sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Thursday, March 28, 2013
OPTIMALISASI FUNGSI LAHAN SEKOLAH SEBAGAI SCHOOL GARDEN GUNA MENDUKUNG PROSES PEMBELAJARAN
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
A. LATAR BELAKANG
1. Pendidikan adalah hak seluruh warga negara Indonesia. Pendidikan salah satu investasi yang sangat penting untuk kepentingan pembangunan bangsa baik jangka pendek maupun jangka panjang.
2. Persoalan mendasar pada pengembangan SDM di Indonesia adalah pelaksanaan dan pemerataan program pendidikan yang bermutu dan murah diseluruh lapisan masyarakat.
3. Kenyataan sekarang menunjukkan biaya pendidikan semakin mahal kualitas pendidikan rendah dan ekonomi masyarakat masih sulit.
4. Banyak sekolah yang masih menyelenggarakan kegiatan pemebelajaran dengan menggunakan media apa yang dimilikinya tanpa upaya kreatifitas untuk mengoptimalkan segala potensi di lingkungan sekolah yang ada.
5. Berdasarkan hasil survey dengan angket tertutup untuk mengetahui tanggapan anak dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan sekolah dihasilkan data sebagai berikut :
a. 87,6 % anak menilai media belajar yang disediakan sekolah kurang memenuhi baik jumlah maupun kualitas
b. 84,5 % anak menilai fasilitas laboratorium yang tersedia saat ini belum memadai untuk pelaksanaan praktek
c. 75,4 % anak menilai guru belum menggunakan media belajar yang ada dengan optimal.
d. 85,7 % anak menyatakan guru belum menggunakan fasilitas dan potensi lingkungan sekolah misalnya kebun atau halaman sekolah sebagai media belajar.
e. 79,6 % anak setuju dan senang jika salah satu materi pembelajaran beberapa bidang studi dilaksanakan di luar kelas misalnya dikebun atau halaman sekolah.
f. 74,6 % anak menyatakan jenuh atau bosan mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas terus menerus.
g. 65,7 % anak menyatakan bahwa cara penyampaian materi pelajaran yang disamapaikan guru kurang menarik dan monoton.
6. Sebagian besar sekolah memiliki kebun sekolah yang luas dan belum dimanfaatkan sebagai media belajar yang menyenangkan bagi siswa.
7. Kecintaan siswa terhadap lingkungan sekolah perlu ditingkatkan dengan melibatkan siswa dalam proses belajar yang menyenagkan dengan menggunakan lahan sekolah atau kebun sekolah.
Berdasarkan pengamatan secara langsung didapatkan hasil bahwa hampir semua sekolah belum memanfaatkan potensi lingkungan sekolah seperti School Garden (kebun atau Taman Sekolah), halaman sekolah sebagai media dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
B. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Mengidentifikasi persoalan-persoalan yang ada pada sistem pembelajaran di kelas yang digunakan saat ini.
2. Mengidentifikasi potensi Kebun Sekolah dan fasilitas yang dimiliki sekolah yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran dengan memperhatikan aspek kecintaan dan kepedulian pada lingkungan.
3. Mencari alternatif –alternatif peningkatan kualitas pembelajaran dengan menggunakan potensi Kebun sekolah dan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah sebagai media belajar yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepedulian dan kecintaan terhadap lingkungan.
4. Mencari model pengelolaan pendekatan pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang bersumber pada potensi School Garden dan berbasis pada kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
C. Permasalahan
Bebarapa permasalahan yang ditemui didalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di Sekolah – sekolah adalah sebagai berikut :
1. Banyak persoalan-persoalan yang ada pada sistem pembelajaran di kelas yang digunakan saat ini kurang menarik bagi siswa.
2. Adanya potensi School Garden dan fasilitas yang dimiliki sekolah yang ada belum digunakan sebagai media pembelajaran dengan memperhatikan aspek kecintaan dan kepedulian pada lingkungan.
3. Perlu dikaji alternatif–alternatif peningkatan kualitas pembelajaran dengan menggunakan potensi School Garden dan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah sebagai media belajar untuk meningkatkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
4. Perlunya model pendekatan pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk beberapa bidang studi yang bersumber pada potensi School Garden (Kebun atau Taman Sekolah) dan berbasis pada kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
II. KAJIAN TEORITIS
A. Sistem Pendidikan Nasional
Dalam udang-undang pendidikan No. 20 tahun 2003 Bab I : ketentuan umum, pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud Pendidikan adalah : usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan undang-undang tersebut jelas terlihat bahwa kegiatan pendidikan harus dapat mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dalam mengembangkan potensinya. Sekolah dengan segala potensinya berkewajiban untuk menyediakan sarana belajar dan sistem belajar yang memadai bagi siswa untuk belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Sekolah merupakan pendidikan formal yang paling bertanggung jawab pada peningkatan kualitas belajar di sekolah. Sekolah dapat menjalain hubungan dengan potensi masyarakat dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran.
Jenis pendidikan ada 3 (tiga) yaitu (1) pendidikan formal : adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. (2) Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. (3) Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Lingkungan disini berarti segala sesuatu yang berada diluar siswa. Lingkungan memiliki peranan yang besar dalam menentukan keberhasilan pendidikan.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
B. Peranan Lingkungan Sebagai Media Belajar
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar tubuh manusia. Menurut Undang-undang No.4 Tahun 1982 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 1 menyebutkan : “Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya”.
Menurut penjelasan Pasal 1 Undang-undang 4 Tahun 1982 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, Lingkungan hidup dibedakan menjadi empat yaitu :
1. lingkungan alam hayati
2. lingkungan alam no-hayati
3. lingkungan buatan
4. lingkungan social
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diuraikan bahwa lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada diluar makhluk hidup baik berupa lingkungan fisik maupun lingkungan lingkungan biologi termasuk tumbuhan ,hewan dan manusia.
Lingkungan belajar yang menyenangkan untuk belajar siswa merupakan masalah yang paling mendasar dalam system pendidikan formal. Lingkungan belajar yang menyenangkan merupakan bagian yang tak terpisahkan untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Menurut Hasim Budimansah menyatakan sebagai berikut : “ Manusia dan alam sekitar dapat dijadikan sebagai sumber belajar”. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dalam proses pembelajaran diyakini bahwa untuk mempertahankan irama belajar siswa agar tidak menurun harus terdapat variasi proses dan cara belajar. Belajar selama satu bulan bahkan satu semester dalam kelas akan membosankan. Jika ada selingan misalnya kerja lapang, out bond dan sebagainya maka akan menyenagkan bagi siswa. Lebih lanjut Dasim Budimansyah menyatakan berdasarkan penelitioan menunjukkan bahwa :
1. 10 % kita belajar dari apa yang kita baca.
2. 20 % kita belajar dari apa yang kita dengar.
3. 30 % kita belajar dari apa yang kita lihat.
4. 50 % kita belajar dari apa yang kita lihat dan dengar.
5. 70 % kita belajar dari apa yang kita katakan.
6. 80 % kita belajar dari apa yang kita katakan dan lakukan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut terlihat bahwa pemanfaatn lingkungan sekitar sekolah menjadi penting. Kegiatan belajar mengajar harus dimodifikasi dengan cara pendekatan metode ilmiah dengan urutan pengamatan, mengumpulkan masalah yang ada, merumuskan masalah, pengumpulan data, mempresentasikan kepada orang lain. Dengan tersebut berarti proses melihat, mendengar, mengatakan dan melakukan dapat dilaksanakan, sehingga proses pendidikan siswa belajar dari lingkungan memegang peranan yang penting untuk mencapai 80% hasil pembelajaran seperti apa yang telah dipaparkan di atas.
C. Pendidikan dan Lingkungan Masyarakat
Dahulu pendidikan masyarakat tidak serumit sekarang ini, anak hanya meniru tingkah laku orang tuanya dan leluhur mereka. Sekarang pendidikan menjadi rumit seiring dengan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga pendidikan formal yang ada kadang sulit memenuhi kebutuhan pendidikan yang diharapkan masyarakat. Sekolah masyarakat bersifat Life Centered dimana yang menjadi pokok pelajaran adalah kebutuhan manusia, masalah-masalah dan proses-proses social dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan dalam masyarakat yang mengandung unsur pendidikan. Sekolah mengikutsertakan orang banyak dalam proses pendidikan dalam mempelajari problem sosial masayarakat.(H.Abu Ahmadi, 1991;133)
Berdasarkan paparan dapat artikan masyarakat sekitar kita juga merupakn media belajr yang dapat mebantu keberhasilan proses pembelajaran. Manusia merupakan fakktor lingkungan yang penting dalam mendukung keberhasilan belajar. Manusia memiliki perasaan dan pikiran sehingga keterpaduan kedua akan tercipta suatu yang mnyenangkan. Proses belajar yang bauk adalah menyenangkan baik bagi pengajar atau siswa sehingga tidak bosan.
