berbatasan dengan Kecamatan Mojosari dan juga memiliki desa yang bernama Modjopuro, dan Desa Mojosulur. Sedangkan di Kecamatan Jatirejo yang merupakan batas selatan dari Kecamatan Trowulan terdapat nama Desa Mojokuning. Selain itu di Kecamatan Dlangu terdapat nama Desa Mojokarang.

Sedangkan perbatasan sebelah barat Kecamatan Trowulan adalah Kabupaten Jombang. Di barat Kecamatan Trowulan terdapat nama Kecamatan Mojoagung yang terdapat nama Desa Mojoagung, Mojotrisno dan Desa Dukuhmojo. Kabupaten Jombang dan Mojokerto dahulu merupakan satu wilayah dengan nama Japan (Mojokerto) dan Wirosobo (Jombang) namun wilayah ini di pecah menjadi dua pada tahun 1933 (Zaen, 1998: 25), seperti yang kita ketahui sekarang. Di sebelah barat Kecamatan Mojoagung terdapat Kecamatan Mojowarno yang dimana juga memiliki Desa Mojowarno, Mojoduwur, Mojowangi, dan Desa Mojojejer. Di Kecamatan Bareng juga terdapat nama Desa Mojotengah. Di jelaskan dimuka bahwa orang Madura yamg membabad hutan orang Terik, oleh karena itu hutan tidak lah harus Pohon Maja saja yang hidup tetapi ada pohon lain yang berada di hutan tersebut. Melihat toponimi akan keletakan Majapahit di Trowulan maka di daerah sekitarnya terdapat nama desa yang diambil dari nama tumbuhan-tumbuhan yang sebagian besar dapat dijumpai di sebuah hutan. Seperti Jatirejo, Jambuwok, Sumberjati, Jatipasar, Pakis, Sumbertebu, Talunkidul, Wringinpitu dll.

Menurut Prasasti Kudadu, pada tahun 1292 Masehi terjadi pemberontakan Jayakatwang Bupati Gelang-Gelang terhadap kekuasaan Kerajaan Singhasari. Raden Wijaya dan Ardharaja ditunjuk Kertanegara untuk menumpas pasukan Gelang-Gelang yang menyerang dari arah utara Singhasari. Raden Wijaya berhasil memukul mundur musuhnya. Namun pasukan pemberontak yang lebih besar datang dari arah selatan dan berhasil menewaskan Kertanagara. Menyadari hal itu, Raden Wijaya melarikan diri hendak berlindung ke Terung di sebelah utara Singhasari. Dalam perlarian ke Kudadu, Ardharaja membelot kearah musuh dan bergabung dengan musuh setelah dikibarkan bendera bang putih (Merah Putih). Akhirmya Raden Wijaya berjuang bersama sisa pasukannya. Namun karena terus dikejar-kejar musuh ia sampai ke wilayah Kudadu, meminta bantuan kepala desa Kudadu, ia berhasil menyeberangi Selat Madura untuk bertemu Arya Wiraraja penguasa Songeneb (nama lama Sumenep).

Aryawiraraja walaupun berumur empat puluh tahun merupakan seorang yang memiliki taktik atau strategi ulung. Dalam Kitab Pararaton dikisahkan bahwa Jayakatong bersekutu dengan Aryawiraraja.Menurut pendapat saya hal ini merupakan taktik untuk melenyapkan Jayakatwang dan Kertanegara sendiri karena kita ketahuai Aryawiraraja menjadi besar karena berkat ayahnya hal ini adalah kakeknya (Mahisa Campaka) karena dalam Nagakrtagama menyebutkan bahwa ayah Raden Wijaya adalah Dyah Lembu Tal). Mahisa Campaka adalah seorang pemegang kekuasaan kedua setelah Sminingrat. Dalam Prasasti Mula-Malurung disebutkan bahwa Jayakatwang sendiri merupakan adik ipar Krtanegara karena telah menikah dengan Turuk Bali dan anaknya Ardharaja dalam Pararaton dijelaskan secara gamblang bahwa dia mendapat istri dari anak Krtanegara. Sedangkan Jayakatwang masih memiliki darah dengan Raja Kadiri yaitu Kertajaya yang dihancurkan oleh Ken Arok.

