sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Showing posts with label Crita Wayang. Show all posts
Showing posts with label Crita Wayang. Show all posts
Tuesday, March 25, 2014
Wayang Kulit: Beda Wayang Kulit Jogja - Solo
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Wayang kulit : Perbedaan Wayang Kulit dari Surakarta dan Yogyakarta
Kebudayaan dalam arti luas, adalah seluruh pikiran, karya dan hasil karya manusia, yang tidak berakar pada naluri, dan oleh karenanya, dikembangkan oleh manusia setelah melalui proses belajar.
Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang mempunyai kebudayaan yang sangat beragam. Diantara kebudayaan dari Jawa khususnya dari Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah kesenian wayang kulit.
Wayang kulit umumnya di nusantara dan khususnya di masyarakat Jawa, dari zaman dahulu dapat menjadi sarana hiburan dan sarana untuk mengajarkan budi pekerti yang luhur kepada masyarakat.
Namun demikian, suatu kenyataan yang kita hadapi sekarang akibat adanya kemajuan zaman serta masuknya budaya-budaya dari mancanegara, adanya wayang khususnya wayang kulit sudah tidak begitu diperhatikan oleh masyarakat, khususnya generasi muda.
Sudah banyak generasi kita yang kurang tahu atau bahkan tidak tahu mengenai kesenian wayang. sehingga perlu upaya-upaya untuk menumbuhkan kembali dan mengembangkan menjadi bagian yang dapat memperkaya khasanah kebudayaan nasional.
Wayang kulit dari Surakarta dan dari Yogyakarta secara garis besar tidak memiliki perbedaan yang begitu mencolok.
Perbedaan tersebut adalah :
v Segi Pakaiaan
Secara garis besar dari segi pakaian tidak ada perbedaan yang besar antara wayang kulit dari Surakarta dan Yogyakarta. Perbedaan dari segi pakaian antara wayang kulit dari Surakarta dan Yogyakarta ini salah satunya dipengaruhi oleh pakaian adat dari daerah tersebut.
Pakaian adat Surakarta dan Yogyakarta kelihatannya sama, tetapi ternyata ada beberapa perbedaan walaupun tidak begitu besar. Perbedaan pakaian adat dalam kenyataannya juga mempengaruhi pada pakaian wayang kulit yang dihasilkan dari kedua daerah tersebut.
Misalnya perbedaan pada keris yang dikenakan oleh tokoh wayang, perbedaan ini juga dipengaruhi oleh perbedaan keris dari masing-masing daerah itu. keris Surakarta dikenal lebih halus. Sedangkan keris Yogyakarta mempunyai “gayaman” yang lebih kasar , bertekstur jelas, dan sering kali berbentuk lancip (runcing) .
Selain itu, keris Yogyakarta tidak memiliki motif atau polos saja, kalaupun bermotif hanya berbentuk naga atau Kalamekara saja. Berbeda dengan keris dari Surakarta yang banyak dihiasi motif-motif batik dan aneka bentuk, misalnya bermotif kawung, alas-alasan, truntum, beraneka macam bunga, dan lain-lain. Perbedaan yang ada di atas pasti mempengaruhi keris yang dipakai oleh tokoh-tokoh yang ada dalam wayang sehingga menimbulkan perbedaan antara wayang Yogyakarta dan Surakarta.
Ada juga perbedaan yang lain, seperti pada irah-irahan pada setiap tokoh wayang. Pada bagian belakang irah-irahan yang ada pada tokoh wayang Yogyakarta cenderung lebih “trepes” di banding dengan wayang Surakarta.
Pada motif jarik yang digunakan pun kadang-kadang mempunyai perbedaan. Corak warna dan desain batiknya pun berbeda. Batik pada wayang Yogyakarta lebih terang dengan menggunakan putih dan cokelat tua saja. Sedangkan batik wayang Sarakarta lebih kalem dan gelap dengan menggunakan warna cokelat, hitam, dan sedikit saja warna putih. Ini tidak berbeda dengan apa yang ada pada kenyataannya sekarang ini. Batik yang digunakan pada masyarakat Yogyakarta dan Surakarta pun berbeda.
