sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Showing posts with label Sendang Made. Show all posts
Showing posts with label Sendang Made. Show all posts
Thursday, March 20, 2014
Wisata Jombang
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Wisata Jombang
Kabupaten Jombang memiliki berbagai keindahan alam dan potensi pariwisata lain yang menarik. Sangat disayangkan, potensi tersebut pada umumnya belum digali, dan tidak memiliki pendukung sarana dan prasarana yang memadai untuk memajukan pariwisata di Kabupaten Jombang; sehingga menunggu adanya investasi untuk menggarapnya. Hal ini sangat penting dan menguntungkan, mengingat posisi Kabupaten Jombang yang bersebelahan dengan daerah tujuan wisata alam Malang di tenggara dan Pacet-Trawas-Tretes di timur; serta wisata historis (situs Majapahit) Trowulan.
Wisata Umum
- Tirta Wisata. Tempat wisata lokal yang terdapat balekambang, kolam pancing, kolam renang dan lapangan tenis. Tempat ini sering diselenggarakan berbagai konser, baik artis regional hingga artis ibukota. Terletak di tepi jalan raya Jombang-Surabaya, Desa Keplaksari, Kecamatan Peterongan.
- Pujasera Kebonrojo Tempat wisata lokal yang umumnya dikunjungi saat-saat hari minggu dan hari libur, terletak persis di jantung kota. Di tempat ini selalu ramai dikunjungi karena menawarkan berbagai jenis jajanan dan makanan. Akhir-akhir ini tempat ini menyediakan berbagai permainan untuk anak-anak.
- Monumen Pesawat Tempur, terletak persis di depan Tirta Wisata. Pesawat Tempur yang dulunya merupakan armada skadron milik TNI AU ini telah dihibahkan kepada kabupaten jombang menghiasi koleksi wisata yang cukup menawan.
- Aloon – Aloon, dengan berhias taman di sekelilingnya dan empat pilar menara masjid yang merupakan simbol kota jombang, aloon – aloon merupakan tempat rekreasi yang sering dikunjungi, tanpa mengeluarkan biaya masuk sepeserpun. Pada hari minggu banyak dikunjungi orang-orang yang berolahraga jogging, sepakbola dan aktivitas lainnya. Jika Anda merasa haus bisa anda nikmati berbagai minuman dan jajanan yang umunya dijual oleh PKL di sekeliling aloon – aloon. Pada hari-hari tertentu sering juga diadakan even-even menarik seperti pameran raya, musik, lomba-lomba dan sebagainya.
Wisata Sejarah
- Sendang Made. Sendang Made terletak di Desa Made, Kecamatan Kudu. Di kawasan ini terdapat peninggalan sejarah petilasan Raja Airlangga. Selain Sendang Made di sekitarnya terdapat sendang-sendang lain yang lebih kecil, Diantaranya Sendang Payung, Sendang Padusan, Sendang Drajat, Sendang Sinden dan Sendang Omben. Sendang Made diyakini sebagai sisa peninggalan kerjaan Majapahit.
- Candi Arimbi. Candi Arimbi dulunya merupakan pintu gerbang sebelah selatan Kerajaan Majapahit. Terletak di Desa Ngrimbi, Kecamatan Wonosalam. Letaknya sangat strategis karena berada di tepi jalan utama Mojoagung-Wonosalam.
Wisata Alam
- Wanawisata Sumberboto. Merupakan wana wisata binaan dari Perhutani yang banyak dikunjungi wisatawan lokal. Suasana dingin dan asri penuh dengan pepohonan, terdapat pula kolam renang air hangat. Terletak di Desa Grobogan, Kecamatan Mojowarno.
- Wisata Perkebunan Panglungan. Kawasan perkebunan dengan topografi pegunungan yang berada di Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam ini berfungsi sebagai daerah resapan air dan kawasan konservasi lahan. Saat ini Panglungan tengah dikembangkan sebagai agrowisata dengan tanaman utama kakao, cengkeh, melinjo, dan kopi.
- Air Terjun Tretes. Merupakan air terjun yang sangat indah dengan ketinggian 158 meter, dan terletak di ketinggian 1250 meter di atas permukaan air laut. Terletak di Dusun Tretes, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam; sekitar 40 km dari pusat kota Jombang.
- Goa Sigolo-golo. Jombang memiliki goa-goa alami yang indah dan belum dikembangkan sebagai wisata komersial. Salah satunya adalah Goa Sigolo-golo yang terletak di Dusun Kranten, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam.
- Kedung Cinet. Kedung Cinet merupakan wisata alami pegunungan yang sangat mempesona. Aliran sungai yang jernih dan menawan dilintasi oleh "jembatan goyang". Terdapat di desa Pojok Klitih, Kecamatan Plandaan.
- Waduk Plabuhan, Terletak di desa Plabuhan dan mempunyai luas + 3 Ha. Hanya + 4 km dari Kantor Camat Plandaan. Waduk ini cocok untuk melepas lelah, karena mempunyai pemandangan yang sangat indah.
- Waduk Jambe, Terletak di Dsn. Jambe Ds. Bangsri dan mempunyai luas + 2,25 Ha. Selain digunakan untuk pengairan, waduk ini juga merupakan tempat wisata yang sangat menarik. Hanya + 2,5 km dari Kantor Camat Plandaan.
- Dam Karet. Aliran sungai berantas yang dibendung dengan media yang terbuat dari karet ini menambah pesona tersendiri untuk dikunjungi. Biasanya banyak dikunjungi oleh orang-prang yang mempunyai hobi memancing. Terletak di wilayah kecamatan Megaluh.
Wisata Religi
- Pondok Pesantren. Jombang telah lama terkenal dengan julukan kota santri. Berbagai pesantren sangat menjamur di kota ini. Pesantren terbesar di Jombang adalah Pesantren Tebu Ireng, Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Pesantren Denanyar dan Pesantren Daru Ulum Peterongan.
- Makam K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wachid Hasyim. K.H. Hasyim Asy’ari merupakan pendiri Ponpes Tebuireng (Jombang), salah satu pendiri organisasi Nahdatul Ulama. Puteranya, K.H. Wachid Hasyim adalah Menteri Agama RI pertama. Dua makam pahlawan nasional ini terletak di kompleks Ponpes Tebuireng, Cukir, Kecamatan Diwek.
- Makam Sayid Sulaiman. Sayid Sulaiman merupakan salah satu penyebar Islam di kawasan Jombang pada era pasca runtuhnya Majapahit. Pada malam Jum’at Legi, makam ini banyak dikunjungi peziarah. Terletak di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung.
- Pengajian Padang Mbulan. Pengajian Padang Mbulan merupakan pengajian rutin yang digelar pada setiap malam bulan Purnama. Pengajian ini dirintis oleh budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Diadakan di halaman depan asal rumah Cak Nun di Desa Menturo, Kecamatan Sumobito.
- Kelenteng Hong San Kiong. Terletak di desa Gudo, Jombang. Selain dikenal sebagai tempat ibadah Tridarma (Agama Taoisme, Budha, dan Konghucu) juga sebagai tempat berobat. Menariknya yang datang untuk berobat juga banyak yang dari kalangan pribumi. Setiap menjelang Tahun Baru Imlek, kelenteng ini mengadakan acara hajatan yang cukup meriah, seperti Wayang Potehi maupun Pagelaran Barongsay
- Gereja Mojowarno. Gereja Mojowarno merupakan gereja tertua di kawasan indonesia timur, serta dulunya pernah menjadi pusat salah satu aliran Kristen Protestan pada jaman Belanda. Setiap setahun sekali, gereja ini mengadakan Upacara Kebetan dan Unduh-unduh, yang sarat akan kultur lokal.
- Makam Gunung Kuncung. Terletak di lereng gunung, di Desa Wonorejo, Kecamatan Wonosalam; yakni di perbatasan dengan Kabupaten Kediri.
- Makam Pangeran Benowo. Makam ini terletak di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Wisata Sejarah " Sendang Made "
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Ritual kungkum (berendam) di Sendang Made merupakan ritual yang ditunggu oleh para sinden dan dalang. Pasalnya, ritual yang dihelat setiap setahun sekali tersebut diyakini sebagai acara penobatan bagi para sinden dan dalang serta sebagai ritual untuk obat awet muda.
Nuansa kesenian jawa sangat kental di lokasi Sendang Made, Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang pada Kamis siang. Suasana sakral dan khidmat mengiringi langkah para calon sinden dan dalang saat menuju kursi ritual yang disediakan.
Kedatangan 47 calon sinden dan 8 pedalangan ini disambut dengan suara gending jawa yang mendayu-dayu dan diikuti dengan tarian. Ritual Kum-kum di Sendang Drajat tersebut dipercaya dapat memberikan penglarisan bagi para calon sinden untuk mendapatkan order.
Saat proses wisuda berlangsung, muncul salah seorang tokoh desa yang mulai mengambil air dengan gayung. Ritual ini diyakini akan membuat para sinden dan dalang menjadi awet muda. Saat percikan air berkhasiat itu menyentuh kepala mereka, sejumlah pengharapan mulai diucapkan. Usai siraman, para sinden dan dalang ini mendapatkan penyematan dari tokoh yang memimpin proses wisuda.
Ritual mandi air Sendang Drajat juga diyakini dapat membuat suara sinden menjadi lebih merdu. Ritual yang diyakini sudah ada sejak zaman kerajaan Airlangga ini telah menelurkan berbagai mitos yang seakan-akan selalu menjadi kenyataan. “Ritual ini sangat bermanfaat, selain akan awet muda, kita (sinden) tidak akan pernah sepi order. Dan buktinya, sinden yang pernah mandi di sini, selalu tampak anggun," kata Eni Sulistyowati, perempuan asal Desa Katemas kecamatan Kudu Jombang.
“Yang ikut wisuda ini para calon sinden dan dalang,” jelas Liwon , sesepuh Desa Made. Pria berputra 3 ini mengatakan, ritual ini dihelat setiap setahun sekali dan sudah berlangsung selama 6 tahun. Para sinden dan dalang yang mengikuti proses wisuda tidak hanya berasal dari daerah di sekitar Sendang Made. “Tidak hanya dari daerah ini saja, dari daerah lain juga bisa ikut wisuda disini,” ungkap seniman ludruk sejak usia 12 tahun ini.
Ritual kung-kum di Sendang Made merupakan ritual untuk menyelamatkan dan melestarikan budaya jawa. Perkembangan zaman yang diikuti kemajuan teknologi dan informasi diyakini mulai menggerus eksistensi kesenian tradisional di masyarakat. “Budaya jawa sekarang sudah mulai terkikis oleh budaya zaman baru. Nah, acara ini merupakan langkah untuk melestarikan budaya jawa,” tandas Liwon.
