Showing posts with label 07 ADAT TATA CARA. Show all posts
Showing posts with label 07 ADAT TATA CARA. Show all posts

Thursday, January 26, 2012

ABA-ABA KAPRAJURITAN

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info


Saka Kraton Ngayojakarta :

Aba-aba sikep baris
“Tata baris”: : berkumpul dalam formasi baris (nglempak satata baris)
“Siyaga yitna” : berdiri lurus (ngadeg jejeg)
“Ngaso ngenggon” : istirahat di tempat (ngaso wonten papan)
“Rentes nganan” : lurus kanan (nyipat manengen)
“Rentes ngering” : lurus kiri (nyipat mangiwa)
“Jejeg” : kembali lurus (wangsul jejeg)
“Bubaran” : bubar bersama (bibar sesarengan)
“Ngaso” : istirahat bersama (ngaso bebarengan)
“Madhep nganan” : menghadap ke kanan (madhep manengen)
“Madhep ngering” : menghadap kiri
“Mlaku bareng” : berjalan bersama-sama
“Mlaku ngenggon” : berjalan di tempat
“Mlaku macak maju bareng” : berjalan macak bersama-sama
“Minger batik nganan” : berputar balik ke kanan (minger balik manengen)
“Minger balik ngering” : berputar balik ke kiri (minger balik mangiwa)
“Nekuk ngering” : belok dua kali ke kiri
“Nekuk nganan” : belok dua kali ke kanan
“Jangkah lumrah” : berjalan dari macak berganti ke biasa (mlampah
biasa saking mlampah macak lajeng mlampah sareng biasa)
“Maju/mundur 1,2,3 jangkah”: maju/mundur 1,2,3 langkah
“Mandheg bareng” : berhenti bersama-sama
“Mandheg urut” : berhenti berurutan
“Hukur antara” : Mengukur jarak (ngukur antawis)
“Baris urut kacang” : barisan urut kacang
“Baris ngloro-ngloro” : Baris jejer dua-dua
“Noleh nganan” : hormat dengan menoleh ke kanan
“Noleh ngering” : hormat dengan menoleh ke kiri
“Hurmat/caos pakurmatan nganan”: hormat dengan menoleh ke kanan
“Hurmat ngering” : hormat dengan menoleh ke kiri
“Panji nganan/ngering” : panji ke kanan/ke kiri
“Panji mlebu barisan” : panji masuk ke barisan
“Methenteng asta” : tangan kiri di pinggang.

Aba-aba untuk prajurit mulai mlampah macak:

‘Mlampah macak maju bareng..”: (suling berbunyi bawa) … (tambur berbunyi
hingga pada disambut aba ‘Gya”)
“Mlampah macak maju bareng..”: (tambur berbunyi ropel) … (suling berbunyi
bawa dilanjutkan dengan bendhe besar
disertai aba “Gya”)
“Mlampah macak maju bareng.,: (trompet berbunyi)… (tambur berbunyi
ropel)… (disambut suling bawa diteruskan bendhe besar disertai aba “Gya”)

Aba-aba Sikep Dedamel
Sikep Sabat/pedhang

“Tarik pedhang” : pedang dihunus
“Hurmat pedhang” : hormat dengan pedang
“Pandi pedang” : pedang dipanggul
“Nyarung pedhang” : pedang disarungkan

Sikep Senjata
‘Nyangklong tinggar” : senjata dicangklong
“Hurmat tinggar” : hormat dengan senjata
“Seleh tinggar’ : menurunkan senjata
“Cangking tinggar” : senjata dibawa
“Nyipat” : meluruskan
“Drel” : drel (senjata dibunyikan)
“Buwang patrum’ : peluru dikeluarkan.

Sikep Waos (tombak)
‘Pandi hastra” : tombak dipanggul
“Kinantang tunjung hastra” : hormat dengan tombak
“Tunjung hastra”/”goyang tunjung hastra” : tombak diturunkan
‘Maniyung hastra’ : tombak dicondongkan
‘Manlawung hastra” : tombak di-lawung
“Mbuntar hastra” : tombak dibawa [cangking)
‘Nylimpet balik” : melangkah bersilang balik
“Nylimpet balik tunjung hastra/pandi hastra” : melangkah bersilang balik,
dilanjutkan tegak /memanggul tombak
“Maju ndhadhap” : melangkah ke depan dengan mendhak
“Mundur ndhadhap’ : berjalan mundur dengan mendhak dilanjutkan
tegak, tombak dipanggul (pandi)
“Kumpul hastra” : tombak dikumpulkan

Sikep Towok
“Junjung towok” : towok diangkat
“Turun towok” : towok diturunkan
“Maniyung towok” : towok dicondongkan
“Kinantang wusti towok” : hormat menggunakan towok
“Gantang towok” : menurunkan towok dilanjutkan tegak

Aba-aba ungel-ungelan/kalasongka
‘Siyaga kalasongka’ : tambur, ketipung, dhodhog dicangklong; bendhe,
suling, dan sebagainya dibawa
“Nembang tengara” : rapel apel
“Tengara manggala” : penghormatan terhadap Manggala
“Ngumpul sajuru-juru” : menuju ke bregada/pasukan masing-masing
“Hampil kalasongka” : membawa alat musik

Aba-aba hormat
‘Warasta kalasongka hurmat”: hormat menggunakan dedamel (peralatan)
dan bunyi-bunyian. Dwaja termasuk dedamel

“Kinantang tunjung hastra” : hormat besar menggunakan tombak
“Hurmat tinggar” : hormat menggunakan senapan
“Kinantang wusti towok” : hormat dengan towok
“Hurmat pedang” : hormat dengan pedang
“Rubuh dwaja” : hormat dengan merebahkan bendera
“Hurmat” : hormat dengan menoleh ke kin atau kanan
saat berjalan

Aba-aba bersama untuk semua jenis peralatan
“Mbujangso warasta”: tombak dan pedang dipanggul, towok diangkat,
senapan dicangklong.

