Showing posts with label Adat istiadat. Show all posts
Showing posts with label Adat istiadat. Show all posts

Wednesday, February 12, 2014

BUKU TENTANG ADAT ISTIADAT DAN CERITA RAKYAT DI INDONESIA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
BUKU TENTANG ADAT ISTIADAT DAN CERITA RAKYAT DI INDONESIA

Ivan Taniputera
12 Februari 2014



Judul: Brosur Adat Istiadat dan Tjeritera Rakjat
Penerbit: Urusan Adat Istiadat dan Tjeritera Rakjat Djawatan Kebudayaan, Departemen P.D. dan K., 1965
Jumlah halaman: 90

Buku ini mengulas peristiwa-peristiwa adat dan kisah-kisah rakyat yang ada di negara kita. Sebagai contoh, pada halaman 9-20 terdapat ulasan mengenai "Upacara Ruwatan Anak" di desa Karangtengah, Tjilongok, Adjibarang). berikut ini adalah sedikit kutipannya:

"Pada tanggal 23 Djuni 1960 didesa Karangtengah, tidak djauh disebelah utara setasiun Karangsari, Ketjamatan Tjilongok, Kawedanan Adjibarang, diadakan upacara "Ruwatan" oleh seorang penduduk desa tersebut. Ia hanja mempunjai seorang anak perempuan, anak tunggal, sebab itu perlu diruwat, supaya terlepas dari intaian Batara Kala. Upatjara dilangsungkan dengan pertundjukan wajang kulit dan mengambil lakon: Lahirnja Batara Kala. Sebagai perlengkapan upatjara, dibelakang kelir wajang ditaruh sesadji, jang berwudjud:

1.Tumpeng komaran dua buah (dilain daerah Djawa Tengah disebut tumpeng robjong, gunungan nasi dihias denga lidi2 jang diberi katjang pandjang, lombok, bawang merah, krupuk goreng, bunga2an, kertas berwarna dsb).
2.Tumpeng salawe, (tumpeng ketjil2 berdjumlah dua puluh lima).
3.Pisang sesisir.
........................................dst."

Selanjutnya pada halaman 21-29 terdapat artikel berjudul "Idulfitri disekitar Bandjarnegara." Berikut ini adalah sedikit kutipannya:

"Kata adat istiadat adalah berpangkal pada kata adat (bhs Arab) jang dalam bahasa Indonesia berarti kebiasaan. Adat istiadat adalah suatu kebiasaan jang turun temurun dari manusia atau kelompok manusia (besar atau ketjil) dalam suatu daerah tertentu (ketjil atau luas) da berdjalan terus menerus. Soal turun temurun ini dapat dari manusianja (penduduknja) atau dari daerahnja.."

Pada halaman 30-38 terdapat artikel mengenai "Upatjara Permohonan Hudjan di Kuripan (Kawedanan Gerung Kabupaten Lombok barat)." Berikut ini adalah sedikit kutipannya:

"Upatjara ini dilakukan mereka apabila pada tahun itu hudjan djarang turun. Seperti pada tahun 1961 ini di Lombok sangat kurang hudjannja djika dibandingkan dengan tahun-tahun jang lampau jang tentunja djika tetap sebagai ini sebahagian besar orang di Lombok tidak dapat menanam padi. Pada saat jang begini orang-orang Kuripan jang masih tebal kepertjajaannja mengadakan upatjara. Menurut kepertjajaan mereka bahwa djarangnja hudjan itu disebabkan karena jang diperguan digunung Sasak, suatu gunung jang terletak di sebelah selatan desa Kuripan, sebal hatinja karena Rakjat Kuripan melupakan dia. Konon beliau itu adalah Radja pertama di Kuripan dari keturunan Radja Pedjanggik, beliau bernama Nek Laki Batu Muter Bumi. Semasa hidupnja terkenal sebagai Radja jang bidjaksana dan awas kepada masa jang akan datang....."

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.



Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Sunday, October 27, 2013

BUKU TINJAUAN LUAR BIASA MENGENAI HUKUM ADAT DAN BUDAYA SUKU DAYAK DI KALIMANTAN

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
BUKU TINJAUAN LUAR BIASA MENGENAI HUKUM ADAT DAN BUDAYA SUKU DAYAK DI KALIMANTAN

Ivan Taniputera
27 Oktober 2013




Judul: Het Adatrecht van Borneo, Deel I
Pengarang: J. Mallinckrodt
Penerbit: M. Dubbeldeman, Leiden, 1928
Jumlah halaman: 612
Bahasa: Belanda

Ini adalah buku luar biasa mengenai budaya dan adat istiadat Dayak di Kalimantan. Sebagai contoh pada halaman 7 diulas mengenai berbagai teori pembagian bangsa Dayak:

"Nieuwenhuis (de gegevens werden door Kohlbrugge bewerkt) kwam tot het resultaat dat in Midden-Borneo de volgende groepen, ik noem ze stammenrassen, voorkomen: I.de Kajan; 2. de Oeloe Air Dajaks; de eersten zijn brachycephalen, de laatsten dolichocephalen (1). De Kajan vormen een deel van het stammen ras der Kajan-Kenja Bahau, die Centraal Borneo bewonen, terwijl de Oeloe Air ten zuiden daarvan voorkomen. Dit laatste ras omvat wellicht ook: de Ngadjoe, Maanjan en Lawangan, die niettegenstaande groote verschillen belangrijke punten van overeenkomst hebben..."

