Showing posts with label My Travelling. Show all posts
Showing posts with label My Travelling. Show all posts

Sunday, April 8, 2012

Merapi's Vacation - Short story from Jogja

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Akhirnya bisa kupaksakan diriku membuat postingan baru di blog. Kali ini, cerita mbolang ke kota cantik bernama Jogja...

Terburu-buru kupasang headset di telinga, persis ketika kursi kudapatkan, setelah 1 jam berdiri di dekat pintu bus Sumber Selamet jurusan Jogja. Maklum, libur panjang di minggu ini (Jumat-Minggu), dimanfaatkan oleh banyak orang untuk keluar rumah. Entah sekedar pulang kampung, bersilaturahim, sampai liburan. Lagu Jogjakarta by Ungu mengalun (coba ada versi Kla Project, pasti lebih asik)

pulang ke kotamu 
ada setangkup haru dalam rindu
masih seperti dulu tiap sudut menyapaku 
bersahabat penuh selaksa makna

terhanyut aku akan nostalgia
saat kita sering luangkan waktu
nikmati bersama suasana jogja

di persimpangan langkahku terhenti
ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
orang duduk bersila

musisi jalanan mulai beraksi
seiring laraku kehilanganmu
merintih sendiri ditelan deru kotamu

walau kini kau tlah tiada, tak kembali
namun kotamu hadirkan senyummu abadi
izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
bila hati mulai sepi tanpa terobati

musisi jalanan mulai beraksi
seiring laraku kehilanganmu
merintih sendiri ditelan deru kota

walau kini kau tlah tiada, tak kembali
namun kotamu hadirkan senyummu abadi
izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi (untuk selalu pulang lagi)
bila hati mulai sepi tanpa terobati (bila hati mulai sepi tanpa terobati)

izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi (izinkanlah lagi)
bila hati mulai sepi tanpa terobati (selalu pulang lagi, selalu pulang lagi)

Kamis sore itu, terburu-buru kumasukkan beberapa potong pakaian dan notebook ke dalam tasku. Dengan sigap, aku turun ke jalan raya di depan rumahku, lalu menghadang bus berwarna biru khas Sumber kencono, menuju Jogja. Meski dengan berdiri di samping pintu bus, tak menghalangi semngatku untuk mbolang, karena aku sedang sangat penat. Alone, like usual.

Kupandangi saja jalanan yang mulai redup warnanya. karena matahari sudah semakin menyingsing. Kerlip lampu jalan mulai menggantikan penerangan senja. Warna jalan menguning di bawah temaram lampu jalan yang berbaris manis dan rapi. Bersisian dengannya, cemara-cemara yang menjulang bersaing ketinggian dengan papan-papan reklame. Saat itu aku sudah sampai di Caruban, ketika kudapat tempat duduk di belakang pak supir. 

Senang sekali rasanya, menyusuri jalanan, menuju Jogja. Kota yang begitu manis oleh Gudegnya. Yang romantis, oleh suara-suara merdu musisi jalanan. Juga kota yang manis oleh banyak kenangan. lagu Yogyakarta cukup mewakili suasana hatiku saat itu.

Suara yang tak terlalu sumbang, milik pengamen bus mulai memenuhi sekotak kendaraan beroda empat ini. Musiknya riuh rendah oleh tabuhan gendang, gemerincing tamborin, dan petikan gitar yang menemani, mengumandangkan lagu yang gembira. Akupun patut bergembira, menyongsong Jogja.

23.30. Jogja menyambut dengan hawa dinginnya. Hampir tengah malam, tentu udara sudah mulai tak bersahabat. Untuk itu, aku tak berlama-lama, menuju angkringan. Teh manis, yang manisnya begitu khas oleh gula batu, dan sedikit perasan jeruk lemon, sangat bersahabat dan menghangatkan. Sambutan Jogja yang bagitu khas dan manis, membuatku kembali merasakan getaran-getaran rindu, untuk kota istimewa ini. Beberapa menit bercengkrama dengan malam dan sinar purnama, cukup membuatku merasakan lelahnya perjalanan panjang. Kuputuskan memesan sebuah kamar di sebuah penginapan sekitar Umbul Harjo, aku lupa nama tempat menginapnya.

