Jumat, 25 April 2014

KEPERCAYAAN RAKYAT JAWA

1. Gentong Suripta
Bila ada bayi yang wetone pada orang tua sebagai syarat orang tua, harus dibuang dulu di tampah kemudian ditemu orang lain dan dikembalikan kepada ibunya untuk diasuh dan bila saat menikah harus ditebus dengan gedhang (pisang) selangkap.

2. Genthong Sinogo
Bila ada yang sakit dan kemudian diminumi air genthong sinogo maka akan sembuh. Menurut cerita dulu yang mengangsu adalah Seh Dong Bo pengikut ki Ageng. Dulu yang She Dong Bo membangkang bila dengan ki Ageng, kemudian dikasih hukuman untuk mengisi genthong tersebut dengan menggunakan kranjang, namun bisa penuh ninggal di makamkan di Carakan.
Tidak ada orang yang berani bersumpah untuk gentong sinogo. Misalnya orang mencuri tidak mengaku kemudian ditakut-takuti diberi gentong sinogo maka orang tersebut tidak akan berani berbohong karena apabila berbohong maka orang tersebut akan mati.

3. Sinuwun adang
Di daerah Solo, Surakarta ada istilah kepercayaan rakyat yang sering disebut dengan sinuwun adang. Ketika ada orang yang sedang memasak nasi tidak boleh ada orang asing yang membuka nasi tersebut. Karena dipercayakan apabila ada orang asing yang membukanya maka nasinya tidak akan matang. Tradisi ini dilakukan delapan tahun sekali.

4. Sendang Siwani
Semula Sendang Siwani masih merupakan sendang alam yang kecil tidak terawat, berdekatan dengan pohon yang rindang dan airnya sangat jernih. Kemudian didirikan sebuah bangsal dengan ukuran 3 X 5 meter untuk bernaung para peziarah. Konon yang mendirikan bangunan tersebut adalah Bapak Soemoharyomo, ayahanda dari almarhumah Ibu Tien Soeharto.

Selanjutnya pada tahun 1980, Sendang Siwani dibangun oleh Bapak Soemoharmanto, paman dari almarhumah Ibu Tien Soeharto. Sendang tersebut ditembok dan diberi pagar tembok pula. Kalau semula terbuka, sekarang sudah dibangun kamar mandi untuk perempuan dan laki-laki. Pada tanggal 14 Agustus 1992, Sendang Siwani dipugar oleh para keturunan dari Pangeran Samber Nyawa dan keturunan dari “Punggawa Baku”. Pemugaran tersebut selesai dan diresmikan pada tanggal 13 Desember 1992, dengan disertai candrasengkala, Gatining Panembah Trus Wani.

Sendang Siwani merupakan petilasan Raden Mas Said (KGPAA Mangkunegara I) saat melakukan gerilya melawan penjajahan Belanda. Di Sendang inilah Raden Mas Said mendapatkan petunjuk dari Sang Widhiwasa bagaimana caranya agar mendapatkan kemenangan dalam perang melawan penjajah Belanda.

Selanjutnya tempat ini menjadi mitos bahwa orang yang melakukan tirakat / meditasi ditempat ini akan terkabul permohonannya. Sampai sekarang tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata ritual di kabupaten Wonogiri baik dari kalangan bawah, menengah maupun atas.

5. Labuhan Ageng Sembukan
Pantai Sembukan merupaka salah satu obyek wisata di kabupaten Wonogiri yang mempunyai beberapa sarana ibadah antara lain masjid, paseban dan sanggar. Konon Pantai Sembukan ini merupakan gerbang ke-13 kerajaan Ratu Kidul. Gerbang ini digunakan untuk lewat Kanjeng Ratu Kidul saat menghadiri pertemuan dengan Raja-Raja Kasunanan Surakarta (Paku Buwono). Setiap setahun sekali diadakan selamatan (Larung Ageng) dilanjutkan wayang kulit baik dari Kraton Surakarta, Pemerintah Kabupaten Wonogiri maupun masyarakat Desa Paranggupito.

