Showing posts with label Sunan Geseng. Show all posts
Showing posts with label Sunan Geseng. Show all posts

Wednesday, November 19, 2014

Sunan Geseng

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Pada suatu siang yang terik,

Sunan Kalijaga berjalan melewati pepohonan siwalan (Enau, Nira, Kawung). Di atas pohon tersebut ada seorang lelaki tua bernama Cokrojoyo dari Desa Gesing sedang men-deres buah siwalan (Mengambil sari siwalan untuk dibuat gula nila ; Nyadap Kawung). Sambil melepas lelah di bawah pohon itu, Sunan Kalijaga mendengar Cokrojoyo menyanyikan sebuah tembang ;
“Lilo-lilo … lilo-lilo … lilo-lilo
Berulang kali tembang itu dinyanyikannya. Sang Sunan menikmatinya dengan seksama dan penuh pesona. Hingga si pen-deres turun dari pohon siwalan.
“Lilo-lilo … gerangan tembang apakah itu, Kek?”.
“Alah, kisanak, tiap hari aku bekerja seperti ini, sebagai buruh pen-deres siwalan. Agar hidup yang susah ini tidak terasa susahnya, ya tak lilo-lilo (Ya disabar-sabarkan, menyabarkan diri)”.
“Bisakah diganti dengan yang lebih baik, Kek?”.
“Diganti yang bagaimana, Kisanak ?”.
“Laa ilaaha illallooh”.

Sejak itu, Cokrojoyo menjadi murid Sang Sunan dengan gelar Sunan Geseng,- (***).
(Konon menurut ceritanya ; Setelah perjumpaan yang singkat itu, keduanya berpisah. Sekian waktu kemudian, Cokrojoyo bertekad untuk berguru kepada Sang Sunan. Suatu saat mereka bertemu. Sunan Kalijaga lalu menancapkan sebatang bambu di depan Cokrojoyo dan sebelum meninggalkannya, ia memintanya untuk menjaga batang bambu tersebut hingga kembali. Cokrojoyo pun mematuhi perintah gurunya itu dan menungunya hingga batang bambu tersebut menjadi “barongan” (Rerimbun pohon bambu). Sekian lama kemudian, kembalilah Sunan Kalijaga dan mendapati Cokrojoyo masih setia di tempat itu. Lalu, Sang Sunan membakar barongan itu hingga lantak. Tubuh Cokrojoyo hangus seperti arang, namun tidak terbakar. Sejak itu, Cokrojoyo berjuluk Sunan Geseng. Hingga kini, makam Sunan Geseng masih berkabut misteri ; ada yang di Pakah Gesing Tuban, ada yang di Tirto Magelang, juga di Grabak Magelang)
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Wednesday, November 12, 2014

SILSILIH SUNAN GESENG

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Nama asli Sunan Geseng adalah : Raden Mas Cokro Joyo, Keturunan dari

Prabu Brawijaya + Dewi Rengganis
Pangeran Sumono / Ki Ageng Pakotesan
Pangeran Kartosuro
Tumenggung Wirantoko
Tumenggung Wono Joyo

Raden Mas Cokro Joyo ( yang akhirnya setelah berguru Kepada Sunan Kalijaga bergelar SUNAN GESENG )

Dewi Rengganis : Putri dari P. Darmomoyo, Putra Nyai ageng Bagelen, Keturunan Trah Mataram Purbo, dan masih juga masih Keturunan dari Pajajaran.

Jadi Sunan Geseng itu masih keturunan Mataram, Majapahit dan Pajajaran. Tiga kerajaan besar di tanah Jawa
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Monday, November 10, 2014

Keramat Jati Makam Sunan Geseng (Tamat)

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Makam Sunan Geseng yang terletak di Dukuh Suro, Desa Seren, Kecamatan Sulang, hingga saat ini masih kerap didatangi para peziarah baik dari dalam maupun luar kota Rembang. Umumnya mereka yang datang ke tempat tersebut berharap mendapatkan berkah dari sang sunan melalui ranting kering atau daun kering pohon jati yang berdiri di dekat makam.


Lantas siapakah sebenarnya Sunan Geseng  yang disekitar pusaranya terdapat jati raksasa yang keramat? Banyak versi yang beredar terkait ceritera tersebut. Sebagian masyarakat sekitar meyakini bahwa tokoh sakti yang makamnya dikeramatkan tersebut adalah murid Sunan Kalijaga yang mempunyai nama asli Dahlan Jaya Wilastro atau yang lebih populer dengan sebutan Pangeran Bunnabrang.


Pangeran Bunnabrang dikenal merupakan sosok yang kontroversial semasa hidupnya. Ia merupakan bekas punggawa kerajaan Mataram yang melarikan diri. Konon pelariannya tersebut lebih disebabkan karena adanya konflik kepentingan antara dirinya dengan beberapa tokoh penting Mataram saat itu.
Agar terhindar dari pengejaran, Pangeran Bunnabrang sampai juga di hutan belantara yang selanjutnya dikenal dengan nama Suro. Di Suro itulah, Pangeran Bunnabrang sempat bertemu dan kemudian berguru pada Kanjeng Sunan Kalijaga.

Selanjutnya ia dan istrinya yang bernama Jonggrang beserta lima pengikutnya yang turut serta dalam pelarian dari Mataram mendirikan rumah sebagai tempat tinggal dan Surau kecil untuk berdakwah. Di Sanalah Pangeran Bunnabrang memulai hidupnya yang baru sebagai pemulang agama.
Pangeran Bunnabrang  diyakini Warga Dukuh Suro, Desa Seren, Kecamatan Sulang sebaga tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Sepanjang hayatnya, ia mengabdikan diri untuk menyebarkan ajaran Islam. Hingga akhirnya sang pangeran pun berpulang ke haribaan ilahi.

Pangeran Bunnabrang kemudian dimakamkan persis di bawah pohon jati. Sedangkan istri dan lima pengikutnya, juga dimakamkan di tempat yang sama.
Nama Sunan Geseng sendiri diambil dari kata gosong atau hangus. Konon ceritanya, kala itu Pangeran Bunnabrang yang kebetulan bertemu dengan Sunan Kalijaga merasa tertarik dan hendak berguru kepadanya.
Selanjutnya, oleh Sunan Kalijaga ia diperintahkan agar duduk bersemedi di suatu tempat yang ditunjuk oleh kanjeng sunan. Pangeran Bunabrang tidak diperkenankan beranjak dari tempat dudukya sebelum Sunan Kalijaga datang kembali kepadanya.

Lantas Pangeran Bunnabrang pun melakukan perintah tersebut dengan senang hati. Selang beberapa tahun lamanya, barulah Sunan Kalijaga datang untuk mencari muridnya tersebut.
Namun karena waktu yang terlalu lama, tempat yang digunakan bersemedi Pangeran Bunnabrang tersebut telah berubah menjadi semak belukar. Karena kesulitan mencari sang murid yang tak kunjung ditemukan, lantas Sunan Kalijaga akhirnya membakar semak belukar tersebut.

Semua semak belukar ludes menjadi abu dan bercampur tanah. Sampai kemudian Pangeran Bunnabrang dapat ditemukan dalam keadaan hangus. Namun berkat kesaktiannya, Pangeran Bunnabrang masih tetap hidup dan dalam keadaan segar bugar.

Semenjak itulah, Pangeran Bunnabrang yang berdakwah di daerah tersebut populer dengan julukan Sunan Geseng. Dan hingga saat ini, kebenaran kisah tersebut masih terpatri di benak warga Soro, Seren Kecamatan Sulang. Tentang kebenarannya, Wallohu a’lam
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info