Showing posts with label Ular Ular Wigati. Show all posts
Showing posts with label Ular Ular Wigati. Show all posts

Monday, December 15, 2014

Pitutur bocah angon

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

GOLEKO PANGALAMAN KANGGO TAMBAHING IMAN
SUPAYA AMAN BISA SUGIH SESRAWUNGAN

Sang Betet kang trisna Putra lan Bangsa
Engger, putraku kang sun dama-dama dadiya Satriya kang mulya lan uga utama, sira iku wis meguru, ya pancen bener marga Jaman maju, nanging aja kongsi keplayu-playu, iku dadi kurang rahayu, magra panjangkahe ke pliwat maju, dadi ninggal warisan-warisan IBU PERTIWI kang sira panggoni iki, mangka sira ngaku SATRIYA nanging ninggal PURWA (kawitan sala). Yen golek kawruh saka manca praja iku luwih utama nanging DUWEKE DEWE supaya dipapakena, ya di SURASA yen wis disurasa mangka tanpa daya wis wajibe kulak saka seje praja.
Jangkah kang kapisan apa wis di-udi ? (diaji). Artine Dalang Wayang Yoga apa wis mengerti ?.
Caritane Empu-empu apa wis mengerti ?
Caritane Sayid Rachmat apa wis mengerti ?
Kawitane agama Islam ange-Jawa apa wis mangerti ?
Mula iku supaya disinau sakehing pitutur tuturen dikumpul-kumpulake supaya ora kompal-kampul ngalor-ngidul, kaya “KAWUL” ngelus-elus dengkul mamprul rejekine ora bisa kumpul, marga katiyup ombaking suwara kang saka manca Negara, wusana ilang asmaning “KAWULA” oleh jenang Kawul.
Sarat-sarate ngawula Gusti supaya bagus ati, yaiku kang di asmani Rahaden, ya Rahadi, Ya Darah Adi, ya Rochadi, mula supaya duweya Iman kang “Maha Adi”.
Langkah siji Kabudayan lan Kesenian kang Di-udi.
Langkah loro golek pengalaman kanggo ngoyak Jaman.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Sunday, December 14, 2014

Sembah Raga

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus menerus, seperti bait berikut:
Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking wawaton
Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih). Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali. Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup. Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan rukun, maka sembah itu tidak sah.
Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya, ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Saturday, December 13, 2014

Sembah Cipta

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 dan Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang kang momong.
Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati, bukan sembah gagasan atau angan-angan.
Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning kalbu).
Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat tingkat.
Pertama, membersihkan hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
Kedua, membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan dosa.
Ketiga, membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti yang hina.
Keempat, membersihkan hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain Allah
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Friday, December 12, 2014

Sembah Jiwa

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:

Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing jiwa sutengong
Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting. Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya tidak seperti pada sembah raga dengn air wudlu atau mandi, tidak pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan alam baka/langgeng), alam Ilahi.
Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan jelas pada bait berikut :
Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming lama amota.
Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan Mangkunegara IV pada bait berikut:
“Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring kelaping alam kono.”
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Thursday, December 11, 2014

Sembah Rasa

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta alam, demikian menurut Mangkunegara IV.
Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh. Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga (inti ruh yang paling halus).
Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur / sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung kalawan kasing batos.
Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam, tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada diri sendir
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Wednesday, December 10, 2014

