Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Saturday, November 13, 2010
Pemenang Pemilihan Duta Bahasa 2010
Pemenang II :
Pemenang Harapan III :
Wednesday, October 13, 2010
Helena: Duta Bahasa Indonesia Sulawesi Tenggara
Wanita kelahiran Kendari, 28 September 1987 ini, sebelumnya meraih beberapa penghargaan dari kompetisi, diantaranya juara satu lomba pidato bahasa inggris tingkat Sekolah menengah pertama (SMP) tahun 1999 dan Sekolah menengah atas (SMA) se Kota Kendari tahun 2002. selain itu ia juga pernah juara satu dalam lomba bahasa inggris se-Kota Kendari tingkat mahasiswa dan skrip teater sekolah tahun 2004.
Anak dari Halim Pagala, S.Sos dan Nurhaena Abdullah merupakan tipe wanita yang tidak memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap sesuatu yang dilakoninya. Dari berbagai event dan festival yang diikutinya, salah satu alasannya hanya ingin mencari pengalaman, mengasah mental, dan menambah wawasan.
Namun tak bisa dipungkiri wanita bersuku bugis ini dianugrahi intelegensi dan kemampuan yang cukup tinggi, terbukti dari tahapan tes yang dilewatinya dari 100 peserta Australian Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) se-Sultra, ia berhasil menduduki posisi pertama sekaligus perwakilan Sultra dalam pertukaran pemuda tahun lalu itu.
Setelah lolos seleksi ia langsung dikirim ke Jakarta untuk bersama-sama mengikuti pelatihan dengan 18 putra-putri perwakilan masing-masing provinsi di Indonesia. Kemudian mereka tersebut langsung diberangkatkan ke Australia, kurang lebih selama dua bulan mereka menetap di Australia di Kota Perth dan Margaret.
Di Margaret, ia magang di Montesssory Primary School dengan mengajar Bahasa Indonesia. Selain magang mereka juga menampilkan pertunjukan kebudayaan, 18 orang pemuda Indonesia membawakan tari Saman dan Rapai Geleng dihadapan 18 pumuda Australia yang nantinya akan bertandang ke Indonesia selama dua bulan dan aktivitas yang mereka lakoni sama dengan pemuda Indonesia.
Anak pertama dari empat bersaudara Helmin, Hasrat dan Hutaman ini, kembali mendulang prestasi pada 7 Oktober 2010. Ia lolos dalam ajang pemilihan duta bahasa Indonesia perwakilan Sultra setelah melewati serangkain pelatihan dan tes yang diselenggarakan Kantor Bahasa Kendari. Dan akhirnya ia bersama rekannya Precelly Aljancarios Atiri yang juga juara satu putra asal Kabupaten Muna akan berangkat ke Jakarta 22 oktober 2010 mendatang.
Helena mengakui dalam mengikuti pemilihan duta bahasa dirinya tidak mempunyai persiapan khusus, semuanya serba mendadak, terlebih untuk membuat makalah tentang “Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Globalisasi” yang hanya membutuhkan waktu semalam untuk dapat menyelesaikannya.
Pengalaman yang didapatnya ketika menjadi pertukaran pemuda dengan duta bahasa Sultra menurutnya tidak jauh berbeda, keduanya memiliki sejuta pengetahuan dan pengalaman namun menjadi duta Bahasa Indonesia Sultra jauh lebih menantang suasana berkompetisinya, terlebih jika ditingkat Nasional yang waktunya tinggal sebentar lagi.
Tak banyak harapan yang ucapkannya diakhiri wawancara, ia hanya mengatakan akan memberikan yang terbaik untuk Sulawesi Tenggara, menang dengan tidak nanti tergantung yang Kuasa. Maju terus Helena, moga sukses membawa nama Sultra melaju di tingkat nasional.
Sumber : Kendari News, 11 Oktober 2010
Dody-Pratiwi Duta Bahasa Sumsel 2010

Ketua pelaksana Vita Nirmala mengatakan ajang pemilihan duta bahasa ini adalah untuk menyukseskan Bulan Bahasa yang jatuh setiap Oktober. “Tahun ini kita mengambil tema pembentukan karakter generasi muda bangsa melalui peningkatan kualitas bahasa dan sastra Indonesia dan daerah,” ujarnya.
Katanya, peserta yang terpilih sebagai Duta Bahasa nantinya akan dikirim ke Jakarta guna mengikuti ajang serupa di tingkat nasional. Selain itu, wakil I duta bahasa Provinsi Sumsel 2010 M Fandagri Hartanto mahasiswa Ilmu Komputer (Ilkom) Unsri angkatan 2007 dengan skor penilaian 451 dan Mardiana (FKM Unsri 2007) dengan skor penilaian 453.
