Showing posts with label Wejangan. Show all posts
Showing posts with label Wejangan. Show all posts

Wednesday, November 11, 2009

Ki Ageng Suryamentaram

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Pada tahun 1892, tepatnya pada tanggal 20 Mei tahun tersebut, seorang jabang bayi terlahir sebagai anak ke-55 dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII, sultan yang bertahta di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jabang bayi tersebut diberi nama BRM (Bendara Raden Mas) Kudiarmadji. Ibundanya bernama BRA (Bendara Raden Ayu) Retnomandoyo, putri Patih Danurejo VI yang kemudian bernama Pangeran Cakraningrat. Demikianlah, BRM Kudiarmadji mengawali lelakon hidupnya di dalam kraton sebagai salah seorang anak Sri Sultan yang jumlah akhirnya mencapai 79 putera-puteri.

Seperti saudara-saudaranya yang lain, Bendara Raden Mas Kudiarmadji bersama-sama belajar di Sekolah Srimanganti di dalam lingkungan kraton. Tingkat pendidikan sekolah ini kurang lebih sama dengan sekolah dasar sekarang. Selepas dari Srimanganti, dilanjutkan dengan kursus Klein Ambtenaar, belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Arab. Setelah selesai kursus, bekerja di gubernuran selama 2 tahun lebih. BRM Kudiarmadji mempunyai kegemaran membaca dan belajar, terutama tentang sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Pendidikan agama Islam dan mengaji didapat dari K.H. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Ketika menginjak usia 18 tahun, Bendara Raden Mas Kudiarmadji diangkat menjadi pangeran dengan gelar Bendara Pangeran Harya Suryomentaram.
Tahun demi tahun berlalu, pena kehidupan mulai menuliskan kisahnya. Sedikit demi sedikit Pangeran Suryomentaram mulai merasakan sesuatu yang kurang dalam hatiya. Setiap waktu ia hanya bertemu dengan yang disembah, yang diperintah, yang dimarahi, yang dimintai. Dia tidak puas karena merasa belum pernah bertemu orang. Yang ditemuinya hanya sembah, perintah, marah, minta, tetapi tidak pernah bertemu orang. Ia merasa masygul dan kecewa sekalipun ia adalah seorang pangeran yang kaya dan berkuasa.

KABUR

Dalam kegelisahannya, pada suatu ketika Pangeran Suryomentaram merasa menemukan jawaban bahwa yang menyebabkan ia tidak pernah bertemu orang, adalah karena hidupnya terkurung dalam lingkungan kraton, tidak mengetahui keadaan di luar. Hidupnya menjadi sangat tertekan, ia merasa tidak betah lagi tinggal dalam lingkungan kraton. Penderitaannya semakin mendalam dengan kejadian-kejadian berturutan yang menderanya, yaitu:

1. Patih Danurejo VI, kakek yang memanjakannya, diberhentikan dari jabatan patih dan tidak lama kemudian meninggal dunia.
2. Ibunya dicerai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan dikeluarkan dari kraton, kemudian diserahkan kepada dirinya.
3. Istri yang dicintainya meninggal dunia dan meninggalkan putra yang baru berusia 40 hari.

Rasa tidak puas dan tidak betah makin menjadi-jadi sampai pada puncaknya, ia mengajukan permohonan kepada ayahanda, Sri Sultan Hamengku Buwono VII, untuk berhenti sebagai pangeran, tetapi permohonan tersebut tidak dikabulkan. Pada kesempatan lain ia mengajukan permohonan untuk naik haji ke Mekah, namun ini pun tidak dikabulkan. Karena sudah tidak tahan lagi, diam-diam ia meninggalkan kraton dan pergi ke Cilacap menjadi pedagang kain batik dan setagen (ikat pinggang). Di sana ia mengganti namanya menjadi Notodongso.

Ketika berita perginya Pangeran Suryomentaram ini didengar oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII, maka Sultan memerintahkan KRT Wiryodirjo (Bupati Kota) dan R.L. Mangkudigdoyo, untuk mencari Pangeran Suryomentaram dan memanggil kembali ke Yogyakarta. Setelah mencari-cari sekian lama, akhirnya ia ditemukan di Kroya (Banyumas) sedang memborong mengerjakan sumur.

PULANG

Pangeran Suryomentaram kembali ke Yogyakarta meskipun sudah terlanjur membeli tanah. Mulai lagi kehidupan yang membosankan, setiap saat ia selalu mencari-cari penyebab kekecewaan batinnya. Ketika ia mengira bahwa selain kedudukan sebagai pangeran, penyebab rasa kecewa dan tidak puas itu adalah harta benda, maka seluruh isi rumah dilelang. Mobil dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada sopirnya, kuda dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada gamelnya (perawat kuda), pakaian-pakaiannya dibagi-bagikan kepada para pembantunya.

Upayanya itu ternyata tidak juga menghasilkan jawaban atas kegelisahannya, ia tetap merasa tidak puas, ia merindukan dapat bertemu orang. Hari-hari selanjutnya diisi dengan keluyuran, bertirakat ke tempat-tempat yang dianggap keramat seperti Luar Batang, Lawet, Guwa Langse, Guwa Cermin, Kadilangu dan lain-lain. Namun rasa tidak puas itu tidak hilang juga. Ia makin rajin mengerjakan shalat dan mengaji, tiap ada guru atau kiai yang terkenal pandai, didatangi untuk belajar ilmunya. Tetap saja rasa tidak puas itu menggerogoti batinnya. Kemudian dipelajarinya agama Kristen dan theosofi, ini pun tidak dapat menghilangkan rasa tidak puasnya.

BEBAS

Pada tahun 1921 ketika Pangeran Suryomentaram berusia 29 tahun, Sri Sultan Hamengku Buwono VII mangkat. Dia ikut mengantarkan jenazah ayahandanya ke makam Imogiri dengan mengenakan pakaian yang lain daripada yang lain. Para Pangeran mengenakan pakaian kebesaran kepangeranan, para abdi dalem mengenakan pakaian kebesarannya sesuai dengan pangkatnya, Pangeran Suryomentaram memikul jenazah sampai ke makam Imogiri sambil mengenakan pakaian kebesarannya sendiri yaitu ikat kepala corak Begelen, kain juga corak Begelen, jas tutup berwarna putih yang punggungnya ditambal dengan kain bekas berwarna biru sambil mengempit payung Cina.

Dalam perjalanan pulang ia berhenti di Pos Barongan membeli nasi pecel yang dipincuk dengan daun pisang, dimakannya sambil duduk di lantai disertai minum segelas cao. Para pangeran, pembesar, maupun abdi dalem yang lewat tidak berani mendekat karena takut atau malu, mereka mengira Pangeran Suryomentaram telah menderita sakit jiwa, namun ada pula yang menganggapnya seorang wali. Setelah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dinobatkan sebagai raja, Pangeran Suryomentaram sekali lagi mengajukan permohonan berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran, dan kali ini dikabulkan.

Pemerintah Hindia Belanda memberikan uang pensiun sebesar f 333,50 per bulan, tetapi ditolaknya dengan alasan ia tidak merasa berjasa kepada pemerintah Hindia Belanda dan tidak mau terikat pada pemerintah Hindia Belanda. Kemudian Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memberikan uang f 75 per bulan hanya sebagai tanda masih keluarga kraton. Pemberian ini diterimanya dengan senang hati. Setelah berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran ia merasa lebih bebas, tidak terikat lagi. Namun segera ia menyadari bahwa ia masih tetap merasa tidak puas, ia masih belum juga bertemu orang.

Suryomentaram yang bukan pangeran lagi itu kemudian membeli sebidang tanah di desa Bringin, sebuah desa kecil di sebelah utara Salatiga. Di sana ia tinggal dan hidup sebagai petani. Sejak itu ia lebih dikenal dengan nama Ki Gede Suryomentaram atau Ki Gede Bringin. Banyak orang yang menganggap ia seorang dukun, dan banyak pula yang datang berdukun.

PERJUANGAN MORAL

Meskipun Ki Gede Suryomentaram sudah tinggal di Bringin, tetapi ia masih sering ke Yogya. Di Yogya ia masih mempunyai rumah.
Waktu itu Perang Dunia I baru selesai. Ki Gede Suryomentaram dan Ki Hadjar Dewantara beserta beberapa orang mengadakan sarasehan setiap malam Selasa Kliwon dan dikenal dengan nama Sarasehan Selasa Kliwon. Yang hadir dalam Sarasehan Selasa Kliwon itu ada 9 orang, yaitu:

1. Ki Gede Suryomentaram,
2. Ki Hadjar Dewantara,
3. Ki Sutopo Wonoboyo,
4. Ki Pronowidigdo,
5. Ki Prawirowiworo,
6. BRM Subono (adik Ki Gede Suryomentaram),
7. Ki Suryodirjo,
8. Ki Sutatmo, dan
9. Ki Suryoputro.

Masalah yang dibicarakan dalam sarasehan itu adalah keadaan sosial-politik di Indonesia. Kala itu sebagai akibat dari Perang Dunia I yang baru saja selesai, negara-negara Eropa, baik yang kalah perang maupun yang menang perang, termasuk Negeri Belanda, mengalami krisis ekonomi dan militer. Saat-saat seperti itu dirasa merupakan saat yang sangat baik bagi Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda.
Pada awalnya muncul gagasan untuk mengadakan gerakan fisik melawan Belanda, tetapi setelah dibahas dengan seksama dalam sarasehan, disimpulkan bahwa hal itu belum mungkin dilaksanakan karena ternyata Belanda masih cukup kuat, sedangkan kita sendiri tidak mempunyai kekuatan. Kalau kita bergerak tentu akan segera dapat ditumpas.

Sekalipun gagasan perlawanan fisik tersebut tidak dapat terwujud, namun semangat perlawanan dan keinginan merdeka tetap menggelora. Dalam sarasehan bersama setiap Selasa Kliwon itu akhirnya disepakati untuk membuat suatu gerakan moral dengan tujuan memberikan landasan dan menanamkan semangat kebangsaan pada para pemuda melalui suatu pendidikan kebangsaan. Pada tahun 1922 didirikanlah pendidikan kebangsaan dengan nama Taman Siswa. Ki Hadjar Dewantara dipilih menjadi pimpinannya, Ki Gede Suryomentaram diberi tugas mendidik orang-orang tua.
Dalam Sarasehan Selasa Kliwon inilah, sebutan Ki Gede Suryomentaram dirubah oleh Ki Hadjar Dewantara menjadi Ki Ageng Suryomentaram.

PENCERAHAN

Setelah menduda lebih kurang 10 tahun, pada tahun 1925 Ki Ageng kawin lagi, kemudian beserta keluarga pindah ke Bringin. Rumahnya yang di Yogya digunakan untuk asrama dan sekolah Taman Siswa.

Pada suatu malam di tahun 1927, Ki Ageng membangunkan isterinya, Nyi Ageng Suryomentaram, yang sedang lelap tidur, dan dengan serta merta ia berkata, "Bu, sudah ketemu yang kucari. Aku tidak bisa mati!" Sebelum Nyi Ageng sempat bertanya, Ki Ageng melanjutkan, "Ternyata yang merasa belum pernah bertemu orang, yang merasa kecewa dan tidak puas selama ini, adalah orang juga, wujudnya adalah si Suryomentaram. Diperintah kecewa, dimarahi kecewa, disembah kecewa, dimintai berkah kecewa, dianggap dukun kecewa, dianggap sakit ingatan kecewa, jadi pangeran kecewa, menjadi pedagang kecewa, menjadi petani kecewa, itulah orang yang namanya Suryomentaram, tukang kecewa, tukang tidak puas, tukang tidak kerasan, tukang bingung. Sekarang sudah ketahuan. Aku sudah dapat dan selalu bertemu orang, namanya adalah si Suryomentaram, lalu mau apa lagi? Sekarang tinggal diawasi dan dijajagi."

Sejak itu Ki Ageng kerjanya keluyuran, tetapi bukan untuk bertirakat seperti dulu, melainkan untuk menjajagi rasanya sendiri. Ia mendatangi teman-temannya untuk mengutarakan hasilnya bertemu orang - bertemu diri sendiri. Mereka pun kemudian juga merasa bertemu orang - bertemu diri sendiri masing-masing. Setiap kali bertemu orang (diri sendiri) timbul rasa senang. Rasa senang tersebut dinamakan "rasa bahagia", bahagia yang bebas tidak tergantung pada tempat, waktu, dan keadaan. Pada tahun 1928 semua hasil "mengawasi dan menjajagi rasa diri sendiri" itu ditulis dalam bentuk tembang (puisi), kemudian dijadikan buku dengan judul "Uran-uran Beja".

Kisah-kisah tentang laku Ki Ageng yang menjajagi rasa diri sendiri tersebut ada banyak sekali, di antaranya sebagai berikut.

Suatu hari Ki Ageng akan pergi ke Parang Tritis yang terletak di pantai selatan Yogyakarta. Sesampainya di Kali Opak perjalanannya terhalang banjir besar. Para tukang perahu sudah memperingatkan Ki Ageng agar tidak menyeberang, tetapi karena merasa pandai berenang, Ki Ageng nekad menceburkan diri ke dalam sungai. Akhirnya ia megap-megap hampir tenggelam dan kemudian ditolong oleh para tukang perahu.