Dalam uraian Pararaton juga dijelaskan bahwa Raden Wijaya akan dinikahkan dengan kedua putri Krtanegara sedangkan menikah dengan 4 putri krtnagara setelah berhasil menyerang Jayakatwang. Sedangkan yang menjadi menantunya adalah Ardharaja anak Jayakatwang dengan Turuk Bali. Oleh karena itu Raden Wijaya tidak berhak mewarisi tahta kerajaan. Apabila kita merunut dari uraian Pararaton Prasasti Mula-Malurung dan Prasasti Kudadu jelas sekali bahwa trah Kadiri akan muncul lagi. Hal ini belum terpikirkan oleh semua orang, trah murni dari Ken Arok dan Ken Dedes adalah Raden Wijya sendiri. Sedangkan Krtanegara bukan trah asli dari Ken Arok karena dia merupakan keturunan dari Tunggul Ametung dan Ken Dedes yang merupakan wakil dari Kadiri. Tunggul Ametung-Anusapati-Sminingrat (Wisnuwardhana)- Kertanegara. Untuk melenyapkan trah Kadiri dan membalas budi mendiang kakek Raden Wijaya yaitu Mahisa Campaka selain itu juga untuk menjaga trah Rajasa maka Aryawiraraja menggunakan taktiknya agar Jayakatwang menyerbu Kerajaan Singhasari yang dipegang Krtanegara.

Kita ketahui bahwa Kertanegara kalah oleh Jayakatwang dikarenakan Kertanegara hanya memusatkan akan serangan dari Kerajan mongol yaitu Khubilaikan. Oleh karena itu di adakan ekspedisi Pamalayu untuk membendung kekuasaan Mongol hingga ke Jawa. Ekspedisi Pamalayu yang dilancarkan Kertanagara tidak lah bualan belaka karena di Sumatera terdapat Prasasti yang menyebutkan nama Krtanegara dan pengiriman sebuah arca Amogapasa Lokeswara kepada Raja muda Sri Wisjwarupa yaitu penguasa Kerajaan Malayu. Prasasti ini disebut dengan Prasasti Padang Arca yang bertarikh Saka 1208 atau 1286 Masehi. Inilah yang melatar belakangi Aryawiraraja memerangi kedua belah pihak yang merupakan trah dari Kadiri namun Jayakatwang tidak meyadari bila Krtanegara merupakan keturunan Tunggul Ametung Wakil dari Kadiri di timur Gunung Kawi.

Bersama Aryawiraraja, Raden Wijaya merencanakan siasat untuk merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang. Wijaya berjanji, jika ia berhasil mengalahkan Jayakatwang, maka daerah kekuasaannya akan dibagi dua untuk dirinya dan Wiraraja. Siasat pertama pun dijalankan. Mula-mula, Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Wijaya menyatakan menyerah kalah. Jayakatwang yang telah membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kerajaan Kadiri menerimanya dengan senang hati. Ia pun mengirim utusan untuk menjemput Raden Wijaya di pelabuhan Jungbiru. Siasat berikutnya, Wijaya meminta Hutan Tarik di sebelah timur Kadiri untuk dibangun sebagai kawasan wisata perburuan. Wijaya mengaku ingin bermukim di sana. Jayakatwang yang gemar berburu segera mengabulkannya tanpa curiga. Wiraraja pun mengirim orang-orang Songeneb untuk membantu Wijaya membuka hutan tersebut.

Maka tidak mengherankan apabila Hutan orang Terik letaknya berada di Trowulan sekarang. Maka Wilwatikta atau Majapahit dahulu pertama kalinya adalah sebuah desa yang lama-kelamaan berkembang dan menjadi sebuah Kerajaan.

