sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Showing posts with label Tafakur. Show all posts
Showing posts with label Tafakur. Show all posts
Wednesday, January 30, 2019
Hening
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Dalam sebuah keheningan
malam, seekor anak kelinci
tampak gelisah dalam lubang
nyaman keluarganya. Entah
kenapa, matanya sulit untuk
dipejamkan. Pikirannya selalu
menerawang ke arah gelap
yang membuat suasana kian
hening.
“Ayah, kenapa di sebagian
hidup kita selalu ada malam
yang membuat hening?” tanya
sang anak kelinci kepada
ayahnya yang tiba-tiba
terbangun.
Setelah berpikir sebentar, sang
ayah kelinci menjawab,
“Begitulah Yang Maha Kuasa
menciptakan keseimbangan
dalam hidup kita. Ada saatnya
kita bergerak, berlari, mencari
makan, dan ada saatnya kita
beristirahat.”
“Ayah, bukankah kita bisa
istirahat dalam suasana
terang?” sergah sang anak
kelinci di luar dugaan ayahnya.
“Anakku, dalam diri kita ada
ego, nafsu yang selalu
memaksa kita untuk memenuhi
kemanjaan-kemanjaannya.
Kepuasannya tidak akan
pernah berakhir hingga kita
mati. Karena itulah, Yang Maha
Bijaksana menciptakan malam
untuk memaksa kita tidak lagi
menuruti ego atau nafsu,” ucap
sang ayah kelinci panjang.
“Tapi ayah, aku tidak bisa
terlalu lama mengisi malam
hanya dengan istirahat. Seperti
yang kualami malam ini,”
ungkap si anak kelinci lagi.
“Anakku, malam hanya bentuk
dari sebuah keadaan. Isi yang
utamanya adalah keheningan.
Saat itulah, makhluk hidup
seperti kita terpenjara alam
ketidakberdayaannya. Dan saat
itulah, kita tersadarkan dengan
kesalahan, kekhilafan,
kelengahan atas apa yang telah
kita lakukan di siang tadi agar
tidak lagi terulang esoknya.
Itulah istirahat yang
sebenarnya,” jelas sang ayah
kelinci.
**
Hiruk pikuk kehidupan selama
sebelas bulan dalam putaran
satu tahun, seperti memenjara
kita dalam ruang sempit yang
dikuasai nafsu dan syahwat.
Seluruh raga terus ingin
bergerak memenuhi perintah
syahwat untuk mendapatkan
kepuasan sesuatu: harta, seks,
kekuasaan, kepemilikan, dan
sejenisnya.
Allah swt. memaksa hamba-
hambaNya yang Ia cintai untuk
sejenak berada dalam
keheningan. Keheningan malam
yang memberikan ruang bagi
ruhani bergerak mengalahkan
syahwat, untuk terbang ke
langit meninggalkan hinanya
tarikan dunia.
Dan, keheningan beberapa hari
terakhir di bulan suci ini untuk
melihat wajah dunia sebelas
bulan kita apa adanya. Untuk
sesaat, memenjarakan syahwat
yang selama ini telah menjadi
tuan dalam diri kita.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Monday, January 28, 2019
Gembala
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Seorang penggembala tampak
kesulitan untuk
menyeberangkan sekawanan
kerbau gembalaannya melewati
jembatan kecil yang hanya pas
dilalui seekor kerbau. Pasalnya,
jembatan bukan sekadar kecil,
tapi menghubungkan sebuah
sungai dangkal yang dihuni
banyak buaya.
Sang penggembala paham
betul kalau naluri kerbau
mungkin mengatakan bahwa
jembatan yang dilalui begitu
berbahaya. Terutama,
keberadaan buaya-buaya yang
siap menerkam mereka.
Beberapa kali sang
penggembala menakut-nakuti
kerbau untuk menggiringnya
melewati jembatan satu per
satu. Tapi, itu tidak berhasil.
Kerba-kerbau lebih takut pada
buaya daripada si
penggembala.
Sudah bertahun-tahun, sang
penggembala hidup bersama
kerbau-kerbau gembalaannya,
tapi baru kali ini ia benar-benar
tidak memahami cara
menyeberangkan mereka.
Lama sang penggembala
berpikir. Akhirnya, ia mendapat
sebuah inspirasi yang memang
agak aneh, tapi perlu dicoba.
Sang penggembala mengambil
beberapa pucuk dedaunan
hijau yang disimpannya di
sebuah karung. Ia pun
menyodorkan dedaunan itu
kepada salah satu kerbau besar
yang memang menjadi induk
dari kerbau-kerbau lain.
Kerbau besar itu pun mengikuti
langkah sang penggembala
karena ingin mengunyah daun
hijau. Sang induk mengikuti
langkah penggembala hingga
melewati jembatan.
Di luar dugaan, puluhan ekor
kerbau lain tiba-tiba mengikuti
langkah kerbau besar melewati
jembatan, satu per satu. Tanpa
takut kalau di bawah mereka
ada buaya yang siap
menerkam. Dan tanpa melihat
kalau kerbau besar yang
mereka ikuti melewati jembatan
karena ingin dedaunan hijau.
**
Tidak sedikit tokoh dan
pemimpin sebuah wadah
organisasi yang kerap kesulitan
ketika ingin melakukan sebuah
perubahan untuk orang-orang
yang bersamanya. Kadang,
anjuran, peraturan, bahkan
hukuman sekali pun tidak
efektif untuk memaksa
munculnya perubahan.
Sebesar apa pun cita-cita
perubahan, dan seberat apa
pun resiko dari sebuah
perubahan yang diinginkan; jika
terlebih dahulu dicontohkan
oleh para pemimpin, insya
Allah, langkah perubahan akan
diikuti oleh sebagian besar
orang.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Friday, January 25, 2019
Monyet.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Seorang pemburu junior
tampak kesulitan ingin
menangkap monyet berekor
panjang dalam keadaan hidup.
Walau di hutan yang begitu
banyak kelompok monyet
berekor panjang, tetap saja si
junior kehabisan akal. Pasalnya,
monyet-monyet itu begitu gesit
dan cekatan.
Seorang pemburu senior pun
akhirnya menghampiri pemburu
junior untuk memberikan trik
khusus. “Sebenarnya,
menangkap monyet jenis itu
dalam keadaan hidup sangat
mudah, ” ucapnya memecah
kebingungan sang junior.
Sang pemburu senior pun
mengambil sebuah toples yang
mirip sebuah botol. Bedanya,
leher toples itu lebih besar
sedikit dan lebih panjang dari
leher botol.
“Untuk apa toples aneh ini?”
ucap sang pemburu junior
masih dalam keadaan bingung.
“Kamu tinggal meletakkan
sebutir kacang ke dalam toples,
dan memendam toples ini
dalam tanah, ” ucap sang
pemburu senior sambil
memberikan toples berisi
kacang itu kepada si junior.
Setelah toples dipendam,
mereka pun mengintip dari
kejauhan. Benar saja, tak lama
kemudian seekor monyet
tampak mengendap-endap
membaui kacang yang ada
dalam toples. Setelah
tangannya masuk ke toples,
sang monyet menjerit-jerit. Sang
monyet sudah masuk
perangkap pemburu.
Mendapati itu, sang junior
benar-benar keheranan dengan
cara kerja perangkap monyet
itu. ”Lho, kenapa monyet tidak
bisa melepaskan tangannya,
padahal sebelumnya ia bisa
memasukkan tangannya ke
dalam toples ?” tanya sang
junior.
”Itulah sifat monyet, saudaraku.
Tangannya tidak bisa ia
keluarkan dari toples, karena
sang monyet tidak mau
kehilangan sebutir kacang yang
ada di genggamannya, ” jelas
sang pemburu senior.
**
Kalau kita mau bercermin
dengan tingkah dan perilaku
alam di sekitar kita, begitu
banyak pelajaran yang bisa
diambil.
Boleh jadi, tidak sedikit dari kita
yang kehilangan rasionalitas
demi ingin tetap menggenggam
sesuatu yang sebenarnya kecil.
Juga, tidak sedikit dari kita yang
sulit menemukan luasnya akal
sehat karena terkungkung
dalam kerdilnya kebencian dan
dendam.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Wednesday, January 23, 2019
Pemimpin.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Tiga anak remaja tampak
bersemangat berjalan
beriringan dengan ayah mereka
di sebuah jalan desa yang
dikelilingi tumbuhan nan hijau.
Sesekali, mereka tampak
berhenti sebentar untuk
istirahat, kemudian berjalan
lagi.
Di sebuah pertigaan jalan, tiba-
tiba mereka berhenti. Salah
seorang dari mereka berujar,
“ Yah, kita ke arah mana?”
Yang ditanya tidak langsung
menjawab. Sang ayah seperti
memberi ruang kepada anak-
anaknya untuk berekspresi.
“ Menurut kamu, kira-kira
kemana?” ujar sang ayah
kemudian.
Gaya sang ayah yang mereka
cintai ini memang bukan hal
baru buat mereka. Selalu saja,
sang ayah akan melempar balik
sebuah pertanyaan yang sangat
berkait dengan kematangan
analisa dan pengalaman.
“Kayaknya ke kiri deh, Yah!”
ucap si bungsu tiba-tiba. Ia juga
menjelaskan kalau jalan ke kiri
itu jalan menuju puncak bukit
yang mereka tuju. Tapi, si
bungsu masih belum yakin.
“Kalau menurutku, ke kanan!”
ucap si sulung kemudian.
“ Coba lihat beberapa petani
yang memikul hasil panen
mereka. Mereka datang dari
arah kanan kita kan! Itu artinya,
mereka tidak mungkin
membawa hasil panen mereka
ke bukit, tapi ke arah pasar
yang letaknya pasti di bawah,”
jelas si sulung begitu
argumentatif.
“Menurutmu gimana, Nak?”
tanya sang ayah ke anak yang
tengah. Ia tampak berpikir
sebentar, dan kemudian
mengangguk-angguk. “Aku
setuju dengan yang arah
kanan !” ucapnya kemudian.
Mereka pun berjalan menuju
arah kanan.
Tiba-tiba, si bungsu berucap
dalam sela-sela perjalanan
mereka yang tampak begitu
mengasyikkan. “Yah, kenapa sih
tidak ayah kasih tahu aja. Kan
ini bukan yang pertama kali
ayah menuju bukit itu ?”
Tiba-tiba langkah sang ayah
berhenti, yang kemudian diikuti
oleh ketiga anaknya. Ia menarik
nafas dalam untuk selanjutnya
menatap ketiga anaknya
dengan senyum. “Anakku,”
ucap sang ayah. “Ayah
menginginkan kalian kelak
menjadi pemimpin yang baik,
bukan sekedar pengikut yang
baik, ” ucap singkat ayah yang
kemudian diiringi dengan
langkahnya.
**
Dalam dinamika organisasi yang
sehat, dalam bentuk apa pun
sebuah organisasi, seorang
pemimpin yang baik bukan
berarti orang yang piawai
menelorkan pengikut-pengikut
yang setia (taqlid).
Seorang pemimpin yang baik
adalah orang yang mampu
menyiapkan pemimpin-
pemimpin baru yang akan
menggantikannya esok.
bersemangat berjalan
beriringan dengan ayah mereka
di sebuah jalan desa yang
dikelilingi tumbuhan nan hijau.
Sesekali, mereka tampak
berhenti sebentar untuk
istirahat, kemudian berjalan
lagi.
Di sebuah pertigaan jalan, tiba-
tiba mereka berhenti. Salah
seorang dari mereka berujar,
“ Yah, kita ke arah mana?”
Yang ditanya tidak langsung
menjawab. Sang ayah seperti
memberi ruang kepada anak-
anaknya untuk berekspresi.
“ Menurut kamu, kira-kira
kemana?” ujar sang ayah
kemudian.
Gaya sang ayah yang mereka
cintai ini memang bukan hal
baru buat mereka. Selalu saja,
sang ayah akan melempar balik
sebuah pertanyaan yang sangat
berkait dengan kematangan
analisa dan pengalaman.
“Kayaknya ke kiri deh, Yah!”
ucap si bungsu tiba-tiba. Ia juga
menjelaskan kalau jalan ke kiri
itu jalan menuju puncak bukit
yang mereka tuju. Tapi, si
bungsu masih belum yakin.
“Kalau menurutku, ke kanan!”
ucap si sulung kemudian.
“ Coba lihat beberapa petani
yang memikul hasil panen
mereka. Mereka datang dari
arah kanan kita kan! Itu artinya,
mereka tidak mungkin
membawa hasil panen mereka
ke bukit, tapi ke arah pasar
yang letaknya pasti di bawah,”
jelas si sulung begitu
argumentatif.