Setelah pulang ia berkata kepada Ki Prawirowiworo sebagai berikut, "Aku mendapat pengalaman. Pada waktu aku akan terjun ke dalam sungai, tidak ada rasa takut sama sekali. Sampai gelagapan pun rasa takut itu tetap tidak ada. Bahkan aku dapat melihat si Suryomentaram yang megap-megap hampir tenggelam." Ki Prawirowiworo menjawab, "Tidak takut apa-apa itu memang benar, sebab Ki Ageng adalah orang yang putus asa. Orang yang putus asa itu biasanya nekad ingin mati saja." Ki Ageng menjawab, "Kau benar. Rupanya si Suryomentaram yang putus asa karena ditinggal mati kakek yang menyayanginya, dan istri yang dicintainya, nekad ingin bunuh diri. Tetapi pada pengalaman ini ada yang baik sekali, pada waktu kejadian tenggelam megap-megap, ada rasa yang tidak ikut megap-megap, tetapi malah dapat melihat si Suryomentaram yang megap-megap gelagapan itu."

PEMBENTUKAN PETA
(Prajurit: Pembela Tanah Air)

Belanda mencurigai gerak-gerik Ki Ageng. Maka setiap ia mengadakan ceramah ataupun pertemuan-pertemuan selalu ada PID (Politzeke Inlichtingen Dienst) atau reserse yang ikut hadir. Sekitar tahun 1926, ketika aksi bangsa kita menentang bangsa Belanda semakin marak, banyak perintis kemerdekaan yang ditangkap dan dibuang ke Digul dengan tuduhan sebagai agen atau anggota komunis. Suatu ketika Ki Ageng bepergian dari Bringin ke Yogya, sesampainya di desa Gondangwinangun ia ditahan oleh polisi kemudian dibawa ke Yogya dan dimasukkan ke dalam sel tahanan. Setelah ditanggung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, Ki Ageng kemudian dibebaskan.

Pada pertemuan-pertemuan "Manggala Tiga Belas" persoalan-persoalan yang dibicarakan berkisar pada bagaimana cara menolak peperangan bila Indonesia menjadi gelanggang perang antara Belanda dan Jepang. Ki Ageng mengemukakan bahwa bangsa Indonesia dalam peperangan itu mempunyai tiga pilihan, ialah:

1. Membela majikan lama yaitu Belanda.
2. Ganti majikan baru yaitu Jepang.
3. Menjadi majikan sendiri yaitu merdeka.

Perang itu sendiri bukanlah persoalan kita melainkan persoalan pihak Belanda dan Jepang. Permasalahan kita ialah, kita ini tinggal di negeri sendiri, tetapi negeri kita ini dipakai untuk gelanggang perang. Kalau kita mau pergi, mau pergi ke mana?. Kalau kita tinggalkan tentu akan diambil oleh orang lain.

Pertemuan "Manggala Tiga Belas" yang pertama diadakan di pendapa Taman Siswa, dan yang kedua diadakan di rumah Pangeran Suryodiningrat. Pertemuan tersebut baru sempat diadakan dua kali ketika Jepang sudah keburu mendarat di Jawa.

Pada waktu pendudukan Jepang, Ki Ageng berusaha keras untuk membentuk tentara, karena ia berkeyakinan bahwa tentara adalah tulang punggung negara. Hal ini dikemukakan Ki Ageng dalam pertemuannya dengan Empat Serangkai (Bung Karno, Bung Hatta, Kiai Haji Mas Mansoer, Ki Hadjar Dewantara).

Ki Ageng juga menyusun suatu tulisan tentang dasar-dasar ketentaraan yang diberinya nama "Jimat Perang", yaitu pandai perang dan berani mati dalam perang. Jimat Perang ini diceramahkan oleh Ki Ageng ke mana-mana. Pada suatu kesempatan bertemu Bung Karno, Ki Ageng memberikan Jimat Perang ini, yang kemudian dipopulerkan oleh Bung Karno dalam pidato-pidatonya di radio. Maka Jimat Perang ini segera tersebar luas di kalangan masyarakat sehingga membangkitkan semangat berani mati dan berani perang.

Dalam usaha mewujudkan gagasannya, Ki Ageng mengajukan permohonan kepada gubernur Yogya yang pada waktu itu dijabat oleh Kolonel Yamauchi, untuk membentuk tentara sukarela, akan tetapi permohonan tersebut ditolak. Kemudian seorang anggota dinas rahasia Jepang yang bernama Asano menyanggupi akan membawa permohonan itu langsung ke Tokyo.

Untuk membuat surat permohonan tersebut Ki Ageng membentuk panitia 9 yang disebut "Manggala Sembilan", masing-masing adalah:

1. Ki Suwarjono
2. Ki Sakirdanarli
3. Ki Atmosutidjo
4. Ki Pronowidigdo
5. Ki Prawirowiworo
6. Ki Darmosugito
7. Ki Asrar
8. Ki Atmokusumo
9. Ki Ageng Suryomentaram

Setelah ditandatangani dengan darah masing-masing oleh kesembilan orang di atas, surat tersebut diserahkan kepada Asano yang membawanya sendiri langsung ke Tokyo. Permohonan ini tidak diketahui oleh pemerintah Jepang di Indonesia. Tidak lama kemudian diterima berita bahwa permohonan tersebut dikabulkan. Maka pemerintah Jepang yang ada di Indonesia terkejut, tetapi karena itu adalah izin langsung dari Tokyo maka Tentara Sukarela tetap harus dibentuk.

Kemudian Ki Ageng mengadakan pendaftaran. Maka berduyun-duyunlah yang mendaftarkan diri. Akhirnya pendaftaran diambil alih oleh pemerintah dan nama Tentara Sukarela diubah menjadi Tentara Pembela Tanah Air, disingkat PETA. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, tentara PETA inilah yang merupakan modal kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan dan selanjutnya menjadi inti Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada waktu perang kemerdekaan, Ki Ageng memimpin pasukan gerilya yang disebut Pasukan Jelata, daerah operasinya di sekitar Wonosegoro. Setelah ibu kota RI Yogyakarta diduduki Belanda, Ki Ageng bersama keluarga meninggalkan kota, mengungsi ke daerah Gunung Kidul. Di tempat pengungsian ini Ki Ageng masih selalu berhubungan dengan tentara gerilya.

PENUTUP

Setelah penyerahan kedaulatan, Ki Ageng mulai lagi mengadakan ceramah-ceramah Kawruh Beja (Kawruh Jiwa) ke mana-mana, ikut aktif mengisi kemerdekaan dengan pembangunan jiwa berupa ceramah-ceramah pembangunan jiwa warga negara. Pada tahun 1957 pernah diundang oleh Bung Karno ke Istana Merdeka untuk dimintai wawasan tentang berbagai macam masalah negara. Ki Ageng tetap mengenakan pakaian yang biasa dipakainya sehari-hari.

Kurang lebih 40 tahun Ki Ageng menyelidiki alam kejiwaan dengan menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan.

Pada suatu hari ketika sedang mengadakan ceramah di desa Sajen, di daerah Salatiga, Ki Ageng jatuh sakit dan dibawa pulang ke Yogya, dirawat di rumah sakit. Sewaktu di rumah sakit itu, Ki Ageng masih sempat menemukan kawruh yaitu bahwa "puncak belajar kawruh jiwa ialah mengetahui gagasannya sendiri".

Ki Ageng dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu, namun karena sakitnya tidak kunjung berkurang, kemudian ia dibawa pulang ke rumah. Sakitnya makin lama makin parah, dan pada hari Minggu Pon tanggal 18 Maret 1962 jam 16.45, dalam usia 70 tahun, Ki Ageng tutup usia di rumahnya di Jln. Rotowijayan no. 22 Yogyakarta dan dimakamkan di makam keluarga di desa Kanggotan, sebelah selatan kota Yogyakarta.

Ki Ageng Suryomentaram meninggalkan seorang istri, dua orang putra, dan empat orang putri. Seorang putra telah meninggal. Mereka adalah:

1. RMF Pannie
2. RM Jegot (meninggal)
3. RM Grangsang
4. RA Japrut
5. RA Dlureg
6. RA Gresah
7. RA Semplah

Ki Ageng Suryomentaram juga meninggalkan warisan yang sangat berharga yaitu KAWRUH PANGAWIKAN PRIBADI atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan KAWRUH JIWA bagi kita semua yang bersedia melepaskan segala atribut keangkuhan kita, bagi kita yang bersedia menjadi manusia sederhana dan rendah hati, yang mendambakan masyarakat Indonesia damai sejahtera.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Sesorah Junggring Salaka II

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Bageyan I

UNGKUL

A.

Ungkul punika gegayuhaning raos meri pambegan. Awit saking sumerep beda-bedaning kawontenan, tiyang lajeng gadhah kayakinan, yen bedaning beja cilakaning tiyang punika miturut bedaning kawontenan; upaminipun: Tiyang sugih langkung beja tinimbang tiyang mlarat; liripun langkung kathah bingahipun. Kayakinan makaten wau mahanani gegayuhan pados ngungkuli.

1. Raosing ungkul punika kemrungsung: anggenipun pados semat, drajat, lan kramat sarwa ngaya-aya, kemrungsung. Upami dipun ucapna makaten, "Ayo golek dhuwit sing akeh, supaya sugih kaya kae, aja nganti mlarat kaya kae; dadi banjur bisa ngece kae, aja nganti diece kae. Golek drajat jing luhur, supaya ngungkuli kae, aja nganti kungkulan kae. Golek kramat jing akeh, jing gedhe-gedhe, supaya kuwasa kaya kae, aja nganti sekeng kaya kae, dadi banjur bisa ngekul kae, aja nganti diekul kae." Raos kemrungsung makaten punika menggah kaucapna, "Nek ora ngono angur matia", jalaran yakin, yen boten angsal gegayuhanipun badhe cilaka, wirang sajege. Kemrungsung punika, yen kapagol lajeng semplah. Keyakinan makaten punika murugaken ruwet dhateng pikiran sarta peteng dhateng paningal. Ningali sadaya lelampahan kuwolak-kuwalik, boten leres. Contonipun: Upaminipun tiyang kapengin gadhah pit: kayakinanipun yen saged kalampahan badhe beja, jalaran lajeng ngungkuli si Anu, boten kaungkulan si Anu, saben kapethuk tiyang numpak pit tamtu trataban, saya yen ingkang numpak tangganipun ingkang dipun sengiti ingkang badhe dipun ece, inggih lajeng ngungkeb-ungkeb, anggresah tur moyok-moyoki. Paningal kados makaten punika kuwolak-kuwalik. Dene sumerep tiyang numpak pit, teka lajeng ngungkeb-ungkeb; punapa tiyang numpak pit murugaken ngungkeb-ungkeb, rak terang yen boten? Nanging, saben ungkul tamtu makaten.

2. Ungkul, punika dhateng sadaya tindak sarwa ngaya-aya. Yen wonten salah satunggaling tindak ingkang badhe dipun lampahi, mangka kuwatos yen kaungkulan, lan ngaya sanget pados ngungkuli, asring boten saged tilem. Upaminipun tiyang gadhah damel mantu, kirang tigang wulan sampun dipun rancang makaten, "Jing disuruhi kae, suguhane ngene, tontonane ngene, tarube ngene," sapiturutipun. Ngene-ngene sadaya wau pokokipun makaten, karo kae aja nganti kalah, menanga karo kae.
Pangaya-aya sadaya punika murugaken gugon-tuhon. Gugon-tuhon, punika nyambetaken sebab kaliyan kadadosan ingkang boten sambet, lajeng nglampahi lan nyirik ingkang aneh-aneh, kadosta: Tirakat supados sugih; mawi susuk supados dipun kedani; ngandhut jimat supados atos boten tedhas dipun suduk; muja semedi supados sampurna; ngrogoh sukma supados wicaksana lan nyirik nedha supados kuwasa. Nyirik cumbana supados wiyana; Nyirik ngambah siti supados suci, sarta lampah nyajeni wilujengan lan panuwun-panuwun sapanunggilanipun.

B.

Gegayuhan pados ngungkuli, punika tumanduk dhateng samukawis; kadosta: Wonten ing panggesangan, laki-rabi, anak-anak lan sapanunggilanipun.
Panggesangan, punika wujud pangupajiwa lan sesrawungan, Wonten ing pangupajiwa, anggenipun pados semat, drajat, kramat, pados ngungkuli. Wonten ing sesrawungan, pados ngungkuli anggenipun dipun kasihi, inggih punika raos butarepan.

1. Kamajenganing ungkul wonten ing panggesangan, ngantos dumugi sugih dhewe, mulya dhewe, kuwasa dhewe, sampun ngantos wonten ingkang ngungkuli. Yen wonten ing sesrawungan, dumugi dikasihi dhewe, sampun ngantos wonten ingkang ngungkuli; setiyaripun malah asring dipun sengit-sengitaken dhateng donya, jalaran wonten ing jaman ungkul, sengit donya punika dipun anggep wali utawi tiyang linangkung. Setiyaring butarepan punika dados pados utami; inggih punika remen tulung, cegah nyerikaken manah, ungel-ungelanipun tepa salira, kadadosanipun lajeng ngugung tiyang.