Suluk linglung Sunan Kalijaga

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
BRAMARA NGISEP SARI
PUPUH I
DHANDHANGGULA
1. Jumadilawwal puruning nulis, Isnen Kliwon tanggal ping pisan, tahun Je mangsa destone, nenggih sengkalanipun, “Ngerasa sirna sarira Ji”, turunan saking kitab, Duryat kang linusur, sampun kirang pangaksama, ingkang maca kitab niki sampun kenging, kula den apuntena.
2. Pawartane pandhita linuwih, ingkang sampun saget sami pejah, pejah sajroning uripe, sanget kepenginipun, pawartane kang sampun urip, marma ngelampahi kesah, tan unigeng luput, anderpati tan katedah, warta ingkang kagem para Nabi Wali, mila wangsul kewala.
3. Ling lang ling lung sinambi angabdi, saking datan amawi sabala, kabeka dene nafsune, marmannya datan kerup, dennya amrih wekasing urip, dadya napsu ingobat, kabanjur kalantur, eca dhahar lawan nendra, saking tyas awon perang lan nepsu neki, sumendhe kersaning Hyang.
4. Ling lang ling lung anedheng Hyang Widhi, mugi-mugi binuka Hyang Sukma, den legakna ing atine, sakayun yawunnipun, marga dadi sembah lan puji, saking telasing manah, pramila nenuwun, nanging tan apunten ing Hyang saking mboten saged nembah lawan muji, ngawur datan uninga.
5. Ling lang ling lung pan kendel pribadi, tanpa rewang pan ucek-ucekan, yetukaran pada dewe, tan adoh swaranipun, pan gumrejeg padu tan enting, pan rebut kalah menang, tan ana rinebut, lir ngrebut prajeng Ngastina, lali kadhang miwah bapa anak rabbi, jiwa raga tan ketang.
6. Ling lang ling lung tan weruh ing isin, saking kedah uningeng ing warta, sinahu tapa lan luwe, yen ana kanca rawuh, melu mangan pan datan eling yen mungkur kancanira, tan mangan saumur, saking tan ana pinangan, ling lang ling lung angon paesan pribadi, tansah nagih buruhan.
7. Ling lang ling lung tan olih, anenagih ngrejeg tanpo potang, kang tinagih meneng bae, pan nyata nora nyambut, kang anagih awira-wiri, tan ana beda nira, Syeh Malaya iku, wit puruhita atapa, mring Jeng Sunan Benang kinen tengga kang cis, tan kena yen kesaha.
8. Ling lang ling lung pan sang mendha luwih, buda teja tequde sarira, upamakken ing sanise, wonten sujalma luhung, putra Tuban Rahaden Syahid, duk sepuh nama Sunan, Kalijaga sampun, langkung sinihan Hyang Sukma, ingkang sampun dadi keramating Hyang Widhi, Mijil saking asmara.
KASMARAN BRANTA
PUPUH II
ASMARADANA
1. Kapincut ingkang anulis, denira mirsa carita, duk kina iku wartane, Jeng Suhunan Kalijaga, rikala mrih wekasan, anggeguru kang wus luhur, anepi dhukuh ing Benang.
2. Puruhita wus alami, tan antuk faedah kang nyata, mung nglakoni papa wae, pan agung kinen atapa, dateng Jeng Sunan Benang, kinen tengga gurda sampun, tan kenginganke kesaha.
3. Wonten satengah wanadri, gennya ingkang gurda-gurda, pan sawarsa ing lamine, anulya kinen ngaluwat, pinendhem mandyeng wana, setahun nulya dinudhuk, dateng Jeng Sunan Benang.
4. Anulya kinen angalih, pitekur ing kali jaga, malih karan jejuluke, sawarsa tan kena nendra, utawi yen dahara, tinilar mring Mekah sampun, dhumateng Sinuhun Benang.
5. Nyata wus jangkep sawarsi, Syeh Malaya tinilikan, pinanggih pitekur bae, Jeng Sunan Benang ngandika, Eh Jebeng luwarana, jenenge wali sireku, panutup panatagama.
6. Den becik gama nireki, agama pan tata krama, krama –kramate Hyang Manon, yen sira panata syarak, sareh iman hidayat, hidayat iku Hyang Agung, agung ing ngrahanira.
7. Kanugrahane Hyang Widhi, ambawani kasubdibyan, pangawasane pan dene, kadigdayan kaprawiran, sakabeh rehing yuda, tan liya nugraha luhur, utamane kahutaman.
8. Utama nireki bayi, dene kang sediya murba, kang amurba ing deweke, Misesani aneng sarira, nanging tan darba purba, sira kang murba Hyang Agung, den mantep ing panarima.
9. Syeh Malaya matur aris, kalangkung nuwun patik bra, kalingga murda wiyose, nanging amba matur Tuan, anuwun babar pisan, ing jatine sukma luhur, kang aran iman hidayat.
10. Kang manteb narima Gusti, kang pundi ingkang nyatanya, kulanuwun sameloke, yen ngemungna basa swara, amba anut kumandhang, yen pralena anglir kukus, tanpa karya olah sarak.
11. Jeng Sunan lingira aris, Syeh Malaya bener sira, sing atapa panggih ingong, ingkang aran panarima, kang eling maring karya, duk lagi kamulanipun, apan nora kadya mega.
12. Pan kadya hidayat wening sarupa iman hidayat, apa katon sabenere, nanging iku wruhanira, datan kena dinuga, atawa yen sira bantu, kalawan netra kepala.
13. Ulun iki lir sireki, kapingin uga weruha, mring hidayat sameloke, nanging ingsun durung wikan, meloke kang hidayat, mung werta kang sun pituhu, jer iku andikaning Hyang.
14. Umatur Jeng Sunan Kali, pukulun nuwun jinatenan, punapa wonten wiyose, ingkang aran tanpa sifat, kang sifat tanpa aran, kawula nuwun pituduh, angen-angen ingkang wekasan.
15. Sunan Benang ngandika ris, yen sira amrih wekasan, matenana ing ragane, sinauwa pejah sira, mumpung ta meksih gesang, anyepiya mring wanagung, aja nganti kamanungsan.
16. Wus telas dennya pawarti, jeng Sunan Benang wus jengkar, saking ing kalijagane, ngalor ngetan ing lampahnya, antawis sahonjotan, Syeh Malaya atut pungkur, lumebeng ing wana wasa.
17. Pan angidang lampah neki, awor lan kidang manjangan, atenapi yen asare, pan aturu tumut nangsang, kadi turuning kidang, yen asaba mapan tumut, lir kadya sutaning kidang.
18. Yen ana jalma udani, kang kidang lumayu gebras, Jeng Sunan ameli gebras, pan lumayu berangkangan, kadi playuning kidang, wayang-wuyung datan kantun, anut ing solahe kidang.
19. Nyata wus jangkep sawarsi, Syeh Malaya dennya ngidang, malah langkung ing janjine, nyata Jeng Sinuhun Benang, arsa shalat mring Mekah, sekedhep netra pan sampun, bakdane shalat glis prapta.
20. Jeng Sunan kendel wanadri, mulat mring kidang lumajar, dene sutane ngiyar-ngiyor, Sunan Benang emut ing tyas, yen wonten Wali ngidang, Syeh malaya wastanipun, aglis sira pinaranan.
21. Syeh Melaya apan gendring, pelayune nunjang palang, datan etung jurang pereng, binujung nora kecandhak, jinaring lan den kala, yen kena kala marucut, yen nunjang jaring pan liwat.
22. Bramantya Sang Maha Yekti, sasumbar sajroning nala, Wali waddat mbuh gawene, mejanani sira kidang, nguni sun nyekel barat, kang luwih lembut tan mrucut, kang agal teka agagal.
23. Yen luputa pisan iki, luhung aja dadi jalma, tan patut mung dadi sato, kurda muntap Sunan Benang, pan sarwi nyipta sega, tigang kepel mapan sampun, mundur kinarya bebalang.
PUPUH III
D U R M A
1. Sigra mara Kanjeng Sunan anerajang, ing wana langkung sungil, nyata wus kapanggya, kang lagi laku ngidang, lumayu binalang aglis, sega kepelan, tiba ing gigir neki.
2. Syeh Melaya pan aririh pelayunya, anulya piningkalih, kena lambungira, deperok Syeh Malaya, anulya binalang malih, sega kepelan, emut nulya ngabekti.
3. Pan anderu sumungkem angras pada, ngandika sang ayogi, “jebeng wruhanira, yen sira nyuwun wikan, kang sifat hidayatullah, mungga kajiya, mring Mekah marga suci.
4. Anbambila toya zam-zam mring Mekah, iya banyu kang suci, sarta ngalap barkah, Kanjeng Nabi panutan, Syeh Malaya angabekti, angaras pada, pamit sigra lumaris.
5. Sang Pandita wus lajeng hing lampahira, mring Benang dhepok sepi, nyata kawuwusa, lampahe Syeh Malaya, kang arsa amunggah kaji, dhateng hing Mekah, lampahnya murang margi.
6. Nrajang wana munggah gunung mudhun jurang, iring-iring pan mlipir, jurang sengkan nrajang, wauta lampahira, prapteng pinggir pasisir, puter driya, pakewuh marga neki.
7. Ning pangkalan samodra langkung adohnya, angelangut kaeksi, dyan jetung kewala, aneng pinggir samodra, wonten ingkang winarni, sang Pajuningrat, praptane sang Kaswasih.
8. Apan tuhu uninga ing lampahira, Syeh Malaya prihatin, arsa wruh hidayat, apan terah tinerah, sukma sinukma piningit, tangeh manggiya yen tan nugraha yekti.
9. Nyata majeng nggebyur malebeng samodra, tan toleh jiwa diri, wau Syeh Malaya, manengah lampahira, anut parmaning Hyang Widhi, ing sanalika, prapteng teleng jaladri.
10. Ya ta malih Jeng Sunan ing Kalijaga, neng telenging jeladri, sampun pinggihan, pan kadya wong leledhang, peparabe Nabi Khidir, pan tanpa sangkan, ngandika tetanyaris.
11. Syeh Malaya apa ta sedyanira, prapteng enggone iki, apa sedya nira dene sepi kewala, tan ana kang sarwo bukti, myang sarwo boga, miwah busana sepi.
12. Amung godhong aking yen ana kaleyang, tiba ingarsa mami, iku kang sun pangan, yen ora-ora nana, garjita tyas sira myarsi, Kanjeng Susunan, ngungun duk amiyarsi.
13. nabi ningrat ngandika mring kang prapta, putu ing kene iki, akeh panca baya, yen nora etoh jiwa, mangsa tumekaha ugi, ing kene mapan, sekalir padha merih.
14. Ngegungaken ciptanira maksih kurang, nora ageman pati, sabda kaluhuran, dene mangsa anaha, keweran tyas Sang Kaswasih, ing sahurira dene tan wruh ing gati.
15. dadya alon atur ira Syeh Melaya, mangsa borong Sang Yogi, Sang Wiku lingira, apan ta sira uga, kasmaran hidayat ullih, wekasan ningrat, meloke ing saiki.
16. Anglakoni pituduhe guru nira, Sunan Benang Sang Yogi, tuduh marang sira, kinen ning negri Mekah, pan arsa myang munggah kaji, mulane nyawa, angel pratingkah urip.
17. Aja lunga yen tan wruh kang pinaranan, lan aja mangan ugi, yen tan wruh rasanya, rasane kang pinangan, aja nganggo-anggo ugi, yen durung wruha arane busana di.
18. Witing weruh atakono pada jalma, lawan tetiron nenggih, dadi lan tumandhang, mengkono ing agesang, ana jugul nganggo-anggo ugi, yen durung wruha arane busana di.
19. Lamun kuning den anggep kencana mulya, mangkono ing ngabekti, pernahe kang sinembah, Syek Melaya duk miyarsi, ndeku norraga, dene Sang Wiku sidik.
20. Sarwi sandika ing atur ira, Syeh Melaya minta sih, anuwun jinatenan, sinten ta aran tuan, dene mriki peribadi, Sang Pujuningrat, Hya ingsun Nabi Kihidzir.
21. Atur sembah pukulun nuwun jinatenan,pun patik nuwun asih, ulun inggih datan, wruh puruhiteng badan, sasat satoning wanadri, tan mantra-mantra, waspadeng badan suci.
22. Lang lung mudha punggung cinacad ing jagad, keksi-keksi ning bumi, engganing curiga, ulun tanpa warangka, wecana kang tanpa siring, nyata ngandika, manis sang Nabi Khidir.
“SANG NABI KHIDIR”
PUPUH IV
DHANDHANGGULA
1. Lamun sira munggah kaji, maring Mekah thuke ana apa, hya Mekah pan tilas bae, Nabi Ibrahim kruhun, ingkang yasa kang ponang mesjid, miwah tilase ka’bah, kang arupa watu, gumantung tanpa centhrlan, apa iku kang sedya sira bekteni, dadi mangan brahala.
2. Iya kaya idhepe wong kapir, dene iya esmu ngangka-angka, trus madhep mring brahalane, nadyan wus haji iku, yen tan weruh paraning kaji, ka’bah pan dudu lemah, kayu watu dudu, margone tan kanggo lunga, mring ka’bah yen arsa wruh ing ka’bah jati, jati iman hidayat.
3. Lahgita mara Syeh Melaya aglis, amanjinga guwa garbaning wang, Syeh Melaya kaget tyase, Dadya metu gumuyu, Pan angguguk turira aris, saking pundi marganya, kawula geng luhur, antawis mangsa sedhenga, saking pundhi marganing gen kula manjing, dening buntet kewala.
4. Nabi Khidir angandika ris, gedhe endhi sira lawan jagad, kabeh iki sak isine, alas samudra gunung, nora sesak ing garba mami, tan sesak lumebewa, ing jro garba ningsun, Syeh Melaya duk miarsa, langkung ajrih kumel sandika tur neki, ningleng ma’bitingrat.
5. Iki dalan talingan iki, Syeh Melaya manjing sigra-sigra, wus prapta jero garbane, andalu samudra gung, tanpa tepi nglangut lumaris, liyep adoh katingal, Nabi Khidir nguwuh, eh apa katon ing sira, dyan umatur Syeh Melaya inggih tebih, tan wonten kang katingal.
6. Awang uwung kang kula lampahi, uwung-uwung tebih tan katingal, ulun saparan parane, tan mulat ing lor kidul, kulon wetan datan udani, ngandhap ing luhur ngarsa, kalawan ing pungkur, kawula mboten uninga, langkung bingung Nabi Khidir ngandikaris, aja maras tyasira.
7. Byar katingal madhep Nabi Khidir, Syeh Melaya Jeng nabi kawang-wang, umancur katon cahyane, nalika wruh lor kidul, wetan kilen sampun kaheksi, nginggil miwah ing ngandhap, pan sampun kadulu, lawan andulu baskara, eca tyase dene Jeng Nabi kaheksi, aning jagat walikan.
8. Kanjeng Nabi Khidir ngandika ris, aja lumaku andeduluwa, apa katon ing dheweke Syeh Melaya umatur, wonten werni kawan perkawis, katingal ing kawula, sedaya puniku, sampun datan katingalan, anamung sekawan perkawis kaheksi, ireng bang kuning pethak.
9. Angandika Kanjeng Nabi Khidir, ingkang dihin sira anon cahya, gumawang tan wruh arane, panca maya puniku, sejatine teyas sayekti, pangarepe sarira, Pancasonya iku, ingaranan muka sipat, ingkang nuntun maring sifat kang linuwih, yeku asline sipat.
10. Maka tinuta aja lumaris, awatana rupa aja samar, kuwasane tyas empane, ngingaling tyas puniku anengeri maring sejati, eca tyas Syeh Melaya, duk miyarsa wuwus, lagiya medhep tyas sumringah, dene ingkang kuning abang ireng putih, yeku durga manik tyas.
11. Pan isining jagad amepeki, iya iku kang telung prakara, pamurunge laku kabeh, kang bisa pisah iku yekti bisa amoring ghaib, iku mungsuhe tapa, ati kang tetelu, ireng abang kuning samya, angadhangi cipta karsa kang lestari, pamore Sukma Mulya.
12. Lamun ora kawileting katri, sida nama sirnane sarira, lestari ing panunggale, poma den awas emut, dergama kang munggeng ing ngati, pangawasane weruha, wiji wijenipun, kang ireng luwih prakosa, panggawene serengen sebarang runtik, dursila angambra-ambra.