Aba-aba sikep dwaja
“Rubuh dwaja” : hormat menggunakan bendera
“Ngadeg dwaja” : bendera ditegakkan
“Pundi dwaja” : bendera dipanggul
“Turun dwaja” : bendera ditegakkan, seperti waos tunjung hastra.

sumber:
http://khustbesters.wordpress.com/2011/01/18/8-peran-prajurit-kraton-yogyakarta-sekarang/

Saka Kraton Kasunanan miturut :

1.Bp. Rochani Sastra Adiguna :
siap =siyaga....gerak =tandya, siap ...gerak [siyaga...tandya]
tegaaaak...geraaak = sigeeeeg...tandyaaaaa
siaaaaap...geraaak = siyagaaa...tandyaaaaa
istirahat ditempat...geraaak = lerem sahana....tandyaaa
hormaaaat...geraaak = tanjak kartisampeka...tandyaaa
lencang kanan...gerak =godhak sahasta...tandyaaa
balik kanan gerak = balik kawuriii...tandyaaaa

2. Bp. Agoeng Sedayu ‎@
Kula pun nate tumut barisan Prajurit Prawira Anom wonten Kasunanan Surakarta, kala taun 1990...
Emut kula ngaten :

Siap Grak...Sigeg Tandya
Hormat Grak....Kartisampeka Tandya
Hadap Kanan Grak...Madhep manengen Tandya
Hadap Kir graki...Madhep magering tandya
Belok kanan maju jalan...Lumaksana manengen tandya
Tegak jalan grak...Lumaksana magita-gita tandya
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

ABA-ABA KAPRAJURITAN

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info


Saka Kraton Ngayojakarta :

Aba-aba sikep baris
“Tata baris”: : berkumpul dalam formasi baris (nglempak satata baris)
“Siyaga yitna” : berdiri lurus (ngadeg jejeg)
“Ngaso ngenggon” : istirahat di tempat (ngaso wonten papan)
“Rentes nganan” : lurus kanan (nyipat manengen)
“Rentes ngering” : lurus kiri (nyipat mangiwa)
“Jejeg” : kembali lurus (wangsul jejeg)
“Bubaran” : bubar bersama (bibar sesarengan)
“Ngaso” : istirahat bersama (ngaso bebarengan)
“Madhep nganan” : menghadap ke kanan (madhep manengen)
“Madhep ngering” : menghadap kiri
“Mlaku bareng” : berjalan bersama-sama
“Mlaku ngenggon” : berjalan di tempat
“Mlaku macak maju bareng” : berjalan macak bersama-sama
“Minger batik nganan” : berputar balik ke kanan (minger balik manengen)
“Minger balik ngering” : berputar balik ke kiri (minger balik mangiwa)
“Nekuk ngering” : belok dua kali ke kiri
“Nekuk nganan” : belok dua kali ke kanan
“Jangkah lumrah” : berjalan dari macak berganti ke biasa (mlampah
biasa saking mlampah macak lajeng mlampah sareng biasa)
“Maju/mundur 1,2,3 jangkah”: maju/mundur 1,2,3 langkah
“Mandheg bareng” : berhenti bersama-sama
“Mandheg urut” : berhenti berurutan
“Hukur antara” : Mengukur jarak (ngukur antawis)
“Baris urut kacang” : barisan urut kacang
“Baris ngloro-ngloro” : Baris jejer dua-dua
“Noleh nganan” : hormat dengan menoleh ke kanan
“Noleh ngering” : hormat dengan menoleh ke kiri
“Hurmat/caos pakurmatan nganan”: hormat dengan menoleh ke kanan
“Hurmat ngering” : hormat dengan menoleh ke kiri
“Panji nganan/ngering” : panji ke kanan/ke kiri
“Panji mlebu barisan” : panji masuk ke barisan
“Methenteng asta” : tangan kiri di pinggang.

Aba-aba untuk prajurit mulai mlampah macak:

‘Mlampah macak maju bareng..”: (suling berbunyi bawa) … (tambur berbunyi
hingga pada disambut aba ‘Gya”)
“Mlampah macak maju bareng..”: (tambur berbunyi ropel) … (suling berbunyi
bawa dilanjutkan dengan bendhe besar
disertai aba “Gya”)
“Mlampah macak maju bareng.,: (trompet berbunyi)… (tambur berbunyi
ropel)… (disambut suling bawa diteruskan bendhe besar disertai aba “Gya”)

Aba-aba Sikep Dedamel
Sikep Sabat/pedhang

“Tarik pedhang” : pedang dihunus
“Hurmat pedhang” : hormat dengan pedang
“Pandi pedang” : pedang dipanggul
“Nyarung pedhang” : pedang disarungkan

Sikep Senjata
‘Nyangklong tinggar” : senjata dicangklong
“Hurmat tinggar” : hormat dengan senjata
“Seleh tinggar’ : menurunkan senjata
“Cangking tinggar” : senjata dibawa
“Nyipat” : meluruskan
“Drel” : drel (senjata dibunyikan)
“Buwang patrum’ : peluru dikeluarkan.

Sikep Waos (tombak)
‘Pandi hastra” : tombak dipanggul
“Kinantang tunjung hastra” : hormat dengan tombak
“Tunjung hastra”/”goyang tunjung hastra” : tombak diturunkan
‘Maniyung hastra’ : tombak dicondongkan
‘Manlawung hastra” : tombak di-lawung
“Mbuntar hastra” : tombak dibawa [cangking)
‘Nylimpet balik” : melangkah bersilang balik
“Nylimpet balik tunjung hastra/pandi hastra” : melangkah bersilang balik,
dilanjutkan tegak /memanggul tombak
“Maju ndhadhap” : melangkah ke depan dengan mendhak
“Mundur ndhadhap’ : berjalan mundur dengan mendhak dilanjutkan
tegak, tombak dipanggul (pandi)
“Kumpul hastra” : tombak dikumpulkan