Usai acara Wisuda sinden dan dalang, masyarakat Desa Made menggelar acara "Sedekah Desa". Dalam acara ini, masyarakat berduyun-duyun membawa tumpeng untuk acara selamatan di sekitar sendang drajat.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Kungkum Sinden, Tradisi Tahunan di Sendang Made
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sTradisi Tahunan di Sendang Made Mayoritas ABG, Dipercayai sebagai Tradisi Penambah Cantik Wajah Sinden Wisuda sinden setiap tahun digelar di Sendang Made, Kecamatan Kudu, Jombang. Tradisi kungkum sinden selain diyakini sebagai arena menambah daya tarik sinden, juga digelar untuk keselamatan warga DONNY ASMORO, Jombang ----------- WARNA semarak terasa menghipnotis Desa Made, Kecamatan Kudu, kemarin. Acara tahunan ''kungkum sinden'' kembali digelar di sendang setempat. Prosesi wisuda bagi para sinden ini masih memiliki pesona tersendiri bagi masyarakat. Hal ini nampak dari banyaknya warga yang hadir di lokasi sendang. Pada kesempatan itu, ada 43 sinden dan 8 dalang yang menanti diwisuda. Dari jumlah tersebut, mayoritas para 'calon' sinden masih berusia belasan tahun.
Bahkan beberapa masih duduk di bangku SD dan SMP. Hampir seluruhnya nampak antusias menyambut prosesi ini. Prosesi yang akan mengubah status mereka dari sinden yang belum diakui, menjadi seorang sinden sejati. Menjelang prosesi, sinden-sinden yang berdandan cantik ini berbaris menjadi dua saf. Mereka berjalan beriringan menuju ke areal sendang. Sendang Made sendiri sebenarnya terdiri dari tiga sendang. Salah satunya adalah sendang Derajat. Di sendang berukuran 6x5 meter inilah, para sinden diwisuda. Di sebuah pohon besar tepat di atas sendang Derajat, terdapat papan tulisan. Sendang Made, dibangun oleh RM Tjokro Dipoetro, tahun 1924, asisten wedono Koedoe. Supono, juru pelihara sendang Made mengatakan, prosesi ''kungkum sinden'' sebenarnya sudah ada sejak lama. Sendang ini dipercaya memiliki khasiat tersendiri. Salah satunya, membuat wajah seorang seniman, khususnya sinden, menjadi lebih cantik dan bersinar. Sejak dulu, para sinden banyak yang kungkum di sendang ini. Umumnya pada tengah malam, dan pada hari tertentu saja. ''Mereka (para sinden, Red) merendam seluruh badan di Sendang Derajat," ungkap Supono. Namun untuk prosesi ''kungkum sendang'' saat ini, para calon sinden tak harus berendam seluruh badan. Mereka hanya menjalani prosesi simbolis, dengan disiram air sendang di bagian kepalanya. Prosesi ini dilakukan oleh Supono, juru pelihara sendang, dan Sukesi S.Sn M.Sn, selaku dosen tamu dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Usai disiram air sendang, mereka disematkan selendang warna hijau, sebagai tanda telah 'resmi' menjadi sinden sejati. Prosesi ini dilakukan oleh Istri Bupati Jombang, Ny Wiwik Suyanto. Pada kesempatan yang sama, warga Desa Made juga menggelar ritual bersih desa. Setiap warga yang hadir, diwajibkan membawa tumpeng. Selain tumpeng sederhana dari para warga, dihadirkan pula dua tandu raksasa berbentuk pesawat terbang dan kupu-kupu. Di dalamnya juga terdapat puluhan tumpeng. Tumpeng-tumpeng ini lalu dijejer di atas karpet plastik yang telah disediakan. Seusai prosesi kungkum sinden, seluruh warga duduk di atas karpet tersebut untuk bersama-sama menyantap tumpeng yang ada. Kasi Pariwisata Parbupora Jombang, Ali Arifin mengungkapkan, gelaran ''kungkum sinden'' ini setidaknya sudah digelar sejak enam tahun terakhir. Biasanya dalam momen yang sama, warga setempat juga menggelar bersih desa. Bersih desa atau sedekah bumi ini dimaksudkan untuk menghindarkan desa dari segala mara bahaya dan musibah. ''Termasuk untuk keselamatan seluruh warga desa,"
Bahkan beberapa masih duduk di bangku SD dan SMP. Hampir seluruhnya nampak antusias menyambut prosesi ini. Prosesi yang akan mengubah status mereka dari sinden yang belum diakui, menjadi seorang sinden sejati. Menjelang prosesi, sinden-sinden yang berdandan cantik ini berbaris menjadi dua saf. Mereka berjalan beriringan menuju ke areal sendang. Sendang Made sendiri sebenarnya terdiri dari tiga sendang. Salah satunya adalah sendang Derajat. Di sendang berukuran 6x5 meter inilah, para sinden diwisuda. Di sebuah pohon besar tepat di atas sendang Derajat, terdapat papan tulisan. Sendang Made, dibangun oleh RM Tjokro Dipoetro, tahun 1924, asisten wedono Koedoe. Supono, juru pelihara sendang Made mengatakan, prosesi ''kungkum sinden'' sebenarnya sudah ada sejak lama. Sendang ini dipercaya memiliki khasiat tersendiri. Salah satunya, membuat wajah seorang seniman, khususnya sinden, menjadi lebih cantik dan bersinar. Sejak dulu, para sinden banyak yang kungkum di sendang ini. Umumnya pada tengah malam, dan pada hari tertentu saja. ''Mereka (para sinden, Red) merendam seluruh badan di Sendang Derajat," ungkap Supono. Namun untuk prosesi ''kungkum sendang'' saat ini, para calon sinden tak harus berendam seluruh badan. Mereka hanya menjalani prosesi simbolis, dengan disiram air sendang di bagian kepalanya. Prosesi ini dilakukan oleh Supono, juru pelihara sendang, dan Sukesi S.Sn M.Sn, selaku dosen tamu dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Usai disiram air sendang, mereka disematkan selendang warna hijau, sebagai tanda telah 'resmi' menjadi sinden sejati. Prosesi ini dilakukan oleh Istri Bupati Jombang, Ny Wiwik Suyanto. Pada kesempatan yang sama, warga Desa Made juga menggelar ritual bersih desa. Setiap warga yang hadir, diwajibkan membawa tumpeng. Selain tumpeng sederhana dari para warga, dihadirkan pula dua tandu raksasa berbentuk pesawat terbang dan kupu-kupu. Di dalamnya juga terdapat puluhan tumpeng. Tumpeng-tumpeng ini lalu dijejer di atas karpet plastik yang telah disediakan. Seusai prosesi kungkum sinden, seluruh warga duduk di atas karpet tersebut untuk bersama-sama menyantap tumpeng yang ada. Kasi Pariwisata Parbupora Jombang, Ali Arifin mengungkapkan, gelaran ''kungkum sinden'' ini setidaknya sudah digelar sejak enam tahun terakhir. Biasanya dalam momen yang sama, warga setempat juga menggelar bersih desa. Bersih desa atau sedekah bumi ini dimaksudkan untuk menghindarkan desa dari segala mara bahaya dan musibah. ''Termasuk untuk keselamatan seluruh warga desa,"
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Ritual Kum-kum Sinden di Sendang Made
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Ajang untuk Melestarikan Budaya Jawa
Ritual kungkum (berendam) di Sendang Made merupakan ritual yang ditunggu oleh para sinden dan dalang. Pasalnya, ritual yang dihelat setiap setahun sekali tersebut diyakini sebagai acara penobatan bagi para sinden dan dalang serta sebagai ritual untuk obat awet muda.
Nuansa kesenian jawa sangat kental di lokasi Sendang Made, Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang pada Kamis (20/11) siang. Suasana sakral dan khidmat mengiringi langkah para calon sinden dan dalang saat menuju kursi ritual yang disediakan.
Kedatangan 47 calon sinden dan 8 pedalangan ini disambut dengan suara gending jawa yang mendayu-dayu dan diikuti dengan tarian. Ritual Kum-kum di Sendang Drajat tersebut dipercaya dapat memberikan penglarisan bagi para calon sinden untuk mendapatkan order.
Saat proses wisuda berlangsung, muncul salah seorang tokoh desa yang mulai mengambil air dengan gayung. Ritual ini diyakini akan membuat para sinden dan dalang menjadi awet muda. Saat percikan air berkhasiat itu menyentuh kepala mereka, sejumlah pengharapan mulai diucapkan. Usai siraman, para sinden dan dalang ini mendapatkan penyematan dari tokoh yang memimpin proses wisuda.
Ritual mandi air Sendang Drajat juga diyakini dapat membuat suara sinden menjadi lebih merdu. Ritual yang diyakini sudah ada sejak zaman kerajaan Airlangga ini telah menelurkan berbagai mitos yang seakan-akan selalu menjadi kenyataan. “Ritual ini sangat bermanfaat, selain akan awet muda, kita (sinden) tidak akan pernah sepi order. Dan buktinya, sinden yang pernah mandi di sini, selalu tampak anggun," kata Eni Sulistyowati, perempuan asal Desa Katemas kecamatan Kudu Jombang.
“Yang ikut wisuda ini para calon sinden dan dalang,” jelas Liwon (61), sesepuh Desa Made. Pria berputra 3 ini mengatakan, ritual ini dihelat setiap setahun sekali dan sudah berlangsung selama 6 tahun. Para sinden dan dalang yang mengikuti proses wisuda tidak hanya berasal dari daerah di sekitar Sendang Made. “Tidak hanya dari daerah ini saja, dari daerah lain juga bisa ikut wisuda disini,” ungkap seniman ludruk sejak usia 12 tahun ini.
Ritual kung-kum di Sendang Made merupakan ritual untuk menyelamatkan dan melestarikan budaya jawa. Perkembangan zaman yang diikuti kemajuan teknologi dan informasi diyakini mulai menggerus eksistensi kesenian tradisional di masyarakat. “Budaya jawa sekarang sudah mulai terkikis oleh budaya zaman baru. Nah, acara ini merupakan langkah untuk melestarikan budaya jawa,” tandas Liwon.
Usai acara Wisuda sinden dan dalang, masyarakat Desa Made menggelar acara "Sedekah Desa". Dalam acara ini, masyarakat berduyun-duyun membawa tumpeng untuk acara selamatan di sekitar sendang drajat.
Kedatangan 47 calon sinden dan 8 pedalangan ini disambut dengan suara gending jawa yang mendayu-dayu dan diikuti dengan tarian. Ritual Kum-kum di Sendang Drajat tersebut dipercaya dapat memberikan penglarisan bagi para calon sinden untuk mendapatkan order.
Saat proses wisuda berlangsung, muncul salah seorang tokoh desa yang mulai mengambil air dengan gayung. Ritual ini diyakini akan membuat para sinden dan dalang menjadi awet muda. Saat percikan air berkhasiat itu menyentuh kepala mereka, sejumlah pengharapan mulai diucapkan. Usai siraman, para sinden dan dalang ini mendapatkan penyematan dari tokoh yang memimpin proses wisuda.
Ritual mandi air Sendang Drajat juga diyakini dapat membuat suara sinden menjadi lebih merdu. Ritual yang diyakini sudah ada sejak zaman kerajaan Airlangga ini telah menelurkan berbagai mitos yang seakan-akan selalu menjadi kenyataan. “Ritual ini sangat bermanfaat, selain akan awet muda, kita (sinden) tidak akan pernah sepi order. Dan buktinya, sinden yang pernah mandi di sini, selalu tampak anggun," kata Eni Sulistyowati, perempuan asal Desa Katemas kecamatan Kudu Jombang.