2. Ungkul wonten ing panggesangan punika wohipun mlarat, asor, sekeng lan nistha. Saben wonten tiyang sugih lan utama lajeng kemropok; lajeng ngangkah supados tiyang liya mlarat lan nistha; mangka tiyang sanes inggih pados mlarat lan nisthaning tiyang sanes, dados ing jaman ungkul punika tiyang pinten-pinten ewu sami pados mlarat lan nisthaning liyan. Mila lajeng mlarat sadaya, nistha sadaya utawi mlarat lan nistha sesarengan.

C.

Kawontenan raosing manahipun tiyang kathah makaten wau, mahanani cecongkrahan umum, jalaran gegayuhaning tiyang lajeng sami rebatan donya utawi rebatan sengit donya sarta rebatan utami. Ing mangka sugihipun awakipun piyambak punika, tegesipun mlarating liyan; utaminipun piyambak, nisthaning liyan.

1. Mila pados sugih lan utami, punika yen boten angsal-angsal lajeng kaken manahipun, lajeng njujug pados mlarat lan nisthaning liyan. Awit sugih lan utaminipun piyambak, punika mlarat lan nisthaning liyan. Ungkul, punika undhak-undhakanipun makaten: "Yen kawon pados sami, yen sami pados menang, yen menang lestantuna."

2. Ungkul, punika nular; awit yen badhe ngungkuli satunggiling tiyang, mangka rumaos kuwalahan, tamtu ajak-ajak tiyang sanes dipun ajak ngungkuli sesarengan. Ingkang kaungkulan, yen rumaos kuwalahan inggih ugi lajeng ajak-ajak tiyang sanes. Mila ing jaman ungkul, gegayuhaning tiyang sami ungkul-ungkulan sesarengan, lajeng cilaka sesarengan.



Bageyan II

CILAKA SESARENGAN

A.

Cilaka sesarengan, punika mlarat lan congkrah sesarengan; liripun mlarat sarwa kirang, awit kabutuhan ingkang pokok dipun kawonaken kaliyan kabutuhan ungkul. Liring congkrah sesarengan, saben tiyang dipun anggep mengsahipun jorjoran.

1. Wonten ing gesang jorjoran, ingkang dhawah menang lajeng ngece, gadhah raos makaten: "Galo, si Anu kae rak cilaka, jeneh ora kaya aku." Ingkang dhawah kawon lajeng kemropok utawi ngingkit-ingkit; malah mungel makaten, "Jing momong mangsa trimaa." Raos ngingkit-ingkit wau asring awet, dipun ngengehaken dumugi benjing bakda pejah. Ungelipun makaten, "Ora bisa saiki iya besuk, nek wis aneng ngakerat, nek aku katrima, si Anu mesthi tak ece sabujade; mula saiki diepeng bae anggone golek katrima." Yen pitados dhateng panitisan, inggih lajeng nyrempeng anggenipun sinau nitis, sampun ngantos klintu, sageda ngece dhateng mengsahipun sapunika; mila lajeng banter sesirik sarta sregep manekung. Wonten ing jaman ungkul, kabingahaning tiyang, kasusahaning tangganipun; kasusahaning tiyang, kabingahaning tangganipun.

2. Jaman makaten wau, satunggal lan satunggalipun boten pitados, tansah sami butarep-binutarepan, saben tiyang madosi karingkihaning liyan, yen kacepeng lajeng kangge garan anencang, supados gumantunga dhateng awakipun, yen katilar lajeng cotho. Mila tiyang lajeng sami pancing-pinancing amrih kareming liyan. Pancing-pinancing wau, ingkang katingal wonten ing bebojoan; ingkang jaler sumbar makaten, "Wong wadon, janji wis tak tukokake suweng, tur blangkonku ajeg mlipit, esuk sore dak angsokake, mangsa bisaa uwal saka aku; wong lanang ngendi jing bisa kaya aku." Dene ingkang estri sumbar makaten: "Wong lanang, janji tak sambelake, tur pupuranku ora kendhat, mangsa bisaa megat aku, gene kok ana, ayo ngendi ana wong wadon jing kaya aku." Kados makaten kaliyan anak, sadherek, mitra tuwin tangga inggih pancing-pancingan; mila lajeng jorjoran pados dipun betahi.

B.

Wonten ing jaman ungkul, guyubing tiyang, amung yen pinuju pados ngungkuli sesarengan. Tiyang sagriya, yen badhe ngungkuli griya sanes, katingal guyub lan tentrem. Dene yen kaplesed lajeng tutuh-tutuhan, yen kabul lajeng rebatan bageyan, sanajan bageyanipun namung alem. Kados makaten ugi tindaking golongan, praja, lan bangsa.

1. Wonten ing jaman ungkul, sadaya tindak kabrongot alem. Yen pados ngungkuli sesarengan, suhipun janji-janjian utawi sumpah-sumpahan, ing ngriku lajeng wonten tatanan awon-sae. Ingkang nyulayani janji: awon. Ingkang netepi: sae. Yen anggenipun netepi janji sarana rekaos, sangsaya angsal pangalembana, dipun wastani tiyang mantep lan temen, saya yen sarananipun toh nyawa, malah lajeng dipun candhi kangge pengetan, dipun wastani tiyang teguh ing budi. Mila ing jaman ungkul, tiyang sami nglempakaken babadipun tiyang ingkang sami linangkung sajagat, perlu kangge mbrongoti tiyang supados tiru, pamrihipun supados misuwur. Dene ingkang andhap asor, inggih namung ngalap berkah.

2. Sanajan sampun mawi sumpah-sumpahan, yen pados ngungkuli sesarengan taksih tansah sumelang, bok bilih dipun balenjani, mila tansah sami gentos ngulataken tujuning liyan utawi sepiyun-sepiyunan. Ing jaman ungkul, tiyang ingkang prigel ngulataken tujuning liyan, angsal pangalembana; dipun wastani tiyang wicaksana; malah wonten ungel-ungelanipun ingkang kaanggep mathis makaten: "Sapa weruh ing panuju, sasat sugih pagere wesi," kasebat ing kasusastran jaman ungkul.

C.

Ing jaman ungkul, panganggeping tiyang dhateng sanes, yen sanes rencang pados sesarengan ngungkuli, inggih mengsah, boten kenging tiyang boten tumut-tumut; janji aruh-aruhan kaliyan satrunipun, lajeng dipun mengsah, lan rencang dipun bombong-bombong utawi dipun brongot, alem, supados sengkut anggenipun ngrencangi pados ngungkuli, yen mengsah lajeng dipun githing, supados tobat utawi ering.

1. Githing-githingan lan ugung-ugungan, dados tata caraning ungkul. Panggithing wau tumanduk dhateng samukawis; ngantos dumugi babagan laki-rabi; malah wonten satunggaling golongan ingkang boten kenging besanan kaliyan golongan sanes. Ingkang netepi tata cara makaten ing jaman ungkul angsal pangalembana, dipun wastani satriya utama; jalaran kendel anggithing liyan, mila asring lajeng dipun ugung bineda samukawisipun.

2. Ing jaman ungkul, raosing gesang namung tansah kemrungsung, semplah, kemrungsung, semplah. Nalika pados ngungkuli utawi ajrih kungkulan, lajeng kemrungsung; nalika kapagol, Iajeng semplah. Ing ngriku tiyang boten mikir gesangipun, tansah katungkul anggenipun ungkul-ungkulan; ngantos katungkak wanen, ompong, kisut, kempot lajeng pejah.
Raos semplah, punika asring wujud nggresah, inggih punika nggresah anggenipun boten limrah tiyang. Wujudipun, yen kaleres dinten riyadi, limrahipun sami nyandhang enggal, lan ngungelaken mrecon; yen kaleres boten saged lajeng nggresah, kados makaten sasaminipun. Jebul boten limrah tiyang, punika ateges boten nate ngungkuli; mangka ing jaman ungkul, utamining tiyang punika yen ngungkuli.

Sirnaning ungkul, punika yen mangertos yen raosing gesang tiyang sajagat sami kemawon. Sirnaning ungkul mahanani tentrem, utawi beja; tegesipun punapa-punapa sakepenake, saperlune, sabutuhe, sacukupe, samesthine, sabenere. Lajeng saged sumerep dhateng gegayuhaning samukawis ingkang leres, kadosta: gegayuhaning tiyang nedha, leresipun rak namung pados eca tuwuk; dene yen ketempelan ungkul, gegayuhanipun boten leres. Conto malih gegayuhaning sandhang; ingkang leres rak namung pados patut. Ingkang mangka yen namung pados patut kemawon gampil sanget; jer saben sandhangan dipun angge tamtu patut. Upaminipun lare dipun sandhangi mawi slendhang, inggih patut, dipun anggeni blangkon, inggih lajeng gambela-gambelo patut. Yen lare sampun diwasa: jaka utawi prawan, mangangge sarwa mlipit, inggih patut lan sae, upami pating klomprot, inggih patut lan sae; la, tiyang saweg nedheng diwasa, sapangangge-sapanganggenipun tamtu katingal sae. Dene yen tiyang sepuh, manganggea mlipit utawi klomprat-klomprot, inggih patut tur awon, la, tiyang sampun sepuh, sapangangge-panganggenipun tamtu katingal awon.
Raos tentrem, punika nular, awit tiyang tentrem temtu sumeja damel tentrem dhateng liyan. Ing mangka ungkul inggih ugi nular. Tiyang ingkang katularan tentrem raosipun sakeca. Ingkang katularan ungkul lajeng kemrungsung boten sakeca. Raos sakeca, gadhah wateg, numanaken. Raos boten sakeca, gadhah wateg njimbitaken. Pangesuking raos tentrem temtu menang kaliyan ungkul. Mila raos tentrem tamtu saya ngreda panularipun. Pangredaning tentrem mahanani tentrem utawi beja sesarengan.



Bageyan III

BEJA SESARENGAN

A.

Beja sesarengan wonten ing panggesangan, wujudipun sugih sesarengan lan guyub. Sugih punika raos tirah. Ing mangka pangupajiwa, yen tanpa ungkul tamtu cekap. Saening pangupajiwa punika, saking pangudi indhaking pamedal lan sudaning kabutuhan. Yen namung ngudi indhaking pamedal thok, yen kaleksanan angsal-angsalanipun inggih namung yab-yaban. Yen namung ngudi sudaning kabutuhan, yen kaleksanan angsal-angsalanipun inggih namung saya ngendherek saya ngendherek ngantos dumugi dhayak-dhayakan. Sirnaning ungkul wonten ing sesrawungan, inggih punika sirnaning raos butarepan, mahanani raos guyub. Butarepan, punika pados dipun kasihi. Guyub pados ngasihi. Butarepan cilaka, awit gumantung ing liyan. Guyub beja, awit boten gumantung ing liyan, jalaran sumerep, yen sih punika tukipun awakipun piyambak. Dados raos guyub punika paningal ingkang sumerep ing liyan, liripun sumerep kabutuhaning liyan ingkang sayektos. Inggih punika sirnaning ungkul. Utawi tentrem.

1. Pangredaning raos tentrem, mahanani tentrem sesarengan. Sadaya lelawananing tiyang tentrem. Boten pancing-pancingan lan githing-githingan. Tiyang sade kaliyan tiyang tumbas, anak kaliyan tiyang sepuhipun, guru kaliyan murid lan lelawanan sanes-sanesipun tentrem, dipun wastani jaman Windu Kencana. Wonten ing jaman ungkul sadaya lelawanan sarwa butarepan. Tiyang sade, butarepan dhateng tiyang tumbas, ajrih bok bilih sumerep kilakanipun; tiyang tumbas, ajrih bok bilih kalorop. Pancen ing jaman ungkul tiyang sade lan tiyang tumbas, namung lorop-loropan. Guru tansah butarepan kaliyan murid, ajrih bok bilih muridipun ngungkuli kasagedanipun, lajeng boten gumantung dhateng guru. Mila tansah dipun ewed-ewed, utawi dipun antep. Murid butarepan dhateng guru, ajrih bok bilih kalorop wulanganipun dipun palencongaken utawi angsal guru ingkang boten mangertos dhateng kawruh ingkang dipun seja. Mila ing jaman ungkul, murid tansah prihatin pados guru ingkang sampurna. Malah kasebut wonten kasusastran jaman ungkul makaten: "Lamun sira anggeguru kaki, amiliha sujanma kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing kukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sukur antuk wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana." Kados makaten lelawanan sanes-sanesipun inggih ugi tansah butarepan. Wonten ing jaman Windu Kencana kosok wangsul, sadaya lelawanan tentrem. Tiyang sade namung lugu pados cekaping kabutuhanipun ingkang tumbas, tiyang tumbas nyekapi butuhipun ingkang sade. Guru namung pados wasising murid amrih madeg pribadi kawruhipun. Murid tumemen sinau. Ing jaman Windu Kencana, tiyang sami sumerep dhateng gegayuhan ingkang leres.