13. Iya iku ati kang ngedhangi, ambuntoni marang kabecikan, kang ireng iku karyane, dene kang abang iku, iya tudhuh nepsu tan becik, sakabehe pepinginan, metu saking iku, panas baran papinginan, ambuntoni maring ati ingkang ening, maring ing kawekasan.
14. Dene iya ingkang rupa kuning, kuwasane neng gulang sebarang, cipta kang becik dadine, panggawe amrih hayu, ati kuning ingkang ngadhangi, mung panggawe pan rusak, linantur jinurung, mung kang putih iku nyata, ati enteng mung suci tan ika iki, prawira ing karaharjan.
15. Amung iku kang bisa nampani, mring syahide sejatine rupa, nampani nugrahan nggone, ingkang bisa tumanduk, kang lestari pamore kapti, iku mungsuhe tiga, tur sereng gung ngagung, balane ingkang tetiga, iku putih tanpa rewang mung sawiji, mila ngagung kasoran.
16. Lamun bisa iya nyembadani, mring sasuker kang telung prekara, sida ing kana pamore, tanpa tuduhan iku, ing pamore kawula Gusti, Syeh Melaya miharsa, sengkut pamrihipun, sangsaya birahi nira, iya maring kawuwusing ingahurip, sampurnaning panunggal.
17. Sirna patang prakara na malih, urip siji wewolu warnanya, Syeh Melaya lon ature, punapa wastanipun, urip siji wewolu warni, pundi ingkang sanyata, urup kang satuhu, wonten kadi retna muncar, wonten kadi maya-maya ngebati, wonten abra markata.
18. Marbudengrat Nabi Khidir angling, iya iku sejatine tunggal, sarira marta tegese, iya aneng sireku, tuwin iya isining bumi, ginambar angga nira, lawan jagad agung, jagad cilik tan prabeda, purwane ngalor kulon kidul puniki, wetan ing luhur ngandhap.
19. Miwah ireng abang kuning putih, iya iku panguripaning bawana, jagad cilik jagad gedhe, pan padha isenipun, tinimbang keneng sira iki, yen ilang warna ingkang, jagad kabeh suwung, sesukere datan ana, kinumpulken marang rupa kang sawiji, tan kakung tan wanodya.
20. Kadi ta wangunana puniki, kang asawang peputeran danta, tak pyo dulunen kiye, Syeh Melaya andulu, kang kadya peputeran gadhing, cahya mancur gumilang, neneja ngenguwung, punapa inggih puniku, rupaning dzat kang pinerih pun ulati kang sejatining rupa.
21. Nabi Khidir angandika aris, iku dudu ingkang sira sedya, kang mumpuni ambeg kabeh, tan kena sira dulu, tanpa rupa datan pawarni, tan gatra tan satmata, iya tanpa dunung, mung dumunung mring kang awas, mung sasmita aneng jagad angebaki, dinumuk datan kena.
22. Dene iku kang sira tingali, kang sawang peputeran denta ingkang, gumilang gilang cahyane, angkara kang murub, Sang Permana arane iki, uripe kang sarira, permana puniku, tunggal ana ing sarira, nanging datan melu suka lan prihatin, panggone aneng raga.
23. Datan melu suka lan prihatin, iya nora melu lara lapa, ye iku pisaha anggone, raga kari ngalumpruk, yekti lungkrah badanireki, ya iku kang kuwasa, nandhang rasanipun, inguripan dening sukma, iya iku sinusih anandhang urip, ngaken rahasya ningrat.
24. Hya iku sinandhangken mring sireki, nanging kadya simbaring kakywan, aneng hing raga enggone, uripe permaneku, inguripan sukma linuwih, misesa ing sarira, permana puniku, yen mati melu palaswan, yen lamun ilang sukmane slira urip nuli urip sukma kang ana.
25. Sirna iku iya kang pianggih, uriping sukma ingkang anyata, ingkang liwatan umpamane, lir rasane tumuwuh, permana kang amir sadhani, tuhu tunggal pinangka, jinaten puniku, umatur Syeh Melaya, ingkang pundi wernine ingkang sayekti, Nabi Khidir ngendika.
26. Nora kena yeku yen sira prih, ing kahanane semat-mata, gampang angel pirantine, Syeh Melaya umatur, kula nyuwun pamejang malih, inggih kedah uninga, babar pisanipun, pun patik ngaturaken pejah, ambengana angen-angen ingkang pesthi, sampuna nuwas ngantiya.
PUPUH V
KINANTHI
1. Nabi Khidir rum, wor perlambang esmu neki, umpamane wong rerasan, loting kang adi pantesing, kang loting bumbu sastnya, wor rahsa karasa suci.
2. Nurbuat kang rahsa iku, sejatine rahsa iki, duk ana ing sifat jamal, Johar awal yen wus mijil, Johar akhir wus dewasa, kang awal rahsa sejati.
3. Kang Johar akhir puniku, sawujud sak pati urip, johar duk sawujud tunggal, rahsa tunggal urip tunggil, tunggal lawan johar awal, kang johar akhir puniki.
4. Sawujud sagesang lampus, sapolahe johar akhir, salamine anarima, kang johar batin puniki, kang pinuji kang sinembah hya iku Allah sejati.
5. Nora nana roro iku, sira iku nuqod ghaib, nuqod ghaib duk ing kuna, nora sarta nora mati, temene nuqod punika, ghoib iku jeneng reki.
6. Wus tumiba neqdu iku duk mahune urip, tinarik alip dadinya, alid iku jisim latip, sejatine ananira, neqdu iku denarani.
7. Johar jati iya iku, jenengira iku urip, syahadat jati urip ira, ingaranan getih urip, getih urip ingaranan, Rasulullah rasa jati.
8. Syahadat jati getih, rasa jatining dzat sami, Jabrail Muhammad Allah, telune kapate iki, getih urip arannira, tingalana nyawang mati.
9. Apa ana getihipun, getih iku ilang neki, ilange awor lan sukma, sukma ilang ya ananging, padha ana alip ika, ingaranan ruh idhofi.
10. Jisim latif jatenipun, kang ingaranan jisim latip, jisim angling duk ing kuna alip winastanan angling, alip iku tanpa netra, tan angucap tan miyarsi.
11. Tanpa karsa tan andulu, iya iku ingkang alip, alip tiba ing neqdunya, norane anane dadi, alip iku jinabaran, pan ruh idlofi Dzatullih.
12. Wus kapeca sedaya wus, ruh idhofi gagetining, dzat sejati alip ika, jabar lan jere puniki, aneng johar alip ika, arane kalam birahi.
13. Birahi ananereku, aranira Allah jati, tanana kalih tetiga, sapa wruha yen wus dadi, ingsun weruh pesti nora, ngarani namanireki.
14. Sipat jamal ta puniku, ingkang kinen angarani, pepakane ana ika, akon ngarani puniki, iya Allah angandika, mring Muhammad kang kekasih.
15. Yen tanana sira iku, ingsun tanana ngarani, mung sira ngarani ing wang, dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira, aranira aran mami.
16. Hannerehken sira iku, apa sira terbuka ning, araningsun iya sira, kang sawujud lawan mami, deningsun semjen lan sira, pesthine nora ngarani.
17. Aranira araningsun, apan sira iku uwis, ing donya lawan akkherat, sira iki gegentining Muhammadar rasulullah, nabiyullah ya ilahi.
18. Pertandhane Allah iku, aneng sira dipun eling, jabar jere alip ika, alip iku pese reki, budi jati aranira, ilang budi sajroning.
19. Kang micareku, angendhoraken birahi, karo dudu karo iya, ya iku kang johar budi, iku aran budi iman, alip tiba neqdu pesthi.
20. Sejatine alip iku, srwo nora dora neki, kang alip iku namanya, nora nipun ana keki, alip adi aranira, kang asih ananireki.
21. Johar awal ananipun, kang johar kahanan jati, tinja junub lan jinabat, johar awal ganda neki, iku tiba ing neqtunya, norane sajroning urip.
22. Urip jroning johar iku, urip mati sajroning, iya aneng johar awal, pagene sholat sireki, ya ana ing ndalem ndonya, purwane sholat puniki.
23. Den kawangwang maring neqdu, ghoib aneng sira iki, pagene ya ngadeg sira, sidhakep marwasa wening, sedhakep tunggal kahanan, tunggal sapari polah neki.
24. Pangucap nunggal sireku, wedale rukuk tumuli, kerasa duka lan cipta, tumetes banyu kang wening, ning urip ruh sekalirnya, rahsa iman saderahi.
25. Kang saderah ananipun, pagene sujud neng bumi, paran dadi duk wahunya, cahya ingkang sasmitaning, ya iku semune rupa, semurupeku sejati.
26. Kang agama dunungipun, iya ingkang bumi langit, ingkang ananira nika, sirnaning dunya kang ati, iya iku atenira, kang sujud aneng ing bumi.
27. Pagene linggih amangu, angawang anguwung den panggih, jatine iku tan ana, pangeran iku sejati, yeku kawula jatinya, dudu Allah sira iki.
28. Lan Muhammad iya dudu, patemon rahsa sejati, ingkang rahsa dudu rahsa, ya Allah Muhammad ciri, iya kawulane haram, lamun puasaha iki.
29. Lan haram kawulanipun, lamuna sidqoha iki, lan kawulanipun haram, iya yen munggaha Hajji, lawan kawulaning haram, lamuna sholata iki.
30. Surya nora wulanipun, norane dadi cahyeki, pan hidayat imanira, tauhid panembah reki, makrifat pangawruh kita, ya ru’yat minangka seksi.
31. Den tingali sipatipun, sipate Allah sejati, kang asli aslining Allah, ya Allah-Allah kang urip, den af’ale iya Allah, yeku duk jumeneng ru’yati.
32. Yen urip selawasipun, ru’yat jeneng khoiroti, makrifat jeneng ing donya, johar awal khoiroti, iya uwis jenengira, yeku pangasan kamil.
33. Insan kamil dzatullahu, sejatine nuqod ghoib, iya dzat sabenerira, sipatullah dzatullahi, insan kamil jenengengira, anane Allah puniki.
34. Dene kendhih jenengipun, nuqod ghoib insan kamil, iya sejatine nora, yeku aran puji budi, budi iku urip ira, lawan nyawa iku urip.
35. sarta lawan badanipun, aran badan Muhammadi, kang antuk urip sampurna, Syeh Melaya matur aris, mila mat keneng neraka, nuwun pawarta sejati.
36. Nabi Khidir ngandika rum, eh Melaya lire iki, nraka jasmani kang ana, jrone neraka ya iki, kang tan weruh Nabiyullah, ruh kang tan kena ing pati.
37. Ruh jasmani uripipun, samilan kewan puniki, iku kang aneng neraka, kang nepsu pingile iblis, yen nepsune dipun umbar, tan anut maring Hyang Widi.
38. Ngendelaken ngilmunipun, tan weruh Adam Nabi, yeku yeku aran iman tahdlat, umat kalebu jasmani, kawruh tanpa ika, kang nembah datan ningali.
39. Saya kapir tuhonipun, kang nembah kayu watuning, tan ketang apa ukumnya, kapiring kang jahanami, yeku ruh idhofi nama, ahyan syabitah ing nguni.
40. Ya cahya pan tegesipun, kang gumilang ning baresih, kang tansah kinawikanan, kang ingilo kang pinanggih, jroning pati aran Adam, idhofi sadurung neki.
41. Sirik ana wujudipun, ing panrimba ran johar ning, kapingneme johar awal, johar awal mutyara di, sesoca raga kumala, johar aran adi kapi.
42. Witing upama ping pitu, kang myarsa sabdaning gusti, ruh idhofi ta wujudnya, kang aneng dzate mutliqi, ruh sumendhe ing Dzatullah, ingaranan ruh idhofi.
43. Johar awal iya iku, kang ingaran sholat da’im, sholat da’im tan kalawan, met toya wudhlu khadasi, sholat batin sabenernya, mangan turu syahwat ngising.
44. Iya dadi sholatipun, af’ale dadi pepuji, johar wau kumpul tunggal, sasuker ananing widi, anane – anane Allah, den kendheh anane nguni.
45. Lir kelir lan wayangipun, wayang tan ngawruhi kelir, hiya junub sunar-awedya, kang resik jisim mireki, hiya Muhammad badan Allah, Muhammad tan ana keri.
46. Hidayat pan imanipun, gagentenira Hyang Widi, ingaranan Rasulullah, Muhammad kang badan mukmin, ruh mukmin apandukiya, ruh idhofi iman neki.
47. Iman maksum wastanipun, kang antuk panutan jati, pan mangkono kawruhira, yen nora urip pireki, iku padha lawan kewan, yen tan wruh wuwus kang riyin.
48. Mengku iku nora wurung, tan weruh selami reki, yaiku pati kesasar, kupur kapir badan neki, dene wus wruh ujar ika, sakeh warana ngawruhi.
49. Pangeran tan ana telu, panutan Muhammadinil, pan sejatine wong kufar, kapire patang pedhati, ewuh tanpa panganutan, feqir parek kufur kafir.
50. Feqir parek lawan kufur, krana nira ingkang feqir, wuta tuli datan ana, suwarga neraka iki, feqir tan parek pangeran, tan ana wujude iki.
51. Tan anembah pujinipun, krana nira feqir kadi, hya ingkang feqir dzatullah, iku jatine Hyang Widi, patine feqir manungsa, pesthine Allah pribadi.
52. Iya yen dzatullah iku, iya anane kang feqir, ruh idhofi aran iman, ruh idhofi tunggal kang wit, iman tauhid aranira, ya Allah ya Muhammadi.
53. Taukhid hidayat sireku, tunggal lawan sang Hyang Widi, tunggal sira lawan Allah, uga donya uga akhir, ya rumangsana pangeran, ya Allah ana nireki.
54. Ruh idhofi sireku, makrifat ya den arani, uripe ingaranan Syahadat, urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya, rukuk pamore Hyang Widi.
55. Sekarat tanana nyamur, ja melu sira wedi, lan ja melu-melu Allah, iku aran sakaratil, ruh idhofi mati tanana, urip mati urip.
56. Den rumangsa ana neku, uripe Allah puniki, yeku urip kene-kana, sastra lip gurokna kaki, jabar jer pese uninganya, ingkang weruh kafir syirik.
57. Satuhune iya iku, kang tan wruh ing araneki, kang sholat sipat pangeran, Prabete kawula gusti, kang sholat jatine raga, hya kang sholat iman urip.
58. Datan nyawa huripipun, lam tamsyur iya af’aling, sholate purba wisesa, yektine kawula gusti, iku jatine Hyang Sukma, ruh idhofi taning mukmin.
59. Sagung ruh astanipun, ya ana ing ruh idhofi sipat jamal, kahelokane dzatullah, ruh idhofi jeneng maqam, kang kubur Rosulullahi.
60. Sarat jisim latif iku, tesih rip tan keneng pati, tejane kang ruh punika, tanpa jasad dhingdhing ari, sasmitane sifat jamal, sifat jamal sasmitaning.
61. Johar awal mayit iku, sasmita sirna ananing, ya iku kang pati padha, mangkono yen wis mati, donya urip ing akhirat, tlung dina perkara dadi.
62. Saking bapa saking babu, Ba pangeran tunggal katri, yeku sasmita tlung dina, kang titipan pitung ari, mulih iku kang titipan, titipan kadi ing nguni.
63. Pan taukhid makrifatipun, titipan sedasa katri, iku iya kang titipan, semune kang pitung ari, yen angis metokaken toya, sing cipta netra yekurip.
64. Lir duk uninge saking nur, king cahya pinangka neki, iku semune karuna, dene mengku iki sami, sira mati sun kelangan, mati sirna ngawandesi.
65. Kadi pundi semonipun, sami wrasta ing sakehing, Allah Muhammad pan tunggal, nyatus tunggal wujud neki, sasmita oleh ing cahya, cahyane Muhammad jati.