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki menyatakan bahwa “ Semakin kita berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir kita mengatasi situasi-situasi yang menantang dan semakin mudah kita mempelajari informasi baru. Dengan memperhatikan lingkungan kita dapat memamnfaatkan peluang yang muncul, atau menciptakannya, akan memperluas keadaan senang, nyaman dan meningkatkan pengertian pribadi.
D. Mengajar adalah Proses Komunikasi
Mengajar di kelas adalah sebuah proses komunikasi untuk mentransfer informasi dengan tujuan informasi yang disampaikan mudah dipahami dengan daya hafal yang yang cukup lama. Adalah mudah untuk menyampaikan informasi sekedar dapat diterima dan hafal dalam jangka waktu yang singkat. Tetapi akan menjadi sulit jika yang diharapkan adalah proses tranfer informasi sehingga terjadi internalisasi dalam pikiran dan bertahan lama, sehingga jika sewaktu-waktu dibuka ingatannya akan mudah untuk membukanya kembali. Dalam proses tranfer informasi tersebut terjadi proses interaksi sehingga setiap proses komunikasi ada tiga unsure utama yang terlibat yaitu :
1. Komunikator dan kommunikan
2. Informasi atau bahan berita
3. Media, alat, cara, metode penyampaian informasi
Ketiga hal tersebut merupakan hal yang utuh, sehingga keberadaan satu dengan yang lain saling mendukung. Pertama kominakator dan komunikan akan terjadi proses komunikasi dengan baik aapabila keduanya dalam keadaan suasana hati yang senang dan terbuka saling meneriama eksistensinya. Kedua, Bahan informasi yang diberikan atau yang dibutuhkan oleh salah satu pihak menarik, dibutuhkan dan menyenangkan. Ketiga, untuk memudahkan proses transfer informasi tersebut maka diperlukan media, sarana dan metode yang menarik dan menyenagkan. Berdasarkan kenyataan ini maka proses komunikasi yang menarik selalu dihubungkan dengan tujuan dari proses komunikasi tersebut. Namun secara umum dengan tujuan apapun jika komunikasi itu disampaikan menarik dan menyenangkan maka informasi bahan komunikasi akan dapat diterima dengan mudah. Mengajar dikelas merupakan proses komunikasi untuk menyampaikan informasi, yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana strategi mengajar dikelas sebagai fungsi entertainment (hiburan) tetapi tetap memperhatikan pencapaian tujuannya ? Sehingga proses transfer ilmu yang dilakukan menjadi efektif dan efisien.
Dalam proses mengajar dikelas dibutuhkan seni dan skill tersendiri untuk dapat melakukan proses pembelajaran yang menarik. Peserta didik sangat heterogen sehingga model dan gaya belajar peserta didikpun beragam. Mengajar akan menarik dan menyenangkan jika kita dapat memberikan materi sesuai dengan karakter dan gaya belajar mereka yang heterogen, sehingga perlu keterpaduan cara mengajar dengan waktu yang singkat. Hal pertama yang perlu dilakukan secara spontan adalah mengenali dan menganalisa kelas. Secepatnya kita mengambil keputusan kira-kira strategi mengajar apa cocok untuk diberikan kepada kelas tersebut.
E. Bentuk Komunikasi
Mengajar merupakan proses berkomunikasi untuk menyampaikan informasi. Dalam komunikasi terjadi proses interaksi antara komunikator dan komunikan, keberadaan keduanya saling berpengaruh dan mempengaruhi akan keberhasilan proses komunikasi tersebut.
Komunikasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga bentuk yaitu komunikasi personal, komunikasi kelompok dan komunikasi massa.
1. Komunikasi personal
Komunkasi dibagi menjadi dua yaitu komunikasi interpersonal yang merupakan komunikasi antar pribadi, yaitu komunikasi antar dua orang, dimana terjadi kontak langsung dalam bentuk percakapan.
2. Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok (group communication) adalah komunikasi seseorang dengan sejumlah orang yang terkumpul bersama-sama dalam bentuk kelompok. Contoh untuk komunikasi kelompok kecil ialah forum,rapat, diskusi,seminar,ceramah dll. Jadi kelompok adalah sejumlah orang yang mempunyai kesatuan psikologi,interaksi dan semacamnya.
3. Komunikasi Massa
Komunikasi massa yaitu komunikasi melalui media massa modern,misalnya melalui surat kabar,film dan siaran radio. Proses komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi masa akan lebih menarik jika terjadi proses komunikasi berjenjang yang terpadu mulai komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok dan komunikasi masa.
F. Proses terjadinya komunikasi
Onong (1981), menerangkan proses terjadinya komunikasi, dibagi menjadi komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan lambang bahasa. Ini mencakup bahasa lisan dan bahasa tulisan. Sedangkan komunikasi non verbal, adalah komunikasi dengan jalan yang menyangkut gerak-gerik (gesture), sikap (posture), ekspresi muka (facial expresion), pakaian yang bersifat simbolik (symbolik clothing) dan lain-lain gejalanya sama.
Untuk lebih memahami dan mengerti tentang informasi apapun maka perlu adanya kegiatan komunikasi. Komunikasi dapat dilakukan dengan cara komunikasi antar personal antara orang dengan linkungan sekitarnya dalam hubungannya dengan situasi sosial. Dalam situasi sosial itu terdapat interaksi atau hubungan timbal balik antar orang atau antara orang dan hasil kebudayaan. Beberapa pokok yang dibicarakan adalah mengenai hubungan interpersonal dan komunikasi.
1. Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal mempunyai pengertian yang luas dan sempit. Dalam pengertian yang luas, hubungan interpersonal adalah interaksi antara seseorang dengan orang lain dalam segala situasi dan dalam segala bidang kehidupan. Dalam pengertian sempit, hubungan interpersonal adalah interaksi antara seseorang dengan orang lain, tetapi interaksi disini hanyalah dalam organisasi kerja.
2. Komunikasi Interpersonal dan Pengembangan Diri
Sebagaimana diketahui bahwa kehidupan manusia telah terintegrasikan dalam tata kehidupan yang mengglobal. Akibat dari hal itu, terjadi kondisi saling ketergantungan dan terjadi pula suasana persaingan terbuka antar manusia, kelompok/.komunitas dalam masyarakat baik dalam upaya memenuhi kebutuhan ataupun untuk dapat berperan dan diakui eksistensinya. Perkembangan sosial yang demikian itu berimplikasi bahwa secara individual manusia senantiasa harus mampu mengembangkan dirinya, membina dan mengembangkan potensi dan kemampuan dirinya agar senantiasa dapat beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah dan berkembang.
Seseorang mampu mengembangkan dirinya jikalau orang itu senantiasa dapat melakukan analisa diri, membina dan mengembangkan potensi diri serta upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk mengenali dirinya, memahami eksistensi dirinya. Hal ini hanya dapat dilakukan jikalau seseorang itu mau dan mampu mengekpresikan dirinya untuk lebih peka dan terbuka terhadap orang lain. Karena hanya dengan cara itu masukan, umpan balik yang bermakna bagi pemecahan masalah diperoleh. Untuk lebih peka dan terbuka terhadap orang lain maka interkasi-hubungan komunikasi interpersonal harus dilakukan. Artinya seseorang itu senantiasa harus melakukan interaksi dengan orang lain, menjalin dan membina hubungan yang harmonis dengan orang lain yang dipandang tepat dan mampu untuk dijadikan tempat memperoleh umpan balik. Dalam kontek ini komunikasi interpersonal memiliki peranan penting.
Hubunan interpersonel sekalipun dalam bentuknya sederhana akan tetapi merupakan proses yang komplek. Menurut Gerungan (1991) ada tiga faktor yang mendasari terjadinya hubungan interpersonal, yaitu imitasi, sugesti dan simpati. Jika seseorang melakukan interaksi dengan orang lain karena orang itu ingin mencontoh, meniru, menjadikan dia sebagai teladan, maka hubungan itu terjadi atas dasar imitasi. Selanjutnya jikalau seseorang itu menjalin hubungan karena terpengaruh keberadaan orang itu, maka hubungan itu karena sugesti. Namun jikalau seseoranag menjalin hubungan dengan orang lain karena perasaan tertarik, maka hubungan itu terjadi atas dasar simpati.
Terjadinya hubungan interpersonal baik itu disebabkan faktor imitasi, sugesti ataupun simpati, intensitas interaksi yang terjadi yaitu: Proses merasakan-memutuskan dan melaksanakan ditentukan oleh beberapa hal, seperti: Tujuan, suasana, peran dan umpan balik yang diharapkan, tempat, situasi dan aturan. Selanjutnya Gerungan (1991) menjelaskan bahwa hubungan interpersonal yang didasarkan oleh faktor imitasi atau simpati lebih baik bila dibanding dengan sugesti.