2. Wonten ing jaman Windu Kencana, sasampuning tuwuk wetengipun lan wetah sandhanganipun, tiyang sami seneng-seneng sesarengan. Barang ingkang dipun senengi inggih punika wujudipun: kagunan, kawruh, lan kasagedan. Princening kagunan lajeng dados kasusastran, gendhing, joged lan sanes-sanesipun ingkang mranani raos endah. Princening kawruh lajeng dados kawruh pikiran, barang adon-adon lan sanes-sanesipun ingkang mranani raos wasis. Princening kasagedan dados dedamelan warni-warni ingkang mranani raos gumun.

B.

Ing jaman Windu Kencana tindaking tiyang, sarwa beja sesarengan; tiyang sami saged angrewes dhateng kabutuhaning tiyang sadaya sawetah; mila makaten, jalaran kabutuhanipun piyambak-piyambak cekap; cekapipun amrih sirnaning ungkul. Ingkang makaten wau dipun wawas mawi paningal ungkul katingal nglengkara, utawi impen, sae-saenipun dipun wastani gegayuhan ingkang boten saged kalampahan. Ungkul anggenipun mawas makaten punika leres. Dene yektosipun jaman Windu Kencana punika wohing raos beja sesarengan. Kados dene jaman Windu Ungkul, wohing ungungkul-ungkulan sesarengan. Dados sarwa beja sesarengan punika wohing sarwa cekap lan seneng-seneng sesarengan.

1. Ing jaman Windu Kencana tiyang sami sumerep, yen prihatin (raosing ungkul) lan beja nular. Yen wonten tiyang prihatin lajeng konangan tangga-tangganipun, tumunten dipun jampeni, yen angel kapeksa dipun barak utawi awakipun piyambak ingkang mbarak. Mila tiyang sami sumerep, yen gadhah tanggelan dhateng tindaking liyan. Nularing raos sarwa beja boten kawon santer kaliyan ungkul, jalaran tangga-tangganipun tamtu sumerep yen sarwa sakeca, lajeng butuh tiru utawi pitaken sarta lelawanipun tamtu sakeca; yen sirna ungkulipun. Dene yen boten sirna inggih lestantun boten sakeca, jer raosing ungkul boten sakeca.

2. Ing jaman Windu Kencana tiyang boten mardika ngungkuli liyan; kados dene anggenipun boten mardika ngethok tanganipun piyambak. Ngethok tanganipun piyambak, tamtu kapagol ajrih sakit. Ngungkuli liyan kapagol rewes mardika; awit raos tentrem ngluwari rewes saking bebandan piyeng-piyeng; wasana tansah saged ngrewes raosing liyan utawi sawetah.

C.

Jaman Windu Kencana punika jaman nalika tiyang sami beja sesarengan; inggih punika idham-idhamaning tiyang sadaya sawetah. Nalika Windu Kencana dereng lair, ingkang dados suhing sawetah, sarana tiyang sami dipun iming-imingi sakeca utawi suwarga, utawi dipun ajrih-ajrihi paukuman utawi naraka. Wonten malih wohing pandamel yen gesang malih badhe katampi. Jaman Windu Kencana punika papanipun inggih jagat Windu Kencana, utawi jagat beja sesarengan.

1. Wujuding jagat beja, punika griya, kaperluan umum lan sesrawungan umum beja. Griya beja punika: nedha beja, nyandhang beja, mapan beja. Tiyang sami sumerep dhateng gegayuhaning tedha, sandhang, lan papan. Dados tetiga wau tamtu cekap. Kaperluan umum beja punika: bayen (anak-anak), biraen (tetes, tetak), panganten (laki-rabi), kepaten (pejah), beja. Tiyang sami sumerep dhateng gegayuhaning bayen, biraen, panganten, lan kepaten. Kaperluan sekawan rakawis wau tamtu cekap.

Wonten malih kabutuhan umum gangsal prakawis, inggih punika: Pakaryan, griya sakit, griya jempo, griya lola, lan sekolahan. Tiyang sami sumerep dhateng gegayuhan gangsal prakawis wau, mila tamtu cekap. Sesrawungan umum beja punika: dhukun beja, jeksa beja, guru beja, lan ratu beja. Dhukun beja pedamelanipun, anjagi sampun ngantos jagat beja katrajang penyakit ungkul ingkang ngrisak beja sesarengan. Jeksa beja, pandamelanipun anjagi sampun ngantos jagat beja katerak penyakit congkrah. Guru beja, pandamelanipun anjagi sampun ngantos jagat beja katerak kawruh jare-jarene, patut-patute, lan duga-duga, ingkang wohipun dados cecongkrahan kawruh. Ratu beja, pandamelanipun anjagi sampun ngantos ing jagat beja wonten lelawanan cilaka, inggih punika pancing-pancingan, githing-githingan, lorop-loropan lan sapanunggilanipun.

2. Ing jaman Windu Kencana tiyang damelipun namung seneng-seneng, nyambut damel, seneng-seneng, nyambut damel; katungkak ompong, wanen, kisut, kempot, lajeng pejah. Ing ngriku tiyang sami awet ayu lan bagus, boten kados tiyang wedalan Windu Ungkul: umur tigang dasa kemawon sampun pethot, kabekta saking kemrungsunging manah. Ing jaman Windu Kencana kekiyataning tiyang tumrap pandamelan wetah; boten kalong kangge ungkul-ungkulan; mila boten langka yen mahanani sugih raja brana sesarengan.

Yen sampun terang ing nginggil wau sadaya, sadherek-sadherek beja, tamtu lajeng ngesukaken raos beja sarana anggelar jagat beja.

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Sesorah Junggring Salaka I

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Bebuka


Junggring Salaka punika namaning gegrombolanipun tiyang beja, inggih punika pepanggihanipun tiyang-tiyang ingkang sami kraos beja, jalaran mangertos dhateng kawruh beja, perlu gineman rerembagan bab kawruh beja, dados Junggring Salaka punika dede paguron, mila boten wonten guru-murid. Ugi dede pakempalan, jalaran anggenipun sami pepanggihan punika wau boten wonten ingkang aken utawi menging, namung saking kraosipun piyambak, mangertosipun piyambak, anyekapaken butuhipun piyambak, inggih punika perlu namung ngrembag bab kawruh beja, tanpa ancas utawi tujuan punapa-punapa, mila boten wonten bestuur, lid, kontributie lan sapanunggalanipun ingkang dados praboting pakempalan.

Gegrombolan Junggring Salaka punika wontenipun namung tiyang-tiyang beja sami pepanggihan gineman maligi ngrembag bab kawruh beja dumugi saprincen-princenipun, sarana sami negesi sesarengan, wasana ngantos sami kraos lan mangertos sesarengan seneng, beja sesarengan.



Bageyan I

JUNGGRING SALAKA

A. Junggring Salaka

Junggring Salaka punika namanipun gegrombolanipun tiyang beja, inggih punika tiyang-tiyang ingkang sami nyinau kawruh beja dumugi mangertos lan kraos beja, sami papanggihan rerembagan, lajeng wujud tiyang kathah sami gegrombolan. Tiyang ingkang kraos beja, jalaran mangertos dhateng kawruh beja, lajeng kraos betah nandhes njembaraken lan nular- nularaken bejanipun, punika sampun wateging raos beja, boten kenging dipun ken utawi dipun penging. Dados tiyang-tiyang beja punika raosipun sami, kawruhipun sami, butuhipun inggih sami, mila lajeng sami pepanggihan rerembagan kaliyan kanca-kancanipun, perlu sami nyekapaken butuhipun inggih punika nandhes njembaraken lan nular-nularaken bejanipun sesarengan, lajeng wujud gegrombolan, mawi dipun tengeri nama Junggring Salaka, supados pilah boten carub kaliyan gegrombolan sanes-sanesipun. Mirid carios padhalangan Junggring Salaka punika kraton utawi kayanganipun Bathara Guru, inggih punika, papan pepanggihanipun para dewa lan dewi. Dene gegrombolan Junggring Salaka punika papan panggenanipun para kanca-kanca ingkang sami kraos beja, jalaran mangertos dhateng kawruh beja.

Mila para kanca-kanca beja wau, ugi kenging kawastanan dewa lan dewi. Kados makaten wau boten langka, awit dewa lan dewi ingkang kacariyos ing padhalangan punika, wujudipun warni-warni, wonten ingkang wujud kutu-kutu walang ataga kadosta: gajah, yuyu, sawer lan sanes-sanesipun. Dados para kanca beja punika, inggih ugi kenging kawastanan Dewa lan Dewi, sanajan awujud kutu-kutu walang ataga.

Dene anggenipun sami rerembagan para kanca beja wau, namung dhapur kandha lan taken. Ingkang dipun kandhakaken lan dipun takenaken boten liya namung bab kraosipun lan mangertosipun dhateng kawruh beja. Ingkang mangertos sami kandha, ingkang boten mangertos sami taken, lajeng sami negesi sesarengan, ngantos sami mangertos sesarengan beja sesarengan. Mila gegrombolan Junggring Salaka, punika dede paguron, dados boten wonten guru-murid. Inggih ugi dede pakempalan, dados boten wonten bestuur, lid, contributie, ancas (tujuan) lan sapanunggilanipun ingkang dados praboting pakempalan, inggih boten wonten. Wontenipun boten liya namung tiyang sami maligi ngrembag kawruh beja. Mila boten gumantung jaman, papan, cacah lan kawontenan. Wanci punapa kemawon, wonten ing pundi kemawon, tiyang kathah punapa sakedhik, mawi segahan punapa tanpa segahan, pokok uger ngrembag kawruh beja, inggih punika Junggring Salaka. Oados tumindakipun gegrombolan Junggring Salaka punika namung gampil-gampilan kemawon tur sapele, lha,tiyang namung ngrembag kawruh.

Kangge nggampilaken sesambetanipun kanca beja kaliyan kanca beja ing sanes panggenan, wonten kanca beja ingkang dados panitiya minangka adres, sarta sagah nyekapaken kabutuhaning Junggring Salaka ing panggenanipun piyambak-piyambak. Para kanca beja ingkang sami purun dados panitiya wau saking kraosipun piyambak, mangertosipun piyambak, weruhipun piyambak, yen anggenipun dados panitiya punika, perlu nyekapaken butuhipun piyambak, dados boten wonten ingkang aken utawi penging. Panitiyaning Junggring Salaka punika dipun wastani panitiya Windu Kencana. Mila dipun wastani panitiya Windu Kencana, jalaran wohing pepanggihan gegrombolan Junggring Salaka, punika mahanani gumelaring jagat beja, tegesipun tiyang-tiyang sami kraos beja sesarengan, mahanani kraos sugih lan guyub sesarengan, seneng-seneng sesarengan, inggih punika jaman Windu Kencana.

Gegrombolan-gegrombolan Junggring Salaka wau, dipun golong-golongaken. Pinten-pinten Junggring Salaka dhusun utawi kampung kadadosaken sagolongan nama Sub-Central; pinten- pinten Sub-Central kagolongaken dados satunggal nama Central; sadaya Central kadadosaken satunggal nama Central-Umum. Mila kadamel kados makaten, supados sadaya kanca beja anggenipun sami nyekapaken butuhipun nandhes njembaraken lan nular-nularaken bejanipun sageda sami, sesarengan kaliyan sadaya kancanipun ing panggenan pundi kemawon sawetah, awit sami kraos lan mangertos yen anggenipun sami nyekapaken butuhipun wau boten saged manjila ijen, jalaran sami kraos lan mangertos yen sadaya kanca beja, punika raosipun sami, kawruhipun sami, butuhipun inggih sami, inggih punika sami butuh nandhes njembaraken lan nular-nularaken bejanipun.

Wohing nandhes lan jembaring kawruh beja wau, princen-princenipun dados kawruh Junggring Salaka. Dene kawruh Junggring Salaka, punika wonten sekawan perangan:
1. Bab kawruh, princen-princenipun dados kawruh pikiran lan sapanunggilanipun.
2. Bab aku, princen-princenipun dados kawruh dhukun, jeksa, guru, ratu lan sapanunggilanipun.
3. Bab karep, princen-princenipun dados kawruh bab gesang lan panggesangan prabotipun tigang prakawis, inggih punika semat, drajat, kramat, lan sapanunggilanipun.
4. Bab jasad, princen-princenipun dados kawruh badan wadhag sarta barang adon-adon (barang dumadi) lan sapanunggilanipun.

Nandhes lan nJembaraken

Dene anggenipun nandhes lan njembaraken kawruh Junggring Salaka punika wau dipun sesorahaken, supados sageda kalampahan lan gampil. Mangka sesorah punika sami kaliyan kandha. Lo, rak gampil tumrapipun ingkang kandha boten murga, jalaran tiyang punika padintenanipun inggih kandha punapa-punapa. Tumrap ingkang dipun sesorahi, uger sampun kalampahan mirengaken, inggih sampun cekap, lo rak inggih gampil, jalaran tiyang punika padintenanipun inggih mirengaken punapa-punapa.
Kawruh Junggring Salaka wau, princen-princenipun boten saged rampung dipun sesorahaken sami sanalika, mila lajeng dipun kethok-kethok, dipun sambet-sambet, sakethok-kethokipun dipun wastani seri.

