sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Showing posts with label Prasasti Majapahit. Show all posts
Showing posts with label Prasasti Majapahit. Show all posts
Sunday, June 16, 2019
daftar prasasti Kerajaan Majapahit
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
12 Prasasti Kerajaan Majapahit, Sebagai Sumber Berita Sejarah Kerajaan Majapahit - Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan besar di Indonesia, meninggalkan beberapa prasasti yang bisa dijadikan sebagai sumber informasi. Prasasti Kerajaan Majapahit ini cukup banyak dan tersebar di beberapa daerah yang berbeda. Sumber berita sejarah Kerajaan Majapahit ada beberapa jenis, dan salah satunya adalah prasasti peninggalan kerajaan Majapahit. Maka dari itu, prasasti kerajaan Majapahit ini sangat penting keberadaannya. Setidaknya pada beberapa informasi yang kami dapatkan ada 12 prasasti Kerajaan Majapahit yang berhasil ditemukan dan bisa dijadikan sebagai sumber informasi untuk Kerajaan Majapahit.
Prasasti Kerajaan Majapahit
Nah, terkait prasasti kerajaan Majapahit, maka pada kesempatan kali ini akan kami sampaikan sedikit penjelasan mengenai 12 prasasti Kerajaan Majapahit yang bisa ditemukan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan ulasan kami di bawah ini.
1. Prasasti Kudadu 1294 M
Prasasti Majapahit yang pertama adalah prasasti Kudadu. Prasasti Kudadu ini adalah prasasti sebuah peninggalan Kerajaan Majapahit yang berisikan tentang cerita pengalama Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit. Lebih spesifiknya, prasasti ini menjelaskan mengenai pertolongan yang didapatkan Raden Wijaya dari Rama Kudadu. Saat itu Raden Wijaya lari dari kejaran Jayakatwang. Kemudian setelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit, penduduk desa Kudadu dan Kepala Desa Kudadu diberi hadiah oleh Raden Wijaya berupa tanah sima.
2. Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Prasasti Balawi (1305 M)
Prasasti Sukamerta dan prasasti Balawi adalah prasasti kerajaan Majapahit selanjutnya. Prasasti ini berisikan tentang kisah Raden Wijaya yang memperistri keempat anak dari Kartanegara. Keempat putri Kartanegara tersebut adalah Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Sri Paduka Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Paduka Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Sri Paduka Rajapadni Dyah Dewi Gayatri. Selain mencatatkan cerita pernikahnnya dengan keempat putri Kartanegara, Prasasti ini juga menceritakan tentang anaknya yaitu Jayanegara yang dijadikan raja muda di Daha.
3. Prasasti Waringin Pitu (1447 M)
Prasasti Waringin Pitu adalah peninggalan Kerajaan Majapahit yang menerangkan tentang tata negara atau pemerintahan Majapahit. Prasasti ini menjelaskan tentang bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi dari Kerajaan Majapahit yang memiliki 14 kerajaan bawahan. Pimpinan dari Kerajaan bawahan tersebut disebut dengan gelar Bhre. Nama-nama penguasa raja bawahan tersebut adalah Bhre Daha, Bhre Kahuripan, Bhre Pajang, Bhre Wengker, Bhre Wirabumi, Bhre Matahun, Bhre Tumapel, Bhre Jagaraga, Bhre Tanjungpura, Bhre Kembang Jenar, Bhre Kabalan, Bhre Singhapura, Bhre Keling, dan Bhre Kelinggapura.
4. Prasasti Canggu (1358 M)
Prasasti Canggu menjelaskan tentang peraturan di tempat-tempat penyeberangan yang berada di Bengawan Solo. Pada saat itu, di sekitar Bengawan Solo terdapat beberapa tempat penyeberangan yang berfungsi untuk menyeberangkan orang.