“Yang ikut wisuda ini para calon sinden dan dalang,” jelas Liwon (61), sesepuh Desa Made. Pria berputra 3 ini mengatakan, ritual ini dihelat setiap setahun sekali dan sudah berlangsung selama 6 tahun. Para sinden dan dalang yang mengikuti proses wisuda tidak hanya berasal dari daerah di sekitar Sendang Made. “Tidak hanya dari daerah ini saja, dari daerah lain juga bisa ikut wisuda disini,” ungkap seniman ludruk sejak usia 12 tahun ini.
Ritual kung-kum di Sendang Made merupakan ritual untuk menyelamatkan dan melestarikan budaya jawa. Perkembangan zaman yang diikuti kemajuan teknologi dan informasi diyakini mulai menggerus eksistensi kesenian tradisional di masyarakat. “Budaya jawa sekarang sudah mulai terkikis oleh budaya zaman baru. Nah, acara ini merupakan langkah untuk melestarikan budaya jawa,” tandas Liwon.
Usai acara Wisuda sinden dan dalang, masyarakat Desa Made menggelar acara "Sedekah Desa". Dalam acara ini, masyarakat berduyun-duyun membawa tumpeng untuk acara selamatan di sekitar sendang drajat.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Kungkum Sinden, Ritual Sejak Prabu Airlangga (18 Nopember 2010)
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Dengan berendam di Sendang Made, Kecamatan Kudu, Jombang, seorang sinden dipercaya akan awet muda serta mempunyai suara merdu. Tidak heran jika sekitar 50 pesinden mengikuti ritual kungkum di Sendang Made itu. Kok bisa?
Sebuah panggung ukuran sedang berdiri tengah-tengah halaman lumayan luas. Di atasnya, berjejer 37 sinden yang akan diwisuda. Mereka berdiri berjajar memakai pakaian khas sinden, yakni jarik dan kebaya berwarna merah. Dari wajah mereka terpancar raut wajah bahagia sekaligus cemas. “Grogi juga karena akan diwisuda,” kata Yayuk Asiati, salah satu sinden asal Desa Genengan Jasem Kecamatan Kabuh, Kamis (18/11/2010).
Suara gamelan mengalun di pelataran Sendang Made. Alunannya yang rancak semakin kompak dengan gerakan sejumlah penari tradisional yang berlenggak-lenggok. Tak lama berselang, sekitar 37 pesinden berjalan secara beriringan. Mereka diarak menuju sebuah telaga atau yang dikenal dengan Sendang Made.
Setelah memasuki area sendang, secara bergantian, satu per satu sinden melakukan siraman. Pada giliran pertama, siraman dilakukan oleh Asisten I Eksan Gunajati. Hingga, berlanjut pada anggota muspida lainnya.
Setiap siraman yang dilakukan oleh tokoh masyarakat tersebut dipercaya membawa sebuah pengharapan. Terlebih, bagi sinden itu sendiri, setiap siraman dipercaya dapat membuat suara sinden kian merdu. “Ya semoga laris ya,” kata Eksan ketika melakukan siraman.
Usai siraman, para sinden kembali di panggung. Setelah itu, sinden secara bergantian mendapat kalungan selendang berwarna hijau penanda gelar sinden secara resmi disematkan. Ketua PKK Jombang Wiwiek Suyanto didaulat mengalungkan selendang pada setiap sinden. Raut muka bahagia dan lega terpancar dari tiap wajah sinden.
Acara dilanjutkan dengan sedekah desa. Ratusan masyarakat yang telah berkumpul di halaman sendang, ternyata telah membawa bekal makanan yang dibungkus dalam baskom dan ditutup oleh selendang. Seorang sesepuh desa memberikan petuah-petuah saat acara dimulai. Sedekah desa ditutup dengan pembacaan doa. Setelah itu, bekal makanan dibuka dan dimakan bersama-sama oleh hadirin yang datang.
Nasrul Illahi, Kepala Seksi Kebudayaan, Disporabudpar Jombang, Kamis (18/11/2010), menceritakan, kungkum sinden merupakan tradisi yang sudah berjalan sejak zaman Raja Airlangga. Seorang perempuan yang akan menjadi sinden harus dimandikan terlebih dulu di sendang yang ada di Desa Made, Kecamatan Kudu tersebut. Harapannya, suara sinden itu nantinya bisa merdu seperti istri Prabu Airlangga.
Pria yang akrab disapa Cak Nas ini menjelaskan, makna dari kungkum sinden adalah upacara wisuda seorang sinden untuk terjun ke dunia seni tradisional. Dengan berendam di sendang tersebut, maka suara seseorang bisa merdu. Selain itu, katanya, aura sinden tersebut juga akan muncul.
sumber :http://www.beritajatim.com/detailnews.php/2/Gaya_Hidup/2010-11-18/84288/Kungkum_Sinden,_Ritual_Sejak_Prabu_Airlangga
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sekilas Tentang Sendang Made
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Obyek wisata alam yang berada di sebelah utara Kota Jombang ini memang sangat Indah nian. Sendang Made, bukan saja sebagai wisata air yang air sendangnya tak pernah kering sepanjan tahun. Namun juga pesona panorama alamnya menawan, sangat cocok sebagai sarana untuk melepas kejenuhan dalam keseharian bekerja. Obyek wisata alam ini, terletak di Desa Made, kecamatan Kudu, atau 20 Km arah Utarakota Jombang. Sendang Made, terletak di lereng pegunungan kendeng. Secara geografis memang strategis. sebagai tempat berlibur.
Bagi Anda yang suka berakrab-akraban dengan ikan, disendang itu banyak ikan bebas berkeliaran. Tak ada ketentuan yang mengikat, wisatawan bisa bergerak bebas menikmati keindahan alam yang masih perawan. Dengan catatan kita tidak boleh mengambil atau mengganggu ikan-ikan tersebut. Sebab Ikan-ikan penghuni sendang itu. Masyarakat setempat mempercayai K onon memiliki nilai magis, tersebut bergantung pad kondisi zaman. “Bila ikan kelihatan hanya sedikit tandanya zaman sulit, sebaliknya jika penampakan ikannya pertanda murah sandang pangan” kata penduduk setempat.
Wisatawan bisa berlama-Iama di sendang Made untuk mengusir kejenuhan kerja. Memasuki kawasan wsisata Sendang Made yang dikelilingi, pohon-pohon besar, para wisatawan akan disambut dengan hiburan paduan kicau burung. Suasananya memang betul-betul alami dan bersih banyak membutuhkan sentuhan penataan. Tanaman di sekitar sendang pun perlu konservasi, namun semua itu tidak mengurangi kenyamanan wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata tersebut. Sedikit sentuhan saja pada Obyek wisata alam Sendang Made ini sudah bisa menjadi tujuan wisata yang sangat menjanjikan.
Pada hari-hari libur terutama hari raya Idul Fitri atau tahun baru, sendang Made selalu menjadi ajang pagelaran show dangdut. Yang selalu dibanjiri penonton. Lebih-lebih bila pada waktu penyelenggaraan show bersamaan dengan waktu panen tembakau, dipastikan pagelaran akan sukses. Adayang datang dari Mojokerto, Lamongan, Babat, Gresik dan Jombang sekitamya
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Pintere Wong Jawa ana ing tembung Kerata Basa
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Aku pengen ngelingke kanca-kanca kabeh bab iki. Miturut ilmu bahasa, ana tembung kang dadi tembung amarga bunyi utawa suarane kang krungu, lan artine. contone tekek, jenenge tekek mergo suarane tekek..tekekk.. Tas kresek, mergo suarane kresek-kresek, lan sak panunggalane. Wong jawa malah luwih cerdas maneh ngartike tembung iku kanthi ngawur, sak-sake, nanging pas banget karo artine tembung kuwi. contone wong jawa ora ngomong “nasi”, nanging sega, amarga sega kuwi mbeseSEG dan marakke leGA.
Conto liyane:
gedhang : digeget sakbubare madhang,
kerikil : keri nang sikil
malah ana ing teknologi, wong jawa uga nggawe kerata basane, contone :
Sepeda : asepe tidak ada
Sepur :asepe metu ndhuwur
Ana maneh conto kang ana hubungane karo masalah agama:
ndilalah : Adiling gusti Allah
Ndelalah: ngandel marang Allah (percaya marang Tuhan)
Ana uga plesetan-plesetan kang ana di-kerata basa-ke:
Garwo : sigaraning nyawa (asline), njur diplesetke dadi “ketemune barang sigar karo barang dowo
kerikil : keri nang sikil, njur ana sing takon, “lha yen keripik”??… keri-keri ning…..(ning apik..)
conto liyane yaiku :
Bapak = bab apa-apa pepak (pepak kawruh lan pengalaman)
Batur = embat-embataning tutur
Bocah = mangane kaya kebo, pagaweane ora kecacah
Brekat = mak breg diangkat
Cangkir = dianggo nyancang pikir
Cengkir = kencenging pikir
Copet = ngaco karo mepet-mepet
Denawa = ngeden hawa (nguja hawa napsu)
Desember= gedhe-gedhene sumber
Garwa = sigaraning nyawa
Gedhang = digeget leh bar madhang
Gethuk = yen digeget karo manthuk-manthuk
Gerang = segere wis arang
Guru = digugu lan ditiru
Gusti = bagusing ati
Kaji = tekade siji (ngantebi panembahe marang Gusti Allah)
Kathok = diangkat sithok-sithok
Kodhok = teka-teka ndhodhok
Kutang = sikute diutang
Krikil = keri ing sikil
Kuping = kaku njepiping
Kupluk = kaku tur nyempluk
Kursi = yen diungkurake banjur isi
Ludruk = gulune gela-gelo, sikile gedrag-gedrug
Maling = njupuk amale wong sing ora eling
Mantu = dieman-eman meksa metu
Perawan = yen pepara (lelungan) kudu wayah awan
Saru = kasar tur kleru
Sekuter = sambi sedheku mlaku banter
Sepuh = sabdane ampuh
Simah = isining omah
Sirah = isining rah
Siti = isi bulu bekti
Sopir = yen ngaso mampir (ing warung)
Sruwal = saru yen nganti uwal
Tandur = nata karo mundur
Tapa = tatane kaya wong papa
Tarub = ditata supaya katon murub (asri)
Tayub = ditata supaya katon guyub
Tebu = antebing kalbu
Tepas = titip napas
Tuwa = ngenteni metune nyawa ; untune wia rowa
Wanita = wani ing tata
Wedang = dianggo gawe kadang
Weteng = ruwet tur peteng
Nha, kowe kabeh uga bisa nggawe seko ukara lan tembung-tembungmu dhewe..
Ayo nggawe sakkarepmu dhewe.. guyon maton lan guyon waton.. bebas nang kene… sumangga..