“Menurutmu gimana, Nak?”
tanya sang ayah ke anak yang
tengah. Ia tampak berpikir
sebentar, dan kemudian
mengangguk-angguk. “Aku
setuju dengan yang arah
kanan !” ucapnya kemudian.
Mereka pun berjalan menuju
arah kanan.
Tiba-tiba, si bungsu berucap
dalam sela-sela perjalanan
mereka yang tampak begitu
mengasyikkan. “Yah, kenapa sih
tidak ayah kasih tahu aja. Kan
ini bukan yang pertama kali
ayah menuju bukit itu ?”
Tiba-tiba langkah sang ayah
berhenti, yang kemudian diikuti
oleh ketiga anaknya. Ia menarik
nafas dalam untuk selanjutnya
menatap ketiga anaknya
dengan senyum. “Anakku,”
ucap sang ayah. “Ayah
menginginkan kalian kelak
menjadi pemimpin yang baik,
bukan sekedar pengikut yang
baik, ” ucap singkat ayah yang
kemudian diiringi dengan
langkahnya.
**
Dalam dinamika organisasi yang
sehat, dalam bentuk apa pun
sebuah organisasi, seorang
pemimpin yang baik bukan
berarti orang yang piawai
menelorkan pengikut-pengikut
yang setia (taqlid).
Seorang pemimpin yang baik
adalah orang yang mampu
menyiapkan pemimpin-
pemimpin baru yang akan
menggantikannya esok.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Saturday, January 19, 2019
Pencuri
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Seekor burung mahal jenis
merpati pos tampak gelisah
dalam sebuah sangkar besi nan
indah. Tubuhnya yang elok
mulai terlihat lemas. Dalam dua
hari ini, ia memang tidak mau
makan.
Sang merpati yang telah
menjuarai beberapa turnamen
dunia ini, mulai dari kecepatan
terbang hingga ketepatan
target tujuan hinggap, yakin
benar kalau tuan barunya yang
dua hari ini memberinya
makan, bukanlah tuan yang
sebenarnya. Ia yakin dirinya
telah dicuri.
Karena itulah, senikmat dan
semahal apa pun makanan
yang ditawarkan, ia tetap tidak
mau makan. Sang merpati
pintar ini yakin, menikmati
makanan dari orang yang telah
mengecewakan tuannya yang
asli, berarti mengkhianati sang
tuan yang telah menyayanginya
dengan penuh cinta.
Namun, si pencuri tidak pernah
marah dengan penolakan itu. Ia
ambil lagi makanan yang belum
disentuh itu, untuk kemudian
diganti dengan makanan yang
baru, yang lebih segar, dan
lebih nikmat. Sang pencuri pun
tidak lupa membersihkan
kandang merpati dengan
penuh hati-hati.
Begitulah hari-hari yang dilalui
oleh sang pencuri kepada
merpati curiannya. Sesekali,
dengan penuh kelembutan, jari
tangan sang pencuri membelai-
belai bulu kepala merpati.
Sungguh suatu perlakuan yang
melebihi apa yang diterima si
merpati dari tuannya yang asli.
Ketika lapar yang tidak lagi bisa
ditahan, sang merpati akhirnya
mencicipi makanan sajian tuan
barunya itu. “Aih, lezatnya
makanan ini. Baru kali ini aku
merasakan makanan senikmat
ini, ” ucap sang merpati sambil
terus memakan sajian yang ada
di sangkarnya.
Keesokannya, sang merpati
kembali menikmati sajian tuan
barunya. Kali ini ia tidak lagi
ragu untuk menikmatinya.
Perasaan buruknya tentang
siapa tuan barunya itu mulai
sirna. Tubuhnya pun sudah
mulai segar dan bugar.
Sayapnya yang pernah rusak,
kini kembali normal seperti
sebelumnya.
**
Jika seseorang berada dalam
keheningan muhasabahnya.
Mungkin ia bisa merasakan
bahwa begitu banyak ‘pencuri’
yang sangat dekat dalam
keseharian kita. Ada ‘pencuri’
yang berkedok karir, ada yang
berkedok demi masa depan,
ada yang demi isteri dan anak-
anak, ada yang berlabel demi
maslahat yang lebih besar, dan
lain-lain.
Tampilan kelembutan dan
kebaikannya yang begitu
mempesona, lambat laun
mengurangi kejernihan
timbangan batin kita. Suatu
saat, seseorang tidak lagi bisa
membedakan mana yang
sebenarnya sebuah kebenaran
dan mana yang kebatilan.
Mana yang memperbaiki dan
mana yang merusak. Dan
bahkan, mana Tuan Besar yang
telah memberinya kehidupan,
dan mana tuan-tuan kecil yang
justru mencuri nilai-nilai
kehidupannya.
merpati pos tampak gelisah
dalam sebuah sangkar besi nan
indah. Tubuhnya yang elok
mulai terlihat lemas. Dalam dua
hari ini, ia memang tidak mau
makan.
Sang merpati yang telah
menjuarai beberapa turnamen
dunia ini, mulai dari kecepatan
terbang hingga ketepatan
target tujuan hinggap, yakin
benar kalau tuan barunya yang
dua hari ini memberinya
makan, bukanlah tuan yang
sebenarnya. Ia yakin dirinya
telah dicuri.
Karena itulah, senikmat dan
semahal apa pun makanan
yang ditawarkan, ia tetap tidak
mau makan. Sang merpati
pintar ini yakin, menikmati
makanan dari orang yang telah
mengecewakan tuannya yang
asli, berarti mengkhianati sang
tuan yang telah menyayanginya
dengan penuh cinta.
Namun, si pencuri tidak pernah
marah dengan penolakan itu. Ia
ambil lagi makanan yang belum
disentuh itu, untuk kemudian
diganti dengan makanan yang
baru, yang lebih segar, dan
lebih nikmat. Sang pencuri pun
tidak lupa membersihkan
kandang merpati dengan
penuh hati-hati.
Begitulah hari-hari yang dilalui
oleh sang pencuri kepada
merpati curiannya. Sesekali,
dengan penuh kelembutan, jari
tangan sang pencuri membelai-
belai bulu kepala merpati.
Sungguh suatu perlakuan yang
melebihi apa yang diterima si
merpati dari tuannya yang asli.
Ketika lapar yang tidak lagi bisa
ditahan, sang merpati akhirnya
mencicipi makanan sajian tuan
barunya itu. “Aih, lezatnya
makanan ini. Baru kali ini aku
merasakan makanan senikmat
ini, ” ucap sang merpati sambil
terus memakan sajian yang ada
di sangkarnya.
Keesokannya, sang merpati
kembali menikmati sajian tuan
barunya. Kali ini ia tidak lagi
ragu untuk menikmatinya.
Perasaan buruknya tentang
siapa tuan barunya itu mulai
sirna. Tubuhnya pun sudah
mulai segar dan bugar.
Sayapnya yang pernah rusak,
kini kembali normal seperti
sebelumnya.
**
Jika seseorang berada dalam
keheningan muhasabahnya.
Mungkin ia bisa merasakan
bahwa begitu banyak ‘pencuri’
yang sangat dekat dalam
keseharian kita. Ada ‘pencuri’
yang berkedok karir, ada yang
berkedok demi masa depan,
ada yang demi isteri dan anak-
anak, ada yang berlabel demi
maslahat yang lebih besar, dan
lain-lain.
Tampilan kelembutan dan
kebaikannya yang begitu
mempesona, lambat laun
mengurangi kejernihan
timbangan batin kita. Suatu
saat, seseorang tidak lagi bisa
membedakan mana yang
sebenarnya sebuah kebenaran
dan mana yang kebatilan.
Mana yang memperbaiki dan
mana yang merusak. Dan
bahkan, mana Tuan Besar yang
telah memberinya kehidupan,
dan mana tuan-tuan kecil yang
justru mencuri nilai-nilai
kehidupannya.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Spion
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Seorang siswa setir mobil begitu
menyimak arahan-arahan dari
instrukturnya. Sesekali, ia
mengangguk-angguk seperti
memahami sesuatu. “Prinsipnya,
kita harus hati-hati dan
konsentrasi dalam
berkendaraan, ” ucap sang
instruktur sambil menyudahi
bicaranya.
Sesaat setelah itu, mereka pun
praktek lapangan. Mobil latihan
sudah disiapkan. Satu per satu,
siswa akan diberikan
kesempatan untuk
mengendarai mobil di jalan
umum. “Ingat, kita harus hati-
hati dan konsentrasi,” ujar
instruktur sambil mengawasi
salah seorang siswanya yang
mulai melajukan mobil yang
mereka tumpangi.
Siswa ini tampak tenang ketika
mobil masih di areal sepi. Tapi,
ia mulai gelisah saat mobil
memasuki jalan umum. Mobil-
mobil lain seperti tak peduli
kalau mereka sedang belajar.
Berbagai kendaraan saling
mendahului dari sebelah kanan
dan kiri mobil latihan. “Tiiin…!”
suara klakson mobil yang
mendahului kian menciutkan
hati si siswa. Tapi, ucapan sang
instruktur terus saja
menyadarkan, “Hati-hati dan
konsentrasi!”
Ada satu kebiasaan siswa yang
sangat mengganggu
konsentrasinya sendiri. Siswa
begitu sering menatap kaca
spion mobil. Kadang spion kiri,
kadang tengah, kadang yang
kanan. Setiap kali siswa
menatap spion, kali itu juga
konsentrasinya buyar. Ia seperti
dihantui bayang-bayang seram.
“Murid-muridku,” ucap sang
instruktur sambil mengawasi
seorang siswa yang memarkir
mobil di tempat yang aman.
“ Kalian dapat pelajaran
berharga dari teman kita,”
tambahnya seraya menatap
satu per satu siswa yang ada
dalam mobil.
Para siswa mulai menyimak.
“ Jangan pernah menatap kaca
spion selama kalian tidak ingin
berbelok atau berhenti. Karena
kebiasaan itu akan mengganggu
kenyamanan kalian dalam
berkendaraan. Semakin sering
kalian menatap spion, sebanyak
itu pula kalian dihantui rasa
takut, ” jelas sang instruktur
begitu gamblang.
**
Hidup merupakan perjalanan
panjang yang melalui berbagai
kesan dan pengalaman. Ada
kesan pahit, manis, sedih,
senang, takut, dan lain-lain.
Kesan dan pengalaman yang
pernah terlalui kadang menjadi
bayang-bayang yang mengusik
pandangan seseorang untuk
melihat kedepan.
Saat itulah, tidak sedikit dari
kita yang sulit menangkap
pemandangan jernih di depan
karena cengkraman
pengalaman buruk di belakang.
Enggan beranjak ke hari esok
karena takut akan terulang
dengan kesedihan di hari
kemarin.
Mungkin benar apa yang
disampaikan instruktur setir
mobil. ”Jangan pernah menatap
cerminan bayang-bayang di
belakang, kalau memang tidak
begitu perlu untuk dilakukan !”
menyimak arahan-arahan dari
instrukturnya. Sesekali, ia
mengangguk-angguk seperti
memahami sesuatu. “Prinsipnya,
kita harus hati-hati dan
konsentrasi dalam
berkendaraan, ” ucap sang
instruktur sambil menyudahi
bicaranya.
Sesaat setelah itu, mereka pun
praktek lapangan. Mobil latihan
sudah disiapkan. Satu per satu,
siswa akan diberikan
kesempatan untuk
mengendarai mobil di jalan
umum. “Ingat, kita harus hati-
hati dan konsentrasi,” ujar
instruktur sambil mengawasi
salah seorang siswanya yang
mulai melajukan mobil yang
mereka tumpangi.
Siswa ini tampak tenang ketika
mobil masih di areal sepi. Tapi,
ia mulai gelisah saat mobil
memasuki jalan umum. Mobil-
mobil lain seperti tak peduli
kalau mereka sedang belajar.
Berbagai kendaraan saling
mendahului dari sebelah kanan
dan kiri mobil latihan. “Tiiin…!”
suara klakson mobil yang
mendahului kian menciutkan
hati si siswa. Tapi, ucapan sang
instruktur terus saja
menyadarkan, “Hati-hati dan
konsentrasi!”
Ada satu kebiasaan siswa yang
sangat mengganggu
konsentrasinya sendiri. Siswa
begitu sering menatap kaca
spion mobil. Kadang spion kiri,
kadang tengah, kadang yang
kanan. Setiap kali siswa
menatap spion, kali itu juga
konsentrasinya buyar. Ia seperti
dihantui bayang-bayang seram.