Sikep Towok
“Junjung towok” : towok diangkat
“Turun towok” : towok diturunkan
“Maniyung towok” : towok dicondongkan
“Kinantang wusti towok” : hormat menggunakan towok
“Gantang towok” : menurunkan towok dilanjutkan tegak

Aba-aba ungel-ungelan/kalasongka
‘Siyaga kalasongka’ : tambur, ketipung, dhodhog dicangklong; bendhe,
suling, dan sebagainya dibawa
“Nembang tengara” : rapel apel
“Tengara manggala” : penghormatan terhadap Manggala
“Ngumpul sajuru-juru” : menuju ke bregada/pasukan masing-masing
“Hampil kalasongka” : membawa alat musik

Aba-aba hormat
‘Warasta kalasongka hurmat”: hormat menggunakan dedamel (peralatan)
dan bunyi-bunyian. Dwaja termasuk dedamel

“Kinantang tunjung hastra” : hormat besar menggunakan tombak
“Hurmat tinggar” : hormat menggunakan senapan
“Kinantang wusti towok” : hormat dengan towok
“Hurmat pedang” : hormat dengan pedang
“Rubuh dwaja” : hormat dengan merebahkan bendera
“Hurmat” : hormat dengan menoleh ke kin atau kanan
saat berjalan

Aba-aba bersama untuk semua jenis peralatan
“Mbujangso warasta”: tombak dan pedang dipanggul, towok diangkat,
senapan dicangklong.

Aba-aba sikep dwaja
“Rubuh dwaja” : hormat menggunakan bendera
“Ngadeg dwaja” : bendera ditegakkan
“Pundi dwaja” : bendera dipanggul
“Turun dwaja” : bendera ditegakkan, seperti waos tunjung hastra.

sumber:
http://khustbesters.wordpress.com/2011/01/18/8-peran-prajurit-kraton-yogyakarta-sekarang/

Saka Kraton Kasunanan miturut :

1.Bp. Rochani Sastra Adiguna :
siap =siyaga....gerak =tandya, siap ...gerak [siyaga...tandya]
tegaaaak...geraaak = sigeeeeg...tandyaaaaa
siaaaaap...geraaak = siyagaaa...tandyaaaaa
istirahat ditempat...geraaak = lerem sahana....tandyaaa
hormaaaat...geraaak = tanjak kartisampeka...tandyaaa
lencang kanan...gerak =godhak sahasta...tandyaaa
balik kanan gerak = balik kawuriii...tandyaaaa

2. Bp. Agoeng Sedayu ‎@
Kula pun nate tumut barisan Prajurit Prawira Anom wonten Kasunanan Surakarta, kala taun 1990...
Emut kula ngaten :

Siap Grak...Sigeg Tandya
Hormat Grak....Kartisampeka Tandya
Hadap Kanan Grak...Madhep manengen Tandya
Hadap Kir graki...Madhep magering tandya
Belok kanan maju jalan...Lumaksana manengen tandya
Tegak jalan grak...Lumaksana magita-gita tandya
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Saturday, May 29, 2010

ADAT TATA CARA JAWI

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
I.ADAT NALIKA JISIM DIPUN BIDHALAKEN
Ing wekdal sapunika taksih kathah para sedherek Jawi ingkang ngugemi adat sarta tata cara warisan para luhur, ananging ugi kathah adat sarta tata cara kina ingkang sampun dipun tilar. Minangkani pamundhutipun salah satungggaling sutresna Jawi ing babagan sakiwa tengenipun bab nalika wonten jisim ingkang badhe kabidhalaken, adat sarta tata cara kina ingkang taksih saged dipun prangguli ing satengahing bebrayan agung Jawi ing antawisipun kados ing ngandhap punika :
1.Brobosan ; inggih punika menawi ingkang tilar donya punika tiyang sepuh, para anak putu dipun brobosaken ing sangandhaping bandhosa ingkang sampun dipun angkat. Kathahipun kaping tiga. Tujuwanipun : supados kita nyumerepi dumadosing kita ing alam donya punika lantaran saking tiyang sepuh. Kaping kalih anak putu sampun ngeklasaken dhumateng ingkang sampun tilar donya sowan dhateng ngarsaning Gusti ingkang Maha Kuwaos.
2.Saderengipun jisim dipun bidhalaken wonten adicara mecah kendhi ingkang isinipun toya kacampuran sekar.
3.Nalika jisim dipun bidhalaken wonten pawongan ingkang mbekta senthir ngantos dumugining regol, kulawarganipun memuji supados ingkang tilar donya sageda padhang, boten kepetengen ing tengah margi.
4.Sesarengan kaliyan mbekta senthir margi ingkang dipun langkungi jisim dipun saponi, meh sami kaliyan angka kalih bilih kulawarganipun memuji supados margining ing alam kubur sageda resik, boten wonten alangan
5.Mecah gendheng , nalika jisim dipun bidhalaken kulawarganipun lajeng mecah gendheng ing pangangkah supados rohipun ingkang tilar donya boten purun wangsul dhateng alam kasar malih jalaran griyanipun sampun risak, utawi dipun risak.
6.Mecah piring , meh sami kaliyan mecah gendheng supados rohipun ingkang tilar donya boten purun wangsul dhateng alam kasar masalahipun kulawarganipun sampun boten purun nampi lantaran piringipun ingkang dipun angge ajang sampun dipun pecah.
7. Menawi ingkang tilar donya jaka utawi prawan , tegesipun dereng nate emah-emah lajeng dipun damelaken gagar mayang (sanes kembar mayang kangge penganten ) kaliyan dipun sangoni ayam ingkang taksih lancur (menawi jaler) lan taksih dhere (menawi estri). Ayamipun dipun culaken sasampunipun layon dipunpetak.
8.Menawi dumugi malem dinten geblagipun ingkang tilar donya jedhing utawi kolah kedah dipun kebaki. Ing ngriki wonten kapitadosan bilih rohipun ingkang tilar donya wangsul dhateng griya.
9.Wonten kapitadosan bilih roh ingkang tilar donya nalika :
a.Tigang dinten, taksih sare wonten panggenan nalika geblagipun.
b.Pitung dinten, taksih wonten ing salebeting griya.
c.Kawan dasa dinten, nembe pamit ninggalaken griya. Ing bab punika percados utawi boten nyumanggakaken.
Adat sarta tata cara ing nginggil wonten ingkang sampun boten dipun angge nanging ugi kathah ingkang sampun boten angge utawi ical. Kados adat utawi tata cara brobosan taksih kathah dipun lampahi ing tlatah Pacitan, Madiun,Lamongan ngantos Surabaya. Ananging tata cara kados mbekta senthir, nyaponi margi, mecah gendheng, sarta mecah piring sampun boten pinanggih. Miturut katrangan sedherek kula ingkang wonten Baturetna, Wonogiri adat mecah gendheng sarta mecah piring taksih wonten namung mligi priyantun ingkang sugih utawi taksih wonten trah sentana dalem. Kanggenipun brayat ingkang sanes trah sampun kathah ing nilar.
Namung ugi perlu dipun kawuningani bilih ingkang nami adat sarta tatacara punika tamtu owah gingsir kabekta saking owah gingsiring jaman.