Nandhesing raos punika, dumugi kraos, mangertos, weruh karep punika dudu aku, ngantos saged kraos, mangertos dhateng weruh utawi aku sawateg-wategipun, lajeng jembar raosipun, tegesipun saged milah-milahaken sawarnining sadaya raos-raos, ingkang kraos wonten ing awakipun piyambak utawi tiyang. Ingkang pokok pilahing raos bungah susah kaliyan beja cilaka, inggih punika pilahing raos ingkang ngraosaken kaliyan raos ingkang dipun raosaken. Bungah punika jalaran karep kalampahan, susah punika jalaran karep boten kalampahan, dados bungah susah punika raosing karep.

Cilaka punika jalaran boten mangertos boten weruh dhateng raosing karep, tegesipun boten saged ngraosaken raosing karep, inggih punika boten madeg pribadi weruhipun utawi aku. Beja punika jalaran mangertos, weruh dhateng raosing karep, tegesipun saged ngraosaken raosing karep, inggih punika madeg pribadi weruhipun utawi aku. Dados aku punika, raos ingkang ngraosaken, karep punika inggih raos, raos ingkang dipun raosaken. Dene raos sakeca, boten sakeca (sakit) punika lairing raos bungah susah wonten ing raga (jasad), dados jasad punika boten kraos punapa-punapa.

Nandhesing kawruh, punika dumugi mangertos kados pundi caranipun mangertosaken dhateng tiyang liya, sagedipun tiyang wau mangertosaken kados dene awakipun piyambak anggenipun mangertos dhateng kawruh beja, lajeng jembar kawruhipun. Jembaring kawruh, punika dumugi kraos, mangertos, weruh dhateng karep lan jasad sawateg-wategipun, jalaran karep lan jasad punika ingkang dipun weruhi, mahanani babaring kawruh peprincenipun princen-princening kawruh Junggring Salaka, kadosta: Kawruh bab ungkul, Kawruh laki-rabi, Kawruh pangupajiwa lan sapanunggilanipun.

Raos Beja Lair

Yen kawruh beja punika sampun nandhes lan jembar kados makaten samesthinipun raos beja lajeng lair wonten saranduning tiyang, manawi boten lair wonten saranduning tiyang, punika dede samesthinipun, kados dene babal punika samesthinipun dados nangka, manawi lajeng bungker boten dados nangka, punika dede samesthinipun.

Dados nandhes lan jembaring kawruh beja, punika murugaken lairing raos beja wonten saranduning tiyang, jalaran saben weruh dhateng satunggaling babing tiyang, temtu lajeng negesi, upaminipun bab laki-rabi, raos beja lajeng lair wonten ing laki-rabi, lajeng laki-rabinipun beja. Kados makaten dhateng bab sanes-sanesipun, saben weruh lajeng negesi, raos beja lair, kadosta: wonten ing pangupajiwa, momong, tetanggan, bayen, biraen, penganten, kepaten lan sapanunggilanipun. Wasana tiyang lajeng sarwa beja.

B. Tindak Wohing Kawruh

Yen raos beja sampun lair wonten saranduning tiyang, lajeng sadaya tindaking tiyang wau miturut weruhipun. Mila pepanggihan Junggring Salaka, punika papan ginemanipun tiyang weruh sami weruh, perlu sami rerembagan, dede ginemanipun karep kaliyan karep, ingkang mawi pathokan, aja ngono, kudu ugono, mila wohing ginemanipun karep punika namung anggega utawi boten anggega. Yen anggega lajeng kemrungsung pados dipun gega sesarengan, yen boten anggega lajeng udur paben. Dene rerembaganipun tiyang weruh sami weruh, punika mawi pathokan weruhipun. Mangka weruhipun sami, ingkang dipun weruhi sami, dados cocok, mila lajeng saged negesi sesarengan ngantos sami mangertos sesarengan. Wohipun sami wening tentrem, seneng, beja sesarengan.

Rerembagan Luluh

Rerembaganipun tiyang beja sami beja, punika mawi pathokan weruhipun, mangka sami pitados dhateng weruhipun, mila temtu luluh inggih punika sirnaning raos aku-kowe, lajeng boten sangga runggi anjajagi raos rumaosing tiyang ingkang dipun luluhi. Mila yen Junggring Salaka punika katrajang karep, ingkang wategipun boten saged luluh, lajeng bibar, awit pathokaning karep, "aja ngono, dudu ngono", punika raosipun kemrungsung dheg-dhegan, buneg, yen ngrepda temtu dados udur paben, sanajan katingalipun taksih sami gineman jejagongan. Ewa dene sanajan sampun udur, yen saged kasawang dipun tuturi, temtu saged sirna lajeng tentrem malih.

Luluh Negesi

Yen rerembagan punika saged luluh, lajeng saged sesarengan negesi dhateng bab ingkang dipun rembag, raos beja lajeng lair wonten ing bab punika. Raosing teges punika seneng beja, mila ingkang sami pepanggihan wonten ing Junggring Salaka, punika sami seneng-seneng, beja.

C. Nular-nularaken Beja

Tiyang ingkang sampun kraos beja, jalaran mangertos kawruh beja, temtu lajeng kraos betah nular-nularaken bejanipun dhateng tiyang liya. Kados makaten punika sampun wategipun raos beja, boten kenging dipun ken utawi dipun penging, jalaran tiyang beja temtu kraos kogel, yen tiyang liya boten tumut ngraosaken beja. Kraos kogel kados makaten punika dipun wastani sih. Saben weruh tumanduk dhateng tiyang liya, tegesipun weruh dhateng raos rumaosing tiyang liya, lajeng sih, inggih punika thukul sihipun, raosipun "aku seneng yen wong liya uga beja," mila inggih lajeng nular-nularaken bejanipun.

Sarananipun Nular-nularaken Beja

Sarananipun nularaken beja punika kandha, inggih punika ngandhakaken kawruh beja. Anggenipun kandha wau sagedipun kacepeng perlunipun, yen ingkang kandha lan ingkang dipun kandhani luluh. Dene perlunipun anggenipun kandha wau, supados ingkang dipun kandhani saged mangertos lan kraos seneng, beja.

Kandha Luluh

Yen ingkang kandha lan ingkang dipun kandhani luluh, ingkang dipun kandhani temtu saged mangertos lan kraos, seneng beja. Sagedipun ingkang kandha lan ingkang dipun kandhani punika luluh, yen ingkang kandha mangertos dhateng pathokaning kandha. Yen ingkang kandha boten mangertos dhateng pathokaning kandha, temtu boten saged luluh kaliyan ingkang dipun kandhani, jalaran anggenipun kandha salah kedaden, boten butuh mangertosaken, nanging butuh dipun gega, lajeng dados nelukaken tiyang. Mangka dipun telukaken punika dede butuhing tiyang, wasana angsal-angsalanipun anggenipun nularaken beja malah dados paben, congkrah, cilaka. Mila yen badhe nularaken beja sarana kandha kawruh beja, perlu langkung rumiyin mangertos pathokaning kandha



Bageyan II

PATHOKANING KANDHA

A. Pathokaning Kandha

Pathokaning kandha punika weruh ingkang kandha punapa, ingkang dipun kandhani punapa, ingkang dipun kandhakaken punapa. Dene yen nular-nularaken beja, punika pathokanipun weruh, ingkang kandha tiyang, ingkang dipun kandhani tiyang, ingkang dipun kandhakaken tiyang. Mangka tiyang punika gadhah dhasar raos sami, mila ingkang kandha lan ingkang dipun kandhani saged luluh. Pathokaning kandha kados makaten punika, sakeclapan katingal sapele, boten perlu, nanging yen dipun tlesihaken, lajeng katingal yen mesthi makaten, jalaran yen boten makaten temtu salah kedaden, ingkang kandha ungkul, ingkang dipun kandhani ungkul, ingkang dipun kandhakaken ungkul-ungkulan, kadadosanipun paben, congkrah, cilaka.

Kandha Ungkul

Yen kaling-kalingan ungkul tiyang punika boten saged kandha, boten saged dipun kandhani, upami tiyang sugih kaliyan tiyang mlarat, ingkang katingal namung si sugih kaliyan si mlarat, sanes tiyang sami tiyang. Si sugih, namung murih angsal kauntungan saking si mlarat, si mlarat, namung tansah ngatingalaken mlaratipun, supados dipun tulungi si sugih. Kados makaten ugi jaka kaliyan prawan, ingkang katingal namung si jaka kaliyan si prawan, sanes tiyang sami tiyang. Si jaka, saweg gineman sakecap kemawon, anggenipun ambenakaken blangkon sampun kaping sawidak, dene si prawan, sasolahipun dipun anteng-antengaken utawi dipun rongeh-rongehaken, terkadhang saweg kapethuk kemawon sampun sami dene gemrobyos kringeten sadaya. La wali kaliyan bajingan punapa saged kandha? Inggih temtu boten, ingkang katingal namung si wali kaliyan si bajingan, sanes tiyang kaliyan tiyang. Si wali, saweg badhe gineman kemawon sampun katanggrok. "Yah! Bajingan ki dikandhani apa, dikandhanana becik-becik, mengko yen kelimpe ya banjur nyebrot." Dene si bajingan, saweg badhe kandha kemawon sampun katanggrok: "Yah! Wali ki dikandhani apa, dikandhanana becik-becik, mengko yen kledhok olehe kandha sathithik bae, ya banjur nyepatani." Kados makaten kuli kaliyan priyayi, anak kaliyan tiyang sepuh, inggih boten saged kandha, boten saged dipun kandhani.

Gegayuhaning Kandha Ungkul

Dados yen kaling-kalingan ungkul gegayuhaning kandha, punika namung ngupados menang, lajeng dados menang-menangan, ungkul-ungkulan. Angsal-angsalanipun paben, congkrah, cilaka. Mila boten kirang-kirang para kanca beja yen dereng mangertos dhateng pathokaning kandha, badhe nularaken beja malah dados paben.

B. Mesthining Kandha

Yen sampun mangertos dhateng pathokaning kandha, lajeng kraos, mangertos, weruh yen tiyang punika gadhah dhasar raos sami, inggih punika, sami kraos Aku, sami kraos Ana, sami kraos Weruh, sami kraos Pribadi, dados sami kraos Aku Ana Weruh Pribadi. Ingkang kandha temtu saged luluh kaliyan ingkang dipun kandhani, lajeng kraos, mangertos, weruh dhateng mesthining kandha, inggih punika Boten Andhaku Kawruh, jalaran sampun luluh dados sirna raos aku-kowe, kawruh medal saking sintena kemawon sami kaliyan kawruhipun piyambak.

Yen boten mangertos dhateng mesthining kandha, lajeng andhaku kawruh, murugaken wonten raos guru-murid, lajeng kawruh beja kangge nelukaken tiyang, ngongkak-angkek tiyang, lha, dados paben, congkrah, cilaka. Mila kandha nularaken beja punika perlu langkung rumiyin mangertos dhateng pathokaning kandha, mesthining kandha, ingkang murugaken saged luluh kaliyan ingkang dipun kandhani, supados anggenipun kandha nularaken beja saged katampi ingkang samesthinipun.

Gegayuhaning Kandha

Kandha nularaken beja, punika katampi ingkang samesthinipun yen ingkang dipun kandhani saged mangertos. Yen ingkang dipun kandhani namung anggega nanging boten mangertos, punika boten katampi ingkang samesthinipun. Dados gegayuhaning kandha nularaken beja punika Dipun Mangertosi.

Dene ingkang mepeti utawi ngalang-alangi kacepengipun gagayuhaning kandha punika raos ngaya-aya utawi piyeng-piyeng. Raos ngaya-aya utawi piyeng-piyeng wau saged wonten ingkang kandha, saged wonten ingkang dipun kandhani lan saged ugi sami dene piyeng-piyengipun. Contonipun: ingkang dipun kandhani saweg ngaya-aya dhateng semat. Sadangunipun mirengaken sesorah ingkang dipun rewes inggih namung punapa-punapa ingkang murugaken sugih, mangka kawruh beja punika boten murugaken sugih, sampun temtu boten dipun rewes, tegesipun boten dipun gatosaken, mesthi kemawon boten saged mangertos, lha,tiyang boten ngrewes. Dados gegayuhaning kandha boten saged kacepeng.

Yen raos ngaya-aya wau, wonten ingkang kandha, gegayuhanipun kaplesed, lajeng pados dipun gega boten pados dipun mangertosi. Saking kemrungsungipun pados dipun gega, anggenipun kandha mawi meden-medeni, ngiming-imingi lan pados pikekah-pikekah dhateng tiyang sanes ingkang misuwur utawi buku-buku ingkang misuwur, boten pados pikekah dhateng weruhipun ingkang dipun kandhani, kadadosanipun lajeng uwel-uwelan anggenipun kandha boten terang, murugaken boten saged dipun mangertosi. Tur yen kalampahan dipun gega ribed, jalaran ingkang samesthinipun dipun gega punika sanes kawruh, nanging aken-penging, mangka ngandhakaken kawruh beja punika boten aken boten penging, namung kandha. Lo, rak lajeng cengkah, ribed. Tiyang ingkang anggega punika namung badhe manut miturut, nanging boten mangertos. Mila gegayuhaning kandha inggih boten saged kacepeng. Dados raos ngaya -aya utawi piyeng-piyeng, punika dumunung wonten ing salah satunggal kemawon, gegayuhaning kandha boten saged kacepeng, saya yen ingkang kandha lan dipun kandhani sami dene piyeng-piyengipun gegayuhaning kandha mesthi boten saged kacepeng, jalaran sami dene kemrungsungipun, adhakanipun malah dados paben, congkrah, cilaka.