“Murid-muridku,” ucap sang
instruktur sambil mengawasi
seorang siswa yang memarkir
mobil di tempat yang aman.
“ Kalian dapat pelajaran
berharga dari teman kita,”
tambahnya seraya menatap
satu per satu siswa yang ada
dalam mobil.
Para siswa mulai menyimak.
“ Jangan pernah menatap kaca
spion selama kalian tidak ingin
berbelok atau berhenti. Karena
kebiasaan itu akan mengganggu
kenyamanan kalian dalam
berkendaraan. Semakin sering
kalian menatap spion, sebanyak
itu pula kalian dihantui rasa
takut, ” jelas sang instruktur
begitu gamblang.
**
Hidup merupakan perjalanan
panjang yang melalui berbagai
kesan dan pengalaman. Ada
kesan pahit, manis, sedih,
senang, takut, dan lain-lain.
Kesan dan pengalaman yang
pernah terlalui kadang menjadi
bayang-bayang yang mengusik
pandangan seseorang untuk
melihat kedepan.
Saat itulah, tidak sedikit dari
kita yang sulit menangkap
pemandangan jernih di depan
karena cengkraman
pengalaman buruk di belakang.
Enggan beranjak ke hari esok
karena takut akan terulang
dengan kesedihan di hari
kemarin.
Mungkin benar apa yang
disampaikan instruktur setir
mobil. ”Jangan pernah menatap
cerminan bayang-bayang di
belakang, kalau memang tidak
begitu perlu untuk dilakukan !”
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Friday, January 18, 2019
Gerak.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Dua ekor rusa tampak berlari
kecil menelusuri semak belukar
menuju puncak bukit. Sesekali,
sang induk dan anak rusa ini
berhenti sebentar, kemudian
berlari lagi. Anak rusa tampak
kelelahan mengikuti gerakan
rusa induk.
“Bu, kenapa istirahatnya
sebentar sekali?” tanya si anak
rusa sambil terengah-engah.
Jarak antara keduanya pun
mulai tampak lebih jauh.
Menyadari itu, sang induk rusa
berhenti sebentar sambil
menggerak-gerakkan kaki-
kakinya. ”Ayo nak, terus
bergerak!” teriak sang induk
rusa ketika anak rusa ikut
berhenti dan terduduk lemas.
”Bu, kenapa kita tidak duduk-
duduk sebentar? Bukankah
pemburu yang mengejar kita
sudah tertinggal jauh ?” tanya
sang anak rusa sambil sesekali
mengatur nafas.
”Anakku,” sapa sang induk rusa
sambil menghampiri anaknya.
” Kita bergerak bukan karena
semata-mata kejaran sang
pemburu. Kita harus terus
bergerak karena seisi alam raya
ini memang dirancang Tuhan
untuk selalu bergerak !”
***
Siapa pun kita, tidak selalu
berada dalam keadaan seperti
yang diinginkan: pencapaian
target hidup yang serba mudah,
sarana yang selalu mudah
tersedia, dan sebagainya.
Ada kalanya, hidup
menyuguhkan sisi lain, jauh
seperti keadaan yang
diinginkan. Saat itulah, fisik dan
batin menjadi teramat lelah
seperti sehabis berlari dari
kejaran pemburu yang
menginginkan kematian kita.
Kelelahan itu menuntut fisik
dan batin kita untuk berhenti
bergerak. Diam, dan
melupakan segalanya.
Perhatikanlah, bahwa
sebenarnya, di saat lelah itulah,
fisik dan batin kita perlu terus
bergerak. Bukankah air sungai
akan menjadi kotor ketika
alirannya tidak lagi bergerak.
Bukankah bumi dan seisi alam
ini akan hancur ketika mereka
tidak mau lagi bergerak.
kecil menelusuri semak belukar
menuju puncak bukit. Sesekali,
sang induk dan anak rusa ini
berhenti sebentar, kemudian
berlari lagi. Anak rusa tampak
kelelahan mengikuti gerakan
rusa induk.
“Bu, kenapa istirahatnya
sebentar sekali?” tanya si anak
rusa sambil terengah-engah.
Jarak antara keduanya pun
mulai tampak lebih jauh.
Menyadari itu, sang induk rusa
berhenti sebentar sambil
menggerak-gerakkan kaki-
kakinya. ”Ayo nak, terus
bergerak!” teriak sang induk
rusa ketika anak rusa ikut
berhenti dan terduduk lemas.
”Bu, kenapa kita tidak duduk-
duduk sebentar? Bukankah
pemburu yang mengejar kita
sudah tertinggal jauh ?” tanya
sang anak rusa sambil sesekali
mengatur nafas.
”Anakku,” sapa sang induk rusa
sambil menghampiri anaknya.
” Kita bergerak bukan karena
semata-mata kejaran sang
pemburu. Kita harus terus
bergerak karena seisi alam raya
ini memang dirancang Tuhan
untuk selalu bergerak !”
***
Siapa pun kita, tidak selalu
berada dalam keadaan seperti
yang diinginkan: pencapaian
target hidup yang serba mudah,
sarana yang selalu mudah
tersedia, dan sebagainya.
Ada kalanya, hidup
menyuguhkan sisi lain, jauh
seperti keadaan yang
diinginkan. Saat itulah, fisik dan
batin menjadi teramat lelah
seperti sehabis berlari dari
kejaran pemburu yang
menginginkan kematian kita.
Kelelahan itu menuntut fisik
dan batin kita untuk berhenti
bergerak. Diam, dan
melupakan segalanya.
Perhatikanlah, bahwa
sebenarnya, di saat lelah itulah,
fisik dan batin kita perlu terus
bergerak. Bukankah air sungai
akan menjadi kotor ketika
alirannya tidak lagi bergerak.
Bukankah bumi dan seisi alam
ini akan hancur ketika mereka
tidak mau lagi bergerak.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Monday, January 14, 2019
Jiwa
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Seorang pejuang yang paling
diburu tentara elit istana
akhirnya tertangkap hidup. Ia
tertangkap setelah beberapa
panah menembus kaki kiri dan
kanannya. Namun begitu,
tangan kakinya tetap dirantai
dengan gembok baja.
Sepanjang perjalanan dalam
gerobak kayu yang
membawanya menuju istana,
sang pejuang tidak
menampakkan sedikit pun takut
dan penyesalan. Kerumunan
rakyat yang secara kebetulan
berpapasan dengan iring-
iringan tentara dan tawanan
sang pejuang menatapinya
dengan berbagai rasa. Terbersit
di telinga sang pejuang suara
rakyat yang berbisik ke sesama
mereka, “Kasihan, ya!”
Mendapati tawanan sang
pejuang sudah tiba di istana,
raja begitu gembira. Ia berjanji
akan memberi hadiah kepada
pasukan elitnya. Saat itu juga,
berita gembira itu pun
disampaikan sang raja ke
seluruh menterinya. “Besok, ia
akan dihukum pancung karena
berani menentangku !” teriak
sang raja bersemangat.
Salah seorang menteri yang
masih kerabat dengan sang
pejuang yang ditawan, meminta
izin untuk bertemu untuk
terakhir kalinya. Ia begitu
prihatin melihat keadaan
kerabatnya yang begitu
mengenaskan. Sambil
berbungkuk, sang menteri
berbisik, “Saudaraku, kenapa
kau tidak berpura-pura
mengakui kekuasaan sang raja.
Kalau kamu tetap keras seperti
ini, esok kamu akan dihukum
mati !”
Sang pejuang yang terkulai
lemas pun tiba-tiba menatap
tajam kerabatnya. “Saudaraku,
semua yang hidup di dunia ini
pasti akan mati. Tapi
perhatikanlah, tidak semua
yang akan mati itu, benar-
benar hidup !” ucap sang
pejuang sambil tetap menatap
tajam kerabatnya.
**
Hidup adalah arena
pertarungan antara yang hak
dan batil. Pertarungan antara
idealisme sebuah kebenaran
dengan tuntutan syahwat
kemanusiaan. Di situlah, Allah
menguji orang-orang beriman
dan para aktivis kebenaran:
apakah fitrah, nurani, dan jiwa
mereka bisa tetap bertahan
hidup dalam ruh yang mulia?
Apa yang ingin disampaikan
sang pejuang ketika akan
berhadapan dengan kematian
adalah, ”Saudaraku, hidup
bukanlah sekadar bersatunya
nyawa dan jasad. Hidup adalah
ketika nurani kita bisa tetap
konsisten untuk memilih mana
yang hak dan mana yang batil,
mana kemuliaan dan mana
kehinaan?”
diburu tentara elit istana
akhirnya tertangkap hidup. Ia
tertangkap setelah beberapa
panah menembus kaki kiri dan
kanannya. Namun begitu,
tangan kakinya tetap dirantai
dengan gembok baja.
Sepanjang perjalanan dalam
gerobak kayu yang
membawanya menuju istana,
sang pejuang tidak
menampakkan sedikit pun takut
dan penyesalan. Kerumunan
rakyat yang secara kebetulan
berpapasan dengan iring-
iringan tentara dan tawanan
sang pejuang menatapinya
dengan berbagai rasa. Terbersit
di telinga sang pejuang suara
rakyat yang berbisik ke sesama
mereka, “Kasihan, ya!”
Mendapati tawanan sang
pejuang sudah tiba di istana,
raja begitu gembira. Ia berjanji
akan memberi hadiah kepada
pasukan elitnya. Saat itu juga,
berita gembira itu pun
disampaikan sang raja ke
seluruh menterinya. “Besok, ia
akan dihukum pancung karena
berani menentangku !” teriak
sang raja bersemangat.
Salah seorang menteri yang
masih kerabat dengan sang
pejuang yang ditawan, meminta
izin untuk bertemu untuk
terakhir kalinya. Ia begitu
prihatin melihat keadaan
kerabatnya yang begitu
mengenaskan. Sambil
berbungkuk, sang menteri
berbisik, “Saudaraku, kenapa
kau tidak berpura-pura
mengakui kekuasaan sang raja.
Kalau kamu tetap keras seperti
ini, esok kamu akan dihukum
mati !”
Sang pejuang yang terkulai
lemas pun tiba-tiba menatap
tajam kerabatnya. “Saudaraku,
semua yang hidup di dunia ini
pasti akan mati. Tapi
perhatikanlah, tidak semua
yang akan mati itu, benar-
benar hidup !” ucap sang
pejuang sambil tetap menatap
tajam kerabatnya.
**
Hidup adalah arena
pertarungan antara yang hak
dan batil. Pertarungan antara
idealisme sebuah kebenaran
dengan tuntutan syahwat
kemanusiaan. Di situlah, Allah
menguji orang-orang beriman
dan para aktivis kebenaran:
apakah fitrah, nurani, dan jiwa
mereka bisa tetap bertahan
hidup dalam ruh yang mulia?
Apa yang ingin disampaikan
sang pejuang ketika akan
berhadapan dengan kematian
adalah, ”Saudaraku, hidup
bukanlah sekadar bersatunya
nyawa dan jasad. Hidup adalah
ketika nurani kita bisa tetap
konsisten untuk memilih mana
yang hak dan mana yang batil,
mana kemuliaan dan mana
kehinaan?”
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sunday, January 13, 2019
Buah
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Segerombolan murid-murid
sekolah dasar berjalan
menapaki tepian parit di
persawahan dan ladang nan
luas. Mereka mengikuti langkah
guru mereka yang sesekali
menunjuki mana jenis pohon
yang mungkin belum mereka
ketahui.
“Anak-anakku, inilah
pepohonan yang mungkin
sering kamu sebut, tapi baru
kali ini kamu jumpai, ” ujar sang
guru ketika mereka berhenti di
tanah kosong di sebuah ladang.
“ Di sini ada pohon cabai, tomat,
terung, mentimun, pepaya,
jagung, ” tambah sang guru
sambil menunjuk ke ladang-
ladang yang telah mereka
lewati.
Seorang anak mengangkat
tangan sambil berdiri di sebuah
kumpulan pohon jangkung
yang berdaun seperti telapak
tangan terbuka. “Pak guru,
kalau ini pohon apa?” ucapnya
kemudian.
Sambil berjalan pelan, Pak Guru
mendekati sang penanya.
“ Anak-anakku, ini pohon
singkong,” jawab sang guru.
“Kenapa ia tidak berbuah,
seperti pohon-pohon lain di
ladang ini, Pak ?” tanya yang
lain.
“Kamu salah, anak-anakku.
Tidak semua buah bisa
ditampilkan ke permukaan.
Karena sesuatu hal, ia
disembunyikan, ” jawab sang
guru.