II. WASITA SINANDI.
Saleresipun kathah wasita sinandi (petuah tersembunyi, pitutur sae ingkang boten melok) ingkang sae , menawi dipun takeni menapa sebabipun namung dipun wangsuli “ora becik” kadosta :
1.Aja mangan ing tengah lawang.
2.Aja mangan kanthi nyangga piring.
3.Aja nglungguhi bantal mundhak wudunen.
4.Aja ajang layah, mengko yen dadi penganten mundhak udan deres.
5.Aja payungan, nganggo caping (capil) ing njero omah.
6. Yen nyapu sing resik, yen ora resik mengko mundhak brengosen.
7.Tuku lenga tanah (lenga gas) aja ing wayah bengi.
8.Aja nyapu jogan ing wayah bengi.
9.Aja nggawa ujungan godhong gedhang menyang jero omah.
10.Menawi wonten bledheg kaca-kaca paesan (cermin) kedah dipun tutupi.
11.Aja turu kasur tanpa sprei.

Taksih kathah wasita sinandi sanesipun ingkang dereng katuraken, mangke kula sambet ing wekdal sanesipun. Nuwun.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

ADAT TATA CARA JAWI

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
I.ADAT NALIKA JISIM DIPUN BIDHALAKEN
Ing wekdal sapunika taksih kathah para sedherek Jawi ingkang ngugemi adat sarta tata cara warisan para luhur, ananging ugi kathah adat sarta tata cara kina ingkang sampun dipun tilar. Minangkani pamundhutipun salah satungggaling sutresna Jawi ing babagan sakiwa tengenipun bab nalika wonten jisim ingkang badhe kabidhalaken, adat sarta tata cara kina ingkang taksih saged dipun prangguli ing satengahing bebrayan agung Jawi ing antawisipun kados ing ngandhap punika :
1.Brobosan ; inggih punika menawi ingkang tilar donya punika tiyang sepuh, para anak putu dipun brobosaken ing sangandhaping bandhosa ingkang sampun dipun angkat. Kathahipun kaping tiga. Tujuwanipun : supados kita nyumerepi dumadosing kita ing alam donya punika lantaran saking tiyang sepuh. Kaping kalih anak putu sampun ngeklasaken dhumateng ingkang sampun tilar donya sowan dhateng ngarsaning Gusti ingkang Maha Kuwaos.
2.Saderengipun jisim dipun bidhalaken wonten adicara mecah kendhi ingkang isinipun toya kacampuran sekar.
3.Nalika jisim dipun bidhalaken wonten pawongan ingkang mbekta senthir ngantos dumugining regol, kulawarganipun memuji supados ingkang tilar donya sageda padhang, boten kepetengen ing tengah margi.
4.Sesarengan kaliyan mbekta senthir margi ingkang dipun langkungi jisim dipun saponi, meh sami kaliyan angka kalih bilih kulawarganipun memuji supados margining ing alam kubur sageda resik, boten wonten alangan
5.Mecah gendheng , nalika jisim dipun bidhalaken kulawarganipun lajeng mecah gendheng ing pangangkah supados rohipun ingkang tilar donya boten purun wangsul dhateng alam kasar malih jalaran griyanipun sampun risak, utawi dipun risak.
6.Mecah piring , meh sami kaliyan mecah gendheng supados rohipun ingkang tilar donya boten purun wangsul dhateng alam kasar masalahipun kulawarganipun sampun boten purun nampi lantaran piringipun ingkang dipun angge ajang sampun dipun pecah.
7. Menawi ingkang tilar donya jaka utawi prawan , tegesipun dereng nate emah-emah lajeng dipun damelaken gagar mayang (sanes kembar mayang kangge penganten ) kaliyan dipun sangoni ayam ingkang taksih lancur (menawi jaler) lan taksih dhere (menawi estri). Ayamipun dipun culaken sasampunipun layon dipunpetak.
8.Menawi dumugi malem dinten geblagipun ingkang tilar donya jedhing utawi kolah kedah dipun kebaki. Ing ngriki wonten kapitadosan bilih rohipun ingkang tilar donya wangsul dhateng griya.
9.Wonten kapitadosan bilih roh ingkang tilar donya nalika :
a.Tigang dinten, taksih sare wonten panggenan nalika geblagipun.
b.Pitung dinten, taksih wonten ing salebeting griya.
c.Kawan dasa dinten, nembe pamit ninggalaken griya. Ing bab punika percados utawi boten nyumanggakaken.
Adat sarta tata cara ing nginggil wonten ingkang sampun boten dipun angge nanging ugi kathah ingkang sampun boten angge utawi ical. Kados adat utawi tata cara brobosan taksih kathah dipun lampahi ing tlatah Pacitan, Madiun,Lamongan ngantos Surabaya. Ananging tata cara kados mbekta senthir, nyaponi margi, mecah gendheng, sarta mecah piring sampun boten pinanggih. Miturut katrangan sedherek kula ingkang wonten Baturetna, Wonogiri adat mecah gendheng sarta mecah piring taksih wonten namung mligi priyantun ingkang sugih utawi taksih wonten trah sentana dalem. Kanggenipun brayat ingkang sanes trah sampun kathah ing nilar.
Namung ugi perlu dipun kawuningani bilih ingkang nami adat sarta tatacara punika tamtu owah gingsir kabekta saking owah gingsiring jaman.

