sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Monday, September 19, 2011
Seni Budaya dalam Perputaran Zaman
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Ketoprak Mataram “Kari Separo”
Ki Sugeng Subagya
Ranggawarsita meramal, suatu saat “wong Jawa kari separo”. Makna ramalan itu tentu bukan dalam pengertian kuantitatif. Orang Jawa tinggal sebagian bukan berarti yang sebagian lainnya telah lenyap oleh karena bencana alam, wabah penyakit, atau karena peperangan. Makna ramalan ini lebih kearah kultural. Budaya Jawa akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh “budaya asing”.
Karakteristik budaya Jawa itu terbuka. Seni budaya Jawa sebagai bagian budaya Jawa juga terbuka. Ketoprak Mataram termasuk di dalamnya. Mempertahankan ketoprak Mataram dalam bentuk aslinya hampir mustahil. Jika kemudian lahir ketoprak garapan, ketoprak ringkes, ketoprak plesetan, ketoprak humor, dan ketoprak campursari, merupakan konsekuensi logis dari pengaruh “budaya asing”. Inilah makna separo dari wong Jawadalam konteks ketoprak mataram. Ketoprak mataram menurut pakem yang kental muatan pendidikan karakter mulai terkoyak. Ciri khas ketoprak mataram yang paling menonjol jika dikaitkan dengan pembentukan karakter diantaranya terdapat dalam dialog. Ragam bahasa Jawa dalam dialog ketoprak Mataram menunjukkan watak, kedudukan, keturunan, latar belakang dan status sosial tokoh-tokoh yang tampil dalam setiap adegan. Dalam tradisi Jawa, tingkat-tingkat pemakaian bahasa tersebut berkait erat dengan unggah-ungguh, etika, tata krama, dan suba sita.
Artikulasi dialog dalam berbahasa Jawa juga punya arti penting dalam penyajian ketoprak sebagai tontonan, karena pertunjukan ketoprak tanpa didukung artikulasi yang baik akan mengurangi nilai artistik dan estetika, serta menghambat penyampaian makna dialog. Dalam hal ini dialog ketoprak mataram menyerupai dialog keseharian dalam masyarakat yang berbeda dengan dialog ketoprak Surakarta dan Jawa Timur yang lebih “mayang wong”.
Berjuang sendiri
Ketoprak mataram merupakan salah satu pilar penyangga budaya dalamrangka pembentukan karakter bangsa. Ketika ketoprak mataram hampir mati suri, maka diperlukan sinergitas semua pihak untuk kembali membangkitkannya.
Zaman keemasan ketoprak mataram sudah berlalu. Hal ini ditandai dengan banyaknya kelompok-kelompok ketoprak mataram yang tidak lagi terdengar kiprahnya. Sebagian diantaranya memang masih “ada”, namun tidak lebih dari “papan nama”. Tidak hanya yang profesional, yang amatir sekalipun turut gulung tikar.
Salah satu kelompok ketoprak mataram yang saat ini masih bertahan ialah Keluarga Kesenian Jawa RRI Yogyakarta. Dalam kondisi yang sangat berat, kelompok ini masih mampu menjadi benteng terakhir penyangga, pelestari, dan pengembang ketoprak mataram. Terlebih ketika personilnya yang rata-rata Pegawai Negeri Sipil (PNS) mulai memasuki masa pensiun, sedangkan regenerasinya “zero”, keadaannya semakin memprihatinkan. Ketika jumlah personil sangat terbatas, sangat masuk akal jika penonton enggan menyaksikan pentas. Siaran rutin ketoprak radio pada Rabu malam Kamis juga tak lagi menarik untuk didengarkan.
Keadaan yang memprihatinkan itu berlangsung lebih kurang satu dasa warsa terakhir. Keprihatinan itu tidak hanya dirasakan oleh pemerhati budaya dan personil yang masih aktif, tetapi juga para purna tugas dan para seniman ketoprak di luar Keluarga Kesenian Jawa RRI Yogyakarta.
Manajemen RRI Yogyakarta bukan berarti tidak berbuat. Upaya darurat dengan melibatkan “bintang tamu” sedikit menolong kembalinya penonton menyaksikan pentas yang diselenggarakan setiap Rabu minggu pertama setiap bulan di Auditorium RRI Yogyakarta. Terlebih ketika “empu ketoprak sepuh” yang pernah menjadi bintang pentas pada zamannya turun gunung, auditorium RRI kembali banyak terisi penonton. Pandhemen setia Pak Widayat, Bu Marsidah, Pak Wahono, dan lain-lain kembali hadir menonton pergelaran “ngiras-ngirus” nostalgia.
Kecenderungan meningkatnya jumlah penonton pentas ketoprak mataram Keluarga Kesenian Jawa RRI Yogyakarta di Auditorium Demangan patut disambut gembira. Namun, sampai kapan hal itu akan bertahan bahkan meningkat, jika tidak dilakukan regenerasi. Menyangkut regenerasi, RRI Yogyakarta tidak akan mampu berjuang sendiri. Daya dukung dan sumber daya yang terbatas, RRI Yogyakarta memerlukan urunan berbagai pihak. Peran LPP RRI sebagai induk RRI, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY atas nama pemerintah dan Dewan Kebudayaan Provinsi DIY sebagai salah satu pemangku kepentingan seni budaya diharapkan lebih nyata. Harapan juga ditumpukan atas “cawe-cawe” Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Saatnya, mengembalikan ketoprak mataram yang “kari separo” itu jika tak hendak suatu saat ketoprak mataram tinggal tertulis dalam prasasti monumen.
Ki Sugeng Subagya,
Pamong Tamansiswa, Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan.-
Keterangan :
Artikel ini dimuat SKH Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, Minggu 18 September 2011 Halaman 15.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Labels:
Seni dan Budaya
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.