Showing posts with label Bahasa Jawa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Jawa. Show all posts

Tuesday, January 1, 2019

Tentang Bahasa Jawa

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Bahasa Jawa merupakan bahasa yang dipertuturkan oleh sekitar 80 juta suku bangsa Jawa. Bahasa ini menduduki peringkat ke 12 sebagai bahasa dengan penutur terbanyak di dunia. Tidak hanya di Indonesia, namun di negara-negara lain dimana banyak suku Jawa tinggal masih menggunakan bahasa Jawa seperti Suriname, Malaysia, Kaledonia Baru. Sedangkan di Indonesia, sebagian besar penutur bahasa ini lebih banyak di pulau Jawa (Jawa tengah, Jawa Timur, dan sebagian wilayah Jawa Barat).

Bahasa Jawa sendiri ada beberapa variasi dialek:
1. Dialek Kelompok Barat meliputi dialek Banten, dialek Cirebon, dialek Tegal, dialek Banyumasan, dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas).

2. Dialek Kelompok Tengah yang meliputi dialek Pekalongan, dialek Kedu, dialek Bagelen, dialek Semarang, dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati),dialek Blora, dialek Surakarta, dialek Yogyakarta, dan dialek Madiun.

3. Dialek Kelompok Timur meliputi dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro), dialek Surabaya, dialek Malang, dialek Jombang, dialek Tengger, dan dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing).
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Teknik Pengucapan Bunyi Vokal Bahasa Jawa (bag.2)

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Pada postingan sebelumnya saya sudah membahas tentang teknik pengucapan bunyi vokal huruf "a". Sekarang kita akan menuju pada pengucapan vokal "i".

Teknik pengucapan vokal "i" ada 2 macam:

1. Vokal "i" dibaca "i" seperti pada kata "ikan, ilalang, miyabi"
Biasanya teknik pertama ini, hurufvokal "i" tidak diikuti huruf konsonan mati. Berikut ini adalah beberapa contoh kosakata dalam bahasa Jawa yang menggunakan vokal "i" dibaca "i":
Note: Huruf "i" saya tulis standar sebagai tanda bacanya.
- kali dibaca "kali" berarti sungai
- lali dibaca "lali" berarti lupa
- mburi dibaca "mburi" berarti belakang
- iwak dibaca "iwak" berarti ikan
- bali dibaca "bali" berarti kembali
- wedi dibaca "wedi" berarti takut
- wedhi dibaca "wedhi" berarti pasir

2. Vokal "i" dibaca "e" seperti pada kata "lele dan lebar"
Biasanya teknik bunyi kedua ini huruf vokal "i" selalu diikuti/diakhiri dengan huruf konsonan mati. Contoh:
Note: Huruf "i" saya tulis tebal sebagai tanda bacanya.
- Kuping dibaca "kupeng" berarti telinga
- sikil dibaca "sikel" berarti kaki
- miring dibaca "mireng" berarti condong
- lirih dibaca "lireh" berarti pelan
- kirim dibaca "kirem" berarti hantar
- winih dibaca "wineh" berarti benih
- jirih dibaca "jireh" berarti takut
Nah, Anda dapat mencoba teknik pengcapan huruf vokal "i" berulang-ulang. Pada postingan berikutnya saya akan membahas teknik pengucapan vokal "u".
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Teknik Pengucapan T, TH, D, DH

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Sekarang kita sampai pada teknik pengucapan bunyi konsonan "t,th,d, dan dh". Nah, untuk keempat huruf ini sering terjadi kesalahan bahkan sebagian orang Jawa asli sendiri pun ada yang salah dalam mengucapkan. Salah ucap berarti beda arti.

Langsung aja mari dimulai:
1. Bunyi "t". Bunyi ini juga disebut "t tipis". Tekniknya adalah pada saat Anda mengucapkan "t" ujung lidah menyentuh gigi seri bagian atas.

Anda coba sekarang ucapkan kata ini: "te".

Berikutnya adalah contoh kata yang menggunakan "t tipis":
- tuman-ketagihan
- tuku-beli
- turu-tidur
- telu-tiga

2. Bunyi "th". Bunyi ini juga disebut "t tebal". Nah, tekniknya adalah ketika Anda  mengucapkan "th" tekuklah ujung lidah hingga menyentuh langit-langit mulut bagian depan.

Coba ucapkan kata ini : "the".

Ini dia contoh kata yang menggunakan "th":
- cetha-jelas
- kutha-kota

3. Bunyi "d". Bunyi ini juga disebut "d tipis". Tekniknya, ketika Anda mengucapkan bunyi "d tipis" sama seperti pada saat mengucapkan "t tipis" di atas. Sekarang coba ucapkan kata ini :"de".

Contoh kata:
- dara-merpati
- durung-belum
- demak-kota demak
- degan-kelapa muda
- wedi-takut

4. Bunyi "dh". Bunyi ini juga disebut " d tebal". Teknik pengucapannya sama dengan pengucapan "th". Coba ucapkan kata ini :"dhe"
 contoh kata:
- padha-sama
- padhang-terang
- randha-janda
- wedhi-pasir

Nah, Anda lihat perbedaan kata "wedi dan wedhi" bagaimana cara pengucapannya. Sekarang Anda sudah mengerti teknik pengucapan bunyi konsonan "t,th,d, dan dh".

Sekian dulu yah, lain waktu saya akan sambung ke kata tanya dalam bahasa Jawa. Pelajari dulu dech teknik pengucapan bunyinya hingga benar betul.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Teknik Pengucapan Bunyi Vokal Bahasa Jawa (bag.1)

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
 Update:
Belajar bahasa Jawa sama dengan belajar bahasa lain. Ada 3 (tiga) teknik untuk dapat menguasai bahasa ini yaitu:
1. Belajar pengucapan bunyi
2. Menghafal kosa kata
3. Belajar tata bahasanya

Nah, untuk langkah awalnya, kita belajar dulu teknik pengucapan bunyinya sekaligus menghafal kosa katanya yah.

Dalam percakapan bahasa Jawa pengucapan bunyi sangatlah penting, salah sedikit saja bisa berbeda arti. Misalnya, kata "lara" yang berarti sakit dan kata "loro" yang berarti angka dua. Nah kali ini kita akan membahas tentang teknik pengucapan bunyi vokal dalam bahasa Jawa.

a.) Huruf Vokal "a"
1. Ada dua macam pengucapan jenis huruf vokal "a" yaitu diucapkan sebagai huruf "o" seperti pada kata "kosong, dan lorong". Oke sekarang Anda praktekkan pada kata-kata berikut di bawah ini (ini juga akan menambah kosakata bahasa Jawa Anda).
Note: Huruf "a" saya tulis tebal sebagai tanda bacanya.
- randa dibaca "rondo" berarti janda dalam bahasa Indonesia
- jaka dibaca "joko" berarti jejaka
- gawa dibaca "gowo" berarti bawa
- waja dibaca "wojo" berarti gigi
- lara dibaca "loro" berarti sakit
- mara dibaca "moro" berarti datang
- lawa dibaca "lowo" berarti kelelawar
- maca dibaca "moco" berarti membaca
- pasa dibaca "poso" berarti puasa
- mrana dibaca "mrono" berarti ke sana
- kana dibaca "kono" berarti sana
- wana dibaca "wono" berarti hutan

Contoh di atas adalah beberapa kosakata dalam bahasa Jawa yang menggunakan huruf vokal "a". Ingat sekali lagi, huruf vokal "a" seperti pada contoh di atas dibaca sebagai huruf "o" seperti pada kata "lorong". Nah, coba ucapkan kata-kata di atas sekali lagi.

