Selasa, 16 April 2013

Musa dan penggembala



Musa mendengar seorang anak gembala berdoa disepanjang jalan,
“Ya Allah,
dimanakah Engkau? Aku inghin membantu-Mu, menjahit sepatu-sepatu-Mu. Aku ingin mencuci pakaian-pakaian-Mu dan memungut yang jatuh.
Aku ingin membawakan-Mu susu, menciumi jari jemari dan kaki-Mu yang lembut saat Engkau hendak tidur.
Aku ingin menyapu kamar tidur-Mu dan menjaganya selalu rapi.
Ya Allah, biri-bibri dan domba-dombaku semuanya milik-Mu.
Hanya ini yang sanggup aku katakana, karena aku sungguh merindukan Engkau, aiiiiiiiiiiiiiiiii dan ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.”
Musa sudah tidak tahan lagi mendengarnya.
Lalu berkata, “Siapa yang kamu maksudkan, anak gembala?”
“Dia, Yang Maha Esa,
yang menciptakan kita, yang menciptakan langit dan bumi.”
“Jangan berbicara soal sepatu dan kaus kaki dengan Allah! Ap pula yang kau maksudkan dengan jari-jemari dan kaki-Mu yang lembut? Seolah-olah kamu sedang berbicara dengan paman-pamanmu.
Hanya mahluk hiduplah yang
Tumbuh berkembang dan membutuhkan susu.hanya manusia yang mempunyai atau membtuhkan sepatu. Bukan Allah!
Meskipun maksudmu adalah perwujudan manusiawi Allah, seperti Allah mengatakan,”ketika Aku sakit, dan kamu tidak mengunjungiku”, inipun tetap sesuatu yang bodoh dan tidak relevan.

Gunakan istilah-istilah yang tepat. Fatima adalah nama yang tepat untuk seorang wanita, tetapi jika kamumemanggil seorang pria dengan Fatima, itu merupakan sebuah cacimaki. Bahasa tubuh, bahasa manusia, itu hanya cocok untuk kita yang ada ditepi sungai, bukan untuk Sang Maha Murni, bukan untuk Allah.”

Gembal itu menyesal, merobek pakaiannya, dan mendesah panjang, lalu pergi berkelana kepadang pasir.
Pewahyuan tiba-tiba
Tampak kepada Musa. Suara Allah :
Engkau telah memisahkan Aku dari bagian diri-Ku. Bukankah engaku dating sebagai nabi untuk menyatukan semua yang tererpisah atau sebagai pelayan?
            Aku telah memberikan kepada setiap insane satu cara khusus, yang berbeda dalam memahami, melihat, mengetahui dan mengatakan pengetahuan ini.
Apa yang tampak salah bagimu, tampak benar baginya.
Apa yang merupakan racun bagi seseorang, merupakan madu bagi yang lain.

Kemurnian dan kenajisan, kemalasan dan ketekunan dalam menyembah, semua itu tiada artinya bagiKu.

Aku terpisah dari semua itu.
Cara-cara penyembahan tidak bias diukur lebih baik atau lebih buruk dibandingkan dengan cara yang lain.

Orang hindu melakukan dengan cara-cara hindu. Orang-orang muslim Dravidian di India melakukannya menurut cara-cara mereka sendiri. Semuanya itu merupakan pujian kemuliaan. Semuanya baik.

Bukan Aku yang dimuliakan dalam setiap penyembahan.
Mereka yang menyembah, mereka sendirilah yang dimuliakan.
Aku tidak mendengar apa yang mereka katakana. Aku hanya memandang kedalam batin manusia.

Kerendahan yang terkuak dan terbuka adalah realitas apa adanya, bukan bahasa yang diungkapkan. Lupakan cara bagaimana menggunakan kata-kata! Aku ingin kobaran nyala api.
Pembakaran dirimu.
Jadilah teman
Dengan penghangusan dirimu. Baker habis pikiran dan wujud-wujud ungkapanmu!