5. Prasasti Biluluk I (1366 M), Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M)
Prasasti ini menjelaskan tentang peraturan terkait sumber air asin. Sumber air asin adalah aset yang sangat berharga untuk membuat garam, sehingga diperlukan peraturan yang ketat. Selain mengatur penggunaan sumber air asin, prasasti ini juga menjelaskan ketentuan pajaknya.
6. Prasasti Karang Bogem (1387 M)
Prasasti ini menerangkan tentang pembukaan daerah perikanan di Karang Bogem.
7. Prasasti Marahi Manuk dan Prasasti Parung
Prasasti kerajaan Majapahit ini membicarakan tentang sengketa tanah. Persengketaan ini diputuskan oleh pejabat kehakiman yang tentunya menguasai kitab-kitab hukum adat setempat.
8. Prasasti Katiden I (1392 M)
Prasasti Katiden adalah salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang berisikan tentang pembebasan daerah penduduk di desa Katiden. Pembebasan daerah di desa Katiden ini meliputi 11 desa. Pembebasan ini diberikan karena penduduk di desa Katiden mendapatkan tugas berat dengan menjaga dan memilihara hutan alang-alang di daerah Gunung Lejar.
9 Prasasti Alasantan 939 M
Prasasti ini mengisahkan bahwa pada tanggal 6 September 939 M Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di kawasan Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.
10. Prasasti Kamban (941 M)
Prasasti peninggalan kerajaan Majapahit berikutnya adalah prasasti Kamban. Prasasti ini hampir sama dengan prasasti Alasantan. Prasasti Kamban ini menjelaskan bahwa pada tanggal 19 Maret 941 Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa telah meresmikan desa Kamban sebagai daerah perdikan.
11. Prasasti Hara-hara (Trowulan VI) (966 M)
Prasasti ini menjadi sumber berita sejarah Kerajaan Majapahit tentang penyerahan tanah untuk rumah doa. Pada prasasti ini diberitakan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966 M Mpu Mano menyerahkan tanah yang menjadi haknya secara turun menurun kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah doa atau yang lazim disebut dengan Kuti.
12. Prasasti Wurare (1289 M)
Prasasti Wurare adalah sebuah prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang memberikan informasi terkait pemersatuan Jenggala dan Panjalu dan penahbisan arca. Pada prasasti ini dituliskan bahwa pada tanggal 21 September 1289 Sri Jnamasiwabajra, raja berhasil mempersatukan Jenggala dan Panjalu, menahbiskan arca Mahaksobhya di Wurare. Gelar raja itu ialah Kertanegara setelah ditahbiskan sebagai Jina atau dhyani Buddha.
Demikian beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang bisa kami sampaikan untuk Anda semua. Semoga sedikit informasi mengenai prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit di atas bisa bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan kita semua. Prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit ini begitu penting dan bisa menambah dan memudahkan penggalian informasi sejarah Kerajaan Majapahit bagi para ahli sejarah.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Lokasi Candi Bajang Ratu Kerajaan Majapahit Yang Berupa Gapura
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Candi Bajang Ratu, Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit Yang Berupa Gapura - Sebagai kerajaan yang besar, Kerajaan Majapahit meninggalkan beberapa peninggalan sejarah yang beraneka ragam. Peninggalan Kerajaan Majapahit yang tersebar di beberapa daerah kebanyakan berbentuk candi. Ada beberapa candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih bisa kita jumpai pada saat ini. Diantara candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih ada adalah Candi Pari dan Candi Jabung. Selain kedua candi tersebut, masih ada lagi beberapa candi yang lain. Untuk kali ini, pembahasan akan kita fokuskan kepada candi peninggalan kerajaan Majapahit yang lain yaitu Candi Bajang Ratu atau sering juga disebut dengan Gapura Bajang Ratu.
Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit
Lokasi Candi Bajang Ratu
Gapura Bajang Ratu atau Candi Bajang Ratu ini adalah sebuah gapura yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Lokasi Candi Bajang Ratu cukup jauh dari puat kanal perairan Majapahit di sebelah Timur, namun cukup dekat dengan Candi Tikus. Beberapa ahli menyebutkan dasar pemilihan lokasi ini mungkin dikarenakan alasan ketenangan. Selain alasan ketenangan, juga dikarenakan untuk lebih dekat dengan alam. Meski sedikit jauh dari pusat, namun lokasi Candi ini tetap dikontrol dengan adanya kanal melintang di sebelah depan candi dengan jarak lebih dari 200 meter yang langsung menuju bagian tengah sistem kanal Majapahit. Hal ini tentu menunjukkan adanya hubungan yang erat dengan pusat Majapahit.
Di lokasi sekitar Candi Bajang Ratu, terdapat banyak peninggalan Kerajaan Majapahit dari masa Kejayaan Majapahit. Peninggalan-peninggalan tersebut sangat penting keberadaannya sebagai salah satu sumber berita sejarah Kerajaan Majapahit.
Sejarah Gapura Bajang Ratu
Candi peninggalan Kerajaan Majapahit ini diperkirakan dibangun pada abad ke 14. Gapura Bajang Ratu ini juga merupakan salah satu gapura besar pada zaman keemasan Kerajaan Majapahit. Menurut badan purbakala Mojokerto, fungsi dari Gapuro Bajang Ratu ini adalah sebagai pintu masuk ke bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara yang didalam kitab Negarakertagama disebut sebagai "kembali ke dunia Wisnu". Namun demikian, sebelum wafatnya Jayanegara, Candi bajang Ratu ini sudah ada dan digunakan sebagai pintu belakang kerajaan. Dugaan seperti ini muncul karena adanya relief Sri Tanjung dan sayap gapura. Relief Sri Tanjung sendiri melambangkan pelepasan untuk orang meninggal. Dan, budaya tersebut sampai sekarang ternyata juga masih ada di Mojokerto di daerah Trowulan, yaitu jika melayat orang meninggal diharuskan melewati pintu belakang.
Candi Bajang Ratu, menurut tata bahasa Jawa sendiri memiliki arti "raja/bangsawan kecil/kerdil/cacat". Dari nama gapura tersebut, penduduk sering mengaitkan dengan raja Jayanegara yang merupakan raja kedua Majapahit. Hal ini karena Raja Jayanegara ketika dinobatkan menjadi Raja masih dalam usia yang sangat muda (baca : Kehidupan Politik Kerajaan Majapahit Masa Raja Jayanegara) atau dalam bahasa Jawa disebut bajang/bujang. Sehingga, kuat dugaan bahwa gapura ini kemudian disebut dengan Ratu Bajang/ Bajang Ratu yang artinya raja kecil. Ada legenda lain yang menyebut bahwa ketika Raja Jayanegara kecil sedang bermain di candi ini, ia tersandung dan mengakibatkan ia cacat sehingga Candi ini disebut dengan "Bajang Ratu".
Struktur Bangunan Candi Bajang Ratu
Candi ini secara vertikal memiliki tiga bagian utama yaitu, kakai, tubuh dan atap. Pada bagian tembok di kedua sisi Candi Bajang Ratu, terdapat semacam sayap. Kaki Candi Bajang Ratu memiliki panjang sekitar 2,48 meter. Kaki Bajang Ratu memiliki struktur bingkai bawah, badan kaki dan bingkai atas. Pada sudut kaki Candi Bajang Ratu terdapat relief sederhana yang menggambarkan kisah "Sri Tanjung". Sedangkan di bagian tubuh atas, pada bagian ambang pintu terdapat relief hiasan berbentuk kala dengan relief berhias sulur-suluran. Sedangkan di bagian atapnya terdapat relief hiasan yang rumit berupa kepala kala diapit singa. Kemudian relief matahari, kemudian naga berkaki dan kepala garuda dan juga relief bermata satu atau monocle cyclops.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Saturday, January 5, 2019
Candi Bajang Ratu, Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit Yang Berupa Gapura
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Candi Bajang Ratu, Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit Yang Berupa Gapura - Sebagai kerajaan yang besar, Kerajaan Majapahit meninggalkan beberapa peninggalan sejarah yang beraneka ragam. Peninggalan Kerajaan Majapahit yang tersebar di beberapa daerah kebanyakan berbentuk candi. Ada beberapa candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih bisa kita jumpai pada saat ini. Diantara candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih ada adalah Candi Pari dan Candi Jabung. Selain kedua candi tersebut, masih ada lagi beberapa candi yang lain. Untuk kali ini, pembahasan akan kita fokuskan kepada candi peninggalan kerajaan Majapahit yang lain yaitu Candi Bajang Ratu atau sering juga disebut dengan Gapura Bajang Ratu.