2. Oke, sekarang pengucapan huruf vokal "a" dibaca sebagai huruf "a" seperti pada kata "papan, wajan". Kini giliran anda praktek mengucapkan kata-kata berikut di bawah ini:
Note: Huruf "a" saya tulis standar sebagai tanda baca.
- gawan dibaca "gawan" berarti bawaan
- sarapan dibaca "sarapan" berarti makan pagi
- bal dibaca "bal" berarti bola
- kapan dibaca "kapan" berarti kata tanya yang menanyakan waktu
- papat dibaca "papat" berarti angka empat
- ora dibaca "ora" berarti tidak
- lawang dibaca "lawang" berarti pintu
- nyawang dibaca "nyawang" berarti melihat
- balang dibaca "balang" berarti lempar

Nah, biasanya (sebagian besar) untuk huruf vokal "a" dibaca sebagai "a" terdapat pada kata yang diakhiri konsonan mati. Misalnya, kata "gawan" jika huruf "n" dihilangkan maka akan dibaca "gowo" seperti contoh-contoh nomor satu. Sekarang praktekkan sekali lagi dengan mengucapkan kata-kata di atas.

Saya kira sekian dulu deh belajar bahasa Jawa kali ini. Pada postingan selanjutnya, InsyaAllah saya akan melanjutkan mengenai teknik pengucapan bunyi vokal bahasa Jawa lainnya.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Nama-Nama Hewan Dalam Bahasa Jawa

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Sugeng Warsa Enggal 2013 kanggo sedulur-sedulur kabeh sadonya (Selamat Tahun Baru 2013 untuk saudara-saudara sedunia). Waduh wis suwe ki aku ora update tulisan ana ing blog iki (waduh sudah lama ni saya tidak update di blog ini). Kali ini saya ingin membagikan nama-nama hewan dalam bahasa Jawa:

- Angsa = Menthog
- Bebek = bebek
- Kuda = Jaran
- Sapi = Sapi
- Kerbau = Kebo
- Ayam = Pitik
- Burung = Manuk
- Ular = Ula (baca cara pengucapan huruf vokalnya ya)
- Ulat = Uler
- Kambing = Wedhus
- Anjing = Asu
- Kera/Monyet = Munyuk, Kethek
- Tikus = Tikus
- Babi = Babi, Celeng
- Kucing = Kucing
- Cicak = Cecak

Untuk sementara itu saja ya dulur, aku cari dulu yang lainnya....
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Mari Mengenal Macam Kata Tanya Dalam Bahasa Jawa

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Anda pasti sudah mengenal bagaimana teknik pengucapan bunyi vokal dan konsonan bahasa Jawa pada posting saya sebelumnya. Jika belum sebaiknya, anda pelajari dulu deh sebelum di bab ini biar Anda mudah dalam membacanya menggunakan tanda yang saya gunakan. Nah, kini saya akan membahas tentang macam-macam kata tanya dalam bahasa Jawa.

1. Apa....?
Kata tanya ini juga digunakan untuk menanyakan sesuatu benda. Contoh:
- apa kuwi sing mbok gawa?
(apa itu yang kamu bawa?)
- apa iki?
(apa ini?) dan lain-lain....

2. Sapa....?
Kata Tanya ini biasa digunakan untuk menanyakan orang. Contoh:
- Sapa jenengmu?
(siapa nama kamu?)
- Sapa bapakmu?
(siapa bapak kamu? dan lain-lain....

3. Piye
Kata tanya ini untuk menanyakan keadaan seseorang. Contoh:
- Piye kabarmu?
(bagaimana kabarmu?)
- Piye carane?
(bagaimana caranya?) dan lain-lain....

4. Pira
Nah, kalau yang ini untuk menanyakan jumlah benda atau harga. Contoh:
- Pira sedulurmu?
(berapa saudara kamu?)
- Buku iki regane pira?
(buku ini harganya berapa?) dan lain-lain....

5. Kapan
Kata tanya ini digunakan untuk menanyakan waktu. Contoh:
- Kapan kowe arep bali?
(kapan kamu akan kembali?)
- Tanggal lairmu kapan?
(tanggal lahir kamu kapan?) dan lain-lain....

6. Ngapa? Kena apa?
Kata tanya ini menanyakan suatu alasan. Contoh:
- Kowe kok nangisi ngapa/kena apa?
(kamu kok nangis kenapa? atau mengapa kamu kok nangis?) dan lain-lain.....

Nah, mungkin hanya itu dulu postingan untuk hari ini yah.....have a nice day!
Matur Suwun
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Teknik Pengucapan Bunyi Vokal Bahasa Jawa (bag.3)

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
3. Sekarang kita sampai pada teknik pengucapan bunyi vokal "u" dalam bahasa Jawa. Ada dua macam bunyi untuk "u":
a. Bunyi "u". Saya tulis standar huruf "u" maka Anda mengucapkannya seperti huruf "u" pada kata "KUTU", "BUKU".
Sekarang ucapkan kosakata Jawa berikut ini:
- Tuku- Beli
- Turu- Tidur
- Krungu- Mendengar
- Urip- Hidup

b. Bunyi "u". Huruf saya tulis tebal berarti Anda membacanya seperti huruf "o" biasa pada kata "KOLAM", "KOTAK".
Nah sekarang giliran Anda mengucapkan kosakata berikut ini:
Note: Biasanya bunyi "u" ini diucapkan jika "u" pada suatu kata diikuti akhiran konsonan mati.
- Mundur- Mundur
- Nganggur- Mengganggur
- Taun- Tahun
- Mung- Hanya
- Durung- Belum