Reribeding Kandha

Yen sampun terang kados makaten, lajeng mangertos yen Raos ngaya-aya utawi piyeng-piyeng punika dados reribeding kandha, ingkang murugaken boten saged kacepeng gegayuhaning kandha. Mila yen badhe kandha nularaken beja, reribed wau dipun sirnakaken rumiyin. Yen ingkang kandha mangertos wonten piyeng-piyeng dumunung wonten awakipun piyambak, lajeng dipun sirnakaken langkung rumiyin, sarana mangertos yen piyeng-piyeng punika yen katurutan, boten murugaken beja bungah sajege, yen boten katurutan boten murugaken cilaka susah sajege. Dene yen piyeng-piyeng dumunung wonten ingkang dipun kandhani, inggih dipun sirnakaken langkung rumiyin, sarana dipun mangertosaken yen kawruh beja punika boten murugaken sugih, utawi angsal drajat kramat, paedahipun boten liya namung murugaken kraos beja, mangka piyeng-piyeng dhateng semat, drajat, kramat, punika yen katurutan boten murugaken beja bungah sajege, yen boten katurutan boten murugaken cilaka susah sajege. Sirnaning reribed lajeng saged ngrewes dhateng ingkang dipun kandhakaken. Yen boten makaten gagayuhaning kandha temtu boten saged kacepeng, paribasan: Lambe satumang kari samerang, boten wonten paedahipun. Yen reribeding kandha sampun sirna saking ingkang kandha lan ingkang dipun kandhani, temtu lajeng saged kacepeng gegayuhaning kandha, tegesipun punapa ingkang dipun kandhakaken saged dipun mangertosi dhateng ingkang dipun kandhani, wasana anggenipun kandha nularaken beja saged katampi ingkang samesthinipun.

C. Anggugah Weruh

Yen sampun mangertos terang dhateng gegayuhaning kandha, lajeng tetela yen kandha nularaken beja dhateng tiyang punika bakunipun boten liya namung anggugah weruhipun, supados madeg pribadi weruhipun, jalaran weruh punika ingkang tansah mangertos inggih punika mangertos sawetah, tegesipun yen awakipun piyambak punika mangertos, weruhipun inggih weruh, liripun mangertos yen awakipun piyambak punika mangertos. Yen awakipun piyambak punika boten mangertos, weruhipun inggih weruh, liripun mangertos yen awakipun piyambak punika boten mangertos. Yen sampun madeg pribadi weruhipun tiyang lajeng pitados dhateng weruhipun.

Yen tiyang boten madeg pribadi weruhipun, lajeng pitados dhateng ngira weruhipun, inggih lajeng pitados dhateng kawruh keyakinan, inggih punika: kawruh jare-jarene, patut-patute, lan duga-duga. Pitados dhateng ngira weruh punika ngantos kaplantrang dumugi ngira yen wonten mahaweruh. Mahaweruh punika wau saged ugi tiyang, dewa utawi sanes-sanesipun, ingkang weruh sadaya barang dumadi wonten ing papan pundi kemawon, lan weruh dhateng sadaya lelampahan ing jaman punapa kemawon, inggih punika rumiyin, samangke, benjing. Ngira weruh punika ugi tumanduk dhateng awakipun piyambak, inggih punika jare-jarene aku iki titah, patut-patute titah iku apes, ora bisa apa-apa, duga-duga prayogane nyanak-nyanak marang sing mahakuwasa, lajeng ngebuhaken dhateng ingkang dipun anggep mahakuwasa, lajeng awakipun piyambak dados tetanggelanipun ingkang mahakuwasa, wasana lajeng gumantung dhateng ingkang mahakuwasa, boten madeg pribadi sesamukawisipun. Kadadosanipun thik-thik nenuwun, sarana tirakat, nyenyirik, andedonga, muja semedi, wilujengan lan sanes-sanesipun.

Yen madeg pribadi weruhipun, lajeng saged weruh yen ingkang ngraosaken sakeca lan boten sakeca (sakit), bungah lan susah, beja lan cilaka punika awakipun piyambak, inggih lajeng weruh yen awakipun punika tetanggelanipun piyambak, wasana lajeng luwar saking ngebuhaken lan nenuwun-nenuwun. Lajeng tatag ngakeni punapa leresipun yen mangertos, tatag ngakeni mangertosipun, yen boten mangertos, inggih tatag ngakeni boten mangertosipun. Upami wonten tiyang criyos yen saged kapanggih kaliyan dewa utawi jim saged ngrogoh sukma lan saged dhateng kaelokan sanes-sanesipun, yen ingkang dipun criyosi boten madeg pribadi weruhipun, lajeng thukul ngaya-aya sumeja niru, lajeng memundhi lan nenuwun dhateng tiyang wau, ingkang adhakanipun lajeng dipun lukok-lukokaken. Yen madeg pribadi weruhipun, lajeng tatag ngakeni yen boten nate saged kapanggih dewa utawi jim, tatag ngakeni boten saged ngrogoh sukma lan tatag ngakeni boten mangertosipun dhateng kaelokan sanes-sanesipun, lajeng namung andherekaken wilujeng kemawon dhateng tiyang ingkang criyos saged kados makaten wau.

Yen tiyang boten madeg pribadi weruhipun, temtu boten weruh yen raos beja cilaka punika wonten awakipun piyambak, mila anggenipun pados beja mrika-mrika, lajeng ngaya-aya nggayuh semat, drajat, kramat, awit gadhah panginten yen saged kacepeng murugaken beja bungah sajege, angsal-angsalanipun malah cilaka, jalaran yen boten angsal, raosipun semplah, ngenes, kados pejah-pejaha, yen saged angsal, raosipun kemrungsung, lajeng jengkelitan ngaya-aya pados indakipun ingkang tanpa wates, tur kanthi dheg-dhegan, sumelang yen ingkang sampun kacepeng ical malih. Mila mbejakaken tiyang punika boten cekap yen namung dipun saranani semat, drajat, kramat. Yen madeg pribadi weruhipun, tiyang lajeng mangertos weruh yen beja cilaka punika boten dumunung wonten ngrika-ngrika tegesipun boten dumunung wonten ing barang lan lelampahan, sarta boten gumantung jaman, papan, lan kawontenan, nanging gumantung wonten ing weruhipun, yen weruh beja, yen boten weruh cilaka, lajeng anggenipun pados butuhing gesang lan panggesangan saprabotipun tigang prakawis, inggih punika semat, drajat, kramat, boten dados gegayuhan ingkang murugaken prihatin cilaka, jalaran mangertos weruh yen anggenipun tumandang punika perlu namung nyekapaken butuhipun, mangka angger sampun dipun lampahi, temtu kalampahan cekap, mila lajeng tumindakipun kaliyan tentrem, seneng, beja.

Caraning Kandha

Dados sampun tetela terang nularaken beja punika anggugah weruhipun ingkang dipun tulari supados madeg pribadi, sarana ngandhakaken kawruh beja ngantos saged katampi ingkang samesthinipun, inggih punika dipun mangertosi. Tiyang kandha punika sagedipun dipun mangertosi yen anggenipun kandha urut, jangkep, terang, gamblang lan cetha. Sagedipun kados makaten punika yen ingkang kandha wau mangertos dhateng caraning kandha. Yen sampun mangertos dhateng pathokaning kandha, temtu inggih lajeng mangertos dhateng caraning kandha, jalaran mangertos dhateng ingkang dipun kandhakaken punika punapa, inggih lajeng mangertos weruh dhateng ingkang dipun kandhakaken wau kados pundi, sarta inggih ugi mangertos weruh, lajeng angsal-angsalanipun wonten punapa. Dados caraning kandha ngandhakaken kawruh punika:
1. Nerang-nerangaken ingkang dipun kandhakaken punika Punapa, kalayan gamblang lan cetha.
2. Nerang-nerangaken ingkang dipun kandhakaken punika wau Kados pundi, kalayan gamblang lan cetha.
3. Nerang-nerangaken angsal-angsalanipun Wonten punapa, kalayan gamblang lan cetha.

Yen tiyang ngandhakaken kawruh boten mawi caraning kandha, temtu ruwet, boten terang, lajeng boten saged dipun mangertosi, contonipun: tiyang ngandhakaken bab ingkang mahakuwasa, ujug-ujug ngandhakaken sipat-sipatipun, lan pandamelanipun ingkang mahakuwasa ngantos panjang apunjung, nanging boten dipun kandhakaken langkung rumiyin ingkang mahakuwasa punika punapa kalayan gamblang lan cetha. Mangke yen dipun tlesihaken: ingkang mahakuwasa punika punapa? "La tiyang sampun jumeneng mahakuwasa, kok damel tiyang kemawon wonten ingkang katengkek-tengkek, sugih sambutan, tansah geringen saanak bojonipun, punika kuwasanipun wonten pundi?" Inggih lajeng ruwet, boten terang, boten saged dipun mangertosi. Mila tiyang ngandhakaken kawruh punika sagedipun dipun mangertosi yen anggenipun kandha mawi caraning kandha.

Wasis, Kendel, Sregep, Sugih

Yen kandha nularaken beja punika sampun mangertos dhateng pathokaning kandha, mesthining kandha, gegayuhaning kandha, reribeding kandha lan caraning kandha, temtu luluh kaliyan ingkang dipun kandhani, lajeng boten sangga runggi njajagi raos rumaosipun ingkang dipun luluhi, sirna raos aku-kowe, lajeng boten andhaku kawruh, sirna reribeding kandha lajeng ingkang kandha lan ingkang dipun kandhani sami weningipun anggenipun kandha saged urut, jangkep, terang gamblang lan cetha ngandhakaken kraosipun piyambak, mangertosipun piyambak, weruhipun piyambak, dhateng raosipun piyambak (raosing tiyang), dipun mirengaken piyambak sesarengan kaliyan ingkang dipun kandhani, lajeng saged kacepeng gegayuhaning kandha, ingkang dipun kandhani anggenipun mirengaken kados mirengaken kandhanipun piyambak, wasana lajeng saged kraos piyambak, mangertos piyambak, weruh piyambak dhateng raosipun piyambak, beja, inggih punika madeg pribadi weruhipun.

Yen sampun madeg pribadi weruhipun, tiyang lajeng pitados dhateng weruhipun, mahanani wasis, kendel, sregep, lan sugih. Kosokwangsulipun yen boten madeg pribadi weruhipun, mahanani bodho, jirih, kesed lan mlarat. Bodho tegesipun boten saged mikir leres, sanajan tuwuk pangajaran lan gegulangan. Jirih tegesipun jirih gesang lan jirih pejah, liripun yen saweg boten sakeca ketengkek-tengkek sugih sambutan, anak-anakipun sami sakiten, tansah dipun krawus bojonipun, lajeng gadhah raos, "Wis nek urip kaya ngene iki, ora kuwat tenan aku, aluwung aja weruh gebyaring srengenge," inggih punika jirih gesang. Mangka yen saweg sakeca, mintir rejekinipun, anakipun bagas waras lema-lema, bojonipun kerep ngalem tur mawi mesam-mesem, lajeng gadhah raos, "Wah! Mula wong ki padha-padha titah pancen mulya dhewe, ning kok nganggo mati, ya," inggih punika jirih pejah. Kesed tegesipun sanajan nyambut damel saben dinten muput, ingkang dipun raosaken namung bayaranipun, yen rumaos boten saged badhe sugih, lajeng gela, saya yen bayaripun sampun dipun tebasaken, lajeng semplah, tendangipun sarwa aras-arasen, wungsal-wangsul ningali wanci, namung tansah ngajeng-ajeng bibaripun. Mlarat tegesipun sanajan gadhah bandha kathah kados punapa kemawon, inggih taksih rumaos kirang, jalaran tansah kemrungsung taksih pados wewahipun, tur kanthi dheg-dhegan sumelang yen bandhanipun ngantos kalong utawi ical malih.