II. WASITA SINANDI.
Saleresipun kathah wasita sinandi (petuah tersembunyi, pitutur sae ingkang boten melok) ingkang sae , menawi dipun takeni menapa sebabipun namung dipun wangsuli “ora becik” kadosta :
1.Aja mangan ing tengah lawang.
2.Aja mangan kanthi nyangga piring.
3.Aja nglungguhi bantal mundhak wudunen.
4.Aja ajang layah, mengko yen dadi penganten mundhak udan deres.
5.Aja payungan, nganggo caping (capil) ing njero omah.
6. Yen nyapu sing resik, yen ora resik mengko mundhak brengosen.
7.Tuku lenga tanah (lenga gas) aja ing wayah bengi.
8.Aja nyapu jogan ing wayah bengi.
9.Aja nggawa ujungan godhong gedhang menyang jero omah.
10.Menawi wonten bledheg kaca-kaca paesan (cermin) kedah dipun tutupi.
11.Aja turu kasur tanpa sprei.

Taksih kathah wasita sinandi sanesipun ingkang dereng katuraken, mangke kula sambet ing wekdal sanesipun. Nuwun.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Thursday, February 18, 2010

NINI THOWOK, DOLANAN SING MUNG KARI DONGENG

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Ni Thowong utawa Nini Thowok iku dolanan bocah sing saiki mung kari dadi dongengan. Tembung Nini Thowok malah kondhang dadi brand mark sawijining seniman misuwur yaiku Didik Nini Thowok saka Ngayojakarta Hadiningrat. Apa ta Nini Thowok iku ?
Dhek jaman biyen nalika wancine padhang rembulan bocah-bocah padha metu dolanan . Enom tuwa padha metu menyang latar. Ana sing mung lungguhan wae, ana sing gobag, ana sing jelungan, ana sing jamuran lan ana sing padha tetembangan. Pancen swasanane endah tenan. Dhasare latare jembar, tur mangsa ketiga , mula akeh bocah sing padha dolanan. Salah sijine dolanan bocah ya iku Ni Thowong utawa Nini Thowok. Dolanan iki mligine kanggo bocah-bocah wadon . Sasuwene dolanan, diselingi lelagon.
Sing paling dhisik yaiku golek icir karo siwur. Barang loro iku mau kudu anggone nyolong menyang tangga teparo. Terkadhang anggone nyolong nganti teka liya desa utawa liya kampung. Sabisa-bisa wong sing dicolongi kudu sing lantap. Supaya menawa weruh barang iku mau duweke enggal-enggal nesu, dadi Ni Thowong enggal dadi. Icir lan siwur mau banjur didandani . Munguh reroncen lan patrape anggone ndandani panjenengan mrikasi gambar.
Siwure kudu disaput atal, banjur kagantha peprincene rai utawa pepaesan kaya penganten. Sing kanggo paes yaiku : kunir, enjet lan angus. Bolongane siwur ditutp merang lan dikebaki kembang-kembangan lan gegodhongan. Gulu pengkune icir dilapis merang, bau lan tangane uga kagawe saka merang. Mungguhj trape sandhangan uga kaya caraning manungsa. Malah ana sandhangan sing digawe saka srwa-sruwine sutra, plangi, cindhe polos lan liya-liyane.
Sawise rampung anggone ndandani, bakda surup diusung bocah wadon akeh, digawa menyang panggonan kang angker utawa wingit sarta dietutake karo kutug. Sasuwene mlaku nganggo tetembangan mangkene :

Lagu 1.
Padha mbuwang bocah bajang, rambute arang abang ( X sawatara ).

Katerangan :
Sawise teka ing panggonan, Ni Thowong karo kutug ditinggal, mungguh suwene anggone ninggal watara setengah utawa telung prapat jam, sarta tansah diulat-ulati saka kadohan , kuwatir mbokmenawa ana sing melik marang sandhangane Ni Thowong. Lan salawase iku ana sing nggawe anak-anakane Ni Thowong. Sing digawe yaiku gandhik sing diblebed pipih kaya carane bayi digedhong. Yen wis rampung banjur kasedhiyakake ana papan sing arep dienggoni dikantheni pengilon. Bareng bocah-bocah arep njupuk Ni Thowong banjur ditembangi mangkene :

Lagu 2 :
Padha mupu bocah bajang, rambute arang abang. ( X sawatara ).

Katerangan :
Lelagon mangkono mau nagnti tumeka ing papane. Setakane papan wengkune icir dicekeli bocah akeh, lan semu diumbul-umbulake sarta diobah-obahake. Bocah-bocah mau karo tetembanga mangkene :

Lagu 3 :
Bageya, bageya mbok lara kang lagi teka . ( X sawatara ).

Katerangan :
Sawise rada suwe , banjur ganti lagu kayadene ing ngisor iki. Mangkono siji-sijine lagu anggone nembangake nganti sajelehe.

Lagu 4 :
Ni thowong, ni thowong, gayer-gayer ginothong, ginothonge telu gandhek, iderna nyang dhondhongan , ramekna bocah dolan, suraka surak iye. Ose , ore, iyo. ( X sawatara ).

Lagu 5 :
Ilir ilir tandure wis sumilir,
Takijo royo-royo tak sengguh penganten anyar,
Cah angon, cah angon penekna blimbing kuwe,
Lunyu-lunyu peneken dinggo masuh dodotira,
Dodotira, kumitir bedhahing pinggir,
Domana, jlumatana, dinggo seba mengko sore,
Pupung gedhe rembulane,
Pupung jembar kalangane,
Ya suraka, surak iye. ( X sawatawis ).

