Kamis, 23 Oktober 2014

SEJARAH KERATON KASUNANAN SURAKARTA

KERATON KASUNANAN

Didirikan oleh Pakubuwono II tahun 1745. Selain sebagai symbol pusat budaya jawa, didalamnya terdapat galleri yang menyimpan benda – benda kuno bersejarah antara lain kereta kencana, keris, wayang kulit. Dibagian depan terdapat sebuah bangunan "panggung songgobuwono yang konon merupakan tempat bersemedi raja untuk bertemu dengan penguasa laut selatan ( Ratu Roro Kidul ).

PURO MANGKUNEGARAN


Didirikan oleh Raden Mas Said yang Lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyowo pada tahun 1757 setelah penandatanganan perundingan Salatiga pada tanggal 13 Maret. Selain simbol pusat budaya, didalam Puro juga terdapat Musium yang menyimpan benda bersejarah dengan nilai seni tinggi seperti perhiasan untuk menari dari emas murni, topeng berbagai daerah, dan gamelan.

MASJID AGUNG DEMAK

Masjid tertua di Pulau Jawa ini terletak di pusat Kota Demak, 26 Km dari Kota Semarang. Masjid yang dibangun oleh Wali Songo ini merupakan simbol cikal bakal berdirinya kerajaan Islam pertama oleh Sultan Raden Patah akhir abad 15. Bangunan masjid yang mempunyai nilai historis seni arsitektur tradisional khas Indonesia dengan bentuk atap limasan, mempunyai keunikan tersendiri yaitu keberadaan sebuah tiang penyangga ( soko tatal ) masjid yang terbuat dari potongan kayu (tatal) yang sudak tidak terpakai, konon diikat oleh Sunan Kalijaga sendiri menggunakan sejenis rumput lawatan. Sekitar 1,5 Km dari Masjid Agung Demak ke arah Tenggara terdapat Makam Sunan Kalijaga yang banyak dikunjungi oleh peziarah.

MENARA KUDUS


Menara Kudus merupakan bangunan monumental yang bernilai arkeologis dan historis tinggi. Dari aspek arkeologis, Menara Kudus merupakan bangunan kuno hasil akulturasi kebudayaan Hindu-Jawa dan Islam. Menara Kudus dibangun
oleh Syeh Ja'far Shodiq (Sunan Kudus, salah seorang dari Wali Songo) pada tahun 1685 M yang disimbolkan dalam candrasengkala "Gapuro rusak ewahing jagad" yang bermakna tahun Jawa 1609 atau 1685 M. Bentuk konstruksi dan gaya arsitektur Menara Kudus, yang tingginya sekitar 17 meter.

MASJID AGUNG JAWA TENGAH

Gugus Utama Masjid Agung Jawa Tengah terdiri atas bangunan utama masjid, bangunan sayap utara dan selatan, serta maidan. Fungsi utama gugus ini sebagai sarana ibadah. Pada bngunan-bangunan sayap ditambahkan fungsi lain, seperti fungsi pendidikan dan kemasyarakatan. Semua terletak di tengah tata-rupa (landscaping) yang dihiasi replika-replika menara Masjid Menara Kudus dan Beduq masjid Agung purworejo. Di dekatnya akan ada pula pusat niaga dan penginapan. Masih ada lagi rumah dinas untuk penghulu Masjid Agung Jawa Tengah, berdekatan dengan Wisma Tamu, dekat gerbang samping Masjid Agung Jawa Tengah.
Bangunan utama masjid terdiri atas empat lantai. Lantai utama adalah lantai yang dicapai dari arah maidan, inilah Ruangan Salat Utama yang luasnya 50,4 X 50,4 m. Lantai ini dihubungkan dengan lantai-lantai lain melalui lift dan tangga biasa. Perluasan Ruangan Salat direncanakan ke segala arah, yaitu ke kanan dan kiri, ke lantai atas bangunan-bangunan sayap, keatas, lantai loteng (mezzanine) atas, dan juga kebawah, lantai loteng bawah.
Ruang Salat Utama sanggup menampung 4.000 orang jamaah, diatas masih ada lanati loteng, dimksudkan sebagai Ruangan Salat Wanita, berdaya tampung kurang lebih 1.000 orang. Sedang lantai loteng bawah berkapasitas 1.000 orang baik jamah pria maupun wanita. Perluasan ke samping arah kanan dan kiri, yaitu ke kedua bangunan sayap yang dihubungkan dengan jembatan pendek, masing-masing berkapasitas sekitar 1.000 orang juga. Jadi kapasitas keseluruhan Ruangan Salat dalam masjid agung Jawa Tengah kira-kira 8.000 orang.
Untuk peristiwa-peristiwa khusus, misalnya perayaan atau Salat Id, Masjid Agung Jawa Tengah masih mempunyai maidan yang mampu menampung 7.000 orang lagi. pada keadaan biasa, pekarangan ini sangat panas dibawah terik matahari Semarang. Maka maidan ini dilindungi oleh enam payung raksasa untuk melindungi jamaah dari sengatan matahari atau curahan air huja. Payung raksasa ini dapat dibuka dan ditutup secara otomatis, serupa dengan yang terdapat di Masjid Nabawi di Medinah.