Wiru pada jariknya pun juga berbeda. Wiru Yogyakarta pada bagian garis putih pada ujung jarik diperlihatkan dan kadang-kadang disertai “pengkolan-pengkolan” (lipatan). Sedangkan pada Wiru Surakarta garis putih tersebut tidak diperlihatkan dengan cara ditekuk atau dilipat ke dalam sehingga akan tertutupi oleh wiru itu sendiri.
v Segi Tokoh / Watak Wayang
Dari segi tokoh atau watak wayang terdapat beberapa perbedaan antara wayang kulit dari Surakarta dan Yogyakarta. Perbedaan tersebut misalnya pada tokoh Anoman. Pada wayang kulit Surakarta tokoh Anoman memiliki satu mata saja di satu sisi wayang. sedangkan pada wayang kulit Yogyakarta tokoh Anoman ini memiliki dua mata pada setiap sisinya.
Tokoh wayang yang bernama Bima, apabila dari Surakarta digambarkan dengan tokoh hitam besar memakai jarik lengkap beserta wiru dan sulurnya. Sedangkan dari Yogyakarta Bima digambarkan dengan tokoh hitam besar memakai jarik kotak-kotak hitam putih.
Tokoh wayang Durna, apabila dari Surakarta Durna dianggap sebagai tokoh asli dari Jawa. Tetapi Durna Yogyakarta adalah tokoh yang dianggap dari luar Jawa yang memiliki aksen dan logat bicara ke arab-araban. “Buta-buta” pun memiliki perbedaan. Buta dari Surakarta hanya memiliki satu tangan yang bisa digerakan. Sedangkan Buta Yogyakarta memiliki dua tangan yang bisa digerakkan.
v Segi Gendhing Pengiring
Gendhing pada wayang kulit dari Surakarta cenderung menggunakan gendhing yang halus, sedangkan Yogyakarta lebih menggunakan gendhing-gendhing soran yaitu gendhing yang keras dan lebih kasar. Surakarta menggunakan sekar ageng sedangkan Yogyakarta. menggunakan Sekar Mataraman.
Cempala yang digunakan sama, tetapi ada perbedaan pada “kepyek” yang digunakan. Apabila versi Surakarta berbunyi “pyek...pyek...pyek...”, dan terkesan lebih halus. sedangkan versi Yogyakarta berbunyi “creng...creng...creng...” .
Dari perbedaan-perbedaan itu terdapat persamaan dari kedua versi wayang itu, yaitu bersumber pada buku atau kitab Pustaka Raja Purwa. Perbedaan-perbedaan itu bertemu di Pakualaman yang bersifat “netral” dengan menerima versi Surakarta maupun versiYogyakarta (Akulturasi).
Sumber Wawancara dengan:
1. Dwi Narimo : Petugas Museum Radya Pustaka Surakarta
2. Aji Setyo Wijoyo : Petugas Perpustakaan Radya Pustaka Surakarta
Tgl: 10 Mei 2008
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Saturday, July 21, 2012
Prabu Kresnadwipayana (Abiyasa)
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Prabu Kresnadwipayana uga sinebut Prabu Rancakaprawa utawa Sutiknaprawa. Panjenengane duwe garwa telu yaiku:
*Dewi Ambika, peputra Raden Drestharastra, kang cacat wuta wiwit lair. Ya Raden Drestharastra iki sing garwane aran Dewi Gendari duwe anak cacahe satus kang sinebut Sata Kurawa.
*Dewi Ambika, peputra Raden Drestharastra, kang cacat wuta wiwit lair. Ya Raden Drestharastra iki sing garwane aran Dewi Gendari duwe anak cacahe satus kang sinebut Sata Kurawa.
*Dewi Ambalika, peputra Raden Pandhu, uga duwe cacat wiwit lair yaiku pucet lan tengeng. Ya Raden Pandhu iki kang garwane aran Dewi Kunthi sarta Dewi Madrim peputra Pandhawa sing cacahe lima lanang kabeh.
*Dewi Datri kaprenah adhine Dewi Ambika uga dadi garwane Prabu Kresnadwipayana, peputra Raden Yamawidura (Raden Widura).