“Disembunyikan?” tanya murid
yang lain.
“Ya. Karena pohon singkong
bertubuh kurus dan jangkung,
ia menyembunyikan buahnya di
akar. Perhatikanlah !” jelas sang
guru sambil bersusah payah
mengangkat pohon singkong
hingga akarnya tercerabut.
Tampaklah sebuah
pemandangan yang mungkin
baru untuk anak-anak. Mereka
mendapati sebuah pohon
dengan akar yang begitu besar.
Itulah yang disebut guru
mereka sebagai buah yang
disembunyikan.
**
Dinamika hidup dengan
berbagai variasinya, hampir
selalu berujung pada satu
tujuan: mendapatkan hasil atau
buah. Berbagai variasi buah
pun menjadi target mereka.
Ada yang berkerja untuk
mendapatkan gaji, keuntungan
usaha bagi para pebisnis,
kehidupan berumah tangga
yang kemudian menghasilkan
berbagai aset keluarga,
kehidupan berorganisasi yang
membuahkan berbagai
keuntungan, dan lain-lain.
Sayangnya, kepicikan daya
pandang sebagian kita kadang
menutup adanya keberadaan
buah-buah lain yang tidak
selalu tampak di permukaan.
Dan boleh jadi, buah yang tidak
tampak itu, sebenarnya jauh
lebih bernilai dari apa yang bisa
dilihat, dipegang, dan kemudian
habis dimakan.
sekolah dasar berjalan
menapaki tepian parit di
persawahan dan ladang nan
luas. Mereka mengikuti langkah
guru mereka yang sesekali
menunjuki mana jenis pohon
yang mungkin belum mereka
ketahui.
“Anak-anakku, inilah
pepohonan yang mungkin
sering kamu sebut, tapi baru
kali ini kamu jumpai, ” ujar sang
guru ketika mereka berhenti di
tanah kosong di sebuah ladang.
“ Di sini ada pohon cabai, tomat,
terung, mentimun, pepaya,
jagung, ” tambah sang guru
sambil menunjuk ke ladang-
ladang yang telah mereka
lewati.
Seorang anak mengangkat
tangan sambil berdiri di sebuah
kumpulan pohon jangkung
yang berdaun seperti telapak
tangan terbuka. “Pak guru,
kalau ini pohon apa?” ucapnya
kemudian.
Sambil berjalan pelan, Pak Guru
mendekati sang penanya.
“ Anak-anakku, ini pohon
singkong,” jawab sang guru.
“Kenapa ia tidak berbuah,
seperti pohon-pohon lain di
ladang ini, Pak ?” tanya yang
lain.
“Kamu salah, anak-anakku.
Tidak semua buah bisa
ditampilkan ke permukaan.
Karena sesuatu hal, ia
disembunyikan, ” jawab sang
guru.
“Disembunyikan?” tanya murid
yang lain.
“Ya. Karena pohon singkong
bertubuh kurus dan jangkung,
ia menyembunyikan buahnya di
akar. Perhatikanlah !” jelas sang
guru sambil bersusah payah
mengangkat pohon singkong
hingga akarnya tercerabut.
Tampaklah sebuah
pemandangan yang mungkin
baru untuk anak-anak. Mereka
mendapati sebuah pohon
dengan akar yang begitu besar.
Itulah yang disebut guru
mereka sebagai buah yang
disembunyikan.
**
Dinamika hidup dengan
berbagai variasinya, hampir
selalu berujung pada satu
tujuan: mendapatkan hasil atau
buah. Berbagai variasi buah
pun menjadi target mereka.
Ada yang berkerja untuk
mendapatkan gaji, keuntungan
usaha bagi para pebisnis,
kehidupan berumah tangga
yang kemudian menghasilkan
berbagai aset keluarga,
kehidupan berorganisasi yang
membuahkan berbagai
keuntungan, dan lain-lain.
Sayangnya, kepicikan daya
pandang sebagian kita kadang
menutup adanya keberadaan
buah-buah lain yang tidak
selalu tampak di permukaan.
Dan boleh jadi, buah yang tidak
tampak itu, sebenarnya jauh
lebih bernilai dari apa yang bisa
dilihat, dipegang, dan kemudian
habis dimakan.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Saturday, January 12, 2019
Layang-layang
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Seorang anak sembilan tahun
menatapi keelokan layang-
layang yang baru saja dibawa
sang ayah dari kota. Ukurannya
begitu besar, tidak seperti
layang-layang temannya. Ada
kunciran di sisi kanan dan kiri,
dan terdapat ekor yang begitu
panjang. Warna-warni kunciran
dan ekor layang-layang
mengundang keceriaan sang
anak.
Setibanya di tanah lapang, sang
anak mendampingi ayahnya
memainkan layang-layang yang
ukurannya lebih besar dari
tubuh sang anak. Tiupan angin
kencang menerbangkan layang-
layang elok ke angkasa.
Kunciran dan ekor terus
berurai-urai membentuk irama
gerak yang begitu indah.
Sesekali, sang anak mencoba
berganti posisi dengan sang
ayah untuk belajar
mengendalikan terbangnya
layang-layang. Ia pun berdecak
kagum. Matanya berbinar
menatapi keelokan layang-
layang yang sedang terbang
tinggi di angkasa.
“Ayah,” ucap sang anak tiba-
tiba. Sang ayah pun menoleh
ke arah buah hatinya. “Ayah,
andai aku bisa seperti layang-
layang. Bisa terbang dengan
begitu elok di angkasa sana,
sambil memperlihatkan
keindahan kepada orang-orang
di bawahnya, ” tambah sang
anak sambil terus menatapi
gerak-gerik layang-layang.
Mendengar ucapan itu, sang
ayah pun membelai rambut
pendek anaknya. “Sebaiknya
kamu tidak berandai untuk
menjadi layang-layang,
anakku !” ucap sang ayah.
“Kenapa, ayah? Kalau saja aku
bisa seperti layang-layang,
bukankah aku bisa menatap
seluruh keadaan di bawah sini,”
sergah sang anak penuh tanda
tanya.
“Anakku, jangan pernah
berandai menjadi layang-
layang. Perhatikanlah,
walaupun layang-layang berada
di tempat yang begitu tinggi,
tapi ia tetap di bawah kendali
oleh mereka yang di bawah, ”
jelas sang ayah begitu bijak.
**
Siapa pun kita, dalam
optimisme meraih posisi hidup
yang lebih baik, tentu ingin
selalu berada di tempat yang
tinggi. Ingin menjadi leader,
sang pemimpin yang disegani,
menjadi orang teratas di
organisasi, perusahaan, bahkan
mungkin negara. Sebuah cita-
cita hidup seperti yang
diajarkan Alquran, waj ’alna lil
muttaqina imama, jadikanlah
kami sebagai pemimpin orang-
orang yang bertakwa.
Namun, berhati-hatilah ketika
optimisme meraih posisi tinggi
itu tidak sejalan dengan
idealisme dan kemampuan diri
yang memadai. Karena kita bisa
seperti layang-layang. Berada di
posisi yang paling tinggi,
sementara sang pengendali ada
di bawah.
Ia berada di posisi tinggi karena
ada ‘tangan-tangan’ di bawah
yang membuatnya tinggi.
Keelokannya di ketinggian itu
hanya permainan sang ’tangan’
dan tiupan angin.
menatapi keelokan layang-
layang yang baru saja dibawa
sang ayah dari kota. Ukurannya
begitu besar, tidak seperti
layang-layang temannya. Ada
kunciran di sisi kanan dan kiri,
dan terdapat ekor yang begitu
panjang. Warna-warni kunciran
dan ekor layang-layang
mengundang keceriaan sang
anak.
Setibanya di tanah lapang, sang
anak mendampingi ayahnya
memainkan layang-layang yang
ukurannya lebih besar dari
tubuh sang anak. Tiupan angin
kencang menerbangkan layang-
layang elok ke angkasa.
Kunciran dan ekor terus
berurai-urai membentuk irama
gerak yang begitu indah.
Sesekali, sang anak mencoba
berganti posisi dengan sang
ayah untuk belajar
mengendalikan terbangnya
layang-layang. Ia pun berdecak
kagum. Matanya berbinar
menatapi keelokan layang-
layang yang sedang terbang
tinggi di angkasa.
“Ayah,” ucap sang anak tiba-
tiba. Sang ayah pun menoleh
ke arah buah hatinya. “Ayah,
andai aku bisa seperti layang-
layang. Bisa terbang dengan
begitu elok di angkasa sana,
sambil memperlihatkan
keindahan kepada orang-orang
di bawahnya, ” tambah sang
anak sambil terus menatapi
gerak-gerik layang-layang.
Mendengar ucapan itu, sang
ayah pun membelai rambut
pendek anaknya. “Sebaiknya
kamu tidak berandai untuk
menjadi layang-layang,
anakku !” ucap sang ayah.
“Kenapa, ayah? Kalau saja aku
bisa seperti layang-layang,
bukankah aku bisa menatap
seluruh keadaan di bawah sini,”
sergah sang anak penuh tanda
tanya.
“Anakku, jangan pernah
berandai menjadi layang-
layang. Perhatikanlah,
walaupun layang-layang berada
di tempat yang begitu tinggi,
tapi ia tetap di bawah kendali
oleh mereka yang di bawah, ”
jelas sang ayah begitu bijak.
**
Siapa pun kita, dalam
optimisme meraih posisi hidup
yang lebih baik, tentu ingin
selalu berada di tempat yang
tinggi. Ingin menjadi leader,
sang pemimpin yang disegani,
menjadi orang teratas di
organisasi, perusahaan, bahkan
mungkin negara. Sebuah cita-
cita hidup seperti yang
diajarkan Alquran, waj ’alna lil
muttaqina imama, jadikanlah
kami sebagai pemimpin orang-
orang yang bertakwa.
Namun, berhati-hatilah ketika
optimisme meraih posisi tinggi
itu tidak sejalan dengan
idealisme dan kemampuan diri
yang memadai. Karena kita bisa
seperti layang-layang. Berada di
posisi yang paling tinggi,
sementara sang pengendali ada
di bawah.
Ia berada di posisi tinggi karena
ada ‘tangan-tangan’ di bawah
yang membuatnya tinggi.
Keelokannya di ketinggian itu
hanya permainan sang ’tangan’
dan tiupan angin.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Ayam
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Seekor induk ayam tampak
sibuk dengan kelahiran tiga
ekor anaknya yang baru saja
menetas. Seperti komandan
barisan, ia memimpin ketiga
anaknya mencari makan di
sekitar kandang. Kemana ia
pergi dan bertingkah, seperti itu
pula anak-anaknya mengikuti.
Suatu kali, induk ayam ini
menginginkan hal lain bagi
anak-anaknya. Ia ingin ketiga
anaknya kelak menjadi ayam
istimewa, bukan ayam
kebanyakan. Ia ingin anaknya
bisa belajar terbang seperti
burung, berlari kencang seperti
kuda, dan mahir berenang
seperti ikan.
Sang induk ayam pun mengajak
anak-anaknya mengunjungi
burung bangau. “Hei bangau
sahabatku! Bisakah kau ajari
salah satu anakku bagaimana
terbang ?”
Walau agak keheranan, sang
bangau menuruti permintaan
induk ayam untuk mengajari
seekor anak ayam terbang.
Sang bangau mengajak anak
ayam itu menaiki sebuah bukit.
Dan setelah mengajari
bagaimana mengepakkan
sayap, sang bangau
‘ mendorong’ sang anak ayam
untuk lompat dari atas bukit. Ia
berharap, sang anak ayam bisa
terbang, sebagaimana ia diajari
induknya ketika masih kecil.
Ternyata, bukan terbang yang
bisa dilakukan sang anak ayam.
Ia terjatuh dari atas bukit dan
membentur sebuah batu cadas
di dasarnya. Anak ayam itu pun
mati.
Tanpa peduli dengan kematian
itu, kini sang induk ayam
mengajak dua anaknya
mengunjungi kuda. “Hei kuda
sahabatku, maukah kau
mengajari salah satu anakku
bagaimana berlari kencang ?”
ucap sang induk ayam sedikit
agak memaksa.
Walau agak keheranan, sang
kuda pun mengajak salah satu
anak ayam ke tanah lapang.
Setelah mengajari bagaimana
menggerakkan kaki agar lebih
cepat berlari, sang kuda
mengikatkan sebuah tali yang
menghubungkan antara ia
dengan tubuh anak ayam. Dan,
ia pun ‘memaksa’ anak ayam
itu berlari kencang. Cara itulah
yang ia dapatkan ketika ia
diajari induknya ketika masih
kecil.