Taraaaa.... Pagi sudah datang, waktunya mbolang. Pagi itu aku sarapan pagi dengan lontong khas Sumatera, lalu meluncur ke kampus salah seorang temanku, ke AKINDO (Akademi Komunikasi Indonesia). Pagi yang cerah, dengan angin yang menerpa, mengantarkan perjalanan mbolang yang riang.

Selepas dari AKINDO, melihat kampus spesialis komunikasi, tempatnya anak-anak belajar broadcast, periklanan, dan... apa ya?  aku lupa spesialisasi jurusan lainnya, aku berniat meluncur ke Malioboro. Saat-saat penat seperti ini memang asik untuk window shopping. Niat manisku sedikit terhalang. aku ingat pusat buku di sekitar sana. Di sebelah taman budaya. Ada baiknya aku mampir dulu kesana. Seru sekali, beputar-putar di sekeliling jutaan buku, dan... Aku dapat buku baru Asma Nadia, 'Twitografi Asma Nadia'. Buku seru buat nemenin travelling nih...

Puas berputar-putar dan bertanya judul ini itu ke para penjual buku, aku tertarik melihat spanduk pameran di Taman Budaya. Sedang ada pameran Lukisan. Wah, asyik nih... menambah ragam perjalanan.


aduwh... lupa gak bw charge, padahal q d jogja. parah.. lanjut next time.