66. Tunggal karo yen manuwun, ruh jasad ilang sajroning, pangayune sewu dina, nora ana ingkang keri, olihe sampun sampurna, sampurna kaya duk uning.
67. Syeh Melaya trang tyasipun, miyarsa weling ngireki, ing guru Syeh Mahyuningrat, pan remen tan purun mijil, neng jero garba tur sembah, wuwuse lir madu gendhis.
PUPUH VI
DHANHANGGULA
1. Yeng mekaten kula mboten mijil, sampun eca ning ngriki kewala, mboten wonten sengsarane, tan niyat mangan turu, mboten arip mboten angelih, mboten rasa kangelan, tan ngeres tan linu, amung nikmat lan munfangat, Nabi Khidir lingira iku tan keni, yen nora lan antaka.
2. Sang saya sih mring jeng Nabi Khidir, marang kaswasih ingkang panedha, lah iya den awas bae, mring pamurunging laku, aja ana sira karemi, den bener den waspada, ing anggep pireku, yen wis kasikep ing sira, aja humung den anggo parah yen anglir, yeku reh pepingitan.
3. Nora kena yen sira rasani, lan sesama samaning manungsa, yen nora lan nugrahane, yen nana nedya padu, angrasani rerasan iki, yen teka kalahana, ja nganti kabanjur, ja ngadekaken sarira, aywa kraket marang wisayaning ngaurip, balik sikepan uga.
4. Kawisayan kang marang ing pati, den kahasta pamanthenging cipta, rupa ingkang sabenere, senengker buwaneku, urip datan ana nguripi, datan antara mangsa, iya ananipun, pan wus ana sarira, tuhu tunggal sejene lawan sireki, tan kena pisahenna.
5. Datan weneh sangkanira uni, tunggal sapakertining buwana, pan tuhu pamiharsane, wus ana ing sireku, pamirsane sukma sejati, iya tan klawan karna, ing panggulanipun, iya tan kalawan netra, karnanira netranira kang kinardi, ana anenging sira.
6. Dhohire sukma wus na sireki, bathinira kang ana ing sukma. Hiya mangkene teterape, kadya wreksa tinutu, ananing kang kukusing geni, sarta kalawan wreksa, lir toya lan alun, kadya minyak aneng pohan, raganira ing reh obah lawan mosik, iya lawan Hyang Sukma.
7. Yen wruh pamore kawula Gusti, sarta sukma kang sinedya ana, den wertani sira anggone, lir wayang sariraku, saking dhalang solahe ringgit, mangka panggunge jagad, kelir badanipun, amolah lamun pinolah, sak solahe kumedhep miharsa neki, tumindak lan pangucap.
8. Kang wisesa amisesa sami, datan antara pamore karsa, jer tanpa rowa rupane, wus ana ing sireku, umpamane pahesan jati, ingkang ngilo Hyang Sukma, wayangan puniku, kang ana sajrone kaca, iya sira jenenge manungsa jati, rupa sajrone kaca.
9. Luwih ageng kalepasan iki, lawan jagad ageng kalepasan, kalawan luwih lembute, salembute banyu, apan lembut kamuksan iki, liring lembut alitnya, sa aliting tengu, pan maksih alit kamuksan liring luwih amisesa ing sakelir, lire lembut alitnya.
10. Bisa nukma ing agal alit, kalimputan kabeh kang rumangkang, gumremet tanpa bedane, kaluwihan satuhu, luwih iya desra nampani, tan kena ngendelena, hing warah lan euruk, den sanget panguswanira, badanira wasuhen nggenira ngungkin, wruha rungsite tingkah.
11. Wuruk iku pan minangka wiji, kang winuruk umpamane papan, poma kacang lan kedhele, yen sinebar ing watu, yen watune datan pasiti, kudanan kapanasan, yekti nora thukul, lamun sira wiceksana, ningalira sirnakna tingalireki, dadya tingal sukmasa.
12. Rupanira swaraning ugi, ulihna marang kang duwe swara, jer sira angaku bae, selisih kang satuhu, nanging aja sira duweni, pekareman kang liyan, mung marang Hyang Agung, dadine angraga sukma, obah usikira wus dadi sawiji, nywarara anggepira.
13. Yen dadiya anggepira yekti, yen nrasaha rara meksih was-was, kena ing rengu yektine, yen wus sawiji sawujud, sakrenteging tyas sireki, apa ingkang cinipta ana, kang sinedya rawuh, wus kawengku aneng sira, jagad kabeh jer sira minangka yekti, gegenti den asagah.
14. Yen wus mudheng pratingkah puniki, den awingit sarta sabah-sabab, sabab amor pangakone, nanging ngibaratipun, ing sakedhap tan kena lali, dhohire sasabana, kawruh patang dapur, padha anggepen sedaya, kalimane kang siji iku premati, kanggo ing kana-kana.
15. Liring mati sajroning ngahurip, iya urip sajroning pejah, urip bae selawase, kang mati nepsu iku, badan dhohir ingkang nglakoni, katampan badan kang nyata, pamore sawujud, pagene ngrasa matiya, Syeh Melaya den padhang sira nampani, wahyu prapta nugraha.
16. Lir sasngka katerangan riris, praptaning wahyu apan nirmala, sumilak ilang regede, angling malih nulya rum, Nabi Khidir manis aririh, tan ana kang pinaran, kabeh wus kawengku, tanana ingulatana, kaprawiran kadigjayan wus kawuri, kabeh rehing ngayuda.
17. Telas wulangnya jeng Nabi Khidir, Syeh Melaya ing tiyas keweran, weruh ing namane dhewe, hardaning tyas pan wus muluk, tanpa elar anjajah batin, sawengkone jagad raya, angga wus kawengku, mentes sak matining basa, sahinggane sekar maksih kudhup lami, mangke mekar ambabar.
18. Wuwuh lan gandanireki, wus kena kang pancaretna nulya, kinen medal sing hargane, pan sampun medal gupuh, angulihi alame lami, Nabi Khidir ngandika, Melaya sireku, wis tinarima Hyang Sukma, lulus saking gandane kasturi jati, pepanasing tyas sirna.
19. Wus leksana salekering bumi, ujar sira wruh pitakonira liring wardaya malane, den mantep panrimeku, dipun kadi ngangge sutradi, maya-mayaka sarira, reh kang sarwa alus, sinukma masingemasan, Harja satya sinatya manik memanik, wruh pakenak ing tingkah.
20. Dipun alus budenira iki, wernaning dyah kita eki sumekar, kasturi jati namane, pratandha datan kerup, hing pangawikan manah deng lungit, ngongkabana kabisan, kawruh nyawa kliru, miwah iku nata nira, busanane kawilet tuliya sari, ya destar nyampingira.
21. Mangka pangemut katon ing nguni, mati duk aneng jro garbaning wang, cahya kawang-kawang dheweke, kang abang kuning iku, pamurunge laku ngadhangi, ya kang putih kang tengah, sidane pangaku, klima iku den waspada, den kahasta sanalika ajalali, den tuhu ambekira.
22. Saking marmeng sun karya ling aling, pambengkase sum’ah jabariyah, den esthi siyang dalune, pan kathah nggen sun weruh, pratingkahe para maharsi, kang padha kaluputan, hing pangeguhipun, pangucaping kawruh ira, wus abener wekansan mati adadi, kawilet ing trap trapan.
23. Ana ingkang adadi ing peksi, amung mulih pencokan kewala, kayu kang becik warnane, arsa aneng nagasantun, ana tanjung ana waringin, temah ing pinggir pasar, engkuk mangkruk-mangkruk, angungkuli wong sapasar, pindha kamukten sepele kang pinurih, kasasar ambelasar.
24. Ana ingkang anitis paraji, sugih brana miwah sugih garwa, ana kang nitis putrane, putra kang arsa mengku, karesmene wong siji-siji, samiya tuk kaluwihan, ing panitisipun, yen mengkuha jeneng ing wang, durung harsa amangga-amrih pribadi, sadyaku ingaranan.
25. Tataning wada kang datan pesthi, durung jumeneng jalma utama, ingkang mangkono anggepe, pangrasane anemu, suka sugih lan wruh ing yekti, yen nuli nemu duka, kabanjur kalantur, sak nggone nitis kewala, tanpa wekas kangelan tan nemu kasil, tan bisa babar pisan.
26. Yen luputa anyakra bawani, apa karemane aneng donya, ing pati marang tibane, ing kono karemipun, nora kuat panyanggi pati, keron tan kasamaran, milah wawor sambu, abote oleh kamulyan, nora kena toleh maring anak rabi, sajrone wruh wekasan.
27. Yen luputa pitakone bumi, luhung sira aja dadi jalma, satogampang pretikele, sirnane tanpa tutur, yen wis sira benering kapti, langgeng tanpa kerana, hangga buwaneku, humeneng tan dadi sela, eningira iya nora dadi warih, werta tanpa tuduhan.
28. Ling ning pandhita anenakapi, ingkang muksa inggih karsa nira, anjungkung kasutapane, nyana kena den angkuh, tanpa tuduh mung tapa neki, tan mawi puruhita, suwung nguwung-uwung, mung kaciptanira nika, durung antuk wuruk pratikele urip, pangukuh ngaya wara.
29. Tapa nira nganti kuru aking, wus mangkana dennya mrih wekasan, datanpa tutur sirnane, kematengan tapa wus, dene pratikel kang ngaluwih, tapa iku minangka, reragi panemu, ngilmu kang minangka ulam, tapa tanpa ngilmu iya nora dadi, yen ngilmu tanpa tapa.
30. Jeplang-jeplang nora wurung dadi, asli nora wedhar hing trapnya, kacegah agung bejane, yekti ta dhadhanipun, apan akeh pandhita sandi, wuruke sinatengah, mring shohabatipun, sobate landhep priyangga, kang linempit winedhar raose nuli, ngaturaken gurunira.
31. Pamudhare mung grahita neki, nguni uni durung mambu warah, saking tan eco raose, matur ing gurunipun, langkung ngungun tumut nganggepi, sinasmaha kelawan, pandhita gung agung, wus pesthi anggepe nyata, iku wahyu nugraha dhawuh pribadi, sobat ingaken anak.
32. Sinungga sungga agung tinari, mering guru yen wus arsa mejang, tan tebih sanding enggone, sobat katemah ing guru, guru dadi sobating bating, lepasing panggrahita, nanduk sarwa wahyu, yeku utama kalihnya, guru sobat kalihe sami ngudani, satengah kang pandhita.
33. Kudu tinut sak ujare iki, dene lumakua sinembah, nengt pucuk gunung enggone, swaranira anguwuh, angebeki pertapaneki, yen ana wong amarak, wekase berudul, lir gong beri kang tinembang, pan kumarampyang binuka kang tanpa isi, tuna kang puruhita.
34. Aja kaya mengkono ngahurip, dipun kadi wayang, kiuudang aneng enggone, blincongipun, ngibarate panggungireki, damare ditya wulan, kelir alam suwung, ingkang nengga cipta keboh bumi tetepe adege ringgit, sinangga maring nanggap.
35. Kang ananggap aneng dalem puri, datan den usik olah sakersa, Hyang Premana dhedhalange, wayang pengadekipun, ana ngalor ngidul tuwin, yeku ngulon lan wetan, sliring solahipun, pinolahaken ing dhalang, yen lumaku linakokken kabeh iki, linabehken hing dhalang.
36. Pangucape ngucapaken ugi, yen kumecap ilate, anutur-nuturake, sakarsa karsanipun, kang anonton tinoleh sami, tinonaken ing dhalang, kang ananggapiku, sajege mangsa weruha, tanpa rupa kang ananggap neng jro puri, tanpa werna Hyang Sukma.
37. Hyang premana denira angringgit, ngucapaken hing sarira nira, tanpa awas sesamane, wimbuh pan ora tumut, hing sarira upamaneki, kang miyak munggeng pohan, geni munggeng kayu, anderpi tan katedah, angelir pintaka ing kayu panggerit, landhesan sami wreksa.
38. Panggeriting polah dening angin, gesenging kayu kukusnya medal, datan antara genine, geni kelawan kukus, saking kayu wijile neki, purwa eling duk kala, mula-mulanipun, kabeh iki kang gumelar, saking ghoib manungsa tinitah luwih apan ingaken rahsa.
39. Mulya dhewe saking kang dumadi, aja mengeng ciptanira tunggal, Tunggal sapari bawane, isine buwaneku, nganggep siji manungsa jati, mengku sagung kahanan, hing manungsa iku, kawisesane satunggal, panukmane salire jagad dumadi, tekad kang wus sampurna.
40. Lahya uwis Syeh Melaya aglis, baliya marang Pulo Jawa, pan sira uga jatine, Syeh Melaya agupuh, nembah matur angasih asih, aran kalingga murda, amba setya tuhu, Nabi Khidir nulya sirna, Syeh Melaya katon aneng jeladri, datan nrasa neng toya.
41. Syeh Melaya sanget pangasweki, ing pengete guru kang sampurna, pan sanget eling elinge, hardaning tyas amengku, isining rat kajajah batin, mantep premati basa, kaeruh tan kaliru, sinukma mas ingemasan, lulus saking badane kasturi jati, pepanase tyas sirna.
42. Wus mangkono Syeh Melaya mulih, wus tan mengeng ing batin gunmawang, nora pangling sarirane, panuksmaning sawujud, nanging dhohir sasat paningit, reh sarehing satriyan, linakon winengku, pamurwane jagad raya, pan wus ngagem batine nora anilih, lir sato lan rimbagan.
43. Wus tanana ngahurip, dennya tampa ing guru wisiknya, tanana samar-samare, wisiking gurunipun, wus tamat karegem aneng ati, nastiti kang angiman, angestokken guru, sarta lan kecaping rahsa, pan dinadar ing nala suci awening, nyata lamun nugraha.
44. Temene ingkang guru sayekti, kang wus sirna jasade tanana, kagiwang ana nalane, wus tumrap walinipun, dene sanggya sukering ati, padhang dunya akherat, wus resik atemu, sukci langgeng pan wus murah, mulya suka ing sapari polah neki, pana tanpa kerana.
45. Pan wus panakacipta ning wangsit, tan asamar hing pati kacipta, wus samar ing waragane, marga ing pati luhung, kang sinelir maring Hyang Widi, tanana rasa rumangsa, rahsa kadi iku, sirnane tinggal punika, pan wus sirna alanggeng sukci mulyadi, mulya kadi duk kuna.
46. Nora samar sejatine pati, kang rumekseng pejah ing sekala, tan rumangsa hing pejahe, ingkang rusak ing nepsu, raga sukma kerta negari, suka mulya merdika, wus tumraping kayun, jumeneng ing purba nira, padha bersih langgeng suci wus weradin, wus wruh sirnaning tunggal.
47. Datan samar satibane pati, kang sampurna kang sinelir ika, tanana keksi wujude, kasampurnan puniku, pan wus karta negara singgih, anir nakkenriku, alam pepitu wus sirna, pan wus bersih sirnane alam puniki, tunggale ibaraha.
48. Ratuning alam pan wus kahesti, abirawa wastane punika, alam nenem iku lire, sirna wetan puniku, lawan kulon kidul lor iki, ing luhur lawan ngandhap, miwah kayu watu, tuwin bumi alit ika, ngawang nguwung kumandhang ing angin warih, hya mung alam dahana.
49. Surya candra alam puniki, tiga likur alam panasaran, dene iku anyar kabeh, pan sami qodimipun, Syeh Melaya pan nora pangling, yen iku penasaran, kang jati pang sampun, ratuning alam sedaya, kang nirmakken mung alam ambiyak iki, ambiyak mrik gundanya.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Monday, December 8, 2014