Maksud dan tujuan upacara ritual Larung Ageng adalah selamat dari gangguan roh-roh halus. Upacara-upacara yang diselenggarakan oleh masyarakat tidak hanya berfungsi untuk menolak atau menangkis marabahaya dan penyakit menular, melainkan sering juga digunakan untuk satu permintaan, misalnya jika terjadi musim kering yang berkepanjangan sehingga orang mengalami kekuranangan air. Event ini sangat menarik dan selalu mendatangkan wisatawan yang cukup banyak. Pada umumnya wisatawan mengharapkan berkah untuk kesuksesan dan kebahagiaan dengan melakukan meditasi, menyatu dengan Sang Pencipta memohan agar semua cita-citanya terkabul, dan ternyata banyak yang berhasil. Obyek wisata ini masuk wilayah Desa Paranggupito, kecamatan Paranggupito, 60km dari ibukota kabupaten Wonogiri kearah selatan dan memerlukan waktu perjalanan kira-kira 2jam dengan kendaraan bermotor.

6. Ziarah Di Makam Pangeran Samudro
“Sing sapa nduwe panjangka marang samubarang kang dikarepke bisane kelakon iki kudu sarana pawitan temen, mantep, ati kang suci, aja slewang-sleweng, kudu mindeng marang kang katuju, cedhakan dhemene kaya dene yen arep nekani marang panggonane dhemenane.”

“Barang siapa berhasrat atau punya tujuan untuk hal yang dikehendaki maka untuk mencapainya harus dengan kesungguhan, mantap, dengan hati yang suci, jangan serong kanan / kiri harus konsentrasi pada ynga dikehendaki / yang diinginkan, dekatkan keinginan, seakan-akan seperti menuju ketempat kesayangannya / kesenangannya.”

Petikan wacana diatas memang dapat ditafsirkan keliru, khususnya oleh masyarakat awam. Ada pendapat yang keliru yang mengatakan bahwa apabila berziarah ke makam Pangeran Samudro harus seperti ketempat kekasih / dhemenan dalam pengertian bahwa berziarah kesana harus membawa isteri simpanan atau teman kumpul kebo serta melakukan hubungan seksual dengan bukan isteri atau suami yang sah. Parahnya pendapat tersebut telah diterima oleh sebagian besar masyarakat.

Akan tetapi pandangan atau pendapat tersebut tidak benar dan perlu diluruskan. Muncul pendapat tersebut dari penafsiran pengertian kata “dhemenan”. Pengertian kata “dhemenan” dalam bahasa Jawa diartikan kekasih lain yang bukan isteri / suami sah (pasangan kompul kebo), kekasih gelap, isteri / suami simpanan. Sehingga pengertiannya menjadi apabila ziarah ke makam Pangeran Samudro harus membawa dhemenan.

Arti sesungguhnya dari kata “dhemenan” dalam konteks naskah bahasa jawa tersebut adalah keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita yang ingin segera terwujud / tercapai seperti seakan-akan ingin menemui kekasih.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inti ziarah ke makam Pangeran Samudro di gunung Kemukus adalah apabila punya kemauan, cita-cita yang ingin dicapai, atau apabila menghadapi rintangan yang menghalangi jalan untuk mencapai cita-cita / tujuan tersebut harus dilakukan dengan cara bersungguh-sungguh, hati yang bersih suci dan konsentrasi pada cita-cita dan tujuan yang ingin dicapai / dituju. Dengan demikian terbukalah jalan untuk mencapai cita-cita dan tujuan tersebut dengan mudah.

7.Khuthuk
Khuthuk merupakan tradisi yang ada di daerah wonogiri. Tradisi ini dilakukan untuk memberi makan pusaka pada malam hari jum’at kliwon. Ritual khuthuk biasanya dilakukan pada hari Jum’at pahing, Jum’at pon dan jum’at kliwon. Kegiatan yang dilakukan biasanya adalah bakaran menyan, dan kembang setaman yang dimasukkan ke dalam air. Jika senjatanya bergetar tidak bisa didekati, dipercaya bahwa ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu.

8.Ngalap Berkah
Kepercayaan di daerah sekitar Surakarta yang percaya bahwa kotoran kerbau diyakini membawa berkah.

(diposting oleh cia pbsj 07' unnes)
(disusun oleh kelompok penelitian folklor setengah lisan rombel 4 angkatan 2oo8 (Ita Mustikaningrum dkk) Dosen Bapa Sukadaryanto, PBSJ-BSJ-FBS-UNNES Universitas Negeri Semarang)

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.