Jogja, 08.04.2012. 14:25


sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Monday, January 9, 2012

Eksotisme Bali - Lombok - NTB

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Nah, sekarang waktunya aku menepati janji. Waktunya aku bercerita tentang perjalanan pulang ke tanah kelahiranku. Setiap kali aku pulang ke kampung halamanku di Dompu, NTB, selalu aku mengeluh akan jauhya tempat itu. Tapi, eksotisme alam yang kulewati selama itu benar-benar indah, sepadan dengan lelah yang mestinya terbayar.
Sebenarya, di zaman praktis seperti ini, tak perlu selama 36 jam aku duduk di bus untuk sampai ke desaku. Namun karena aku phobia dengan pesawat, aku belum pernah memiliki sedikitpun niat untuk pulang denganya. Aku lebih bahagia jika di beri ongkos naik bus, ketimbang harus merasa ketakutan sepanjang jalan. Naik bus sebenarnya tidak menjadi pilihan yang mudah. Rasa bosan dan lelah akan selalu menghantui. Terlebih jika bus agak lambat dan sering berhenti, rasanya sangat mengesalkan. Bus, selalu ada cerita kan untuk setiap perjalanan?
Let’s go guys..
Dari Surabaya, aku membeli tiket di kisaran harga 400 ribu hingga 500 ribu untuk rute Surabaya-Dompu. Biasanya aku memesannya via telepon ke agen langganan. Kalau tidak, aku bisa pergi langsung ke loket di terminal Purabaya (Bungurasih) atau langsung menawar di atas bus (ini alternatif supaya dapat harga lebih murah loh). Biasanya untuk layanan bus seperti ini, jadwal berangkatnya berkisar antara pukul 14.00 – 17.00 WIB.
Untuk yang jago travelling, aku sarankan estafet. Dari Surabaya bisa naik kereta atau bus ke Banyuwangi, terus naik kapal ke Bali, menumpang bus hingga terminal Ubung, mencari lagi bus Jurusan Mataram, dan dari Mataram naik bus hingga Dompu. Ini jauh lebih murah, tapi agak ribet dan melelahkan. Waktunya juga nggak pasti. Tapi pasti lebih seru dan lebih bisa menikmati perjalanan kok. Dulu ketika kecil, ayahku pernah sekali mengajakku melakukan perjalanan seperti ini. Aku yang masih tak tahu apa-apa, enjoy saja ketika diajak ayahku berlari-lari mengejar kapal (emang bisa?). Meski sudah berlari, ayahku tetap ketinggalan kok. Seingatku dulu, aku memang lebih bisa memerhatikan ruas jalan ketika naik angkot di kota Mataram, namun harus rela bersesakan dengan banyak orang. Maklum, kendaraan umum masih sepi kala itu.
Ini untuk rute bus ya. Cerita kepulanganku ini tahun 2009 lalu. Aku pulang bersama ibuku. Aku sempat membawa kamera, sehingga aku bisa beberapa kali mengambil gambar. Sayangnya hanya sedikit yang hasilnya bagus.
Jika berangkat dari Surabaya sore hari, sekitar tengah malam bus akan berhenti untuk makan malam. Ada yang makan malamnya di sekitar Paiton, Situbondo, ataupun Bnyuwangi. Karena malam, sulit sekali mengambil gambar, apalagi jika bus sedang melaju. Tapi sebenarnya ada pemandangan indah yang selalu ingin aku saksikan, PLTU di Paiton. Sungguh, lampu-lampu kecil berwarna kuning yang bertaburan terlihat sangat indah. Seperti bintang yang sangat dekat. Tempatnya di bibir pantai, dengan tinggi bangunan yang mungkin belasan lantai. Pekerja yang berseliweran terlihat seperti orang-orangan plastik yang ukurannya sangat kecil. Selama 5 menit, lampu-lampu terang itu bisa dinikmati di sepanjang jalan yang berliku dan sedikit naik dan turun. Benar-benar buah karya manusia yang menawan. Terima kasih Allah, yang telah membimbing manusia untuk menciptakan karya sehebat itu.
Selanjutnya bus akan menyebrang dari pelabuhan Ketapang, Banyuwangi ke pelabuhan Gilimanuk, Bali. Pelayaran ditempuh kurang lebih 1 jam 30 menit. Selama di atas kapal, aku biasanya menghabiskan waktu di luar, maksudku di bagian kapal yang terbuka. Merasakan angin laut malam hari yang dingin, tapi degan memandangi kerlap-kerlip lampu di daratan yang samar-samar sungguh menyenagkan. Biasanya aku membeli pop mie untuk menghangatkan. Meski lewat tengah malam, makan di kala itu terasa asyik.
Setelah dari Gilimanuk, selanjutnya bus menuju ke Terminal Ubung. Eksotisme Bali tak terlalu bisa dinikmati malam hari seperti ini. Bangunan khas Bali yang penuh ukir-ukiran hanya bisa dilihat dari lampu-lampu kecil yang remang-remang di sepanjang jalan maupun rumah penduduk. Selanjutnya sekitar Shubuh, kita akan sampai di Pelabuhan Padang Bai. Biasanya berhenti disini agak lama, sambil sholat Shubuh dan menunggu kapal. Baru ketika matahari agak meninggi bus masuk kapal, dan kami pun berlayar. 
Bertolak dari Padang Bai, Bali
Laut dan langit yang membiru, panorama yang menyegarkan
Kali ini adalah penyebrangan ke-2 sekaligus yang terpanjang menuju desaku. 4 hingga 5 jam di atas kapal terkadang menjemukan. Tapi tak seperti yang kurasa kala itu. Di tengah perjalanan, langit menjadi mendung. Awan yang mengabu-abu terhampar di depan, dan hujan pun mengguyur. Rasanya ngeri, ketika kapal agak terombang-ambing, terlebih ketika kapal sedang berada di tengah lautan yang pasti sangat dalam dan jauh dari daratan. Syukurlah hanya sebentar saja. Selanjutnya, Matahari yang bersinar di sebelah Timur kapal sangat cemerlang, di tutupi awan kecil yang Nampak menggantung. Ketika aku berpaling ke barat, sebuah pelangi membentang di perairan ini. Wow,sungguh fantastis pemandangan ini. Ah, Tuhan memang selalu punya rencana di balik setiap guncangan. Aku mendapatkan dua pemandangan indah sekaligus. Aku menjadi teringat sebuah ayat, “Dan sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Stelah kesulitan ada kemudahan. (QS. Al- Insyirah 5-6). Setelah satu guncangan, ada dua kebaikan. Nyambung kan? Kalau nggak ya disambung-sambungin aja lah.
Langit yang tiba-tiba gelap di laut antara Bali-Lombok
Awan yang gelap
Langit Timur kemudian cerah
dan cahaya yang menawan menerobos awan
Di Barat masih gelap, namun sepotong pelangi membentang
Pulau eksotis selanjutnya menanti. Di sekitar pelabuhan Lembar, dengan suasana yang masih tak jauh dengan Bali, kita masih bisa melihat bangunan-bangunan yang berukiran seperti rumah-rumah di Bali. Tanah Pulau Lombok sangat subur. Hawanya dingin dan segar, di tumbuhi banyak pepohonan di sepanjang jalan. Pulau ini meski sudah ramai penduduk masih menawarkan keasrian. Maka dari itu, tak jarang turis asing mampir kesini.
Sekitar 1 jam dari pelabuhan Lembar, biasanya siang atau sore hari bus sampai di terminal Bertais, Mataram, sebelum akhirnya melaju ke pulau berikutnya, Pulau Sumbawa. Ketika kapal akan segera bertolak menuju pelabuhan Kayangan, Sumbawa, kameraku menangkap hamparan pegunungan yang mengelilingi gunung menawan milik pulau Lombok, Rinjani. Di sekelilingnya, lautan yang biru nampak sangat menyegarkan. Perpaduan warna yang kontras, namun serasi. Gunung ini sangat terkenal. tak hanya di kalangan pecinta gunung dan pendaki, tapi juga di kalangan wisatawan biasa dan wisatawan asing. Entah seperti apa rupanya jika dari dekat, suatu saat aku ingin melihatnya.
Rinjani yang agung