==> Versi Bahasa Indonesia
Prabu Kresnadwipayana juga disebut Prabu Rancakaprawa atau Sutiknaprawa. Beliau mempunyai istri tiga jumlahnya, yaitu:
*Dewi Ambika, berputrakan Raden Drestharastra, yang cacat buta sejak lahir. Raden Drestharastra mempunyai istri yang bernama Dewi Gendari mempunyai anak seratus jumlahnya yang disebut Sata Kurawa (Seratus Kurawa).
*Dewi Ambalika, berputra Raden Pandhu, juga mempunyai cacat sejak lahir yaitu mempunyai wajah yang pucat dan berleher ''tengen''. Raden Pandhu beristrikan Dewi Kunthi dan Dewi Madrim dan mempunyai putra lima yang disebut Pandhawa.
*Dewi Datri yang masih termasuk adiknya Dewi Ambika (juga menjadi istrinya Prabu Krenadwipayana), berputra Raden Yamawidura (Raden Widura).
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Thursday, July 19, 2012
Rama Wiwaha
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Kacariyos, Prabu Rama punika sejatosipun dewa. Asmanipun Wisnu. Panjenenganipun manjanma dados manungsa tumurun saking kahyangan dhateng donya. Sadaya kalawau awit panyuwunipun para dewa sanesipun, amargi para dewa boten tentrem dipunganggu dening Nata Alengka inggih punika Dasamuka utawi Rahwana.
Salah satunggaling dinten, Prabu Rama tuwn Lesmana nembe ngumbara dhateng pundi-pundi, njajah dhusun nasak wana, dumugi nagari sanes. Nalika semanten nglangkungi nagari Widheha utawi Manthili. Ratu utawi rajanipun kaparingan asma Janaka. Kaleresan ing Nagari Manthili saweg ngawontenaken sayembara. Sinten ingkang saged menthang gandhewa pusaka kraton, badhe kapundhut mantu, pikantuk putranipunputri ingkang kaparingan asma Shinta.
Kathah ingkang tumut sayembara. Sadaya sami nyobi menthang gandhewa, sami ngedalaken karosanipun nanging boten sami kasil. Punapa malih menthang, njunjung kemawon boten kiyat. Nanging dumugi giliranipun Rama, gandhewa dipunjunjung lon-lonan, lajeng kapenthang kanthi gampil. Sakala gandhewa tugel tengah. Swantenipun gumludhug, kados mbudhegaken talingan. Ingkang sami ningali manahipun sami gumun. Minangka bebungahipun sayembara, pramila Rama pikantuk Ayu Shinta.
Upacara wiwaha mawi cara agengan utawi rame-rame. Dangunipun ngantos pinten-pinten dinten. Sasampunipun anggenipun gadhah damel bibar, kekalihipun lajeng kaboyong saking Nagari Widheha/Manthili dhateng nagari Kosala. Ing Nagari kasebutpenganten kekalih dipunsubya-subya mawi pahargyan mawarni-warni.
(saking Marsudi Basa lan Sastra Jawa;gambar saking google.com)
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Saturday, July 14, 2012
Lampahan-lampahan ing Pustaka Raja Purwa
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop

Jilid 1-37
- Manikmaya = nyariyosaken lairipun Manik lan Maya. Manik punika Bathara Guru, Maya punika Ismaya (Semar). Bathara Guru nguwaosi Kahyangan. Semar tumurun dhateng Marcapada. Nyariyosaken lairipun para dewa tuwin widadari.
- Ngruna-ngruni = nyariyosaken Prabu Sengkan turunan saking nagari Parangsari arsa ngayunaken dewi Angruna lan Angruni.
- Watugunung = nyariyosaken Raden Buduk (Radite) nata Gilingwesi lajeng krama kaliyan ibunipun piyambak sesilih dewi Shinta patutan putra cacah 28. Wusana sami musna dados naminipun wuku 30.
- Mumpuni = nyariyosaken dewi Mumpuni krama kaliyan Bathara Yamadipati nanging lajeng rinebat dening Bathara Naga Tamala. Lajeng ugi rebatan kaliyan Srigati Putranipun Bathara Wisnu ing Mendhangkamulan. Nanging wekasan dewi Mumpuni krama kaliyan Naga Tatmala.
