Showing posts with label Sejarah Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Nusantara. Show all posts

Thursday, March 20, 2014

BUKU BABAD DEMAK TENTANG HIKAYAT DAN SEJARAH KERAJAAN DEMAK

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
BUKU BABAD DEMAK TENTANG HIKAYAT DAN SEJARAH KERAJAAN DEMAK

Ivan Taniputera
2 Maret 2014



Judul: Babad Demak
Penulis: Atmodarminto
Penerbit: Jajasan Penerbitan "Pesat," Yogyakarta, 1955
Jumlah halaman: 184
Bahasa: Jawa

Buku ini merunut hikayat dan sejarah Demak, yang diawali dengan ulasan mengenai Majapahit.

Berikut ini adalah daftar isinya.


Berikut ini adalah daftar gambar yang ada dalam buku ini.


Pada bagian pertama diriwayatkan mengenai silsilah Majapahit.

"Lajang Babad Demak tembang wiwitane njritakake sedjarahe para ratu Madjapait. Iki pantjen wigati banget, sabab para ratu sabakdane Madjapait, para ratu Bintara (Demak), Sultan Hadiwidjaja Padjang sarta para ratu Mentaram, kabeh pada ngaku turune prabu Brawidjaja ratu Madjapait pungkasan. Sarasilahe kaja ing ngisor iki:

1.Prabu Brawidjaja pungkasan peputra Raden Patah, Sultan Demak I.
2.Prabu Brawidjaja pungkasan peputra putri dadi garwane Adipati Andajaningrat, Pengging. Andajaningrat peputra Djakasengara. Djakasengara peputra Kebokenanga Pengging. Kebokenanga peputra Djaka Tingkir ija Sultan Hadiwidjaja Padjang...."

Terjemahan:

"Buku Babad Demak itu bagian awalnya menriwayatkan mengenai sejarah para raja di Majapahit. Hal ini memang tepat sekali, karena seluruh raja Majapahit, para raja Bintara (Demak), Sultan Hadiwidjaja Padjang beserta para raja Mataram, seluruhnya mengaku sebagai keturunan Prabu Brawidjaja, raja Majapahit terakhir. Silsilahnya adalah seperti di bawah ini:

1.Prabu Brawidjaja terakhir berputra Raden Patah, Sultan Demak I.
2.Prabu Brawidjaja terakhir memiliki anak perempuan yang menjadi isteri Adipati Andajaningrat di Pengging. Andajaningrat berputra Djakasengara. Djakasengara berputra Kebokenanga di Penging. Kebokenanga berputra Djaka Tingkir, yang merupakan Sultan Hadiwidjaja di Padjang...."

Selanjutnya disebutkan sebagai berikut:

"Kutjiwane sedjarahe para ratu ing Madjapait munggah, ana ing lajang babad Demak tembang mau mung ditjritakake kaja dongeng takajulan. Dadi ora kena dienggo waton, mangkono uga sarasilahe. Nek urut-urutane mula tarik-tarik. Nanging bareng nganggo dileboni sarasilahe wajang lang sarasilahe para dewa Suralaja wiwit Djenggala wae wis mbingungake. Urut-urutane mangkene:

1.Pandji Semarabangun ratu Djenggala peputra:
2.Pandji Kuda Lalean peputra...."

Terjemahan:

"Yang mengecewakannya para raja Majapahit sebelumnya, yang terdapat di Babad Demak itu hanya diriwayatkan seperti dongeng dan tahayul saja. Jadi tidak dapat dijadikan sebagai pedoman, demikian pula dengan silsilahnya. Jikalau urutan-urutannya ditarik ke atas. Tetapi kemudian dimasukkan silsilah wayang beserta silsilah para dewa di Suralaya. Semenjak zaman Jenggala saja silsilahnya sudah membingungkan. Urut-urutannya adalah sebagai berikut:

1.Pandji Semarabangun, raja Jenggala berputra:
2.Pandji Kuda Lalean berputra...."

Pada halaman 116 diriwayatkan mengenai penyerbuan kerajaan Supiturang oleh Sultan Trenggana:

"Kira-kira ana ing tahun 1536 pradjurit Demak disenapateni Sultan Trenggana pijambak budal nglurug mangetan. Beteng Supiturang digempur lan kutane diobong..."