Senja di kaki Rinjani
Sampai di Sumbawa, suasana agak berbeda. Tanah di Sumbawa berbatu dan terlihat sangat gersang jika kemarau. Pegunungan di pulau ini memang di dominasi oleh batu, sehingga jarang sekali terlihat menghijau, karena tanaman sukar tumbuh. Namun, tawaran keindahan belum berakhir. Perjalanan yang indah masih berlanjut.
Perairan Lombok
Kayangan, Sumbawa
Saat kembali, sempat bertemu sunrise di Sumbawa
 Sampai di pulau ini biasanya menjelang Maghrib. Untuk menuju kotaku masih bersisa waktu 6 jam perjalanan. Biasanya tengah malam aku baru sampai di rumah. Namun pernah, ketika bus terlambat, sudah meninggi sang matahari baru aku sampai di rumah. Dan ketika itulah aku tahu, bahwa Sumbawa adalah gugusan gunung yang dihubungkan oleh jalanan yang berliku. Untuk sampai ke kotaku, Dompu, harus mengitari satu gunung ke gunung lainnya. Benar-benar menakjubkan, ketika jalanan mulai menanjak dan berliku, terlihat bahwa sekeliling gunung-gunung ini dikitari oleh lautan. Dari atas, air laut yang bersinar ditimpa sinar matahari sangat memanjakan mata. Selanjutnya jika sedang di bawah, perahu-perahu nelayan di shubuh hari terlihat merambat perlahan-lahan, dan ketika menengok ke atas, jalanan yang akan dilalui terlihat jelas, tinggi dan berliku. Benar-benar perjalanan yang fantastis.

 Selanjutnya, akan tibalah bus di depan rumahku yang berada di depan jalan raya. Sebenarya bukan rumahku, tapi rumah keluargaku. Tapi ini desaku, dan aku memilikinya seutuhnya.
If you want to join me, just call me, okay?..

