sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Showing posts with label Kimia. Show all posts
Showing posts with label Kimia. Show all posts
Thursday, February 27, 2014
BUKU JADUL PELAJARAN ILMU KIMIA
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
BUKU JADUL PELAJARAN ILMU KIMIA
Ivan Taniputera
27 Februari 2014

Judul: Ilmu Kimia Djilid 1B Azas-Azas Ilmu Kimia
Penulis: Dr. S. C. Bokhorst, Prof Ir. E. J. G. Schermerhorn, Ir. r. Goenarso
Penerbit: J.B. Wolters, Djakarta, Groningen, 1952
Jumlah halaman: 145
Ini adalah buku mengenai dasar-dasar ilmu kimia, yang saat itu diperuntukkan bagi sekolah menengah umum, sekolah guru, dan sekolah dagang (ekonomi), dll. Berikut ini adalah daftar isinya:

Buku ini tidak hanya mengajarkan teori-teori saja, melainkan juga bermanfaat bagi kalangan industri, sebagai contoh di halaman 93 diulas mengenai seluk beluk pembuatan kaca, yang mengandung Si (Silisium):
"Bangsa2 silika mempunjai arti penting dalam industri. Katja misalnja terdiri atas tjampuran garam2 silikat; kebanjakan natriumsilikat dan kalsiumsilikat. Tetapi djuga kaliumsilikat dan timbelsilikat kedapatan dalam katja. Dengan adanja kaliumsilikat ini katja lebih tahan terhadap pengaruh2 kimia. Maka dari itu alat2 dari katja jang dipakai dalam laboratorium kebanjakan mengandung sedjumlah kaliumsilikat jang tertentu.
Timbelsilikat memperbesar daja membias tjahaja dari katja. Maka dari itu timbalsilikat dipergunakan dalam matjam2 katja untuk ber-matjam2 linsa (pada alat2 poteret, mikroskop2 dll.), atau untuk intan tiruan permata2 lainnja.
Katja biasa dibuat dengan melebur tjampuran sedjumlah zat2 antara lain: soda Na2CO3; batu gamping, CaCO3; pasir SiO2, dll. Reaksi-reaksi jang berlangsung dapat kita lukiskan dengan persamaan2:
Na2CO3 + SiO2 ---> Na2SiO + CO2 /|\ ;
CaCO3 + SiO2 ---> CaSiO3 + CO2 /|\.
Dalam keadaan sebetulnja reaksinja lebih sulit dari pada jang diberikan di sini.
Pada temperatur jang lebih tinggi dari pada 400*, katja lambat-......"
Berikut ini adalah contoh halamannya:


Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
Penulis: Dr. S. C. Bokhorst, Prof Ir. E. J. G. Schermerhorn, Ir. r. Goenarso
Penerbit: J.B. Wolters, Djakarta, Groningen, 1952
Jumlah halaman: 145
Ini adalah buku mengenai dasar-dasar ilmu kimia, yang saat itu diperuntukkan bagi sekolah menengah umum, sekolah guru, dan sekolah dagang (ekonomi), dll. Berikut ini adalah daftar isinya:

Buku ini tidak hanya mengajarkan teori-teori saja, melainkan juga bermanfaat bagi kalangan industri, sebagai contoh di halaman 93 diulas mengenai seluk beluk pembuatan kaca, yang mengandung Si (Silisium):
"Bangsa2 silika mempunjai arti penting dalam industri. Katja misalnja terdiri atas tjampuran garam2 silikat; kebanjakan natriumsilikat dan kalsiumsilikat. Tetapi djuga kaliumsilikat dan timbelsilikat kedapatan dalam katja. Dengan adanja kaliumsilikat ini katja lebih tahan terhadap pengaruh2 kimia. Maka dari itu alat2 dari katja jang dipakai dalam laboratorium kebanjakan mengandung sedjumlah kaliumsilikat jang tertentu.
Timbelsilikat memperbesar daja membias tjahaja dari katja. Maka dari itu timbalsilikat dipergunakan dalam matjam2 katja untuk ber-matjam2 linsa (pada alat2 poteret, mikroskop2 dll.), atau untuk intan tiruan permata2 lainnja.
Katja biasa dibuat dengan melebur tjampuran sedjumlah zat2 antara lain: soda Na2CO3; batu gamping, CaCO3; pasir SiO2, dll. Reaksi-reaksi jang berlangsung dapat kita lukiskan dengan persamaan2:
Na2CO3 + SiO2 ---> Na2SiO + CO2 /|\ ;
CaCO3 + SiO2 ---> CaSiO3 + CO2 /|\.
Dalam keadaan sebetulnja reaksinja lebih sulit dari pada jang diberikan di sini.
Pada temperatur jang lebih tinggi dari pada 400*, katja lambat-......"
Berikut ini adalah contoh halamannya:


Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Labels:
buku pelajaran,
Buku pelajaran jadul,
ilmu kimia,
Kimia,
sains
Saturday, May 19, 2012
Jenis Koloid : Sol
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair disebut sol. Koloid jenis sol banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industri.
Contoh sol : air sungai (sol dari lempung dalam air), sol sabun, sol detergen, sol kanji, tinta tulis, dan cat.
sumber:
buku catatan sekolah
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Jenis Koloid : Aerosol
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas disebut aerosol. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat, disebut aerosol padat. Jika yang terdispersi berupa zat cair, disebut aerosol cair.
- Contoh aerosol padat : asap dan debu dalam udara
- Contoh aerosol cair : kabut dan awan
Dewasa ini banyak produk dibuat dalam bentuk aerosol, seperti semprot rambut (hair spray), semprot obat nyamuk, parfum, cat semprot, dll.
Untuk menghasilkan aerosol diperlukan suatu bahan pendorong (propelan aerosol). Contoh bahan pendorong yang banyak digunakan adalah senyawa klorofluorokarbon (CFC) dan karbon dioksida.
sumber:
buku catatan sekolah
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Perbandingan/Perbedaan Sifat Larutan, Koloid, dan Suspensi
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Homogen, tak dapat dibedakan walaupun menggunakan mikroskop ultra.
Semua partikel berdimensi (panjang, lebar, atau tebal )kurang dari 1 nm.
Satu fase.
Stabil.
Tidak dapat disaring.
Contoh:
Larutan gula, larutan garam, spirtus, alkohol 70%, larutan cuka, air laut, udara yang bersih, dan bensin.
Koloid (Dispersi Koloid)
Secara makroskopis bersifat homogen jika diamati dengan mikroskop ultra.
Partikel berdimensi antara 1 nm sampai 100 nm.
Dua fase.
Pada umumnya stabil.
Tidak dapat disaring, kecuali dengan penyaringan ultra.
Contoh:
Sabun, susu, santan, jeli, selai, mentega, dan mayones.
Suspensi (Dispersi Kasar)
Heterogen
Salah satu atau semua dimensi partikelnya lebih besar dari 100 nm.
Dua fase.
Tidak stabil.
Dapat disaring.
Contoh:
Air sungai yang keruh, campuran air dengan pasir, campuran air dengan kopi, dan campuran minyak dengan air.
sumber:
buku catatan sekolahku
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Wednesday, May 9, 2012
Reaktor Nuklir : Proses Cara Kerja dan Dampak Radiasi Nuklir
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Manusia tidak dapat lepas dari ketergantungannya terhadap listrik sebagai salah satu sumber kehidupan. Melihat sudah menipisnya defisit bahan bakar maupun mineral sebagai pembangkit listrik banyak alternatif yang ditemukan, termasuk nuklir.
Reaktor nuklir adalah tempat terjadinya reaksi pembelahan inti (nuklir) atau dikenal dengan reaksi fisi berantai yang terkendali. Bagian utama dari reaktor nuklir yaitu: elemen bakar, batang kendali, moderator, pendingin dan perisai.