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Arane Godhong-godhongan lan Kembang
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Jaman saiki wis arang anggone awake dhewe nganggo tembung-tembung iki. Simbahku putri wae sing atase wong kuna tur ndesa ya wis lali. Tambah pikun sisan haha
Godhong-godhongan
Godhong Asem : Sinom
Godhong Aren : Dliring
Godhong Cocor bebek : Tiba urip
Godhong Dhadhap : Tawa
Godhong Gebang : Kajang
Godhong Gedhang enom : Pupus
Godhong Gedhang tuwa : Ujungan
Godhong Gedhang garing : Klaras
Godhong Jati : Jompong
Godhong Jambe : Dedel/Pracat
Godhong Jarak : Bledheg
Godhong Kates : Gampleng
Godhong Kluwih : Kleyang
Godhong Kacang brol : Rendheng
Godhong Kacang lanjaran : Lembayung
Godhong Kelor : Sewu
Godhong Krambil enom : Janur
Godhong Krambil tuwa : Blarak
Godhong Lombok : Sabrang
Godhong Lempuyang : lirih
Godhong Mlinjo : So
Godhong Pring : Elarmanyura
Godhong Pari : Damen
Godhong Randhu : Baladhewa
Godhong Siwalan : Lontar
Godhong Tela : Jlegor
Godhong Tales : Lumbu
Godhong Turi : Pethuk
Godhong Tebu teles : Momol
Godhong Tebu garing : Rapak
Godhong Waluh : Lomah lamah
Kembang
Kembang Aren : Dangu
Kembang Blimbing : Maya
Kembang Cubung : Torong
Kembang Cengkeh : Polong
Kembang Duren : Dlongop
Kembang Dhadhap : Celung
Kembang Garut : Grameng
Kembang Gori : Angkup
Kembang Ganyong : Puspanyidra
Kembang Gembili : Seneng
Kembang Gedhang : Ontong/Tuntut
Kembang Jambe : Mayang
Kembang Jati : Janggleng
Kembang Jagung : Jeprak/Sinuwun
Kembang Jambu : Karuk
Kembang Jarak : Juwis
Kembang Kopi : Blanggreng
Kembang Kacang : Besengut
Kembang Kara : Kepek
Kembang Kencur : Sedhet
Kembang Kanthil : Gadhing
Kembang Kelor : Limaran
Kembang Kapas : Kadi
Kembang Kecipir : Cethethet
Kembang Kluwih : Onthel
Kembang Krokot : Naknik
Kembang Krambil : Manggar
Kembang Lombok : Menik
Kembang Lamtoro : Jedhidhing
Kembang Mlinjo : Kroto
Kembang Nangka : Babal
Kembang Pete : Pendul
Kembang Pandhan : Pundhak
Kembang Pace : Nyreweteh
Kembang Pring : Krosak
Kembang Pohong : Ingklik
Kembang Randhu : Karuk
Kembang Salak : Ketheker
Kembang Suruh : Drenges
Kembang Tales : Pancal
Kembang Tebu : Gleges
Kembang Timun : Montro
Godhong-godhongan
Godhong Asem : Sinom
Godhong Aren : Dliring
Godhong Cocor bebek : Tiba urip
Godhong Dhadhap : Tawa
Godhong Gebang : Kajang
Godhong Gedhang enom : Pupus
Godhong Gedhang tuwa : Ujungan
Godhong Gedhang garing : Klaras
Godhong Jati : Jompong
Godhong Jambe : Dedel/Pracat
Godhong Jarak : Bledheg
Godhong Kates : Gampleng
Godhong Kluwih : Kleyang
Godhong Kacang brol : Rendheng
Godhong Kacang lanjaran : Lembayung
Godhong Kelor : Sewu
Godhong Krambil enom : Janur
Godhong Krambil tuwa : Blarak
Godhong Lombok : Sabrang
Godhong Lempuyang : lirih
Godhong Mlinjo : So
Godhong Pring : Elarmanyura
Godhong Pari : Damen
Godhong Randhu : Baladhewa
Godhong Siwalan : Lontar
Godhong Tela : Jlegor
Godhong Tales : Lumbu
Godhong Turi : Pethuk
Godhong Tebu teles : Momol
Godhong Tebu garing : Rapak
Godhong Waluh : Lomah lamah
Kembang
Kembang Aren : Dangu
Kembang Blimbing : Maya
Kembang Cubung : Torong
Kembang Cengkeh : Polong
Kembang Duren : Dlongop
Kembang Dhadhap : Celung
Kembang Garut : Grameng
Kembang Gori : Angkup
Kembang Ganyong : Puspanyidra
Kembang Gembili : Seneng
Kembang Gedhang : Ontong/Tuntut
Kembang Jambe : Mayang
Kembang Jati : Janggleng
Kembang Jagung : Jeprak/Sinuwun
Kembang Jambu : Karuk
Kembang Jarak : Juwis
Kembang Kopi : Blanggreng
Kembang Kacang : Besengut
Kembang Kara : Kepek
Kembang Kencur : Sedhet
Kembang Kanthil : Gadhing
Kembang Kelor : Limaran
Kembang Kapas : Kadi
Kembang Kecipir : Cethethet
Kembang Kluwih : Onthel
Kembang Krokot : Naknik
Kembang Krambil : Manggar
Kembang Lombok : Menik
Kembang Lamtoro : Jedhidhing
Kembang Mlinjo : Kroto
Kembang Nangka : Babal
Kembang Pete : Pendul
Kembang Pandhan : Pundhak
Kembang Pace : Nyreweteh
Kembang Pring : Krosak
Kembang Pohong : Ingklik
Kembang Randhu : Karuk
Kembang Salak : Ketheker
Kembang Suruh : Drenges
Kembang Tales : Pancal
Kembang Tebu : Gleges
Kembang Timun : Montro
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Arane Anak Kewan
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Lumayan to nggo tambah kosakata pisuhan ora gur “asu”, “wedhus”, nanging iso misuh nganggo tembung liya; kayata: “nener!”, “wo lha.. cendhet!”
Anak Asu : Kirik
Anak Ayam : Kuthuk
Anak Angkrang : Kroto
Anak Bandheng : Nener
Anak Bantheng : Cendhet
Anak Babi : Gambluk
Anak Baya : Rete
Anak Banyak : Blegur
Anak Bebek : Meri
Anak Bulus : Kethul
Anak Cecak : Sawiyah
Anak Celeng : Genjik
Anak Cacing : Lur
Anak Coro : Mendhet
Anak Dara : Piyik
Anak Emprit : Indhil
Anak Gajah : Bledhug
Anak Garangan : Rase
Anak Gangsir : Clondo
Anak Gagak : Engkak
Anak Gemak : Drigul
Anak Gundhik : Rayap
Anak Iwak : Beyong
Anak Jaran : Belo
Anak Jangkrik : Gendholo
Anak Kancil : Kenthi
Anak Kadal : Tobil
Anak Kebo : Gudel
Anak Kemangga : Ceriwi
Anak Kethek : Munyuk
Anak Konang : Endrak
Anak Kodok : Precil
Anak Kucing : Cemeng
Anak Kutuk : Kotesan
Anak Lawa : Kampret
Anak Laler : Singgat
Anak Lamuk : Jenthik
Anak Lele : Jabrisan
Anak Luwing : Gonggo
Anak Lutung : Kenyung
Anak Luwak : Kuwuk
Anak Manuk : Piyik
Anak Macan : Gogor
Anak Merak : Uncung
Anak Menjangan : Kompreng
Anak Menthok : Minthi
Anak Sapi : Pedhet
Anak Singa : Dibal
Anak Tawon : Gana
Anak Tambra : Bokol
Anak Tekek : Celoto
Anak Tikus : Cindhil
Anak Tongkol : Cengkik
Anak Tuma : Kor
Anak Urang : Grago
Anak Ula : Kisi
Anak Walang : Dhogol
Anak Wedhus : Cempe
Anak Welut : Udhet
Anak Yuyu : Beyes
Anak Asu : Kirik
Anak Ayam : Kuthuk
Anak Angkrang : Kroto
Anak Bandheng : Nener
Anak Bantheng : Cendhet
Anak Babi : Gambluk
Anak Baya : Rete
Anak Banyak : Blegur
Anak Bebek : Meri
Anak Bulus : Kethul
Anak Cecak : Sawiyah
Anak Celeng : Genjik
Anak Cacing : Lur
Anak Coro : Mendhet
Anak Dara : Piyik
Anak Emprit : Indhil
Anak Gajah : Bledhug
Anak Garangan : Rase
Anak Gangsir : Clondo
Anak Gagak : Engkak
Anak Gemak : Drigul
Anak Gundhik : Rayap
Anak Iwak : Beyong
Anak Jaran : Belo
Anak Jangkrik : Gendholo
Anak Kancil : Kenthi
Anak Kadal : Tobil
Anak Kebo : Gudel
Anak Kemangga : Ceriwi
Anak Kethek : Munyuk
Anak Konang : Endrak
Anak Kodok : Precil
Anak Kucing : Cemeng
Anak Kutuk : Kotesan
Anak Lawa : Kampret
Anak Laler : Singgat
Anak Lamuk : Jenthik
Anak Lele : Jabrisan
Anak Luwing : Gonggo
Anak Lutung : Kenyung
Anak Luwak : Kuwuk
Anak Manuk : Piyik
Anak Macan : Gogor
Anak Merak : Uncung
Anak Menjangan : Kompreng
Anak Menthok : Minthi
Anak Sapi : Pedhet
Anak Singa : Dibal
Anak Tawon : Gana
Anak Tambra : Bokol
Anak Tekek : Celoto
Anak Tikus : Cindhil
Anak Tongkol : Cengkik
Anak Tuma : Kor
Anak Urang : Grago
Anak Ula : Kisi
Anak Walang : Dhogol
Anak Wedhus : Cempe
Anak Welut : Udhet
Anak Yuyu : Beyes
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Percaya Diri dengan Bahasa Jawa.....!!!
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Ayo Percaya Diri dengan Bahasa Jawa!!!
Basa jawa kuwi sawijining basa sing adiluhung ana ing ndonya. Kalebu basa sing paling angel dipelajari dening wong sak liyane wong jawa. Aku tau maca ana ing sawijining artikel nang internet, basa kang paling angel dipelajari kuwi jarene basa rusia, basa arab, karo basa jawa. Basa jawa angel amarga tingkatan bahasane akeh. Ana ngoko, ngoko kasar, ngoko alus, krama, krama madya, krama inggil, lan krama kadaton. Malah guruku ngaji tau ngomong, basa arab kuwi luwih pas diartekne nang basa jawa tinimbang nang basa Indonesia, amarga akehing kosakata ana ing basa jawa. Conto gampange coba artekna basa jawa “kunduran truk”… Kunduran ora ana basa Indonesiane to??
Ana aturan utawa tata kramaning pangucapan basa jawa. Contone, ngomong karo wong sing luwih sepuh kudu nganggo basa krama inggil. Nanging wektu mbasakke awake dhewe, ora entuk nggo basa krama inggil, contone “Kula badhe dhahar”, utawa “kula badhe siram”.. Kuwi salah lan kowe mesthi digeguyu yen ngomong kaya ngono karo wong tuwa-tuwa. Yen arep mbasake awake dhewe kudu nganggo krama madya wae, contone “kula badhe nedhi/nedha”, lan “kula badhe adus”.. Akeh bocah-bocah jaman saiki sing ora ngerti bab iki.
Kamus Popular Bahasa Inggris – Jawa
kagem kanca-kanca ingkang badhe tindak luar negeri, mbok menawi bingung mbasa-aken pisuhan lan basa liyane, menika wonten sekedhik kamus ingkang saged mbiyantu panjenengan sami.. mugia manfaat
1. yes mother don't do that: Yo mbok ojo ngono..