4. Pengucapan bunyi "e". Ada tiga (3) macam bentuk teknik pengucapan bunyi untuk "e".
a. Bunyi "e". Saya tulis "e" standar berarti Anda membacanya seperti bunyi "e" pada kata "LELE", "BELA".
Sekarang ucapkan bunyi "e" pada kosa kata berikut ini:
- Edan-Gila
- Entuk-Dapat
- Enak-Sedap
- Eman-Sayang
- Endah-Elok
b. Bunyi "e". Saya tulis "e" tebal berarti Anda membacanya seperti bunyi "e" pada kata "BELI", BELUM".
OK! Sekarang coba ucapkan kata-kata berikut di bawah ini:
- Beras-beras
- Bener-Betul
- Seneng- Senang, gembira
- Ketan-nama beras
- Banget-Ungkapan yang menyangatkan seperti kata : akeh banget! (banyak sekali!)
- Mlebu-masuk
- Metu-keluar

c. Bunyi "e". Saya tulis "e" miring berarti Anda membacanya seperti "e" pada kata "SOBEK", TOKEK".
Bisa kan! Sekarang coba ucapkan kata-kata berikut ini:
- Kabeh-semua
- Akeh-banyak
- Yen-jika
- Ben-biar, agar, supaya
- Leren-istirahat

5. Terakhir adalah pengucapan bunyi "o". Nah, untuk "o" cuma ada 2 teknik pengucapan yaitu:
a. Bunyi "o". Saya tulis "o" standar berarti Anda emmbacanya seperti "o" pada "KOLAM", OLAHRAGA".
OK! Sekarang bunyikan huruf "o" dibawah:
- Loro-dua
- Coro-kecoa
- Ora-tidak
- Kanggo-untuk
- Golek-cari

b. Bunyi "o". Saya tulis tebal huruf "o" berarti Anda bunyikan seperti pada kata "POCONG", KOLONG", KOLOM". Nah, bunyikan kata-kata di bawah ini:
Note: Biasanya bunyi "o" ini diucapkan jika diikuti akhiran konsonan mati pada suatu kata. 
- Colong-curi
- Ngomong-bicara
- Copot-lepas
- Wong-orang
- Lor-utara

Nah, sekian dulu belajarnya yah. InsyaAllah nanti akan saya lanjutkan ke pengucapan konsonan "t", "th", "d", "dh".
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Tuesday, September 4, 2018

Nama-Nama Hari Dalam Bahasa Jawa

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Jumpa lagi dulur setelah sekian lama vakum dalam mengisi tulisan di blog ini. Kali ini, saya ada kesempatan untuk menulis dan bahasannya adalah nama-nama hari dalam Bahasa Jawa.

Dalam kalendar Jawa, ada dua macam hari yaitu Saptawara dan Pancawara. saptawara terdiri dari tujuh hari seperti pada bulan-bulan Masehi. Sedangkan Pancawara terdiri dari lima hari, yang juga sering disebut Dina Pasaran (Hari Pasaran).

Apa saja nama-nama hari tersebut?

1) Saptawara

  • Senen (Hari Senin)
  • Selasa (Selasa)
  • Rebo (Rabu)
  • Kemis (Kamis)
  • Jemuwah (Jum'at)
  • Setu (Sabtu)
  • Ahad (Minggu)

2) Pancawara

  • Paing
  • Pon
  • Wage
  • Kliwon
  • Legi

Hari-hari / Dina Pasaran (Pancawara) ini sering digunakan untuk nama-nama pasar seperti Pasar Pon, Pasar Kliwon, dan Pasar Legi.

Bagaimana, apakah ditempat-tempat Sedulur masih banyak yang menggunakan hari-hari berdasarkan kalendar Jawa di atas?

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Saturday, September 1, 2018

Lurr, Mari Belajar Bahasa Jawa Lewat Lagu - Terjemahan Sayang by Via Vallen

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Piye kabare Lurr,

Sudah lama sekali saya tidak update blog Belajar Bahasa Jawa ini ya :)

Maklum Lurr, kesibukan di dunia nyata membuat saya melalaikan blog yang semoga memberikan banyak manfaat bagi sampeyan semua.

dan baru sempat menengok dan menulis di blog ini lagi....

Berhubung akhir-akhir ini sedang hits lagu Sayang yang dinyanyikan Via Vallen, rasanya menarik jika sampeyan belajar Bahasa Jawa lewat lirik lagu ini.

Jadi...saya akan menuliskan lirik aslinya baru kemudian terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dalam tanda kurung.

Mari kita mulai....

Oh ya jika sampeyan belum tahu lagunya silakan kunjungi videonya di sini.

Terjemahan Lagu Sayang by Via Vallen


Sayang apa kowe krungu jerite atiku (Sayang apa kau (men)dengar jeritan hatiku)
Mengharap engkau kembali (Mengharap engkau kembali)
Sayang nganti memutih rambutku (Sayang...sampai memutih rambutku)
Ra bakal luntur tresnaku (Tak akan luntur cintaku)

Wis tak coba ngelaleke jenengmu saka atiku (T'lah kucoba melupakan namamu dari hatiku)
Sak tenane ra ngapusi isih tresna sliramu (Sebenarnya tak bisa bohong masih cinta dirimu)
Pepuja neng ati nanging koe ra reti (Pujaan di hati tapi kau tak tahu)
Kowe sik tak wanti-wanti (Kau yang kuharap-harap)
Malah jebul saiki kowe mblenjani janji (Ternyata sekarang kau mengingkari janji)
Jare sehidup semati nanging apa bukti (Katanya sehidup semati tapi apa buktinya)
Kowe medot tresno demi wedokan liya (Kau putus cinta demi wanita lain)
Ya wes ora papa, insyaallah aku iso lila (Ya sudah tak apa-apa, InsyaAllah aku bisa rela)

Meh sambat kalih sinten (Mau mengeluh sama siapa)
Yen sampun mekaten, merana uripku (Kalau sudah begini, merana hidupku)
Aku welasna kangmas, aku mesakna aku (Aku, kasihanilah kangmas, aku kasihanilah aku )
Aku nangis nganti metu eluh getih putih (Aku menangis sampai keluar air mata darah putih)

Sayang apa kowe krungu jerite atiku (Sayang apa kau (men)dengar jeritan hatiku)
Mengharap engkau kembali (Mengharap engkau kembali)
Sayang nganti memutih rambutku (Sayang...sampai memutih rambutku)
Ra bakal luntur tresnaku (Tak akan luntur cintaku)

Hari demi hari uwis tak lewati (Hari demi hari telah kulewati)
Yen pancen dalane kudu kuwat ati (Kalau memang (sudah) jalannya harus kuat hati)
Ibaratke sega uwis dadi bubur (Ibarat nasi sudah menjadi bubur)
Nanging tresna iki ora bakal luntur (Tapi cinta ini tak akan luntur)
Sak tenane aku iki pancen tresna awakmu (Sebenarnya aku ini memang cinta dirimu)
Ora ana liyane sing isa dadi penggantimu (Tak ada yang lainyang bisa jadi penggantimu)
Wis tanggung awakmu sik cocok neng atiku (Sudah tanggung dirimu yang cocok di hatiku)
Nganti atiku njerit atimu ra bakal krungu (Hingga hatiku menjerit hatiku tak akan mendengar)