Tambahan foto, sekilas desaku..
Padi tumbuh subur di musim penghujan
Gugusan gunung
Aktifitas anak-anak pulau Sumbawa
Kuda adalah hewan yang paling terkenal di Pulauku
Kebun yang membuat rindu
Anak-anak yang giat
 Foto-foto ini di ambil dengan kamera digital keluaran lama, jadi belum maksimal untuk mengabadikan keindahan sesungguhnya. Semoga suatu saat punya kamera profesional, agar bisa bercerita lebih dalam. Amin.

Yuli Ramahayu,
Bangkalan, 09 Januari 2012 

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Saturday, January 7, 2012

Lombang, Pantai Cemara Udang nan Memesona

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Pernah mendengar pantai Lombang? Pantai dengan cemara udang yang tercatat sebagai satu dari dua pantai saja di dunia ini yang memiliki cemara udang. Keren kan? Tempatnya pasti di luar negeri ya? Ah, siapa bilang kalau yang indah dan ajaib tak pernah ada di Indonesia. Ini buktinya.
Pantai Lombang, pantai cemara udang, Sumenep
 Pantai Lombang berada kurang lebih 30 km dari kota Sumenep. Dalam peta, pantai lombang terletak di ujung utara pulau Madura. Akses ke pantai yang cantik ini tak sulit. Bahkan terbilang mudah dengan papan penunjuk yang sudah tersebar di berbagai sudut kota Sumenep. Jalanan yang dilalui pun tidak memiliki banyak cabang, sehingga kemungkinan kesasar akan sangat kecil.
Pantai ini menjadi andalan wisata masyarakat Madura, khususnya masyarakat Sumenep. Meski jauh dari perkotaan, tak akan ada kekecewaan jika bisa sampai ke pantai ini. Pantai Lombang satu-satunya pantai di Indonesia yang ditumbuhi pohon cemara udang. Pada umumnya, cemara tumbuh subur di daerah pegunungan. Tapi disini, cemara dengan akar-akar yang menjulang cantik sangat memanjakan mata. Untuk ukuran pantai, tempat ini sangat indahdijadikan background berfoto.  Bahkan ketika pertama kesini dengan teman-teman kuliahku, banyak yang bermimpi bisa foto prewedding disini, hihihi.
Berangkat pukul 05.30 WIB, ketika mentari mulai menyingsing di Timur, aku dan keluargaku melaju dengan Carry keluaran tahun 2000. Kami melewati selat Madura di atas jembatan Suramadu. Menghadapkan wajah ke Timur, cahaya matahari terbit berkilauan di atas air laut yang terhampar. Sambutan yang sungguh hangat pagi ini, di antara keceriaan sepupu-sepupuku. Akulah inisiator untuk mengunjungi pantai ini. Setelah pertama kali kesana 3 tahun lalu, di awal masa kuliahku dulu, aku jatuh cinta dan berjanji akan kembali ke pantai ini.
 Keluar dari jembatan Suramadu, sekitar 15 Km kemudian kami baru benar-benar keluar dari tol Suramadu. Kemudian kami menyusuri jalanan panjang ke Timur, melewati kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep. Kami melalui jalan di sepanjang garis laut pulau Madura, sehingga pemandangan selama kurang lebih 5 jam itu kebanyakannya adalah hamparan laut.
Pulau Madura, meski masih jarang penduduk tak kalah memukau layaknya kehidupan di wilayah Indonesia yang lain. Banyak keunikan yang bisa dilihat dari masyarakat Madura, aktifitas di pasar tumpah atau biasa disebut pasaran misalnya. Hampir di setiap kabupaten, pasaran selalu ada, tapi diambil di hari-hari tertentu saja. Pasaran tidak diadakan setiap hari, melainkan pada hari yang telah ditetapkan, sehingga bisa dipastikan, pasar ini akan ramai dan memadati jalan.
Yang paling aku suka adalah ketika melintasi pantai Camplong di Sampang, di wilayah ini, ikan-ikan segar hasil tangkapan laut langsung didistribusikan di pasar Camplong. Bau amis khas ikan segar sangat menggoda untuk dilirik. Jika sempat, beli saja, dijamin nikmat disantap. Karena laut disana bisa dibilang masih alami, belum banyak tercemar, ikan-ikannya pasti segar.
Tepat pukul 11.30 kami sampai di tujuan kami. Perjalanan yang sungguh melelahkan ya. Bayangkan, untuk ke satu pantai saja harus duduk selama 5 jam di dalam mobil. Itu untuk berangkatnya saja, belum kepulangan kami kemudian. Total kami menghabiskan waktu 10 jam hari Minggu ini untuk berwisata kemari. Namun seakan dibayar lunas, kelelahan kami di barter dengan panorama alam yang memukau.
Cemara udang yang rimbun