Terjemahan:

"Kira-kira pada tahun 1536, prajurit Demak yang dipimpin oleh Sultan Trenggana sendiri melakukan penyerbuan ke arah timur. Benteng Supiturang diserbu dan kotanya dibakar...."

Berikut ini adalah contoh halamannya:




Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Tuesday, December 18, 2012

SEDIKIT MENGENAL KERAJAAN ARANGKAA: SERIAL SEJARAH NUSANTARA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

SEDIKIT MENGENAL  KERAJAAN ARANGKAA: SERIAL SEJARAH NUSANTARA

Ivan Taniputera
18 Desember 2012

Kemungkinan banyak di antara kita yang belum pernah mendengar mengenai Kerajaan Arangkaa. Barangkali ada yang bertanya-tanya di manakah letak kerajaan ini. Kerajaan Arangkaa terletak di Kepulauan Talaud. Walaupun secara administrasi pemerintahan berada di bawah kerajaan-kerajaan di pulau Sangir (Sangihe), namun di sana terdapat pula beberapa kerajaan seperti Lirung, Beo, Arangkaa, Moronge, Esang, dan lain sebagainya (halaman 27). Menjelang akhir abad ke-19, kekuasaan pemerintah kolonial belum tertanam di kawasan Talaud. Hingga akhirnya pada tahun 1889, Stakman, residen Menado, mengangkat J.E. Leidemeijer sebagai posthouder atau wakil pemerintah kolonial Belanda di kepulauan tersebut.

Pada tanggal 15 September 1889, Stakman berkunjung ke Lirung di Kepulauan Salibabu, Talaud dan berniat melakukan perombakan tatanan pemerintahan di sana. Oleh karena, secara pemerintahan, mereka berada di bawah kerajaan-kerajaan di Sangir, maka para raja di sana seharusnya tidak layak menyandang gelar raja, dan menurunkan gelar mereka menjadi jogugu (setingkat kepala distrik). Pada kesempatan tersebut, berhasil dibentuk Kejoguguan Beo dan Lirung. Masing-masing distrik bentukan Belanda itu dipimpin oleh presiden jogugu. Ketika itu yang menjadi presiden jogugu adalah:

1.S.P. Tucunan, presiden jogugu Lirung.
2.A. Tumbal, presiden jogugu Beo.

Kerajaan Arangkaa sendiri berada di timur laut Pulau Karakelang, dan wilayahnya mencakup Arangkaa, Taruan, Gemeh, dan Taturan. Sewaktu masuknya pemerintah kolonial Belanda, Arangkaa diperintah Raja Manee. Oleh karena kedudukannya juga diturunkan menjadi jogugu, maka Raja Manee murka dan ia menuntut agar tetap diakui sebagai raja oleh pemerintah kolonial. Beliau menyatakan bahwa jabatan jogugu itu lebih tepat bagi anaknya beranma Andrias Binilang atau Rumenta (halaman 28). Kendati demikian, pemerintah kolonial tidak mau memenuhi tuntutan ini.

Oleh karenanya, Raja Manee lantas menyerang kedudukan J.E. Leidemeijer di Malangnane. Leidemeijer merasa tidak mampu menangkis serangan tersebut dan berniat melarikan diri ke Tahuna guna melaporkan serangan tersebut pada Kontrolir Hoeke. Namun S.P. Tucunan dari Lirung mencegahnya dan berjanji akan menyelesaikan masalah tersebut. Ia berjanji akan menjamin keselamatan Leidemeijer serta menyatakan bahwa musuh Belanda adalah juga musuhnya.

Raja Manee yang gagah berani terus mengejar Leidemeijer hingga ke Lirung. Berkat keahliannya berdiplomasi S.P. Tucunan menyambut Raja Manee dengan ramah tamah, sehingga padamlah keinginan berperang Raja Manee. Bahkan permusuhan antara Lirung dan Arangkaa berhasil dipadamkan. Meskipun demikian, perdamaian tidak berlangsung lama, Raja Manee mangkat pada tahun 1891 dan digantikan oleh saudaranya bernama Larenggam (1891-1893). Beliau menghidupkan kembali permusuhan dengan Lirung dan menentang penghapusan status kerajaan bagi Arangkaa. Kendati demikian, jogugu Beo, A. Tumbal juga turut menentang berdirinya Kejoguguan Arangkaa dan ingin agar kawasan itu digabungkan dengan kejoguguannya. Dengan demikian, wilayah Kejoguguan Beo menjadi makin luas (halaman 29).