2. your head = enDhas mu..
3. your eyes = Matamu…
2. your head = enDhas mu..
3. your eyes = Matamu…
4. your bald head = GUNDUL MU !!
5. your knees falling down = Dengkulmu anjlog !!
6. your bellybutton on fire = Udhelmu kobong !!
7. your auntie’s money = duwite mbokdemu tah ?
8. your grandfather money = Duwite mBahmu !!
9. your auntie teach you about that? = mbokdemu sing ngajari yoo??
10.your mother goalkeeper = makmu kiper …
11.like that yes like that but don’t be like that = ngono yo ngono ning ojo
ngono
12. my body is not delicious today = awakku lagi gak enak.
13.your face far away = raimu adoh (muke lu jauh!!)
14.your lips = lambemu
5. your knees falling down = Dengkulmu anjlog !!
6. your bellybutton on fire = Udhelmu kobong !!
7. your auntie’s money = duwite mbokdemu tah ?
8. your grandfather money = Duwite mBahmu !!
9. your auntie teach you about that? = mbokdemu sing ngajari yoo??
10.your mother goalkeeper = makmu kiper …
11.like that yes like that but don’t be like that = ngono yo ngono ning ojo
ngono
12. my body is not delicious today = awakku lagi gak enak.
13.your face far away = raimu adoh (muke lu jauh!!)
14.your lips = lambemu
Tembung sanesipun ingkang umum:
a. your bellybutton turn up = udelmu bodong
b. your head smell gum benzoin = nDhasmu mambu menyan
c. cricket !!! = jangkrik/diancuk
d. your head was blown = ndasmu njeblug
e. your eyes blind = matamu picek
f. wanna eat your head = Tak kletak ndasmu !
a. your bellybutton turn up = udelmu bodong
b. your head smell gum benzoin = nDhasmu mambu menyan
c. cricket !!! = jangkrik/diancuk
d. your head was blown = ndasmu njeblug
e. your eyes blind = matamu picek
f. wanna eat your head = Tak kletak ndasmu !
Matur Nuwun…
menawi wonten tambahan, sumangga dipun komen…
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Wednesday, March 19, 2014
Ruh Islam Dalam Wayang - Punakawan
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop

Dengan metode komunikasi massa yang brilian, cerita wayang khususnya
wayang kulit disusupi, diubah dan dikembangkan oleh para wali
sedemikian rupa sehingga bernafaskan Islam.
Pusaka terhebat dalam kisah pewayangan adalah Jamus Kalimasada
atau Dua Kalimat Syahadat.
Empat pendamping atau punakawan para ksatria yang amat sakti,
diberi penafsiran baru dari bahasa Arab yang mengandung makna filosofis tinggi, yaitu:

1. Semar, berasal dari bahasa Arab simaar yang berarti paku.
Ini dimaksudkan bahwa kebenaran agama Islam kokoh, kuat, sejahtera
bagaikan paku yang sudah kokoh tertancap, simaaroddunyaa.

2. Petruk, dari kata fat-ruk artinya tinggalkanlah. Fat-ruk kullu man siiwalloohi,
tinggalkanlah segala apa yang selain Alloh.

3. Gareng, dari kata naa la qorii.
Nala Gareng dimaksudkan mencari kawan sebanyak banyaknya.
Kembangkanlah silaturahmi dan dakwah.

4. Bagong, dari kata baghoo artinya lacut atau berontak, yaitu keberanian untuk
memberontak terhadap segala sesuatu yang salah dan zholim.
Sementara itu kata dalang, yaitu tokoh yang memainkan cerita dan wayang
juga diberi makna yang berasal dari bahasa Arab dalla,
artinya menunjukkan ke jalan yang benar.
Man dalla alal khoyr ka fa ‘ilayhi yaitu barang siapa bersedia menunjukkan
kepada jalan yang benar atau ke arah kebajikan, maka pahalanya seperti orang
yang berbuat kebajikan itu sendiri (Hadis Bukhori).
Dengan ruh keislaman antara lain seperti gambaran di atas, kemudian dikarang
cerita wayang khusus untuk berdakwah yang tidak ditemukan dalam babon induknya
dari India yaitu Mahabarata dan Ramayana.
Cerita-cerita khas dakwah itu antara lain Dewa Ruci (pelajaran tentang tarekat dan hakikat),
Jimat Kalimasada, Petruk Jadi Ratu, Pandu Pragola,
Semar Ambarang Jantur dan Mustaka Weni.
Dengan cerita-cerita tersebut para dalang, pada mulanya adalah Sunan Kudus
dan Sunan Kalijaga dua dari wali sembilan, dengan mengenakan baju model baru
yang disebut baju taqwa yang kita kenal dan pakai sampai sekarang,
disertai para penabuh gamelan berdakwah keliling pulau Jawa.
Yang sangat istimewa, selama memainkan wayang, jika malam hari berlangsung
tanpa henti dari segera sehabis Isya sampai menjelang Subuh, mereka harus senantiasa
dalam keadaan berwudhu, tidak boleh menanggung hadas.
Sumber : http://www.kurniafm.com/
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sejarah Kebo Kicak
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop

Bagi si penelurus cerita rakyat, cerita kuno Kebokicak yang
telah berkembang menjadi cerita tutur di wilayah Jombang bukanlah
perkara gampang untuk dibabar-tuliskan. Satu sisi “sang cerita” telah
menempat terutama pada ingatan orang-orang sepuh, dan hal itu sangat
memungkinkan untuk terceritakan kembali pada orang lain, pada generasi
selanjutnya. Satu kesulitan lain adalah cerita tersebut hingga saat ini
tak tertuliskan, atau seandainya sudah ada yang menuliskannya, kita
belum mengetahuinya. Artinya dalam konteks filologis adakah manuskrip
ihwal cerita Kebokicak nyata-nyata tertemukan dan memiliki jarak masa
tertentu sebagaimana yang secara akademis memenuhi persyaratan sebagai
sumber keilmuan yang otentik dan akurat, misalnya naskah tersebut telah
diserat oleh seorang pujangga di masa lampau, mungkin masanya bisa
seratusan tahun silam, dan karenanya jika memang itu ada dapatlah
dijadikan rujukan.
Maka yang fiksi dan yang fakta atas nama sebuah cerita, untuk
sementara, kita posisikan dulu cerita Kebokicak itu di tengah-tengahnya.
Boleh jadi cerita ini adalah dongeng, dan dongeng merupakan jalinan
pengisahan dari masa ke masa yang berfungsi sebagai klangenan atau
penandaan dari ritus sosial dan muasal lokus yang melatarinya.
Terkait itu, satu gerakan literasi dalam bentuk pelacakan cerita
Kebokicak yang dilakukan mahasiswa STKIP PGRI Jombang angkatan 2007,
jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, patut diapresiasi. Mereka melakukan
penelusuran ke berbagai narasumber di Jombang, untuk selanjutnya
dibukukan dengan judul Kebokicak Karang Kejambon (Saduran Cerita Rakyat Jombang).
Ada 13 versi cerita Kebokicak di sini yang tidak mengisahkan secara keseluruhan, namun dalam bentuk fragmen atau petilan:
1. Kebokicak Karang Kejambon
(Versi Ketoprak). Narasumber: Ki Waras, usia 56 tahun, pimpinan
ketoprak dan campursari dari Kedung Doro, Kecamatan Tembelang.
2. Hitam Tidak Menutup Putih
(Kemenangan Surontanu), narasumber: Mohammad Kosim, 80 tahun, pemain
ketoprak dari Dusun Tengaran RT 1/RW 1, Desa Tengaran, Kecamatan
Peterongan.
3. Desa Randu Watang. Narasumber: Ponari, 58 tahun, tokoh masyarakat dari Dusun Dero, Desa Kedung Betik, Kecamatan Kesamben.
4. Mati Satu, Harus Mati Semua
(Mukti Siji Mukti Kabeh). Narasumber: Ki Harya Yahmad Hadi Pranoto, 58
tahun, seorang dukun dari Desa Brangkal, Kecamatan Bandar Kedung Mulyo.
5. Relikui Kebokicak Mosaik Jombang. Narasumber: Pariyadi, 64
tahun, seniman ludruk dari Gudo, dan Mbah Nur, 66 tahun, seorang guru
spiritual dan pemuka agama Hindu dari Jl. Kandangan 24, Dusun Ngepeh,
Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro.
6. Telatah Surontanu. Narasumber: Purwito, 57 tahun, ia mengaku sebagai keturunan ke-4 Surontanu yang tinggal di Dusun Sumonyono, Desa Cukir.
7. Joko Tulus (Kebokicak Karang Kejambon). Narasumber: Sukono, 58 tahun, Jl. Mojoanyar Gang 7, Bareng.
8. Banteng Tracak Kencana. Narasumber: Jamadi, 80 tahun, Desa Sumber Nangka, Kecamatan Tunggorono.
9. Legenda Jombang
(Pertarungan Kebokicak Surontanu). Narasumber: Ngaidi Wibowo, 63 tahun,
lahir 10 Oktober 1947, Desa Dukuh Klopo, Kecamatan Peterongan.
10. Kebokicak Karang Kejambon.
11. Napak Tilas Joko Tulus. Narasumber: Abdul Hafidz, 80 tahun, tokoh masyarakat Dapur Kejambon, Kecamatan Jombang.
12. Perebutan Kidang Tracak Kencana.
Narasumber: Katijan, 70 tahun, ia adalah seorang dalang, guru karawitan
dan guru sinden, tinggal di Jombatan Blok O No. 19, Kecamatan Jombang.
13. Dewi Mangurin dan Joko Tulus. Narasumber: Saleh, 81 tahun, di Desa Dapur Kejambon, Kecamatan Jombang.
Dari semua petilan cerita Kebokicak di dalam buku tersebut
menghadirkan corak yang berbeda-beda. Ada beberapa yang singkron. Ada
juga yang untuk sementara perlu diperjelas manakah pakem atau cerita
baku dari keseluruhan cerita Kebokicak. Sebab tak ada otoritas yang bisa
dikatakan ini yang sah atau pun itu yang pakem dari kisah Kebokicak
ini. Kiranya perlu pula upaya penulisan cerita ini terus dieksplorasi
lebih dalam, konprehensif, dan bagaimana memilih informan yang
benar-benar tepat yang selanjutnya data-data wawancara tersebut paling
tidak mendekati pada semacam keselarasan dan “satu arus” yang merujuk
pada kisahan Kebokicak yang akurat dan yang sebenarnya. Ini menjadi
penting untuk pengembangan penelitian ke depan.
Jika merujuk pada penelitian skripsi yang dilakukan oleh Puspita Indriani, mahasiwa Unesa, dengan judul Pengaruh Cerita Rakyat Kebokicak Karang Kejambon Terhadap Masyarakat Pendukungnya
(2003), menyebutkan bahwa versi cerita Kebokicak dibagi menjadi dua.