Tampak hadir Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, Drs B Trisman M Hum, dan ketiga dewan juri Dr Indawan Syahri MPd, Nofita Anggraini MSi dan Dra Hj Zahra Alwi MPd.(mg21)
Thursday, July 23, 2009
ABUL & GIRA, "TRENDSETTER" MUDA BAHASA INDONESIA
SEBERAPA penting peran bahasa untuk Belia? Semuanya pasti bilang sangat penting,
Sabtu (10/10) pagi menjelang siang di sebuah gerai donat, belia ngobrol banyak sama Gira dan Abul. Menurut mereka, gelaran pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat ini belum banyak yang tau. "Acara ini emang baru berlangsung selama tiga tahun. Belum banyak yang tahu karena sosialisasi lewat media kurang banyak dan waktunya pendek," kata Gira. Pemilihan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa ini, tadinya memang hanya ditujukan untuk mereka yang bener-bener berminat pada bidang ini. "Saya sendiri taunya udah dari tahun lalu karena diberi tahu temen yang anak Sastra. Tapi mulai tahun ini, lebih dibuka ke umum karena nantinya di pemilihan yang nasional, banyak pertanyaan mengenai wawasan umum," jelas cewek yang sedang mengambil magister kenotariatan di Unpad ini.
Kemudahan untuk mengikuti ajang ini juga didapat oleh Abul. "Kebetulan saya dan Gira juga ikutan pemilihan Mojang Jajaka Jawa Barat. Jadinya info tentang pemilihan ini didapat dari sana," kata cowok asal Garut ini. Menurut mereka berdua, seleksi yang harus mereka jalani selama lomba termasuk berat. "Ada tes menulis dalam tiga bahasa: Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Sunda, interview, presentasinya, sama ada juga Uji Kompentensi Bahasa Indonesia (UKBI). Yang terakhir ini adalah semacam tes TOEFL-nya Bahasa Indonesia," jelas Abul.
Mungkin Belia juga banyak yang belum tahu soal UKBI ini ya? "UKBI ini diperlukan oleh warga asing yang akan bekerja atau sekolah di Indonesia. Sama kayak kita aja kalau mau kerja atau sekolah di Amerika or Inggris, butuh standar minimal nilai TOEFL," tambah Gira. Tuh, tambah satu pengetahuan lagi kan, kalau Bahasa Indonesia bukan sekadar bisa mengucapkan, tetapi juga harus tau tata bahasa atau grammar-nya juga.
Tujuan utama dari pemilihan Duta Bahasa ini, kata Abul dan Gira, sang Duta Bahasa ini akan menjadi trendsetter dalam penggunaan bahasa lokal, dalam hal ini bahasa Indonesia. "Sekarang banyak terjadi degradasi penggunaan bahasa Indonesia, kayak di iklan-iklan yang menggunakan bahasa asing. Jadi si Balai Bahasa ingin ada kampanye kecil-kecilan untuk melestarikan bahasa Indonesia. Bahasa asing, Inggris, dalam hal ini penting karena kita juga harus bisa menyerap informasi dari luar negeri, tetapi ada porsinya. Bahasa Sunda juga penting karena kita tetap harus melestarikan budaya, supaya enggak lupa sama asal usul kita. Bahasa Indonesia untuk menunjukkan identitas kita kepada orang luar," kata cewek kelahiran 13 September 1985 ini panjang lebar.
Banyak yang terkecoh juga kalau bahasa Indonesia yang baik dan benar itu harus mengacu kepada ejaan yang disempurnakan alias EYD. Ternyata enggak gitu, lho. "Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu adalah bahasa yang dipakai sesuai dengan tempatnya atau tepat sasaran. Misalnya gini, kalau berbicara di depan forum yang formal, tentunya kita harus menggunakan bahasa Indonesia yang formal juga, menggunakan EYD. Akan tetapi, kalau ada forum yang nonformal, sah-sah saja jika berbicara bahasa Indonesia yang enggak mengacu EYD," tutur Abul. Yang baik belum tentu benar, kan? Tapi kalau Belia tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang bahasa, enggak ada salahnya untuk main-main ke Balai Bahasa. Kalau di Bandung sih, di kawasan Jalan Sumbawa. Gimana? Mau ikutan? ***
tisha_belia@yahoo.com
Sumber : Pikiran Rakyat
Imam : Memilih Bahasa Madura, Jawa dan Bima
Setelah Lima Bahasa, Kini Bahasa Isyarat