Ternyata, bukan kecepatan
berlari yang didapat si anak
ayam malang itu. Justru, ia
terseret dan tubuhnya tergesek
bebatuan di sekitar tanah yang
dilalui kuda. Sang anak ayam
itu pun mati.
Kini, tinggal satu peluang yang
dimiliki induk ayam. Ia dan
anaknya yang tinggal satu pun
pergi meninggalkan kuda untuk
mengunjungi ikan. Sang induk
ayam berharap, anaknya yang
satu ini bisa belajar berenang
seperti ikan.
“Hei ikan sahabatku, maukah
kau mengajari anakku
berenang ?” teriak sang induk
ayam ke ikan sahabatnya di
tepian sebuah sungai.
Walau agak keheranan, sang
ikan pun terpaksa mengajak
anak ayam itu belajar
berenang. Setelah mengajari
bagaimana menggerakkan
tubuh ketika dalam air, sang
ikan ‘memaksa’ anak ayam
menceburkan diri ke air sungai.
Cara itulah yang pernah
diajarkan kepada sang ikan
ketika ia masih kecil.
Ternyata, bukan kemahiran
berenang yang didapatkan
anak ayam, justru, ia tak bisa
nafas karena tersedak air yang
terus masuk ke saluran nafas
kecilnya. Anak ayam itu pun
mati.
Kini, tinggal si induk ayam
melamun dalam kesendirian. Ia
masih terpaku dalam
kebimbangan: anak-anaknya
yang tidak bermutu, atau ia
yang salah memperlakukan
anak-anaknya.
**
Tidak banyak pemimpin yang
mampu menimbang dengan
adil antara keinginan dan
obsesinya yang begitu tinggi
dengan kemampuan yang
dimiliki orang-orang yang
dipimpinnya.
Alih-alih ingin meraih hal yang
istimewa dari yang ia pimpin,
justru orang-orang yang
mengikutinya ‘berguguran’
tergilas obsesi para
pemimpinnya.
sibuk dengan kelahiran tiga
ekor anaknya yang baru saja
menetas. Seperti komandan
barisan, ia memimpin ketiga
anaknya mencari makan di
sekitar kandang. Kemana ia
pergi dan bertingkah, seperti itu
pula anak-anaknya mengikuti.
Suatu kali, induk ayam ini
menginginkan hal lain bagi
anak-anaknya. Ia ingin ketiga
anaknya kelak menjadi ayam
istimewa, bukan ayam
kebanyakan. Ia ingin anaknya
bisa belajar terbang seperti
burung, berlari kencang seperti
kuda, dan mahir berenang
seperti ikan.
Sang induk ayam pun mengajak
anak-anaknya mengunjungi
burung bangau. “Hei bangau
sahabatku! Bisakah kau ajari
salah satu anakku bagaimana
terbang ?”
Walau agak keheranan, sang
bangau menuruti permintaan
induk ayam untuk mengajari
seekor anak ayam terbang.
Sang bangau mengajak anak
ayam itu menaiki sebuah bukit.
Dan setelah mengajari
bagaimana mengepakkan
sayap, sang bangau
‘ mendorong’ sang anak ayam
untuk lompat dari atas bukit. Ia
berharap, sang anak ayam bisa
terbang, sebagaimana ia diajari
induknya ketika masih kecil.
Ternyata, bukan terbang yang
bisa dilakukan sang anak ayam.
Ia terjatuh dari atas bukit dan
membentur sebuah batu cadas
di dasarnya. Anak ayam itu pun
mati.
Tanpa peduli dengan kematian
itu, kini sang induk ayam
mengajak dua anaknya
mengunjungi kuda. “Hei kuda
sahabatku, maukah kau
mengajari salah satu anakku
bagaimana berlari kencang ?”
ucap sang induk ayam sedikit
agak memaksa.
Walau agak keheranan, sang
kuda pun mengajak salah satu
anak ayam ke tanah lapang.
Setelah mengajari bagaimana
menggerakkan kaki agar lebih
cepat berlari, sang kuda
mengikatkan sebuah tali yang
menghubungkan antara ia
dengan tubuh anak ayam. Dan,
ia pun ‘memaksa’ anak ayam
itu berlari kencang. Cara itulah
yang ia dapatkan ketika ia
diajari induknya ketika masih
kecil.
Ternyata, bukan kecepatan
berlari yang didapat si anak
ayam malang itu. Justru, ia
terseret dan tubuhnya tergesek
bebatuan di sekitar tanah yang
dilalui kuda. Sang anak ayam
itu pun mati.
Kini, tinggal satu peluang yang
dimiliki induk ayam. Ia dan
anaknya yang tinggal satu pun
pergi meninggalkan kuda untuk
mengunjungi ikan. Sang induk
ayam berharap, anaknya yang
satu ini bisa belajar berenang
seperti ikan.
“Hei ikan sahabatku, maukah
kau mengajari anakku
berenang ?” teriak sang induk
ayam ke ikan sahabatnya di
tepian sebuah sungai.
Walau agak keheranan, sang
ikan pun terpaksa mengajak
anak ayam itu belajar
berenang. Setelah mengajari
bagaimana menggerakkan
tubuh ketika dalam air, sang
ikan ‘memaksa’ anak ayam
menceburkan diri ke air sungai.
Cara itulah yang pernah
diajarkan kepada sang ikan
ketika ia masih kecil.
Ternyata, bukan kemahiran
berenang yang didapatkan
anak ayam, justru, ia tak bisa
nafas karena tersedak air yang
terus masuk ke saluran nafas
kecilnya. Anak ayam itu pun
mati.
Kini, tinggal si induk ayam
melamun dalam kesendirian. Ia
masih terpaku dalam
kebimbangan: anak-anaknya
yang tidak bermutu, atau ia
yang salah memperlakukan
anak-anaknya.
**
Tidak banyak pemimpin yang
mampu menimbang dengan
adil antara keinginan dan
obsesinya yang begitu tinggi
dengan kemampuan yang
dimiliki orang-orang yang
dipimpinnya.
Alih-alih ingin meraih hal yang
istimewa dari yang ia pimpin,
justru orang-orang yang
mengikutinya ‘berguguran’
tergilas obsesi para
pemimpinnya.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Thursday, January 10, 2019
Umpan.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Seorang pemburu muda
tampak setengah berlari
menuju pepohonan rindang.
Wajahnya menunjukkan
kelelahan yang begitu serius.
Nafasnya masih tersengal.
“Uh, ternyata sulit sekali
memburu macan tutul,”
ucapnya kepada seorang
rekannya yang lebih senior.
“Dengan cara apa kamu
memburu macan tutul?” ucap si
pemburu senior sambil
memperbaiki posisi duduknya di
bawah rindangnya pepohonan
di sebuah tepian hutan.
“Aku terus melacak jejaknya.
Sudah kusiapkan senjata
berjenis jarak jauh yang akurat.
Kalau saja macan itu sudah
kutemukan…,” jelasnya
kemudian.
“Saudaraku, lihatlah di balik
pohon besar itu!” ucap si
pemburu senior sambil
menunjuk sebuah kerangkeng
besi.
Dan betapa terkejutnya si
pemburu muda ketika
mendapati di kerangkeng besi
itu terdapat dua ekor macam
tutul. Ia pun terperangah.
Bagaimana mungkin si pemburu
tua bisa mendapatkan dua ekor
tanpa berpayah-payah
sepertinya?
“Pak tua, dengan senjata apa
kau bisa melumpuhkan dua
macan tutul sekaligus? Padahal,
aku tidak melihat dirimu
berpayah-payah mengejarnya?”
suara si pemburu muda dari
kejauhan. Matanya masih lekat
menatap dua macan tutul itu.
Pemburu tua pun menghampiri
pemburu muda yang masih
terperangah dengan apa yang
ada di hadapannya.
“Saudaraku,” ucapnya sambil
tangan kanannya menepuk
bahu si pemburu muda. “Tidak
semua berburu itu berarti
mengejar,” tambahnya
kemudian.
“Maksudmu?” kilah pemburu
muda sambil sedikit menoleh.
“Tampakkanlah apa yang paling
mereka suka, merekalah yang
akan mengejarmu. Nafsulah
yang membuat mereka menjadi
bodoh, dan tidak lagi bisa
membedakan mana umpan dan
mana temuan,” ungkap si
pemburu tua yang disambut
anggukan oleh si pemburu
muda.
**
Kehidupan saat ini sudah
seperti arena perburuan yang
saling berkejaran satu sama lain
untuk memperebutkan
sejumlah kepentingan individu
dan kelompok. Saat itulah,
masing-masing kita menjadi
sangat berwaspada dengan
kelompok atau pihak yang
menampakkan perburuan
terhadap kita.
Tapi berhati-hatilah dengan
permainan jebakan dari pihak
lawan dengan umpan-umpan
yang menggelorakan syahwat
duniawiyah. Karena saat itulah,
nalar dan kewaspadaan kita
berada pada posisi terendah,
sehingga tak lagi bisa
membedakan mana umpan dan
mana temuan.
tampak setengah berlari
menuju pepohonan rindang.
Wajahnya menunjukkan
kelelahan yang begitu serius.
Nafasnya masih tersengal.
“Uh, ternyata sulit sekali
memburu macan tutul,”
ucapnya kepada seorang
rekannya yang lebih senior.
“Dengan cara apa kamu
memburu macan tutul?” ucap si
pemburu senior sambil
memperbaiki posisi duduknya di
bawah rindangnya pepohonan
di sebuah tepian hutan.
“Aku terus melacak jejaknya.
Sudah kusiapkan senjata
berjenis jarak jauh yang akurat.
Kalau saja macan itu sudah
kutemukan…,” jelasnya
kemudian.
“Saudaraku, lihatlah di balik
pohon besar itu!” ucap si
pemburu senior sambil
menunjuk sebuah kerangkeng
besi.
Dan betapa terkejutnya si
pemburu muda ketika
mendapati di kerangkeng besi
itu terdapat dua ekor macam
tutul. Ia pun terperangah.
Bagaimana mungkin si pemburu
tua bisa mendapatkan dua ekor
tanpa berpayah-payah
sepertinya?
“Pak tua, dengan senjata apa
kau bisa melumpuhkan dua
macan tutul sekaligus? Padahal,
aku tidak melihat dirimu
berpayah-payah mengejarnya?”
suara si pemburu muda dari
kejauhan. Matanya masih lekat
menatap dua macan tutul itu.
Pemburu tua pun menghampiri
pemburu muda yang masih
terperangah dengan apa yang
ada di hadapannya.
“Saudaraku,” ucapnya sambil
tangan kanannya menepuk
bahu si pemburu muda. “Tidak
semua berburu itu berarti
mengejar,” tambahnya
kemudian.
“Maksudmu?” kilah pemburu
muda sambil sedikit menoleh.
“Tampakkanlah apa yang paling
mereka suka, merekalah yang
akan mengejarmu. Nafsulah
yang membuat mereka menjadi
bodoh, dan tidak lagi bisa
membedakan mana umpan dan
mana temuan,” ungkap si
pemburu tua yang disambut
anggukan oleh si pemburu
muda.
**
Kehidupan saat ini sudah
seperti arena perburuan yang
saling berkejaran satu sama lain
untuk memperebutkan
sejumlah kepentingan individu
dan kelompok. Saat itulah,
masing-masing kita menjadi
sangat berwaspada dengan
kelompok atau pihak yang
menampakkan perburuan
terhadap kita.
Tapi berhati-hatilah dengan
permainan jebakan dari pihak
lawan dengan umpan-umpan
yang menggelorakan syahwat
duniawiyah. Karena saat itulah,
nalar dan kewaspadaan kita
berada pada posisi terendah,
sehingga tak lagi bisa
membedakan mana umpan dan
mana temuan.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Wednesday, January 9, 2019
Pahala
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Seorang balita tampak
memperhatikan ibunya yang
masih sibuk di dapur.
Tangannya begitu cekatan
mempermainkan alat-alat
dapur untuk disusun rapi.
Sesekali, sang ibu kembali sibuk
mengaduk-aduk masakan yang
berada tak jauh dari tempatnya
berdiri.
Sang balita tak tahu persis,
sejak kapan bunda tercintanya
itu terbangun dari tidur. Yang ia
tahu, ketika terbangun, ibunya
sudah mondar-mandir di
dapur. Padahal, baru tiga jam
yang lalu, ia masih ingat betul
bagaimana ibunya telah
direpotkan dengan ompol dan
buang air besar sang adik di
TKP, alias tempat tidur.