Pertama versi abangan, dan yang kedua versi santri. Versi pertama
menitik-beratkan pada masa kerajaan Majapahit saat rajanya adalah
Brawijaya V. Yang kedua, versi santri yang menyiratkan masa Brawijaya V
juga, namun anasir pesantren di daerah yang kini disebut Tebuireng itu
dimunculkan dan menjadi lokus sentral.
Selain kita bisa membaca dan menilai dari 13 cerita tersebut, saya
ingin melongok sisi lain dalam versi santri serta selubung silsilahnya
dan cerita Kebokicak yang sudah pernah ditulis dalam bahasa Jombangan
(ludrukan) oleh tokoh ludruk Jombang, Ngaidi Wibowo.
Pada kisaran akhir 2008, saya melakukan wawancara
perihal cerita Kebokicak dengan Kiai Hafidz dari Dapur Kejambon. Tuturan
kiai ini saya susun demikian:
Tersebutlah sosok yang bernama Ki Nur Khotib, ia adalah menantu
Kebokicak yang kala itu menjadi demang Karang Kejambon, yang ditunjuk
oleh kerajaan Majapahit. Istri Ki Nur Khotib adalah putri Kebokicak,
namanya Wandan Manguri. Wandan Manguri ini merupakan cucu dari Brawijaya
V dari istri Wandan Kuning. Wandan Kuning memiliki 2 anak. Yang pertama
yakni Raden Bondan Kejawan atau Lembu Peteng. Yang kedua adalah Wandan
Wangi. Semenjak Wandan Kuning mengandung jabang bayi berupa Wandan
Wangi, Brawijaya V sebagai suaminya menyerahkan istrinya tersebut kepada
Mbah Pranggan di daerah Karang Kejambon. Ketika Wandan Wangi dewasa
dikawinkanlah ia dengan Demang Kebokicak. Maka, Kebokicak merupakan
menantu dari Brawijaya V. Mbah Pranggan adalah bapak tiri Wandan Wangi,
dan Kebokicak adalah mantu tirinya (silsilah ini atas anjuran Kiai
Hafidz perlu ditaskhihkan kepada Kiai Jamal di Ponpes Al-Mihibbin Tambak
Beras Jombang, di mana beliau dianggap memiliki rekam-jejak yang baik
terkait itu).
Kiai Muchtar konon berasal dari Banyuarang, Ngoro. Ia memiliki
putra bernama Kiai Nur Khotib. Kiai Nur Khotib kemudian berhijrah ke
Gembong Lekok, Pasuruan, dan dimakamkan di sana. Ia memiliki 2 putra:
pertama Mbah Suropati atau Mbah Angklung. Yang kedua adalah Mbah Ali.
Mbah Ali memiliki putri bernama Rubaniyah yang diperistri oleh santri
pondok pesantren Mimbar dari Sambong yang bernama Nuruddin asal Sendang
Duwur, Lamongan. Nuruddin dimakamkan di Desa Banggle, dan nama makamnya
dikenal dengan sebutan Makam Mbah Surgi. Putra kedua Mbah Ali adalah
Kiai Umar di Kapos. Mbah Ali wafat di Mekah sewaktu menjalankan ibadah
haji bersama 4 putranya. Pulang dari Mekah tinggal 3 orang anak: Mbah
Kiai Zen, Mbah Kiai Idris, dan Mbah Kiai Abdullah. Kiai Ali konon
merupakan syekh pertama dari Jawa Timur. Menurut cerita tersebar, putra
Kiai Umar adalah Kiai Farhan, dan Kiai Farhan adalah kakek Kiai Hafidz.
Baiklah, sekarang, saya coba memasuki cerita Kebokicak
dari versi ludruk yang pernah dipentaskan dan disutradarai oleh Kiai
Farhan, Pak Ngaidi Wibowo, dan beberapa sutradara ludruk lainnya pada
tahun 1970-an. Pada pengujung 2008, saya melakukan wawancara untuk
penulisan Sejarah Ludruk Jombang, saya menyambangi Carik Karsono di
Dusun Jalinan. Ia adalah tokoh gaek Ludruk Kopasgat yang pernah jaya di
tahun 1980-an. Sudah lama ia meludruk bahkan sebelum Gestok 1965. Ketika
itu ia sempat bercerita sekelumit tentang lakon Kebokicak yang pernah
diludrukkan. Pada dan dari orang lain, adalah Agus Gundul, ia tak lain
adalah putra Carik Karsono. Pada malam yang sama, setelah saya tak bisa
secara lengkap mewawancarai Carik Karsono karena sesuatu hal, maka saya
teruskan ngobrol “saut manuk” (tentang apa saja) dengan Agus Gundul. Ia
menceritakan bahwa bapaknya memiliki manuskrip Kebokicak atau sebut saja
serat Kebokicak. Nama penyeratnya tidak diketahui. Carik Karsono tidak
pernah menunjukkan padanya, hanya menceritakannya. “Serat” itu
dianggapnya gaib, karena kadang muncul, kadang menghilang sendiri. Jadi,
ada kesan klenik dari potongan cerita ini. Tapi abaikan saja untuk
sementara.
Mari kita tengok apa yang ditulis Ngaidi Wibowo sebagai sutradara
ludruk yang menurutnya pernah sampai 2 atau 3 kali mementaskan lakon
Kebokicak dan ternyata berhasil. Mitos membuktikan, bahwa ada beberapa
grup ludruk yang tidak mencukupi syarat-syarat sesajen saat
memanggungkan lakon Kebokicak, maka terkenalah mereka bala atau bencana.
Jelas tanggapan ludrukannya bubrah, karena ada 1 atau 2 penonton atau
pemainnya yang kerasukan entah oleh dedemit atau arwah Kebokicak.
Nah, Pak Ngaidi ini kira-kira mulai menulis sekitar tahun 2000-an.
Terbilang sangat jarang orang ludruk mampu meluangkan waktu untuk
menulis, selain rendahnya tingkat pendidikan mereka. Cerita Kebokicak
yang ditulisnya tersebut terdiri dari 31 adegan. Adegan di sini
dimaksudkan sebagai tulisan lakon ludruk yang dinarasikan, bukan yang
telah dihafal terutama maupun oleh para pemainnya, yang kemudian antar
pemain ini sudah tahu spelan (urutan dialog apa dan dengan siapa)-nya. Saya cuplikkan 2 adegan dari naskah Pak Ngaidi:
Adegan I
Amiluhur Lembu Peteng nrimo wisik soko Hang Murbeng Dumadi. Sak
gugure Tumenggung Surono ilang ono Brantas Mojopait perbatasan Kediri.
Koyo-koyo Mojopait sisih kulon kocak lan goncang. Akeh poro penduduk
sing podo wedi lan ngungsi. Lan wisik sing ditrimo Lembu Peteng iku
nyoto tur bener, ning nyatane sak wetane Brantas Mojopait ono sorot
utowo ndaru rutuh kang warnane ijo lan abang tumibo ono alas Mojopait
kang sisih kulon. Mulo Gusti Lembu Peteng nugasno lan mertopo ono nggone
ndaru kang tumibo ono ing kunu.
Adegan 19
Ladang. Surontanu bebedak bawa Banteng Tracak Kencono ono
alas kidul wilayah Mojopait ing kunu ketemu Kebokicak sing dikawal poro
prajurit Mojopait. Terus Kebokicak ndangu adine Surontanu Adiku Di
Surontanu suweh anggonku ngupadi marang kuwe Di sak metune soko dempokan
aku kaprentah Bopo Guru Sopoyono toleki kuwe Di mung butue aku diutus
nyuwun utowo njaluk ameng-amengmu yo Banteng Tracak Kencono minongko
kanggo kekah lan digawe tumbal ono Dempok Cukir yo Tebuireng.
Critane ganti. Surontanu nyambung. Kakangmas Kebokicak
kulo mboten bakal mulungaken Banteng Tracak Kencono ten sinten kemawon
senajan toh Bopo Guru piambak engkang nyuwun. Sebab kulo sampun sumpah
kaliyan Banteng Tracak Kencono mati Surontanu mati Banteng Tracak
Kencono saboyo urip lan saboyo pati. Mulo Kakangmas Kebokicak kulo
mboten saget pisah serambut kalian ameng-ameng kulo.
Kebokicak ndangak, langsung nyambung. Adi Surontanu
berarti kuwe ora mesakake kawulo ing dempokane Bopo Guru Sopoyono. Mulo
Adimas Surontanu, Banteng Tracak Kencono iku kewan wis jamak digawe
lumprah nek kenek digawe kekah ono dempok Tebuireng kunu lan kanggo
tumbale pedempokane kuwe lan aku. Mulo Adi Surontanu oleh tak jaluk ora
oleh tetep tak suwun Banteng Tracak Kencono.
Surontanu ngadek sambil nyandak keluane Banteng Tracak Kencono, baru nyambung. Kakangmas Kebokicak ing ngarep aku wis ngomong sopo wae njaluk banteng ameng-amengku iki ora bakal tak wulungake.
Kebokicak ngadek samujajar marang adine Surontanu sambil ngomong keras sampek dadekno geger.
Hee, adiku Surontanu jelas kuwe ora mesak ake sedulurmu seng ono
padempokan kono. Mulo dino iki Banteng Tracak Kencono oleh tak jaluk ora
oleh bakal tak rebut. Akhirnya geger Surontanu lan Kebokicak. Surontanu
kasoran yudo Banteng Tracak Kencono disaut digowo mlayu lan playune
Surontanu ngalor nyasak tanduran parine wong karang perdesan. Perjalanan
Kebokicak mbujung lakune Surontanu. Kebokicak bengok kanti Bende
Tengoro ing kunu ngrapal Aji Begandan. Kebokicak ngerti playune
Surontanu. Ehladalah, playune Surontanu ndadak nyasak parine wong karang
perdesan. Ngertenono prajurit Mojopait lan wong karang perdesan kene
iki besok keno diarani Deso Parimono kaseksanan bumi lan langit, suket
lan gegodongan. Kebokicak langsung mbujung lakune Surontanu.
Ganti perjalanan Surontanu. Ing alas kunu Surontanu ape
gawe delikan. Ben ora dingerteni marang Kakang Kebokicak. Ing alas kunu
ono uwit mojo sing cacahe songo. Surontanu urung sampek klakon gawe
plindungan tiba-tiba Kebokicak dikawal prajurit Mojopait lan Surontanu
siap mentang panah. Busur panah diluncurno arepe manah Kebokicak. Ning
nyatane keno prajurit Mojopait sing cacahe songo nemoni praloyo pati.
Terus Surontanu mlayu ngulon tolek dedelikan kanggo nylametno Banteng
Tracak Kencono.
Lari. Sak mlayune Surontanu, Kebokicak tambah ngamuk,
eleng-eleng prajurit seng ngawal Kebokicak cacahe songo mati keno panahe
Surontanu. Kebokicak langsung ngomong marang sesah prajurit sing ngawal
pati, hee, prajurit sing ngawal aku kabeh ngertenono kanggo tetenger
besok rejane jaman papan kene kenek diarani Deso Mojo Songo. Mulo
prajurit saksenono. Sabanjure Kebokicak jenengake deso langsung bujung
lakune Surontanu lan Banteng Tracak Kencono.