Reaktor nuklir dibedakan berdasarkan fungsinya menjadi dua, yaitu reaktor penelitian/riset, dan reaktor daya (pembangkit listrik tenaga nuklir.
Reaksi nuklir ini akan menghasilkan energi panas dalam jumlah cukup besar. Contohnya pada reaktor daya, energi panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk menghasilkan uap panas, dan selanjutnya digunakan untuk mengerakkan turbin-generator yang bisa menghasilkan listrik.
Sedangkan pada reaktor penelitian, panas yang dihasilkan tidak dimanfaatkan dan dapat dibuang ke lingkungan.
Berikut adalah garis besar cara kerja sebuah reaktor nuklir(jenis PWR) hingga bisa menghasilkan listrik, seperti yang dilansir Nuklir.INFO:
- Di dalam inti reaktor, reaksi fisi terjadi karena adanya penembakan neutron terhadap bahan bakar nuklir yang menghasilkan energi panas.
- Energi panas yang dihasilkan dari inti reaktor kemudian dibawa oleh air bertekanan pada primary loop ke generator uap.
- D idalam generator uap, air yang berasal dari secondary loop menjadi terpanaskan dan terbentuklah uap.
- Uap yang dihasilkan diarahkan ke turbin uap untuk memutar generator dan akhirnya menghasilkan listrik.
Tetapi kurang cermatnya perhitungan dalam pendinginan reaktor akan meningkatkan konsentrasi pada inti materi. Ini terbukti pada saat Jepang mengalami situasi serba kacau karena gempa dan gelap, memaksa para petugas berimprovisasi dalam mendinginkan reaktor.
"Mereka bekerja dalam keadaan panik untuk mencari solusi mendinginkan inti reaktor. Ini mengindikasikan seberapa seriusnya masalah. Mereka terpaksa melakukan tindakan yang tidak biasa dan berimprovisasi untuk mendinginkan reaktor nuklir," ujar Mark Hibbs, peneliti senior dari program kebijakan nuklir di Carnegie Endowment for International Peace.
Akibatnya, menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA) lebih dari 170.000 orang dalam radius 10-20 km dari instalasi pembangkit di Fukushima telah diungsikan sehubungan dengan ledakan yang terjadi pada pembangkit tersebut.
Dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi tinggi di sekitar reaktor nuklir antara lain mual, muntah, diare, sakit kepala, dan demam.
Sementara itu, dampak yang baru muncul setelah terpapar radiasi nuklir selama beberapa hari di antaranya adalah sebagai berikut: pusing, mata berkunang-kunang, disorientasi atau bingung menentukan arah, lemah, letih, dan tampak lesu, kerontokan rambut dan kebotakan, muntah darah atau berak darah, tekanan darah rendah, dan luka susah sembuh.
Dampak jangka panjang dari radiasi nuklir umumnya justru dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga bertahun-tahun. Beberapa dampak mematikan akibat paparan radiasi nuklir jangka panjang antara lain kanker, penuaan dini, gangguan sistem saraf dan reproduksi, dan mutasi genetik.
sumber:
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Saturday, April 28, 2012
Jenis-jenis Vaksin Dalam Program Imunisasi di Indonesia
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
a. Vaksin BCG
Jadwal pemberian
Diberikan 1 kali pada umur antara 0-2 bulan
Cara Pemberian dan Dosis:
• Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu. Melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril (ADS 5 ml)
• Dosis pemberian: 0,05 ml sebanyak 1 kali
• Disuntikkan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertio musculus deltoideus) , dengan menggunakan spuit suntik (ADS 0,05 ml)
• Vaksin yang dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam
b. Vaksin DPT
Jadwal Pemberian
Diberikan 3 kali (DPT 1,2,3), selang 4 minggu, umur antara 2-11 bulan
Cara Pemberian dan Dosis
• Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
• Disuntikkan secara im dengan dosis pemberian 0,5ml sebanyak 3 dosis
• Dosis pertama diberikan pada anak umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan dengan interval paling cepat 4 minggu
• Di unit pelayanan statis, vaksin DPT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu, dengan ketentuan:
• vaksin belum kadaluarsa
• vaksin disimpan dalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C
• tidak pernah terendam air
• sterilitasnya terjaga
• VVM masih dalam kondisi terjaga
• Di Posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya
c. Vaksin Jerap TT
Jadwal Pemberian
Pada WUS atau ibu hamil, dosis primer diberi 2 kali, ke 3 kali waktu 6 bulan kemudian. Diberikan 5 kali, ke 4 dan ke 5 diberikan interval minimal 1 tahun setelah pemberian ke 3 dan ke 4.
Cara Pemberian dan Dosis
• Sebelum digunakan vaksin harus dikocok lebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
• Untuk mencegah tetanus/tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang disuntikkan secara im atau sc dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis ke 3 setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan terhadap tetanus pada WUS, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis ke empat dan ke lima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ke 3 dan ke 4. Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada periode trimester pertama.
• Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan:
1. vaksin belum kadaluarsa
2. vaksin disimpan dalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C
3. tidak pernah terendam air
4. sterilitasnya terjaga
5. VVM masih dalam kondisi A dan B
• Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya
d. Vaksin DT
Jadwal Pemberian
Dianjurkan pada usia 8 tahun (usia anak SD)
Cara Pemberian dan Dosis
• Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
• Disuntikkan secara im atau sc dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml. Dianjurkan untuk anak usia di bawah 8 tahun. Untuk usia ≥ 8 tahun lebih dianjurkan imunisasi dengan vaksin Td
• Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan:
1. vaksin belum kadaluarsa
2. vaksin disimpan dalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C
3. tidak pernah terendam air
4. sterilitasnya terjaga
5. VVM masih dalam kondisi A dan B
• Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya.
e. Vaksin Polio
Jadwal Pemberian
Diberikan 4 kali (Polio 1, 2, 3, 4) selang 4 minggu, umur antara 0-11 bulan
Cara Pemberian dan Dosis
• Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis adalah 2 (dua) tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu
• Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang baru
• Di unit pelayanan statis, vaksin polio yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 2 minggu dengan ketentuan:
1. vaksin belum kadaluarsa
2. vaksin disimpan dalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C
3. tidak pernah terendam air
4. sterilitasnya terjaga
5. VVM masih dalam kondisi A atau B
• Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya
f. Vaksin Campak
Jadwal Pemberian
Pemberian 1 kali, umur antara 9 – 11 bulan
Cara Pemberian dan Dosis
• Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut
• Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subcutan pada lengan kiri atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangan (booster) pada usia 6 - 7 tahun (kelas 1 SD) setelah catch-up campaign campak pada anak SD kelas 1-6.
g. Vaksin Hepatitis B
Jadwal pemberian
Pemberian 3 kali selang 4 minggu, umur antara 0-11 bulan.
Cara Pemberian dan Dosis
• Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
• Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1 buah HB PID, pemberian suntikan secara im, sebaiknya pada anterolateral paha
• Pemberian sebanyak 3 dosis
• Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan interval minimum 4 minggu (1 bulan)
Untuk Hepatitis B vial
• Di unit pelayanan statis, vaksin Hep B yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan:
a. Vaksin belum kadaluarsa
b.Vaksin di simpan dalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C
c. Tidak pernah terendam air
d. Sterilitasnya terjaga
e. VVM masih dalam kondisi A dan B
• Sedangkan di Posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya
h. Vaksin DPT-HB
Vaksin mengandung DPT berupa toxoid difteri dan toxoid tetanus yang dimurnikan dan pertusis yang inaktivasi serta vaksin Hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg murni dan bersifat non infectious.