Meh sambat kalih sinten (Mau mengeluh sama siapa)
Yen sampun mekaten, merana uripku (Kalau sudah begini, merana hidupku)
Aku welasna kangmas, aku mesakna aku (Aku, kasihanilah (aku) kangmas, aku kasihanilah aku kangmas)
Aku nangis nganti metu eluh getih putih (Aku menangis sampai keluar air mata darah putih)

Sayang apa kowe krungu jerite atiku (Sayang apa kau (men)dengar jeritan hatiku)
Mengharap engkau kembali (Mengharap engkau kembali)
Sayang nganti memutih rambutku (Sayang...sampai memutih rambutku)
Ra bakal luntur tresnaku (Tak akan luntur cintaku)

Sayang apa krungu jerite atiku (Sayang apa dengar jeritan hatiku)
Mengharap kowe bali neng jero ati iki (Mengharap kau kembali di dalam hati ini)
Nganti rambutku putih, nangis eluh dadi getih (Sampai rambutku putih, menangis darah)
Mbok yo gek ndang bali ngelakoni tresna suci (Cepat kembalilah menjalani cinta suci)

Aku marang sliramu jok ragu meng atiku (Aku padamu, jangan ragu dengan hatiku)
Aku ra isa ngapusi sak tenane neng ati (Aku tak bisa (ber)bohong sebenarnya dihati)
Mung kanggo sliramu cintamu tetap abadi (Hanya untuk dirimu cintamu tetap abadi)
Selamanya sampai akhir hayat ini (Selamanya sampai akhir hayat ini)

Meh sambat kalih sinten (Mau mengeluh sama siapa)
Yen sampun mekaten, merana uripku (Kalau sudah begini, merana hidupku)
Aku welasna kangmas, aku mesakna aku (Aku, kasihanilah (aku) kangmas, aku kasihanilah aku kangmas)
Aku nangis nganti metu eluh getih putih (Aku menangis sampai keluar air mata darah putih)

Sayang apa kowe krungu jerite atiku (Sayang apa kau (men)dengar jeritan hatiku)
Mengharap engkau kembali (Mengharap engkau kembali)
Sayang nganti memutih rambutku (Sayang...sampai memutih rambutku)
Ra bakal luntur tresnaku (Tak akan luntur cintaku)

Percaya apa bebojomu (Percaya apa kekasihmu)
Cintaku tetap abadi (Cintaku tetap abadi)

Gimana Lurr....

Mungkin terjemahan saya belum sempurna, tapi paling tidak bisa membantu sampeyan untuk menghayati liriknya sekaligus belajar Bahasa Jawa.

Dan...jika ada dari sampeyan yang bisa terjemahan yang lebih baik dari milik saya, mohon koreksinya....

Maturnuwun :)
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Tuesday, March 25, 2014

Tingkat Tutur Bahasa Jawa

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Tingkat tutur bahasa Jawa (Unggah-ungguhing basa)pada dasarnya ada dua macam, yaitu ragam ngoko dan ragam krama. Ragam ngoko meliputi ngoko lugu dan ngoko alus (Hardyanto dan Esti SU 2001:47).

Poedjasoedarma berpendapat bahawa tingkat tutur ngoko mencerminkan rasa tak berjarak antara 01 terhadap 02 dan tingkat tutur ini dipakai jika seseorang ingin menyatakan keakrabannya terhadap mitra wicara (02); tingkat tutur madya diartikan sebagai tingkat tutur menengah antara krama dan ngoko; tetapi tetap menunjukkan perasaan sopan meskipun kadar kesopanannya hanya sedang-sedang saja; tingkat tutur krama diartikan sebagai tingkat tutur yang memancarkan arti penuh sopan santun dan tingkat tutur ini menandakan adanya perasaan segan 01 terhadap 02 (Sasangka 2004:14).

Bahasa Jawa berdasarkan Undha-usuk atau unggah-ungguhnya ialah seperti disebutkan di bawah ini (Suliyanto 2008:15):
No.
Undha-Usuk Basa
Endahing Raos Adining Suraos
1.
Ngoko (lugu)
Raket-supekat
2.
Ngoko (alus)
Raket-supekat, nanging tetep urmat
3.
Krama (lugu)
Urmat, nanging kirang raket-supeket
4.
Krama (alus)
Urmat sanget, nanging kirang raket supeket

Selanjutnya tingkat tutur bahasa Jawa di atas akan dijelaskan sebagai berikut.
1 Tingkat Tutur Ngoko (Ragam Ngoko)
Yang dimaksud dengna ragam ngoko adalah bentuk unggah-ungguh bahasa jawa yang berintikan leksikon ngoko, atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam ngoko adalah leksikon ngoko bukan leksikon yang lain. Afiks yang muncul dalam ragam ini pun semuanya berbentuk ngoko (misalnya, afiks di-, -e, dan –ake). Ragam ngoko dapat digunakan oleh mereka yang sudah akrab dan oleh mereka yang merasa dirinya lebih tinggi status sosialnya daripada lawan bicara (mitra wicara). Ragam ngoko mempunyai dua bentuk varian, yaitu ngoko lugu dan ngoko alus (Sasangka 2004:95).

a. Ngoko Lugu
Yang dimaksud dengan ngoko lugu adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya berbentuk ngoko dan netral (leksikon ngoko dan netral) tanpa terselip leksikon krama, krama inggil, atau krama andhap, baik untuk persona pertama (01), persona kedua, persona kedua (02), maupun kedua (02), maupun untuk persona ketiga (03).
1)yen mung kaya ngono wae, aku mesthi ya bisa!
“Jika Cuma seperti itu saja, saya pasti juga bisa!”
2)Yen mung kaya ngono wae, kowe mesthi ya bisa!
“Jika Cuma seperti itu saja, kamu pasti juga bisa!”
3)Yen mung kaya mengono wae, dheweke ya bisa!
“Jika Cuma seperti itu saja, dia pasti juga bisa!”

Contoh: Bojoku nukokake klambi bocah-bocah (Sudaryanto 1991:152).
‘Isteri saya membelikan anak-anak baju’
Mas Totok nggawekake Dik Darno layangan (Sasangka 2001:152).
‘Mas Totok membuatkan Dik Darno layangan’
Tampak sufiks –ake pada nukokake ‘membelikan’ dan nggawekake ‘membuatkan’ merupakan afiks penanda leksikon ngoko (Sasangka 2004:98).

b. Ngoko Alus
Yang dimaksud dengan ngoko alus adalah bentuk unggah-ungguh yang di dalamnya bukan hanya terdiri atas leksikon ngoko dan netral saja, melainkan juga terdiri atas leksikon krama inggil, krama andhap, atau leksikon krama yang muncul di dalam ragam ini sebenarnya hanya digunakan untuk menghormati mitra wicara (02 atau 03)(Sasangka 2004:99-100).
Contoh: Wingenane simbah tindak mrene (Sudaryanto 1991:153).
‘Kemarin dulu nenek ke sini’
Pak guru basa Jawa sing anyar iku asmane sapa? (Sasangka 2001:183).
‘Pak guru bahasa Jawa yang baru itu namanya siapa?’
Tampak bahwa pada butir tindak ‘pergi/berangkat’ dan asmane ‘namanya’ merupakan leksikon krama inggil yang berfungsi untuk menghormati mitra tutur (Sasangka 2004:100).