Dua penggalan adegan di atas selanjutnya dalam tilikan sastra tutur
maupun sastra tulis menjadi rangkain plot dan konflik dari cerita geger
Kebokicak memburu Surontanu. Dari versi santri, diceritakan bahwa
tersebutlah nama Padepokan Pancuran Cukir yang kala itu diserang
pagebluk. Guru sepuh padepokan itu, Ki Ageng Sopoyono, dapat wangsit
berupa bahwa untuk mengatasi wabah itu satu-satunya cara adalah dengan
menumbalinya dengan hewan berbulu putih. Ki Ageng Sopoyono memiliki dua
murid: Ki Ageng Buwono dan Ki Ageng Pranggang. Ki Ageng Buwono memiliki
anak perempuan bernama Wandan Manguri yang dikawin oleh Pamulang Jagad.
Dari keduanya lahirlah Joko Tulus alias Kebokicak. Sementara Ki Ageng
Pranggang punya putri bernama Niluh Padmi yang bersuamikan Tumenggung
Surono. Dari keduanya lahirlah Joko Sendang atau Surontanu. Dari
peristiwa pagebluk itu, kemudian Surontanu atau Joko Sendang ditugaskan
untuk mengatasinya. Namun ia tidak bisa. Ia hanya dapat seekor banteng
yang bisa tata jalma (dapat berbicara). Banteng ini bernama
Banteng Tracak Kencana yang tubuhnya disusupi dua siluman Lirih Boyo
dan Bantang Boyo. Karena Surontanu tidak mau menyerahkan Banteng Tracak
Kencana, dan ia melarikan diri, maka Kebokicaklah yang kemudian
diperintah untuk merebut rajakaya itu. Kebokicak mempunyai ajian: Bende Tengoro (Canang Baung), Singo Begandan (Singa Pelacak), Rompi Lulang Kebo Landung (Rompi Kekebalan Kulit Kerbau), dan Gedruk Gongseng (Krimpyingan Penggedruk). Sedangkan Surontanu hanya punya Ajian Kekebalan dan Banteng Tracak Kencana.
Tukang Cerita dan Jejak Kampung
Cerita Kebokicak yang lebih masyhur salah satunya
adalah saat pengejaran Kebokicak terhadap Surontanu untuk memperebutkan
Banteng Tracak Kencana. Jejak-jejak pengejaran itu menilaskan nama-nama
kampung atau desa yang hingga kini nyata ada dan menjadi bagian
admistratif struktur pemerintahan Kabupaten Jombang. Riwayat kampung,
rangkaian pencerita dari masa ke masa, kadar orisinalitas, validitas,
pun susupan-susupan yang berkelindan, turut serta membentuk sebuah
unggunan naratif yang membuka lebar beragam sumber yang saling mengisi.
Seperti apakah para tukang cerita mengudar si cerita, yang tak lepas
dari tendensi dan subyektifitasnya, menggelar pengisahan Kebokicak dari
waktu ke waktu, hingga dari cucu ke cucu? Yang pasti, tukang cerita
bergerak di ambang yang mistis dan di sisi lain tak lebih imajinatif
belaka. Di bawah ini beberapa nama kampung atau desa yang menjadi arena
pengejaran itu:
(1) Parimono: Surontanu lari bersama Banteng
Tracak Kencono. Tibalah ia di sebuah persawahan nan luas. Kebokicak
datang bersama 9 nawabayangkari. Terkejut melihat Kebokicak, Surontanu
mengentakkan tali banteng dan nyasak pepadian yang menghampar. Kebokicak
menggeleng geram menyaksikan itu. Maka lahirlah sebutan Parimono (padi
yang disasak hingga rusak).
(2) Mojosongo: Surontanu membikin persembunyian
dari akar-akaran, ranting-ranting, dan daun-daun klaras, sementara di
sekitarnya dikitari pepohonan maja. Ia membawa panah. Kebokicak datang
bersama 9 nawabhayangkari. Pertarunganpun berkecamuk. 9 prajurit
Kebokicak binasa oleh panah Surontanu.
(3) Jambu: Surontanu terbirit-birit ke arah barat.
Mengikat bantengnya di sebuah pohon jambu milik Ki Dumadi. Belum sempat
beristirahat nyenyak, Kebokicak pun datang.
(4) Jombang: Surontanu lari ke utara. Menemukan
kolam. Ada rumah beratap jerami, alang-alang, lalu ada pemandian kerbau.
Ada cahaya ijo dan abang dari dasar kolam melesat ke langit dan
menebarkan cahaya yang terang cemerlang. Keduanya bertemu dan terjadilah
percekcokan. Pertarungan sengit. Surontanu terpukul mundur. Ia lari ke
arah timur. Kolam jadi acak-acakan.
(5) Ringincontong: Ada pohon beringin raksasa.
Seumpama ada 10 orang mengitarinya dengan membentangkan kedua tangan
maka tak bakal mencukupinya. 9 nawabhayangkari dating membantu
Kebokicak. Mereke bertempur lagi. Mereka tak kuasa mengatasi kanuragan
Surontanu. Kebokicak turun tangan. Ia mengeluarkan aji Singo Begandan,
dan Bende Tengoro. Surontanu kewalahan. Ia lari ke tenggara.
(6) Mojongapit: Ada sekelompok tayub menggelar
pertunjukan. Surontanu masuk ke situ. Menyamar. Lalu muncullah siluman
Sardulo Onggo Bliring (berupa macan loreng). Ternyata siluman ini adalah
kawan Kebokicak. Si Bliring mencekik Surontanu. Menjepit lehernya
dengan kayu randu. Surontanu meronta-ronta. Kebokicak muncul. Bliring
terkaget sebentar, dan jepitannya terlepas. Surontanu sedikit dapat
bernapas, lalu ia lari lagi ke tenggara.
(7) Sumber Peking: Tampaklah rumbukan pring yang
rimbun. Terdengar mata air yang jernih yang menggemericik deras bak
bunyi alat peking. Surontanu bermalam di situ, di sebuah rumah seorang
janda bernama Nyi Gulah. Kebokicak datang. Namun Surontanu telah pergi
ke barat kala terbit fajar.
(8) Sumber Sapon: Di pagi yang mulai terik itu ada
seorang janda menyapu halaman rumahnya, ketika Kebokicak datang dan
menanyakan padanya adakah seorang lelaki berbaju hijau lewat di situ. Si
janda mengiyakan. Sardulo Onggo Bliring yang mengikuti Kebokicak
menyarankan untuk terus mengejar. Mereka bergerak lagi dan singgah di
Desa Karang Kejambon. Kebokicak meminta Bliring untuk jalma menus
(menjadi manusia) seperti dirinya. Ini diniatkan Kebokicak untuk
sementara waktu menggantikan posisinya untuk mengatur desanya. Kebokicak
meminta penduduk agar atap rumah mereka dpasangi welit atau daduk
tebu. Bliring sendika dawuh atas perintah itu. Kebokicak bergegas mengejar Surontanu.
(9) Bantengan: Sejak mula desa ini memang bernama
Bantengan. Surontanu sembunyi di situ. Di rumahnya sendiri. Tampaknya
Niluh Padmi, ibu Surontanu, sedang memberikan sebungkus nasi pada
anaknya itu. Surontanu tak menceritakan apa yang terjadi. Sehabis makan,
ia pamit. Tak lama kemudian, Kebokicak tiba. Perbincangan singkat.
Niluh padmi terperanjat mendengar cerita Kebokicak. Ia menangis dan
meminta pada Kebokicak agar berdamai dengan Surontanu. Kebokicak
berjanji akan bertindak yang terbaik, jika Surontanu mau menyerahkan
Banteng Tracak Kencana. Lalu Niluh Padmi menunjukkan bahwa Surontanu
lari ke barat.
(10) Tamping Mojo: Ada
arak-arakan temanten yang merayakan perkawinan Joko Tamping dan Siti
Wulanjar. Surontanu menyusup ke dalam arak-arakan. Kebokicak datang
memberitahu bahwa di dalam rombongan itu ada perusuh bernama Surontanu.
Joko Tamping tahu lalu melawan Surontanu. Ia dikeplekkan Surantanu
sampai pingsan lalu mati. Siti Wulanjar menjerit-jerit sambil bersimpuh
memeluk mayat Joko Tamping. Kebokicak tertegun dan sekejap ia tak kuasa
bertindak. Cepat-cepat Surontanu kabur ke selatan.
(11) Ngrawan: Kebokicak tak segera mengejarnya. Ia
memulangkan Siti Wulanjar ke rumah orang tuanya. Lalu daerah si
pengantin malang itu diparabi Desa Ngrawan.
(12) Nglungu: Kebokicak kemalaman, dan plonga-plongo (tolah-toleh), di jalan dan melihat arah barat dengan mata ngungun. Lamunannya melendot panjang ke entah.
(13) Petengan: Kebokicak tampak putus asa, ia
duduk lesu di sebongkah bangkai kayu, langit terasa gelap menyelimuti
hatinya. Membayangkan angkasa terasa pahit dan berkabut tebal di Karang
Kejambon.
(14) Glugu: Surantanu lari ke utara. Ia menemukan glugu yang roboh melintang di kali Konto (anak sungai Brantas). Kebokicak datang. Surantanu mecetat (lari cepat) ke timur.
(15) Dukuh Klopo: Di tempat ini Surantanu
membangun benteng dari batang-batang kelapa. Pancang-pancang yang kokoh.
Kebokicak tiba. Ia lari ke timur.
(16) Tengaran: Ini tempat Surontanu memasang
umbul-umbul berwarna-warni. Kebanyakan berwarna hijau. Ketika Kebokicak
menyusul, ia kabur ke arah utara.
(17) Ndero: Surontanu memasang bendera perang warna merah. Lalu ia lari ke barat saat Kebokicak datang.
(18) Kandang Sapi: Banteng Surontanu menyelinap di
kandang sapi milik Ki Wongso. Kebokicak datang. Dialog dengan Ki
Wongso. Surontanu lari ke utara.
(19) Kedung Betik: Surontanu mandi di kedung atau telaga yang banyak ikan betiknya. Kebokicak datang. Surontanu lari ke barat.
(20) Tenggulukan: Surontanu sembunyi di Rawa
Perning. Surontanu ketemu dengan siluman Celeng Kecek yang mengusili si
banteng Tracak Kencana. Lalu Celeng Kecek dibunuh Surontanu. Kebokicak
datang. Surontanu lari ke utara. Celeng Kecek ditengguluk (dipanggul) Kebokicak, sebab ia dianggap telah membantunya, lalu dikuburkan di dekat kali Brantas.
(21) Keboan: Banyak orang mengguyang (memandikan)
kerbau. Surontanu dan Kebokicak bertarung sampai tewas di situ. Dua
siluman Bantang Boyo dan Lirih Boyo keluar dari Banteng Tracak Kencana
lalu membenamkan banteng itu di dasar kali Brantas. 9 nawabhayangkari
yang barus saja datang hendak membantu Kebokicak langsung dibinasakan
oleh dua siluman itu. Batu gilang, siluman Buntung Boyo.