Jadwal Pemberian
Dosis pertama umur 2 bulan, diberikan 3 kali, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu
Cara Pemberian dan Dosis
• Pemberian dengan cara im, 0,5 ml sebanyak 3 dosis
• Dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu
• Di unit pelayanan statis, vaksin DPT-HB yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu, dengan ketentuan:
1. vaksin belum kadaluarsa
2. vaksin disimpandalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C
3. tidak pernah terendam air
4. Sterilitasnya terjaga
5. VVM masih dalam kondisi A dan B
• Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya.
sumber:
http://tutorialkuliah.blogspot.com/2011/03/jenis-jenis-vaksin-dalam-program.html
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sunday, April 15, 2012
Pewarnaan SitoHistoteknologi
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
METODE PEMBUATAN SEDIAAN, FIKSASI,
DEHIDRASI & PENJERNIHAN
A. METODE PEMBUATAN SEDIAAN
1. Metode Oles (Smear Methods)
Adalah suatu pembuatan sediaan dengan jalan mengoles / membuat selaput (film) dari substansi yang berupa cairan atau bukan cairan diatas gelas benda yg bersih dan bebas lemak, untuk selanjutnya kmd difiksasi, diwarnai dan ditutup dengan gelas penutup.
Bahan yang sering dibuat sediaan oles : darah, nanah / jaringan-jaringan tertentu. Cara ini sangat baik untuk mempelajari : sitologi darah, sumsum tulang merah, eksudat dari bermacam-macam jaringan yg meradang.
Contoh pembuatan sediaan oles :
- Pembuatan sediaan darah tipis
- Pembuatan sediaan oles dari jaringan
- Pembuatan sediaan darah tebal
- Pembuatan sediaan nanah yang tebal (nanah diencerkan dahulu dgn serum / cairan lain, bila keruh, disentrifugasi, endapan diencerkan lagi, siap dioleskan)
Beberapa pewarnaan sediaan oles : Pewarnaan Giemsa, Pewarnaan May Grunwald (larutan eosin-methylen blue dlm methyl alkohol), Pewarnaan Pappenheim, Pewarnaan Wright.
2. Metode Rentang (Spread)
Adalah suatu metode pembuatan sediaan dengan cara merentangkan suatu jaringan pada permukaan gelas benda sehingga dapat diamati dengan mikroskop.
Bahan yang dibuat jaringan yang tipis, misal : pleura, mesenterium, peritoneum, pericardium, dsb. Dapat diamati tanpa pewarnaan / dengan pewarnaan Mallory-Acid Fuchsin : Hematoksilin ; Azure II-Eosin.
3. Metode Pencet (Squash)
Adalah metode untuk mendapatkan suatu sediaan dengan cara memencet suatu potongan jaringan atau suatu organisme secara keseluruhan sehingga didapatkan suatu sediaan yang tipis yang dapat diamati dengan mikroskop.
Digunakan untuk jaringan yang sel-selnya mudah lepas, misal : lien, sumsum tulang, tumor seluler dll. Diambil ± 1 mm. Pewarnaan yang digunakan : Larutan Carmine.
4. Metode Supravital
Adalah metode untuk mendapatkan sediaan dari sel / jaringan yang hidup.
Zat warna : Janus Green, Neutral Red, Methylen Blue dengan konsentrasi tertentu. Bahan : darah, epithelium mukosa mulut.
5. Metode Irisan
Suatu metode pembuatan sediaan dengan jalan membuat suatu irisan dengan tebal tertentu sehingga dapat diamati dengan mikroskop.
Ada 2 macam metode irisan :
- Metode irisan dengan tangan
- Metode irisan dengan mikrotom
Metode Irisan dengan Mikrotom
Keuntungan : tebal irisan dapat diatur menurut tujuan dan kehendak pemeriksa.
Macam-macam Mikrotom
1. Mikrotom geser (Sliding Microtome)
Disini jaringan tetap pada tempatnya sedangkan pisaunya yang bergerak. Jaringan yang akan dipotong adalah jaringan yang tanpa penanaman (embedding) terlebih dahulu. Irisan dikumpulkan pada wadah berisi air, disini pisau dan kuas harus basah.
2. Mikrotom beku (Freezing Microtome)
Alat dihubungkan dengan tabung yg berisi CO2 dingin melalui suatu pipa karet. Disini jaringan tetap berada pada tempatnya, sedang pisau yang bergerak ke muka dan ke belakang. Digunakan dalam sediaan irisan dengan metode beku.
3. Mikrotom putar (Rotary Microtome)
Disini pisau tetap pada tempatnya sedangkan jaringan yang bergerak keatas dan kebawah. Digunakan untuk pembuatan sediaan irisan dengan metode paraffin.
Cara ini banyak digunakan karena irisan yang diperoleh lebih tipis dibanding metode lain dan hampir semua jaringan dapat diiris dengan mikrotom ini.
Disini irisan jaringan yang terjadi satu sama lain saling bergandengan sehingga terbentuk pita yang panjang.
B. FIKSASI
Suatu usaha untuk mempertahankan elemen-elemen sel / jaringan agar tetap pada tempatnya dan tidak mengalami perubahan bentuk dan ukuran. Zat yang digunakan : fiksatif.
Fiksatif :
- Mempunyai kemampuan mengubah indeks bias bagian sel sehingga mudah dilihat dengan mikroskop.
- Membuat jaringan mudah menyerap zat warna.
Lama fiksatif tergantung :
- Macam jaringan
- Tebal tipisnya jaringan
- Macam fiksatif yang dipergunakan.
Macam-macam fiksatif
a. Larutan fiksatif sederhana
Hanya mengandung satu macam zat saja. Misal : etanol 70-100% ; Formaldehyde 4-10% ; Asam asetat 0,3-5% ; Asam pikrat ; asam Chromiat 0,5-1 % dll.
b. Larutan Fiksatif Majemuk / campuran
Mengandung lebih dari satu macam zat. Misal : larutan Bouin (asam pikrat, formalin dan asam asetat glasial) ; Larutan Zenker (merkuri chlorida, potassium dichromate, aquadest) dll.
Larutan Zenker : Nuklei dan jaringan pengikat sangat terpulas baik terutama jaringan tumor.
C. DEHIDRASI
Adalah penarikan molekul air dari dalam jaringan. Dilakukan setelah proses fiksasi, kegagalan / ketidaksempurnaan pada proses ini menyebabkan kegagalan pada langkah selanjutnya.
Sel pada jaringan hidup mengandung air ± 85% , air tidak tercampur dengan paraffin / seloidin sehingga perlu dehidrasi. Kemikalia yang digunakan : ethanol, Dioxane, Acetone dsb. Dehidrasi menggunakan alkohol bertingkat mulai konsentrasi rendah sampai absolut.
D. PENJERNIHAN
- Kemikalia berfungsi membuat jaringan menjadi jernih dan transparan.
- Merupakan perantara antara proses dehidrasi dengan proses penanaman.
- Bila memakai alkohol pada dehidrasi perlu dilakukan dealkoholisasi.
- Waktu yang dipergunakan tergantung dari : tebal jaringan, zat penjernih yang dipergunakan.
- Macam-macam zat penjernih :
- Xylol / Xylene
Kebaikan : prosesnya cepat, mudah didapat. Kejelekan : jaringan dapat dipindahkan ke kemikalia ini hanya dari alkohol absolut.
- Toluol / Toluene
Kebaikan : harga murah, mudah didapat, prosesnya cepat dan jaringan menjadi jernih. Kejelekan : Bila terlalu lama dalam toluen jaringan menjadi keras dan sukar diiris, jaringan dapat dipindahkan kesini dari alkohol absolut.
- Minyak Cedar
Kebaikan : hanya sedikit mengerutkan jaringan. Kejelekan : prosesnya lambat.
- Chloroform
Kebaikan : hanya sedikit pengerutan, dapat digunakan untuk jaringan-jaringan yang besar. Kejelekan : mahal dan sukar dipindahkan ke paraffin
- Minyak Cengkeh
Kebaikan : proses cepat, jaringan dapat dipindahkan langsung dari alkohol 95 % , hanya sedikit pengerutan. Kejelekan : mahal harganya, sukar untuk memindahkan jaringan ke paraffin.
