Kamis, 20 Maret 2014

Sejarah TRAGEDI BUBAT

Oleh: Ferry Riyandika

Pada tahun 1350, Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk. Ia bergelar Rajasanegara, Pada Prasasti Trowulan I disebutkan bahwa beliau memiliki Gelar “Cri tiktawilwanagaraecwara” yang berarti “yang menguasai atau menjadi kepala Negara Wilwatikta. Dalam menjalankan pemerintahannya didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Adityawarman dan Mpu Nala sehingga pada masa tersebut Majapahit mencapai puncak kebesarannya, karena daerah kekuasaannya hampir meliputi seluruh Nusantara dan Majapahit berkembang sebagai kerajaan maritim sekaligus kerajaan agraris. Memang benar apa yang dicita-citakan oleh Gaja Mada melalui sumpahnya dapat terlaksana kecuali kerajaan Pajajaran (Sunda) yang belum dikuasainya. Akhirnya terjadi suatu tragedi yang sebagian besar orang menyebutnya Perang Bubat.

A. Letak Bubat

Nama Bubat telah kita ketahui dalam uraian Kitab Nagarakrtagama.

"... Akara rwang dina muwahikang karyya kewwan narendra, wwanten lor ning pura tegalanamang bubat kaprakasa sri nathangken mara maka hawan sthana singha padudwan, sabhartyanoraken-ideranatyadbhutang wwang manonton, ndan tingkahaning bubat-arahararddharata tandharata tandhasalwa, madhya krosakaranikana murwwanutug raja margga, madhayarddha krosa keta pangalornya nutug pinggiring lwah, kedran dening bhawana kuwuning mantri sarsok mapanta..." ("...Berselang dua hari baginda raja menyelenggarakan perayaan, disebelah utara kota ada lapangan yang terkenal bernama bubat, Baginda raja berkunjung naik tandu berbentuk suinga di setiap sudutnya, masyarakat pengiring mengelilinginya kagum orang-orang menonton. bubat adalah lapangan yang amat luas lebar dan rata, dari tengah-tengah satu krosa membentang ke timur sampai ke jalan raya, dari tengah-tengah satu krosa ke arah utara hingga pinggir sungai, dikelilingi oleh tempat-tempat perumahan para menteri penuh berkelompok-kelompok...") (Riana, 2009: 409-410).

Nama Bubat ini juga disebutkan dalam Nagarakrtagama sebagai salah satu tempat pendharmaan Raja Jayanegara. Hal ini mengingatkan akan nama candi Brahu, Munandar (2008: 101) menjelaskan bahwa Candi Brahu masyarakat setempat meyakini pada jaman dahulu digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah para raja Majapahit. Kata "Brahu" berasal dari kata Brawu--> Awu dan sekarang menjadi abu. Dibilik Candi ada bekas-bekas altar atau meja persajian. Disekitar candi ini juga pernah ditemukan benda-benda dari bahan emas dan perak, piring perak yang dibawahnya bertulis kuno dan 6 buah arca yang bersifat agama Buddha. Sealin itu ada 4 lempeng prasasti masa Mpu sindok ditemukan disekitar 45 meter dari Candi Brahu (Wisnoewahardono, 1991: 4-5). Candi Brahu sekarang terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan.


Menurut Laporan Ma-Huan, seorang Cina yang mengikuti Cheng Ho pada tahun 1413 Masehi menjelaskan bahwa Raja Jawa tinggal di Man-che-po-i (atau Majapahit), sebuah kota tanpa tembok, yang dicapai dengan melalui Sungai Su-lu-ma-i (Surabaya) sampai ke Cangku (Canggu), kemudian berjalan ke arah barat daya selama setengah hari. Hal ini sesuai dengan cerita pada Kitab Pararaton bahwa Pasukan Tartar dari Tuban masuk ke Majaphit berhenti di Cangku (Canggu) dan mengunjungi Majapahit. Sedangkan dari karya sastra Kidung Wargasari mengisahkan tentang calon dharmadyaksa di Majapahit. dikisahkan pada saat wargasari bersama kekasihnya, Narwati pada saat itu berada di sebuah pegunungan di selatan keraton Majapahit sambil duduk di tepi sungai di Sajabung (Lebakjabung) pada siang hari, mereka memandang jauh ke arah utara samapi Bubat. Wargasari mengusulkan akan berkunjung ke seorang guru ke Lmah Tulis. Rute Perjalanannya melalui Banjaran Getas (Dukuh Getas) dan Kumitir (Desa Kumitir) yang semuanya sekarang berada di Kecamatan jatirejo) selanjutnya ke arah utara melewati pinggir kota Majapahit, akhirnya sampai lah ke Lemah Tulis pada sore hari (Sidomulyo, 2007: 13-17).