Makam Sunan Kalijaga

Makam Sunan Kalijaga terletak di Kadilangu sekitar 1,5 Km dari Masjid Agung Demak menuju arah tenggara. Makam Sunan Kalijaga banyak dikunjungi peziarah khususnya pacia malam Jum'at kliwon. Ditempat ini pula pada tanggal 10 Zulkijah dilaksanakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kahjaga.

Gereja Belenduk


Dibangun pada tahun 1750 dan dipugar pada tahun 1894 HPA de Wilde Westmas, gereja ini merupakan peninggalan Belanda. Disebut gereja Blenduk karena bentuk kubahnya yang seperti irisan bola,maka orang mengatakan 'mblenduk'. Menempati areal seluas 400 m², bangunan ini berbentuk segi delapan beraturan (hexagonal) dengan penampil berupa bilik-bilik empat persegi panjang dan sisi sebelahnya berbentuk salib Yunani. Betuk ineriornya seluruhnya bercirikan Belanda yang dihiasi sulur tumbuhan yang tertata dari bahan sedangkan pada balkonnya mempunyai bentuk keindahan interior yang unik. Sebagai salah satu bangunan kuno di lingkungan Kota Lama, bangunan ini bisa dikunjungi setiap hari.

GEDUNG BATU


B enteng ini dibangun oleh seorang utusan dari Tiongkok yang bernama Sam Poo Tay Djien dalam lawatannya ke Semarang, sebagai salah satu persinggahan dari rangkaian kunjungannya ke negara-negara Asia. Klenteng yang memberikan inspirasi bagi berkembangnya berbagai legenda mengenai kota Semarang khususnya kawasan Simongan ini memiliki bentuk bangunan yang sangat indah. Dengan perpaduan ornamen Cina yang sangat kental dipadu dengan bentuk atap yang mirip joglo, bangunan ini merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi.

BENTENG PENDEM


Benteng Pendem yang dalam bahasa Belanda disebut "KUSBAT-TERIJ OP DE LANTONG TE CILACAp" terletak di sekitar obyek wisata Pantai Teluk Penyu arah bagian selatan (0,5 Km dari pintu masuk utama). Benteng ini merupakan peninggalan tentara Hindia Belanda yang dibangun secara bertahap pada tahun 1861-1879 dengan luas 6,5 hektar. Bangunan ini dikelilingi oleh pagar dan parit, memiliki konfigurasi yang masih kokoh diantaranya barak prajurit, klinik, terowongan, penjara, ruang amunisi, ruang tembak yang terimbun tanah sedalam 1-3 meter.

Obyek Wisata Benteng Portugis di Jepara
Benteng Portugis yang terletak 45 Km di sebelah utara Kota Jepara menjadi salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Jepara Dilihat dari sisi geografis benteng ini tampak sangat strategis untuk kepentingan militer. Benteng ini dibangun diatas sebuah bukit batu dipinggir laut dan persis didepannya Pulau Mondoliko.