Rahasia Angka 3

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
“Kenegaraan, Kelahiran, Ketuhanan”, tegese, sak kabehing kahanan kang kasat mata iki ora pisah klawan “Tri Murti”.
Tri tegese “telu” dene Murti tegese “buntel” kealusan, dadi wijange “telu-teluning atunggal”. Samono uga kita ya ora pisah klawan “SAN = 3 TRI = 3 ya TRI MURTI”.
Kulit – daging – woh : golekano wohe, kang sejati.
Tutup – rasa – angen-angen : jumbuhe sesebutan Wayang.
Jagat – Dewa Batara : jumbuhe karo raganira.
Raga – budi hawa – angen-angen : jumbuhe karo wadahira.
Brahma – Guru – Wisnu : jumbuhe karo rupanira.
Sipat – jeneng – polah tingkah : kang amerak ati.
Katji – Haji – Caji : mesti dilakoni.
Solat – Sembiyang – Sembah Hyang : pada lakonana ing batine.
Lair – urip – mati : mesti dilakoni klakon.
Esuk – awan – bengi : ngimpi sakehing banda, bojo ayu, tunangan sakala ilang ditinggal mati, gambare wong stip (turu).
Mengertiya sakabehing karameyan kang umyung iku dadi kitab, tu-lesa, iku bisa dadi pitutur, tuturen ditiru turuten kautamane : 1. aja mung diwaca salamba, 2. aja mung di rungu salamba, 3. aja mung ditonton, yen ora disaring-saring, iku tanpa guna urip ngaku Satriya, Cantrik, Satriya, Kawula, Ngawula.
“Wonosobo tumekaning Dieng”, dadi pralambanging Panca Sila, “Panca Sila” dadi pralambang Elmu Ketuhanan, Elmu Ketuhanan pralambang Jedah Mekah Medinah, Jedah Mekah Medinah pralambang Prambanan Borobudur Dieng Edi Tur Aéng. Edi Tur Aéng, isine buku We Yoga Dhi. We Yoga Dhi ayo pada diudi, yen digugu dadi Yoga kang Adhi.
KESENGSEM BARANG KANG AGUNG (SEMAGUNG)
“Dieng awit Wonosobo ciptane Wali akarya pralambang kawruh batin, lan Jaman kang arep kelakon iki”.
Wono tegese alas ya Buwana ya donya, kang dialami iki, Sobo tegese wong kudu sesobo ngalor ngidul ngetan bali mangulon, kurang banter mlaku ? Nunggang sepeda, isih kurang banter ? Nunggang montor lan sapanunggalane. Sapiturute kabeh iku bekakas kanggo rebutan pangan, apus ingapus, ora ana putus-putuse, wis sugih isih kurang sugih, tansah pecah belah, bapa lali anak, anmak lali ing sadulur. Jalaran mung golek makmur, tapi pungkasane ajur mumur, yen saré awaké kaya ajur, meksa ora duwé wedak beras kencur. Ya iku dek jaman penjajah, kita iki tansah dipecah belah, kanggo dagangan Gusti Allah, jare wong Jawa aja kakeyan polah, jebulé sakehing Kebudayaan sasat ora kena disekolah.
Nanging kabudayan manca kang tansah wutah, kita bangsa kongsi ora bisa polah, tingak-tinguk géla-gélo, nglokro dadi bodo, ing manca wis bisa gawe radio, balik kita kang di rembug suwarga, ing mbesuk, ora ngerti yen mung diapusi, supaya aja ngrembug landeping ati, nanging bangsaku tetep ora ngerti, malah ajak gawé pepati, apa iku dawuhe Gusti tegesé apa iku bagus ati ?
Mula iku yén lali dén élingaké, dawuhing Kur’an Watanga wanu bil birri wa takwa wala tangawanu bil ismi wal ngudwa tegesé : sira kabéh pada gawéya kebagusan, gotong royong tulung tinulung, lan uga kudu éling marang kang paring gesang. Tegesé urip ora mung siji ana 20 sipaté mungguh kelahirané Ranté Panca Sila ana 20 cacahé, iku kita kudu sugih pangapura sambung ményambaung dadi siji ala-ala becika sing ala supaya becik, yen dadi siji rawe-rawe rantas malang-malang putung, iku ranté “sabda rukun” ayo pada kang rukun lan aja ndandeng-ndandeng, hayo bangsa pada ngudi elmu kejiwaan kang adi aéng.
Semono uga ing awakira ana kadang (sipaté) 20 mau jajal rasakna, yén sira mangan iku karepé napsu luamah, yén sira nesu iku karepé napsu amarah, sapituruté iku kelahirané wis nang aksara Jawa ana 20 cacahé sapa kang bisa ngerti, dunungé lan uga bisa ngerti asalé ing témbe bisa sampurna uripé, lan ing batiné, lan diéman dening sipat-sipaté, rineksa ing donyane, kalis sakehing bebaya, jajal mara wacanen awakira dewe.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Sunday, December 7, 2014

Nur Muhammad

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Ada sebahagian kepercayaan mengatakan Nur Muhammad lebih kurang begini: Muhammad itu cahayaku, aku Adam, Aku Muhammad, Aku Allah;
“Cahayaku pada Mata. Aku Adam, asalnya manusia dari kosong (suwung-jawa)”
“Aku Muhammad”, artinya asalnya dari Nur Muhammad, Terakhir “Aku Allah.”
Selanjutnya golongan tadi memutuskan adanya aku (ingsun-jawa), adanya nafas.
Tujuan dan pendapat diatas tadi umpama diteliti dengan jernih hasilnya tidak baik, karena Nur Muhammad itu tempatnya di mata, itu tidak sesuai dengan kenyataan, maka dari itu mata tidak bisa melihat jika tidak memiliki sifat Allah (Bashar), oleh karena sifat Bashar itu sifat-Nya Allah (Pangeran-jawa). Menurut keterangan dimuka tadi sifat Muhammad itu memiliki sifat lengkap (sifat 20). Jadi tidak benar kalau sifat 20 itu menyatu dimata. Menurut Hidayat Jati (Rangga Warsita) Muhammad itu selengkap begini; Nukat Gaib itu menjadi 2 bagian :
1. Nukat, artinya Benih (benih yang terjadi).
2. Gaib, artinya samar (tidak bisa dilihat oleh mata), tidak bisa diraba, sifatnya mutlak (abadi).
Nukat Gaib disebut Nur Muhammad, jika diteliti selanjutnya Wirid Hidayat Jati mengatakan bila Nur Muhammad itu cahaya yang terang benderang tidak ada bayangan cahaya (ingkang padang tanpa wayangan-jawa).
Kata terang artinya menerangai siapa yang kena sinarnya pasti merasakan sinarnya. Nyata kalau Nur Muhammad terang menyinari seluruh yang nyata atau wujud alam raya.
Karena tanpa bayangan jadi bukan cahaya lampu, memang tidak ada didunia ini. Apa sebab kata tanpa bayangan karena siapa saja, apa saja jika terkena cahaya pasti tembus, tembus artinya tidak putus karena terhalang benda apa saja, karena cahaya itu tanpa batas (meliputi). Jalan itu bisa menunjukan kepada jalan-Nya Dat yang wajib yang menyinari seluruh yang diciptakan. Pendek kata Ikhtikat (tujuan) Nur Muhammad atau cahaya yang suci, itu sama dengan Hakikatnya yang Maha Kuasa, sama dengan aku tidak melihat tetapi daya tarik menarik. Kata Nur Muhammad itu menurut ajaran agama yang mendapatkan adalah pujangga Al-Hallaj, mereka membenarkan bila kejadian semua yang diciptakan itu dari Hakekat-Muhammadiah. Wirid bahasa Jawa Nur Muhammad (cahaya yang terpuji), pujangga itupun berpendapat Nabi Muhammad terjadi dari 2 bagian, yaitu :
1. Muhammad, bentuk sifat Muhammad sendiri.
2. Muhammad, bentuk seluruh ilmu, agama, filsafat dan lain-lain, artinya pusat atau sumber segala ilmu.
Dari itu sifat Muhammad sama berdirinya Rasul, utusan Dat yang menyebar ilmu agama murni, tidak dicampuri agama apapun (ilmu-ilmu lain), an keterangannya dibawah ini :
1. Muhammad sama dengan manusia hidup.
2. Jiwa Muhammad sama dengan jiwanya manusia.
Yang menjadi penuntun agung Rasul, Nabi, Wali yang sudah Ma’rifat, yang sudah lepas dari godaan nafsu (keinginan). Jadi manusia itu sifat ujud pasti mati, sakit, rusak atau busuk. Kalau sifat Qadim Muhammad cahaya yang terpuji tetap meliputi Jagad raya, jadi sama dengan cahayaterang benderang tanpa bayangan. Dalil Al-qur’an surat Al-Qashash : 52 :
“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab (Yahudi, Nasrani) sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu (Allah atau Muhammad) “
Keterangan tadi mengagungkan nama Muhammad, menurut pujangga Al-Hallaj, Nur Muhammad itu sumber dari segala yang ada di Jagad raya ini dan seisinya, jadi makhluk, manusia dan benda-benda itu hanya percikan dari cahaya Muhammad. Karena hanya percikan cahayanya Dat, sifat, asma, afhngal, itu disebut Widhatulwujud. Pendapat Al-Hallaj itu lalu disebut dengan pujangga Ibnu Arrabi tahun 1102 Masehi di tanah Andalusia. Sama dengan pendapatnya menerangkan kalau Nabi Adam, para Nabi-nabi utusan Allah dan lain-lain didunia terjadi dari percikan cahaya Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad. Karena Nur Muhammad itu sama dengan Hakikatullah. Lalu keyakinan semua tadi keadaan satu (Sawiji-jawa) bisa pendapat tadi meluas di tanah Jawa antara abad 15 dan 16 Masehi. Dari silang pendapat orang itu kurang mendapat penerangan sudah berani mengikuti paham tadi, hanya berhenti sekedar tahu saja, tetapi sudah berani kepada umum, padahal pengetahuan tadi hanya Cuma bicara.
Rasa menyatu dengan-Nya (cahaya Illahi) tidak mudah jika tidak dijalani melalui Shalat Tauhid sampai ke At’tauhid tentu tidak bisa menerima keterangan-keterangan tadi, kalau salah bicara atau menerangkan mengakibatkan perkataan golongan lain mengatakan Kafir atau Kufur, menyatukan Allah atau menduakan Allah, jadi mengatakan Chaliq dan Makhluk itu dua, batinnya tidak menyetujui tentang Widhatulwujud (keadaan satu), makhluk itu bisa dilihat dengan mata tetapi Chaliq atau Dat yang tidak bisa dilihat atau dijangkau apapun.
Tetapi yang mempunyai sifat seperti Al-hallaj atau Ibnu Arrabi dan Syeh Siti Jenar itu; Ikhtikat Widhatulwujud, dihatinya dan amalannya sudah menyatakan bila Dat, Sifat, Asma, Afhngal, itu satu. Jadi tidak hanya tahu saja.
Keterangan Bab Anasir 4 macam seperti diatas keterangannya begini : pengikut agama kristen Allah itu atau Tuhan itu punya putra sama dengan Citra, bayangan Dat umpama matahari sinarnya memenuhi kolam, umpama itu ditekadkan sama dengan Nur Muhammad tidak seberapa beda, keterangannya begini :
1. Allah sama dengan sang Rama (Iswara-Sangsekerta);
2. Hakikatullah sama dengan Nur Muhammad;
3. Nur Muhammad sama dengan Citra;
4. Citra, Hakikatnya sama dengan Putra;
5. Sang Putra sama dengan Jiwa.
Jika diterangkan Nur Muhammad itu pusatnya kejadian dan menjadi wujud sifat hidup kita, Ikhtikat disebut aku (putra Allah). Putra (Citra) itu bayangannya Nur Muhammad, artinya putra bukan anak bisaa seperti bayangan yang diterima oleh Allah.
Karena sang Rama (Allah) itu tidak bisa dibayangkan (dilihat) dengan mata bayangannya pun tidak bisa dilihat. Sifat-sifat tadi dimiliki oleh manusia, sifat-sifat bisa dipergunakan untuk membuktikan yang tidak bisa dilihat tadi (terjangkau oleh akal pikiran). Dalam agama Budha disebut Nirwana (alam abadi), oleh karena tadi hanya nama dan kata-kata saja, jadi salah mengaku kuasa semua itu salah. Hakikatnya tidak bisa berdaya apa-apa kalau menyinari pada sifat-sifat yang tidak lengkap, tetapi bagi manusia bekerjanya seperti yang memiliki sifat Hakikat.
Oleh karena yang memiliki Hakikat itu hanya untuk satu gambaran (contoh); matahari dilangit menyinari kekolam isi air, jadi sikolam tidak memiliki sinar, yang memiliki tentu matahari.
Keterangan tadi Muhammad itu Hakikatnya Dat dan Dat itu lengkap tidak berubah-ubah dan wajib adanya, lalu penganut yang mengatakan Muhammad itu cahayaku yang tempatnya dimata tidak bisa diterima. Untuk menutup keterangan tentang Muhammad penting menjadi peringatan, karena sifat Muhammad dan Rasul, dan bisa mengatakan Rasul, harus diamalkan (dikerjakan) karena sifat 20 adalah sifat-sifat-Nya Allah yang tanpa batas, cahaya tanpa batas;
“Orang yang mempunyai kemauan itu kemauan Allah”
“Orang yang berbicara itu bicaranya Allah”
“Orang yang berbuat itu berbuatnya Allah.”
Karena itu orang yang telah menjadi Rasul, Nabi, Wali, Mukmin Haz (yang sudah Ma’rifat), orang yang sudah dibuka hatinya oleh Allah yang tidak pernah merasakan apa-apa yang dibicarakan atau yang dikerjakan, karena sudah pasrah (menurut kehendak-Nya).
Jadi tandanya siapa saja mengaku dirinya berkuasa, pintar, bayak ilmunya, kebal, bisa menghilang dan kesayangan Allah yang sangat mengherankan itu bukan utusan Allah, melainkan utusan nafsu (syetan), seperti Dalil Qur’an surat At-Takwir : 29 ;
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”
Maksudnya jelas sekali, umpama bisa At’tauhid (menyatu dengan-Nya) dengan Dat yang Maha Suci, seperti ayat diatas apa yang kita mau itu kemauan Allah, itu semua melewati mulut, telinga, yang menadi perantaranya Allah bagi orang yang sudah mencapai Ma’rifatullah
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Saturday, December 6, 2014