Pantai yang sungguh ramah untuk berpiknik
 Hamparan pasir yang putih membentang dari Timur hingga Barat. Pasir ini sungguh lembut. Jika digenggam, teksturnya halus seperti debu, mudah sekali terhembus angin pantai. Sementara di sepanjang bibir pantai, pohon-pohon cemara udang tumbuh subur dan rindang, menjadi sandaran yang sangat nyaman bagi para pengunjung.
Keluargakupun menggelar perlengkapan piknik kami. Sebuah tikar besar, rantang makanan, piring, hingga termos air panas untuk membuat kopi dan mie kami hampar di bawah sebuah pohon cemara. Tanteku sengaja menyiapkan semua ini demi kelancaran perjalanan ini. Karena yang sebelumnya kami dengar, pantai Lombang ini masih sepi pedagang. Benar saja, dengan jumlah pengunjung yang tak terlalu banyak, warung-warung kecil di sekitar pantai hanya menyediakan kopi, teh, minuman rasa, kelapa muda, dan rujak khas Madura dengan petis khasnya yang asin, Petis Madura.
Menurut beberapa sumber, pantai ini belum dikelola dengan baik untuk dijadikan tempat wisata. Sungguh sayang rasanya, tempat seindah ini belum sampai ke wacana publik sebagai objek wisata yang menguntungkan. Bahkan, karena tidak adanya perawatan yang baik, pantai ini mulai kotor oleh sampah-sampah yang di buang manusia. Sungguh disayangkan.
Pasir pantai yang putih dan lembut
 Kenyang sarapan, kami menuju tempat ganti yang juga sudah di bangun di pinggir pantai ini. Aku dan sepupu-sepupuku meniatkan untuk bermain air. Sungguh sayang jika sampai melewatkan moment mandi di pantai ini. Pasirnya yang halus tidak menyakiti kulit sama sekali. Airnya yang hangat pun terasa menyenangkan. Ditambah ombak yang datang kecil-kecil, menyegarkan kami yang bercanda tawa di pantai ini.
Mandi yang menyenangkan setelah 5 jam perjalanan
nice vacation here
 Pada hari Minggu kedatangan kami ini, pengunjung cukup ramai berdatangan. Namun menjelang tengah hari, perlahan-lahan pantai mulai sepi. Entah apa penyebabnya, mungkin mendung, pengunjung secara teratur menghilang. Pada saat itulah, aku menyewa kuda untuk berkeliling di pantai ini. Dengan membayar Rp 10.000,- aku di bawa keliling menaiki kuda kecil yang tangguh menopang tubuhku. Sungguh pengalaman berkuda yang menyenangkan, dengan panorama alam yang memesona. Objek wisata satu ini tergolong sangat murah, tanpa biaya parkir ataupun tiket masuk. Bahkan harga makanannya standar seperti yang di jual di sekitar tempat tinggal kita.
bergantian naik kuda dengan saudara yang lain