Jikalau seseorang mampu melakukan hubungan interpersonal dengan baik dimana dia berada, maka diapun senantiasa akan mampu melakukan komunikasi interpersonal dengan baik pula. Artinya dia mampu mendapatkan secara akurat umpan balik yang diperlukan untuk memecahkan problema yang dihadapi. Sebagai derifasinya dari hal tersebut, bahwa orang itu senantiasa juga akan mapu memahami, membina bahkan mengembangkan potensi dan kemampuan dirinya, yang pada gilirannya dia juga dapat memformulasikan keinginan. Harapan dan ambisinya diformulasikan kedalam kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi pada periode tertentu. Sehingga terget dalam pemenuhan kebutuhan dibatasi waktu tertentu untuk meraihnya, sehingga motivasi untuk memenuhi kebutuhan tinggi.
G. Cara-cara Agar Komunikasi Efektif Dalam Komunikasi Massa
Onong (1981), menjelaskan agar suatu pesan membangkitkan tanggapan yang kita kehendaki, perlu suatu kondisi tertentu yang harus dipenuhi. Kondisi tersebut adalah:
1. Pesan harus dirancangkan dan disampaikan sedemikian rupa sehingga
dapat menarik perhatian komunikan.
2. Pesan harus menggunakan lambang-lambang dan tertuju pada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan sehingga sama-sama mengerti.
3. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.
4. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi sehingga layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digalakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.
5. Perlu mengetahui waktu yang tepat untuk pesan bahasa yang dipergunakan supaya pesan dapat dimengerti, sikap dan nilai yang harus ditampilkan agar efektif dan jenis kelompok dimana komunikasi akan dilaksanakan.
H. KECERDASAN MAJEMUK ANAK
Menurut Gardner dalam buku Multiple Intelligences yang ditulis oleh Thomas Amstrong menyatakan bahwa “kecerdasan lebih berkaitan dengan kapasitas (1) memecahkan masalah dan (2) menciptakan produk di lingkungan yang kondusif dan alamiah. Gardner memetakkan lingkup kemampuan manusia yang luas menjadi delapan kategori yang komprehennsif atau delapan kecerdasan dasar”. Setiap anak memiliki potensi delapan kecerdasan tersebut, tetapi dominansi fungsi kecerdasan setiap anak berbeda-beda. Ada anak yang dominan kecerdasan matematis logis, linguistiknya, special atau kecerdasan yang lain.
Berilut ini merupakan pertanyaan yang perlu diperhatikan dalam menyusun materi ajar :
TUJUAN
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulan bahwa lingkungan belajar memberikan sumbangan yang baik dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Lingkungan sekolah merupakan lahan yang multi guna untuk media pembelajaran. Anak didik dengan berbagai macam tipe kecerdasannya dan juga berbagai macam tipe gaya belajar dapat disesuaikan cara pengajaran guru dengan media lingkungan.
F. MENGAJAR, FUNGSI ENTERTAINMENT DAN ADVERTISING
Proses mengajar di kelas jika dikemas dengan menarik maka akan menjadi aktifitas yang menyenangkan bagi peserta didik maupun pengajar sendiri, sehingga prose KBM seolah sebagai hiburan (entertainment). Jika kondisi ini dapat dicapai maka proses transfer informasi bahan ajar akan dapat mudah dipahami peserta didik dan meningkatkan semangat bagi pengajar. Kondisi yang menyenagkan harus dijaga keajegannya maka proses advertising dari kegiatan KBM akan berjalan dengan sendirinya. Pada proses mengajar maka tentor (pengajar) harus dapat pula berfungsi sebagai team advertising (promosi) dalam kelas. Pada posisi ini tentor harus memahami fungsi salesmanship. Fungsi ini adalah kemampuan tentor bagaimana menyajikan seni mmenanam benih di hati pembeli yang akhirnya membuahkan beraneka ragam motivasi, serta tindakan yang diberikan pembeli yang sesuai dengankeinginan penjual. Salah satu bagian kegiatan dari seorang sales adalah “demonstrasi atau presentasi” hal ini pas bagi seorang tentor untuk masuk dalam dunia sales dan entertainment.
Adapun strategi demonstrasi yang menarik adalah :
1. Tunjukkan hal-hal penting, jika perlu didramatisasi
2. Gunakan kiasan-kiasan metaphora, analogi
3. Gunakan bahasa Prosfek ( jelas, teratur, logis, benar, dan meyakinkan )
4. Selingi dengan kata penekanan hal-hal yang penting misalnya “bukan”, silahkan dipikir dan sebagainya.
5. Memberi kesempatan waktu audiens untuk bicara
6. Jika perlu diulangi hal yang penting
Tujuh Pedoman Untuk Presentasi Sukses :
1. Pahamilah apa yang anda inginkan : tujuan jelas
2. Binalah Jalinan : kenalilah mereka ; latar belakang, minat, kegagalan, dan pengalaman masa lalu.
3. Bacalah Mereka : perilaku, sikap, dan bahasa tentang keadaan siswa saat ini.
4. Targetkanlah Keadaan Mereka : Orkestrasikan keadaan keadaan siswa mencapai sukses
5. Capailah Modalitas Mereka : melalui pola bahasa, suara, gerak dan kegiatan melibatkan modalitas Visual, auditoriaal, Kinestetik.
6. Manfaatkanlah Ruangan ; ruang adalah panggung
7. Bersikaplah Tulus : Terbuka, Jujur, Adil, Tulus.
G. QUANTUM TEACHING ( QT )
Pendekatan proses mengajar yang menyenangkan adalah salah satunya dengan metode Quantum Teaching. Metode ini secara singkat merupakan metode pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan sekitar momen belajar untuk percepatan proses belajar (Mengorkestarsi kelas untuk kesuksesan).
Prinsip dasar Quantum Teaching adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka” Adapun prinsip-prinsip yang lain adalah sebagai berikut :
a. Segalanya berbicara ( lingkungan, penampilan,bahasa tubuh, dan rancangan pelajaran).
b. Segalanya bertujuan : semua yang terjadi dalam pengubahan berujuan.
c. Pengalaman sebelum Pemberian Nama : Proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka mempelajari.
d. Akui Setiap Usaha : akuilah setiap langkah siswa dan hargailah
e. Rayakanlah : Berikan umpan balik mengenai kemajuan dan untuk meningkatkan asosiasi emosi yang positif dengan belajr.
H. KERANGKA RANCANGAN BELAJAR QT ( T.A.N.D.U.R )
1. Tumbuhkan : Tumbuhkan minat dengan memuaskan “ apakah manfaatnya bagiku”
2. Alami : Datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti audiens
3. Namai : Berikan kata kunci, konsep, model, strategi, mapping mind.
4. Demonstrasikan : Beri kesempatan siswa menunjukkan kemampuan
5. Ulangi : Penegasan hal-hal yang penting
6. Rayakan :Pengakuan penyelesaian, partisipasi : pujian,tepuk tangan, nyanyi bersama lain-lain.
III. MODEL PENDEKATAN PROGRAM
A. RANCANGAN PROGRAM ( KERANGKA BERPIKIR )
Untuk mengoptimalkan fungsi dari lahan sekolah sebagai “School Garden” untuk mendukung proses pembelajaran, maka rancangan model pendekatan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah adalah sebagai berikut :
B. Pembahasan dan Pemecahan Masalah
Berdasarkan paparan data diatas, kenyataan di lapangan dan kajian teori maka persoalan yang ada dapat dibahas sebagai berikut :
1. Persoalan-persoalan yang ada pada sistem pembelajaran di kelas yang digunakan saat ini kurang menarik bagi siswa. Cara mengajar guru yang monoton, media mengajar yang minim, buku pendukung yang kurang membuat pengajaran di kelas kurang menarik. Cara Mengatasinya adalah setiap mata pelajaran sesekali dalam satu minggu atau dua minggu perlu penyegaran pembelajaran diluar kelas. Pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan di halaman atau kebun sekolah. Semua pendekatan disesuaikan dengan mata pelajaran. Misalkan mata pelajaran Ekologi dalam Biologi dapat dilakukan di halaman School Garden. Anak diberikan penjelasan untuk menemukan sendiri masalah yang berkaitan dengan Ekologi, kemudian mendiskusikan pemecahan masalah yang ditemukan di lapangan dengan cara brain storming di kelas. Dengan demikian anak tidak bosan, sebagai bukti peningkatan nilai anak kelas tertentu yang menggunakan media lapangan dengan di kelas sangat terlihat jelas perbedaannya. Kelas yang di berikan materi pelajaran di luar kelas hasil nilainya lebih baik, hal ini sudah terbukti dan kami lakukan di kelas satu.