- Minyak Anilin
Kebaikan : proses cepat, dapat dipindahkan langsung dari alkohol 70 % dan hanya sedikit mengerutkan jaringan. Kejelekan : sukar dipindahkan ke parafin.
- n – Butyl Alkohol
Kebaikan : sangat baik untuk objek-objek yang keras dan padat. Kejelekan : memerlukan waktu lama.
METODE PARAFIN
Kebaikan metode ini :
1. Irisan dapat jauh lebih tipis daripada menggunakan metode beku / seloidin (tebal irisan > 10 µ) dengan metode parafin tebal irisan 6 µ.
2. Irisan yang bersifat seri dapat dikerjakan dengan mudah
3. Prosesnya jauh lebih cepat.
Kejelekan :
1. Jaringan menjadi keras, mengerut dan mudah patah.
2. jaringan yang besar tidak dapat dikerjakan
3. Sebagian besar enzim akan larut
Urutan kerja pembuatan sediaan irisan dengan metode parafin :
Fiksasi ; pencucian (washing) ; dehidrasi ; penjernihan ; infiltrasi parafin ; penanaman (embedding) ; penyayatan (section) ; penempelan (affiksing) ; deparafinasi ; pewarnaan (staining) ; penutupan (mounting) ; labelling.
METODE PARAFIN
Fiksasi
Organ yang diambil segera difiksasi, kalau diperlukan sebelum difiksasi dicuci dulu dengan larutan garam difisiologis.
Pencucian
Untuk menghilangkan larutan fiksasi dari jaringan dilakukan beberapa kali dengan cermat dan teliti.
Dehidrasi
Untuk menarik air yang terdapat didalam jaringan agar nantinya seluruh ruang antar sel dalam jaringan dapat diisi oelh molekul-molekul parafin.
Dehidran yang paling banyak digunakan : alkohol (dari prosentasi rendah sampai yang absolut) setingkat demi setingkat karena untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan yang tiba-tiba terhadap sel jaringan sehingga perubahan struktur sel yang terjadi sekecil mungkin.
Penjernihan
ntuk menarik alkohol/ dehidran lain dalam jaringan agar nantinya dapat digantikan molekul parafin.
Infiltrasi Parafin
Dipilih parafin yang titik cairnya 50-56OC. Sebaiknya jaringan jangan dimasukkan langsung dari zat penjernih ke parafin murni tetapi kedalam campuran zat penjernih-parafin murni untuk menghindari perubahan lingkungan yang sangat mendadak terhadap jaringan sehingga jaringan dapat mengerut.dll.
Dalam campuran : selama 10 – 30 menit
Parafin murni I : 30 – 60 menit \
Parafin murni II : 30 – 60 menit } Tujuan : Agar jaringan mendapatkan
Parafin murni III : 30 – 60 menit / parafin yang betul murni.
Juga untuk mencegah tertahannya sejumlah besar zat penjernih didalam jaringan yang akan melunakkan jaringan dan membuat jaringan sukar diiris.
Penanaman Dalam Jaringan
Parafin yang digunakan mempeunyai titik cair yang sama dengan parafin untuk infiltrasi. Setelah jaringan dianggap cukup waktunya dalam parafin III tuangkan parafin murni kedalam kotak karton hingga penuh.
Ambil jaringan dengan cepat dari parafin III masukkan kotak yang berisi parafin cair dan usahakan tidak terjadi gelembung udara didalam blok, gelembung udara terjadi karena kecepatan pembekuan parafin yang tidak sama didalam kotok karton.
Penyayatan
Bila akan menempelkan irisan jaringan pada gelas benda, maka disiapkan dahulu alat / bahan sebagai berikut :
1. Gelas benda
2. Albumin Mayer untuk merekatkan jaringan pada gelas benda
3. Meja pemanas (hot Plate) : tempat pemanasan yang berfungsi untuk merentangkan irisan jaringan dan merekatkan jaringan pada gelas benda.
4. Pipet tetes
5. Aquadest
6. Sonde
Cara penempelan :
Teteskan setetes albumin Mayer pada gelas benda dan diratakan seluruh permukaan. Tetesilah aquadest (agar irisan jaringan yang akan diletakkan terentangm tidak melipat), lalu jaringan diletakkan dan angkat gelas benda letakkan pada meja pemanas. Atur letak irisan dengan 2 sonde. Dalam satu gelas benda dapat ditempel 1-2 irisan tergantung besar kecilnya jaringan. Setelah kering, siap untuk diwarnai tetapi dapat juga disimpan untuk beberapa hari.
Pewarnaan
Deparafinasi : menghilangkan parafin yang terdapat didalam jaringan. Caranya : merendam gelas benda yang berisi irisan jaringan kedalam Xylene ± 15 menit.
Berikutnya : Masukkan kedalam alkohol 96 %, 80 %, 70 %, dst sampai aquadest dengan waktu beberapa detik / 3-4 kali celupan. Masukkan kedalam larutan zat warna aquosa.
Pewarnaan Hematoxylin-Eosin
- Deparafinasi dengan xylene
- Kelebihan xylene diisap dengan kertas filter melalui tepi gelas benda.
- Celup sebentar dalam alkohol 96%, kemudian 80%, 70%, 50%, 30%, aquadest.
- Masukkan kedalam larutan Hematoxylin dengan waktu tertentu : 3-7 detik.
- Air mengalir : 10 menit. Cuci aquadest sebentar.
- Masukkan sebentar saja berturut-turut mulai dari alkohol 30%, 50%, 70%.
- Kemudian kedalam larutan eosin 0,5% (dalam alkohol 70%) 1-3 menit.
- Pewarnaan selesai, tetapi jaringan tidak dapat ditutup langsung dengan Canada balsam, karena Canada balsam dilarutkan dalam xylene, sedangkan jaringan masih berada dalam media alkohol 70% sehingga jaringan harus dibawa ke media xylene dulu.
- Dari larutan eosin 0,5% (dalam alkohol 70%) selanjutnya berturut-turut masukkan ke alkohol 70%, 80%, 96%, alkohol absolut, masing-masing sebentar saja.
- Masukkan xylene ± 10 menit (xylene berfungsi untukl mengantar ke canada balsam juga berfungsi untuk menjernihkan jaringan yang sudah terpulas).
- Jrigan ditutup dengan gelas penutup setelah ditetesi dengan Canada balsam terlebih dahulu.
Pelabelan
Label dituliskan : nama spesies, nama organ / jaringan, potongan melintang / membujur, pewarnaan yang digunakan, tanggal pembuatan.
Metode Pewarnaan
Metode Hasil
Hematoxylin-Eosin Biru (hematoxylin)
Sitoplasma basofilik, nukleus, bakteri, Ca. Merah (eosin)
Sitoplasma, jaringan ikat dan semua jaringan lain.
Van Gieson Kuning (as. pikrat)
Sitoplasma, otot, amiloid, fibrin, fibrinoid. Merah (fuchsin)
Jaringan ikat, hyalin. Hitam (iron hematoxylin)
Nukleus
Elastic Stain Hitam (resorchin-fuchsin)
Serabut elastik
Merah (nuklear fast red)
Nukleus
Elastic-Van Gieson (E.V.G) Kombinasi
Azan Merah (Azocarmine)
Nukleus, eritrosit, fibrin, fibrinoid, sitoplasma acidofilik Biru (Aniline blue, Orange G)
Serabut kolagen, sitoplasma basofilik, mukus.
Silver Stain Hitam (ammoniakal AgNO3)
Serabut retikulum, serabut saraf. Abu-abu
Serabut kolagen
Fat stain Merah (Sudan III, Scarlet Red)
Lemak netral Biru (Hematoxylin)
Nukleus, sitoplasma
Congo Red Merah (Congo Red)
Amyloid Biru (Hematoxylin)
Nukleus
Weigerts Fibrin Stain Biru (Lugol Solution)
........