Lagu 6 :
Ilir-ilir gunanthi,
Sabuk cindhe lir gunanthi,
Gilang-gilang layone,
Layone putra ugung,
Ugung dening dewa,
Alah dewa dening sukma,
Widadari tumuruna,
Gumrubyug barat sasanga,
Ya suraka, surak iye . ( X sawatawis ).

Lagu 7 :
Ilir-ilir guling,
Gulinge sukma katon,
Raga-raga muliha,
Ja suwe-suwe ndalan,
Mesakake jing adolan,
Dolana dolandana,
Alah dana dene sukma,
Widadari tumuruna,
Gumrubyug barat sasanga,
Ya suraka, surak iye . ( X sawatawis ).

Lagu 8 :
Ceplik epring, njemplang njempling,
Moas, anjogeda, Moas, angigela, ( X sawatawis ).
Lagu 9 :
Kranjang pangayun-ayun, bapak,
Dhemen wonga, ora dhemen salendere,
Bapak carang gantung, sawiyah. ( X sawatawis ).

Lagu 10 :
Wong ayu, pilisa kunir apu,
Anjelirat, anjelirit, wong ayu ngadhanga dalan,
Sapisan ndaku paman,
Ping pindho ndaku bojo,
Ping telu melu turu.
Suraka, surak iye. ( X sawatawis ).

Katerangan :
Sabubare lagu mau, asring disambung lagu-lagu liyane, malah-malah sing nduwe gong (gamelan) banjur digameli, digerongi dening bocah-bocah mau. Dene katone yen wis ndadi, rasane nyang tangan antep, njumbule Ni Thowong kaya dene tangan sing njumbulake. Rasa-rasane upama nalika njumbul diculake kaya dene mumbul teka awang-awang. Apa maneh yen pancen wis ndadi, sing dicekel sondere. Malah yen wis kesel anggone nyekeli, banjur bangkekane Ni Thowong dicencang ngiwa nengen ing cagak utawa wit-witan. Ing kono yektine bias njondhil-njondhil dhewe.
Mungguh sasuwene ndadi, upama ana bocah sing gelem nyolong gandhik anak-anakane , polahe Ni Thowong kaya dene wong nesu. Upama ana bocah methik godhong rong lembar, banjur dikongkon mbadhe godhong endi sing anggone methik sing utawa sing kari, iku bisa ndumuk sarana sirahe.

Penget :
Sasuwene Ni Thwong digawe, ora kena pisan-pisan dicekel bocah lanang, sarta kutuge tansah nglandheng.

Tembung :
Icir = bangsane wuwu dawa.
Miyagah = nindakake apa apa sarana awagan (kira-kira).
Atal = bangsane watu kuning sok digawe boreh.
Plangi = sutra mawa corak kekembangan (dianggo kemben, slendhang lsp).
Cindhe = bakal awujud sutra abang kekembangan.
Gandhik = watu gilig dianggo nggerus utawa mipis.
Gedhong = jarit kang kanggo mblebet bayi.
Sondher =sampur kanggo njoged ditalekake ing bangkekan.

Sumber : Serat Lagu Bocah-bocah (Javaansche Kinderspelen), R. Soekardi, Semarang Drukkerij en Boekhandel, H.A. Benjamins, 1912
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

NINI THOWOK, DOLANAN SING MUNG KARI DONGENG

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Ni Thowong utawa Nini Thowok iku dolanan bocah sing saiki mung kari dadi dongengan. Tembung Nini Thowok malah kondhang dadi brand mark sawijining seniman misuwur yaiku Didik Nini Thowok saka Ngayojakarta Hadiningrat. Apa ta Nini Thowok iku ?
Dhek jaman biyen nalika wancine padhang rembulan bocah-bocah padha metu dolanan . Enom tuwa padha metu menyang latar. Ana sing mung lungguhan wae, ana sing gobag, ana sing jelungan, ana sing jamuran lan ana sing padha tetembangan. Pancen swasanane endah tenan. Dhasare latare jembar, tur mangsa ketiga , mula akeh bocah sing padha dolanan. Salah sijine dolanan bocah ya iku Ni Thowong utawa Nini Thowok. Dolanan iki mligine kanggo bocah-bocah wadon . Sasuwene dolanan, diselingi lelagon.
Sing paling dhisik yaiku golek icir karo siwur. Barang loro iku mau kudu anggone nyolong menyang tangga teparo. Terkadhang anggone nyolong nganti teka liya desa utawa liya kampung. Sabisa-bisa wong sing dicolongi kudu sing lantap. Supaya menawa weruh barang iku mau duweke enggal-enggal nesu, dadi Ni Thowong enggal dadi. Icir lan siwur mau banjur didandani . Munguh reroncen lan patrape anggone ndandani panjenengan mrikasi gambar.
Siwure kudu disaput atal, banjur kagantha peprincene rai utawa pepaesan kaya penganten. Sing kanggo paes yaiku : kunir, enjet lan angus. Bolongane siwur ditutp merang lan dikebaki kembang-kembangan lan gegodhongan. Gulu pengkune icir dilapis merang, bau lan tangane uga kagawe saka merang. Mungguhj trape sandhangan uga kaya caraning manungsa. Malah ana sandhangan sing digawe saka srwa-sruwine sutra, plangi, cindhe polos lan liya-liyane.
Sawise rampung anggone ndandani, bakda surup diusung bocah wadon akeh, digawa menyang panggonan kang angker utawa wingit sarta dietutake karo kutug. Sasuwene mlaku nganggo tetembangan mangkene :

Lagu 1.
Padha mbuwang bocah bajang, rambute arang abang ( X sawatara ).