2. Adanya potensi School Garden dan fasilitas yang dimiliki sekolah yang ada belum digunakan sebagai media pembelajaran dengan memperhatikan aspek kecintaan dan kepedulian pada lingkungan. Masalah ini dapat diatasi dengan dengan identifikasi potensi Garden School untuk membantu proses pengajaran di luar kelas sehingga suasana pembelajaran jadi menarik dan menyenagkan. Setelah diketahui potensinya maka diadakan penataan lingkungan belajar di lingkungan sekolah dengan nyaman. Penataan School Garden dengan di buat taman, temapat duduk santai untuk belajar dan diskusi. Selalu dijaga keindahan dan kebersihan lingkungan dengan melibatkan seluruh civitas akademik sekolah. Selanjutnya susun program pembelajaran setiap bidang studi engan menggunakan media ajar yang ada di School Garden. Rancangan Umum Kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan School Garden dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Melakukan pemetaan kondisi dan potensi sekolah (school garden) dan masyarakat sekitar sekolah.
b. Melakukan penyusunan program pengajaran di luar kelas pada setiap bidang studi dengan memanfaatkan potensi sekolah.
c. Menyusun model dan modul kegiatan (lembar kerja) Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) diluar kelas berbasis pada kecintaan pada lingkungan sekolah sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. KBM dapat dilakukan dengan model problem solving dan brain storming dalam kelas untuk berdiskusi.
d. Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar meliputi pendidikan dan pelatihan yang disesuaikan dengan materi, kondisi sekolah dan kebutuhan warga belajar berbasis pada kecintaan dan kepedulian pada lingkungan sekolah.
e. Melengkapi fasilitas buku di perpustakaan, sehingga literature yang dibutuhkan siswa dapat dikaji dari perpustakaan. Akibatnya minat mebaca siswa dapat meningkat secara perlahan dan pasti.
f. Melakukan pendampingan dan pembimbingan kegiatan belajar di luar maupun di dalam kelas dengan tetap menjaga keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
g. Pembentukan forum atau kelompok belajar pada setiap kelas dengan beranggotakan maksimal 5 siswa dengan nama kelompok sesuai dengankeinginan kelompok sehingga menjadi simbol yang dibanggakan dan dipertahan namanya. Jika sudah terbentuk kelompok maka proses berdiskusi dapat berjalan dengan aktif dan efektif.
h. Sekolah dan guru dapat mencari jaringan kemitraan dengan stake holder terdekat dan terkait untuk membantu proses pembelajaran. Kemitran dengan perpustakaan daerah, kecamatan, lembaga pemerintah, swasta dapat digunakan sebagai media belajar dengan model sekolah lapang.
i. Melakukan evaluasi dan penilaian, sehingga dihasilkan data-data yang dapat di analisa tentang hasil yang dapat dicapai.
j. Mengadakan Loka karya atau seminar dari hasil program kegiatan optimalisasi fungsi lahan School Garden sebagai media belajar sehingga didapatkan hasil rumusan program yang baik dan mantap.
3. Perlu dikaji alternatif–alternatif peningkatan kualitas pembelajaran dengan menggunakan potensi School Garden dan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah sebagai media belajar untuk meningkatkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Berdasarkan hasil program pembelajaran di luar kelas dengan memanfaatkan potensi School Garden maka dapat di ambil kesimpulan beberapa potensi school garden yang dapat digunakan untuk menjadi media ajar setiap bidang studi.
4. Perlunya model pendekatan pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk beberapa bidang studi yang bersumber pada potensi School Garden (Kebun atau Taman Sekolah) dan berbasis pada kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini setelah dilakukan proses nomor 2 maka akan didapatkan model-model pendekatan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan menyenagkan. Sehingga anak yang memiliki kecerdasan majemuk (Multiple Intelegences) yang setiap anak berbeda-beda dapat menerima pelajaran dengan senang dan motivasi yang tinggi.
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar dengan memanfaatkan potensi School Garden akan lebih baik hasilnya jika menggunakan metode pendekatan sebagai berikut :
1. Pendekatan sistematis, digunakan untuk mengetahui runtutan pentahapan setiap kegiatan secara utuh dan tidak terpecah-pecah
2. Pendekatan proses, karena kelompok sasaran program ini adalah pelajar maka mendorong dan menyadarkan peningkatan peran serta aktif siswa menjadi bagian penting
3. Pendekatan penguatan pada potensi siswa dan budaya local, sehingga program pembelajaran dapat menyesuaikan dengan kondisi alam dan social budaya masyarakat setempat.
4. Pengajaran dan pelatihan pada siswa dilakukan dengan pendekatan copetensi based training yaitu pengajaran yang berbasis pada peningkatan ketrampilan dan pengetahuannya. Sehingga daya hafalan dan pengendapan informasi yang sudah dipelajari menjadi bertahan lama dalam pikiran setiap siswa dan prestasi menigkat.
IV. P E N U T U P
A. Kesimpulan
1. Terdapat persoalan-persoalan pada sistem pembelajaran di kelas yang digunakan saat ini kurang menarik bagi siswa. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan media belajar diluar kelas dengan memanfaatkan potensi School Garden dan lingkungan yang ada di sekolah. Lingkungan sekolah atau sekitar sekolah dapat dijadikan media mengajar yang menyenangkan misalnya untuk kegiatan sekolah lapang
.
2. Potensi School Garden dan fasilitas yang dimiliki sekolah yang ada perlu dan dapat dimanfatkan sebagai media pembelajaran dengan memperhatikan aspek kecintaan dan kepedulian pada lingkungan. Sehingga pemebelajaran menarik, tidak membosankan dan siswa menjadi mandiri.
3. Banyak alternatif–alternatif peningkatan kualitas pembelajaran yang dapat dilakukan dengan menggunakan potensi School Garden dan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah sebagai media belajar untuk meningkatkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Semua perlu adanya keberanian sekolah untuk mengambil kebijakan dan adanya kerjasama antar berbagai pihak serta kreatifitas masing-masing pengajar.
4. Perlunya model pendekatan pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk beberapa bidang studi yang bersumber pada potensi School Garden (Kebun atau Taman Sekolah) dan berbasis pada kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Model pendekatan yang dilakukan harus dapat memenuhi harapan semua siswa dengan memperhatikan pada Muliple Intelegenses atau kecerdasan majemuk yang setiap anak berbeda-beda kecerdasan mana kecerdasan mana yang paling dominan.
B. Rekomendasi
Berdasarkan beberapa permasalahan yang ditemui didalam pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar dan adanya potensi School Garden untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajarn, maka dilakukan hal – hal sebagai berikut :
1. Perlu adanya keberanian guru dan sekolah untuk melakukan perubahan model pengajaran yang selalu dilaksanakan di kelas. Model pengajaran perlu diselingi dengan dilakukan di luar kelas dengan menggunakan halaman sekolah, kebun sekolah, taman sekolah atau school garden sebagai media dan tempat belajar yang menyenangkan.
2. Perlu disediakan sarana perpustakaan untuk menambah literature bagi siswa dalam melakukan belajar mandiri melalui tugas dan diskusi.
3. Model pembelajaran di alam terbuka lebih dapat menarik dan memotivasi siswa untuk belajar. Model pembelajaran di luar kelas hendaknya padukan dengan model problem solving dan diskusi, sehingga siswa lebih mandiri dalam belajar dan memecahkan masalah.
4. Potensi lahan sekolah perlu dioptimalkan untuk mendukung dan dijadikan media belajar siswa. Halaman sekolah dapat juga dijadikan sebagai School Garden atau taman sekolah yang menarik sebagai tempat belajar siswa. Perlu disediakan tempat santai untuk belajar dilengkapi taman, tumbuhan yang rindang, tempat membaca, di school garden. Selain itu School Garden dapat dijadikan sebagai laboratorium tumbuhan tinggi (arboretum) atau laboratorim tumbuhan rendah, laboratorium ekologi dan laboratorium biologi secara umum.
5. Guru harus kreatif dan inovatif dalam melaksanakan tugas pembelajaran, sehingga siswa tidak jenuh atau bosan dalam mengikuti pelajaran, siswa menjadi mandiri, kreatif dab prestasi siswa selalu ada peningkatan yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
1. Abu Ahmadi,H, Drs. 1991. Sosiologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta.
2. Bobbi DePorter & Mike Hernacki. 2002. Quantum Learning. Bandung : Penerbit Kaifa.
3. Dasim Bimansyah. 2003. Model Pembelajaran Biologi Berbasis Fortofolio. Bandung : Penerbit PT Genesindo.
4. Gordon Dryden & Jeannete Vos. 2002. The Learning Revolution. Bandung : Penerbit Kaifa.
5. Justin G. Longenecker, Carlos W Moore, J.Willian Petty. 2001. Small Bussines Management an Entrepreuneurial emphasis. Jakarta : Salemba Empat.
6. Madiyo Eko S. 1991. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Semarang : Dahara Prize.
7. Oemar Hamalik. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Peneribit Sinar Baru.
8. Suryana. 2001.Kewirausahaan. Jakarta : Salemba Empat.
9. Thomas Amstrong. 2002. Multiple Intellegences in The Class Room. Bandung : Penerbit Kaifa.
10. Departemen Pendidikan Nasional RI. 2003. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional RI.
11. Darsono V. 1994. Pengantar Ilmu Lingkungan. Yokyakarta : Penerbit Universitas ATMA JAYA.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Saturday, October 6, 2012
KEMAH DI BUPER SELONDO
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
KEGIATAN TAHUNAN GUDEP SMK YP 17-1 MADIUN
Kak Bayu, kakak yang satu ini adalah alumni SMK YP17-1 Madiun, sekarang bekerja di Pertambangan PT. PAMA di Kalimantan, saat SMK sedang kegiatan kemah ,Kak Bayu selalu meluangkan waktunya untuk ikut menggembleng adik-adiknya, sebagai wujud tanggung jawab dan rasa cintanya pada Pramuka dan SMK YP 17-1 Madiun.