Nama Lemah Tulis mengingatkan kita akan cerita Calon Arang yang dimana Lemah Tulis merupakan tempat pertapaan Mpu Bharada yang merupakan guru dari Airlangga, yang menarik dari sini adalah pada saat Mpu Bharada melakukan lawatan ke Pulau Bali. Dikisahkan dalam Cerita Calon Arang bahwa pertama-tama setelah dari Lemah Tulis Mpu Bharada ke Timur melewati Watulangi, Sangkan-adoh, Banasara, Japan, Pandhawa, dsb sampai bermalam di Khuti-khuti, keesok harinya berjalan melewati Kapulungan dsb (Santoso, 1975: 53). Hal yang menarik dari sini adalah rute perjalanan Mpu Bharadah mirip sekali dengan apa yang dilakukan oleh Hayam Wuruk ketika mengunjungi daerah Lumajang. Setelah moksa bersama putrinya Mpu Bharadah pertapaan Lemah Tulis dikasihkan kepada muridnya, dan selanjutnya dikenal dengan pertapaan Murare. Menurut Hadi Sidomulyo (2007: 18), pertapaan Murare mengingatkan akan kuburan Wurara, tempat penahbisan arca mahaksobhya (Joko Dolok). arca ini ditemukan untuk pertamakalinya di Dusun Kedungwulan (Bejijong), tepatnya di situs Siti Hinggil, kiranya inilah letak bekas pertapaan Mpu Bharadah.


Berdasarkan analisis perjalanan Wargasari, dapat di simpulkan bahwa Kota inti Majapahit membentang dan berbatasan langsung dari desa Temon (kali kepiting) di sebelah selatan dan Desa Kumitir di sebelah Timur sampai Trowulan di utaranya yang berbatasan langsung dengan Desa Bejijong, sebelah barat yaitu Dusun Subontoro (Sabyantara) yang dapat dihubungkan dengan tempat pendharmaan Bhre Paguhan beserta istrinya Bhre Pajang. Subontoro terletak di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Jadi batas Kota inti Keraton Majapahit adalah jaringan kanal-kanal. Oleh karena itu maka Lapangan Bubat haruslah dicari di sebelah utara batas utara kota Majapahit.

Nama Bubat juga terdapat dalam uraian kisah Perjalanan Bujangga Manik di Jawa bagian timur. Naskah ini diperkirakan pembuatannya dari perempat kedua abad ke-15 hingga tahun 1511. Adapun uraiannya sebagai berikut.

"..ngalalar aing ka Bubat, cunduk aing ka manguntur, ka buruan Majapahit, ngalalar ka Darma Anyar, na karang Kajramanan,ti kidulna karang jaka, sadatang kapali(n)tahan..." ("...berkunjunglah saya ke Bubat, saya tiba di Maguntur, halaman depan (keraton) Majapahit, berkinjunglah saya Darma Anyar-nya Karang Kajramanaan, diselatannya terdapat karang jaka tibalah di palintahan....". Bubat dan Manguntur (Wanguntur)masih dapat disaksikan, namun Darmaanyar, Karang kajraman dan Karang Jaka belum diketemukan toponiminya, sedangkan kapalintahan, keletakannya sekarang menjadi Plintahan yang terletak di barat daya Desa Trowulan (Munandar, 2008:76-77).

Dalam Kidung Sunda yang merupakan sebuah karya sastra yang lebih baru dari Naskah Bujangga Manik menjelaskan bahwa Bubat merupakan pelabuhan sungai bagi kerajaan Majapahit. Suatu petunjuk dari uraian Nagarakrtagama adalah batas Bubat sebelah utara adalah sebuah sungai. Hal ini adalah Sungai Ginting yang terletak di Desa Tempuran dan Ngingasrembyong. Menurut penuturan warga Desa Tempuran tepatnya Dusun Tempuran dahulu merupakan suatu area pertempuran berdarah, sebelum meletus pertempuran terlebih dahulu berkumpul di Dusun Pasanggrahan di timur Dusun Tempuran. jadi lapangan Bubat terletak di utara candi Brahu dan Bejijong (Sidomulyo, 2007: 23-24).