- Pakukuhan = nyariyosaken Prabu Pakukuhan/Prabu Kanu/Prabu Sri Mahapunggung ing Purwacarita perang lumawan Prabu Dewaisa nata Gilingwesi. (wonten candhakipun)
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Thursday, July 12, 2012
Crita Wayang
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Crita wayang ana sing isih baku kasebut ana ing babon buku-buku sing wis ana, kalamangsane diowahi saprayogane. Ana uga crita wayang sing aran carangan. Carangan iku ing babon ora ana ganep, kaya unine ing carangan. Ning uga njupuk nyrempet sawenehing lelakon ing babon kono. Upamane crita "Bale sigala-gala", iku carangan, njupuk babon ing Serat Wiratha Parwa.
Saking pintere para dhalang lan uga kreatif, panjenengane bisa nganggit-anggit lakon anyar, iki jenenge crita rekan, upamane lakon "Semar Mantu".
Kang dianggep babon crita wayang:
- Mahabharata
- Ramayana
- Baratayudha
- Serat Rama
- Pustaka Raja
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Friday, November 18, 2011
Crita Wayang Ramayana: Rama Tambak
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Prabu Dasamuka ratu ing Ngalengka punika pancen satunggaling ratu ingkang sekti mandraguna. Prabu Dasamuka punika kepencut dhateng Dewi Sinta, wanita ayu ingkang sulistya ing warni, garwanipun Ramawijaya. Gegandhenganipun Dewi Sinta kaliyan Prabu Rama sampun mboten saged dipunpisahaken malih.
Pramila Prabu Dasamuka nggadhahi raos kuciwa. Piyambakipun tansah pados rekadaya kados pundi caranipun supados saged ndhusta Dewi Sinta. Nalika Prabu Rama bebedhag ing wana Dhandhaka badhe mburu Kidang Kencana minangka panyuwune sang Dewi, kocap kacarita sang Dewi saged kadhusta dening candhala utusane Prabu Dasamuka saking Ngalengka. Miturut aturipun Sang Hyang Baruna supados saged gampil anggene dumugi Nagari Ngalengka, Prabu Rama kedah nyiagakaken wadyabala wanara. Wadyabala wanara ingkang dipunpandheghani dening Anoman kautus ngusungi redi saha sela kangge nambaki seganten supados gampil anggenipun kesah dhateng Ngalengka.
Prabu rama saha wadyabala wanara sampun samapta tumandang damel. Sasampunipun sarembag anggenipun badhe damel tambak minangka uwot kangge margi dhateng Ngalengka, wadyabala wanara saperangan dipundhawuhi ngusungi redi minangka kangge tambak. Ing wusana sedaya sami sengkut anggenipun tumadang damel amrih tambakipun enggal dados. Sasampunipun tambak dados Prabu Rama sawadyabala wanara saged liwat minangka margi dhateng Ngalangka. Tujuanipun badhe mengsah jurit dhateng Prabu Dasamuka. Wadyabalanipun Prabu Dasamuka punika sedaya sami sekti mandraguna mboten tedhas ing sawarnaning gegaman ingkang wonten. Pramila para prajurit wanara sami kewuhan, kados pundi caranipun saged ndhesek utawa mikut Prabu Dasamuka sawadyabalanipun. Pungkasanipun cariyos, Anoman nggadhahi cara kangge merjaya Prabu Dasamuka punika. Satunggaling wekdal Anoman ngangkat Gunung Somawana, pangangkahipun Anoman badhe nebleg polah tingkahipun Dasamuka. Wusananipun Prabu Dasamuka saged sirna amargi dipuntableg kaliyan Gunung Somawana dening Anoman. (Kapethik saking Silsilah Wayang Purwa dening S. Padmosoekotjo mawi ewah-ewahan)
Link:
http://wayangprabu.com/tag/rama-tambak/
Pramila Prabu Dasamuka nggadhahi raos kuciwa. Piyambakipun tansah pados rekadaya kados pundi caranipun supados saged ndhusta Dewi Sinta. Nalika Prabu Rama bebedhag ing wana Dhandhaka badhe mburu Kidang Kencana minangka panyuwune sang Dewi, kocap kacarita sang Dewi saged kadhusta dening candhala utusane Prabu Dasamuka saking Ngalengka. Miturut aturipun Sang Hyang Baruna supados saged gampil anggene dumugi Nagari Ngalengka, Prabu Rama kedah nyiagakaken wadyabala wanara. Wadyabala wanara ingkang dipunpandheghani dening Anoman kautus ngusungi redi saha sela kangge nambaki seganten supados gampil anggenipun kesah dhateng Ngalengka.