Akar-akar cemara udang yang cantik
momment yang indah tak akan lewat begitu saja
Pohon-pohon yang tak hanya rindang, tapi juga cantik
 Setelah puas bermain air, aku kembali ke ruang ganti dan mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan. Aku menyempatkan diri meminum dan makan kelapa muda langsung dari buahnya. Sungguh segar dan nikmat.
Sebelum pulang, aku dan keluargaku juga menyempatkan melihat-lihat bibit dan pokok cemara yang diperjualbelikan disana. Penduduk memanfaatkan sajian alam ini untuk mencari penghasilan. Cukup dengan sepuluh sampai tiga puluh ribu, pengunjung bisa membawa cemara yang telah di bonsai.
Nah, seru kan perjalanan kali ini. Meski jauh, tak akan menyesal jika bisa sampai ke pantai ini. Semoga pantai ini segera memiliki manajemen yang baik, sehingga menjadi objek wisata yang ramai dan terkenal hingga manca negara.

Pohon - pohon cemara

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Tuesday, January 3, 2012

Wonosalam - Surga Durian

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Awal tahun 2012 ini menjadi bulan surga bagi pecinta durian. Bagaimana tidak, hampir di seluruh pelosok Jawa Timur, seperti di Madura, Mojokerto, Jombang, Gresik, dan beberapa kota lain, durian sedang kleleran di mana-mana. Setelah musim kemarau yang panjang, musim penghujan disambut dengan gembira membanjirnya buah durian. Hmm, yummy.
Pun bagiku dan keluargaku, kami sebagai penikmat durian merasa di atas awan. Durian yang manis dan lezat mudah ditemui di mana-mana, juga dengan harga yang cukup miring. Di Wonosalam misalnya, ini tempat yang sangat pantas disebut surga durian. Harga durian lezat disini berkisar antara lima belas hingga lima puluh ribu rupiah.
My sista, di bawah pohon durian
Selain rimbunnya durian, sepanjang jalan yang kami lalui sungguh asri. Pepohonan yang tak terlalu tinggi tumbuh subur dan meneduhkan jalan dari sinar matahari. Tak hanya itu, ratusan kupu-kupu terbang kesana kemari memenuhi sepanjang jalan. Kami seperti memasuki taman penangkaran kupu-kupu. Kupu-kupu disini berwarna kuning terang dan kuning tua. Hanya dua jenis itu yang terlihat. Aku dan kakak perempuanku yang sama-sama menggilai kupu-kupu tersenyum kegirangan. 
Naik motor lebih seru
Travelling bareng si merah memang oke..!
 Wonosalamadalah sebuah kecamatan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Indonesia. Kecamatan ini terletak di dataran tinggi di sebelah tenggara Kota Jombang. Dari Surabaya, jarak tempuhnya sekitar 70 Km. Untuk kesanapun tak cukup sulit, dari arah Surabaya, sebelum masuk ke Mojoagung, ada pertigaan Lengkong, belok kiriakan mengarah langsung ke Wonosalam sejauh 15 Km.
Menurut kabar, Kecamatan Wonosalam memang penghasil durian yang perlu diperhitungkan. Selain itu, kawasan Wonosalam juga mempunyai potensi untuk menjadi daerah wisata khususnya agrowisata karena mayoritas penduduknnya adalah petani. Selain durian, di kawasan Wonosalam ini merupakan penghasil cengkeh, kopidan pisang. Wah, sungguh wisata alam yang menggugah selera ya.
Durian Wonosalam memang tak ada duanya. Durian yang dijual di sini rata-rata matang di pohon. Jadi tanpa ada rekayasa untuk mempercepat kematangannya. Rasa dan bau duriannya sungguh khas, matangnya pas dan tak sampai terbelah. Daging duriannya lembut dan tebal, tidak terlalu garing ataupun lembek, rasanya legit dan sedikit ada rasa pahitnya. Rasa pahit memang menjadi penggugah lain dalam selera memakan durian. Benar-benar maknyus.
Sudah menjadi niatku dan dua saudaraku untuk hunting durian ke Wonosalam. Tapi, ditengah jalan ternyata hati kami membelot. Selagi asyik memilih-milih durian di sepanjang jalan, di sebuah tikungan yang cukup tajam, kami ditakjubkan oleh sebuah panorama yang indah. Kelezatan durian pun tak mampu mengalahkan keinginan hati kami untuk berbelok dan memarkir sepeda motor. Tentu bukan karena kami menolak durian. Sehari sebelumnya, ibu kami sudah memborong durian dari sini, jadi kami tak khawatir tak bisa menyantap durian khas Wonosalam ini, hihihi.
Sang Arjuna yang memikat
 Kami yang tinggal di kecamatan Gemekan, Sooko, Mojokerto, tak pernah menyangka bahwa di jarak 15 km dari rumah kami, ada tempat semenawan ini. Dengan jarak tempuh sekitar 15-20 menit, kami bisa melihat kemegahan gunung Arjuna, gunung yang sering dijadikan objek mendaki di Jawa Timur. Posisi kami sendiripun ternyata di salah satu lereng gunung Anjasmara yang indah. Asri, sejuk, dan kini penuh kumbang disekeliling kami. Di seberang sana, gunung Arjuno yang agung juga terlihat menawan. Dengan biaya parkir Rp 5.000,- kami bisa langsung menjajaki tanah kecoklatan khas tanah pertanian.
Sungai kecil itu gemericiknya sampai ke atas lereng
My sista n' brother