Bumi Perkemahan Selondo terletak di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi, berjarak 30 Km dari pusat kota Ngawi. Letaknya yang berada di kaki Gunung Lawu membuat Selondo memberikan hawa yang sangat sejuk dan nyaman.
Selondo berasal dari kata selo (jawa) yang mempunyai arti batu dan ondo(jawa) yang mempunyai arti tangga, Selondo berarti tangga batu. Terbukti adanya jalan yang menanjak hampir 45 derajat dengan tangga batu alami menuju ke desa Sanan, diatas bumi perkemahan.
Kawasan ini biasa digunakan sebagai Bumi Perkemahan (buper) oleh anak-anak Pecinta Alam maupun Pramuka dan PMR. Pemandangan yang indah berlatar belakang hutan pinus serta kesejukan udara pegunungan mendukung kegiatan adventure dan penjelajahan serta out bond. Medannya yang naik turun cocok untuk menguji kekuatan fisik parapengikut organisasi kemanusiaan maupun kemasyarakatan. Terdapat pula sebuah sungai yang indah dengan air yang bening berlimpah juga terdapat jembatan layang yang membelah sungai tersebut, terdapat pula area rock climbing bagi yang punya nyali dan bernuansa meningkatkan adrenalin.
Karena pemandangannya yang indah seringkali juga digunakan dalam mengisi liburan dan kenangan lulusan sekolah-sekolah di Kabupaten Ngawi dan juga luar wilayah Ngawi. Wisata selondo ini dengan pesona alamnya mampu menarik wisatawan baik dari daerah Ngawi maupun dari luar kota Ngawi.
thanks to http://ngawion-line.blogspot.com/2012/07/bumi-perkemahan-selondo.html
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sunday, September 2, 2012
LOGGO PGRI
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
I. Bentuk
Cakra / lingkaran, melambangkan : cita-cita luhur dan daya upaya menunaikan pengabdian yang terus-menerus.
II. Lukisan, Corak dan Warna
1. Bidang bagian pinggir lingkaran berwarna merah, melambangkan : pengabdian yang dilandasi
kemurnian dan keberanian bagi kepentingan rakyat.
2. Warna putih dengan tulisan “Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)”, melambangkan: pengabdian yang dilandasi kesucian dan cinta kasih.
3. Paduan warna pinggir merah putih,melambangkan : pengabdian terhadap Negara, Bangsa dan Tanah Air Indonesia.
4. Suluh berdiri tegak bercorak 4 garis tegak dan datar berwarna kuning dengan nyala 5 sinar api warna merah, melambangkan :
4.1. Suluh dengan garis 4 garis tegak dan datar kuning berarti fungsi guru (Prasekolah, SD, SL, dan Perguruan Tinggi) dengan hakikat tugas pengabdian sebagai pendidik yang besar dan luhur.
4.2. Nyala api dengan warna merah :
Arti ideologis : Pancasila
Aeti Teknis : Sasaran budi, cipta, rasa, karsa, dan karya generasi
5. Empat buku mengapit suluh dengan posisi 2 datar dan 2 tegak (simetris) dengan warna corak putih, melambangkan : sumber ilmu yang menyangkut nilai-nilai moral, pengetahuan, ketrampilan, dan akhlak bagi tingkatan lembaga-lembaga pendidikan, prasekolah, dasar, menengah, dan tinggi.
6. Warna dasar tengah hijau, melambangkan: kemakmuran generasi.
III. Arti Keseluruhan
Guru Indonesia dengan Iktikad dan kesadaran pengabdian yang suci dengan segala keberanian keluhuran jiwa dan cinta kasih senantiasa menunaikan darma baktinya terhadap Negara, Tanah Air, dan Bangsa Indonesia dalam mendidik budi, cipta, rasa, karsa, dan karya generasi bangsa menjadi Manusia Pancasila yang memiliki moral, pengetahuan, ketrampilan dan akhlak yang tinggi.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Saturday, August 11, 2012
Tips Mengatasi Anak Yang Malas Belajar
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Beberap hari lalu saya sempat berdiskusi dengan teman sekos saya, mulanya beliau bercerita tentang adik laki-lakinya yang malas untuk belajar padahal sebentar lagi dia akan menghadapi ujian akhir kelulusan SD. Sebuat saja namanya “Ardi”, Ardi ini termasuk anak yang belum bisa belajar dengan baik atau masih malas-malasan, kalaupun dia belajar itu hanya untuk menghindari omelan kakak dan ibunyan yang selalu menyuruhnya untuk belajar, dan bisa ditebak selama dia di ruang belajar yang dilakukan pun hanya pura-pura belajar atau belajar asal-asalan, sekolah pun hanya sekedar sebagai rutinitas seharian yang hanya berlalu begitu saja, sekedar menuruti perintah orang tua.
Apa yang terjadi pada Ardi sebenarnya juga banyak dialami anak-anak usia sekolah di masyarakat kita. Tak terhitung lagi berapa banyak orang tua yang mengeluh dan kecewa dengan nilai anaknya yang jeblok (jelek) karena anaknya malas belajar, dan sebaliknya tidak jarang juga kita menemukan anak yang ngambek atau menagis gara-gara selalu disuruh belajar. Ada orang tau yang memarahi anaknya, mengancam si anak untuk tidak akan membelikan ini dan itu kalau si anak tidak belajar, membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain, atau bahkan ada orang tua yang mengunakan cara kekerasan (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). Jelas semua ini akan sangat berpengaruh pada fisik maupun psikis siswa.
Lalu sebenarnya bagaimanakah cara untuk mengatasi anak yang malas belajar? Masih perlukan kita dengarkan keluhan-keluahn orang tua tentang anaknya yang malas belajar? Haruskah anak itu ngambek atau menagis gara-gara dimarahin orang tuanya dan disuruh-suruh untuk belajar?
Untuk mengatasi permasalahan tersebut ada baiknya kalau terlebih dahulu kita mencari penyebab dari prikalu malas belajar, kemudian baru mencari solusi guna mengatasinya. Betul Bu/Pak....? :D
Malas belajar pada anak secara psikologis merupakan wujud dari melemahnya kondisi mental, intelektual, fisik, dan psikis anak. Malas belajar timbul dari beberapa faktor, untuk lebih mudahnya terbagi menjadi dua faktor besar, yaitu: 1) faktor intrinsik ( dari dalam diri anak), dan 2) Faktor ekstrinsik (faktor dari luar anak).
1. Dari Dalam Diri Anak (Intrinsik)
Rasa malas untuk belajar yang timbul dari dalam diri anak dapat disebabkan karena kurang atau tidak adanya motivasi diri. Motivasi ini kemungkinan belum tumbuh dikarenakan anak belum mengetahui manfaat dari belajar atau belum ada sesuatu yang ingin dicapainya. Selain itu kelelahan dalam beraktivitas dapat berakibat menurunnya kekuatan fisik dan melemahnya kondisi psikis. Sebagai contoh, terlalu lama bermain, terlalu banyak mengikuti les ini dan les itu, terlalu banyak mengikuti ekstrakulikuler ini dan itu, atau membantu pekerjaan orangtua di rumah, merupakan faktor penyebab menurunnya kekuatan fisik pada anak. Contoh lainnya, terlalu lama menangis, marah-marah (ngambek) juga akan berpengaruh pada kondisi psikologis anak.
2. Dari Luar Anak (Ekstrinsik)
Faktor dari luar anak yang tidak kalah besar pengaruhnya terhadap kondisi anak untuk menjadi malas belajar. Hal ini terjadi karena:
a. Sikap Orang Tua
Sikap orang tua yang tidak memberikan perhatian dalam belajar atau sebaliknya terlalu berlebihan perhatiannya, bisa menyebabkan anak malas belajar. Tidak cukup di situ, banyak orang tua di masyarakat kita yang menuntut anak untuk belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan mengajarkan kepada anak akan kesadaran dan tanggung jawab anak untuk belajar selaku pelajar. Akibat dari tuntutan tersebut tidak sedikit anak yang stress dan sering marah-marah (ngambek) sehingga nilai yang berhasil ia peroleh kurang memuaskan. Parahnya lagi, tidak jarang orang tua yang marah-marah dan mencela anaknya bilamana anak mendapat nilai yang kuang memuaskan. Menurut para pakar psikologi, sebenarnya anak usia Sekolah Dasar janga terlalu diorentasikan pada nilai (hasil belajar), tetapi bagaimana membiasakan diri untuk belajar, berlatih tanggung jawab, dan berlatih dalam suatu aturan.