2 Tingkat Tutur Krama(Ragam Krama)
Yang dimaksud dengan ragam krama adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang berintikan leksikon krama, atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam krama adalah leksikon krama bukan leksikon yang lain. Afiks yang muncul dalam ragam ini pun semuanya berbentuk krama (misalnya, afiks dipun-, -ipun, dan –aken). Ragam krama digunakan oleh mereka yang belum akrab dan oleh mereka yang merasa dirinya lebih rendah status sosialnya daripada lawan bicara. Ragam krama mempunyai dua bentuk varian, yaitu krama lugu dan krama alus (Sasangka 2004:104).

a.Krama Lugu
Secara semantis ragam krama lugu dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk ragam krama yang kadar kehalusannya rendah. Meskipun begitu, jika dibandingkan dengan ngoko alus, ragam krama lugu tetap menunjukkan kadar kehalusan (Sasangka 2004:105).
Contoh: Niki bathike sing pundi sing ajeng diijolake?
‘Batik ini yang mana yang akan ditukarkan?’
Mbak, njenengan wau dipadosi bapak.
‘Mbak, Anda tadi dicari bapak’
Tampak afiks di- pada diijolake ‘ditukarkan’ dan dipadosi “dicari’ merupakan afiks ngoko yang lebih sering muncul dalm unggah-ungguh ini darpada afiks dipun-, -ipun, dan –aken. Contoh kalimat di atas bertujuan untuk menurunkan derajat kehalusan (Sasangka 2004:108-109)

b.Krama Alus
Yang dimaksud dengan krama alus adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya terdiri atas leksikon krama dan dapat ditambah dengan leksikon krama inggil atau krama andhap. Meskopun begitu, yang menjadi leksikon inti dalam ragam ini hanyalah leksikon yang berbentuk krama. Leksikon madya dan leksikon ngoko tidak pernah muncul di dalam tingkat tutur ini. Selain itu, leksikon krama inggil atau krama andhap –secara konsisten- selalu digunakan untuk penghormatan terhadap mitra wicara.

Secara semantis ragam krama alus dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk ragam krama yang kadar kehalusannya tinggi (Sasangka 2004:111).
Contoh: Arta punika kedah dipunlintokaken wonten bank ingkang dumunung ing kitha.
‘uang ini harus ditukarkan di bank yang berada di kota’
Tampak bahwa afiks dipun- ‘di’ seperti pada dipunlintokaken ‘ditukarkan’ merupakan afiks penanda leksikon krama (Sasangka 2004:113).
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Bahasa Jawa

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Bahasa Jawa (?)

Kebudayaan dalam arti luas, adalah seluruh pikiran, karya dan karya manusia, yang tidak berakar pada naluri, dan oleh karenanya, dikembangkan oleh manusia setelah melalui proses belajar.

Salah satu unsur dalam kebudayaan yang universal adalah bahasa. Kebudayaan tidak akan dapat bisa lepas dari nilai-nilai atau sesuatu yang diyakini mengandung kebenaran, kebaikan dan keindahan. Nilai yang berskala nasional, diwakili atau bersumber dari nilai-nilai daerah.

Kebudayaan Indonesia dibangun atas kebudayaan yang ada sebelumnya didaerah-daerah, sehingga kebudayaan daerah merupakan sumber dan kekayaan kebudayaan nasional.
UUD 1945, baik sebelum diamandemen maupun setelah diamandemen, mengakui keberadaan bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia.

Pada penjelasan Pasal 36 UUD 1945 sebelum diamandemen disebutkan bahwa didaerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan sebagainya) bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara oleh negara. Bahasa-bahasa itu pun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup.

Sementara itu, didalam pasal 32 UUD 1945 yang telah diamandemen disebutkan bahwa:

1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

2) Negara menghormati dan memelihara behasa daerah sebagai kekeyaan budaya nasional.
Bahasa Jawa, yang merupakan salah satu unsur kebudayaan memiliki nilai-nilai yang luhur, yang berupa falsafah-falsafah, yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.

Beberapa falsafah hidup yang diyakini memiliki nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan misalnya:
Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani.
Sapa nandur mesthi ngundhuh, sing diundhuh, apa kang tinandur.
Ajining dhiri saka lathi, Ajining raga saka busana, dan sebagainya.

Namun demikian suatu kenyataan yang kita hadapi saat sekarang ini, bahwa nilai-nilai budaya Jawa tersebut hampir punah, sehingga perlu upaya-upaya untuk menumbuhkan kembali dan mengembangkan menjadi bagian yang dapat memperkaya khasanah kebudayaan nasional, bahkan mewarnai kebudayaan nasional. Salah satu upaya tersebut ialah dengan melalui pendidikan.

(tugas budaya Jawa)
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Wednesday, February 19, 2014

ANAK HEWAN YANG PALING RINGAN DI DUNIA: KEUNIKAN BAHASA JAWA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
ANAK HEWAN YANG PALING RINGAN DI DUNIA: KEUNIKAN BAHASA JAWA

Ivan Taniputera
19 Februari 2014


Ternyata anak hewan yang paling ringan di dunia adalah anak gajah. Bagaimana mungkin? Dalam bahasa Jawa anak gajah disebut "bledug," yang juga berarti "debu." Jadi menurut bahasa Jawa "anak gajah" ini bisa ditiup angin dengan mudah, bahkan dapat membuat mata kelilipan.





Bagaimana yang belum memahaminya, salah satu keunikan bahasa Jawa adalah anak-anak hewan diberi istilah sendiri-sendiri, contohnya:
  • Anak gajah disebut bledug
  • Anak cecak disebut sawiyah
  • Anah bandeng disebut nener
  • Anak kambing disebut cempe
  • Anak kucing disebut cemeng
  • Anak anjing disebut kirik
  • Anak tikus disebut cindil
  • Anak kadal disebut tobil
  • Anak kera disebut kowe (kowe ini dalam bahasa Jawa juga berarti "kamu")-sehingga ada pertanyaan jebakan yang berbunyi "kowe anak apa?" Dengan demikian artinya bisa berarti "kamu anak siapa?" Bagi yang terjebak akan menjawab "anak kethek (kera)." Sang penanya akan tertawa terbahak-bahak.
  • Anak kerbau disebut gudel
  • Anak kuda disebut belo
  • Anak macan disebut gogor

Yang lucu adalah anak salah seorang teman waktu ulangan bahasa daerah, ketika menjawab pertanyaan anak asu diarani..... (anak anjing disebut.....), maka dijawabnya "asu cilik" (anjing kecil). Anak tikus diarani..... (anak tikus disebut......), maka dijawabnya "tikus cilik" (tikus kecil). Anak wedhus diarani..... (anak kambing disebut......), maka dijawabnya "wedhus cilik" (kambing kecil). Anak kucing diarani..... (anak kucing disebut......), maka dijawabnya "kucing cilik." Akibatnya ulangannya mendapat nilai nol.