Merah (Nuclear Fast Red)
......................
Berlin Blue Reaction Biru (Ca. Ferrocyanid)
Hemosiderin, Fe3+ Merah (Nuclear Fast Red)
Nukleus
Giemsa Biru (metil violet)
Nukleus, semua substansi basofilik. Merah (azur-eosin)
Eosinofil, sitoplasma, granula, serabut kolagen.
Ziehl-Neelsen Merah (carbol Fuchsin)
Basil tbc, Lepra Biru
Hemalum
Nukleus
Periodic Acid Schiff Reaction (PAS) Merah (Schiff Reagent)
Adjacent hydroxyl Groups & amino-alkohol.
PERIODIC ACID SCHIFF (PAS)
Prinsip :
Setelah pengecatan karbohidrat dipecah oleh periodic acid menjadi aldehid dan aldehid bereaksi dengan reagen Schiff membentuk warna merah.
Reagen :
Asam Periodat 0,5% dan Schiff (100 ml)
Reagen Schiff :
1 gr Basic Fuchsin dilarutkan dalam 200 cc aquades panas, dinginkan 50OC. Tambah bubuk padat sodium metabisulfid 2 gr, kocok sampai rata. Tambahkan HCl 10 cc, diamkan pada suhu kamar yang gelap 24 jam. Setelah itu tambah norit 0,5 gr kocok sampai rata (merah jadi hitam), pada pemakaian disaring hingga jernih.
Prosedur :
- Deparafinisasi, cuci dengan air.
- Tambahkan periodic acid selama 5 menit, tambahkan cat Schiff selama 15 menit. Cuci air 15-20 menit (sampai jaringan berwarna merah muda)
- Beri reagent Harris Hematoksilin 6 menit, cuci dgn air untuk melarutkan Harris Hematoksilin.
- Beri acid alkohol 3-5 menit
- Cuci dengan air, baru kmd diberi amonium water sampai warna biru hilang.
- Lakukan dehidrasi, clearing, mounting.
Interpretasi :
Sitoplasma merah
KANKER
Kanker adalah suatu pertumbuhan sel-sel abnormal yang cendrung menginvasi jaringan disekitarnya dan menyebar ke tempat-tempat jauh.
Kategori kanker
- Karsinoma adalah kanker jaringan epitel termasuk sel-sel kulit, testis, ovarium, kelenjar penghasil mukus, sel penghasil melanin, payudara, serviks, kolon, rektum, lambung, pankreas dan esophagus.
- Limfoma adalah kanker jaringan limfe yang mencakup kapiler limfe, limpa, berbagai kelenjar limfe dan pembuluh limfe. Timus dan sumsum tulang juga dapat dipengaruhi. Limfoma spesifik antara lain penyakit Hodgkin (kanker kelenjar limfe dam limpa) dam Limfoma Malignum.
- Sarkoma adalah kanker jaringan ikat, termasuk sel-sel yang ditemukan di otot dan tulang.
- Glioma adalah kanker sel-sel glia (penunjang) di susunan saraf pusat.
- Karsinoma in situ adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sel epitel abnormal yang masih terbatas di daerah tertentu sehingga masih dianggap lesi pra invasif.
Patogenesa :
Etiologi tidak jelas, ada beberapa teori :
- Genetik - Hormon
- Lingkungan - Virus
Teori Genetik
Keganasan terjadi akibat dari mutasi gen yang mempengaruhi proses pertumbuhan kemudian berkembang abnormal (ganas).
Teori Lingkungan
Keadaan lingkungan bisa mendorong/merangsang terjadinya keganasan. Misal : lingk. Pabrik banyak menghasilkan bahan carcinogenik.
Teori Hormon
Hormon dapat menyebabkan keganasan . misal : estrogen pada pil KB dikombinasi dgn progesteron sehingga tidak begitu bahaya.
Teori Virus
- Virus dalam tubuh mempunyai efek lisis steady state effect, incorporated.
- Incorporated : terjadi ikatan antara DNA/RNA virus dengan DNA sel sehingga ganas. Sel yang ganas pada keadaan yang memungkinkan : Inisiator dan Promotor
- Inisiator : bahan /jasad renik yang menyebabkan carcinogenesis
- Promotor : Bahan dari lingkungan / jasad renik / sesuatu yang dapat mendorong terjadinya carcinogenesis.
- Promotor dan inisiator pada proses carcinogenesis bekerja satu sama lain.
CARCINOGENESIS CERVIC
Cervic merupakan pertemuan antara epitel columnar (dalam uteri) dan Squamosa vagina, seringterjadi keganasan.
Carsinoma Cervic dapat dideteksi dengan metode PAP Smear. Faktor insidense adalah :
- Sex terlalu muda (<17 tahun)
- Ganti-ganti pasangan.
- Wanita yang banyak melakukan perkawinan
- Tingkat sosial ekonomi yang berhubungan hygiene sanitasi.
Deteksi :
1. PAP Smear
2. Schiller Test
3. Biopsi Kemudian diperiksa secara Patologi Anatomi
Keterangan :
Schiller Test adalah suatu cara dgn pengecatan biasa dgn larutan Iodium dab Potassium Chlor.
Prinsip :
Pada sel yang mengalami keganasan jumlah glikogennya kecil, hasilnya pucat. Pada sel-sel normaljumlah glikogen banyak (warna coklat : normal, tidak berwarna ganas) tapi ada juga positif palsu yaitu pada hiperplasia dan displasia. Jumlah glikogen kecil sekali namun juga merupakan gejala dini dari suatu keganasan.
PEWARNAAN PAPANICOLAOU (GURR, 1960)
Reagen yang diperlukan :
a. Hematoxylin Ehrlich / Harris
b. Orange G
- Phosphotungstic Acid 1 % aquosa 1,5 ml
- Alkohol absolut 95 ml
- Aquadest 3,5 ml
c. Papanicolaou 0,7 gram
Alkohol 95 % 100 ml
Letakkan dalam botol dan sumbatlah botol dengan kain katun kemudian panaskan dalam bak yang berisi air panas hingga larut. Dinginkan kemudian saring dengan kertas saring.
Prosedur
1. Sediaan apus yang masih basah, difiksasi dalam campuran eter + alkohol absolut (dalam volume yang sama) selama 5-15 menit.
2. Cuci berturut-turut dalam alkohol 90%, 70% dan 50%.
3. Cuci dalam aquadest
4. Warnai dalam Hematoxylin Ehrlich / Harris selama 5-10 menit.
5. Cuci lagi dalam aquadest
6. Diferensiasi dalam 0,5% HCl, cuci dalam aquadest.
7. Celup dalam aquadest dimana ditambahkan 3 tetes Lithium Carbonat jenuh dalam setiap 100 ml aquadest.
8. Cuci seluruhnya dalam aquadest
9. Cuci berturut-turut dalam alkohol 50%, 70% dan 90%
10. Warnai selama 1 menit dalam larutan Orange G
11. Cuci seluruhnya dalam alkohol 95% untuk menghilangkan kelebihan zat warna.
12. Warnai selama 2 menit dalam Papanicolaou
13. Cuci selama 5-10 menit dalam setiap Staning Jar yang berisi alkohol 95% (disini ada 3 buah Staining-Jar yang berisi alkohol 95%.
14. Cuci dalam alkohol absolut
15. Jernihkan dalam xylene dan tutup dalam Dpx atau Crystalite.
sumber:
http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2010/01/metode-pembuatan-sediaan-fiksasi.html
sumber:
http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2010/01/metode-pembuatan-sediaan-fiksasi.html
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sunday, April 8, 2012
Thin Layer Chromatography (TLC)
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Bagi anda seorang yang bekerja di laboratorium kesehatan, baik seorang analis kesehatan, analis kimia, maupun analis farmasi, pasti tidak asing lagi dengan metode ini, yaitu kromatografi lapis tipis (KLT/TLC)
A. Fungsi alat ini :
Untuk memeriksa zat-zat seperti : Pestisida, Obat-obatan dan zat-zat lain yang dapat larut dalam pelarut organik misalnya : toxin, bahan-bahan kosmetika dan lain-lain.