Katerangan :
Sawise teka ing panggonan, Ni Thowong karo kutug ditinggal, mungguh suwene anggone ninggal watara setengah utawa telung prapat jam, sarta tansah diulat-ulati saka kadohan , kuwatir mbokmenawa ana sing melik marang sandhangane Ni Thowong. Lan salawase iku ana sing nggawe anak-anakane Ni Thowong. Sing digawe yaiku gandhik sing diblebed pipih kaya carane bayi digedhong. Yen wis rampung banjur kasedhiyakake ana papan sing arep dienggoni dikantheni pengilon. Bareng bocah-bocah arep njupuk Ni Thowong banjur ditembangi mangkene :

Lagu 2 :
Padha mupu bocah bajang, rambute arang abang. ( X sawatara ).

Katerangan :
Lelagon mangkono mau nagnti tumeka ing papane. Setakane papan wengkune icir dicekeli bocah akeh, lan semu diumbul-umbulake sarta diobah-obahake. Bocah-bocah mau karo tetembanga mangkene :

Lagu 3 :
Bageya, bageya mbok lara kang lagi teka . ( X sawatara ).

Katerangan :
Sawise rada suwe , banjur ganti lagu kayadene ing ngisor iki. Mangkono siji-sijine lagu anggone nembangake nganti sajelehe.

Lagu 4 :
Ni thowong, ni thowong, gayer-gayer ginothong, ginothonge telu gandhek, iderna nyang dhondhongan , ramekna bocah dolan, suraka surak iye. Ose , ore, iyo. ( X sawatara ).

Lagu 5 :
Ilir ilir tandure wis sumilir,
Takijo royo-royo tak sengguh penganten anyar,
Cah angon, cah angon penekna blimbing kuwe,
Lunyu-lunyu peneken dinggo masuh dodotira,
Dodotira, kumitir bedhahing pinggir,
Domana, jlumatana, dinggo seba mengko sore,
Pupung gedhe rembulane,
Pupung jembar kalangane,
Ya suraka, surak iye. ( X sawatawis ).

Lagu 6 :
Ilir-ilir gunanthi,
Sabuk cindhe lir gunanthi,
Gilang-gilang layone,
Layone putra ugung,
Ugung dening dewa,
Alah dewa dening sukma,
Widadari tumuruna,
Gumrubyug barat sasanga,
Ya suraka, surak iye . ( X sawatawis ).

Lagu 7 :
Ilir-ilir guling,
Gulinge sukma katon,
Raga-raga muliha,
Ja suwe-suwe ndalan,
Mesakake jing adolan,
Dolana dolandana,
Alah dana dene sukma,
Widadari tumuruna,
Gumrubyug barat sasanga,
Ya suraka, surak iye . ( X sawatawis ).

Lagu 8 :
Ceplik epring, njemplang njempling,
Moas, anjogeda, Moas, angigela, ( X sawatawis ).
Lagu 9 :
Kranjang pangayun-ayun, bapak,
Dhemen wonga, ora dhemen salendere,
Bapak carang gantung, sawiyah. ( X sawatawis ).

Lagu 10 :
Wong ayu, pilisa kunir apu,
Anjelirat, anjelirit, wong ayu ngadhanga dalan,
Sapisan ndaku paman,
Ping pindho ndaku bojo,
Ping telu melu turu.
Suraka, surak iye. ( X sawatawis ).

Katerangan :
Sabubare lagu mau, asring disambung lagu-lagu liyane, malah-malah sing nduwe gong (gamelan) banjur digameli, digerongi dening bocah-bocah mau. Dene katone yen wis ndadi, rasane nyang tangan antep, njumbule Ni Thowong kaya dene tangan sing njumbulake. Rasa-rasane upama nalika njumbul diculake kaya dene mumbul teka awang-awang. Apa maneh yen pancen wis ndadi, sing dicekel sondere. Malah yen wis kesel anggone nyekeli, banjur bangkekane Ni Thowong dicencang ngiwa nengen ing cagak utawa wit-witan. Ing kono yektine bias njondhil-njondhil dhewe.
Mungguh sasuwene ndadi, upama ana bocah sing gelem nyolong gandhik anak-anakane , polahe Ni Thowong kaya dene wong nesu. Upama ana bocah methik godhong rong lembar, banjur dikongkon mbadhe godhong endi sing anggone methik sing utawa sing kari, iku bisa ndumuk sarana sirahe.

Penget :
Sasuwene Ni Thwong digawe, ora kena pisan-pisan dicekel bocah lanang, sarta kutuge tansah nglandheng.

Tembung :
Icir = bangsane wuwu dawa.
Miyagah = nindakake apa apa sarana awagan (kira-kira).
Atal = bangsane watu kuning sok digawe boreh.
Plangi = sutra mawa corak kekembangan (dianggo kemben, slendhang lsp).
Cindhe = bakal awujud sutra abang kekembangan.
Gandhik = watu gilig dianggo nggerus utawa mipis.
Gedhong = jarit kang kanggo mblebet bayi.
Sondher =sampur kanggo njoged ditalekake ing bangkekan.

Sumber : Serat Lagu Bocah-bocah (Javaansche Kinderspelen), R. Soekardi, Semarang Drukkerij en Boekhandel, H.A. Benjamins, 1912
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Monday, January 25, 2010

TIBAN, UPACARA NYUWUN UDAN

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Warga desa Jajar Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek nduweni adat tiban. Upacara iki minangka sarana nenuwun marang Gusti Allah supaya diparingi enggal udan. Upacara iki ana wiwit jamane mbah-mbah biyen turun – temurun nganti saiki.Upacara iki dianakakake nalika mangsane ketiga dawa. Desa Jajar mapan ing pegunungan. Sajroning mangsa ketiga warga ing desa Jajar kangelan golek banyu. Sumber-sumber utawa tuk-tuk padha asat, suket padha garing , kayon padha rontok.