semedi/meditasi #2

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Samadi berasal dari kata : Sam artinya besar dan Adi artinya bagus atau indah. Seseorang yang melakukan samadi adalah seseorang yang mengambil posisi-patrap untuk meraih budi yang besar, indah dan suci.
Budi suci adalah budi yang diam tanpa nafsu, tanpa keinginan dan pamrih apapun. Inilah kondisi suwung ( kosong ) tetapi sebenarnya ada aktifitas dari getaran hidup murni, murni sebagai sifat-sifat hidup dari Tuhan.
Budi suci terlihat seperti cahaya atau sinar yang disebut Nur, Nur itu adalah hati dari budi. Kesatuan dari budi dan nur secara mistis disebut curigo manjing warongko atau bersatunya kawula dan Gusti atau juga biasa digambarkan Bima manunggal dengan Dewa Ruci.
Istilah lainnya ialah Pangrucatan atau Kamukswan, pangrucatan itu artinya dilepas, apa yang dilepas ? pengaruh dari nafsu . Mukswa artinya dihapus, apa yang dihapus ? pengaruh dari nafsu, oleh karena itu samadi adalah satu proses dari penyucian budi, budi menjadi nur. Di dalam nur ini, kawula bisa berkomunikasi dengan Gusti untuk menerima tuntunan sesuai dengan kedudukannya sebagai kawula.
Praktek Samadi
Waktu bersamadi orang bisa mengambil posisi duduk atau tidur telentang diatas tempat tidur. Pilihlah tempat yang bersih, tenang dan aman, bernafaslah dengan santai, pada posisi tidur kaki diluruskan, kedua tangan diletakkan didada. Dengarkanlah dengan penuh perhatian suara nafas dengan tenang, menghirup dan mengeluarkan udara melalui hidung. Ini akan membuat pikiran menjadi tidak aktif. Nikmatilah suara nafas dengan jalan menutup mata, ini sama seperti kalau memusatkan pandangan kepada pucuk hidung.
Dengan melakukan ini, pikiran dinetralisir demikian juga angan-angan dan pengaruh panca indera. Sesudah itu nafsu dinetralisir didalam indera ke enam. Bila berhasil orang akan berada dalam suwung dan nur mendapatkan tuntunan mistis yang simbolis.
Manusia.
Manusia diciptakan oleh Tuhan, manusia adalah makluk yangmempunyai :
1. Badan jasmani = badan kasar.
2. Badan jiwa = badan alus.
3. Badan cahaya = nur atau suksma
Dengan susunan seperti tersebut diatas, diharapkan akan mampu mengetahui “ Sangkan Paraning Dumadi “ ( makna perjalanan kehidupan ).
Memahami Jagad Raya.
Sebelum adanya jagad raya, tidak ada apa-apa kecuali kekosongan dan suwung. Didalam suwung terdapat sifat-sifat hidup dari Tuhan, jagad raya adalah suatu Causa prima. Sifat-sifat hidup Tuhan terasa seperti getaran dan getaran ini terus menerus.
Ada tiga elemen yang terdiri dari :
1. Elemen merah dengan sinar merah, ini panas
2. Elemen biru dengan sinar biru, ini dingin
3. Elemen kuning dengan sinar kuning, ini menakjubkan.
Elemen-elemen ini selalu bergetar. Sebagai hasil dari perpaduan ketiga elemen tersebut, elemen ke empat lahir dengan warna putih atau putih keperak-perakan dan inilah yang disebut nur. Nur itu adalah sari dari jagad raya, ada yang menjadi calon planet, ada yang menjadi badan budi atau jiwa yaitu badan jiwa dari manusia, ketika nur menjadi sari dari badan jasmani manusia. Itu artinya didalam jagad raya dan galaksi akan selalu dilahirkan planet-planet dan bintang-bintang baru. Kondisi dari plenet-planet yang baru dilahirkan bisa berbeda antara yang satu dengan yang lain, karena tergantung kepada pengaruh dari tiga elemen tersebut, ada planet yang bisa dihuni dan yang tidak bisa dihuni.
Miyos saking renteging hawa
ambedah anggit prayitnaing pikir
sesumeh bayu ayuning asih
njembari pajar latuning titah
ilang lunganing ngawang
nemoni asrep reseping wening
Ono sanepa kagem pepiling
Wong kang ambudi daya kalawan anglakoni tapa utawa semedi kudu kanthi kapracayan kang nyukupi apa dene serenging lan kamempengan anggone nindhakake. Atine kudu santosa temenan supaya wong kang nindhakake sedyane mau ora nganti kadadeyan entek pengarep-arepe yen kagawa saka kuciwa dening kahanane badane, wong mau kudu nindakake pambudi dayane luwih saka wewangening wektu saka katamtuwaning laku kang dikantekake marang sawiji-wijining mantram lan ajaran ilmu gaib awit gede gedening kagelan iku ora kaya wong kang gagal enggone nindakake lakune rasa kuciwa kang mangkono iku nuwuhake prihatin lan getun, nganti andadekake ciliking ati lan enteking pangarep-arep. Sawise wong mau entek pangarep arepe lumrahe banjur trima bali bae marang panguripan adat sakene mung dadi wong lumrah maneh.
Kawruhana wong kang lagi miwiti ngyakinake ilmu gaib sok sok dheweke iku mesthi nemoni kagagalan kagagalan kang nuwuhake rasa kuciwa. Sawijining wewarah kang luwih becik tumrap wong kang lagi nglakoni kasutapan iya iku ati kang teguh santosa aja kesusu-susu lan aja bosenan ngemungake wong kang anduweni katetepan ati lan santosaning sedya sumedya ambanjurake ancase iya iku wong kang bakal kasembadan sedyane. Wong ngyakinake prabawa gaib iku anduweni kekarepan supaya dadi wong lanang temenan kang diendahake dening wong akeh, iya anaa ing ngendi wae enggone nyugulake dirine, Amarehe diwedeni ing wong akeh panguwuhe gawe kekesing wong yen anyentak dadi panggugupake lan gawe gemeter dirine, ditrisnani ing wong akeh pitembungane digatekake lan pakartine diluhurake ing wong akeh, iya pancen nyata wong liyane mesthi tunduk marang sawijining wong kang ahli ilmu.
Wong ahli kasutapan tansah yakin enggone ngumpulake kekuwatan gaib ing dalem dhirine. Ana paedahe kang migunani banget manawa wong nindakake pambudi daya kalawan misah dheweke ana ing papan kang sepi karana tinimune kekuwatan gaib iku sok-sok tinemu dhewekan ana ing sepen. Wong ahli kasutapan kudu budidaya bisane nglawan marang nepsune kekarepan umum (kekarepan wong akeh kang campur bawur ngumandang ana ing swasana), kalawan tumindak mangkono wong ahli kasutapan mau dadi nduweni pikiran-pikiran kang mardhika, iya pikiran-pikiran kang mangkono iku kang bisa nekakake kasekten gaib.
Sangsaya akeh kehing kang kena tinides, uga sangsaya gedhe tumandhoning kekuwatan gaib kang kinumpulake. Kekuwatan gaib iku tansah makarti tanpa kendhat enggone mujudake sedya lan nganakake kekarepan. Wong ahli kasutapan kudu anduweni ati kang tetep lan kekarepan kan dereng, kalawan ora maelu marang anane pakewuh pakewuhe lan kagagalan-kagagalaning. Kasekten iku kaperang ana rong warna, iya iku kasekten putih (Witte magie/white magic) utawa kasekten ireng (Zwarte magie/Black Magic). Awit saka anane perangan mau banjur dadi kanyatan yen perangan kang sawiji iku becik, dene perangan liyane ala.
Kasekten putih iku satemene ilmu Allah Kang Maha Luhur wis mesthi bae kapigunakake mligi kanggo kaslametane wong akeh. Dene kasekten ireng iku ilmu kaprajuritan kang kapigunakake luwih-luwih kanggo nelukake kalayan paripaksa, sarta bakal anjalari kacilakaning wong liya. Ananing sakaro karone saka sumber ilmu Allah sarta sakaro karane iku padha dipigunakake kalawan atas asma Allah. Tinemune ilmu-ilmu kasekten iki saranane kalawan kekuwataning pikiran pikiran iku manawa kagolongake meleng sawiji bisa nuwuhake kekuwatan kaya panggendeng kang rosa banget tumrap marang apa bae kang dipikir lan disedya.
Wong kang nglakonitapa kalawan nindakake laku-laku kang tinemtokake wis mesthi bae gumolonging pikirane bebarengan padha kumpul dadi siji sarta katujokake marang apa kang disedya kalawan mangkono iku kekuwatan daya anarik migunakake sarosaning kekuwatane banjur anarik apa kang dikarepake. Swasana kang katone kaya dene kothong bae iku satemene ana drate rupa-rupa kayata : geni murub emas kayu lemah waja, electrieiteit zunrstof koolzunr sarpaning Zunr lan isih akeh liya-liyane maneh.
Samengko umpamane ban ana sawijining wong kang lagi tapa kalawan duwe sedya supaya andarbeni daya prabawa kang luwih gedhe sarta anindakake sakehing kekuwatan pikiran kalawan ditujokake marang sedyane mau nganti nuwuhake daya prabawa. Kekuwataning daya anarik saka pikiran iku banjur anarik dzat ing swasana kang pinuju salaras karo daya prabawa mau kalawan saka sathithik sarta sareh dzat daya prabawa kang ing swasana iku katarik mlebu ing dalem badane wong kang lagi tapa mau. Kalawan mangkono dzat “prabawa” iku dadi kumpul ing dalem badane wong narik dzat iku nganti tumeka wusanane badane wong ahli tapa, iku bisa metokake daya prabawa kang gedhe daya karosane.
Wong kang andarbeni ilmu kang mangoko iku dadi sawijining wong kang sakti mandraguna. Tumrap wong-wong kang nglakoni tapa ditetepake pralambang telu : Diyan, Jubah lan Teken. Diyan minangka pralambanging pepadhang, tumrap kahanan kang umpetan utawa gaib. Jubah minangka dadi pralambange katentremaning ati kang sampurna, dene teken minangka dadi pralambanging kekuwatan gaib.
Ing dalem sasuwene wong nglakoni tapa iku prelu banget kudu migateake marang sirikane, kayata : wedi, nepsu, sengit, semang-semang lan drengki. Rasa wedi iku sawijining pangrasa kang luwih saka angel penyegahe. Menawa isih kadunungan rasa wedi ing dalem atine wong ora bakal bisa kasambadan apa kang disedyaak. Kalawan “rasa wedi” iku atining wong dadi ora bisa anduweni budi daya apa-apa.
Sajrone nglakoni tapa utawa salagine ngumpulake kekuwatan gaib, atining wong iku mesthi kudu tetep tentrem lan ayem sanadyan ana kadadeyan apa wae. Manawa atine wong iku nganti gugur, kasutapan iya uga dadi gugur lan kudu lekas wiwit maneh. Gegeman kalawan wadi sakehing ilmu gaib lkang lagi pinarsudi, luwih becik murih nyataning kasekten tinimbang karo susumbar kalawan kuwentos kayakenthos.
“Nepsu” iku andadekake tanpa dayane kekuwataning batin. “Semang-semang” iku andadekake ati kang peteng ora padhang terang. “Sengit utawa drengki” iku uga dadi mungsuhing kekuwatan gaib. Wong kang lagi nindakake katamtuwan ing dalem kasutapan kudu kalawan ati kang sabar anteng lan tetep.
Patrapebadan kang kaku lan kagugupan kudu didohake .
Þ Aja sok singsot
Þ Aja duwe lageyan sok nethek nethek kalawan driji tangan marang meja kursi utawa papan liyane.
Þ Aja ngentrok-entrokake sikil munggah mudhun.
Þ Aja sok anggigit kukuning dariji tangan.
Þ Aja mencap-mencepake lambe.
Þ Aja molahake lidhah lan andhilati lambe.
Þ Aja narithilake kedheping mata.
Þ Ngedohake sakehing saradan utawa bendana kang ora becik, kayata glegak-glegek molah-molahake sirah, kukur-kukur sirah, ngangkat pundhak lan liya-liyane sabangsane saradan kabeh.
Satemene perlu banget nyirnakake kekarepan “drengki” luk wit ngrasaning karep drengki iku banget nindhih marang diri pribadi. Ana maneh “drengki” iku kaya anggawa sawijining pikulan abot kang tansah nindhes marang dhiri lan sarupa ana barang atos medhokol kang angganjel pulung ati. “Drengki lan meri” iku mung anggawa karugiyan bae tumrap kita, ora ana gunane sathithik -thithika. Salawase wong isih anduweni pangrasan karep “drengki lan meri” iku ora bakal bisa tumeka kamajuwane tumrap dunya prabawaning gaib.
Ora mung tumindak bae tumrap sawijining wong bae bisa maluyakake wong liya kalawan kekuwatan gaib nanging uga tumindak tumrap sawijining wong maluyakake dhiri pribadi kalawan kekuwatan iku. Bisane maluyakake larane wong liya, mesthine kudu ngirima kekuwatan waluya marang sajroning badane wong kang lara. Manawa wong gelem naliti yen wong iku bisa ngumpulake kekuwatan gaib ing dalem badane dhewe lan ngetokake sabageyan kekuwatan gaib kawenehake marang wong liyane mestheni uwong bisa ngreti yen arep migunakake kekuwatan iku nganggo paedahe dhiri dhewe uga luwih gampang.
Supaya bisa nindhakake pamaluya marang dhirine dhewe kalawan sampurna wong ngesthi kudu mahamake cara-carane maluyakake panyakit. Iya iku cara-cara kang katindakake kanggo maluyakake wong liya lan wusanane ambudidaya supaya bisa migunakake obah-obahan iku marang awake dhewe.
Kawitane wong kudu nindakake patrape mangreh napas, kanggo negahake asabat. Dene carane ngatur napas iku kaprathelakake kalayan ringkes kaya ing ngisor iki :
Ø Madika panggonan kang sepi.
Ø Lungguha ing sawijining palinggihan kang endhek lan kepenak, sikil karo pisan tumapak ing lemah.
Ø Badan kajejegake lan janggute diajokake.
Ø Benik-beniking klambi kang kemancing padha kauculan, sabuk uga diuculi supaya sandangan dadi longgar lan kepenak kanggo tumindhak ing napas.
Ø Pikiran katarik mlebu, supaya luwar saka sakehing geteran pikiran kaya saka ing jaba.
Ø Sakehing urat-urat kakendokake.
Ø Banjur narika napas kalawan alon lan nganti jero banget tahanen napas iku sawatara sekon/detik (kira-kira 6 detik) lan wusanane wetokna napas iku kalawan sareh.
Anujokna gumolonging pikiran kalawan ngetut marang napas kang mlebu metu iku kalawan giliran. Cara nindakake napas kaya ing ngisor iki :
Þ Narik napas kalawan alon lan nganti jero ing sabisane, nganti dhadha mekar lan weteng dadi nglempet.
Þ Nahan napas iku kira-kira nem saat utawa luwih suwe ing dalem paru-paru dhadhane cikben lestari mekare, lan wetenge cikben lestaringlempetake kalawan mangkono iku gurung dalaning napas tansah tetep menga.
Þ Ambuangna napas kalawan alon nganti entek babar pisan nganti dhadha dadi kempes, lan weteng dadi mekar.
Þ Banjurna marambah-rambah matrapake mangkono iku suwene kira-kira saka lima tumeka limolas menit utawa luwih suwe nganti bisa nemoni pangrasa anteng lan tentrem ing sajroning badan.
Carane matrapake kasebut ing dhuwur iku sawijining cara kanggo napakake napas, iki kena lan kudu ditindakake saben dina telung rambahan, dening sapa bae kang nglakoni tapa supaya oleh ilmu gaib. Daya kang luwih bagus iya iku miwiti makarti miturut pituduhan. Aja weya nindakake patrap kanggo napakake napas iku.
Cara matrapake tumindaking napas iku kena uga ditindakake kalayan leyeh-leyeh mlumah : ngendokake sakabehing urat-urat nyelehake tangan karo pisan sadhuwuring weteng lan nindakake lakuning napas miturut aturan. Daya ngisekake Prana Ngadeg kalawan jejeg sikil karo pisan kapepetake dadi siji lan driji -drijining tangan karo pisan dirangkep dadi siji kalawan longgar.
Banjur matrapa lakuning napas sawatara rambahan miturut aturan. Gawe segering utek lungguha kalawan jejeg lan nyelehna tangan karo pisan ing sandhuwuring pupu kiwa tengen: mripat mandheng marang arah ing ngarep kalawan tetep: sikil karo pisan tumadak ing lemah. Kalawan jempol tangan tengen anutup lenging grana sisih tengen lan anarika napas liwat lenging grana sisih kiwa, wusana nglepasake jempol iku banjur ambuwang napas lan nutupa lenging grana kiwa kalawan driji narika napas liwat lenging grana tengen, lepasna driji panutup 
iku lan ambuwanga napas. Mangkono sabanjure kalawan genti-genten kiwa lan tengen.
Permalink 2 Tanggapan
 