Terjemahannya:

"Niewenhuis (yang dicantumkan dalam karya Kohlbrugge) menyimpulkan bahwa di Kalimantan Tengah terdapat berbagai kelompok, yang saya sebut suku-suku , sebagai berikut: I. Kayan; 2. Dayak Hulu Air; yang pertama bertipe brachycephalen, sedangkan yang kedua bertipe dolichosephalen (1). Kayan membentuk sebagian suku-suku Kayan-Kenyah-Bahai, yang mendiami Kalimantan Tengah, sedangkan Hulu Air mendiami kawasan di sebelah selatannya. Yang disebut belakangan tersebut barangkali juga mencakup: Ngaju, Manyan, dan Lawangan, kendati terdapat perbedaan-perbedaan besar di antara mereka...."

Pembagian lain adalah sebagai berikut:

"Hose en Mac Dougall deelen de Dajaksche bevolking van Borneo in zes groepen in, namelijk: 1.Zee-Dajaks, 2.Kajans, 3.Kenja, 4.Klemantans, 5.Moeroets, 6.Poenans (2).

Terjemahannya:

"Hose dan Mac Dougall membagi masyarakat Dayak menjadi enam kelompok, yakni: 1.Dayak Laut, 2.Kayan, 3.Kenyah, 4.Klemantan, 5.Murut, dan 6 Punan."

Lebih jauh lagi, pada halaman 14 terdapat uraian mengenai suku bangsa Kenyah-Kayan-Bahau, dimana masih terdapat ketidak-sepakan dalam pembagian:

"Hose en Mac Dougall rekenen de Bahau tot de stammengroep der Kajan; Nieuwenhuis is echter van oordeel dat de Bahau een afzonderlijke groep vormen. Dit ras heeft volgens Nieuwenhuis als gemeenschappelijk stamland de Apo Kajan, van waaruit ze later naar verschillende zijden zouden zijn uitgezwermd. Die Kenja zijn na veel omzwervingen later weer in de Apo Kajan teruggekeerd..."

Terjemahannya:

"Hose dan Mac Dougall menggolongkan Bahau ke dalam kelompok suku Kayan; Nieuwenhuis sebelumnya menggolongkan Bahau ke dalam kelompok tersendiri. Suku ini menurut Nieuwenhuis berasal dari App Kayan, yang belakangan tersebar ke berbagai penjuru. Kenyah setelah melakukan banyak pengembaraan akhirnya kembali pada Apo Kayan..."

Selanjutnya terdapat banyak tabel mengenai pembagian lebih terperinci berbagai kelompok suku di Kalimantan beserta tempat kediamannya, sebagai contoh akan dikutipkan tabel dari halaman 25:

Stammen               Geschlachten                  Woonplaats                  Bron, waaruit het
                                                                                                               gegeven geput is
(Suku)                   (Pembagian)                        (Tempat)                     (Sumber)

Ot Benoeoe                                             boven Lahai (Lahai hulu)       Mallinckrodt,
                                                                                                              Bijdragen K.I.
                                                                                                               1927 ...

Ot Toehoep                                                   beneden Toehoep
                                                                      (Tuhup hilir)

dan seterusnya.

Banyak terdapat tabel-tabel seperti ini, sehingga dapat menjadi informasi berharga mengenai pembagian suku Dayak beserta tempat kediaman masing-masing.

Di dalam buku ini diuraikan pula adat istiadat dalam menerima tamu, seperti pada halaman 59:

"Het ceremonieel, dat zulk een vreemde in Kotawaringin moet doormaken, beschreef ik in een opstel over de dorpsofferplaatsen van de Dajaks van Kotawaringin (2). Men ziet daarin zeer goed de strekking der magische handelingen. Ook elders vreest men de magie der vreemdelingen (duivelsdragers). Zoo schrijft Elsthout (3):

Over het algemeen heeft een Kenja liever geen vreemdelingen in zijn huis....."

Terjemahannya:

"Upacara yang hendaknya dijalankan oleh orang asing di Kotawaringin, telah saya paparkan dalam bagian mengenai tempat-tempat persembahan desa suku Dayak di Kotawaringin. Hal ini memperlihatkan dengan sangat baik pengaruh ilmu gaib. Di kawasan lainnya, orang takut terhadap ilmu gaib yang dimiliki orang asing (penguasa roh jahat). Demikianlah yang ditulis oleh Elsthout:

Secara umum orang Kenyah tidak menerima orang asing di rumahnya...."

Selain itu, terdapat pula ulasan mengenai adat istiadat perkawinan, perkara pembunuhan, dan lain sebagainya.

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info