Demikianlah salah satu keunikan bahasa Jawa.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Monday, January 13, 2014

BUKU PELAJARAN BAHASA DAN KESUSASTRAAN JAWA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
BUKU PELAJARAN BAHASA DAN KESUSASTRAAN JAWA

Ivan Taniputera
13 Januari 2014



Judul: Ngengrengan Kasusastran Djawa I Kanggo para siswa Sekolah Guru lan Sekolah Landjutan Lijane
Penulis: S. Padmosoekotjo
Penerbit: Hien Hoo Sing, Jogjakarta, 1958
Jumlah halaman: 116
Bahasa: Jawa

Ini merupakan buku tentang bahasa dan kesusastraan Jawa yang sangat bagus. Berikut ini adalah daftar isinya:


Buku ini memaparkan berbagai aspek mengenai bahasa dan kesusasteraaan Jawa, termasuk mengenai aturan tembang Jawa. Sebagai contoh adalah watak-watak tembang (halaman 17):

"1.Kinanti, awatak: seneng, asih, tresna. Matuke kanggo medarake piwulang, tjarita kang ngemu surasa asih-tresna lan asmara, gandrung-gandrung..."

Terjemahan:

"1.Kinanti, bersifat: senang, kasih, cinta. Cocok untuk membabarkan ajaran, cerita yang mengandung nuansa cinta kasih dan asmara, tergila-tergila pada seseorang..."

Kemudian pada halaman 35 terdapat pula mengenai tembung garba (sandi). Definisinya adalah sebagai berikut:

"Nggarba tembung, ateges: nggandeng tembung loro utawa luwih, prelu kanggo njuda tjatjahing wandane.

Tembung garba, tegese: tembung rerangken, tembung sesambungan, tembung kang kadadean saka gandenge tembung loro utawa luwih..."

Terjemahan:

"Menggabungkan kata, artinya" menggandengkan dua kata atau lebih, kegunaannya untuk mengurangi jumlah suku kata.

Kata gabungan, artinya kata yang dirangkai, kata yang disambung, kata yang berasal dari penggandengan dua kata atau lebih..."

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannnya:



Berminat foto kopi silakan hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Friday, December 27, 2013

KAMUS BAHASA JAWA-BELANDA DAN BELANDA-JAWA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
KAMUS BAHASA JAWA-BELANDA DAN BELANDA-JAWA

Ivan Taniputera
27 Desember 2013



Judul: Serat Baoesastra Ringkesan Wlandi-Djawi Sarta Djawi-Wlandi
Penulis: Dr. TH. Pigeaud
Penerbit: J.B. Wolters' Uitgeversmaatschappij NV., Groningen, Batavia, 1948
Jumlah halaman: 200
Bahasa: Belanda dan Jawa

Buku ini merupakan kamus bahasa Jawa-Belanda dan Belanda-Jawa dilengkapi dengan cara bacanya.

Sebagai contoh adalah de cacao (=kakou') vr: 1 (poe'der): soklat boeboekan; 2 (drank): wedang soklat.

concurre'ren (=konkure'ren, concurreert' (conrreer'den, hebben geconcurreerd'), de concurrentie (=konkuren'si) vr: djordjoran. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah "saling bersaing."

Sementara itu pada bagian Jawa-Belanda antara lain dapat kita jumpai:

adoes (siram ki): ba'den, baadt (baad'de, heeft gebaad'). Adus dalam bahasa Indonesia berarti "mandi."
ki ata k berarti krama inggil atau krama. Dengan demikian, kamus ini juga dilengkapi dengan bahasa krama atau bahasa Jawa halus. "Adus" bahasa kramanya adalah "siram."

Contoh lain:

awak n (badan k, slira ki): 't lich'aam (de lich'amen): awake dewe n (badanipoen pijambak k, sliranipoen pijambak ki): zichzelf'.

Dengan demikian, kamus ini sangat bermanfaat bagi para peminat bahasa.

Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Friday, November 22, 2013

BUKU TENTANG TATACARA PENULISAN BAHASA JAWA DALAM HURUF LATIN

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
BUKU TENTANG TATACARA PENULISAN BAHASA JAWA DALAM HURUF LATIN

Ivan Taniputera
22 November 2013



Judul: Jogja Sastra Jaikoe Patokan Panoelise Basa Djawa ing Aksara Walanda
Pengarang: L.G. Bertsch, M. Dwidja Sewaja, M. Nirman, P. Penninga, dan R. Tirtadanoedja
Penerbit: G. Kolff & Co., Betawi, 1913
Jumlah halaman: 32
Bahasa: Jawa

Pada bagian sampul buku ini tertera "Patokan Panoelise Basa Djawa ing aksara Welanda," yang artinya adalah "Pedoman Penulisan Bahasa Jawa dalam Aksara Belanda." Tentu saja yang dimaksud dengan Aksara Belanda di sini adalah Aksara Latin. Pada bagian pembukaan tertera sebagai berikut:

"BEBOEKANE"

BASA DJAWA DITOELIS NGANGGO AKSARA WELANDA

Wong ikoe sidji lan sidjine pada preloe mratelakake (nglahirake) apa kang dadi tjiptaning atine. Kang di-enggo serana, kedjaba solah-tingkah, ia ikoe basane. Basa maoe toemrape sidji-sidjining bangsa pada beda-beda."

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

"PEMBUKAAN

BAHASA JAWA YANG DITULIS MENGGUNAKAN AKSARA BELANDA

Umat manusia itu masing-masing perlu mengungkapkan isi hatinya. Yang dipergunakan sebagai sarana, selain tindakan atau perbuatan, adalah bahasa. Bahasa itu berbeda-beda pada masing-masing bangsa."

Pada halaman 6 terdapat penjelasan bahwa bahasa Jawa kini dapat ditulis dalam tiga aksara:

"Basa Djawa ikoe ing sa-iki loemrah katoelis nganggo:

a.aksara Djawa,
b.aksara Arab,
sarta wiwit katoelis nganggo
c.aksara Welanda..."

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

"Bahasa Jawa itu sekarang umum ditulis dengan:

a.aksara Djawa,
b.aksara Arab,
serta mulai ditulis dengan
c.aksara Welanda..."

Kemudian diulas penjelasan singkat bagi masing-masing aksara tersebut. Sebagai contoh mengenai aksara Jawa disebutkan:

"a.Aksara Djawa ikoe kaleboe toelis-wandan, petjikan saka ing toelis Sanskrit, kang dek bijen diwoelangake dening bangsa Indoe marang wong Djawa, bebarengan karo piwoelang lia-liane ('ndelenga tjaritane ing lajang Adji Saka). Ana ing tanah Djawa kanggone aksara maoe sangsaja lawas toemprap marang basane wong boemi...."