Dilihat dari Wonosalam sini, dua gunung besar ini terpisah oleh sebuah sungai kecil yang alirannya cukup deras. Airnya jernih dan pasti segar. Bebatuan khas sungai memecah aliran air yang mengalir bening, menciptakan suara-suara segar, yang memenuhi sekeliling gunung. Sayang kami tak jadi turun, karena tak ada persiapan fisik maupun logistik. Untuk turun, kami perkirakan jaraknya hanya 500-700m, tapi itu sungguh jarak yang jauh untuk kembali naik ke atas. Kami hanya berputar-putar di atas, dan sedikit menuruni jalan setapak untuk berfoto. Itupun, kami sudah ngos-ngosanketika kembali ke atas.
Jalan setapak yang mendaki

Di lereng gunung Arjuna juga bisa dilihat mata air yang mengalir panjang dari puncak lereng hingga ke bawah. Seandainya bisa menyebrang dengan sekejap, sudah pasti kami akan segera ngendon di sana.
Sisi Sang Arjuna
 Sayangnya tak ada kamera yang memadai untuk mengabadikan sajian alam ini. Hanya dengan kamera HP, kami sempat narsis berlenggak-lenggok dengan background dua gunung ini, Arjuna dan Anjasmara. Namun cukuplah, untuk menghadirkan kembali moment tersebut dalam ingatan.
Me n' brother

Cabang-cabang pohon yang juga unik
           Beberapa saat kemudian, kami dikejutkan seorang kakek yang sempat mengenalkan diri sebagai penjaga gua Si Golo-golo, yang katanya tepat berada di bawah kami berdiri. Waaah, ternyata tak sampai di sini ya pesona alam lereng ini. Kata kakek itu, ada 7 lorong gua Si Golo-golo sekaligus yang bisa kami kunjungi. Setelah berpikir sejenak, kami tak jadi ikut beliau, namun berjanji akan mengobati penasaran kami lain waktu. Beliaupun menganjurkan untuk datang lagi dengan bersepatu, dan tidak memakai rok, hihihi. Kata beliau, sudah banyak sebelah atau sepasang sandal tertinggal yang beliau tambal dan dijual kembali untuk sekedar membeli kopi. Lumayan ya kek, untuk saku tambahan. 
Sang kakek sedang bercerita, gua Si Golo-golo ada di bawah sini
 Gua Si Golo-golo (sumber lain)
Nah, yang mau kesana, boleh kok minta aku jadi guide-nya. Asal ditraktir durian ya ^,^

Mojokerto, 3 Januari 2010

Yuli Ramahayu
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info