Thin layer chromatography adalah suatu alat yang bekerjanya berdasarkan atas chromatography adsorbsi.
Pada cara ini komponen-komponen suatu campuran memisah karena perbedaan kecepatan migrasi pada lapisan adsorben yang tipis. Sejak tahun 1960 cara ini digunakan secara luas karena : cepat, peka dan mempunyai daya pemisah yang besar.
Suatu campuran dengan komponen dalam jumlah mikro dapat dipisahkan dengan efisien.
B. Komponen Alat dan Reagen
1. Alat-alat :
a. Adsorben Applicator : alat untuk membuat layer pada lempeng kaca (glass-plate) berukuran 20 x 20 cm.
b. Tempat menyimpan lapisan adsorben yang telah jadi.
c. Oven : untuk mengaktifkan layer.
d. Lempeng plastik untuk meneteskan / menyemprotkan (Spottling Guide).
e. Chromatography Chamber (tempat meng-eluir).
f. Lampu Ultraviolet (UV)
g. Alat Spray.
h. Pipa kapiler.
2. Reagent.
a. Silica Gel-G (Merck)
b. n Hexan (merck)
c. AgNO3 0,5 % dalam ethanol.
d. Alcohol
e. Aceton.
f. Asam acetat 5%
g. Bahan standard untuk gol. Chlorinated Hydrocarbon Insectisida (CHI) : Aldrin,DDT, Endrine, Thiodan.
Bahan standard untuk pestisida golongan Organo Phosphat esther Insectisida (OPI) : Diasinon, Malathion, Sumithion, Phosphamidon dan lain-lain.
C. Prosedur Pemeriksaan :
1. Pembuatan Layer :
a. Siapkan adsorben applicator untuk membuat layer setebal 0,25 mm atau 0,2 mm diatas lempeng kaca ukuran 20 x 20 cm.
b. 10 gram silica gel G dimasukkan dalam mortir yang bergaris tengah 10 cm.
c. Tambah 20 cc / 22 cc aquadest dengan cara bertahap yaitu dengan memberi 16 cc dahulu stop watch dipijit kemudian di aduk pelan-pelan, sampai menjadi massa pasta putih yang homogen dan usahakan bebas dari gelembung-gelembung udara. Sambil di aduk tambah lagi aquadest 2 cc, aduk, tambah lagi 2 cc. Kalau massa masih kental tambah lagi 2 cc. Penambahan Aquadest ini menurut keperluannya sampai memperoleh pasta yang baik.
d. Kemudian dimasukkan pada adsorben applicator, lempeng kaca di dorong. Maka silica gel akan melapisi lempeng kaca.
e. Waktu yang diperlukan sejak penambahan aquadest yang pertama samapi pendorongan lempeng kaca tidak boleh lebih dari 100 detik.
f. Adsorben layer yang sudah selesai di dorong dibiarkan dulu selama 5 menit diatas Applicator adsorben, kemudian dikeringkan di udara biasa selama 2 jam.
g. Layer tersebut kalau akan di pakai harus diaktifkan dahulu dalam oven selama 30 menit temperatur 110oC.
2. Cara Chromatograhy.
a. Penetesan / Penyemprotan.
Sampel (bahan yang akan diperiksa) di ekstraksi dahulu dengan pelarut yang sesuai, misalnya untuk pemeriksaan pestisida maka pelarutnya yaitu : n Hexan atau Chloroform (CHCl3). Kalau sampel berupa padat maka harus diekstrak dengan alat Soxhlet. Layer di beri tanda pada permulaan elusi dan pada akhir elusi (perambatan eluent).
1. Pada tepi bagian bawah tidak dibuat garis, hanya diberi titik pada bagian tepi sebagai tanda permulaan elusi atau pada tempat penetesan.
2. Pada bagian tepi atas dibuat garis sebagai garis akhir perambatan eluent berjarak 12/14 cm dari titik penetesan.
Pasang lempeng plastik (Spottling Guide) diatas layer. Hasil ekstraksi diteteskan / disemprotkan pada layer dengan jarak antara spot-spot sampel atau spot sampel dengan standard diatur sedemikian rupa supaya tidak terlalu dekat. Diameter tetesan diusahakan maksimum 6 mm.
b. Elusi
i. Setelah selesai penetesan , layer dibiarkan Selama 5 menit (diuapkan).
ii. Masukkan ke dalam chamber, yang sebelumnya sudah diisi dengan larutan eluent missal n Hexan (eluent dituangkan kedalam chamber 1 jam sebelum penetesan, supaya ruang chamber jenuh dengan eluent).
iii. Karena gaya kapiler, maka eluen bermigrasi ke atas.
iv. Komponen-komponen zat / pestisida yang terdapat dalam campuran ikut bermigrasi ke atas, dengan kecepatan yang berbeda sesuai dengan kelarutannya dalam eluen dan berbanding terbalik dengan affinitasnya terhadap adsorbent.
v. Setelah eluent mencapai garis akhir elusi layer dikeluarkan dari chamber, dan diuapkan.
vi. Kemudian layer ditempatkan pada spray box dan siap di spray.
c. Penyemprotan.
Reagent untuk spray yang dipakai untuk pestisida ada 2 macam :
1. Untuk Pestisida golongan Chlor Hidro Carbon : menggunakan larutan AgNO3 0,5 % dalam alcohol.
2. Untuk Pestisida golongan Phoisphat eshter menggunakan larutan Brom Phenol Blue dan asam acetat 5 %.
Setelah layer di spray, diuapkan dan dipanasi Sinar Ultra Violet, maka akan terlihat spot-spot.
Pada Pestisida golongan Chlor Hydro Carbon : abu-abu.
Pada Pestisida golongan Phosphat Esther : Biru – Violet.
a. : Untuk permulaan elusi
b. : Garis akhir dari permbatan elusi.
c. : Tinggi permukaan eluen tidak boleh
Melampaui a
Gambar layer di dalam chromatography chamber.
Pembacaan :
1,2,3 : Standard : Aldrine, DDT, Endrin.
4 sampel : terdapat spot yang Rf sama dengan spot no. 1 (aldrine). Jadi sampel no.4 terdapat aldrine.
5 sampel tidak terdapat spot, jadi sampel nomor 5 tidak ditemukan pestisida aldrine, DDT, endrine.
Rf : perbandingan antara jarak yang ditempuh zat dengan jarak yang ditempuh oleh eluen. Tinggi / jarak aldrin missal 10 cm.
Maka Rf nya = 10/12 10 = jarak yang ditempuh oleh zat
= 0,833 12 = jarak yang ditempuh oleh eluent.
D. Sarana Penunjang :
1. Timbangan (Balance pharmacenlia )
2. Labu Erlenmeyer
3. Gelas ukur
4. Mortir diameter 10 cm dengan stampernya.
5. Alat pencatat waktu
6. Alat untuk ekstraksi
E. Komponen Biaya :
1. Membeli alat pokok
2. Membeli reagensia
3. Pengadaan sarana penunjang dan spare part seperti :
a. Alat spray dari kaca atau sprayer dengan aerosol
b. Chromatography Chamber
c. Pipa kapiler
sumber:
http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2010/12/thin-layer-chromatography-tlc.html
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sunday, April 1, 2012
Pembagian Proses Penggorengan (makanan)&Dampak minyak Goreng Bekas Terhadap Kesehatan
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Minyak merupakan bahan dasar yang penting bagi industri makanan. Pada proses penggorengan, minyak berfungsi sebagai medium penghantar panas, menambah rasa gurih, menambah nilai gizi dan kalori dalam bahan pangan (Ketaren, 1986). Pada umumnya, proses penggorengan dibedakan menjadi dua macam, yaitu sistem pan frying dan deep frying. Ciri dari sistem pan frying adalah bahan pangan yang digoreng tidak sampai terendam di dalam minyak, sedangkan pada sistem deep frying dibutuhkan banyak minyak karena bahan pangan yang digoreng harus terendam seluruhnya.