b. Sikap Guru
Guru selaku tokoh teladan atau figur yang sering berinteraksi dengan anak dan dibanggakan oleh mereka, tapi tidak jarang sikap guru di sekolah juga menjadi objek keluhan siswanya. Ada banyak macam penyebabnya, mulai dari ketidaksiapan guru dalam mengajar, tidak menguasai bidang pelajaran yang akan diajarkan, atau karena terlalu banyak memberikan tugas-tugas dan pekerjaan rumah. Selain itu, sikap sering terlambat masuk kelas di saat mengajar, bercanda dengan siswa-siswa tertentu saja atau membawa masalah rumah tangga ke sekolah, membuat suasana belajar semakin tidak nyaman, tegang dan menakutkan bagi siswa tertentu.
c. Sikap Teman
Ketikan seorang anak berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah, tentunya secara langsung anak bisa memperhatikan satu sama lainnya, sikap, perlengkapan sekolah, pakaian dan asesoris-asesoris lainnya. Tapi sayangnya tidak semua teman di sekolah memiliki sikap atau perilaku yang baik dengan teman-teman lainnya. Seorang teman yang berlebihan dalam perlengkapan busana sekolah atau perlengkapan belajar, seperti sepatu yang bermerk yang tidak terjangkau oleh teman-teman lainnya, termasuk tas sekolah dan alat tulis atau sepeda dan mainan lainnya, secara tidak langsung dapat membuat iri teman-teman yang kurang mampu. Pada akhirnya ada anak yang menuntut kepada orang tuanya untuk minta dibelikan perlengkapan sekolah yang serupa dengan temannya. Bilamana tidak dituruti maka dengan cara malas belajarlah sebagai upaya untuk dikabulkan permohonannya.
d. Suasana Belajar di Rumah
Bukan suatu jaminan rumah mewah dan megah membuat anak menjadi rajin belajar, tidak pula rumah yang sangat sederhana menjadi faktor mutlak anak malas belajar. Rumah yang tidak dapat menciptakan suasana belajar yang baik adalah rumah yang selalu penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara yang pengap. Selain itu tersedianya fasilitas-fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak. Mulai dari radio tape yang menggunakan kaset, CD, VCD, atau komputer yang diprogram untuk sebuah permainan (games), seperti Game Boy, Game Watch maupun Play Stations. Kondisi seperti ini berpotensi besar untuk tidak terciptanya suasana belajar yang baik.
e. Sarana Belajar
Sarana belajar merupakan media mutlak yang dapat mendukung minat belajar, kekurangan ataupun ketiadaan sarana untuk belajar secara langsung telah menciptakan kondisi anak untuk malas belajar. Kendala belajar biasanya muncul karena tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku-buku penunjang (pustaka mini), dan penerangan yang bagus. Selain itu, tidak tersediannya buku-buku pelajaran, buku tulis, dan alat-alat tulis lainnya, merupakan bagian lain yang cenderung menjadi hambatan otomatis anak akan kehilangan minat belajar yang optimal.
Enam langkan untuk mengatasi mals belajar pada anak dan membantu orangtua dalam membimbing dan mendampingi anak yang bermasalah dalam belajar antara lain:
1. Mencari Informasi
Orangtua sebaiknya bertanya langsung kepada anak guna memperoleh informasi yang tepat mengenai dirinya. Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas belajar. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.
2. Membuat Kesepakatan bersama antara orang tua dan anak.
Kesepakatan dibuat untuk menciptakan keadaan dan tanggung jawab serta memotivasi anak dalam belajar bukan memaksakan kehendak orang tua. Kesepakatan dibuat mulai dari bangun tidur hingga waktu hendak tidur, baik dalam hal rutinitas jam belajar, lama waktu belajar, jam belajar bilamana ada PR atau tidak, jam belajar di waktu libur sekolah, bagaimana bila hasil belajar baik atau buruk, hadiah atau sanksi apa yang harus diterima dan sebagainya. Kalaupun ada sanksi yang harus dibuat atau disepakati, biarlah anak yang menentukannya sebagai bukti tanggungjawabnya terhadap sesuatu yang akan disepakati bersama.
3. Menciptakan Disiplin.
Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menciptakan kedisiplinan kepada anak jika tidak dimulai dari orang tua. Orang tua yang sudah terbiasa menampilkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari akan dengan mudah diikuti oleh anaknya. Orang tua dapat menciptakan disiplin dalam belajar yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Latihan kedisiplinan bisa dimulai dari menyiapkan peralatan belajar, buku-buku pelajaran, mengingatkan tugas-tugas sekolah, menanyakan bahan pelajaran yang telah dipelajari, ataupun menanyakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam suatu pelajaran tertentu, terlepas dari ada atau tidaknya tugas sekolah.
4. Menegakkan Kedisiplinan.
Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). Untuk mengalihkannya gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak. Bila dapat melakukan aktivitas bersama di dalam satu ruangan saat anak belajar, orang tua dapat sambil membaca koran, majalah, atau aktivitas lain yang tidak mengganggu anak dalam ruang tersebut. Dengan demikian menegakkan disiplin pada anak tidak selalu dengan suruhan atau bentakan sementara orang tua melaksanakan aktifitas lain seperti menonton televisi atau sibuk di dapur.
5. Ketegasan Sikap
Ketegasan sikap dilakukan dengan cara orang tua tidak lagi memberikan toleransi kepada anak atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya secara berulang-ulang. Ketegasan sikap ini dikenakan saat anak mulai benar-benar menolak dan membantah dengan alasan yang dibuat-buat. Bahkan dengan sengaja anak berlaku ’tidak jujur’ melakukan aktivitas-aktivitas lain secara sengaja sampai melewati jam belajar. Ketegasan sikap yang diperlukan adalah dengan memberikan sanksi yang telah disepakati dan siap menerima konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukannya.
6. Menciptakan Suasana Belajar
Menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman merupakan tanggung jawab orangtua. Setidaknya orang tua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian.
Ternyata malas belajar yang dialami oleh anak banyak disebabkan oleh berbagai faktor. Oleh karena itu sebelum anak terlanjur mendapat nilai yang tidak memuaskan dan membuat malu orangtua, hendaknya orang tua segera menyelidiki dan memperhatikan minat belajar anak. Selain itu, menumbuhkan inisiatif belajar mandiri pada anak, menanamkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang. Jika enam langkah ini dapat diterapkan pada anak, maka sudah seharusnya tidak adalagi keluhan dari orang tua tentang anaknya yang malas belajar atau anak yang ngambek karena selalu dimarahi orang tuanya.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Ciri-Ciri Sekolah yang Melaksanakan Pembelajaran Aktif
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop

Pembelajaran Aktif merupakan sebuah konsep pembelajaran yang dipandang sesuai dengan tuntutan pembelajaran mutakhir. Oleh karena itu, setiap sekolah seyogyanya dapat mengimplementasikan dan mengembangkan pembelajaran aktif ini dengan sebaik mungkin. Dengan merujuk pada gagasan dari Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010), berikut ini disajikan sejumlah indikator atau ciri-ciri sekolah yang telah melaksanakan proses pembelajaran aktif ditinjau dari aspek: (a) ekspektasi sekolah, kreativitas, dan inovasi; (b) sumber daya manusia; (c) lingkungan, fasilitas, dan sumber belajar; dan (d) proses belajar-mengajar dan penilaian.
A. EKSPEKTASI SEKOLAH, KREATIVITAS, DAN INOVASI
Prestasi belajar peserta didik lebih ditekankan pada ”menghasilkan” daripada ”memahami”.
Sekolah menyelenggarakan ajang ‘kompetisi’ yang mendidik dan sehat.
Sekolah ramah lingkungan (misalnya; ada tanaman atau pohon, po bunga, tempat sampah)
Lebih baik lagi jika terdapat produk/karya peserta didik yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis/kapital untuk dijual.
Lebih baik jika ada pameran karya peserta didik dalam kurun waktu tertentu, misalnya sekali dalam satu tahun.
Karya peserta didik lebih dominan daripada pemasangan beragam atribut sekolah.
Kehidupan sekolah terasa lebih ramai, ceria, dan riang.
Sekolah rapi, bersih, dan teratur.
Komunitas sekolah santun, disiplin, dan ramah.
Animo masuk ke sekolah itu makin meningkat.
Sekolah menerapkan seleksi khusus untuk menerima peserta didik baru.
Ada forum penyaluran keluhan peserta didik.
Iklim sekolah lebih demokratis.
Diselenggarakan lomba-lomba antarkelas secara berkala dan di tingkat pendidikan menengah ada lomba karya ilmiah peserta didik.
Ada program kunjungan ke sumber belajar di masyarakat.
Kegiatan belajar pada silabus dan RPP menekankan keterlibatan peserta didik secara aktif.
Peserta didik mengetahui dan dapat menjelaskan tentang lingkungan sekolah (misalnya, nama guru, nama kepala sekolah, dan hal-hal umum di sekolah itu).
Ada program pelatihan internal guru (inhouse training) secara rutin.
Ada forum diskusi atau musyawarah antara kepala sekolah dan guru maupun tenaga kependidikan lainnya secara rutin.
Ada program tukar pendapat, diskusi atau musyawarah dengan mitra dari berbagai pihak yang terkait (stakeholders).