Prabu rama saha wadyabala wanara sampun samapta tumandang damel. Sasampunipun sarembag anggenipun badhe damel tambak minangka uwot kangge margi dhateng Ngalengka, wadyabala wanara saperangan dipundhawuhi ngusungi redi minangka kangge tambak. Ing wusana sedaya sami sengkut anggenipun tumadang damel amrih tambakipun enggal dados. Sasampunipun tambak dados Prabu Rama sawadyabala wanara saged liwat minangka margi dhateng Ngalangka. Tujuanipun badhe mengsah jurit dhateng Prabu Dasamuka. Wadyabalanipun Prabu Dasamuka punika sedaya sami sekti mandraguna mboten tedhas ing sawarnaning gegaman ingkang wonten. Pramila para prajurit wanara sami kewuhan, kados pundi caranipun saged ndhesek utawa mikut Prabu Dasamuka sawadyabalanipun. Pungkasanipun cariyos, Anoman nggadhahi cara kangge merjaya Prabu Dasamuka punika. Satunggaling wekdal Anoman ngangkat Gunung Somawana, pangangkahipun Anoman badhe nebleg polah tingkahipun Dasamuka. Wusananipun Prabu Dasamuka saged sirna amargi dipuntableg kaliyan Gunung Somawana dening Anoman. (Kapethik saking Silsilah Wayang Purwa dening S. Padmosoekotjo mawi ewah-ewahan)
Link:
http://wayangprabu.com/tag/rama-tambak/
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Thursday, December 24, 2009
Kumbakarna Gugur, mau tau?
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Kumbakarna ditimbali dening Prabu Dasamuka kinen madeg senapati ngrabaseng prajurit Pancawati, andhahane Prabu Rama. Rangu-rangu atine awit dheweke ngerti jalarane Prabu Ramawijaya ngebroi Ngalengka. Ora liya amarga srakahe Prabu Dasamukangrebut garwane Prabu Rama, ya Dewi Sinta. Tumindake pun kakang pancen nalisir saka bebener. Ananging menawa ngelingi bumi Ngalengka, bumi wutah getihe sing bosah-baseh uga para kawula sing nandhang sengsara dadi kurban paprangan, tuwuh tekad sing mkantar-kantar jroning wardaya kanggo bela negarane.
Dewi Kiswani, garwane Kumbakarna ora kuwawa ngumpet tumetesing waspa nalika dipamiti lan diutus nyepakake ageman warna seta.
“kakngmas, kula sampun kecalan anak-anak kula Kumbawaswani tuwin Kumba-Kumba. Kula boten purun kecalan paduka, Kangmas!” ature kebak sungkawa marang Raden Kumbakarna.
“Yayi, pati urip iku ing astane Kang Akarya Jagad, yen pun kakang tiwas ing rananggana. Ateges iku pepesthen kang ora bisa diselaki. Ananging yen kakang selak saka jejibahan iki marang bumi Ngalengka sing wis menehi panguripan? Mula sanadyan nganti oncating nyawa tetep kudu dakbelani!”
Sawise krungu ngendikane garwane iku Dewi Kiswani tinarbuka atine lan ngutabake kanthi lega lila.
Bala wanara prajurite Prabu Rama kuwalahan nampani tandange Kumbakarna kang ngedab-edabi. Sanadyang mangkono ora padha gisrig, saya akeh sing ngrubut. Ana sing nyathek, nyokot mlah uga mancat ngrangsang sirah. Kurban saya akeh, nganti keprungu bendhe tinabuh aweh tetenger supaya padha mundur. Sawijining satriya marani Raden Kumbakarna.
“Yayi Wibisana!” pambengoke Kumbakarna bareng ngerti satriya iku jebul rayine.
“Kakang” kakang adhi iku rerangkulan kebak rasa sedhih. Wibisana tinudhung dening Dasamuka sesawise babaregan karo Kumbakarna elik-elik supaya ora meruhi tumindak angkara murkane kaknge sing saya ngambra-ambra. Ora dinyana kepethuk ing madyaning palagan.