Para among tani ora bisa nenandur, kamangka panguripane warga desa kono sing paling akeh padha tetanen. Sawah –sawah ora ana oncoran utawa ilen-ilen saka kali, dadi mung tadhah udan. Apa maneh ketiga ngerak , utawa ketiga dawa, sangsaya sangsara panguripan ing desa mau. Kahanan kaya mangkono iku diarani mangsa paceklik. Mula warga desa padha nenuwun marang Kang Maha Kuwasa supaya diparingi udan kanthi upacara tiban


Sadurunge upacara tiban dianakake rembug warga, andum gawe, sapa-sapa sing kapatah nggolek ubarampene upacara. Kayata golek sada aren (sing arane kadi ), ubarampe paling pokok ing upacara tiban. Sada aren mau dienam , digawe pecut sing diarani ujung. Para warga padha sayuk rukun gotong royong nyambut gawe, ora ana sing sulaya. Kabeh padha tumandang . Pancen rasa manunggal lan rasa gotong royonge warga isih diuri-uri lan dilestarekake nganti saiki.

Yen ana warga sing mbutuhake pitulungan , ora kabotan warga liya padha urun pitulungan.
Ing dina sing wis ditemtokake para warga padha menyang lapangan (ara-ara). Kajaba sing dadi paraga tiban, utawa jago sing bakal tarung, akeh wong-wong sing padha nonton. Sabanjure panitia utawa plandhang (uga sebutan kanggo paraga sing ngatur ing pagelaran tayub) wiwit mbukak acara.

Diwiwiti ana pawongan loro utawa jago maju ing tengahing kalangan. Jago mau dijupukake saka papan kosok balen, upamane jago saka desa sisih lor dimungsuhake jago saka desa sisih kidul. Sisih wetan dimungsuhake sisih kulon. Nanging para warga sing nonton uga diolehake tarung ing antarane sing padha nonton.
Sadurunge tarung diwiwiti, plandhang menehi katrangan tata carane tarung. Perangan-perangan awak sing kena dipecut lan ora . Para jago kudu bisa mecut bageyan dhadha. Para jago mau mung oleh mecut kaping telu. Jago-jago mau banjur diwenehi pecut. Tarunge mung ligan bae, ora nganggo klambi kanthi diiringi gamelan sing prasaja bae kedadean saka kendhang, saron lan kanggp gonge (kenthongan) sing digawe saka pring.

Tarunge diwiwiti kanthi salaman dhisik, mengkono uga sabubare tarung uga dipungkasi salaman., supaya aja nganti ana sing lara ati ing sanjabane kalangan. Yen ana jago sing kena pecut, sing padha nonton banjur surak rame.
Kanggone warga desa upacara tiban sejene kanggo sarana nenuwun uga kanggo ngramekake kahanan padesan sing saben dinane tansah sepi.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

TIBAN, UPACARA NYUWUN UDAN

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Warga desa Jajar Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek nduweni adat tiban. Upacara iki minangka sarana nenuwun marang Gusti Allah supaya diparingi enggal udan. Upacara iki ana wiwit jamane mbah-mbah biyen turun – temurun nganti saiki.Upacara iki dianakakake nalika mangsane ketiga dawa. Desa Jajar mapan ing pegunungan. Sajroning mangsa ketiga warga ing desa Jajar kangelan golek banyu. Sumber-sumber utawa tuk-tuk padha asat, suket padha garing , kayon padha rontok.

Para among tani ora bisa nenandur, kamangka panguripane warga desa kono sing paling akeh padha tetanen. Sawah –sawah ora ana oncoran utawa ilen-ilen saka kali, dadi mung tadhah udan. Apa maneh ketiga ngerak , utawa ketiga dawa, sangsaya sangsara panguripan ing desa mau. Kahanan kaya mangkono iku diarani mangsa paceklik. Mula warga desa padha nenuwun marang Kang Maha Kuwasa supaya diparingi udan kanthi upacara tiban


Sadurunge upacara tiban dianakake rembug warga, andum gawe, sapa-sapa sing kapatah nggolek ubarampene upacara. Kayata golek sada aren (sing arane kadi ), ubarampe paling pokok ing upacara tiban. Sada aren mau dienam , digawe pecut sing diarani ujung. Para warga padha sayuk rukun gotong royong nyambut gawe, ora ana sing sulaya. Kabeh padha tumandang . Pancen rasa manunggal lan rasa gotong royonge warga isih diuri-uri lan dilestarekake nganti saiki.

Yen ana warga sing mbutuhake pitulungan , ora kabotan warga liya padha urun pitulungan.
Ing dina sing wis ditemtokake para warga padha menyang lapangan (ara-ara). Kajaba sing dadi paraga tiban, utawa jago sing bakal tarung, akeh wong-wong sing padha nonton. Sabanjure panitia utawa plandhang (uga sebutan kanggo paraga sing ngatur ing pagelaran tayub) wiwit mbukak acara.

Diwiwiti ana pawongan loro utawa jago maju ing tengahing kalangan. Jago mau dijupukake saka papan kosok balen, upamane jago saka desa sisih lor dimungsuhake jago saka desa sisih kidul. Sisih wetan dimungsuhake sisih kulon. Nanging para warga sing nonton uga diolehake tarung ing antarane sing padha nonton.
Sadurunge tarung diwiwiti, plandhang menehi katrangan tata carane tarung. Perangan-perangan awak sing kena dipecut lan ora . Para jago kudu bisa mecut bageyan dhadha. Para jago mau mung oleh mecut kaping telu. Jago-jago mau banjur diwenehi pecut. Tarunge mung ligan bae, ora nganggo klambi kanthi diiringi gamelan sing prasaja bae kedadean saka kendhang, saron lan kanggp gonge (kenthongan) sing digawe saka pring.

Tarunge diwiwiti kanthi salaman dhisik, mengkono uga sabubare tarung uga dipungkasi salaman., supaya aja nganti ana sing lara ati ing sanjabane kalangan. Yen ana jago sing kena pecut, sing padha nonton banjur surak rame.
Kanggone warga desa upacara tiban sejene kanggo sarana nenuwun uga kanggo ngramekake kahanan padesan sing saben dinane tansah sepi.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info