Mercusuar

Terletak di Pelabuhan laut Tanjung Mas Semarang, ini merupakan satu-stunya mercu suar yang ada di Jawa Tengah.
Merdcu suar ini dibangun pada jaman kolonial untuk transportasi pengiriman gula ke luar negeri

Obyek Wisata enteng van der Wijck
Objek wisata sejarah ini terletak di Gombong, sekitar 21 KM barat Kebumen. Benteng berbentuk segi delapan yang dibuat dari batu bata ini memiliki 2 (dua) lantai. Di bagian atap benteng terdapat bangunan yang berfungsi sebagai tempat pengintaian.
Benteng bekas peninggalan Belanda ini dibangun di masa Perang Diponegoro (1825-1830). Didalam menghadapi perlawana rakyat, pada tahun 1827 pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem militer Benteng Stesel di daerah jajahanya. Salah satu "pos penjagaan" yang mereka bangun diwilayah Bagelen atau Keduh Selatan bagian barat adalah Benteng van der Wijck.
Benteng peninggalan sejarah ini mempunyai luas 7.168 m2 , dengan dinding dan lantai yang masing - masing mempunyai tebal 140 cm dan 110 cm. Dilantai pertama terdapat 4 (empat) pintu gerbang, 16 ruangan besar, dan 27 ruangan lain yang ukuranya lebih kecil.Tangga yang menghubungkan lantai pertama dan lantai kedua memeiliki 8 anak tangga ; tidak trmasuk 2 tangga darurat lainya. Dilantai 2 (dua) sendiri terdapat 16 ruangan besar, dan 25 ruangan kecil.dengan bagian atap benteng, lantai kedua ini dihubungkan oleh 4 anak tangga.
Dijaman penduduk Jepang, benteng ini dipakai untuk melatih prajurit PETA (Pembela Tanah Air). Mereka ditempatkan dibarak - barak disekitar bentang, sementara banguna utama benteng dipakai sebagai gudang penyimpana bahan makanan, senjata dan amunisi. Tulisan - tulisan berbahasa Belanda yang terdapat didalam benteng dicat hitam, sehingga mengaburkan perunutan sejarah berdirinya benteng.
Dimasa Agresi militer Belanda I (27 Juli 1947), yaitu setelah Gombong dan sekitarnya jatuh ke tangan Belanda, benteng ini merupakan wilayah pertahan terdepan. Garis demarkasi yang dibuat Belanda (dikenal dengan garis demarkasi van Mook) di daerah Kedu Selatan memanfaatkan S. Kernit sebagai pembatas wilayah . Wilayah bagian barat sungai dikuasai oleh Belanda, sedang bagian timurnya oleh Tentara Republik Indonesia. Setelah Belanda meniggalkan Indonesia mulai 1984 TNI Angkatan Darat memanfaatkanya menjadi tempat sekolah calon TAMTAMA (SECATA) A.
Berdasarkan sejarah, benteng ini dikenal dengan nama Fort Cochius, yang diambil dari nama Jenderal Frans David Cochius yang oleh Belanda dianggap sangat berjasa dalam Perang Dunia.

VIHARA PAGODA WATUGONG

Kompleks Vihara Buddha Gaya Watugong yang mempunyai nilai artistik dengan tinggi 39 meter, merupakan pagoda tertinggi di Indonesia. Dibangun tahun 2005, terletak di depan Makodam IV Diponegoro Semarang. Bangunan yang mempunyai tujuh tingkat ini terdapat patung Dewi Welas Asih dari tingkatan kedua hingga keenam. Terdapat 20 patung Kwan Im dipasang di Pagoda tersebut. Pemasangan Dewi Welas Asih ini disesuaikan dengan arah mata angin, yang bertujuan agar Dewi yang selalu menebarkan cinta kasih tersebut bisa menjaga Kota Semarang dari segala arah. Bangunan yang merupakan pelengkap ruang Metta Karuna di Vihara Avalokitesvara Srikukusrejo Gunung Kalong dan memiliki seni arsitektur yang sangat tinggi ini merupakan salah satu kebanggaan warga Kota Semarang dan Jawa Tengah pada umumnya, karena saat ini pengunjung Vihara Buddha Gaya tidak hanya umat Budha saja, tapi juga umat agama lain untuk dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata religi.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.