Untuk mempertegas Majapahit atau Wilwatikta ada di Trowulan, Pada masa Hayam Wuruk, Pada Prasasti Trowulan I disebutkan bahwa beliau memiliki Gelar “Cri tiktawilwanagaraecwara” yang berarti “yang menguasai atau menjadi kepala Negara Wilwatikta. Sedangkan nama “tikta wilwa-nagara atau Negara Majapahit sudah ada sejak di keluarkan Prasasti Berumbung yang bertarikh Masehi 1329. Selanjutnya kita akan mencari dimanakah ibukota Majapahit atau Wilwatikta? Dalam uraian Nagarakrtagama sudah dijelaskan dengan terang pada saat Hayam Wuruk melakukan kunjungannya ke Lumajang, pertama-tama rombongan Hayam Wuruk setelah dari karatonnya menuju Japan. Japan menurut Prapanca, pada saat rombongan Hayam wuruk pulang dari kunjungannya ke Lumajang, Japan berada di barat Tebu, kini wilayah Tebu berubah menjadi Desa Sumber Tebu (Sidomulyo, 2007: 29-31), “tambening kahawan winarnna ri Japan khuti-khuti hana candhi sak rebah, wetan tang tebu…” yang artinya mula-mula yang dikunjungi adalah Japan dengan asrama-asrama dan candi yang rusak dan rebah, sebelah timurnya tebu (Riana, 2009: 121).

Sedangkan pada saat setelah Hayam Wuruk mengunjungi Simping beliau melakukan perjalanan pulang melewati Surawana dan Bekel.

" Rayuntuk sri narapatya margga ri jukung joyana bajran pamurwwa, prapta raryyani bajra laksmi namegil ring surabhane sudharmma, enjing ryangkatiran pararyyani bekel sonten dhateng ring swarajya, sakweh sang mangiring muwah te-/- lasumantuk ring swawesmanya sowing…..”

artinya:
Baginda pulang melalui Jukung, Joyana, Bajran terus ke timur, berhenti di Brajalaksmi bermalam di Candi Surabawana, paginya berangkat pula berhenti di Bekel sore hari tiba di istana, semua pengiring telah pulang ke rumahnya masing masing….” (Riana, 2009: 302-306).


Nama Candi Surabawana oleh para ahli sejarah dan arkeologi ditujukan untuk tinggalan candi yang terletak di Dusun Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Jadi rombongan Hayam Wuruk apabila Brajalaksmi terletak di Kampung Cina atau di Desa Panjer ini dibenarkan maka arah rute perjalanannya ke timur laut. Jadi urain dari Prapanca bahwa arah yang dilalui Hayam Wuruk untuk menuju ke Candi Surabawana bukanlah ke timur melainkan ke arah timur laut. Setelah menginap di Candi Surabawana Hayam Wuruk beserta rombongannya menuju ke Bekel dan berhenti, selanjutnya pada saat sore hari tiba di Istana Majapahit.

Nama Bekel merupakan nama jabatan untuk lurah suatu daerah. identifikasi Bekel dapat dijumpai dalam tamra prasasti yang bertarikh Saka 893 (971 Masehi) ditemukan di Pelem, Kabupaten Mojokerto dengan nama juru ri bkel sebagai salah satu peserta dalam upacara penetapan sima (Brandes, 1919: 116-119). Dalam prasasti tersebut juga di sebut juru ri kanta, juru ri kijangan, juru ri kuwu, juru ri lekan, juru ri telaga, dan juru ri walasah. Nama juru tersebut hingga kini sebagian besar terletak di daerah Kabupaten Kediri seperti juru ri kanta (Sungai Konto) dan juru ri kijangan (Desa Kunjang). Selain itu juga terdapat Dusun Bekel, yang terletak di Desa Kepuhkajang, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang.