Permusuhan antara Arangkaa dan Lirung itu telah berlangsung semenjak abad ke-18, yakni sewaktu dua pemuka Arangkaa bernama  Aluseda dan Bawangkil beserta 28 pejabatnya dibunuh oleh orang-orang Lirung. Pembunuhan itu sendiri juga dilandasi balas dendam karena Arangkaa pernah membunuh pemimpin Tule (Lirung) bernama Asiadi (halaman 29). Meskipun telah diadakan perdamaian, namun gejolak masih tetap timbul, apalagi Larenggam melindungi Leidemeijer selaku musuh besar Arangkaa.

Raja Larenggam segera menghimpun angkatan perangnya guna menghantam Lirung. Pengintaian dilakukan lewat darat dan laut, sehingga selama dua tahun perairan Lirung menjadi tak aman bagi penjajah Belanda. S.P. Tucunan dan Leidemeijer kewalahan menghadapi Raja Larenggam sehingga segera meminta bala tantuan ke Tahuna dan Menado. Pada tanggal 20 Juli 1893, tibalah kapal perang Zeeduif di Lirung. Turut serta dalam rombongan adalah Residen Menado bernama E.J. Jellesma dan Kontrolir Hoeke. Persiapan pasukan penjajah segera dilakukan, para kapita laut (kepala desa) setempat diwajibkan menyerahkan pasukan. Ketika itu, hanya dua orang jogugu saja yakni jogugu Apande dan jogugu Porodesa, karena keduanya masih merupakan kerabat Larenggam. Kendati demikian, mereka berdua tetap harus turut bersama pasukan kolonial di atas kapal.

Pertama-tama diupayakan dahulu penyelesaian dengan jalan damai. Residen Jellesma memerintahkan S.P. Tucunan agar menghubungi Raja Larenggam, melalu dua orang kerabat Raja Larenggam sendiri, yakni Kapita Laut Rensa dari Bulude dan Kapita Laut Pusunge dari Lobbo. Kendati demikian, upaya ini sia-sia belaka, karena Raja Larenggam lebih memilih berperang mempertahankan kedaulatan beserta martabat negerinya.

Pertempuran segera pecah, perahu penjajah beserta para penguasa setempat yang menjadi sekutu Belanda memuntahkan peluru ke armada Raja Larenggam. Namun armada Kerajaan Arangkaa tidak gentar sedikitpun. Akhirnya pasukan kolonial beserta sekutunya berhasil menyerbu masuk ke istana Raja Larenggam. Tucunan memerintahkan agar Raja Larenggam menyerah saja. Tetapi Beliau lantas berkata, "Leta'a masena langi' marandumma." Artinya secara harafiah adalah "Tanah terang, langit gelap." Maknanya adalah Beliau pantang menyerah dan lebih baik mati berkalang tanah (halaman 32). Raja Larenggam akhirnya gugur tertembak. Istana Arangkaa dibakar dan perlawanan rakyat dipatahkan.

Saudara perempuan Raja Larenggam dibiarkan mengambil mayat raja dan memakamkan badannya di dalam tanah, sedangkan kepalanya berada di luar. Ini merupakan tradisi pemakaman bagi korban perang dan dalam Bahasa Talaud disebut "hirua." Pemakaman semacam ini menandakan bahwa permusuhan masih akan terus berlanjut. Semua tawanan dibawa ke Lirung dan dijatuhi hukuman pengasingan selama 5 tahun. Pada tanggal 26 Juli 1893, Residen Jellesma kembali ke Menado. Dengan demikian, jatuhlah Arangkaa ke tangan Belanda.


Sumber: "Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Utara," terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional-Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Jakarta, 1984.

Tim Penulis:

Drs. J.P. Tooy.
Let Kol Inf. Drs. Soetarno
Drs. P.R.W. Parengkuan.
Drs. P. Rompas.

Disunting kembali oleh:

Drs. S. Sumardi.
Drs. M. Sunjata Kartadarmadja.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info