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

"Aksara Jawa termasuk aksara berdasarkan bunyi suku kata, berasal dari tulisan Sansekerta, yang pada zaman dahulu diajarkan oleh orang India pada orang Jawa, bersamaan dengan ajaran lain-lainnya (silakan lihat ceritanya dalam kisah Aji Saka). Di tanah Jawa aksara tersebut lama kelamaan diterapkan pada bahasa setempat...."

Pada halaman 9 disebutkan mengenai penyerapan kata-kata dari bahasa asing:

"Toer wong Djawa ikoe, jen arep madjoe, ora kena ora, koedoe ngangggo temboeng mantja. Kang mengkono wis toemindak, wong Djawa sa-iki wis akeh panganggone temboeng Welanda serta temboeng Arab, jaikoe saben-saben woewoeh pangerti anjar, ia woewoeh temboenge mantja.

Nganggo temboeng mantja maoe doedoe kanistan; saben bangsa ia sok nganggo temboeng mantja, nanging jen ing basane dewe ana temboenge, njilih temboeng ikoe koerang prajoga."

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

"Maka orang Jawa jika ingin maju, tidak dapat tidak, harus menggunakan kata dari bahasa asing. Hal yang seperti itu telah berlaku, orang Jawa sekarang banyak menggunakan kata-kata dari bahasa Belanda dan Arab, yaitu setiap menjumpai pengertian baru, menggunakan kata-kata bahasa asing.

Menggunakan kata-kata dari bahasa asing itu bukanlah sesuatu yang hina; setiap bangsa pernah menggunakan kalimat dari bahasa asing, namun jika dalam bahasanya sendiri sudah ada kata yang mewakilinya, meminjam kata bahasa asing adalah sesuatu kurang tepat."

Lebih jauh lagi, pada halaman 14 disebutkan bahwa penggunaan huruf o dalam penulisan bahasa Jawa adalah kurang tepat:

"o oega ora prajoga, sabab wong-wong bandjoer pada kelantoer panoelise, oepama:

Gondokoesoemo, benere Gandakoesoema;
Diponegoro, benere Dipanegara;
Soerowidjojo, benere Soerawidjaja.

Jadi yang benar adalah dengan menggunakan huruf a, seperti contoh-contoh di atas.

Buku ini sangat bermanfaat bagi para guru dan peminat bahasa Jawa.

Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Wednesday, September 25, 2013

Bebasan lan Saloka

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info


Bebasan lan saloka iku sejatine padha tegese yaiku unen-unen kang gumathok sing ajeg panganggone lan ukurane nganggo pepindhan. Tegese gumathok lan ajeg panganggone yaiku tembung-tembunge ora kena diowahi kanthi ngganti nganggo tembung liya uga ora kena dikramakake. Dene ukarane pepindhan tegese ukarane ora wantah utawa ora lugu nanging kanthi pangumpamaan.

Ananging ana saperangan para winasis sing mbedakake antarane bebasan karo saloka yaiku mapan ing bab sing dipindhakake. Menawa sing dipindhakake utawa sing diumpamakake iku uwonge diarani saloka, dene menawa sing dipindhakake  iku kahanane, tindak-tanduke utawa pakaryane uwong iku arane bebasan. 

Tuladha Saloka:
a. Kebo kabotan sungu tegese uwong sing rekasa uripe amarga kakehan tanggungan (anak).
b. Bathok bolu isi madu tegese uwong sing laire ora mingsra nanging kadunungan kaluwihan.
c. Gajah ngidak rapah tegese uwong sing nglanggar wewalere dhewe.


Tuladha bebasan:
a. Nglungguhi klasa gumelar ngibaratake mung kari nemu kepenake.
b. Nabok nyilih tangan ngibaratake nggawa cilaka nanging lumantar wong liya.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Sunday, July 8, 2012

Negara-Negara yang Menggunakan Bahasa Jawa

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten terutama kota Serang, kabupaten Serang, kota Cilegon dan kabupaten Tangerang, Jawa Barat khususnya kawasan Pantai utara terbentang dari pesisir utara Karawang, Subang, Indramayu, kota Cirebon dan kabupaten Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia.
1. Republik Suriname
Republik Suriname (Surinam) dulu bernama Guyana Belanda atau Guiana Belanda adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda.
Negara ini berbatasan dengan Guyana Perancis di timur dan Guyana di barat. Di selatan berbatasan dengan Brasil dan di utara dengan Samudra Atlantik. Di Suriname tinggal sekitar 75.000 orang Jawa dan dibawa ke sana dari Hindia-Belanda antara tahun 1890-1939. Suriname merupakan salah satu anggota Organisasi Konferensi Islam.
2. Singapura
Sejumlah orang Jawa didatangkan ke Singapura sejak 1825 [Johari, 1965]. Mereka berasal dari Jawa Tengah, dan mereka dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan karet, jalur kereta api dan konstruksi jalan raya. Kampong Jawa, di tepi sungai Rochor, adalah tempat pemukiman pertama orang Jawa di Singapura. Selain Kampong Jawa, Kallang Airport Estate dikenal sebagai tempat pemukiman orang Jawa juga. Di Kallang, mereka hidup berdampingan dengan orang Melayu dan Cina.
3. Malaysia
Umumnya, mereka sudah berwarga negara Malaysia. Leluhur mereka datang sekitar tahun 1900 karena tekanan ekonomi. Masyarakat Jawa di Malaysia saat ini termasuk generasi ketiga dan keempat. Walaupun masih menggunakan sebagian adat dan kebudayaan Jawa, mereka sudah dianggap Melayu pribumi yang sah sesuai undang-undang Malaysia.
Yang terbanyak tinggal di Negeri Selangor, terutama di kawasan Tanjung Karang, Sabak Bernam, Kuala Selangor, Kelang, Banting, dan Sepang. Mereka masih mengekalkan beberapa unsur Jawa meski tidak total. Di Johor juga banyak, tapi yang muda-muda sudah lupa warisan leluhurnya.
Bahkan sebagian ada yang merasa malu mengakui berketurunan Jawa. Mereka sudah tidak boleh (bisa, Red.) lagi bertutur bahasa Jawa secara baik dengan unggah-ungguh dan tata krama. Ada yang mengekalkan identitas dirinya dengan mewujudkan Persatuan Anak-anak Jawa. Kegiatan keseniannya kuda kepang dan reog, walaupun tidak sehalus di Jawa.
4. Belanda
Saat Belanda menjajah Indonesia belanda mengirim orang jawa sebagai budak ke Belanda. Yang unik dalam kasus bahasa Jawa ini adalah minat orang asing terhadap bahasa atau sastra Jawa. Dan, Belanda sebagai negeri bekas penjajah Jawa ternyata menjadi gudang dari orang atau pakar yang punya minat khusus terhadap keberadaan bahasa Jawa.
Universiteit Leiden, universitas tertua di Belanda yang didirikan 1575 merupakan salah satu gudangnya. Di universitas yang didirikan Pangeran Willem van Oranje, tempat dari sekitar 17 ribu mahasiswa menimba ilmu, kita bisa melihat naskah-naskah kuno berhuruf Jawa atau sastra Jawa kontemporer yang masih terawat.5. Kaledonia Baru 
Kaledonia Baru (bahasa Perancis: Nouvelle-Calédonie) adalah sebuah negeri seberang laut milik Perancis terletak di Samudra Pasifik bagian selatan. Juga dinamai Kanaki yang dari nama penduduk asli kepulauan itu. Negara kepulauan ini telah dikuasai Perancis selain Polinesia Perancis. Status ini dikenakan sampai 1998. Namanya berasal dari bahasa Latin Skotlandia. Ibu kotanya ialah Noumea.
Daerah ini dihuni oleh sebagian suku Jawa. Dahulu orang Jawa di Kaledonia Baru menjadi kuli kontrak atau mencari kehidupan lebih baik di negeri asing. Perpindahan orang Jawa di Kaledonia juga sama dengan orang Jawa Suriname, namun kepindahan orang Jawa di Pasifik telah terhenti sejak 1949.
Jumlah penduduk Kaledonia Baru tercatat tanggal 1 September 2006, yaitu: 237.765 jiwa.
Orang Jawa di Kaledonia Baru tetap menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari, namun kini anak-anak mudanya sudah tak bisa berbahasa Jawa, hanya bisa berbahasa Perancis saja.
6. Indonesia
udah pasti bahasa jawa juga di gunakan di Indonesia. bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa adalah bahasa jawa terutama di beberapa bagian Banten terutama kota Serang, kabupaten Serang, kota Cilegon dan kabupaten Tangerang, Jawa Barat khususnya kawasan Pantai utara terbentang dari pesisir utara Karawang, Subang, Indramayu, kota Cirebon dan kabupaten Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia. (beritaunik.net)
sumber