Mengingat akan rute perjalanan Hayam Wuruk bila sore tiba di istana maka lokasi Bekel haruslah di cari di dekat Candi Surabhawana. Apabila nama Bekel yang diuraikan dari Kakawin Nagarakrtagama sama dengan juru ri bkel maka di wilayah Kecamatan Bareng terdapat sebuah desa yang mirip namanya dengan Bekel yaitu Desa Pakel. Apabila pendapat ini benar maka kemungkinan rute perjalanan Baginda raja adalah dari Candi Surowono ke arah timur hingga sampai Desa Kandangan dengan menyeberangi Kali Konto dan menjurus langsung ke utara hingga sampai di Desa Pakel, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Selanjutnya rombongan raja kemungkinan besar menjurus langsung utara hingga sampai di Japanan dan Dukuhmojo. Japanan merupakan tugu batas Keraton Majapahit yang berbentuk Yoni segi lima. Sesampai di Desa Dukuhmojo rombongan Hayam Wuruk membelok ke timur dan sampai istana Kerajaan Majaphit.

Menurut Laporan Ma-Huan, seorang Cina yang mengikuti Cheng Ho pada tahun 1413 Masehi menjelaskan bahwa Raja Jawa tinggal di Man-che-po-i (atau Majapahit), sebuah kota tanpa tembok, yang dicapai dengan melalui Sungai Su-lu-ma-i (Surabaya) sampai ke Cangku (Canggu), kemudian berjalan ke arah barat daya selama setengah hari. Hal ini sesuai dengan cerita pada Kitab Pararaton bahwa Pasukan Tartar dari Tuban masuk ke Majaphit berhenti di Cangku (Canggu) dan mengunjungi Majapahit. Sedangkan dari karya sastra Kidung Wargasari mengisahkan tentang calon dharmadyaksa di Majapahit. dikisahkan pada saat wargasari bersama kekasihnya, Narwati pada saat itu berada di sebuah pegunungan di selatan keraton Majapahit sambil duduk di tepi sungai di Sajabung (Lebakjabung) pada siang hari, mereka memandang jauh ke arah utara samapi Bubat. Wargasari mengusulkan akan berkunjung ke seorang guru ke Lmah Tulis. Rute Perjalanannya melalui Banjaran Getas (Dukuh Getas) dan Kumitir (Desa Kumitir) yang semuanya sekarang berada di Kecamatan jatirejo) selanjutnya ke arah utara melewati pinggir kota Majapahit, akhirnya sampai lah ke Lemah Tulis pada sore hari (Sidomulyo, 2007: 13-17).

Nama Lemah Tulis mengingatkan kita akan cerita Calon Arang yang dimana Lemah Tulis merupakan tempat pertapaan Mpu Bharada yang merupakan guru dari Airlangga, yang menarik dari sini adalah pada saat Mpu Bharada melakukan lawatan ke Pulau Bali. Dikisahkan dalam Cerita Calon Arang bahwa pertama-tama setelah dari Lemah Tulis Mpu Bharada ke Timur melewati Watulangi, Sangkan-adoh, Banasara, Japan, Pandhawa, dsb sampai bermalam di Khuti-khuti, keesok harinya berjalan melewati Kapulungan dsb (Santoso, 1975: 53). Hal yang menarik dari sini adalah rute perjalanan Mpu Bharadah mirip sekali dengan apa yang dilakukan oleh Hayam Wuruk ketika mengunjungi daerah Lumajang. Setelah moksa bersama putrinya Mpu Bharadah pertapaan Lemah Tulis dikasihkan kepada muridnya, dan selanjutnya dikenal dengan pertapaan Murare. Menurut Hadi Sidomulyo (2007: 18), pertapaan Murare mengingatkan akan kuburan Wurara, tempat penahbisan arca mahaksobhya (Joko Dolok). arca ini ditemukan untuk pertamakalinya di Dusun Kedungwulan (Bejijong), tepatnya di situs Siti Hinggil, kiranya inilah letak bekas pertapaan Mpu Bharadah.