Yen madeg pribadi weruhipun, tiyang lajeng pitados dhateng weruhipun, mangertosipun, mahanani wasis, kendel, sregep, sugih. Wasisipun wau wasis gawan, boten saking pangajaran lan gegulangan, nanging gawan saking anggenipun kraos piyambak, mangertos piyambak, weruh piyambak. Kendel tegesipun kendel gesang lan kendel pejah. Anggenipun kendel gesang punika jalaran mangertos yen gesang punika lelampahan, mangka lelampahan punika angger sampun dipun lampahi sampun cekap, mila gesang kados punapa kemawon, wonten ing pundi kemawon, benjing punapa kemawon, inggih kendel. Kendel pejah tegesipun pejah kados punapa kemawon, njingkrung punapa melet, wonten ing pundi, benjing punapa kemawon inggih kendel, jalaran mangertos yen sadaya tiyang punika mesthi pejah, awit pejah punika pungkasaning lelampahan gesang, boten wonten gesang tanpa pejah, dados pejah punika mesthi kelampahanipun, mangka anggenipun nglampahi gampiling gampil angger sampun boten ebah, kendel kemawon sampun cekap. Sregep tegesipun anggenipun tumandang ing damel boten nggayuh sugih, nanging saking mangertos yen namung nyekapaken butuhipun piyambak, mila klawan seneng tumindakipun, lajeng boten susah dipun udi dados sregep piyambak. Sugih tegesipun boten saking gegadhahan bandha kathah, nanging saking weruh lan mangertosipun dhateng pokoking kabutuhan, mila sadaya kabutuhanipun mesthi cekap lajeng kraos sugih.

Dados sampun tetela terang yen nular-nularaken raos beja punika pokokipun anggugah weruhipun ingkang dipun tulari, supados madeg pribadi weruhipun, sarana ngandhakaken kawruh beja, kalayan mangertos dhateng pathokaning kandha, mesthining kandha, gegayuhaning kandha, reribeding kandha lan caraning kandha.

Yen tular-tumularing raos beja punika ngrebda, mahanani tiyang-tiyang sami beja sesarengan, sami wasis, kendel, sregep, sugih lan guyub sesarengan, seneng-seneng sesarengan, inggih punika gumelaring jagat beja, jaman kados makaten punika dipun wastani jaman Windu Kencana.



Bageyan III

WINDU KENCANA

A. Windu Kencana

Ingkang dipun wastani jaman Windu Kencana punika jaman utawi ungsum tiyang beja sesarengan. Beja sesarengan punika wohipun mangertos dhateng raos sami, inggih punika tiyang kathah sami kraos mangertos weruh yen sadaya tiyang punika raosipun sami. Kados makaten wau lajeng mahanani sirnaning raos meri-pambegan, wasana gegayuhan ungkul-ungkulan ugi katut sirna, jalaran gegayuhan ungkul punika saking raos meri-pambegan.

Jaman Windu Kencana punika sampun wiwit kina makina dipun padosi, nanging boten saged pinanggih, sanajan Windu Kencana punika asring lair, tiyang-tiyang sami boten kraos boten mangertos. Contonipun: Nalika tiyang sami pitados yen marcapada, donya, jagat saisinipun sadaya punika apus-apusan, ing ngriku lajeng sirna meri-pambegan lan ungkulipun, dados raos sami, inggih punika sami rumaos apus-apusan sesarengan, mahanani jaman Windu Kencana, nanging tiyang boten sami mangertos, mila inggih saged sirna malih saking jagat. Dados pokokipun jaman Windu Kencana punika sirnaning ungkul. Wonten malih jaman Windu Kencana nalika tiyang sami pitados yen sadaya tiyang punika sami sangsara, lajeng rumaos sami sangsara sesarengan, lha, tiyang sami sangsara kok ungkul-ungkulan, rak mesthi boten. Ing ngriku ungkul sirna, mahanani Windu Kencana, nanging tiyang boten sami mangertos, mila inggih sirna malih saking jagat. Wonten malih jaman Windu Kencana nalika tiyang sami pitados yen sadaya tiyang punika dosa, lajeng rumaos sami dosa sesarengan, lha, tiyang sami dosa kok ungkul-ungkulan, mesthi boten, mila ungkul inggih ugi sirna. Windu Kencana kados makaten wau tiyang sami boten mangertos, mila inggih sirna malih saking jagat.

Wonten malih Windu Kencana nalika tiyang sami pitados yen sadaya tiyang punika apes, lajeng rumaos apes sesarengan, mahanani sirnaning ungkul, lha, tiyang sami apes punapa ungkul- ungkulan, inggih mesthi boten. Windu Kencana kados makaten wau tiyang boten sami mangertos, mila inggih lajeng sirna malih saking jagat.

Windu Kencana ingkang sampun kapengker kados kasbut ing nginggil wau sadaya tiyang boten mangertos, yen ingkang mahanani Windu Kencana punika wohing raos sami, ingkang murugaken sirnaning ungkul, mila lajeng sirna malih saking jagat, jalaran yen risak boten saged andandosi malih, amargi tiyang sami boten mangertos dhateng aben-abenanipun Windu Kencana. Kados dene nalika tiyang sami rumaos apus-apusan sesarengan, yen lajeng thukul raos "Sanajan apus-apusan kae, nek sugih ya kacek karo sing mlarat apus-apusan." Ing ngriku mahanani raos beda, raos beda ngrebda, Windu Kencana nalika tiyang sami rumaos sangsara sesarengan, janji thukul raos, "Sanajan padha sangsara kae, nek ajeg wareg wetenge, meksa beda karo jing sangsara ngeleh wetenge." Ing ngriku raos beda thukul, raos beda ngrebda, Windu Kencana sirna. Ugi kados makaten Windu Kencana nalika tiyang sami rumaos dosa sesarengan, angger lajeng thukul raos, "Sanajan dosa yen sregep nyuwun ngapura, ya meksa beda karo sing dosa kesed nyuwun ngapura, saora-orane nek kerep nyuwun ngapura, manawa katrima besuk yen mati terkadhang entuk pangapura." Ing ngriku mahanani thukuling raos beda. Raos beda ngrebda, Windu Kencana sirna. Inggih makaten ugi Windu Kencana nalika tiyang sami rumaos apes sesarengan, janji lajeng thukul raos "Sanajan apes yen sregep nyanak-nyanak marang jing kuwasa, rak ya beda karo apes jing deksura. Yen ketrima besuk nek mati terkadhang bisa oleh ganjaran." Ing ngriku lajeng thukul raos beda. Raos beda ngrebda, Windu Kencana sirna.

Dados miturut katrangan ing nginggil wau sadaya tetela yen Windu Kencana punika wohing raos sami, inggih punika sirnaning ungkul, raos beda.

Sugih lan Guyub Sesarengan

Raos sami murugaken tentrem, lajeng mahanani sugih sesarengan lan guyub. Sugih punika raos tirah, mangka panggesangan punika yen sirna ungkulipun mesthi cekap. Guyub punika sirnaning butarepan. Raos butarepan punika pados ngungkuli anggenipun dipun kasihi. Guyub punika lairing mangertos dhateng gegayuhaning sesrawungan ingkang leres. Gegayuhaning sesrawungan ingkang leres punika sakeca sesarengan, beja sesarengan, inggih punika guyub.

Mekaring Kagunan, Kawruh lan Kasagedan

Wohing raos tirah mahanani sregep nyambut damel. Wohing guyub mahanani seneng-seneng sesarengan. Mila ing jaman Windu Kencana tiyang sami sugih raja brana sesarengan, seneng- seneng sesarengan, mahanani kemajenganipun kagunan, kawruh lan kasagedan, jalaran tetiga wau ingkang kangge lambaran seneng-seneng. Peprincening kagunan, kasusastran, gendhing, joged, ukir-ukiran lan sapanunggilanipun, ingkang mranani raos endah. Peprincening kawruh: kawruh pikiran, barang adon-adon sapanunggilanipun, ingkang mranani raos wasis. Peprincening kasagedan: dedamelan warni-warni, ingkang mranani raos gumun.

Lelambaran tetiga wau yen katrajang ungkul, risak. Raos endah, raos wasis, raos gumun boten thukul, ingkang thukul namung kasenenganing ungkul, inggih punika yen ngungkuli liyan. Lajeng lelambaran kagunan, kawruh lan kasagedan wau dipun dhelik-dhelikaken kangge garan ungkul-ungkulan. Mila lelambaran tetiga wau boten saged sumebar, jalaran dipun sade awis perlu kangge ungkul-ungkulan.
Ing jaman Windu Kencana ungkul sirna, lelambaran tetiga wau dipun gelar kangge prabot seneng-seneng sesarengan. Mila ing jaman Windu Kencana kagunan, kawruh lan kasagedan sumebar, lajeng mekar lan majeng.

B. Lestantuning Windu Kencana

Ing jaman Windu Kencana punika tiyang sami dhedhasar raos sugih lan guyub, dados ingkang ngrisakaken Windu Kencana punika raos mlarat lan congkrah. Mila ing jaman Windu Kencana yen raos mlarat lan congkrah thukul, lajeng dipun sirnakaken, murih wilujengipun raos sugih lan guyub, inggih punika lestantuning Windu Kencana.

Dhukun, Jeksa, Guru, Ratu Beja

Mila jaman Windu Kencana punika mapanipun wonten ing jagat beja, dados jagat beja punika tebaning raos sugih lan guyub sesarengan. Dene wujudipun jagat beja inggih punika griya beja, kaperluan umum beja, kabutuhan umum beja lan sesrawungan umum beja. Griya beja tegesipun nedha beja, nyandhang beja, mapan beja, awit tiyang sami mangertos gegayuhaning nedha, nyandhang lan mapan. Kaperluwan umum beja inggih punika bayen, biraen, panganten, kepaten, beja, awit tiyang sami mangertos dhateng gegayuhaning bayen, biraen, panganten, kepaten. Kabutuhan umum beja inggih punika griya sekolahan, griya sakit, griya jempo, griya lola lan pakaryan beja, awit tiyang sami mangertos dhateng gegayuhaning gangsal prakawis wau.

Sesrawungan umum beja tegesipun praboting sesrawungan umum sadaya beja, inggih punika dhukun, jeksa, guru, ratu beja, awit tiyang sami mangertos dhateng gegayuhaning sakawan prakawis wau. Dhukun beja padamelanipun nyirnakaken penyakit ungkul, sarana mangertos dhateng raos sami, njagi wilujengipun raos sugih, lan guyub, inggih punika lestantunipun Windu Kencana. Jeksa beja padamelanipun nyirnakaken ama congkrah, sarana mangertos yen sadaya barang ingkang wonten lan sadaya lelampahan ingkang kalampahan punika sampun leres, njagi wilujengipun raos sugih lan guyub, inggih punika lestantunipun Windu Kencana. Guru beja padamelanipun nyirnakaken kawruh kayakinan ingkang murugaken cecongkrahan kawruh sarana ngiseni kawruh nyata, njagi wilujengipun raos sugih lan guyub, inggih punika lestantuning Windu Kencana. Ratu beja padamelanipun nyirnakaken tataning sadaya lelawanan ingkang silib-siliban lan lorob-loroban, sarana mangertos dhateng tataning raos, inggih punika pilah-pilahing raos ingkang kraos ing awakipun piyambak utawi tiyang, ingkang lajeng mahanani tataning sadaya lelawanan lajeng dados blak-blakan sami sakecanipun, njagi wilujengipun raos sugih lan guyub, inggih punika lestantuning Windu Kencana.

Seneng-seneng Sesarengan

Yen raos sugih lan guyub punika lestantun, mahanani sadaya tiyang sarwa seneng, dados salebetipun jagat beja jaman Windu Kencana punika tiyang namung tansah seneng-seneng sesarengan.

C. Rewes Mardika Luwar Saking Bebandan Piyeng-piyeng

Ing jaman Windu Kencana tiyang sami tentrem sesarengan, jalaran sirnaning raos meri-pambegan, ingkang murugaken ungkul-ungkulan. Mila sadaya tindak sakepenake, sabutuhe, saperlune, sacukupe, sabenere, samesthine. Raos tentrem ngluwari rewes saking bebandan piyeng-piyeng.

Nalika piyeng-piyeng rewes boten mardika, tegesipun boten saged ngrewes dhateng ingkang samesthinipun dipun rewes. Luwaring rewes lajeng murugaken dhateng tiyang saged ngrewes sawetah, jalaran sirnaning ungkul sadaya kabutuhan mesthi cekap. Mila lajeng sadaya tindakipun sarwa maedahi dhateng sawetah.

Tentrem Sesarengan

Yen tansah ngrewes dhateng sawetah, lajeng mangertos weruh dhateng satheg-kliwering tiyang sawetah, inggih lajeng mangertos dhateng gegayuhaning sawetah, inggih punika tentrem sesarengan. Mila ing jaman Windu Kencana sadaya tindaking tiyang sami pados tentrem sesarengan.

Sregep Nyambut Damel Sesarengan, Seneng-seneng Sesarengan

Wohing tentrem sesarengan mahanani tiyang sami sregep nyambut damel sesarengan, seneng-seneng sesarengan, mila tansah nitahaken barang enggal, ingkang kangge lelambaran seneng-seneng.
Kados makaten wujudipun gumelaring jagat beja jaman Windu Kencana, wohing gegrombolan Junggring Salaka.



PANUTUP

BAB JUNGGRING SALAKA

Risaking gegrombolan Junggring Salaka punika yen ingkang sami pepanggihan ing Junggring Salaka wau karep sami karep, jalaran pathokaning karep punika namung aja ngono, kudu ngono, ingkang raosipun buneg, kemrungsung, murugaken paben, congkrah, lajeng bibar.