07.02.08
SEMEDI
Ditulis dalam SEMEDI pada 2:56 pm oleh Mas Kumitir
KASENGSEM MRING HYANG WIDDHI
[ BEBUKANE SEMEDI ]
Para aji sepuh ingkang satuhu pana ing pamawas miwah lebda ing pitutur,
Manawi boten klentu kula sampun nate ngedumel ing mriki ukara ingkang ungelipun makaten: “Kaweruh bab ngelmu [kabatosan] punika manawi taksih saking piwulangipun asanes, utawi piwulangipun buku-buku, punika taksih dereng kenging dipunpercados wetah, jalaran piwulang wau sayektosipun namung ancer-ancer minangka kangge cocogan ing tembe.”
Sampun kalimrah tumraping bangsa Wetanan nindakaken laku prihatin, anggentur tapa brata, semedi, lsp. minangka panembungipun dhateng Gusti Kang Murbeng Dumadi. Tamtu, prayoginipun panjenengan sampun namung maos andharan kula kemawon, nanging sumangga sami sesarengan ngangkah sageda sumerab lan ngalami semedi ingkang sanyata punika. Manawi kita dereng sumerab semedi ingkang nyata, punika ateges kita dereng pikantuk pangawikan pribadi, basa kemplingipun self-knowledge. Lan samangsa dereng damang dhateng pribadi kita piyambak-piyambak, ‘aku’-nipun piyambak-piyambak, semedi punika boten ngemu teges punapa-punapa. Manawi boten wonten tegesipun, lha rak mudakir, eh mubadzir ta? Lajeng kados pundi caranipun semedi ingkang leres lan ngemu teges punika?
Lenggah ing pojokan patamanan pinggir margi merana seorang diri menanti pujaan hati utawi kliyek-kliyek ing pasareyan ngenteni mudhune ponang wahyu lenga tala, punika rak boten teges semedi ta? Makaten punika wau leregipun namung nggelengaken cipta, tegesipun misah. Kula saged mesthekaken yen wonten sawatawis tiyang ingkang nyobi ngecakaken semedi kanthi cara-cara wau.
Panjenengan ngangkah nggelengaken cipta, ning nggagas sawijining lesan [objek] lan pikiran panjenengan klambrangan mrika-mrika, punapa malih kanthi mripat merem melek kedhip-kedhip kemuayu kados Yong Ma, panjenengan pidih sagedipun gumeleng. Samangsa kandhas ing sedya, lajeng panjenengan ndonga umik-umik. Dados manawi tiyang saestu pangangkahipun badhe mangertos kados pundi ta semedi ingkang leres punika, tiyang kedah sumerab kalintuning tanduk ingkang kita wastani semedi. Sampun tetela yen nggelengaken cipta punika sanes semedi.
Panjenengan ngangkah badhe nggelengaken cipta dhateng sawijining lesan, ning pikir panjenengan slewengan dhateng barang sanes, temahan dumados cengkah-cinengkah, benceng kajeng ajegan. Yen pancenipun makaten badhe katujokaken dhateng satunggiling lesan, ananging pikir boten purun, nyleweng dhateng sanes. Cobi sapunika panjenengan waspadhakaken, ing salebeting lampah nggelengaken cipta makaten punika, ing ngriku rak ketingal mengku patrap mageri pribadi, dados nyimpang saking tujuwan.
Samangke nyandhak bab ndonga. Cetha bilih ndonga punika wonten wohipun. Upamia boten makaten, mangsa puruna tiyang pinten-pinten ndonga. Kados-kados ing salebeting ndonga pikir lajeng kadamel kendel [kendel=lerem; dede kendel=wani]. Kanthi ngucapaken tetembungan ajeg wongsal-wangsul pikir lajeng dados lerem, sarta ing salebeting lerem wau lajeng wonten pitedah, sawangan utawi wangsulan. Ning, makaten punika inggih taksih kalebet peranganing karti sampekaning pikir.
Jalaran, gunggung kepruk sarana dedonga panjenengan saged damel lereming pikir. Sarta ing dalem lerem wau, wonten wangsulan sandhi jumedul saking raos ingkang boten kawedhar dalah ingkang kawedhar. Ning, makaten punika inggih taksih kawengku ing kawontenan ingkang boten suka pangertosan.
Semedi punika sanes panembah [panembah dhateng pamanggih, gegambaran, utawi kapitadosan] amargi samukawis gegubahaning pikir, punika taksih kalebet ewoning brahala. Saged ugi tiyang boten mangeran dhateng reca, jalaran dipun manah yen pakarti punika nasar saking nalar, kapilare, lan gugon tuhon.
Semedi kanthi mundi-mundi barang gegubahaning pikir, pepetan, pamanggih, rama, begawan, kyai, selebritis, lsp., punika inggih sanes semedi ingkang nyata. Cethanipun, punika namung sawenehing lampah ngoncati dhiri pribadi. Patrap ngoncati makaten wau pancen asring saged damel pemareming manah. Ning, inggih taksih ewoning ngoncati.
Pangangkah saged dados tiyang utami kanthi pambubidaya ingkang tanpa kendhat [ngangkah badhe dados tiyang utami sarana masuh dhiri sarana pangatos-atosing pamerdi dhateng dhiri pribadi tuwin sanesipun], punika inggih sanes semedi ingkang nyata.
Kathah ingkang kawilet ing lampah makaten wau. Sarehning punika wau boten mbuka pangertosan kita tumrap kajatening pribadi, pramila lampah punika wau sanes margi ingkang anjog dhateng saleresipun. Pepunthonipun, punapa ta dhasar panjenengan kangge mawas ing saleresipun manawi tanpa pangawikan pribadi?
Bilih tanpa pangawikan pribadi, sadaya ingkang panjenengan tindakaken punika namung badhe manut dhasaring pangangen-angen kita, manut tanggaping cipta ingkang sampun mawa corek.
Tanggaping cipta ingkang mawa corek makaten punika sanes semedi. Ning, sagedipun tiyang sumerab ing tanggaping cipta [tegesipun saged kraos dhateng mobah-mosiking pikir lan raos], punika tanpa ngemohi lan tanpa nanggapi [basa monceripun without condemnation and justification]. Pasrah bongkokan wis apa jare kono, ngantos estu tuhu pramana dhateng mobah-mosiking pribadi, polahipun pribadi. Lha, inggih punika margi ingkang saged anjog dhateng semedi ingkang nyata.
Semedi punika boten ateges kedah nilar bebrayan lho! Bebrayan sampun dipuntilar piyambakan, mangke ndhak sakit rindu. Semedi punika lampah ingkang tundhonipun mbuka pangertosan dhiri pribadi. Bilih tiyang sampun wiwit sumerab ing dhiri pribadi [boten namung ing raos ingkang kawedhar, nanging ugi peranganing dhiri pribadi ingkang tan kawedhar], lha ingriku punika bebukaning kahenengan.
Pikir ingkang kakendelaken sarana peksan, sarana tiru-tiru, punika boten kendel [lerem]. Punika pikir ingkang kandheg. Punika sanes cipta ingkang awas ing pangawikan, tan ika iki, sarta gampil nggraita ing pambudi.
Semedi punika mbetahaken tansah awas lan pamawas, tansah kraos ing saben tembung, pikir lan raos, ingkang medharaken kajatenipun pribadi kita ingkang kawedhar dalah ingkang boten kawedhar. Ing sarehne makaten punika sakelangkung rungsitipun, mila kathah ingkang milih ngoncati lampah semedi, lajeng pados sadhengah kasenengan barang ingkang nggendeng manah.
Ning, samangsa tiyang mangertos bilih pangawikan pribadi punika bebukaning semedi, prakawis punika lajeng dados sakelangkung wigatos sarta damel sengseming manah. Awit, gunggung keprukipun [wiwit mau kok keprukan terus ta ya!] bilih tanpa pangawikan pribadi, mokal panjenengan badhe kasembadan saged nindakaken ingkang panjenengan wastani semedi ingkang leres lan ngemu teges.
Ning, manawi panjenengan taksih leket ing agami/kapracayan panjenengan, rekening panjenengan, tetumpakan panjenengan, griya panjenengan, utawi kosokwangsulipun, panjenengan babarpisan nyingkur samukawis kadonyan, utawi, saged ugi panjenengan taksih leket dhateng pamanggih [feeling panjenengan nggeleng mriku, temahan pamanggih-pamanggih wau dados dhasaring gegubahan panjenengan ingkang saya mindhak-mindhak], sampun samesthinipun punika sanes semedi ingkang leres.
Kados atur kula ing inggil, bilih pangawikan pribadi punika minangka bebukaning semedi. Tanpa pangawikan pribadi, tangeh sagedipun semedi. Manawi tiyang punika saya lebet pangawikaning ing dhiri pribadinipun, angen-angenipun dados lerem lan lugu kendel, saged nglalekaken kajatenipun.
Kendelipun punika boten kadamel, boten kapeksa awit saking melik ganjaran swarga utawi saking ajrih neraka. Ing riku lajeng wonten kahenengan, lah ing ngriku ngalelanipun Ingkang Sanyata, Kasunyatan, The Reality.
Ning, kahenengan ing riku sanes kahenengan cara Islam, Kristen, Buddha, utawi Hindu. Kahenengan ing riku punika kahenengan ingkang boten kenging kawastanan. Mila, bilih panjenengan ngambah margining kahenengan cara Islam, Kristen, Buddha utawi Hindhu, tangeh sagedipun kendel. Dados, manawi tiyang nedya manggih Kasunyatan, kedah nyingkur babarpisan wewatesanipun, punapa Islam, Kristen, Hindu, Buddha, utawi golongan sanesipun.
Manawi perlunipun namung nyantosakaken dhedhasaranipun [i.e. agama/kapracayan panjenengan] sarana semedi, sarana mituhu ing tuladha isining kitab-kitab utawi dhawuhing ika iki, punika tumraping kula pribadi namung badhe damel kandheg lan bawuring cipta. Lan kula boten saged mesthekaken saestu punapa ingkang dipunpingini ing akathah, awit pancen gampil damel patuladhan lajeng dipunpituhu. Ning, manawi tiyang ngangkah badhe luwar saking dhedhasaripun, punika mbetahaken pamawas ingkang tanpa kendhat dhateng sesrawungan.
Samangsa sapisan kemawon sampun kasil saged ngambah ing kahenengan makaten wau, temahan tuwuh kawignyan bawa anggit ingkang boten kados salimrahipun. Ning, kahenengan punika boten saged ginayuh punapa malih dipuntiru, manawi makaten lajeng ical. Panjenengan boten saged dumugi ingriku sarana ngambah margi pundi kemawon.
Sagedipun kadumugen, namung manawi larahing pribadi dipunmangertosi, sarta pun pribadi dalah sadaya pakartinipun lan kajuliganipun sampun telas. Angen-angen sampun boten nggubah, punika dhatengipun bawa anggit [dumadi]. Awit saking makaten wau, pikir kedah dados prasaja, angen-angen kedah tentrem.
Ning, tembung ‘kedah’ punika estunipun boten leres. Ungel-ungelan ‘pikir kedah dados prasaja, angen-angen kedah tentrem’, punika mengku suraos pameksa. Angen-angen punika saweg tentrem samangsa boten dipunpeksa, nembeh sadaya pakartining pribadi saged kendel.
Manawi sadaya polahipun pribadi punika sampun kendel, lha ing ngriku saweg wonten kehenengan. Kahenengan makaten punika semedi ingkang sanyata. Inggih salebeting kahenengan ingkang makaten wau ngalelanipun Kasunyatan.
Wong kang ambudi daya kalawan anglakoni tapa utawa semedi kudu kanthi kapracayan kang nyukupi apa dene serenging lan kamempengan anggone nindakake. Atine kudu santosa temenan supaya wong kang nindakake sedyane mau ora nganti kadadeyan entek pengarep-arepe yen kagawa saka kuciwa dening kahanane badhane. Wong mau kudu nindakake pambudi dayane luwih saka wewangening wektu saka katamtuwaning laku kang dikantekake marang sawiji-wijining mantram lan ajaran ilmu gaib, awit gede-gedening kangelan iku ora kaya wong kang gagal anggone nindakake lakune. Rasa kuciwa kang mangkono bakal nuwuhake rasa prihatin lan getun, nganti andadekake ciliking ati lan enteking pangarep-arep. Sawise wong mau entek pangarep-arepe lumrahe banjur trima bali bae marang panguripan adat sabene, marem mung dadi wong lumrah maneh.