Berdasarkan analisis perjalanan Wargasari, dapat di simpulkan bahwa Kota inti Majapahit membentang dan berbatasan langsung dari desa Temon (kali kepiting) di sebelah selatan dan Desa Kumitir di sebelah Timur sampai Trowulan di utaranya yang berbatasan langsung dengan Desa Bejijong, sebelah barat yaitu Dusun Subontoro (Sabyantara) yang dapat dihubungkan dengan tempat pendharmaan Bhre Paguhan beserta istrinya Bhre Pajang. Subontoro terletak di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Jadi batas Kota inti Keraton Majapahit adalah jaringan kanal-kanal. Jadi ibukota Majapahit atau Wilwatikta berada di Trowulan.

Namun pada saat Majapahit tenggelam dan menuju keruntuhannya terjadi konflik dikalangan keraton, yaitu perang paragreg, yang membuat Majapahit semakin tenggelam, Menurut pararaton Pada masa Dyah Suraprabawa atau Pandan Salas telah mendapat serangan dari Khertabhumi sehingga Kertabhumi berkuasa di Majapahit dan Pandan salas melarikan diri ke Daha dengan membuat ibukota baru dengan titel Kerajaan majapahit juga pada tahun 1468 Masehi. Maka di Kerajaan Majapahit terdapat dua penguasa dan dua ibukota.

Pada masa Ranawijya telah menyelenggarakan upacara sraddha untuk memperingati dua belas tahun mangkatnya Paduka Bhattara ring Dahanapura pada tahun 1486 Masehi (Sumadio, 1992: 444). jadi Ranawijaya adalah anak dari Pandan Salas. Ranawijaya telah menyerang Khertabhumi di Keratonnya di Majapahit Trowulan. Hal ini di peringati dengan penetapan Sima Trilokyapuri kepada sri Brahmaradja Ganggandra dan mendapatkan anugerah berupa tanah di talasan, pung dan batu pada tahun 1486 Masehi.

Pada masa Ranawijaya memiliki patih yang bernama Pate Udara, Pate Udara memiliki kewenangan selakyaknya Raja ranawijaya. Pada tahun 1518-1521 Kerajaan Demak yang di Pimpin Oleh Pati Unus menyerang Daha dengan dua bala tentara yang satunya dipimpin oleh seorang Imam Demak yaitu Rahmattullahi namun gagal. Serangan selanjutnya dilakukan oleh Djafar al-Sidiq (Sunan Kudus), putra imam yang telah gugur sebelumnya. Akhirnya Kerajaan Majapahit di Daha runtuh, untuk mengenang ayahnya Sunan kudus membuat suatu inskripsi. Inskripsi ini terletak di Pemakaman Sentono Gedong, Kota Kediri. Inskripsi ini bertarikh 92... H (1514- 1523 Masehi) karena dibelakang angka 2 tidak terbaca satuannya. Inskripsi ini memiliki kesamaan dengan inskripsi yang sekarang berada di Masjid Kudus yang tahun tariknya berbeda yaitu 956 H atau 1549 Masehi (Guilot & Ludvik Kalus, 2008: 140-143). di Makam sentono Gedong ini juga terdapat tinggalan masa Islam lainnya berupa Nisan yang memiliki gambar surya matahari dan tinggalan masa Hindhu yaitu berupa asana yang bergambarkan empat ekor burung yang mengelilinginya dan tugu memanjang, dll.




JADI KERAJAAN WILWATIKTA (MAJAPAHIT) IBUKOTANYA BERADA DI TROWULAN PADA MASA RADEN WIJAYA HINGGA KHERTABUMI, NAMUN PADA SAAT KHERTABHUMI INI JUGA TERDAPAT KERAJAAN MAJAPAHIT LAINNYA DENGAN IBUKOTA DI DAHA. MAJAPAHIT HANCUR DISERANG KERAJAAN DEMAK PADA MASA PEMERINTAHAN PATI UNUS (1518-1521 MASEHI).

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.