Proses menggoreng biasanya mengggunakan minyak dengan metode deep frying sehingga menyisakan minyak goreng yang cukup banyak. Minyak ini biasanya tidak dibuang, tetapi digunakan kembali untuk menggoreng sebagai usaha penghematan. Akibatnya minyak mengalami pemanasan berulang-ulang. Menurut Belitz dan Grosch (1999), pemanasan minyak yang dilakukan secara berulang-ulang pada suhu tinggi, akan mengakibatkan terjadinya perubahan sifat fisiko-kimia minyak, yaitu akan menghasilkan senyawa hasil oksidasi yang dapat menimbulkan pengaruh yang membahayakan kesehatan.
Berbagai macam gejala keracunan, yaitu iritasi saluran pencernaan, pembengkakan organ tubuh, dan kematian telah diobservasi pada hewan yang diberi lemak yang telah dipanaskan dan teroksidasi. Selain itu, kerusakan pada minyak akibat pemanasan pada suhu tinggi (200 – 250oC) akan mengakibatkan pengendapan lemak dalam pembuluh darah (artherosclerosis), tumor, dan menurunkan nilai cerna lemak (Erasmus, 1989). Selain mengakibatkan penyakit degeneratif untuk jangka panjang, penggunaan minyak goreng bekas juga akan menurunkan kualitas bahan pangan yang digoreng.
Reaki-reaksi yang terjadi pada minyak goreng selama proses penggorengan meliputi reaksi hidrolisis, oksidasi, dan polimerisasi.
Reaksi tersebut akan menyebabkan kerusakan sehingga minyak menjadi berasap atau berbusa dan akan meninggalkan warna coklat serta flavor yang tidak disukai dari makanan yang digoreng (Orthoefer, 1989 dikutip Winarno, 1999).
Industri makanan biasanya menggunakan minyak goreng yang telah digunakan selama beberapa kali. Hal tersebut dikarenakan penggunaan minyak goreng bekas pada proses penggorengan akan mengurangi biaya produksi. Menurut Winarno (1999), karena tingginya biaya untuk pembelian minyak goreng pada industri pangan, maka diperlukan metode untuk memperpanjang frekuensi pemakaian minyak goreng dengan melakukan proses daur ulang.
sumber:
http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/01/pembagian-proses-penggorengan-makanan.html
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sunday, March 18, 2012
Komposisi Tubuh Manusia Dan Keseimbangan Asam & Basa
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Tubuh manusia terdiri atas cairan dan zat padat. Empat puluh persen tubuh manusia merupakan zat padat seperti protein, lemak, mineral, karbohidrat, material organik dan non organic. Enampuluh persen sisanya adalah cairan. Dari 60% komposisi cairan, 20 % merupakan cairan ekstraseluler dan 40% merupakan cairan intraselluler. Empat persen cairan ekstraseluler berada dalam pembuluh darah berupa plasma darah dan 16% terdapat di interstisial. Perbedaan yang penting pada plasma dan cairan interstisial adalah adanya protein yang larut dalam plasma sedangkan di interstisial tidak ada.
A. Komposisi Tubuh Manusia
Tubuh manusia terdiri atas cairan dan zat padat. Empat puluh persen tubuh manusia merupakan zat padat seperti protein, lemak, mineral, karbohidrat, material organik dan non organic. Enampuluh persen sisanya adalah cairan. Dari 60% komposisi cairan, 20 % merupakan cairan ekstraseluler dan 40% merupakan cairan intraselluler. Empat persen cairan ekstraseluler berada dalam pembuluh darah berupa plasma darah dan 16% terdapat di interstisial. Perbedaan yang penting pada plasma dan cairan interstisial adalah adanya protein yang larut dalam plasma sedangkan di interstisial tidak ada.
B. Pergerakan Cairan Tubuh
Pergerakan antar kompartemen (intrasel, plasma dan interstisial) di kontrol oleh dua kekuatan yaitu: tekanan hidrostatik dan tekanan osmotic. Tekanan hidrostatik merupakan tekanan yang mendorong air untuk keluar dari plasma ke interstisial. Tekanan tersebut sekitar 282 mOsmle/L. Tekanan osmotic merupakan tekanan yang mempertahankan air tetap dalam plasma dan menarik air dari interstisial. Tekanan osmotic sekitar 281 mOsmole/L.
C. Keseimbangan Cairan Dan Konsentrasi Zat Terlarut
Total konsentrasi zat terlarut di interstisial sedikit lebih rendah dibandingkan dengan plasma. Sedangkan konsentrasi air dalam interstisial lebih tinggi daripada plasma. Perbedaan tersebut diatas karena adanya protein dalam plasma.Memahami konsep keseimbangan cairan dan konsentrasi zat terlarut pada setiap kompartemen ini juga akan memudahkan kita memahami mekanisme terjadinya edema. Edema diakibatkan karena ketidakseimbangan pergerakan cairan. Hal ini terjadi karena:
1. Protein plasma keluar dari sirkulasi saat dinding pembuluh darah rusak.
2. Pada penyakit hati dimana terjadi penurunan sintesis protein plasma
3. Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler
4. Obstruksi pembuluh limfatik
5. Reaksi peradangan, respon terhadap infeksi, atau kerusakan jaringan sehingga kapiler menjadi lebih permeabel.
AIR
Air berikisar antara 47-77%. Air berungsi:
1. Untuk transportasi nutriens dan zat buangan
2. Sebagai media reaksi kimia
3. Sebagai pelarut elektrolit dan zat terlarut lainnya
4. Membantu mempertahankan suhu tubuh
5. Untuk transport enzim, hormon, sel darah dan zat-zat lain
Elektrolit
Elektrolit adalah senyawa yang dapat menjadi ion saat larut. Ion yang bermuatan positif disebut kation sedangkan ion bermuatan negatif disebut anion. Non elektrolit adalah zat yang saat larut tidak membentuk ion.
Natrium/Sodium
Konsentrasi natrium di ekstrasel lebih tinggi dari intrasel. Natrium merupakan ion yang sangat penting dalam pengaturan tekanan osmotik. Konsentrasi natrium di cairan ekstrasel sekitar 142 mEq/L. Jika keadaan konsentrasi Na rendah dari nilai normalnya disebut dengan hiponatremi sedangkan konsentrasi yang tinggi disebut hipernatremi. Didalam tubuh Natrium berfungsi untuk:
1. Membantu kontrol kontraksi otot
2. Membantu mempertahankan iritabilitas neuromuskuler
3. Mempertahankan volume darah
4. Pengaturan volume cairan ekstraseluler
5. Stimulasi konduksi impuls syaraf.
Kalium/Potassium
Sekitar 4,5 mEq/L di cairan ekstrasel, konsentrasi intrasel lebih tinggi daripada ekstrasel. Konsentrasi lebih itnggi dari normal disebut hiperkalemi sedangkan konsentrasi lebih rendah disebut hipokalemi. Kalium berfungsi:
1. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit di intrasel
2. Membantu peningkatan transmisi impuls syaraf terutama di jantung
3. Membantu transformasi karbohidrat menjadi energi
4. Membantu keseimbangan asam basa melalui pertukaran dengan ion hidrogen
Elektro
lit Lain
o Magnesium
o Klorida
o Hidrogen
o Klasium
D. Hormon Yang Terkait
Hormon yang terkait dalam pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit diantaranya adalah ADH, Aldosteron dan Atrial Natriuretic Peptide.