![]() |
| Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit |
Lokasi Candi Bajang Ratu
Gapura Bajang Ratu atau Candi Bajang Ratu ini adalah sebuah gapura yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Lokasi Candi Bajang Ratu cukup jauh dari puat kanal perairan Majapahit di sebelah Timur, namun cukup dekat dengan Candi Tikus. Beberapa ahli menyebutkan dasar pemilihan lokasi ini mungkin dikarenakan alasan ketenangan. Selain alasan ketenangan, juga dikarenakan untuk lebih dekat dengan alam. Meski sedikit jauh dari pusat, namun lokasi Candi ini tetap dikontrol dengan adanya kanal melintang di sebelah depan candi dengan jarak lebih dari 200 meter yang langsung menuju bagian tengah sistem kanal Majapahit. Hal ini tentu menunjukkan adanya hubungan yang erat dengan pusat Majapahit.
Di lokasi sekitar Candi Bajang Ratu, terdapat banyak peninggalan Kerajaan Majapahit dari masa Kejayaan Majapahit. Peninggalan-peninggalan tersebut sangat penting keberadaannya sebagai salah satu sumber berita sejarah Kerajaan Majapahit.
Sejarah Gapura Bajang Ratu
Candi peninggalan Kerajaan Majapahit ini diperkirakan dibangun pada abad ke 14. Gapura Bajang Ratu ini juga merupakan salah satu gapura besar pada zaman keemasan Kerajaan Majapahit. Menurut badan purbakala Mojokerto, fungsi dari Gapuro Bajang Ratu ini adalah sebagai pintu masuk ke bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara yang didalam kitab Negarakertagama disebut sebagai "kembali ke dunia Wisnu". Namun demikian, sebelum wafatnya Jayanegara, Candi bajang Ratu ini sudah ada dan digunakan sebagai pintu belakang kerajaan. Dugaan seperti ini muncul karena adanya relief Sri Tanjung dan sayap gapura. Relief Sri Tanjung sendiri melambangkan pelepasan untuk orang meninggal. Dan, budaya tersebut sampai sekarang ternyata juga masih ada di Mojokerto di daerah Trowulan, yaitu jika melayat orang meninggal diharuskan melewati pintu belakang.
Candi Bajang Ratu, menurut tata bahasa Jawa sendiri memiliki arti "raja/bangsawan kecil/kerdil/cacat". Dari nama gapura tersebut, penduduk sering mengaitkan dengan raja Jayanegara yang merupakan raja kedua Majapahit. Hal ini karena Raja Jayanegara ketika dinobatkan menjadi Raja masih dalam usia yang sangat muda (baca : Kehidupan Politik Kerajaan Majapahit Masa Raja Jayanegara) atau dalam bahasa Jawa disebut bajang/bujang. Sehingga, kuat dugaan bahwa gapura ini kemudian disebut dengan Ratu Bajang/ Bajang Ratu yang artinya raja kecil. Ada legenda lain yang menyebut bahwa ketika Raja Jayanegara kecil sedang bermain di candi ini, ia tersandung dan mengakibatkan ia cacat sehingga Candi ini disebut dengan "Bajang Ratu".