“Mbok Iyem masih di kampung,
ya, Ma?” ucap sang balita ke
ibunya.
Sang ibu hanya menoleh
dengan senyum, kemudian
mengangguk pelan. “Kamu
kangen, ya?” ucap sang ibu
agak membungkuk.
“Aku cuma heran, Ma. Kok,
kerja Mama sama Mbok Iyem
beda sih ?” tanya sang balita
serius.
“Iya beda, sayang. Mbok Iyem
kerja di sini karena ada gaji dan
kewajiban mengurus rumah
kita, ” ucap sang ibu singkat.
“Kalau Mama, karena apa?”
tanya sang balita lagi.
”Cinta!” jawab sang ibu sambil
mengecup pipi balitanya.
**
Dalam tafsiran yang lebih
khusus, tidak sedikit dari kita
yang ’berkerja’ dalam ibadah
kepada Yang Maha Pencipta,
Pemberi rezeki, dan Penguasa
alam raya; hanya sebatas pada
kewajiban seorang hamba
kepada Khaliqnya. Di situlah
ada harapan mendapatkan
balasan berupa gaji yang
bernama pahala.
Walaupun masih tergolong
wajar, tapi itu akan menggiring
sang hamba pada hitung-
hitungan antara kewajiban dan
pahala. Seolah, kepuasan dari
menunaikan kewajiban adalah
berlimpahnya pahala. Persis
seperti seorang pembantu yang
rajin dan malasnya sangat
bergantung pada gaji dari
majikan.
Tidakkah sang hamba menekuri
lebih dalam bahwa nilai surga
yang dijanjikan tidak akan
sebanding dengan seberapa
pun banyaknya pahala
seseorang. Yang Maha Sayang
semata-mata memasukkan
hambaNya ke surga karena
limpahan cintaNya kepada
hamba-hambaNya yang juga
beramal karena cinta. Persis
seperti seorang ibu yang
melakoni lautan kewajiban
dengan samudera cinta.
memperhatikan ibunya yang
masih sibuk di dapur.
Tangannya begitu cekatan
mempermainkan alat-alat
dapur untuk disusun rapi.
Sesekali, sang ibu kembali sibuk
mengaduk-aduk masakan yang
berada tak jauh dari tempatnya
berdiri.
Sang balita tak tahu persis,
sejak kapan bunda tercintanya
itu terbangun dari tidur. Yang ia
tahu, ketika terbangun, ibunya
sudah mondar-mandir di
dapur. Padahal, baru tiga jam
yang lalu, ia masih ingat betul
bagaimana ibunya telah
direpotkan dengan ompol dan
buang air besar sang adik di
TKP, alias tempat tidur.
“Mbok Iyem masih di kampung,
ya, Ma?” ucap sang balita ke
ibunya.
Sang ibu hanya menoleh
dengan senyum, kemudian
mengangguk pelan. “Kamu
kangen, ya?” ucap sang ibu
agak membungkuk.
“Aku cuma heran, Ma. Kok,
kerja Mama sama Mbok Iyem
beda sih ?” tanya sang balita
serius.
“Iya beda, sayang. Mbok Iyem
kerja di sini karena ada gaji dan
kewajiban mengurus rumah
kita, ” ucap sang ibu singkat.
“Kalau Mama, karena apa?”
tanya sang balita lagi.
”Cinta!” jawab sang ibu sambil
mengecup pipi balitanya.
**
Dalam tafsiran yang lebih
khusus, tidak sedikit dari kita
yang ’berkerja’ dalam ibadah
kepada Yang Maha Pencipta,
Pemberi rezeki, dan Penguasa
alam raya; hanya sebatas pada
kewajiban seorang hamba
kepada Khaliqnya. Di situlah
ada harapan mendapatkan
balasan berupa gaji yang
bernama pahala.
Walaupun masih tergolong
wajar, tapi itu akan menggiring
sang hamba pada hitung-
hitungan antara kewajiban dan
pahala. Seolah, kepuasan dari
menunaikan kewajiban adalah
berlimpahnya pahala. Persis
seperti seorang pembantu yang
rajin dan malasnya sangat
bergantung pada gaji dari
majikan.
Tidakkah sang hamba menekuri
lebih dalam bahwa nilai surga
yang dijanjikan tidak akan
sebanding dengan seberapa
pun banyaknya pahala
seseorang. Yang Maha Sayang
semata-mata memasukkan
hambaNya ke surga karena
limpahan cintaNya kepada
hamba-hambaNya yang juga
beramal karena cinta. Persis
seperti seorang ibu yang
melakoni lautan kewajiban
dengan samudera cinta.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sebuah Koin Bengkok
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Kisah berikut, diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Bur
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Kisah berikut, diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Bur
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Kisah seekor Belalang
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
- Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak.
Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya
tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati
kebebasannya.
Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain.
Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat
lebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,
“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh,
padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk
tubuh ?”.
Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan,
“Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang
yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang
aku lakukan”.
Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak
itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi
belalang lain yang hidup di alam bebas.
Renungan :
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah
juga mengalami hal yang sama dengan belalang.
Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan
yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga,
seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang
membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita
tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu?
Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai
mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa
Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda
mau menyingkirkan “kotak” itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai
sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan
Anda?
Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan
untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa
yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai
apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang,
tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan
itu pasti akan terbayar.
Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup
pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan
untuk Anda.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Persiapkan Bekalmu ! (2)
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
LANJUTAN....
2. Takwa
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” (QS. Al Imron: 102)
Secara etimologi takwa memiliki arti menjaga. Menurut tinjauan syar’I adalah penjagaan diri seorang hamba terhadap kemurkaan Allah swt dan siksa-Nya dengan melaksanakan semua yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang.
Dengan adanya takwa dalam hati, kita senantiasa menjaga diri dari segala perbuatan yang bisa mendatangkan kemurkaan dan siksa Allah swt. Caranya yaitu dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Apakah itu berat? Tidak bagi orang yang bertakwa. Allah tidak memerintahkan untuk melakukan segala perintah-Nya. Dia memerintahkan kita untuk melakukan amal shalih sesuai dengan kemampuan kita. Gak semuanya kok, lalu apa yang menjadi alasan kita untuk tidak melakukan perintah-Nya? Tentunya yang wajib jangan samapai kita tinggalkan. Contohnya shalat. Meski sakit kita tetap diperintahkan untuk shalat. Jika tidak mampu berdiri kita dianjurkan untuk sholat dengan duduk. Jika tidak mampu duduk dianjurkan dengan posisi tidur, tapi jangan sampai ketiduran ya. Kalau masih tidak mampu ya dengan isyarat mata. Kalau tidak mampu dengan mata dianjurkan dengan hati. Kalau masih gak mampu ya dishalatkan saja. Mudahkan? Allah gak akan merpersulit kita dengan perintah-Nya. Justru yang merpersulitnya adalah kita sendiri.
Disisi lain Allah memerintahkan kita untuk meninggalkan segala larangan-Nya. Kita diperintahkan untuk meninggalkan, tidak diperintahkan untuk melakukannya bukan. Lalu apa yang memberatkan kita untuk meninggalkan segala larangan-Nya? Hanya tinggal menjauhi larangan tersebutkan.
Abu Hurairah ra. menceritakan bahwasanya beliau mendengar Rasulullah saw bersabda: “Apa yang aku larang kalian dari (mengerjakan)-nya maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk (melakukan)-nya maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian, karena sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang yang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan mereka (yang mereka ajukan) dan perselisihan mereka deangan para Nabi-Nabi (yang diutus kepada mereka).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun tidak berarti kita mendiamkan larangan itu terus terjadi. Jika mempunyai kemampuan dan kekuasaan untuk menghilangkan tindakan tersebut mengapa kita harus diam. Lakukan semampu kita jika memang tidak mepunyai kemampuan untuk itu paling tidak kita memiliki niat untuk menghilangkannya. Jangan malah ikut bergabung didalamnya walaupun hanya duduk-duduk saja.
Berikut beberapa jalan agar kita dapat menuju takwa yang sebenar-benarnya takwa, yang saya sadur dari buku Quantum Takwa[1]terjemahan Imtihan Asy-Syafi’i:
a. Mencintai Allah
Ada beberapa hal yang bisa menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah:
1) Membaca al Qur’an dengan mentadaburi dan memahami maknanya.
2) Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan sunnah setelah melaksanakan yang fardhu
3) Terus-menerus berdzikir kepada Allah dengan hati dan lisan
4) Mendahulukan apa yang dicintai-Nya daripada apa yang anda cintai, ketika hawa nafsu berkuasa.
5) Mempelajari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, menyaksikanya, berbolak-balik di taman maknannya.
6) Mengingat-ingat karunia-Nya, ihsan-Nya dan kebaikan-Nya kepada setiap hamba. Sesungguhnya hati tercipta mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya dan membenci siapa yang berbuat buruk kepadanya.
7) Menyendiri bersama-Nya pada sepertiga malamyang terakhir.
8) Bergaul dengan para pecinta sejati dan memungut buah –buah pembicaraan mereka yang baik.
9) Menjauhi syahwat dan syubhat apa pun yang dapat menghalangi hati kepada Allah.
10) Memikirkan ciptaan-Nya yang menunjukkan kesempurnaan-Nya. sesungguhnya hati tercipta mencintai kesempurnaan dan para salaf lebih mendahulukan tafakur daripada ibadah badan.
11) Mengingat-ingat ayat-ayat dan hadist-hadist yang menerangkan bahwa penghuni surga akan memandang Rabb mereka, mengunjungi-Nya dan berkumpul dengan-Nya pada hari diberikannya ziyadah (tambahan atas nikmat surga)
b. Muraqabah dan malu kepada Allah
Maksudnya adalah membiasakan diri untuk muraqabah dan merasakan pengawasan Allah swt sehingga seseorang malu untuk melakukan kemaksiatan dan akan bersungguh-sungguh dalam keataatan.
“dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaaf; 16)
“…Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 235)
“Kamu tidak berada dalam suatu Keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yunus: 16)
Ibnu Mas’ud meriwayatkan, Rasulullah saw bersaabda:
“Malulah kepada Allah dengan sebenar-benar malu! Barangsiapa malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, hendaklah dia menjaga kepala dan kesadarannya, hendaklah menjaga perut dan apa yang diisikannya, dan hendaklah mengingat kematian dan musibah! Barangsiapa menginginkan akhirat pastilah dia meninggalkan perhiasan kehidupan dunia. Dan barangsiapa melakukan semua itu, sungguh dia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu.” (HR. At Tirmidzi)
Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Malu adalah takwa yang paling ringan. Seseorang tidak akan takut (kepada Allah) sehinga dia malu. Dan tidaklah orang-oraang bertakwa itu sampai kepada takwa melainkan bermula dari malu.”
Harits Al-Muhasibi berkata, “Muraqabah itu mengertinya hati akan kedekatan Allah.”
Sering kali Imam Ahmad membaca syair:
Jika suatu saat kamu sendirian, jangan katakana, Aku sedang sendiri.
Tetapi katakana ada yang mengawasiku
Jangan kau kira Allah alpa sesaat
Juga ada sesuatu yang tersembunyi dan jauh dari-Nya
c. Mengerti bahwa kemaksiatan dan dosa mengakibatkan keburukan dan derita
Ibnul Qayyim menulis, “Apakah yang mengeluarkan ayah-ibu kita dari surge negeri kelezatan, kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan menuju negeri derita, kesedihan dan musibah?
Apa pula yang mengeluarkan Iblis dari alam Malakut di langit dan membuatnya terusir, terlaknat dan mengubah lahir batinnya sehingga sosoknya menjadi sosok terburuk dan terhina, sementara batinnya lebih buruk dan lebih hina lagi.
Apakah yang membuat seluruh penduduk bumi tenggelam sehingga air naik sampai di puncak gunung-gunung? Apakah topan badai memorak porandakan kaum ‘Ad sehingga mereka mati bergelimpangan dimuka bumibagaikan pohon-pohon kurma yang lapuk dan meluluhlantahkan seluruh bangunan dan pertanian mereka?apakah yang membuat kaum Tsamud mendapat kiriman suara keras yang mengguntur sehingga urat-urat jantung mereka putus dan mereka mati seketika? Apakah yang membuat deda Nabi Luth diangkat dan malaikat mendengar lolongan anjing –anjing mereka dan kemudian desa itu dibalik dan ditimpakan kepada mereka, bagian atasnya menjadi bagian bawah lalu mereka dihujani bebatuan dari sijjil? Dikumpulkan banyak hukuman atas mereka yang tidak pernah dikumpulkan untuk umat selain mereka. Dan orang semisal dengan mereka pun akan mendapatkan hukuman seperti mereka. Hukuman itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zhalim.