E. PENGATURAN KESEIMBANGAN ASAM BASA
Asam adalah Molekul yang mengandung atom hidrogen yang dapat melepaskan ion hidrogen dalam larutan. Contohnya adalah HCL dan H2CO3. Basa adalah Ion atau molekul yang dapat menerima ion hidrogen seperti Ion Bikarbonat dan HPO4.
o Magnesium
o Klorida
o Hidrogen
o Klasium
D. Hormon Yang Terkait
Hormon yang terkait dalam pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit diantaranya adalah ADH, Aldosteron dan Atrial Natriuretic Peptide.
E. PENGATURAN KESEIMBANGAN ASAM BASA
Asam adalah Molekul yang mengandung atom hidrogen yang dapat melepaskan ion hidrogen dalam larutan. Contohnya adalah HCL dan H2CO3. Basa adalah Ion atau molekul yang dapat menerima ion hidrogen seperti Ion Bikarbonat dan HPO4.
source:
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Tuesday, March 6, 2012
Zat Aditif dalam Bahan Makanan
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Zat aditif adalah bahan kimia yang dicampurkan ke dalam makanan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas makanan, menambahkan kelezatan, dan mengawetkan makanan. Penggunaan zat aditif sebenarnya sudah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu. Nenek moyang kita telah menggunakan garam untuk mengawetkan daging dan ikan, serta rempah-rempah untuk melezatkan makanan.
A. Bahan Pewarna Makanan
1. Bahan Pewarna Alami
Pernahkah kamu makan nasi kuning? Dari mana asalnya warna kuning pada nasi kuning? Warna kuning itu berasal dari bumbu masakan yang disebut kunyit.
Bahan pewarna alami lain yang juga sering digunakan, antara lain seperti berikut :
a) daun pandan dan daun suji untuk menghasilkan warna hijau;
b) gula merah dan karamel untuk menghasilkan warna cokelat;
c) cabai, tomat, dan paprika untuk menghasilkan warna merah.
Pewarna alami lebih aman dikonsumsi tetapi macamnya terbatas, dan sulit untuk memperolehnya dalam jumlah besar sehingga industri makanan lebih senang menggunakan pewarna sintetis.
2. Bahan Pewarna Buatan
Pernahkah kamu melihat makanan dengan tampilan warna yang sangat menarik? Agar makanan terlihat menarik, para produsen makanan biasanya menambahkan bahan pewarna. Nah, bahan pewarna buatan apa saja yang biasa digunakan dalam makanan?
Bahan pewarna yang masih diperbolehkan untuk dipakai yaitu :
- amarant (pewarna merah)
- tartrazine (pewarna kuning)
- erythrosine (pewarna merah)
- fast green FCF (pewarna hijau)
- sunset yellow (pewarna kuning)
- brilliant blue (pewarna biru).
Meskipun bahan pewarna tersebut diizinkan, kamu harus selalu berhati-hati dalam memilih makanan yang menggunakan bahan pewarna buatan karena penggunaan yang berlebihan tidak baik bagi kesehatanmu.
B. Bahan Pemanis Makanan
1. Bahan Pemanis Alami
Jika kamu ingin membuat air teh yang manis, bahan apa yang ditambahkan ke dalam air teh? Kamu pasti akan menambahkan gula pasir. Gula pasir merupakan salah satu contoh bahan pemanis alami yang sering digunakan dalam rumah tangga. selain itu ada juga gula merah yang terbuat dari pohon kelapa atau aren.
2. Bahan Pemanis Buatan
Pemanis buatan adalah bahan tambahan makanan buatan yang ditambahkan pada makanan atau minuman untuk menciptakan rasa manis. Bahan pemanis buatan ini sama sekali tidak mempunyai nilai gizi. Contoh pemanis buatan antara lain sakarin, siklamat dan aspartam. Sakarin atau "biang gula" memiliki tingkat kemanisan 350 – 500 kali gula alami.
C. Bahan Pengawet Makanan
1. Bahan Pengawet Alami
Bahan pengawet alami yang sering digunakan adalah garam, cuka, dan gula. Bahan pengawet alami ini digunakan untuk mengawetkan makanan agar selalu berada dalam kondisi baik. Metode pengawetan menggunakan garam dapur (NaCl) telah dilakukan masyarakat luas selama bertahun-tahun. Larutan garam yang masuk ke dalam jaringan diyakini mampu menghambat pertumbuhan aktivitas bakteri penyebab busuk, sehingga makanan tersebut jadi lebih awet. Pengawetan dengan garam ini memungkinkan daya simpan yang lebih lama dibanding dengan produk segarnya yang hanya bisa bertahan beberapa hari atau jam saja.
2. Bahan Pengawet Buatan
Menurutmu adakah makanan dalam kemasan tanpa menggunakan bahan pengawet? Pada zaman modern ini rasanya hal itu tidak mungkin karena zaman sekarang ini menuntut penyajian yang serba cepat dan tahan lama.
Beberapa bahan pengawet diperbolehkan untuk dipakai, namun kurang aman jika digunakan secara berlebihan. Bahan-bahan pengawet tersebut, antara lain sebagai berikut :
- Kalsium Benzoat, Bahan pengawet ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri penghasil toksin (racun), bakteri spora, dan bakteri bukan pembusuk.
- Sulfur Dioksida (SO2), Bahan pengawet ini juga banyak ditambahkan pada sari buah, buah kering, kacang kering, sirop, dan acar.
- Kalium Nitrit, Kalium nitrit berwarna putih atau kuning dan kelarutannya tinggi dalam air. Bahan ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada daging dan ikan dalam waktu yang singkat.
- Kalsium Propionat/Natrium Propionat dan Natrium Metasulfat, Ketiganya termasuk dalam golongan asam propionat, sering digunakan untuk mencegah tumbuhnya jamur atau kapang. Bahan pengawet ini biasanya digunakan untuk produk roti dan tepung.
- Asam Sorbat, Beberapa produk beraroma jeruk, berbahan keju, salad, buah, dan produk minuman kerap ditambahkan asam sorbat.
Zat pengawet yang tidak boleh digunakan karena memang tidak layak dikonsumsi atau berbahaya. misalnya boraks, formalin, dan rhodamin-B. Formalin tidak boleh digunakan karena dapat menyebabkan kanker paru-paru dan gangguan pada alat pencernaan dan jantung. biasanya formalin digunakan untuk mengawetkan mayat. Adapun penggunaan boraks sebagai pengawet makanan dapat menyebabkan gangguan pada otak, hati, dan kulit. selain itu ketiga zat ini termasuk zat yang bersifat karsinogen (penyebab timbulnya kanker)
D. Bahan Penyedap Makanan
1. Bahan Penyedap Alami
Bahan penyedap alami yang sering digunakan untuk menimbulkan rasa gurih pada makanan, antara lain santan kelapa, susu sapi, dan kacang-kacangan. Selain itu, bahan penyedap lainnya yang biasa digunakan sebagai bumbu masakan, antara lain lengkuas, ketumbar, cabai, kayu manis, dan pala. Tujuan ditambahkannya penyedap adalah meningkatkan cita rasa makanan, mengembalikan cita rasa makanan yang mungkin hilang saat pemprosesan dan memberi cita rasa tertentu pada makanan.
2. Bahan Penyedap Buatan
Zat penyedap buatan dibedakan menjadi dua macam, yaitu zat penyedap aroma dan zat penyedap rasa. Zat penyedap aroma buatan terdiri dari senyawa golongan ester, antara lain oktil asetat (aroma buah jeruk), iso amil asetat (aroma buah pisang), dan iso amil valerat (aroma buah apel). Zat penyedap rasa yang banyak digunakan adalah monosodium glutamate (MSG) atau lebih populer dengan nama vetsin dengan berbagai merek yang beredar di pasar.
source:
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Subscribe to:
Posts (Atom)