Struktur Bangunan Candi Bajang Ratu
Candi ini secara vertikal memiliki tiga bagian utama yaitu, kakai, tubuh dan atap. Pada bagian tembok di kedua sisi Candi Bajang Ratu, terdapat semacam sayap. Kaki Candi Bajang Ratu memiliki panjang sekitar 2,48 meter. Kaki Bajang Ratu memiliki struktur bingkai bawah, badan kaki dan bingkai atas. Pada sudut kaki Candi Bajang Ratu terdapat relief sederhana yang menggambarkan kisah "Sri Tanjung". Sedangkan di bagian tubuh atas, pada bagian ambang pintu terdapat relief hiasan berbentuk kala dengan relief berhias sulur-suluran. Sedangkan di bagian atapnya terdapat relief hiasan yang rumit berupa kepala kala diapit singa. Kemudian relief matahari, kemudian naga berkaki dan kepala garuda dan juga relief bermata satu atau monocle cyclops.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Thursday, January 3, 2019
12 Prasasti Kerajaan Majapahit, Sebagai Sumber Berita Sejarah Kerajaan Majapahit
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
12 Prasasti Kerajaan Majapahit, Sebagai Sumber Berita Sejarah Kerajaan Majapahit - Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan besar di Indonesia, meninggalkan beberapa prasasti yang bisa dijadikan sebagai sumber informasi. Prasasti Kerajaan Majapahit ini cukup banyak dan tersebar di beberapa daerah yang berbeda. Sumber berita sejarah Kerajaan Majapahit ada beberapa jenis, dan salah satunya adalah prasasti peninggalan kerajaan Majapahit. Maka dari itu, prasasti kerajaan Majapahit ini sangat penting keberadaannya. Setidaknya pada beberapa informasi yang kami dapatkan ada 12 prasasti Kerajaan Majapahit yang berhasil ditemukan dan bisa dijadikan sebagai sumber informasi untuk Kerajaan Majapahit.
![]() |
| Prasasti Kerajaan Majapahit |
Nah, terkait prasasti kerajaan Majapahit, maka pada kesempatan kali ini akan kami sampaikan sedikit penjelasan mengenai 12 prasasti Kerajaan Majapahit yang bisa ditemukan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan ulasan kami di bawah ini.
1. Prasasti Kudadu 1294 M
Prasasti Majapahit yang pertama adalah prasasti Kudadu. Prasasti Kudadu ini adalah prasasti sebuah peninggalan Kerajaan Majapahit yang berisikan tentang cerita pengalama Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit. Lebih spesifiknya, prasasti ini menjelaskan mengenai pertolongan yang didapatkan Raden Wijaya dari Rama Kudadu. Saat itu Raden Wijaya lari dari kejaran Jayakatwang. Kemudian setelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit, penduduk desa Kudadu dan Kepala Desa Kudadu diberi hadiah oleh Raden Wijaya berupa tanah sima.
2. Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Prasasti Balawi (1305 M)
Prasasti Sukamerta dan prasasti Balawi adalah prasasti kerajaan Majapahit selanjutnya. Prasasti ini berisikan tentang kisah Raden Wijaya yang memperistri keempat anak dari Kartanegara. Keempat putri Kartanegara tersebut adalah Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Sri Paduka Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Paduka Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Sri Paduka Rajapadni Dyah Dewi Gayatri. Selain mencatatkan cerita pernikahnnya dengan keempat putri Kartanegara, Prasasti ini juga menceritakan tentang anaknya yaitu Jayanegara yang dijadikan raja muda di Daha.