Kawruhana, wong kang lagi miwiti ngyakinake ilmu gaib sok-sok dheweke mesthi nemoni kagagalan-kagagalan kang nuwuhake rasa kuciwa. Sawijining wewarah kang luwih becik tumrap wong kang lagi nglakoni kasutapan, iya iku ati kang teguh santosa aja kesusu-susu lan aja gampang jeleh lan nglokro. Ngemungake wong kang nduweni katetepan ati lan santosaning sedya sumedya ambanjurake ancase, iya iku wong kang bakal kasembadan sedyane. Wong ngyakinake prabawa gaib iku anduweni kekarepan supaya dadi manungsa temenan kang diendahake dening wong akeh, ana ing ngendi wae anggone nyugulake dhirine, temahan diwedeni ing wong akeh, panguwuhe gawe kekesing wong, yen anyentak dadi marakake njepiping lan gawe ketir-ketir cilik atine, ditresnani ing wong akeh, pitembungane digatekake lan pakartine diluhurake ing wong akeh, iya pancen nyata wong liyane mesthi tunduk marang sawijining wong kang kebak ngelmu.
Wong ahli kasutapan tansah yakin anggone ngumpulake kekuwatan gaib ing dalem dhirine. Ana paedahe kang migunani banget manawa wong nindakake pambudi daya kalawan misah dheweke ana ing papan kang sepi karana tinimune kekuwatan gaib, iku sok-sok tinemu dhewekan ana ing sepen. Wong ahli kasutapan kudu budidaya bisane nglawan marang nepsune kekarepan umum (kekarepan wong akeh kang campur bawur ngumandang ana ing swasana). Kalawan tumindak mangkono wong ahli kasutapan mau dadi nduweni pikiran-pikiran kang mardhika. Iya pikiran-pikiran kang mangkono iku kang bisa nekakake kasekten gaib.
Sangsaya akeh kehing kang kena tinindhes, uga sangsaya gedhe tumandhoning kekuwatan gaib kang kinumpulake. Kekuwatan gaib iku tansah makarti tanpa kendhat enggone mujudake sedya lan nganakake kekarepan. Wong ahli kasutapan kudu anduweni ati kang tetep lan kekarepan kang dereng, kalawan ora maelu marang anane pakewuh-pakewuhe lan kagagalan-kagagalaning. Kasekten iku kaperang ana rong warna, iya iku kasekten putih (White Magic) utawa kasekten ireng (Black Magic). Awit saka anane perangan mau banjur dadi kanyatan yen perangan kang sawiji iku becik, dene perangan liyane ala.
Kasekten putih iku satemene ilmu luhur wis mesthi bae kapigunakake mligi kanggo kaslametane wong akeh. Dene kasekten ireng iku ilmu kang kapigunakake luwih-luwih kanggo nelukake kalayan paripaksa, sarta bakal anjalari kacilakaning wong liya. Ananing sakaro-karone saka sumber kang padha, sarta sakaro karane iku padha dipigunakake kalawan aran kang padha, nganggo asmane gusti. Tinemune ilmu-ilmu kasekten kalawan kekuwataning pikiran iku manawa kagolongake meleng sawiji bisa nuwuhake kekuwatan kaya panggendeng kang rosa banget tumrap marang apa bae kang dipikir lan disedya.
Wong kang nglakoni tapa kalawan nindakake laku-laku kang tinemtokake wis mesthi bae gumolonging pikirane bebarengan padha kumpul dadi siji sarta katujokake marang apa kang disedya. Kalawan mangkono iku kekuwatan daya anarik migunakake sarosaning kekuwatane banjur anarik apa kang dikarepake. Swasana kang katone kaya dene kothong bae iku satemene ana drate rupa-rupa.
Samengko upamane banjur ana sawijining wong kang lagi tapa kalawan duwe sedya supaya andarbeni daya prabawa kang luwih gedhe sarta anindakake sakehing kekuwatan pikiran kalawan ditujokake marang sedyane mau nganti nuwuhake daya prabawa. Kekuwataning daya anarik saka pikiran iku banjur anarik dzat ing swasana kang pinuju salaras karo daya prabawa mau kalawan saka sathithik sarta sareh. Dzat daya prabawa kang ing swasana iku katarik mlebu ing dalem badhane wong kang lagi tapa mau. Kalawan mangkono dzat prabawa iku dadi kumpul ing dalem badhane wong kang anarik dzat, nganti tumeka wusanane badane wong mau bisa ngetokake daya prabawa kang gedhe daya karosane.
Wong kang andarbeni ilmu kang mangoko iku dadi sawijining wong kang sakti mandraguna. Tumrap wong-wong kang nglakoni tapa ditetepake pralambang telu : Dhiyan, Jubah lan Teken. Dhiyan minangka pralambanging pepadhang, tumrap kahanan kang umpetan utawa gaib. Jubah minangka dadi pralambange katentremaning ati kang sampurna, dene Teken minangka dadi pralambange kekuwatan gaib.
Ing dalem sasuwene wong nglakoni tapa iku prelu banget kudu migateake marang sirikane, kayata : wedi, nepsu, sengit, semang-semang lan drengki. Rasa wedi iku sawijining pangrasa kang luwih saka angel penyegahe. Menawa isih kadunungan rasa wedi ing dalem atine wong ora bakal bisa kasembadan apa kang nedya digayuh. Rasa wedi njalari wong dadi ora bisa nduweni budi daya apa-apa.
Sajrone nglakoni tapa utawa salagine ngumpulake kekuwatan gaib, ati mesthi kudu tetep tentrem lan ayem sanadyan ana kadadeyan apa wae. Yen atine nganti gugur, kasutapane iya uga dadi gugur lan kudu lekas wiwit maneh. Gegeman kalawan wadi sakehing ilmu gaib kang lagi pinarsudi, luwih becik murih nyataning kasekten tinimbang karo susumbar kalawan kuwentos kaya kenthos.
“Nepsu” iku marakake lungkrah dayane kekuwataning batin. “Semang-semang” iku andadekake ati kang peteng ora padhang terang. “Sengit utawa drengki” iku uga dadi mungsuhing kekuwatan gaib. Wong kang lagi nindakake katamtuwan ing dalem kasutapan kudu kalawan ati kang sabar anteng lan tetep. Patrape badhan kang kaku lan kagugupan kudu didohake .
• Aja sok singsot
• Aja duwe lageyan sok nethek-nethek kalawan driji tangan marang meja kursi utawa papan liyane.
• Aja ngentrok-entrokake sikil munggah mudhun.
• Aja sok anggigit kukuning dariji tangan.
• Aja mencap-mencepake lambe.
• Aja molahake lidhah lan andilati lambe.
• Aja narithilake kedheping mata.
• Ngedohake sakehing saradan utawa bendana kang ora becik, kayata glegak-glegek molah-molahake sirah, kukur-kukur sirah, ngangkat pundhak lan liya-liyane sabangsane saradan kabeh.
Satemene perlu banget nyirnakake kekarepan drengki. Karep drengki iku banget nindhih marang dhiri pribadi. Ana maneh drengki iku kaya anggawa sawijining pikulan abot kang tansah nindhes marang dhiri lan sarupa ana barang atos medhongkol angganjel pulung ati. Drengki lan meri iku mung anggawa karugiyan bae tumrap kita, ora ana gunane sathithik-thithika. Salawase wong isih anduweni pangrasan karep drengki lan meri, iku ora bakal bisa tumeka kamajuwane tumrap dunya prabawaning gaib.
Ora mung tumindak tumrap sawijining wong bae bisa maluyakake wong liya kalawan kekuwatan gaib, nanging uga tumindak tumrap sawijining wong maluyakake dhiri pribadi kalawan kekuwatan iku. Bisane maluyakake larane wong liya, mesthine kudu ngirima kekuwatan waluya marang sajroning badhane wong kang lara. Manawa wong gelem naliti yen wong iku bisa ngumpulake kekuwatan gaib ing dalem badhane dhewe lan ngetokake sabageyan kekuwatan gaib kawenehake marang wong liyane, mestheni uwong bisa ngreti yen arep migunakake kekuwatan iku nganggo paedahe dhiri dhewe uga luwih gampang.
Supaya bisa nindakake pamaluya marang dhirine dhewe kalawan sampurna, wong ngesthi kudu mangerteni cara-carane maluyakake panyakit. Iya iku cara-cara kang katindakake kanggo maluyakake wong liya lan wusanane ambudidaya supaya bisa migunakake obah-obahan iku marang awake dhewe.
Kawitane wong kudu nindakake patrape mangreh napas. Dene carane ngatur napas iku kaprathelakake kalayan ringkes kaya ing ngisor iki :
• Mardhika ing panggonan kang sepi.
• Lungguha ing sawijining palinggihan kang endhek lan kepenak, sikil karo pisan tumapak ing lemah.
• Badhan kajejegake lan janggute diajokake.
• Benik-beniking klambi kang kemancing padha kauculan, sabuk uga diuculi supaya sandhangan dadi longgar lan kepenak kanggo ambegan ngatur mlebu metune napas.
• Pikiran katarik mlebu, supaya luwar saka sakehing geteran pikiran kaya saka ing jaba.
• Sakehing urat-urat kakendhokake.
• Banjur narika napas kalawan alon lan nganti jero banget, diampet napase sawatara detik (kira-kira 6 detik) lan wusanane napas diwetokake uga kalawan sareh.
Anujokna gumolonging pikiran kalawan ngetut marang napas kang mlebu metu iku kalawan giliran. Cara nindakake napas kaya ing ngisor iki :
• Narik napas kalawan alon lan nganti jero ing sabisane, nganti dhadha mekar lan weteng dadi nglempet.
• Nahan napas iku kira-kira nem detik utawa luwih suwe ing njero paru-paru, dhadhane cikben lestari mekare, lan wetenge cikben lestari nglempetake. Kalawan mangkono iku gorong dalaning napas tansah tetep menga.
• Ambuanga napas kalawan alon nganti entek babar pisan, nganti dhadha dadi kempes lan weteng dadi mekar.
• Banjur marambah-rambah matrapake mangkono iku suwene kira-kira saka lima tumeka limolas menit utawa luwih suwe nganti bisa nemoni pangrasa anteng lan tentrem ing sajroning badhan.
Carane matrapake kasebut ing dhuwur iku sawijining cara kanggo napakake napas, iki kena lan kudu ditindakake saben dina telung rambahan, dening sapa bae kang nglakoni tapa supaya oleh ilmu gaib. Daya kang luwih bagus, iya iku miwiti makarti miturut pituduhan. Aja weya nalika nindakake patrap kanggo napakake napas iku.
Cara matrapake tumindaking napas iku kena uga ditindakake kalayan leyeh-leyeh mlumah: ngendhokake sakabehing urat-urat, nyelehake tangan sakarone pisan ing sadhuwuring weteng lan nindakake lakuning napas miturut patrap mau.
Banjur matrapa lakuning napas sawatara rambahan miturut aturan. Gawe segering utek lungguha kalawan jejeg lan nyelehna tangan karo pisan ing sandhuwuring pupu kiwa tengen: mripat mandheng marang arah ing ngarep kalawan tetep: sikil karo pisan tumadak ing lemah. Kalawan jempol tangan tengen anutup lenging grana sisih tengen lan anarika napas liwat lenging grana sisih kiwa, wusana nglepasake jempol iku banjur ambuwang napas lan nutupa lenging grana kiwa kalawan driji narika napas liwat lenging grana tengen, lepasna driji panutup iku lan ambuwanga napas. Mangkono sabanjure kalawan genti-genten kiwa lan tengen
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info