Lestantuning gegrombolan Junggring Salaka punika yen ingkang sami pepanggihan ing Junggring Salaka wau tiyang weruh sami weruh, jalaran pathokanipun sami pitados dhateng weruhipun, raosipun wening tentrem, sami mangertos yen weruhipun sami, ingkang dipun weruhi sami, murugaken saged negesi sesarengan, ngantos dumugi sami kraos lan mangertos sesarengan, seneng beja sesarengan. Mila lajeng tuman lestantun sami gegrombolan, nandhes njembaraken lan nularaken kawruh beja. Nandhes lan jembaring kawruh beja, mahanani lairing raos beja wonten ing saranduning tiyang. Wasana tiyang lajeng sami sarwa beja.


BAB PATHOKANING KANDHA

Cilakanipun:

Tiyang kandha nularaken raos begja punika yen boten mangertos dhateng pathokaning kandha, anggenipun mbejakaken lajeng dados gegayuhan, raosipun kemrungsung, temahan salah kedaden, pancen mbejakaken dados nelukaken tiyang, lha,paben, congkrah, cilaka.

Bejanipun:

Yen ingkang kandha punika mangertos dhateng pathokaning kandha ingkang murugaken ugi mangertos dhateng mesthining kandha, gegayuhaning kandha, reribeding kandha, lan caraning kandha.

Anggenipun mbejakaken boten dados gegayuhan, nanging namung nglairaken raos sih, lajeng saged luluh kaliyan ingkang dipun kandhani murugaken sami weningipun, temahan ingkang dipun kandhani saged kraos, mangertos lan weruh piyambak dhateng raosipun piyambak sami kaliyan ingkang kandha, inggih punika sami madeg pribadi weruhipun lajeng sami seneng, beja sesarengan. Ngrebdanipun tular-tumularing raos beja, mahanani gumelaring jagat beja jaman Windu Kencana.

BAB WINDU KENCANA

Windu Kencana:

Punika wohing raos sami, ingkang murugaken sirnaning ungkul, tiyang lajeng sami tentrem sesarengan, mahanani sugih lan guyub sesarengan, seneng-seneng sesarengan.

Windu Kencana ingkang boten mitadosi:

Punika ingkang lairipun saking raos sami, jalaran tiyang sami pitados dhateng salah satunggaling kayakinan, dados tiyang boten sami kraos lan mangertos, namung sak rumaos lan pitados. Mila yen risak boten saged andandosi malih, awit tiyang boten sami mangertos dhateng aben-abenanipun Windu Kencana.

Windu Kencana ingkang mitadosi:

Punika ingkang lairipun saking raos sami, jalaran tiyang sami kraos, mangertos lan weruh yen tiyang punika gadhah dhasar raos sami, inggih punika sami kraos: Aku, Ana, Weruh, Pribadi, ingkang murugaken tiyang sami mangertos dhateng aben-abenanipun Windu Kencana. Dados samangsa Windu Kencana badhe risak lajeng saged andandosi malih.

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Wujuding Kawruh Jiwa

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Kawruh jiwa, ingkang dipun sinau dening kula sakanca, punika kawruh bab jiwa. Jiwa punika peranganing tiyang ingkang boten kasatmata lan raga punika peranganing tiyang ingkang kasatmata. Mila jiwa punika boten kacepeng ing panca indriya.
Sanajan jiwa punika boten kasatmata, nanging tiyang kraos dhateng jiwa wau, kados dene anggenipun kraos dhateng sakit, dhateng susah lan sapanunggilanipun. Awit saking kraos, mila tiyang punika ngakeni, yen jiwa punika wonten. Mila jiwa punika raos.

Dados kawruh jiwa punika kawruh raos. Kawruh jiwa punika dede agami lan dede wulangan awon-sae, ingkang ngangge pepacuh "Aja mangkono lan kudu mangkono" lan dede lampah-lampah utawi sirikan. Dados kawruh jiwa punika kawruh, ingkang meruhi dhateng jiwa lan sawateg-wategipun, kados dene kawruh kewan lan kawruh tetaneman lan sapanunggilanipun, lan sawateg-wategipun.

Kawruh jiwa punika kawruh ingkang murugaken beja, beja ingkang mardika, tegesipun boten gumantung dhateng papan, jaman, lan kawontenan, Kawruh jiwa punika boten murugaken sugih, boten murugaken angsal pangkat lan boten murugaken angsal panguwasa. Mila yen tiyang sinau kawruh jiwa kanthi gegayuhan supados sugih, supados angsal pangkat lan supados angsal panguwasa, punika angsal-angsalipun kacelik.

Sarehne kawruh jiwa punika kawruh raos, mila sinau kawruh jiwa punika sinau raosipun piyambak. Raosipun piyambak punika awakipun piyambak. Mila meruhi raosipun piyambak punika meruhi awakipun piyambak.
Dados kawruh raos punika kawruh awakipun piyambak. Kawruh awakipun piyambak punika dipun sebut pangawikan pribadi. Dados pangawikan pribadi punika murugaken beja.

Pribadi ing ngriki boten teges pribadi ingkang muluk-muluk, nanging pribadi awakipun piyambak ingkang padamelanipun mikir punapa-punapa, kraos punapa-punapa, lan kapengin punapa-punapa. Tiyang punika boten saged angsal pangawikan pribadi saking tiyang sanes, saking buku utawi saking guru, nanging namung saking awakipun piyambak. Mila tiyang punika boten saged mucal dhateng tiyang sanes, prakawis pangawikan pribadi.

Sinau pangawikan pribadi punika dipun wiwiti samangke, ing ngriki lan wonten ing kawontenan kados makaten, (saiki, kene, ngene) nanging boten wingi lan sesuk, boten rika lan boten ngono. Tegesipun sinau pengawikan pribadi punika dipun wiwiti saking samangke ing ngriki awakipun piyambak punika kepengin punapa, tumindak punapa, mikir punapa lan kraos punapa. Yen sampun pinanggih lajeng dipun tliti tegesipun, tegesipun penginanipun piyambak, tegesipun tindakipun piyambak, tegesipun pikiranipun piyambak, lan tegesipun raosipun piyambak.

Ing ngriki katawis angelipun sinau kawruh jiwa, jalaran teges-teges wau wonten ingkang ngaling-alingi. Yen aling-aling wau dereng dipun sumerepi, tiyang boten saged sumerep dhateng teges-teges wau.

Aling-aling wau wujud tempelan teges saking awakipun piyambak. Tiyang punika nempeli teges dhateng raosipun piyambak lan tempelan teges wau dipun kinten tegesipun raosipun. Yen tempelan teges wau konangan anggenipun tempelan, tiyang lajeng sumerep tegesipun raosipun piyambak.

Dene contonipun makaten. Upami tiyang nyrengeni (nesoni) anakipun, jalaran anak wau boten minggah klas wonten ing sekolahanipun. Tiyang wau boten sumerep tegesing nesunipun piyambak, jalaran kaling-kalingan tempelan teges saking awakipun piyambak, jalaran awakipun piyambak nempeli teges dhateng nesunipun piyambak.
Tempelan teges punika raosipun makaten, "Aku nesoni anakku, supaya anakku sregep sinau, supaya wasis, supaya becik." Tempelan teges wau raosipun ingkang pokok: "Supaya becik." Dados tempelan teges wau dede tegesipun nesunipun piyambak, boten nyata boten nalar.

Tempelan teges wau ngemot pamanggih, yen nesu punika murugaken sae. Pamanggih wau lepat. Mila pamanggih wau boten saged dipun tindakaken.
Yen srengen punika murugaken sae, tiyang lajeng gampil lan rikat damel sae datheng tiyang kathah. Tiyang lajeng dhateng peken lan lajeng nyrengeni tiyang sapeken, lan tiyang sapeken lajeng dados sae. Kados makaten salajengipun, engga pinten-pinten dinten.

Kados makaten tempelan teges anggenipun boten nalar. Yen tempelan teges punika konangan, tiyang lajeng sumerep tegesipun nesunipun piyambak. Dene terangipun makaten. Tiyang, anggenipun ngajeni anakipun, punika kangge tandhon pensiun lan garan moncer. Tiyang punika boten tresna boten punapa dhateng anakipun. Ingkang asring dipun wastani tresna, punika raos gesang perlu lestantuning jenis.
Nalika anak taksih alit dipun jagi dening tiyang sepuhipun, supados anak wau lestantun gesang. Nanging yen sampun diwasa anak wau dipun ajak tukaran lan tukaran punika kalairaning sengit.

Dados tiyang punika namung rewa-rewa tresna dhateng anakipun.
Rewa-rewa tresna wau ugi tempelan teges. Yen rewa-rewa tresna punika konangan, yen dede tresna estu, tiyang lajeng sumerep raosipun piyambak anggenipun ngajeni anakipun, inggih punika kangge tandhon pensiun lan garan moncer. Mila tiyang punika boten saged ngraosaken raosipun anakipun, jalaran kaling-kalingan gegayuhanipun, inggih punika tandhon pensiun lan garan moncer.
Tandhon pensiun punika raosipun makaten, "Yen anakku wasis lan duwe ijazah dhuwur lan duwe jabatan dhuwur lan duwe pametu dhuwur lan yen aku wis tuwa lan wis ora bisa nyambut gawe lan isih butuh mangan lan isih butuh wuwuh bojo, banjur anakku mensiun aku."

Garan moncer punika raosipun makaten, "Yen anakku ijazahe dhuwur lan jabatane dhuwur, aku katut dhuwur."

Mila wonten nggen sesrawungan tiyang punika raosipun ngumukaken anakipun makaten, "Punika anak kula ingkang sekolah wonten ing STT, lan kakangipun dados hakim wonten ing Kalimantan lan mbakyunipun dados dokter wonten ing Makasar."
Yen sampun sumerep dhateng raosipun piyambak anggenipun ngajeni dhateng anakipun, tiyang lajeng sumerep dhateng tegesipun nesunipun piyambak dhateng anakipun, ingkang boten minggah klas wau. Tegesipun nesu wau makaten, "Aku nesu menyang anakku olehe ora munggah klas. Jalaran kaplesed gegayuhanku tandhon pensiun lan garan moncer lan aku ngluputake anakku olehe mlesedake, lan aku ora ngluputake aku dhewe olehku nggayuh-nggayuh. Dados tegesipun nesunipun piyambak wau nyata, mila nalar.

Yen tiyang kaplesed gegayuhanipun, mangka lajeng nesu, punika runtut miturut aturan alam wonten nggen sebab lan kedadosan. Kosok wangsulipun tiyang tresna, teka nesu dhateng ingkang dipun tresnani punika boten runtut, jalaran nesu punika asalipun saking kabodhoan lan tresna punika asalipun mangertos raos. Dados nesu punika bodho.

Yen sampun sumerep dhateng tegesipun nesunipun piyambak dhateng anakipun ingkang boten minggah klas, tiyang lajeng sumerep raosipun anakipun, ingkang sami plek kaliyan raosipun piyambak. Jebul anak punika anggenipun ngajeni dhateng tiyang sepuhipun ugi kangge garan moncer lan prabot kangge nyekapi butuhipun. Dados raosipun anak lan tiyang sepuhipun punika sami.
Sumerep raos sami kados makaten punika raosipun dhame. Raos dhame kados makaten punika raos tresna utawi sih ingkang tanpa wates lan tanpa sarat. Dados yen tegesipun nesu punika dipun sumerepi, raos nesu punika sirna lan lajeng lair raos sih ingkang tanpa wates lan tanpa sarat.

Yen sampun kraos dhame, sanajan tiyang punika nyrengeni anakipun ingkang boten minggah klas, nanging anggenipun nyrengeni raosipun dhame. Nyrengeni dhame punika cocok raosipun lan ungelipun, inggih punika raosipun makaten: "Bocah, dianggo tandhon pensiun lan garan moncer, teka mlesedake lan banjur mbesuke sapa sing mensiun aku lan sapa sing dak anggo garan moncer, mangka moncerku dhewe wis bobrok." Kados makaten wujudipun srengen dhame.
Kosok wangsulipun srengen boten dhame punika srengen ingkang wujudipun, ungelipun raosipun boten cocok. Srengen boten dhame punika raosipun makaten, "Bocah diperdi sregep sinau bae, teka ora gelem. Mangka yen wasis, kuwasisane iya dialap dhewe lan aku ora melu ngalap apa-apa." Lo, rak boten cocok ungelipun lan raosipun.

Yen anakipun wasis, awakipun piyambak rak moncer. Punapa moncer punika dede punapa-punapa? Kados makaten wujudipun srengen boten dhame.
Yen sadaya raosipun piyambak dipun tliti tegesipun engga pinanggih, tiyang lajeng kraos dhame utawi kraos beja. Kados makaten wujudipun kawruh jiwa, ingkang dipun sinau dening kula sakanca. Dados kawruh jiwa punika boten murugaken punapa-punapa kajawi kraos beja.

Gegrombolan sinau kawruh jiwa punika dede pakempalan, mila boten wonten pengurus lan warga, boten wonten arta pangkal lan iuran, boten wonten anggaran dasar lan anggaran rumah tangga, dados boten wonten ikatan punapa-punapa. Dene ingkang wonten namung panitiya kawruh jiwa (PKD), PKD punika namung alamat kangge nggampilaken sesambetan.

Namung samanten atur kula.
Nuwun.

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info