B. Perang Bubat

Menurut Uraian Kitab Pararaton dikisahkan adanya peristiwa orang-orang Sunda di Bubat. sri Baginda Prabu (Hayam Wuruk) menginginkan seorang putri Sunda. patih Madu mendapatkan perintah menyampaikan permintaan kepada orang Sunda, orang Sunda tidak keberatan mengadakan pertalian perkawinan, maka Raja Sunda datang ke Majapahit, namun Raja Sunda menginginkan pernikahan resmi bukan sebuah persembahan kepada Kerajaan Majapahit, namun apa yang terjadi akhirnya Gajah Mada melaporkan hal tersebut kepada Baginda di Wengker dan menyatakan dirinya siap bertempur melawan orang Sunda. Akhirnya terjadi lah peristiwa di Lapangan Bubat. Raja Sunda gugur dan mengalami kekalahan. Gajah Mada akhirnya menikmati masa istirahatnya. Hayam Wuruk akhirnya menikah dengan Paduka Sori(Padmapuspita, 1966: 85-86).

Sementara itu dalam Kidung Sundayana dijelaskan bahwa setelah perjalanan lewat laut dan sungai rombongan dari Kerajaan Sunda tiba di Desa Bubat, kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Namun dicegah oleh patih Gajah Mada, akhirnya Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan. Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.

Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka beliau memberitahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya. Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja. Maka perang tidak dapat dihindarkan.

Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit yang dipimpin Gajah Mada bersama Hayam Wuruk dan Baginda Parameswara banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka. Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Ia kemudian menuju ke pesanggaran putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini. Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.

Melihat dari kedua karya sastra tersebut maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Dalam Kitab Pararaton dijelaskan bahwa baginda di Wengker mau membantu Gajah Mada bertempur melawan orang-orang dari Kerajaan Sunda. hal ini sangat ganjal sekali, keponakannya (Hayam Wuruk) menginginkan pernikahan dengan Dyah Pitaloka namun tidak direstuinya?. kita ketahui bahwa Baginda Wengker dalam Kitab Pararaton adalah Kudamerta yang menikah dengan Bhre Daha Rajadewi yang merupakan adik kandung dari ibu Hayam Wuruk Tribhuwanottungadewi Jayawisnuwarddhani atau Bhre Kahuripan. Tribhuwan menikah dengan Cakradara atau Cakreswara yang menjadi raja di Singhasari (Bhre Singhasari)(Sumadio, 1992: 433). di dalam Nagakrtagama djelaskan bahwa Kudamerta atau baginda Wengker (wijayarajasa) merupakan salah satu Dewan Pertimbangan Agung Kerajaan Majapahit atau "saksat pranala kta de Bhatara sapta prabhu" yang artinya perintah tujuh prabu (Prasasti Singosari yang bertarik 1351 Masehi) dalam mengambil keputusan pembangunan Candi Singosari. Hal ini juga terlihat lagi di Nagarakrtagama setelah Gajah Mada wafat, Dewan pertimbangan Agung berunding dalam mencari penggantinya (Muljana, 2006: 183-184).

Sedangkan dalam naskah Sundayana dijelaskan bahwa Gajah Mada bersama Hayam Wuruk dan Baginda Parameswara menuju medan laga. Di dalam Kitab Pararaton setelah kejadian peristiwa di Lapangan Bubat hayam Wuruk menikah dengan Paduka Sori anak dari Baginda Parameswara. Jadi Baginda Wengker tidak lain adalah Baginda Parameswara. Menurut pendapat saya yang jelas bahwa Baginda Wengker menginginkan Hayam Wuruk menikah dengan paduka Sori anaknya agar trah Majapahit tetap terjaga, dengan mengorbankan Gajah Mada. Seharusnya yang harus menanggung kesalahan akan peristiwa Bubat adalah Baginda Wengker (Kudamerta) bukan Gajah Mada. Yang timbul pertanyaan lagi Apakah Hayam Wuruk djodohkan sejak kecil dengan Paduka Sori? masih menunggu penelitian mendatang.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.