B. SUMBER DAYA MANUSIA
Kepala sekolah peduli dan menyediakan waktu untuk menerima keluhan dan saran dari peserta didik maupun guru.
Kepala sekolah terbuka dalam manajemen, terutama manajemen keuangan kepada guru dan orang tua/komite sekolah.
Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar.
Guru mengenal baik nama-nama peserta didik.
Guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian.
Sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik dan verbal kepada peserta didik.
Guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelola kelas dan mengembangkan kegiatan belajar.
Guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik.
Peserta didik banyak melakukan observasi di lingkungan sekitar dan terkadang belajar di luar kelas.
Peserta didik berani bertanya kepada guru.
Peserta didik berani dalam mengemukakan pendapat.
Peserta didik tidak takut berkomunikasi dengan guru.
Para peserta didik bekerja sama tanpa memandang perbedaan suku, ras, golongan, dan agama.
Peserta didik tidak takut kepada kepala sekolah.
Peserta didik senang membaca di perpustakaan dan ada perilaku cenderung berebut ingin membaca buku bila datang mobil perpustakaan keliling.
Potensi peserta didik lebih tergali serta minat dan bakat peserta didik lebih mudah terdeteksi.
Ekspresi peserta didik tampak senang dalam proses belajar.
Peserta didik sering mengemukakan gagasan dalam proses belajar.
Perhatian peserta didik tidak mudah teralihkan kepada orang/tamu yang datang ke sekolah.
C. LINGKUNGAN, FASILITAS, DAN SUMBER BELAJAR
Sumber belajar di lingkungan sekolah dimanfaatkan peserta didik untuk belajar.
Terdapat majalah dinding yang dikelola peserta didik yang secara berkala diganti dengan karya peserta didik yang baru.
Di ruang kepala sekolah dan guru terdapat pajangan hasil karya peserta didik.
Tidak ada alat peraga praktik yang ditumpuk di ruang kepala sekolah atau ruang lainnya hingga berdebu.
Buku-buku tidak ditumpuk di ruang kepala sekolah atau di ruang lain.
Frekuensi kunjungan peserta didik ke ruang perpustakaan sekolah untuk membaca/meminjam buku cukup tinggi.
Di setiap kelas ada pajangan hasil karya peserta didik yang baru.
Ada sarana belajar yang bervariasi.
Digunakan beragam sumber belajar.
D. PROSES BELAJAR-MENGAJAR DAN PENILAIAN
Pada taraf tertentu diterapkan pendekatan integrasi dalam kegiatan belajar antarmata pelajaran yang relevan.
Tampak ada kerja sama antarguru untuk kepentingan proses belajar mengajar.
Dalam menilai kemajuan hasil belajar guru menggunakan beragam cara sesuai dengan indikator kompetensi. Bila tuntutan indikator melakukan suatu unjuk kerja, yang dinilai adalah unjuk kerja. Bila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, yang digunakan adalah alat penilaian tertulis. Bila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan, tugas (proyek) itulah yang dinilai. Bila tuntutan indikator menghasilkan suatu produk 3 dimensi, baik proses pembuatan maupun kualitas, yang dinilai adalah proses pembuatan atau pun produk yang dihasilkan.
Tidak ada ulangan umum bersama, baik pada tataran sekolah maupun wilayah, pada tengah semester dan / atau akhir semester, karena guru bersangkutan telah mengenali kondisi peserta didik melalui diagnosis dan telah melakukan perbaikan atau pengayaan berdasarkan hasil diagnosis kondisi peserta didik.
Model rapor memberi ruang untuk mengungkapkan secara deskriptif kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik dan yang belum, sehingga dapat diketahui apa yang dibutuhkan peserta didik.
Guru melakukan penilaian ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Hal ini dilakukan untuk menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sekaligus sebagai alat diagnosis untuk menentukan apakah peserta didik perlu melakukan perbaikan atau pengayaan.
Menggunakan penilaian acuan kriteria, di mana pencapaian kemampuan peserta didik tidak dibandingkan dengan kemampuan peserta didik yang lain, melainkan dibandingkan dengan pencapaian kompetensi dirinya sendiri, sebelum dan sesudah belajar.
Penentuan kriteria ketuntasan belajar diserahkan kepada guru yang bersangkutan untuk mengontrol pencapaian kompetensi tertentu peserta didik. Dengan demikian, sedini mungkin guru dapat mengetahui kelemahan dan keberhasilan peserta dalam kompetensi tertentu.
==========
Sumber: Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas. 2010. Panduan Pengembangan Pendekatan Belajar Aktif; Buku I Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta.
==============
REFLEKSI:
Sejauhmana sekolah Anda telah mampu memenuhi indikator di atas?
Upaya apa yang bisa dilakukan agar sekolah-sekolah kita dapat memenuhi ciri-ciri di atas?
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Monday, November 21, 2011
Makalah Perpustakaan
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
MENGEMBANGKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik, penulis mengambil judul : “Mengembangkan Perpustakaan Sekolah dengan Teknologi Informasi” Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini, berkat tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis dengan kerendahan hati menghaturkan rasa hormat dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu secara langsung maupun tidak, dalam pembuatan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang di dapat sehingga mampu menyelesaikannya dengan baik. Karena itu, penulis dengan terbuka dan lapang dada menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
Madiun, 08 Mei 2008
Penulis
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perpustakaan sekolah, sebagai salah satu unit kegiatan yang mendukung Proses Belajar dan Mengajar, sebagian besar selama ini hanyalah sebagai salah satu unit kegiatan di sekolah yang selalu menjadi korban, tak terurus dan hanya sebagai pelengkap. Perpustakaan adalahsebuah tempat yang kurang diminati oleh siswa maupun warga sekolah lainnya. Mungkin konsep perpustakaan sebagai sumber ilmu pengetahuan , informasi dan rekreasi akan segera hilang karena kurangnya daya tarik perpustakaan itu sendiri bagi pemustaka, tinggalah buku-buku usang ,berdebu tak terpelihara. Di era teknologi komunikasi dan informasi sekarang ini, peran perpustakaan banyak mendapatkan kompetitor, yaitu internet yang dapat diakses di mana saja, di warnet, area hotspot, rumah maupun hanya melalui fasilitas GPRS pada Handphone. Jelas ini lebih menarik dan praktis. Oleh karena itu , untuk memotivasi dan menarik minat siswa datang ke perpustakaan dengan suka rela, tanpa harus dibebani tugas sekolah maka perpustakaan harus membuka diri dan memasukan unsur teknologi sebagai salah satu produk perpustakaan sekolah.
Jika kita mengutip makna perpustakaan dalam UU Nomor 43 Tahun 2007 yang berbunyi “Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan /atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Koleksi perpustakaan adalah “semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan / atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah dan dilayankan”. Dalam undang-undang ini jelas bahwa perpustakaan bukanlah sebuah lembaga yang hanya menyimpan buku dan majalah serta hanya meminjamkan pada siswa. Perpustakaan Sekolah harus dikelola dengan profesional agar mampu memenuhi semua kebutuhan pendidikan, informasi bahkan rekreasi bagi seluruh warga sekolah. Perpustakaan sekolah juga mempunyai tugas memberantas illiteracy informasi di sekolah, yaitu ketidak mampuan siswa dan warga sekolah lainnya untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Dalah hal ini perpustakaan sekolah harus menyediakan berbagai macam sumber informasi yang mungkin di butuhkan oleh semua warga sekolah.
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah
Pada makalah ini, penulis mengambil permasalahan mengenai bagaimana membangun sebuah perpustakaan sekolah yang diminati oleh semua warga sekolah bahkan masyarakat. Untuk menjadikan sebuah perpustakaan yang banyak di kunjungi oleh warga sekolah hambatan pada umumnya yang dihadapi perpustakaan sekolah, adalah:
1. Rendahnya motivasi dan budaya membaca pada siswa sehingga menimbulkan illiteracy atau ketidakmampuan siswa untuk mendapatkan informasi yang di butuhkan.
2. ....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka makalah ini bertujuan untuk mengetahui hambatan dan kesempatan yang ada serta bagaimana cara memenuhi kekurangan dan hambatan tersebut untuk membangun sebuah perpustakaan sekolah yang modern, diminati semua warga sekolah sebagai tempat atau sumber untuk mendapatkan berbagai macam informasi.
1.4 Manfaat
Makalah ini dibuat dengan harapan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan semua warga sekolah, stake holder pendidikan dan masyarakat luas. Serta menjadi bahan pertimbangan bagi semua lembaga sekolah untuk mulai mengevaluasi keberadaan perpustakaan sekolahnya yang selama ini hanya di jadikan simbol atau pelengkap saja. Dengan pembahasan dalam makalah ini penulis berharap menjadikan sebagai salah satu acuan untuk mengimplementasikannya sesuai dengan kreatifitas masing-masing pustakawan, kondisi sekolah, peraturan-peraturan dan dukungan finansial yang ada.
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................