Segera sirna kelezatan yang diperoleh dari jalan haram
Yang tersisa tinggal dosa dan aib
Akibat keburukan senantiasa terasa
Tiada kebaikan dalam kelezatan berbuntut neraka
d. Belajar mengalahkan hawa nafsu dan menaati Allah
Syaikh Musthafa as-Siba’I menulis, “Jika hawa nafsumu berhasrat untuk bermaksiat, ingatkanlah ia kepada Allah. Jika hasrat itu reda, ingatkanlah ia tentang akhlak para Rijal (para lelaki sejati). Jika hasrat itu tidak reda, ingatkanlah ia tentang kehinaan saat orang-orang mengetahuinya. Jika hsrat itu tidak juga reda, ketauhilah bahwa pada saat itu kamu telah berubah menjadi binatang.”
Dengan mengikuti hawa nafsu sama saja kita membiayarkan diri menuju ke neraka.
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 37-41)
Dengan mengikuti hawa nafsu akan membuat kita tersesaat dari jalan-Nya yang akan mendapatkan azab yang berat. Allah berfirman, “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shad: 26)
e. Mengetahui tipu daya dan jerat-jerat setan serta mewaspadai godaan dan gangguannya.
Al-‘allamah Ibnu Muflih Al-Maqdisi menerangkan, “Ketahuilah bahwa setan menghadang orang-orang yang beriman dengan tujuh rintangan. Pertama adalah rintangan kekafiran. Jika selamat darinya, maka dengan rintangan bid’ah. Kemudian dengan rintangan dosa-dosa besar, lalu dengan rintangan dosa-dosa kecil. Jika selamat darinya, maka dengan amalan mubah yang menyibukan mereka dari berbagai ketaaatan. Jika masih bisa mengalahkannya, maka dengan menyibukkannya untuk mengerjakan amalan yang kurang utama sementara ada amalan yang lebih utama. Jika masih saja selamat darinya, maka dia akan menghadangnya dengan rintangan yang ketujuh, dan taka da seorang beriman pun selamat darinya. Jika ada, maka Rasulullah saw pasti termasuk selamat darinya. Rintangan itu adalah pengerhan musuh-musuh durjana dengan berbagai macam marabahaya.”
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. (QS. An-Nuur: 21)
Berikut beberapa perkara yang dapat terjaga dari bisikkan-bisikan syaitan:
1) Ber-isti’ adzah kepada Allah. Allah berfirman, “Jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Allah.” (QS. Fushlihat: 36)
2) Membaca surat-surat mu’awwidzat (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas). Rasulullah saw bersabda, “tidaklah orang-orang memohon perlindungan dengan yang semisal dengannya” HR. An-Nasa’i
3) Membaca ayat kursi menjelang tidur. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa membacanya menjelang tidurnya akan selalu ada (utusan) dari Allah yang menjaganya, sehingga dia tidak didekati oleh setan.” HR. Abu Hurairah
4) Membaca surat Al-Baqarah. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya rumah yang didalamnya dibaca surat Al-Baqarah tidak dimasuki syetan.” HR. Muslim
5) Membaca akhir surat Al-Baqarah. Abu Mas’ud Al-Anshari menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada suatu malam, keduanya mencukupi.” HR. Al-Bukhari
6) Membaca doa ini 100 kali
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
“Tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
7) Memperbanyak zikir kepada Allah
8) Berwudhu dan shalat
9) Menaahan diri dari berlebih-lebihan dalam memandang (yang diharamkan), berbicara, makan dan bergaul. Sesungguhnya setan menguasai anak cucu Adam dan berhasil mewujudkannya dari empat pintu itu.
3. Ilmu
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujaadilah: 11)
Bekal yang harus dimilki seorang pemuda dalam mengarungi kehidupan ini adalah ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia. karena dengan ilmu kita bisa menentukan baik, benar dan salahnya suatu perkara. Dengan ilmu juga kita bisa terhindar dari kesesatan aqidah yang bisa membawa kita masuk ke neraka jahanam untuk selama-lamanya. Nau’uzubillah minzalik...
Banyak dalil-dalil yang menerangkan tentang perintah menuntun ilmu dan balasan bagi orang-orang yang berilmu. Seperti dalam QS. Al Mujaadilah ayat 11. Dalam ayat tersebut dapat diambil dua point penting, yang pertama adalah kita harus melapangkan majelis yaitu bisa juga melapangkan hati untuk berbagi tempat dengan orang lain, bahkan jika ia diminta berdiri lalu memberikan tempatnya kepada orang yang patut menempati dimuka, maka janganlah berkecil hati. Point yang kedua adalah Allah SWt akan meninggikan derajat beberapa orang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Yang pertama adalah orang yang beriman dan yang kedua adalah orang yang berilmu.
Dari Ashim bin Dhamrah, dari Ali ra. berkata, “Ketahuilah sesungguhnya orang fakih adalah orang yang tidak membuat manusia putus asa dari rahmat Allah, tidak membuat mereka merasa aman dari adzab-Nya dan tidak terlalu memudahkan mereka untuk bermaksiat kepada-Nya serta tidak meninggalkan Al-Qur’an karena benci dengan mencari selain Al-Qur’an. Tidak ada kebaikan didalam ibadah yang tidak disertai dengan ilmu. Tidak ada kebaikan pada ilmu yang tidak disertai dengan pemahaman dan tidak ada kebaikan didalam membaca yang tidak disertai dengan tadabbur.”
Ilmu yang paling utama adalah ilmu agama. Dari Hafish bin Amru As-Sa’di dari pamannya berkata, Salman ra. pernah berkata kepada Hudzaifah ra. “Wahai saudara dari Bani Abs, ilmu itu banyak sedangkan umur itu pendek, maka ambillah ilmu yang kamu butuhkan dalam urusan agamamu daan tinggalkan yang lainnya jangan kamu pedulikan.”
Karena dengan ilmu ini kebahagian dunia dan akhirat dapat kita dapat. Dengan ilmu agama kita terhindar dari kesyirikan. Dengan ilmu agama kita terhindar dari penyimpangan aqidah. Dengan ilmu agama kita akan selalu dituntun ke jalan lurus. Dengan ilmu agama kita bisa bertahan meski dalam kesusahan. Dengan ilmu agama kita tidak akan gelisah melihat orang lain dilimpahkan kenikmatan. Dengan ilmu agama tidak ada waktu yang sia-sia karena setiap waktu luang diisi dengan berdzikir. Dengan ilmu agama kita terhindar dari perkataan sia-sia. Dengan ilmu agama rasa sombong akan pergi dari hati. Dengan ilmu agama sedekah akan nampak indah. Dengan ilmu agama shalat adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Dengan ilmu agama segala amal shaleh akan dinilai ibadah. Dengan ilmu agama kita akan mendapat pahala yang terus mengalir disetiap ilmu yang kita sampaikan untuk orang lain hingga datangnya hari kiamat. Dengan ilmu agama kita akan terhindar dari amalan yang sia-sia. Tanpa ilmu agama, sungguh kelak akan merugi bagi seorang muslim yang membawa segunung amalan tapi Allah menolak amalan tersebut.
Sebagai seorang pemuda muslim, juga dituntut menguasai ilmu dunia. Tak mungkin seseorang bisa hidup di dunia hanya mengandalkan ilmu agama saja tanpa menguasai ilmu dunia. apakah anak istri kita akan kita ceramahi saat mereka kelaparan? Tentu saja tidak. Dengan ilmu dunia kita bisa bertahan hidup. Dengan ilmu dunia kita bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan ilmu dunia kita bisa membiayai dakwah kita.
Banyak ilmuan-ilmuan Islam yang berjasa bagi dunia. Tidak hanya memiliki ilmu agama yang tapi mereka juga memiliki kecerdasan dalam ilmu-ilmu dunia. Ibnu Sina misalnya, ilmu kedokteraannya menjadi rujukan dokter-dokter diseluruh dunia. Ibnu Ismail Al-Jazari yang menemukan teori hidrolik. Temuannya tersebut menjadi rujukan dalam pembuatan robot yang berkembang di seluruh dunia terutama di Negara-negara maju. Dan masih banyak lagi ilmuan muslim yang sangat berpengaruh bagi dunia.
Jadi sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk menuntut ilmu agama dan ilmu dunia. Dengan begitu, ia bisa menggenggam dunia untuk meraih kebahagiaan akhirat. Dari Musayyab bin Rafi’ berkata, “Sungguh aku sangat benci melihat seorang pengangguran yang tidak bekerja untuk dunianya dan tidak pula beramal untuk akhiratnya.”
Imam Ja’far a.s berkata: “Ada beberapa macam derajat kepercayaan pada Allah. Salah satunya bahwa Anda harus menaruh kepercayaan Anda pada Allah dalam segala urusan Anda, selalu berkenan pada apa yang Allah SWT lakukan pada Anda, mengetahui dengan pasti bahwa Allah tidak akan pernah berhenti pada segala Kebaikan-Nya dan rahmat-Nya pada Anda, juga bahwa di dalamnya terletak perintah-Nya. Oleh karenanya taruhlah kepercayaan Anda pada Allah, biarkan sepenuhnya pada-Nya dan berserahlah pada-Nya dalam segala hal dan semua urusan.”
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Monday, January 7, 2019
Dua Hal yg Membuat Kita Tidak Bisa Bersyukur.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Banyak hal yang membuat
seorang manusia tak pernah
atau jarang bersyukur. Ada 2 hal
utama yang membuat seorang
manusia jarang atau bahkan
tidak pernah bersyukur
hal yang pertama adalah :
Kita sering memfokuskan diri
pada apa yang kita inginkan,
bukan pada apa yang kita
miliki.
Pikiran kita dipenuhi target
dan keinginan . Kita tetap tak
puas, kita ingin yang lebih dan
lebih. Jadi, entah betapa banyak
yang kita miliki, kita tak pernah
menjadi “KAYA” dalam arti yang
sesungguhnya.
Sesungguhnya, orang yang
”kaya” bukanlah orang yang
memiliki banyak hal, tetapi
orang yang dapat menikmati
apapun yang mereka miliki.
Kita seharusnya fokus pada apa
yg sudah kita miliki. Cobalah
lihat keadaan di sekeliling,
pikirkan yang Anda miliki, dan
syukurilah. Anda akan
merasakan nikmatnya
hidup.Seorang pengarang
pernah mengatakan,
” Menikahlah dengan orang yang
Anda cintai, setelah itu cintailah
orang yang Anda nikahi. ” Ini
salah satu perwujudan rasa
syukur.
Hal kedua yang sering
membuat kita tak bersyukur
adalah :
Kecenderungan membanding-
bandingkan diri kita dengan
orang lain . Kita merasa orang
lain lebih beruntung.
Hidup akan lebih bahagia kalau
kita dapat menikmati apa yang
kita miliki. Karena itu bersyukur
merupakan kualitas hati yang
tertinggi.
seorang manusia tak pernah
atau jarang bersyukur. Ada 2 hal
utama yang membuat seorang
manusia jarang atau bahkan
tidak pernah bersyukur
hal yang pertama adalah :
Kita sering memfokuskan diri
pada apa yang kita inginkan,
bukan pada apa yang kita
miliki.
Pikiran kita dipenuhi target
dan keinginan . Kita tetap tak
puas, kita ingin yang lebih dan
lebih. Jadi, entah betapa banyak
yang kita miliki, kita tak pernah
menjadi “KAYA” dalam arti yang
sesungguhnya.
Sesungguhnya, orang yang
”kaya” bukanlah orang yang
memiliki banyak hal, tetapi
orang yang dapat menikmati
apapun yang mereka miliki.
Kita seharusnya fokus pada apa
yg sudah kita miliki. Cobalah
lihat keadaan di sekeliling,
pikirkan yang Anda miliki, dan
syukurilah. Anda akan
merasakan nikmatnya
hidup.Seorang pengarang
pernah mengatakan,
” Menikahlah dengan orang yang
Anda cintai, setelah itu cintailah
orang yang Anda nikahi. ” Ini
salah satu perwujudan rasa
syukur.
Hal kedua yang sering
membuat kita tak bersyukur
adalah :
Kecenderungan membanding-
bandingkan diri kita dengan
orang lain . Kita merasa orang
lain lebih beruntung.
