sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Wednesday, September 7, 2011
> Siti Jenar dan Wali Sanga [Bag 62]
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
“Kang Mas, mengapa tanganmu berlumuran darah?” terperanjat.
“Mana darah ?” mengerutkan kening, pandangannya tidak beranjak dari wajah pucat pasi ketakutan.
“Tangan, wajah, tubuh kakang berdarah…? Mengapa Kakang tidak merasakan sakit? Sebaliknya malah bertanya?” semakin menjauhi.
“Dimas?” yang ditanya semakin bingung, berkali-kali memandang tangan serta tubuhnya lalu menatap lagi.
“Apakah Syekh Siti Jenar yang melukai Kakang? Lalu dimana rombongan kita?”
“Aneh?” Pangeran Bayat gelengkan kepala. “Apa sebenarnya yang telah terjadi, Dimas? Tidakah melihat rombongan kita berada di atas bukit?”
“Kakang yang aneh? Sedang apa mereka di atas bukit? Bukit yang mana?”
“Dimas? Bukankah mereka sedang menyaksikan pertarungan Syekh Siti Jenar dengan Kanjeng Sunan Kalijaga? Mengapa dimas lupa?”
“Jangan mendekat! Darah itu, darah itu, mengapa kakang tidak merasakan sakit?”
“Darah yang mana? Siapa pula yang berdarah-darah?” berusaha meraih bahu, “Jangan menjauh!”
“Tidak….” terpeleset, jatuh telenlang di atas rumput hijau.
“Rupanya pingsan?” telapak tangannya mengusap kening, terasa panas. “Sakitkah dia?” mencoba mengingat sebelum peristiwa terjadi. Terbayang ketika Pangeran modang mengikat sebongkah gedebog pisang lalu memukuli serta menyeretnya sendiri menuruni padepokan.
“O, itu rupanya. Tapi mengapa dia berbuat aneh…?”
Bersambung….
“Mana darah ?” mengerutkan kening, pandangannya tidak beranjak dari wajah pucat pasi ketakutan.
“Tangan, wajah, tubuh kakang berdarah…? Mengapa Kakang tidak merasakan sakit? Sebaliknya malah bertanya?” semakin menjauhi.
“Dimas?” yang ditanya semakin bingung, berkali-kali memandang tangan serta tubuhnya lalu menatap lagi.
“Apakah Syekh Siti Jenar yang melukai Kakang? Lalu dimana rombongan kita?”
“Aneh?” Pangeran Bayat gelengkan kepala. “Apa sebenarnya yang telah terjadi, Dimas? Tidakah melihat rombongan kita berada di atas bukit?”
“Kakang yang aneh? Sedang apa mereka di atas bukit? Bukit yang mana?”
“Dimas? Bukankah mereka sedang menyaksikan pertarungan Syekh Siti Jenar dengan Kanjeng Sunan Kalijaga? Mengapa dimas lupa?”
“Jangan mendekat! Darah itu, darah itu, mengapa kakang tidak merasakan sakit?”
“Darah yang mana? Siapa pula yang berdarah-darah?” berusaha meraih bahu, “Jangan menjauh!”
“Tidak….” terpeleset, jatuh telenlang di atas rumput hijau.
“Rupanya pingsan?” telapak tangannya mengusap kening, terasa panas. “Sakitkah dia?” mencoba mengingat sebelum peristiwa terjadi. Terbayang ketika Pangeran modang mengikat sebongkah gedebog pisang lalu memukuli serta menyeretnya sendiri menuruni padepokan.
“O, itu rupanya. Tapi mengapa dia berbuat aneh…?”
Bersambung….
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.