3. Prasasti Waringin Pitu (1447 M)
Prasasti Waringin Pitu adalah peninggalan Kerajaan Majapahit yang menerangkan tentang tata negara atau pemerintahan Majapahit. Prasasti ini menjelaskan tentang bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi dari Kerajaan Majapahit yang memiliki 14 kerajaan bawahan. Pimpinan dari Kerajaan bawahan tersebut disebut dengan gelar Bhre. Nama-nama penguasa raja bawahan tersebut adalah Bhre Daha, Bhre Kahuripan, Bhre Pajang, Bhre Wengker, Bhre Wirabumi, Bhre Matahun, Bhre Tumapel, Bhre Jagaraga, Bhre Tanjungpura, Bhre Kembang Jenar, Bhre Kabalan, Bhre Singhapura, Bhre Keling, dan Bhre Kelinggapura.
4. Prasasti Canggu (1358 M)
Prasasti Canggu menjelaskan tentang peraturan di tempat-tempat penyeberangan yang berada di Bengawan Solo. Pada saat itu, di sekitar Bengawan Solo terdapat beberapa tempat penyeberangan yang berfungsi untuk menyeberangkan orang.
5. Prasasti Biluluk I (1366 M), Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M)
Prasasti ini menjelaskan tentang peraturan terkait sumber air asin. Sumber air asin adalah aset yang sangat berharga untuk membuat garam, sehingga diperlukan peraturan yang ketat. Selain mengatur penggunaan sumber air asin, prasasti ini juga menjelaskan ketentuan pajaknya.
6. Prasasti Karang Bogem (1387 M)
Prasasti ini menerangkan tentang pembukaan daerah perikanan di Karang Bogem.
7. Prasasti Marahi Manuk dan Prasasti Parung
Prasasti kerajaan Majapahit ini membicarakan tentang sengketa tanah. Persengketaan ini diputuskan oleh pejabat kehakiman yang tentunya menguasai kitab-kitab hukum adat setempat.
8. Prasasti Katiden I (1392 M)
Prasasti Katiden adalah salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang berisikan tentang pembebasan daerah penduduk di desa Katiden. Pembebasan daerah di desa Katiden ini meliputi 11 desa. Pembebasan ini diberikan karena penduduk di desa Katiden mendapatkan tugas berat dengan menjaga dan memilihara hutan alang-alang di daerah Gunung Lejar.
9 Prasasti Alasantan 939 M
Prasasti ini mengisahkan bahwa pada tanggal 6 September 939 M Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di kawasan Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.
10. Prasasti Kamban (941 M)
Prasasti peninggalan kerajaan Majapahit berikutnya adalah prasasti Kamban. Prasasti ini hampir sama dengan prasasti Alasantan. Prasasti Kamban ini menjelaskan bahwa pada tanggal 19 Maret 941 Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa telah meresmikan desa Kamban sebagai daerah perdikan.
11. Prasasti Hara-hara (Trowulan VI) (966 M)
Prasasti ini menjadi sumber berita sejarah Kerajaan Majapahit tentang penyerahan tanah untuk rumah doa. Pada prasasti ini diberitakan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966 M Mpu Mano menyerahkan tanah yang menjadi haknya secara turun menurun kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah doa atau yang lazim disebut dengan Kuti.
12. Prasasti Wurare (1289 M)
Prasasti Wurare adalah sebuah prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang memberikan informasi terkait pemersatuan Jenggala dan Panjalu dan penahbisan arca. Pada prasasti ini dituliskan bahwa pada tanggal 21 September 1289 Sri Jnamasiwabajra, raja berhasil mempersatukan Jenggala dan Panjalu, menahbiskan arca Mahaksobhya di Wurare. Gelar raja itu ialah Kertanegara setelah ditahbiskan sebagai Jina atau dhyani Buddha.
Demikian beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang bisa kami sampaikan untuk Anda semua. Semoga sedikit informasi mengenai prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit di atas bisa bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan kita semua. Prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit ini begitu penting dan bisa menambah dan memudahkan penggalian informasi sejarah Kerajaan Majapahit bagi para ahli sejarah.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Subscribe to:
Posts (Atom)