2 PEMBAHASAN
2.1 Menumbuhkan Budaya Membaca dan Literasi Informasi
Pada era pendidikan yang berbasis pada otonomi sekolah atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) serta kurikulum yang berbasis pada Satuan Pendidikan (KTSP) dan berkembangnya metode dan model pembelajaran yang menggunakan pendekatan komunikasi dan kompetensi, yang menekankan pada kreatifitas siswa dalam belajar. Salah satu metode yang dikembangkan di banyak sekolah adalah PAIKEM ( Pembelajaran yang Inovatif Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. dengan berkembangnya metode-metode pembelajaran ini, berkembang pula metode-metode inovatif untuk menumbuhkan minat membaca pada siswa.
Metode-metode yang digunakan untuk menumbuhkan minat baca dan budaya membaca pada siswa diantaranya adalah :
- .........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Serta masih banyak lagi kreatifitas dan inovasi guru dalam mengajak para siswa untuk gemar membaca.
Literasi Informasi adalah seperangkat kemampuan yang di miliki oleh seseorang untuk mengenali informasi yang dibutuhkan serta kemampuan untuk menentukan sumber informasi, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. Maka perpustakaan sekolah harus mampu memberikan dan menunjukan semua informasi yang dibutuhkan oleh siswa dan semua warga sekolah. Perpustakaan akan bermakna dan diminati jika perpustakaan tersebut mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh siswa, guru dan semua warga sekolah, Baik dalam hal untuk mendapatkan materi pelajaran, informasi-informasi umum, pengetahuan lainnya maupun sebagai tempat yang nyaman untuk berekreasi atau istirahat sejenak.
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
2.2 Meningkatkan Profesionalisme Pustakawan
UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan mendefinisikan Pustakawan sebagai berikut : Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan /atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Bila kita merujuk pada definisi diatas tentang pustakawan maka sangat sedikit sekali sekolah yang sudah mempunyai tenaga pustakawan atau guru pustakawan yang mempunyai latar belakang pendidikan perpustakaan.
Kurangnya tenaga profesional.......................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
2.3 Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam pengembangan perpustakaan sekolah
Dalam perkembangannya , pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak hanya digunakan sebagai media belajar di dalam kelas, tetapi juga sebagai media belajar dalam perpustakaan sekolah, menarik minat siswa dan juga mempermudah pengelolaan perpustakaan. Diantaranya dengan penyediaan internet, Televisi, VCD/DVD player, yang dilengkapi pula dengan berbagai macam kaset/CD dan headset dengan jumlah yang memadai dan di tata dengan acuan-acuan perpustakaan yang ada.
Ada beberapa model pelayanan atau metode perpustakaan yang berkembang saat ini, yaitu :
1. Perpustakaan Manual : Pelayanan perpustakaan dilaksanakan manual/ konvensional, tanpa bantuan Teknologi Komputer atau teknologi lainnya.
2. Outomasi Perpustakaan : Pelayanan perpustakaan dikerjakan dengan bantuan komputer tau media lainnya. Cakupan dalam outomasi pendidikan adalah : mempermudah pustakawan dalam pengadaan koleksi, katalogisasi, inventarisasi, sirkulasi, pengelolaan penerbitan berkala, penyediaan katalog, pembuatan label buku, pembuatan kartu anggota, pengelolaan anggota dan sebagainya. Software yang digunakan dalam outomasi perpustakaan ini dapat di beli atau di pesan pada lembaga-lembaga yang mengembangkan software / program komputer. Atau menggunakan software-software yang sudah ada. Software yang banyak digunakan pada perpustakaan sekolah diantaranya sebagai berikut : CDS/ISIS, WINISIS, In Magic & Lex/ DOSver, OSS, KOHA, Greenstone, OpenBiblio, Igloo, Athenaeum Light dan masih banyak lagi.
3. Perpustakaan Digital : Dalam pelayanan perpustakaan model ini, siswa atau pemustaka tidak disediakan bahan dalam bentuk buku, tetapi pemustaka dapat mengakses buku yang di inginkan dalam bentuk file-file E-Book, E-Learning, E-Modul, Blog, Mailing List atau keping-keping VCD / DVD. File dan DVD tersebut dapat berupa film-film dokumenter, adobe reader, film cerita, video clip dan sebagainya.
4. Perpustakaan Virtual/ Virtual Library : Perpustakaan dengan menggunakan media internet. Pada dasarnya, virtual library bisa dikatakan sama dengan perpustakaan konvensional , setiap anggota virtual library bisa mencari apa yang mereka butuhkan dengan cara melihat isi pada virtual library. Setelah menemukan kemudian bisa langsung dibuka atau dengan mengunduh (download), tentunya setelah anggota tersebut memenuhi syarat yang ditetapkan, yaitu dengan mendaftar / register lebih dahulu. Pada prinsipnya virtual library sama dengan jika kita browsing internet.
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
2.4 Dukungan Kurikulum dan finansial dari sekolah dan pemerintah
Perkembangan perpustakaan sekolah tidak lepas dari peran pemerintah melalui Kemendikbud, Pemerintah Daerah dan lembaga sekolah sebagai pengelola dan pelaksana perpustakaan dan juga peran masyarakat sebagai pemustaka, dalam hal ini siswa melalui komite Sekolah maupun dewan perpustakaan. Peran pemerintah, sekolah dan masyarakat tersebut telah jelas di atur dalam UU Nomor 43 Tahun 2007, pasal 7 berbunyi sebagai berikut :
(1) Pemerintah Berkewajiban :
a. Mengembangkan sistem nasional perpustakaan sebagai upaya mendukung Sistem Pendidikan Nasional;
b. Menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat;
c. Menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di tanah air;
d. Menjamin ketersediaan keragaman koleksi perpustakaan melalui terjemahan (translasi) , alih aksara (transliterasi), alih suara ke tulisan (transkripsi) dan alih media (transmedia);
e. Menggalakan promosi gemar membaca dan memanfaatkan perpustakaan;
f. Meningkatkan kualitas dan kuantitas koleksi perpustakaan; membina dan mengembangkan kompetensi, profesonalitas pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan;
Program pemerintah dalam usaha pengembangan perpustakaan seperti diatas, seharusnya mulai dari sikapi dengan sebuah usaha pustakawan dan kepala sekolah untuk mendapatkan informasi yang berguna bagi kepentingan perpustakaan sekolah. Misalnya : informasi tentang bantuan buku, teknologi perpustakaan terbaru dengan studi banding, pelatihan bagi guru dan pustakawan. Mungkin kita maklum dengan anggaran pemerintah dalam proses pengembangan perpustakaan diseluruh Indonesia sangat kecil, maka lembaga sekolah sebagai pengelola perpustakaan yang menjadi salah satu program yang tercantum dalam kurikulum sekolah masing-masing, wajib mengalokasikan dana dalam RAPBS untuk kegiatan perpustakaan. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan , operasional, pemeliharaan dan juga kesejahteraan pustakawan. Oleh karena itu dalam UU Nomor 43 Tahun 2007 pasal 23 telah diatur secara khusus tentang perpustakaan sekolah, sebagai berikut :
(1) Setiap sekolah / madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan
(2) Perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki koleksi buku teks pelajaran yang ditetapkan sebagai buku teks wajib pada satuan pendidikan yang bersangkutan dalam jumlah yang mencukupi untuk melayani semua peserta didik dan pendidik
(3) Perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengembangkan koleksi lain yang mendukung pelaksanaan kurikulum pendidikan
(4) Perpustakaan sekolah /madrasah melayani peserta didik pendidikan kesetaraan yang dilaksanakan di lingkungan satuan pendidikan yang bersangkutan
(5) Perpustakaan sekolah/madrasah mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi
(6) Sekolah / madrasah mengalokasikan dana paling sedikit 5% dari anggaran belanja operasional sekolah/madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan
Sebagai penekanan, disini telah diatur secara tegas bahwa sekolah penyelenggara perpustakaan sekolah diharuskan mengalokasikan dana paling sedikit 5% dari anggaran belanja operasional sekolah untuk pengembangan perpustakaan
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada era teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini, dunia pendidikan adalah salah satu pengguna teknologi tersebut. Teknologi Informasi sebagai media untuk mempermudah mengerjakan soal-soal , administrai dan bahkan sebagai alat dan metode mengajar di dalam kelas. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu pilar pendidikan sudah barang tentu harus menggunakan teknologi untuk menarik minat guru dan siswa untuk mendapatkan informasi, pengetahuan, rekreasi di dalam perpustakaan. Jika perpustakaan sekolah telah berfungsi sebagaimana mestinya maka program gemar membaca dan literasi informasi akan tercapai dengan sendirinya.
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
....................................................................................................................
3.2 Referensi
3.2 Referensi
- UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan
- Dra. Dhamayanti, Lucya, M.Hum. Literasi Informasi. Materi Diklat Pengelolaan Perpustakaan SMK 2007
- M. Ridho, Rasyid. Materu Diklat Pengelolaan Perpustakaan SMK 2007
- Nasution, A.S. Perpustakaan Sekolah, Departemen P dan K, 1981
- ....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Subscribe to:
Posts (Atom)