“Sangertos kula kakang Kumbakarna tansah mbelani dhareng kautaman. Kenging menapa sakpunika kakang madeg dados senapati mbelani Prabu Dasamuka ingkang ateges mbelani kamurkan?” ature Wibisana.
“Dadi kaya ngono pangiramu marang pun kakang? Aku maju ing palagan iki amarga nglungguhi darmaning satriya kang kudu bela negara. Perkara tumindake Prabu Dasamuka iku dudu tanggung jawabku. Nanging rusake negara ngalengka, aku ora bisa nrimakake!” Wibisana ndheprok nyuwun pangapura awit wis duwe pandakwa ala.
“Wis.. wis dhi ora dadi apa. Lha kowe dhewe kok ana kene larahe kepriye?” pitakone kumbakarna. Wibisana nyritakake yen sawise ditudhung Dasamuka banjur nyuwita marang Prabu Rama.
“Boten ateges kula cidra dhateng nagari Ngalengka, kakang. Nanging kula kedah netepi darmaning satriya ingkang tansah mbela dhateng sinten ingkang leres!” ature Wibisana. Kakarone krasa nggrentes atine kudu adhep-adhepan minangka mungsuh.
“Jagad Dewa Bathara wis dadi garising Jawata kita kudu kaya ngene. Kowe ora luput, Dhi! Antepana dharmamu kaya dene aku netepi dharmaku! Aturana supaya ngayunake yudaku, kareben perkerene enggal rampung!” wibisana nyawang kakange kanthi trenyuh, atur sembah nuli mungkur.
Kumbakarna klakon adhep-adhepan karo Prabu Rama. Durung kober senapati Ngalengka iku ngrangsek, kedhisiksan panahe Rama wola-wali mutung tangane banjur siskile. Saengga kari sirah lan gembung. Ewa semana ora luntur tekade Kumbakarna gawe pepati seakeh-akehe. Dumadakan sanjatane Prabu Rama panah Gunawijaya, ngrampungi krodhane Kumbakarna. Kumbakarna gugur.
(Panjebar Semangat 16/2005)
-Lampiran 2: Contoh Teks bacaan nonsastra dengan tema budaya dengan judul “Gedhang Raja lan Adat-Istidat”.
Gedhang Raja lan Adat Istiadat
Gedhang raja (Musa Paradisiaca) wis dikenal rikala jaman mbah buyut dhisik. Gedhang raja sawangane pancen alus, lumer sarta nengsemake. Kejaba wujud lan wernane nyenengake, rasane biyuh-biyuh seger, legi, arum. Gedhang jarwa dhosoke... digeget bubar madhang. Pranyata wujud lan ulese pancen ndemenake, saengga digandrungi masyarakat sadonya. Kejaba aroma lan rasane gawe kemecer ngiler, uga gedhang raja entuk sebutan ‘Paradise Banan’ (buah surga) utawa buah nirwana.
Wektu iki gedhang raja kena diarani produk ekspor kang paling istimewa, kabukten sing padha pesen saka njaban rrangkah kayata Jepang, China, Korea lumebere tumeka Bawono Eropa lan Australia. Mula akeh warga masyarakat ing Indonesia padha ngulir budi anggone ngrembakaake gedhang raja mau. Kejaba gedhang raja regane larang, pancen kanggo kebutuhan adat.
Uwal saka babagan gedhang komersial, wangune ing wewengkon Kraton Sumenep Madura, gedhang raja minangka simbul adat perkawinan kraton. Pancen adat –stiadat pernikahan jroning kraton, tansah diuri-uri aja nganti kasilep majune jaman. Senajan saiki wis mlebu era gobalisasi, nanging ing laladan kraton isih nggeget kenceng adat pernikahan mawa gedhang raja.
Sejatine yen kita tintingi kanthi premati, gedhang raja uga dibutuhake dening kraton Mataram, saengga kraton Surakarta lan Yogyakarta uga ora ninggalake kebutuhan mau. Kejaba kaggo pajangan, pasang tarub, jejeran, sajen, kendurenan lan akeh maneh liyane, uga kanggo hiasan ing rumah makan ing ngendi wae. Gedhang raja mujudake gedhang adat minangka warisan nenek moyang jaman dhisik.
(Panjebar Semangat 22/2009).
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Subscribe to:
Posts (Atom)