Musa,
Orang-orang yang setia menaati aturan sikap, aturan berbahasa adalah satu kelompok tersendiri.

Para pencinta yang
Menyala karena terbakar cintanya adalah kelompok yang lain.

Jangan membebanni pajak kepada
Kampung yang hangus karena terbakar. Jangan menghardik atau mengusik pencinta.
Cara bicaranya yang salah jauh lebih baik dari ratusan “cara benar” yang dilakukan oleh orang lain.

Di dalam kaaba
Kemanapun arah engkau bersujud tidak jadi masalah!
            Penyelam samudra tidak membutuhkan sepatu salju!
Agama cinta tidak mempunyai doktrin atau aturan.
Semata-mata yang ada hanyalah Allah!

Demikianlah batu merah delima tidak pernah menggores apapun pada dirinya! Ia tidak membutuhkan tanda pahatan apapun.

Allah mulai membicarakan
Misteri-misteri yang lebih mendalam kepada Musa.
Penglihatan dan bahasa, yang tidak dapat direkam disini, tertumpah kedalam diri Musa, memenuhinya. Dia telah menanggalkan dirinya lalu pilang kembali. Dia telah pergi kekeabadian dan sekarang telah kembali kesini.
Berkali-kali ini telah terjadi.
Betapa bodohnya aku untuk
Mencoba mengatakn semuanya ini. Seandainya aku tidak mengatakannya, intelegensi manusiawiku tentu tidak akan tercabut tumbang. Ia akan menaungi semua pena yang menulis.

Musa pun lari mengejar, mencari si gembala.
Dia menelusuri jejak-jejak kai yang membingungkan, ditembat tertentu jejak-jejak kaki gembala itu lurus seperti sebuah benteng melewati papan catur.
Di tempat lain, jalan-jalan raya, bagaikan seorang uskup.
Sekarang bergelora bagaikan ombak yang melompat-lompat, sekarang meluncur deras bagai seekor ikan, dengan kaki yang selalu meninggalkan jejak dipasir pantai, yag merekam keadaan pengelanaannya.
Musa akhirnya berhasil menemukan I gembala.

“sahabatku, saat itu aku salah. Allah telah menunjukkan kepadaku: tidak ada aturan dalam menyembah-Nya.
Katakana apa saja
Dengan cara apa saja sekehendak cintamu. Celotehan manismu adalah devosi yang paling dalam. Melalui dirimulah dunia ini seluruhnya dibebaskan.
Bebaskan lidahmu dan jangan khawatir apapun yang keluar darinya. Semua itu merupakan cahaya terang jiwa.”

Si gembala menjawab,
“Musa, Musa,
                        aku bahkan telah melampaui semuanya itu. Engkau menggunakan cemeti dan kudaku dengan malu-malu melompat-lompat sendiri. Kodrat Ilahi dan Kodrat Manusiawiku telah menyatu.
            Terberkatilah lengan dan tanganmu yang menghardik!
Aku tidak dapat mengungkapkan apa yang telah terjadi.
Yang kukatakan sekarang bukanlah keadaan diriku yang sebenarnya. Benar-benar seuatu yang tak terkatakan.”
Gembala itu lalu diam membisu.
Bila engkau bercermin,
Engkau melihat dirimu sendiri, dan bukan keadaan cerminnya.
Periup seruling meniup nafasnya kedalam seruling, dengan demikian siapakah yang menciptakan bunyi musiknya?bukan seruling.
Tapi pemain seruling itu!
Kapanpun engkau mengungkapkan pujian
Atau rasa syukurmu kepada Allah, lakukanlah selalu dengan kederhanaan gembala tersayang ini.
Ketika engkau akhirnya
Mampu melihat menembus tirai-tirai tentang keadaan nyata dari segala-sesuatu,
Engkau akan mengtakannya terus menerus, tanpa akhir,
“ini tentu tidak seperti yang kita pikirkan.”

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.