Ihwal 13 Versi Kebokicak
Dari 13 versi cerita Kebokicak yang disusun mahasiswa STKIP PGRI
Jombang di atas, ada beberapa versi yang patut dicermati, selain
beberapa versi lain yang serupa. Seperti versi Joko Tulus (Kebokicak Karang Kejambon) dengan narasumber Sukono. Versi ini agak ganjil dari versi umum. Saya coba rangkum point pokoknya:
Sosok Joko Tulus berasal dari Tulungagung, dekat Gunung Kelud.
Ia ingin mengembara demi menguasai suatu wilayah di utara yakni Jombang.
Lalu dilarang ibunya, tapi ia membangkang, maka ibunya mengutuknya jadi
Kebokicak. Kebokicak ini tetap meneruskan kembara ke Jombang. Di tengah
jalan bertemu kakek sakti bernama Ki Surontanu lantas ia menjadi
gurunya. Kebokicak lalu melamar putri Majapahit (tidak disebutkan nama
sang putri) dalam bentuk sayembara. Ia menang, tapi lamarannya ditampik.
Ia balik ke padepokan Bantengan, dan diberi pusaka Kalung Kuning oleh
Ki Surontanu. Kalung ini dapat direbut oleh Putri Majapahit dengan
muslihat halus. Kebokicak tak berdaya, namun tak dibunuh dan pulang ke
Bantengan. Ki Surontanu membawanya ke Kiai Muchtar di Banyuarang untuk
disembuhkan. Ia sembuh, lalu masuk Islam. Karena di Banyuarang
terjangkit pagebluk, ia diutus Kiai Muchtar untuk pinjam pusaka Tracak
Kencana kepada Ki Surontanu sekaligus mengajaknya masuk Islam. Ki
surontanu menolak seraya nyumpah-nyumpah. Terjadilah perang tanding
antar keduanya. Ki Surontanu kalah. Pergi bertapa. Ia nantang Kebokicak
lagi dengan membawa keris saktinya dan mampu menebas leher Kebokicak.
Jasad Kebokicak digotongnya dan ditenggelamkannya ke wilayah berlumpur
di Sendang Biru.
Coba kita simak lagi versi Banteng Tracak Kencana dengan narasumber Jamadi yang saya sarikan berikut ini:
Disebutkanlah Raja Wijaya di masa Majapahit mengalami
kemunduran di bawah bayang-bayang serangan Demak. Ia memiliki selir
namanya Arum Sari. Mereka punya 3 putra: Jaka Samar, Jaka Suwana, dan
Jaka Suwandi yang tinggal di Desa Karang Jambu. Ketiga putra ini
memperdalam ilmu ke wilayah selatan di perguruan Eyang Sandi atau Kiai
Soponyono di Desa Sumonyono. Waktu belajar silat, Jaka Suwandi hilang
dan dicari-cari. Eyang Sandi mengutus Jaka Samar mencarinya. Sampai ke
utara. Menjelang petang baru ketemu. Jaka Samar marah, lalu menyemprot
adiknya itu dengan sebutan Jaran Kecek. Suatu kali Arum Sari nyambangi
mereka. Di pendapa perguruan ia menyaksikan dua pemuda berlatih tarung.
Arum Sari berteriak coba menghentikan mereka. Namun tak dipedulikan. Ia
amat jengkel dan meneriaki kelakuan mereka seperti kerbau. Seketika
salah seorang pemuda yang tampak piawai bertarung itu kepalanya menjelma
menjadi kepala kerbau. Ia tak lain adalah Jaka Samar yang kemudian
berjuluk Kebokicak yang sakti. Eyang Sandi menghadiahi Jaka Suwandi
karena budi pekertinya berupa hewan bersebut Banteng Tracak Kencana.
Suatu hari Kebokicak ingin meminang Pandan Sari. Tapi dengan syarat
harus menyerahkan Banteng Tracak Kencana. Kebokicak menyanggupi. Namun
Surontanu menolak menyerahkannya. Ia lari. Dikejar Kebokicak. Mereka
bertarung. Surontanu lari lagi. Tarung lagi. Surantanu keteter, lari ke
rawa-rawa bertebu di barat Desa Sumonyono. Dalam pengejaran Kebokicak
itu, jajaran lebat tebu itu seketika menjadi hitam warnanya sebab
pengaruh Ilmu Panglimunan Kebokicak. Jadilah kelak daerah itu diparabi
Tebu Ireng. Surontanu terus lari ke barat, istirahat di mata air yang
berwarna biru yang kemudian tempat itu bersebut Balung Biru. Lalu ia
terus berlari dan bersembunyi di jajaran rimbun pohon nangka. Daerah itu
kelak berjuluk Sumber Nangka. Kebokicak dapat mengejarnya. Tanding
lagi. Surontanu lari ke daerah utara yang dipenuhi daun talas. Bau si
banteng dapat dikenali Kebokicak di balik rimbunan daun talas dan tempat
ini kemudian bersebut Desa Bantengan. Mereka tarung lagi. Surontanu
berhasil membelah jadi dua tubuh Kebokicak. Dengan ilmu Pancasunya,
Kebokicak bangkit dari kematian dan mengubah dirinya menjadi macam
putih. Ia mengejar Surantanu kembali ke utara di daerah Karang Jambu.
Mengubah dirinya lagi menjadi manusia bersebut Sargula. Mengejar lagi.
Bertemu. Tarung lagi. Si pengejar kembali lagi ke ujud asalnya:
Kebokicak. Pertarungan makin dahsyat dan menghebat hingga memercikkan
cecahaya hijau dan merah sampai membelah langit malam yang kian
menggelap. Daerah itu karena bertabur berpercikan cahaya ijo dan abang
yang menakjubkan maka di kemudian waktu diparabi menjadi Jombang. Si
Banteng Tracak Kencana tewas terkena panah Kebokicak. Surantanu kalap.
Kebokicak juga kalap. Mereka bertarung kian menggila. Sampai sama-sama
tak berdaya. Hingga sama-sama mati keduanya.
Dalam versi cerita Telatah Surantanu,
bernarasumber Purwito, yang menyebut dirinya sebagai keturunan ke-4 dari
Surantanu, tampaknya perlu dipertanyakan. Surantanu yang mana? Adakah
kaitannya dengan asal-usul Jombang, yang sebagian besar dari 13 versi
cerita menyebut itu walau dengan fragmen, plot, dan tokoh-tokoh, tempat
kejadian, munculnya sisipan tokoh lain, nama samaran, yang perlu
dicermati kembali sebab ada yang sama juga ada yang berbeda? Pada versi
itu Surontanu dimunculkan di masa Majapahit yang mengalami penjajahan
Belanda. Ini jelas ahistoris. Lalu cerita bergeliat hingga muncul sosok
warok Suromenggolo dari Ponorogo. Lalu pada versi cerita Desa Randu Watang,
diceritakan bahwa Jaka Tulus alias Kebokicak memiliki bapak seorang
panglima bernama Siro Manggu. Akhir cerita menyebutkan soal pertarungan
kebokicak melawan Surontanu yang juga menilaskan jejak persabungan
mereka misalnya meninggalkan nama kampung Gedangan dan sungai Gelugu,
lalu muncul Walang Kecik yang memusuhi Kebokicak, juga lahir Desa
Ngemprak, perkelahian terus berlanjut ke timur lalu beralih ke utara,
sampai dua orang ini sama-sama mati di tengah-tengah pertempuran. Tubuh
mereka disaksikan orang-orang yang lewat di situ. Di antara warga ini
menggoyang-goyangkan jasad mereka dengan sebatang watang (dari ranting pohon randu) untuk membuktikan apakah mereka telah mati. Maka lahirlah Desa Randu Watang atas kejadian itu.
Bagaimanakah pembaca yang, setidaknya, pernah akrab dengan cerita
Kebokicak versi santri yang saya cuplikkan di awal menilai 2 versi lain
dari narasumber Sukono dan Jamadi? Ada kembangan cerita lain di sana,
bergerak sendiri, bersemayam jauh di kedalamannya, saling
susup-menyusupi, yang tentunya menyimpan “dunia sunyi” masing-masing
dalam ingatan kolektif sosialnya. Satu anggapan, yang sebenarnya sah-sah
saja namun terkesan gegabah, kala mengaitkan cerita Kebokicak dengan
lahirnya daerah Jombang. Tradisi lisan dan mitos tentang sosok ini
begitu dominan, walau tidak semua warga Jombang tahu. Karena itu tetap
membutuhkan kajian historis spesifik secara akademis, bukan sekadar
beranjak dari legenda untuk menautkan dan selanjutnya menemukan
titik-terang kesejarahan sebuah wilayah.
—
Cerita diambil dari:
Fahrudin Nasrulloh, cerpenis dan pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang
http://lembahpring.blogspot.com/2011/01/makalah-bedah-bedah-buku-kebokicak-1.html
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Labels:
Khas Jombang,
Sejarah,
Sendang Made,
Seputar Jombang
Download Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Monggo dipun pirsani piyambak, penjenengan saged mirsani langsung utawi download wonten ing ngriki :
- Anteping Sih - Sri Astuti - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Bali Kumpul - Morista - Bambang - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Bengawan Sore - Bambang - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Bocah Gunung - Sri Astuti - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Blegedut - Morista - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Caping Gunung - Ikif Kawazima - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Esemmu - Sri Astuti - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Jenang Gulo - Atin - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Kalulut - Morista - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Kepranan Jogja Priyangan - Atin - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Nyidam Sari - Eny En En - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Mata.mp3.
- Pandurat - Sri Astuti - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Panggodaning Katresnan - Atin - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Petis Manis - SriAstuti - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan .mp3
- Sarung Jagung - Morista - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Setyo Tuhu - Ambar - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan
- Sri Huning - Atin - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Tak Enteni - Morista - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
- Wong Manis - Ambar - Satrio Wening Langgam Gecul Mat Matan.mp3
Ngujiwat_-_Sri_Astuti_-_Satrio_Wening_Langgam_Gecul_Mat_Matan.mp3
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Download Mardi Laras Pangkur Ngawi
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Monggo dipun pirsani piyambak, penjenengan saged mirsani langsung utawi download wonten ing ngriki :
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Download Campursari Kawi Budoyo Vol 6
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Monggo dipun pirsani piyambak, penjenengan saged mirsani langsung utawi download wonten ing ngriki :

- Gelang Kalung - Anis Feata Wiwin - Kawi Budoyo Vol 6.mp3
- Ibu Pertiwi (Ela Elo) - Yayuk Feat Widodo - Kawi Budoyo Vol 6.mp3
- Joko Melarat (Kembang Rawe) Lia & Yayuk Feat Widodo - Kawi Budoyo Vol 6.mp3
- Layang Kangen (Ijo Ijo Kasembon) Erni Feat Widodo - Kawi Budoyo Vol 6.mp3
- Lenggang Malangan (Mbok Yo Mesem) - Ika-Widodo-Wiwin & Erni - Kawi Budoyo Vol 6.mp3
- Pembuko - All Asinden Kawi Budoyo - Kawi Budoyo Vol 6 Vol.mp3
- Prahu Layar (Ojo Diplerok'i) - All Sinden - Kawi Budoyo Vol 6.mp3
- Samirah - Yayuk - Kawi Budoyo Vol 6.mp3
- Sarep Tambak Roso - Yayuk - Kawi Budoyo Vol 6.mp3
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Subscribe to:
Posts (Atom)