Hidup akan lebih bahagia kalau
kita dapat menikmati apa yang
kita miliki. Karena itu bersyukur
merupakan kualitas hati yang
tertinggi.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Persiapkan Bekalmu ! (1)
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Dari Sufyan Ats-Tsauri berkata, Abu Dzar Al-Ghifari ra. pernah berkata disisi Ka’bah, “Duhai manusia, akan adalah Jundub Al-Ghifari. Pergilah kemariuntuk menemui saudara kalian, seorng pemberi nasihat yang benar-benar menaruh rasa belas kasih.”
Lalu orang-orang pun mengelilinginya, baru kemudian Abu Dzar ra. berkata, “Apa pendapat kalian bila salah satu dari kalian ingin melakukan perjalanan, bukankah dia akan mempersiapkan bekal yang terbaik dan dapat mengantarkannya sampai tujuan?”
Mereka menjawab, “Benar, memang demikian adanya.”
“Sesungguhnya perjalanan menuju akhirat lebih jauh daripada yang kalian tuju di dunia ini,” kata Abu Dzar.
Mereka bertanya, “Lalu bekal apa yang baik bagi kami?”
Abu Dzar menjawab, “Berhajilah kalian untuk menghadapi urusan yang amat agung, berpuasalah pada hari yang panasnya sangat terik untuk menghadapi lamanya hari kebangkitan dan laksanakanlah shalat dua rakaat di kegelapan malam untuk mengahadapi kengerian dalam kubur.
Sahabat muslim selayaknya kita hatus mempersiapkan bekal sebelum kita berangkat. Untuk menentukan bekal yang akan kita bawa, terlebih dahulu kita mengetahui tujuan yang akan kita tuju. Jika kita mau mendaki gunung, bekal yang akan kita bawa paling tidak adalah matras, tenda, ransel, makanan, air minum, jas hujan, penerang/senter dan sebagainya. Selain itu, kita juga harus mengetahui medan yang akan kita lalui. Landai, terjal, jalan yang berbatu serta cuaca saat pendakian serta keadaan gunung yang akan kita daki. Setelah persiapan sudah matang dan informasi tentang medan serta keadaan gunung sudah dirasa cukup maka pendakian bisa dimulai. Ketika pendakian sudah dimulai, maka jangan pernah untuk turun lagi sebelum kita samapi dipuncak. Walau dalam pendakian kita harus menghadapi medan yang curam atau cuaca yang ekstrim. Jika kita sudah berhenti samapi disini, maka kita tidak akan pernah sampai di puncak gunung.
Begitu juga dengan kehidupan ini wahai sahabat muslim. Kita harus mempersiaapkan bekal kita untuk perjalanan panjang ini. Agar tujuan kita memasuki surga-Nya bisa kita raih. Oleh karena itu mari kita persiapkan bekal itu sejak sekarang. Jangan ditunda-tunda lagi. Selagi sempat, gunakan waktu agar bermanfaat. Sebelum usia berkarat, dan hanya penyesalan yang didapat.
1. Iman
Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw pernah ditanya, “Apakah amal yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Menurut etimologi iman artinya pengakuan yang mengharuskan untuk menerima dan tunduk, dan harus disesuaikan dengan syariat.[1]
Dari Anas Radhiallahu’anhu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار". وفي رواية : " لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى ... إلى آخره.
“Ada tiga perkara, barang siapa terdapat di dalam dirinya ketiga perkara itu, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu : Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada yang lain, mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah, benci (tidak mau kembali) kepada kekafiran setelah ia diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci kalau dicampakkan kedalam api”. (Imam Bukhori dan Muslim)
Al Hafizh Ibnu Hajar menulis, “Secara etimologi, iman berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara syar’I, iman adalah membenarkan semua yang dibawa oleh Rasul dari Rabb-nya. Ibnu hajar juga menambahkan, “Iman meliputi perkataan dan perbuatan, bisa bertambah bisa berkurang.”[2]
Syaikh Muhammad Bin Utsaimin dalam bukunya Syarah Al-Araba’in An-Nawawiyah ada kaidah-kaidah yang menjadi poin penting dalam rukun Islam, yaitu
a. Iman Kepada Allah SWT.
Beriman kepada Allah SWT mencakup empat hal, yaitu:
1) Percaya akan keberadaan-Nya.
2) Beriman bahwa rububiyah hanya milik-Nya. Dengan kata lain, beriman bahwa Dia adalah Rabb atu-satunya, hanya Dia yang memiliki kuasa rububiyah. Rabb artinya Pencipta, Penguasa dan Pengatur.
3) Beriman bahwa uluhiyah hanya milik-Nya, Dialah ilah satu-satu-Nya, tidak ilah yang berhak diibadahi selain-Nya, tiada sekutu bagi-Nya.
4) Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah, dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat seperti yang Allah sebut untuk diri-Nya dalam kitab-Nya atau dalam sunnah rasul-Nya, secara baik, tanpa tahrif (mengubah kata-katanya), ta’thil (mengabaikan makna sebenarnya), takyif (menggambarkan esensinya) ataupun tamstil (menyerupakan dengan makhluk).
b. Iman Kepada Malaikat
Beriman kepada malaikat mencakup beberapa hal di bawah ini:
1) Mengimani nama-nama malaikat yang kita ketahui.Kita beriman bahwa ada malaikat yang bernama ini dan itu, Jibril misalnya.
2) Kita beriman bahwa para malaikat memiliki tugas masing-masing.
Allah berfirman, “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 16-18)
c. Iman Kepada Kitab Allah.
Beriman kepada Allah mencakup empat hal sebgai berikut:
1) Kita beriman bahwa Allah menurunkan kitab-kitab kepada rasul dari sisi Allah. Namun, kita tidak percaya bahwa kitab-kitab yang abadi kalangan umat-umat sekarang selain umat Islam itulah yang diturunkan dari sisi Allah, karena semua kitab mereka sudah diubah-ubah dan diganti. Untuk kitab yang asli dari Allah untuk rasul, kita percaya itu benar dari sisi Allah.
2) Kita mengimani kebenaran berita-berita yang disampaikan di dalamnya seperti berita-berita Al Quran, dan berita-berita dalam kitab lain sebelumnya yang tidak diubah dan diganti.
3) Kita mengimani hukum-hukum yang tertera dalam kitab-kitab Allah selama tidak berseberangan dengan syariat kita, menurut pendapat yang menyatakan bahwa syariat umat sebelum kita adalah syariat untuk kita juga. Ini benar, selama tidak berseberangan dengan syariat kita.
4) Kita mengimani nama-nama kitab yang kita tahu, seperti Al Quran, Taurat, Injil, Zabur, lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa.
d. Iman Kepada rasul-Nya
Utusan Allah kadang disebut rasul dan juga nabi. Rasul adalah orang yang diberi wahyu berupa syariat, diperintahkan untuk mengamalkan dan diperintahkan untuk disampaikan kepada umatnya. Sedangkan nabi adalah orang yang diberi wahyu berupa syariat, diperintahkan untuk mengamalkan, hanya saja tidak diperintahkan untuk disampaikan. Para rasul adalah yang berada ditingkatan teratas yang diberi lipahan karunia oleh Allah. Mereka adalah Nabi Muhammad SAW, Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS yang disebut dengan rasul ulul ‘azmi. Nama-nama mereka disebutkan dalam firman Allah berikut:
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil Perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka Perjanjian yang teguh”.(QS. Al Ahzab (33): 7)
e. Iman Kepada Hari Kiamat
Beriman kepada hari kiamat mencakup beberapa hal:
1) Beriman bahwa hari akhir benar-benar terjadi.Allah akan membangkitkan manusia dari kubur saat sangkakala ditiup dan seluruh manusia berdiri menghadap Rabb seluruh alam. Allah berfirman “Kemudian, sesungguhnya kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari kiamat.” (Al-Mu’minun: 16)
2) Mengimani segala hal terkait hari akhir yang disebutkan dalam kitab Allah dan sunnah yang sahih dari Nabi saw.
3) Mengimani segala sesuatu yang disebut pada hari akhir, seperti telaga Nabi, syafaat, shirath, surga, neraka, dan lainnya.Surge sebagai negeri kenikmatan, sementara neraka sebagai negeri siksaan berat.
4) Mengimani adanya nikmat dan azab kubur, karena hal tersebut tertera dalam Al Quran, sunnah, dan ijmak salaf.
f. Iman Kepada Takdir Allah.
Beriman kepada takdir mencakup empat hal sebagai berikut:
1) Mengimani ilmu Allah yang meliputi segala-galanya, baik secara garis besar maupun rinci.Allah berfirman, “Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah: 282)
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. Al-An’am: 59)
2) Beriman bahwa Allah telah menulis takdir segala sesuatu hingga hari kiamat dalam Lauhul Mahfuzh. Allah berfirman, “Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)
3) Beriman bahwa apapun yang terjadi di alam ini sesuai kehendak Allah, tidak ada satu pun yang luput dari kehendak-Nya.Allah berfirman, “Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya.” (Al-An’am: 112)
4) Beriman bahwa Allah menciptakan segala sesuatu secara umum. Allah berfirman, “Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetpkan ukuran-ukurannya dengan tepat.” (QS. Al-Furqan: 2)
Makna iman tak sebatas hanya mencangkup rukun iman saja, tapi lebih luas dari itu. Iman itu terdiri dari enam puluh sekian cabang, hal ini tersirat dalam hadist Rasulullah saw,
“Iman terdiri dari enam puluh sekian cabang, dan malu adalah bagian dari Iman.” (HR. Al-Bukhari)
Al Hafizh menulis cabang-cabang ini meliputi amal hati, amal lisan dan amal badan. Yang termasuk amal hati adalah keyakinan dan niat.
Amal hati mencakup 24 perkara:
1) Beriman kepada Allah
2) Beriman kepada malakikat-malaikat-Nya
3) Beriman kepada kitab-kitab-Nya
4) Beriman kepada rasul-rasul-Nya
5) Beriman kepada takdir yang baik dan buruk
6) Beriman kepada hari kiamat
7) Ikhlas yang meliputi tidak riya’ dan plin-plan
8) Taubat
9) Khauf (takut pada siksa Allah)
10) Raja’ (mengharap pahala dari allah)
11) Syukur
12) Memenuhi janji
13) Sabar
14) Ridha terhadap takdir
15) Tawakal
16) Berbelas kasih
17) Tawadhu’
18) Menghormati yang lebih tua
19) Mengasihi yang lebih muda
20) Tidak sombong
21) Tidak ‘ujub
22) Tidak iri
23) Tidak dengki
24) Tidak marah
Amal lisan meliputi tujuh perkara:
1) Melafalkan tauhid
2) Membaca al Qur’an
3) Mempelajari ilmu dan mengajarkannya
4) Berdoa
5) Berdzikir
6) Istigfar
7) Menjauhi laghwu (ucapan yang sia-sia)
Amal badan terbagi menjadi tiga bagian:
1) Yang mencakup personal:
a. Bersuci secara nyata maupun secara hukum
b. Menjauhi berbagai najis
c. Menutup aurat
d. Melakukan shalat wjaib ataupun sunnah
e. Haji
f. Umrah
g. Thawaf
h. I’tikaf
i. Mencari malam al Qadar
j. Mempertahankan agama
k. Berhijrah dari negeri kemusyrikan
l. Menepati nadzar
m. Berhati-hati dalam bersumpah
n. Membayar kafarat
2) Yang menyangkut orang lain:
a. Menjaga kehormatan diri dengan menikah
b. Memenuhi hak keluarga
c. Berbakti kepada orang tua
d. Menjauhi sikap durhaka
e. Mendidik anak
f. Menjalin tali silaturahim
g. Menaati majikan atau mengasihi budak
3) Yang menyangkut khalayak
a. Memimpin dengan adil
b. Mengikuti jamaah
c. Menaati Ulil amri
d. Mengadakan perbaikan diantara manusia
e. Tolong menolong daalam kebaikan termasuk amar ma’ruf nahi munkar
f. Menegakkan hokum hudud
g. Menegakkan jihad termasuk ribath (berjaga di daerah perbatasan)
h. Menunaikan amanat termasuk menyerahkanseperlimaa harta raampasan perang kepada Baitul Mall
i. Memberikan pinjaman dan membayarnya tepat waktu
j. Memuliakan tetangga
k. Bermuamalah dengan baik termasuk mengumpulkan harta dari yang halal
l. Menginfakkan harta pada tempatnya termasuk meninggalakan tabdzir dan israf
m. Menjawab salam
n. Mendoakan orang yang bersin
o. Mencegah marabahaya yang menghampiri seseorang
p. Menjauhi lahwu (perbuatan sia-sia)
q. Menyingkirkan gangguan dari jalan.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Subscribe to:
Posts (Atom)