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

SEJARAH BAHASA JAWA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info


Sastera Jawa Kuno
Sastera Jawa Kuno menurut rekod tertulis bermula sekitar abad ke 9 Masehi sehingga abad ke 14 Masehi. Sastera Jawa Kuno dalam bahasa Jawa yang pertama dikesan adalah Prasasti (Batu bersurat) Sukabumi. Batu bersurat Sukabumi berbentuk sastra ini ditulis dengan baik dalam bentuk prosa atau puisi.

Sastra Jawa Pertengahan
Sastera Jawa Pertengahan muncul di kerajaan Majapahit, mulai dari abad ke-13 sampai sekitar abad ke-16 Masehi. Setelah ini, sastera Jawa Pertengahan diteruskan di Bali menjadi Sastra Jawa-Bali. Pada masa ini muncul karya-karya puisi yang berdasarkan metrum Jawa atau Indonesia asli. Karya-karya ini disebut kidung.

Sastra Jawa Baru
Sastera Jawa Baru muncul dengan kemasukan agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad 15 - 16 Masehi. Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastera mereka. Maka pada masa-masa awal, zaman Sastera Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting. Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650 Masehi, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernafaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru. Sebuah jenis karya yang khusus adalah karya sastra yang disebut babad. Karya ini menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali.

SEJARAH PENYEBARAN BAHASA JAWA 
Penduduk Jawa yang berpindah ke Malaysia turut membawa bahasa dan kebudayaan Jawa ke Malaysia, sehingga terdapat kawasan pemukiman mereka yang dikenal dengan nama kampung Jawa, padang Jawa. Di samping itu, masyarakat pengguna Bahasa Jawa juga tersebar di berbagai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kawasan-kawasan luar Jawa yang didominasi etnis Jawa atau dalam persentase yang cukup signifikan adalah : Lampung (61%), Bengkulu (25%), Sumatra Utara (antara 15%-25%). Khusus masyarakat Jawa di Sumatra Utara ini, mereka merupakan keturunan para kuli kontrak yang dipekerjakan di berbagai wilayah perkebunan tembakau, khususnya di wilayah Deli sehingga kerap disebut sebagai Jawa Deli atau Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Sedangkan masyarakat Jawa di daerah lain disebarkan melalui program transmigrasi yang diselenggarakan semenjak jaman penjajahan Belanda.
Selain di kawasan Nusantara ataupun Malaysia. Masyarakat Jawa juga ditemukan dalam jumlah besar di Suriname, yang mencapai 15% dari penduduk secara keseluruhan, kemudian di Kaledonia Baru bahkan sampai kawasan Aruba dan Curacao serta Belanda. Sebagian kecil bahkan menyebar ke wilayah Guyana Perancis dan Venezuela.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Saturday, July 7, 2012

Ringkesan Babagan Pacelathon

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Pacelathon yaiku guneman antarane wong siji lan sijine, bisa wong loro, telu, utawa luwih kang lagi rembugan sawijining bab apa ta apa.

a.    Sapa bae sing bisa nindakake pacelathon?
       Coba tlitinen ing ing bebrayan!
Antarane :
- Bocah cilik karo bocah cilik.
- Bocah cilik karo sing wis dewasa.
- Bocah cilik karo wong tuwa.
- Diwasa karo diwasa.
- Wong tuwa karo diwasa.
- Wong tuwa karo wong tuwa.
- Anak karo wong tuwa, lsp.

b.    Basa apa bae kang digunakake menawa lagi padha rembugan?
Basane njumbuhake  (bahasanya menyesuaikan dengan siapa berbicara, keperluannya apa, dan dimana).
Upamane :
- Bocah cilik – bocah cilik (ngoko lugu),
- diwasa – diwasa (ngoko lugu),
- diwasa – sepuh / tuwa (krama alus),
- Sepuh – sepuh (krama alus, ngoko andhap),
- wong tuwa – bocah (ngoko lugu), lsp.

c.    Kepriye budi pakartine (prilakune) yen lagi rembugan?
Budi pakertine guneman antarane:
Guneman ora waton guneman, nanging guneman kudu nganggo waton (aturan).
Ngadege, lungguhe, obahe tangan uga becik nganggo waton.
Suwarane, banter lirihe becik nganggo waton.
Polatane (wajahe / pandangan) uga nganggo waton aja nganti mencereng-mencereng upamane.
Intonasine (lagune) uga nganggo aturan ora angger mbengok-mbengok.

d.    Ringkese: budi pakartine wong guneman lan tumindak apa bae becike eling marang empan lan papan.
Guneman kuwi karo sapa ?
Perlune apa ?
Ana ngendi papan panggonane ?
Basa lan sikape njumbuhake (menyesuaikan).
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info